49971 research outputs found
Sort by
Integrasi Lean Manufacturing dan Circular Economy untuk Meningkatkan Produktivitas Proses Produksi Pipa Baja High Frequency Welding di IPB Menggunakan Multifactor Productivity Measurement
Industri Pipa Baja (IPB) merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang produksi pipa baja, salah satunya dengan teknologi High Frequency Welding (HFW). Dalam pelaksanaannya, perusahaan menghadapi tantangan berupa aktivitas non-value added, limbah produksi yang belum termanfaatkan secara optimal, serta tingkat produktivitas yang belum maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan pendekatan Lean Manufacturing dan Circular Economy guna mengidentifikasi serta meminimalkan pemborosan, sekaligus mengidentifikasi dan meningkatkan produktivitas melalui pengukuran menggunakan metode Multifactor Productivity Measurement (MFPM). Lean Manufacturing berfokus pada pengurangan pemborosan dan peningkatan efisiensi proses, sementara Circular Economy menekankan optimalisasi siklus hidup material melalui praktik daur ulang, penggunaan kembali, dan pemanfaatan limbah produksi. MFPM digunakan untuk mengukur produktivitas secara menyeluruh dengan mempertimbangkan berbagai input seperti tenaga kerja, bahan baku, energi, dan modal. Penelitian ini dilakukan dengan metode studi kasus di IPB yang memiliki sistem Engineering to Order (ETO) untuk menerima pesanan, ditemukan bahwa waste kritis yang terjadi yaitu defect, inventory dan waiting. Selain itu terdapat limbah yang belum dapat diolah seperti scrap. Dengan demikian, diberikan usulan perbaikan yang mengintegrasikan Lean Manufacturing dan Circular Economy yaitu dengan 5s, poka yoke, visual control, penerapan 3R, sehingga didapatkan produktivitas yang meningkat dari angka 1,33 menjadi 1,45. Selain itu, dari segi Sustainable Value Stream Mapping juga terdapat perubahan titik rework yang sebelumnya tiga titik menjadi satu titik, perubahan titik WIP yang sebelumnya lima titik menjadi empat titik dan peningkatan value added time menjadi 33 menit serta dan terjadi penurunan nilai scrap yang awalnya 59 unit menjadi 19 unit saja, dan meningkatkan persentase quality menjadi sebesar 97%. Dengan demikian, dapat disimpulkan usulan perbaikan yang diimplementasikan membawakan dampak perubahaan dari segi produktivitas dan sustainable value stream mapping.
=======================================================================================================================================
Industri Pipa Baja (IPB) is a manufacturing company engaged in the production of steel pipes, one of which utilizes High Frequency Welding (HFW) technology. In practice, the company faces several challenges, including non-value-added activities, underutilized production waste, and suboptimal productivity levels. This study aims to integrate Lean Manufacturing and Circular Economy approaches to identify and minimize waste, while also simultaneously improving productivity through the Multifactor Productivity Measurement (MFPM) method. Lean Manufacturing focuses on reducing waste and improving process efficiency, whereas Circular Economy emphasizes optimizing the material life cycle through recycling, reuse, and waste utilization practices. MFPM is used to measure overall productivity by considering various input factors such as labor, raw materials, energy, and capital. This research was conducted using a case study method at IPB, which has an Engineering to Order (ETO) system for receiving orders. It was found that the critical wastes that occur are defects, inventory, and waiting. Additionally, there is waste that cannot yet be processed, such as scrap. Therefore, improvement suggestions were proposed that integrate Lean Manufacturing and the Circular Economy, including 5S, poka yoke, visual control, and the implementation of the 3R principles, resulting in increased productivity from 1.33 to 1.45. Furthermore, from the perspective of Sustainable Value Stream Mapping, there were changes in rework points, which decreased from three to one, changes in work-in-process (WIP) points, which decreased from five to four, an increase in value-added time to 33 minutes, a reduction in scrap value from 59 units to 19 units, and an improvement in quality percentage to 97%. Therefore, it can be concluded that the implemented improvement proposals have brought about changes in terms of productivity and Sustainable Value Stream Mapping
Identifikasi Kompatibilitas Warna Pakaian Berdasarkan Warna Kulit Menggunakan Large Language Model Classifier
Pemilihan warna pakaian yang sesuai dengan warna kulit merupakan faktor penting dalam meningkatkan penampilan seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem rekomendasi warna pakaian berdasarkan atribut warna kulit menggunakan teknik pengolahan gambar dan Large Language Model (LLM) classifier. Dataset yang digunakan dalam penelitian ini berupa gambar model fashion runway yang diambil dari majalah fesyen Vogue. Tahapan penelitian diawali dengan segmentasi gambar menggunakan model Self-Correction Human Parsing, lalu dilakukan ekstraksi warna menggunakan K-Means Clustering. Uji coba klasifikasi warna menggunakan LLM lalu dilakukan untuk menemukan model dan metode yang tepat. Berdasarkan hasil evaluasi, penggunaan model GPT 4.1 menggunakan metode Role-Playing Few-Shot menghasilkan performa terbaik dengan F1 score 82,69%. Berdasarkan hasil evaluasi, model dengan performa terbaik digunakan untuk melakukan klasifikasi warna pada dataset. Kemudian, dilakukan pemetaan matriks co-occurrence dan faktorisasi matriks untuk menganalisis relasi antara tipe warna kulit tertentu dengan tipe warna pakaian dan menghasilkan rekomendasi berdasarkan skor relevansi. Hasil evaluasi rekomendasi berdasarkan fashion expert menghasilkan HR@1 66,67%, HR@2 75,00%, HR@3 91,67% dan NDCG@1 0,83, NDCG@2 0,70, NDCG@3 0,84. Diharapkan, penelitian ini dapat menjadi referensi penggunaan LLM untuk multi-class classification dan pengembangan sistem rekomendasi fashion ke depannya.
======================================================================================================================================
Choosing clothing colors that match one's skin tone is an important factor in enhancing personal appearance. This research aims to develop a clothing color recommendation system based on skin color attributes using image processing techniques and a Large Language Model (LLM) classifier. The dataset used in this study consists of fashion runway model images sourced from Vogue fashion magazines. The research stages begin with image segmentation using the Self-Correction Human Parsing model, followed by color extraction using K-Means Clustering. Color classification trials using LLMs were then conducted to identify the most suitable model and method. Based on evaluation results, the GPT 4.1 model using the Role-Playing Few-Shot method delivered the best performance, achieving an F1 score of 82.69%. The top-performing models were then used to classify colors in the dataset. Based on the results, a co-occurrence matrix mapping and matrix factorization were conducted to analyze the relationship between specific skin tone types and clothing color types, resulting in recommendations based on relevance score. Evaluation of the recommendations by fashion experts yielded HR@1 66.67%, HR@2 75.00%, HR@3 91.67% and NDCG@1 0,83, NDCG@2 0,70, NDCG@3 0,84. This research is expected to serve as a reference for the application of LLMs in multi-class classification and the future development of fashion recommendation systems
Pengaruh Integrasi QRIS pada E-Wallet GoPay terhadap Preferensi Pengguna dalam Transaksi Online berdasarkan Teori Diffusion of Innovations: Pendekatan PLS-SEM
Transformasi digital mendorong adopsi sistem pembayaran berbasis QR di Indonesia, salah satunya QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang terintegrasi dalam e-wallet seperti GoPay. Meskipun penggunaannya meningkat, masih terdapat hambatan terkait persepsi risiko, kesiapan pengguna, serta aspek emosional seperti kenyamanan dan kepuasan.
Penelitian ini menganalisis pengaruh integrasi QRIS pada e-wallet GoPay terhadap preferensi pengguna dalam transaksi online, menggunakan teori Diffusion of Innovations sebagai kerangka analisis. Variabel yang diuji mencakup Adoption Readiness, Perceived Risk, Personal Innovativeness, dan Hedonic Motivation terhadap Behavioral Intention. Survei dilakukan terhadap 281 responden berusia 18–60 tahun yang merupakan pengguna aktif atau potensial GoPay QRIS. Analisis data dilakukan menggunakan metode Partial Least Squares – Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan model orde pertama dan orde kedua.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Adoption Readiness, Personal Innovativeness, dan Hedonic Motivation berpengaruh positif signifikan terhadap Behavioral Intention, sedangkan Perceived Risk berpengaruh negatif signifikan. Selain itu, Personal Innovativeness juga memengaruhi Adoption Readiness secara positif. Temuan ini menekankan pentingnya kesiapan pengguna, kepercayaan terhadap keamanan, dan pengalaman menyenangkan dalam mendorong adopsi QRIS.
Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam memahami perilaku adopsi pembayaran digital berbasis QR di Indonesia dan menawarkan rekomendasi praktis bagi penyedia layanan seperti GoPay untuk merancang fitur, kampanye edukatif, dan sistem yang lebih inklusif, aman, serta menyenangkan.
=======================================================================================================================================
Digital transformation has accelerated the adoption of QR-based payment systems in Indonesia, including the Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), which is integrated into e-wallets such as GoPay. Despite its growth, challenges remain regarding perceived risks, user readiness, and emotional aspects like comfort and satisfaction.
This study analyzes the influence of QRIS integration in the GoPay e-wallet on user preferences in online transactions, using the Diffusion of Innovations theory as an analytical framework. The variables tested include Adoption Readiness, Perceived Risk, Personal Innovativeness, and Hedonic Motivation toward Behavioral Intention. A survey was conducted with 281 respondents aged 18–60 who are active or potential GoPay QRIS users. Data analysis was performed using Partial Least Squares – Structural Equation Modeling (PLS-SEM), involving both first-order and higher-order constructs.
The results show that Adoption Readiness, Personal Innovativeness, and Hedonic Motivation have a positive and significant influence on Behavioral Intention, while Perceived Risk has a negative and significant effect. In addition, Personal Innovativeness positively influences Adoption Readiness. These findings underscore the importance of user preparedness, perceived security, and enjoyable user experience in encouraging QRIS adoption.
This study provides theoretical contributions to understanding the behavioral dynamics of QR-based digital payment adoption in Indonesia and offers practical recommendations for service providers like GoPay to design more inclusive, secure, and engaging systems and features
Penentuan Prioritas Program Pengembangan Fasilitas TIK di Sekolah Menengah: Studi Kasus SMAN 1 Gedangan dengan Pendekatan Analytic Hierarchy Process
Pengelolaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di sekolah seringkali tidak terarah, menghadapi tantangan klasik seperti keterbatasan dana, infrastruktur yang belum memadai, dan kesenjangan kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang menghambat pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan prioritas program pengembangan fasilitas TIK yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan dengan studi kasus di SMAN 1 Gedangan menggunakan pendekatan Analytic Hierarchy Process (AHP). Penelitian ini menerapkan metode campuran (mixed-methods). Tahap kualitatif dilakukan untuk mengidentifikasi Critical Success Factors (CSF) melalui studi literatur yang kemudian divalidasi lewat wawancara mendalam dengan para pemangku kepentingan kunci di sekolah. Hasilnya, tiga kriteria final ditetapkan untuk digunakan dalam model AHP yaitu pertama dukungan kepala sekolah & kebijakan, kedua kompetensi teknis pengelola TIK, dan ketiga respons terhadap kebijakan nasional. Selanjutnya, pada tahap kuantitatif, metode AHP digunakan untuk melakukan pembobotan dan pemeringkatan terhadap berbagai alternatif program yang relevan berdasarkan ketiga kriteria tersebut. Hasil analisis menyimpulkan tiga program prioritas utama secara berurutan yaitu pertama pembentukan tim pengembangan TIK Sekolah, kedua kunjungan belajar ke sekolah lain yang unggul, dan ketiga integrasi akun pembelajaran (belajar.id). Pola ini secara tegas mengindikasikan bahwa para pemangku kepentingan lebih mengutamakan penguatan fondasi manajerial dan pengembangan kapasitas SDM daripada sekadar intervensi teknis seperti pengadaan perangkat keras. Penelitian ini mendemonstrasikan AHP sebagai kerangka kerja yang efektif dan terstruktur untuk membantu manajemen sekolah dalam pengambilan keputusan strategis, memastikan alokasi sumber daya yang terbatas menjadi lebih tepat sasaran dan berbasis data.
=========================================================================================================================================
The management of Information and Communication Technology (ICT) facilities in schools is often undirected, facing classic challenges such as limited funds, inadequate infrastructure, and a competency gap among human resources, which collectively hinder the effective use of technology in learning. This research aims to formulate a rational and accountable priority program for ICT facility development at SMAN 1 Gedangan using the Analytic Hierarchy Process (AHP) approach. The study employs a mixed-methods approach. The qualitative phase identified Critical Success Factors (CSF) through a literature review, which were subsequently validated via in-depth interviews with key school stakeholders. This process resulted in three final criteria for analysis: Principal's support & policy, Technical competence of ICT managers, and Response to national policy. Subsequently, the quantitative phase utilized AHP to weigh and rank various program alternatives based on these established criteria. The AHP analysis concludes that the three primary priority programs are, in order: the formation of a school ICT development team, study visits to other superior schools, and the integration of the national learning account (belajar.id). This pattern strongly indicates that stakeholders prioritize strengthening managerial foundations and human resource capacity over mere technical interventions such as hardware procurement. This research demonstrates that AHP serves as an effective and structured framework to assist school management in strategic decision-making, ensuring that limited resources are allocated more precisely and based on data
Desain Tas dan Rompi Konvertibel dengan Sensor Ultrasonik untuk Mendukung Aktivitas Tunanetra Generasi Z
Pada tahun 2020, data Survei Ekonomi Nasional (SUSENAS) mencatat bahwa terdapat 28,05 juta penyandang disabilitas di Indonesia, dengan jumlah tertinggi berasal dari kategori tunanetra. Tunanetra generasi Z yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, khususnya yang mengalami kebutaan total, menghadapi tantangan dalam mobilitas dan efisiensi penggunaan barang sehari-hari. Meskipun generasi ini dikenal produktif, mandiri, dan adaptif terhadap teknologi, keterbatasan penglihatan serta keterbatasan ekonomi sering kali membatasi akses mereka terhadap produk fungsional yang variatif. Hasil wawancara dengan tunanetra usia 20–27 tahun menunjukkan bahwa tas memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas, kemandirian, dan kepercayaan diri, namun tas konvensional dinilai kurang fleksibel untuk aktivitas dinamis. Menanggapi kebutuhan tersebut, penelitian ini merancang tas rompi multifungsi yang dapat dikonversi menjadi tas selempang atau tas pinggang (waist bag). Produk ini dilengkapi sensor ultrasonik dan pola taktil sebagai alat bantu untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap lingkungan sekitar. Konsep desain yang diusung adalah multifungsi, informatif, dan konvertibel. Diharapkan, rancangan ini dapat meningkatkan efisiensi penggunaan dan mobilitas tunanetra generasi Z dalam menjalani aktivitas harian secara lebih mandiri dan yaman.
======================================================================================================================================
In 2020, data from the National Socio-Economic Survey (SUSENAS) recorded 28.05 million people with disabilities in Indonesia, with the highest proportion being individuals with visual impairments. Visually impaired members of Generation Z, born between 1997 and 2012, especially those who are completely blind, face significant challenges in mobility and in using daily items efficiently. Although this generation is known for being productive, independent, and adaptive to technology, their visual and financial limitations often hinder access to various functional products. Interviews with blind individuals aged 20 to 27 revealed that bags play an important role in supporting their mobility, independence, and self-confidence. However, conventional bags are often considered inflexible and less suitable for dynamic activities. In response to these challenges, this study proposes the design of a multifunctional vest bag that can be converted into a sling bag or a waist bag. The product is equipped with an ultrasonic sensor and tactile patterns to help users be more aware of their surroundings. The design concept emphasizes multifunctionality, informativeness, and convertibility. This product is expected to enhance both the efficiency of use and the mobility of visually impaired Generation Z users in carrying out daily activities independently and comfortably
Pemodelan Status Rumah Tangga Miskin di Daerah Istimewa Yogyakarta Menggunakan Regresi Probit Ordinal SMOTE-NC
Kemiskinan merupakan permasalahan kompleks dan multidimensional yang mencakup aspek sosial, ekonomi, budaya, dan lainnya. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menempati peringkat tertinggi tingkat kemiskinan di Pulau Jawa dari tahun 2019 hingga 2024, dengan persentase penduduk miskin sebesar 10,83% pada Maret 2024. Identifikasi faktor-faktor penyebab kemiskinan di berbagai tingkatan rumah tangga sangat penting untuk memahami kondisi kemiskinan di setiap tingkat rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemodelan dan identifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi status rumah tangga miskin di DIY dengan pendekatan Synthetic Minority Oversampling Technique-Nominal Continuous (SMOTE-NC). Data yang digunakan bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) dengan unit penelitian rumah tangga. Status rumah tangga miskin dikategorikan menjadi 3 yaitu tidak miskin, rentan miskin dan miskin. Terdapat 67,3% rumah tangga tidak miskin, 23,8% rumah tangga rentan miskin dan 9% rumah tangga miskin. Terlihat bahwa terjadi ketidakseimbangan data. Karakteristik rumah tangga miskin mayoritas memiliki jumlah anggota rumah tangga lebih banyak, kepala rumah tangga berjenis kelamin perempuan, berusia lebih tua, berstatus kawin, berpendidikan rendah (SD atau lebih rendah), bekerja di sektor pertanian, dan tinggal di wilayah perdesaan. Model regresi probit ordinal tanpa SMOTE-NC menghasilkan ketepatan klasifikasi 69%, presisi 53%, sensitivitas 42%, dan spesifisitas 70% dengan lima variabel prediktor yang signifikan. Setelah dilakukan penyeimbangan data menggunakan SMOTE-NC, diperoleh ketepatan klasifikasi 60%, presisi 50%, sensitivitas 46%, dan spesifisitas 73% dan terdapat enam variabel prediktor yang signifikan yaitu. jumlah anggota rumah tangga, umur Kepala rumah tangga, status perkawinan Kepala rumah tangga, pendidikan tertinggi Kepala rumah tangga, lapangan pekerjaan Kepala rumah tangga dan klasifikasi wilayah tempat tinggal.
======================================================================================================================================
Poverty is a complex and multidimensional problem that includes social, economic, cultural, and other aspects. The Special Region of Yogyakarta (DIY) ranked the highest poverty rate on the island of Java from 2019 to 2024, with a percentage of the poor population of 10.83% in March 2024. Identification of the factors that cause poverty at various levels of households is very important to understand the conditions of poverty at each level of households. This study aims to model and identify the factors that affect the status of poor households in DIY with Synthetic Minority Oversampling Technique-Nominal Continuous (SMOTE-NC) approach. The Data used was sourced from the Central Statistics Agency (BPS) with the household research unit. The Status of poor households is categorized into 3, namely non-poor, vulnerable poor and poor.There were 67,3% non poor households, 23,8% vulnerable households and 9% poor households. It appears that there is an imbalance of data. Characteristics the majority of poor households have more household members, female head of household, older age, married status, low education (elementary school or lower), work in the agricultural sector, and live in rural areas. Ordinal probit regression Model without SMOTE-NC resulted in 69% classification accuracy, 53% precision, 42% sensitivity, and 70% specificity with five significant predictor variables. After balancing the data using SMOTE-NC, obtained classification accuracy of 60%, 50% precision, sensitivity of 46%, and specificity of 73% and there are six significant predictor variables, namely. the number of household members, the age of the head of the household, the marital status of the head of the household, the highest education of the head of the household, the occupation of the head of the household and the classification of the region of residence
Modifikasi Struktur Jembatan Kali Kuto Menggunakan Model Spatial Arch - Bridge dengan Material Pelengkung Komposit
Transportasi merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan masyarakat, karena mempengaruhi berbagai aspek kehidupan seperti ekonomi, sosial, dan budaya. Salah satu prasarana penting dalam transportasi adalah jembatan, yang berfungsi untuk menghubungkan tempat-tempat yang terpisah oleh rintangan seperti sungai, lembah, atau jalan lainnya. Jembatan pelengkung dikenal memiliki nilai estetika tinggi dan banyak digunakan di Indonesia, salah satunya adalah Jembatan Kali Kuto di jalur Trase Tol Batang-Semarang. Proposal tugas akhir ini bertujuan untuk memodifikasi struktur Jembatan Kali Kuto menggunakan model Composite Spatial Arch Bridge. Modifikasi ini diharapkan dapat meningkatkan kekuatan dan efisiensi material jembatan, menghilangkan efek scouring yang terjadi pada pilar Jembatan Kali Kuto, serta mengoptimalkan metode pelaksanaan konstruksinya yaitu kantilever sebagian. Penelitian ini meliputi perencanaan desain awal, analisis beban dan gaya dalam, serta evaluasi kekuatan dan kebutuhan material. Hasil perencanaan akan dituangkan dalam bentuk gambar teknik yang detail. Perencanaan modifikasi ini dimulai dari studi literatur dan pengumpulan data, preliminary design, pembebanan, pemodelan dan analisa struktur, kontrol statis dan dinamis, perencanaan sambungan dan cek kabel putus, perencanaan perletakan, analisa staging, hingga pembuatan gambar rencana. Peraturan yang digunakan dalam melakukan perencanaan modifikasi antara lain SNI 1725-2016, SNI 2833-2016, SNI 1929-2020, dan SNI 2847-2019. Berdasarkan hasil analisis, digunakan lantai kendaraan rangka baja dengan lebar 32,8 m dan panjang 160 m. Struktur busur menjorok kedalam dengan kemiringan 15° menggunakan struktur pelengkung rangka baja komposit. Kabel penggantung menggunakan PFEIFER tension members M120. Struktur busur menggunakan perletakan jepit serta lantai kendaraan menggunakan Pot Bearing Freyssinet FX 1500-450, GG 1500-450,400 dan GL 1500-400,400. Struktur jembatan memenuhi kontrol kekuatan statik, dinamik, serta aerodinamik.
=================================================================================================================================
Transportation is an important need in people's lives, because it influences various aspects of life such as economic, social and cultural. One of the important infrastructures in transportation is a bridge, which functions to connect places separated by obstacles such as rivers, valleys, or other roads. Arched bridges are known to have high aesthetic value and are widely used in Indonesia, one of which is the Kali Kuto Bridge on the Batang-Semarang Toll Route. This final project proposal aims to modify the structure of the Kali Kuto Bridge using the Composite Spatial Arch Bridge model. This modification is expected to increase the strength and efficiency of the bridge material, eliminate the scouring effect that occurs on the Kali Kuto Bridge pillars, and optimize the construction method, namely partial cantilever. This research includes initial design planning, load and internal force analysis, as well as evaluation of strength and material requirements. The planning results will be presented in the form of detailed technical drawings. This modification planning starts from literature study and data collection, preliminary design, loading, modeling and structural analysis, static and dynamic control, connection planning and cable break check, placement planning, staging analysis, to making plan drawings. The regulations used in planning modifications include SNI 1725-2016, SNI 2833-2016, SNI 1929-2020, and SNI 2847-2019. Based on the analysis results, a steel frame vehicle floor with a width of 32.8 m and a length of 160 m was used. The arc structure protrudes inward with a slope of 15° using a composite steel frame arch structure. The hanging cable uses PFEIFER tension members M120. The bow structure uses clamp placement and the vehicle floor uses Pot Bearings Freyssinet FX 1500-450, GG 1500-450,400 and GL 1500-400,400. The bridge structure meets static, dynamic and aerodynamic strength controls
Desain Pabrik Mikrokristalin Selulosa dari Limbah Gergaji Kayu Sengon dengan Delignifikasi Hidrotermal
Salah satu bahan baku obat yang sangat dibutuhkan namun masih bergantung pada impor adalah Microcrystalline Cellulose (MCC). Dalam industri farmasi, MCC digunakan sebagai bahan tambahan yang berperan binder, diluent, dan texturizer pada tablet, makanan, ataupun kosmetik. Mengingat banyaknya potensi bahan baku untuk produksi MCC, seharusnya dimanfaatkan secara maksimal agar Indonesia tidak tergantung pada impor. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah dengan mendirikan pabrik MCC. Pembangunan ini tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada impor, tetapi juga meningkatkan pemanfaatan bahan baku garam olahan yang melimpah di Indonesia. Pabrik yang direncanakan akan memiliki kapasitas 2000 ton per tahun. Lokasi pabrik akan berada di Kawasan Industri Agroindustri Gresik Utara. Untuk delignifikasi, proses yang paling efektif adalah delignifikasi dengan hydrotermal alkali treatment, bleaching dengan penggunaan bleaching agent hidrogen peroksida, dan acid hydrolysis. Pabrik ini direncanakan berumur 20 tahun dengan masa konstruksi selama 4 tahun. Secara ekonomi, permodalan meliputi CAPEX sebesar Rp330.098.788.378 dan OPEX sebesar Rp187.069.011.508, dengan hasil penjualan tahunan mencapai Rp265.568.106.482. Proyek ini menunjukkan daya tarik rentabilitas yang cukup tinggi, yakni IRR 19,9%, dengan bunga bank sebesar 8,06% per tahun, laju inflasi 1,55% per tahun, pay-out time 5,24 tahun, dan break even point pada 52,36%.
=================================================================================================================================
One of the essential pharmaceutical excipients that is still heavily reliant on imports is Microcrystalline Cellulose (MCC). In the pharmaceutical industry, MCC is used as an additive functioning as a binder, diluent, and texturizer in tablets, food products, and cosmetics. Considering the abundant potential raw materials available for MCC production, this opportunity should be maximized to reduce Indonesia’s dependence on imports. One viable solution is to establish an MCC manufacturing plant. This development would not only reduce reliance on imported materials but also enhance the utilization of Indonesia’s abundant processed salt-based raw materials. The planned facility will have a production capacity of 2,000 tons per year and will be located in the Gresik Utara Agro-Industrial Area. For delignification, the most effective method involves hydrothermal alkali treatment, bleaching with hydrogen peroxide as the bleaching agent, and acid hydrolysis. The plant has a planned life of 20 years with a construction period of 4 years. Economically, capitalization includes CAPEX of IDR330,098,788,378 and OPEX of IDR187,069,011,508, with annual sales proceeds reaching IDR265,568,106,482. The project shows high profitability attractiveness, namely IRR of 19.9%, with bank interest of 8.06% per year, inflation rate of 1.55% per year, pay-out time of 5.24 years, and break even point at 52.36%
Pengembangan Model Analisis Pengaruh Consumer Vulnerability untuk Meningkatkan Impulse Buying pada Social Media-Live Shopping Menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling
Latar Belakang – Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara berbelanja konsumen, dengan platform media sosial berbasis video semakin mendominasi sebagai saluran e-commerce melalui fitur live shopping. Aktivitas live shopping ini, yang sering kali dilengkapi dengan promosi eksklusif dan tekanan waktu, berpotensi mempengaruhi perilaku pembelian impulsif pengguna. Namun, masih sedikit penelitian yang membahas pengaruh kombinasi faktor-faktor ini, terutama di Indonesia.
Permasalahan – Permasalahan dalam penelitian ini adalah belum dipahaminya secara mendalam bagaimana aktivitas live shopping, promosi eksklusif, tekanan waktu, dan kerentanan pengguna memengaruhi pembelian impulsif di platform media sosial berbasis video di Indonesia. Selain itu, terdapat kebutuhan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang paling signifikan dalam memengaruhi keputusan impulsif pengguna ketika berbelanja melalui fitur live shopping pada platform media sosial berbasis video. Hal ini penting untuk diteliti mengingat semakin meningkatnya penggunaan live shopping sebagai strategi pemasaran yang dapat mendorong pembelian impulsif di Indonesia.
Tujuan – Menganalisis secara mendalam bagaimana aktivitas live shopping, promosi eksklusif, tekanan waktu, dan kerentanan pengguna memengaruhi perilaku pembelian impulsif pengguna media sosial berbasis video di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana masing-masing faktor ini berinteraksi dan berkontribusi terhadap keputusan impulsif dalam konteks social media-live shopping. Selain itu, penelitian ini juga ingin memberikan gambaran tentang faktor-faktor yang harus dipertimbangkan oleh penjual dan platform seperti media sosial berbasis video untuk memaksimalkan pengalaman belanja dan meningkatkan penjualan melalui live shopping.
Data dan Metode – Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada pengguna media sosial berbasis video di Indonesia, dengan metode analisis yang menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Penelitian ini melibatkan pengukuran terhadap beberapa variabel seperti aktivitas live shopping, promosi eksklusif, tekanan waktu, dan kerentanan pengguna, serta pengaruhnya terhadap pembelian impulsive.
Hasil – Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah pemahaman yang lebih dalam mengenai faktor-faktor yang mendorong pembelian impulsif dalam live shopping, yang dapat memberikan wawasan bagi platform media sosial berbasis video dan pemasar dalam merancang strategi yang lebih efektif.
Manfaat/Kontribusi – Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan literatur tentang perilaku konsumen terkait social media-live shopping, khususnya dalam konteks live shopping. Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi bagi pengusaha dan pemasar untuk merancang promosi yang lebih menarik dan meningkatkan konversi penjualan melalui social media-live shopping.
==========================================================================================================================================
Background – The development of digital technology has transformed consumer shopping behavior, with video-based social media platforms increasingly dominating as e-commerce channels through live shopping features. Live shopping activities, often accompanied by exclusive promotions and time pressure, have the potential to influence users’ impulsive buying behavior. However, there is still limited research that examines the combined influence of these factors, especially in Indonesia.
Problem Statement – The issue in this study lies in the lack of in-depth understanding of how live shopping activities, exclusive promotions, time pressure, and user vulnerability affect impulsive buying behavior on video-based social media platforms in Indonesia. Additionally, there is a need to identify the most significant factors influencing users’ impulsive decisions when shopping via live shopping features on video-based social media platforms. This is crucial to investigate, given the increasing use of live shopping as a marketing strategy that encourages impulsive buying in Indonesia.
Objective – To analyze in-depth how live shopping activities, exclusive promotions, time pressure, and user vulnerability influence impulsive buying behavior among Media sosial users in Indonesia. This study aims to understand how each of these factors interacts and contributes to impulsive decisions in the context of live shopping-based social media. Furthermore, it seeks to provide insights into the factors sellers and platforms like Media sosial should consider to enhance shopping experiences and boost sales through live shopping.
Data and Methods – Data is collected through questionnaires distributed to users of video-based social media platforms in Indonesia, using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) as the method of analysis. The study involves measuring variables such as live shopping activities, exclusive promotions, time pressure, and user vulnerability, as well as their effects on impulsive buying.
Expected Results – The study aims to provide deeper insights into the factors driving impulsive buying during live shopping, offering valuable knowledge for video-based social media platforms and marketers to design more effective strategies.
Benefits/Contributions – Theoretically, this research is expected to contribute to the literature on consumer behavior on social media, particularly in the context of live shopping. Practically, it aims to provide recommendations for businesses and marketers to design more engaging promotions and improve sales conversion through social media-live shopping
Desain Pabrik Mikrokristalin Selulosa dari Limbah Gergaji Kayu Sengon dengan Delignifikasi Hidrotermal
Salah satu bahan baku obat yang sangat dibutuhkan namun masih bergantung pada impor adalah Microcrystalline Cellulose (MCC). Dalam industri farmasi, MCC digunakan sebagai bahan tambahan yang berperan binder, diluent, dan texturizer pada tablet, makanan, ataupun kosmetik. Mengingat banyaknya potensi bahan baku untuk produksi MCC, seharusnya dimanfaatkan secara maksimal agar Indonesia tidak tergantung pada impor. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah dengan mendirikan pabrik MCC. Pembangunan ini tidak hanya akan mengurangi ketergantungan pada impor, tetapi juga meningkatkan pemanfaatan bahan baku garam olahan yang melimpah di Indonesia. Pabrik yang direncanakan akan memiliki kapasitas 2000 ton per tahun. Lokasi pabrik akan berada di Kawasan Industri Agroindustri Gresik Utara. Untuk delignifikasi, proses yang paling efektif adalah delignifikasi dengan hydrotermal alkali treatment, bleaching dengan penggunaan bleaching agent hidrogen peroksida, dan acid hydrolysis. Pabrik ini direncanakan berumur 20 tahun dengan masa konstruksi selama 4 tahun. Secara ekonomi, permodalan meliputi CAPEX sebesar Rp330.098.788.378 dan OPEX sebesar Rp187.069.011.508, dengan hasil penjualan tahunan mencapai Rp265.568.106.482. Proyek ini menunjukkan daya tarik rentabilitas yang cukup tinggi, yakni IRR 19,9%, dengan bunga bank sebesar 8,06% per tahun, laju inflasi 1,55% per tahun, pay-out time 5,24 tahun, dan break even point pada 52,36%.
==================================================================================================================================
One of the essential pharmaceutical excipients that is still heavily reliant on imports is Microcrystalline Cellulose (MCC). In the pharmaceutical industry, MCC is used as an additive functioning as a binder, diluent, and texturizer in tablets, food products, and cosmetics. Considering the abundant potential raw materials available for MCC production, this opportunity should be maximized to reduce Indonesia’s dependence on imports. One viable solution is to establish an MCC manufacturing plant. This development would not only reduce reliance on imported materials but also enhance the utilization of Indonesia’s abundant processed salt-based raw materials. The planned facility will have a production capacity of 2,000 tons per year and will be located in the Gresik Utara Agro-Industrial Area. For delignification, the most effective method involves hydrothermal alkali treatment, bleaching with hydrogen peroxide as the bleaching agent, and acid hydrolysis. The plant has a planned life of 20 years with a construction period of 4 years. Economically, capitalization includes CAPEX of IDR330,098,788,378 and OPEX of IDR187,069,011,508, with annual sales proceeds reaching IDR265,568,106,482. The project shows high profitability attractiveness, namely IRR of 19.9%, with bank interest of 8.06% per year, inflation rate of 1.55% per year, pay-out time of 5.24 years, and break even point at 52.36%