49971 research outputs found
Sort by
Desain Perhiasan Fine Jewelry dengan Implementasi Material Thermochromic untuk Generasi Z
Peningkatan harga komoditas emas yang diikuti peningkatan penjualan perhiasan emas di tahun dalam 5 tahun keterakhir menjadi katalis positif bagi industri perhiasan emas di Indonesia. Namun, rendahnya minat generasi z masih menjadi tantangan bagi perusahaan lokal, meskipun generasi ini merupakan salah satu target market potensial dalam beberapa tahun kedepan. Untuk mengatasi kurangnya minat Gen Z terhadap perhiasan emas, diperlukan pendekatan inovatif yang dapat menarik minat generasi ini. Salah satu inovasi yang dapat dilakukan adalah pengembangan perhiasan emas dengan material thermochromic, yang memungkinkan perhiasan dapat berubah warna sesuai dengan suhu sekitar. Pengembangan perhiasan dengan implementasi material thermochromic dilakukan menggunakan metode eksperimen, yang mencakup identifikasi material thermochromic, transformasi warna, eksplorasi warna, pengujian material, sambungan, dan finishing material. Selain itu, untuk mengidentifikasi permasalahan dan pengembangan produk menggunakan metode studi literatur, preferensi pengguna, analisis material, analisis produk kompetitor, analisis kebutuhan pengguna, analisis pasar, analisis pengguna potensial, prototyping, dan pengujian produk. Inovasi ini tidak hanya menawarkan estetika saja, tetapi juga dapat memberikan pengalaman yang unik dan relevan dengan gaya fashion Gen Z. Dengan adanya inovasi thermochromic yang diterapkan pada perhiasan emas, diharapkan dapat meningkatkan minat generasi ini untuk membeli perhiasan emas, sekaligus mendorong pertumbuhan industri perhiasan di Indonesia.
===============================================================================================================================
The increase in gold commodity prices followed by the rise in gold jewelry sales over the past five years has been a positive catalyst for Indonesia's gold jewelry industry. However, the low interest of Generation Z remains a challenge for local companies, even though this generation is expected to become one of the potential target markets in the coming years. To address the lack of interest among Gen Z in gold jewelry, an innovative approach is needed to attract their attention. One such innovation is the development of gold jewelry using thermochromic materials, enabling jewelry to change color according to the surrounding temperature. The development of jewelry incorporating thermochromic materials is conducted using an experimental method, which includes material identification, color transformation, color exploration, material testing, bonding, and material finishing. Additionally, to identify issues and develop the product, methods such as literature study, user preferences, material analysis, competitor product analysis, user needs analysis, market analysis, potential user analysis, prototyping, and product testing are employed. This innovation not only offers aesthetic value but also provides a unique experience relevant to Gen Z's fashion style. By implementing thermochromic innovations in gold jewelry, it is expected to increase this generation's interest in purchasing gold jewelry while also boosting the growth of the jewelry industry in Indonesia
Redesain Clubhouse Regency 21 Surabaya Berkonsep Wellness-Centered guna Meningkatkan Inklusivitas dan Mendukung Gaya Hidup Sehat
Pasca pandemi COVID-19, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan fisik meningkat signifikan, mendorong tren gaya hidup aktif termasuk kembalinya minat berolahraga di pusat kebugaran. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada gym mandiri, tetapi juga pada fasilitas olahraga dalam clubhouse yang kini berperan ganda sebagai ruang olahraga dan ruang sosial. Meningkatnya keberagaman pengguna justru memunculkan tantangan baru terkait inklusivitas ruang. Banyak pengguna baru kerap merasa ragu atau kurang percaya diri untuk mulai berolahraga di ruang publik karena suasana yang kurang mendukung, baik secara sosial maupun visual. Di sisi lain, pengguna yang sudah terbiasa pun dapat mengalami penurunan kenyamanan apabila kualitas fasilitas dan pengaturan ruang tidak terus dikembangkan secara adaptif. Perbedaan kebutuhan tersebut dapat diatasi dengan akomodasi desain interior yang tepat. Proyek ini merespons permasalahan tersebut melalui pendekatan redesain clubhouse berbasis wellness-centered dan inklusif, dengan penekanan pada pengalaman ruang yang mendukung kenyamanan fisik maupun emosional pengguna. Desain menitikberatkan pada pengelolaan sirkulasi dan zonasi, pemilihan elemen interior yang mendorong motivasi berolahraga, serta penciptaan atmosfer ruang yang tidak mengintimidasi. Dengan demikian, clubhouse tidak hanya menjadi fasilitas olahraga yang fungsional, tetapi juga ruang yang mampu menjangkau dan mendukung lebih banyak individu untuk menjalani gaya hidup sehat secara berkelanjutan.
======================================================================================================================================
Following the COVID-19 pandemic, public awareness of physical health has increased significantly, driving a growing trend toward active lifestyles, including a renewed interest in exercising at fitness centers. This phenomenon has impacted not only stand-alone gyms but also sports facilities within clubhouses, which now serve a dual role as spaces for both exercise and social interaction. However, the increasing diversity of users has brought about new challenges related to spatial inclusivity. Many new users often feel hesitant or lack confidence to engage in physical activity in public spaces due to an unsupportive social or spatial atmosphere. Meanwhile, experienced users may experience reduced comfort when facilities and spatial arrangements are not continuously adapted and improved. These differing needs can be addressed through appropriate interior design solutions. This project responds to these issues by proposing a wellness-centered and inclusive redesign approach for a clubhouse, emphasizing spatial experiences that support both physical and emotional comfort. The design focuses on circulation and zoning strategies, the selection of interior elements that foster motivation to exercise, and the creation of a non-intimidating atmosphere. In doing so, the clubhouse is envisioned not only as a functional fitness facility but also as a space that can engage and support a broader range of individuals in sustaining a healthy lifestyle
Developing a Transit Oriented Development (TOD) Index for Perth’s Morley-Ellenbrook Line: A Spatial Multi Criteria Assessment Approach
Emisi karbon global semakin menjadi perhatian, dan sektor transportasi memberikan kontribusi besar terhadap hal ini karena ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi. Oleh karena itu, perpindahan ke penggunaan transportasi umum sangat ditekankan di berbagai kota di seluruh dunia untuk mengatasi permasalahan ini. Untuk mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum, sistem tersebut harus mudah diakses, nyaman, dan efisien. Pengembangan Berorientasi Transit (Transit Oriented Development/TOD) merupakan konsep pengembangan yang menempatkan pembangunan padat di kawasan sekitar stasiun transit. TOD menyediakan aksesibilitas dan konektivitas sehingga para pengguna transportasi dapat mengurangi jumlah perjalanan dalam aktivitas harian mereka, karena pusat-pusat aktivitas dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Kawasan Metropolitan Perth merupakan salah satu kota paling bergantung pada kendaraan pribadi di dunia, dengan 69% penduduknya menggunakan mobil pribadi untuk perjalanan kerja. Penelitian ini akan mengevaluasi penerapan TOD di koridor rel kereta api terbaru, yaitu Jalur Morley-Ellenbrook (MEL). Meskipun Metronet memproyeksikan bahwa stasiun-stasiun ini akan memiliki kawasan transit yang dinamis, kondisi saat ini mungkin menunjukkan hal yang berbeda. Dalam mengembangkan penelitian ini, digunakan pendekatan Penilaian Spasial Multi Kriteria (Spatial Multi Criteria Assessment/SMCA) dengan variabel-variabel berbasis prinsip lingkungan terbangun untuk menyusun indeks TOD yang mengukur tingkat penerapan TOD berdasarkan indikator spasial yang membentuk indeks tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan TOD di Jalur MEL mengindikasikan ketidaksesuaian antara penyediaan transportasi umum dan infrastruktur pendukung TOD. Beberapa stasiun memiliki infrastruktur yang tidak memadai untuk mendukung pengembangan padat yang dibutuhkan dalam konsep TOD. Stasiun-stasiun tersebut cenderung berorientasi pada kendaraan pribadi atau terpisah dari pusat-pusat aktivitas. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai efektivitas jangka panjang penerapan TOD tanpa kebijakan yang konsisten dan dapat ditegakkan. Selain itu, temuan ini juga menekankan pentingnya sinkronisasi antara investasi transportasi dan pengembangan kawasan di sekitar stasiun. Temuan penelitian memberikan rekomendasi berbasis bukti yang diturunkan dari indikator-indikator individu, guna meningkatkan kinerja TOD di sepanjang koridor, dengan intervensi yang ditargetkan pada stasiun-stasiun yang kinerjanya rendah. Terakhir, penelitian ini juga mengidentifikasi peluang untuk penelitian lebih lanjut mengenai penerapan TOD di Kawasan Metropolitan Perth, dengan mengungkap faktor-faktor yang mungkin memengaruhi keberhasilan hasil TOD.
======================================================================================================================================
Global carbon emissions are becoming a concern, and the transport sector majorly contributes to it due to people’s dependency on private vehicles. Therefore, the shift towards public transport usage is heavily emphasized in cities across the world in combating these issues. To encourage people to use public transport, the system itself must be accessible, convenient, and efficient. Transit Oriented Development (TOD) is a development concept in putting compact developments on transit precincts. TOD provides accessibility and connectivity so commuters could take less trips in their daily activities as activity centres are accessible within walking distances. As the Perth Metropolitan Area is one of the most car-dependent cities in the world, with 69% of the population uses private cars for work trips, this research will evaluate TOD implementation on its newest railway corridor; the Morley-Ellenbrook Line (MEL). While it is projected by Metronet that these stations would have vibrant transit precincts, current conditions may reflect otherwise. In developing this research, a Spatial Multi Criteria Assessment (SMCA) approach with variables based on the built environment principles will formulate a TOD index to measure TOD levels based on the spatial indicators that makes up the index. The results demonstrate that TOD implementation on the MEL indicates a mismatch between public transport provision and TOD supporting infrastructure, with some of the stations having insufficient infrastructure that supports the compact developments for TOD. Stations are car-centric or fragmented from activity centres. This raises concerns about the long-term effectiveness of TOD implementation without consistent enforceable policies. In addition, it underscores the importance of aligning transit investments with surrounding station developments. The findings provide evidence-based recommendations based on the individual indicators to improve TOD performance on the corridor with targeted interventions at low-performing stations. Finally, it also identifies opportunities for future research regarding TOD application in Perth Metropolitan Area by identifying factors that may affect the successes of TOD outcomes
Analisis Pengaruh Conductive Layer dan Perlakuan Temperatur Terhadap Performa Flexible Photodiode CsPbBr3
Indonesia sebagai negara tropis yang mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun, memiliki potensi yang sangat besar untuk dapat memanfaatkan perangkat fotovoltaik seperti fotodioda dalam pemenuhan kebutuhan energinya. Namun, keterbatasan dan kontur lahan yang beragam menjadi menjadi tantangan tersendiri bagi penggunaan sel surya. Sebagai upaya memaksimalkan konversi energi surya di lahan yang terbatas, pengembangan flexible photodiode (FP) menjadi salah satu ide yang menarik. Maka dari itu, pada penelitian ini akan dilakukan fabrikasi FP yang memiliki konsep heterojunction dengan TiO2, Fe2O3, perovskite CsPbBr3, carbon nanotubes (CNT), dan substrat berupa polyethylene terephthalate (PET) sebagai penyusunnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh temperatur treatment perovskite CsPbBr3 serta keberadaan conductive layer pada FP yang ditujukan sebagai proof-of-concept dalam pengembangan flexible solar cell dengan substrat PET. Material Fe2O3 yang akan dimanfaatkan didapat dari sisa hasil korosi jalur pipa gas daerah Jawa Timur yang dikalsinasi pada suhu 600℃. Di sisi lain, perovskite CsPbBr3 disintesis dengan metode ligand-assisted reprecipitation (LARP). Fabrikasi FP akan dilakukan dengan proses deposisi layer-per-layer hingga akhirnya disatukan. FP akan difabrikasi dengan dua variasi yang berbeda, yaitu FP dengan conductive layer dan tanpa conductive layer. Sementara itu, variasi temperatur treatment CsPbBr3 yang digunakan adalah temperatur ruang, 60℃, dan 85℃. Analisis dilakukan melalui uji karakterisasi XRD, SEM, UV-Vis, PL, serta pengukuran performa dengan uji LSV. Studi ini menunjukkan bahwa peningkatan temperatur berpengaruh secara langsung terhadap morfologi, khususnya ukuran partikel CsPbBr3. Selain itu, estimasi bandgap yang dilakukan dengan TAUC plot menunjukkan bahwa nilai bandgap thin film CsPbBr3 konsisten berada di rentang ~2,3 eV. Adapun penambahan CNT sebagai conductive layer justru menekan performa fotovoltaik dari flexible photodiode yang telah difabrikasi. Hal tersebut dibuktikan dengan perangkat yang memiliki susunan TiO₂/Fe₂O₃/CsPbBr₃ selalu mampu menghasilkan arus dengan nilai yang lebih besar dibanding fotodioda dengan susunan TiO₂/Fe₂O₃/CsPbBr₃/CNT pada tegangan yang sama. Utamanya, pada tegangan +0,3 V saat kondisi illuminated, rata-rata arus yang dihasilkan oleh fotodioda dengan struktur tanpa CNT mencapai selisih lebih dari ~0,01 A/cm² dibanding dengan fotodioda yang memiliki struktur tambahan berupa CNT. Adapun arus tertinggi yang tercatat adalah ~0,03 A/cm².
=====================================================================================================================================
Indonesia, as a tropical country that receives sunlight throughout the year, holds significant potential for harnessing photovoltaic devices such as photodiodes to meet its energy demands. However, limitations in land availability and diverse terrain profiles present challenges for the widespread implementation of solar cells. To address this, the development of flexible photodiodes (FP) emerges as a promising approach for maximizing solar energy conversion in limited space. Therefore, this study focuses on the fabrication of flexible photodiodes with a heterojunction architecture composed of TiO₂, Fe₂O₃, CsPbBr₃ perovskite, carbon nanotubes (CNT), and polyethylene terephthalate (PET) as the substrate. The objective of this research is to investigate the effects of CsPbBr₃ post-deposition treatment temperature and the presence of a conductive layer on the performance of the flexible photodiode, serving as a proof-of-concept for the development of flexible PET-based flexible solar cells. The Fe₂O₃ material was derived from corrosion by-products of a natural gas pipeline in East Java and subsequently calcined at 600 °C. Meanwhile, the CsPbBr₃ perovskite was synthesized using the ligand-assisted reprecipitation (LARP) method. The FP devices were fabricated via a sequential layer-by-layer deposition process. Two configurations were prepared: FP with and without a conductive CNT layer. CsPbBr₃ films were treated at three different temperatures: room temperature, 60 °C, and 85 °C. Characterization was performed through XRD, SEM, UV-Vis, and PL measurements, along with device performance analysis using LSV. The study demonstrates that increasing the treatment temperature has a direct impact on the morphology of CsPbBr₃, particularly in particle size growth. Furthermore, bandgap estimation using the TAUC plot confirmed a consistent value around ~2.3 eV for the CsPbBr₃ thin films. Interestingly, the inclusion of CNTs as a conductive layer was found to suppress the photovoltaic performance of the flexible photodiode. This was evidenced by the TiO₂/Fe₂O₃/CsPbBr₃-structured devices consistently generating higher current than those with the TiO₂/Fe₂O₃/CsPbBr₃/CNT configuration under the same voltage. Specifically, under illumination at +0.3 V, the average photocurrent of the CNT-free device exceeded that of the CNT-based device by more than ~0.01 A/cm² and the highest current recorded was ~0.03 A/cm²
Rekayasa Ulang Aplikasi Back-End Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jawa Timur Bagian Kantor berbasis Bahasa Pemrograman Golang
Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jawa Timur yang berbasis Laravel mengalami kendala performa serius ketika menangani volume pengguna tinggi, menyebabkan lambatnya waktu respon dan tingginya penggunaan sumber daya sistem. Penelitian ini melakukan rekayasa ulang aplikasi back-end dari Laravel ke Golang menggunakan framework Gin untuk meningkatkan performa dan efisiensi penggunaan sumber daya sesuai standar ISO 25010. Metodologi penelitian menggunakan pendekatan Agile dengan empat tahapan sistematis: analisis sistem saat ini, perancangan rekayasa ulang sistem, implementasi sistem baru, dan pengujian serta perbandingan sistem. Implementasi menggunakan Golang dengan framework Gin dan GORM sebagai Object Relational Mapping (ORM). Pengujian komprehensif dilakukan melalui pengujian fungsional dan pengujian performa menggunakan Grafana K6 dengan simulasi 50 pengguna virtual dan 500 iterasi. Hasil menunjukkan peningkatan performa signifikan dengan waktu respons meningkat 72,17% (dari 4,45 detik menjadi 1,266 detik) dan stabilitas Resource Utilization CPU menurun 57,95% dengan rata-rata penurunan fluktuasi dari 20,16% menjadi 8,47%, sesuai dengan karakteristik Performance Efficiency dalam ISO 25010. Rendahnya fluktuasi CPU mengindikasikan manajemen konkurensi yang lebih efektif dan memenuhi sub-karakteristik Resource Utilization standar ISO 25010, membuktikan rekayasa ulang berhasil mengatasi keterbatasan Laravel dalam aplikasi berskala besar.
==================================================================================================================================
The East Java Student Admission System (SPMB) based on Laravel experienced serious performance issues when handling high user volumes, causing slow response times and high system resource usage. This research conducted a back-end application re-engineering from Laravel to Golang using the Gin framework to improve performance and resource utilization efficiency according to ISO 25010 standards. The research methodology employed an Agile approach with four systematic stages: current system analysis, system re-engineering design, new system implementation, and system testing and comparison. The implementation utilized Golang with the Gin framework and GORM as Object Relational Mapping (ORM). Comprehensive testing was conducted through functional testing and performance testing using Grafana K6 with simulation of 50 virtual users and 500 iterations. Results demonstrated significant performance improvements with response time efficiency improved by 72,17% (from 4,45 seconds to 1,266 seconds) and CPU resource utilization stability enhanced with fluctuation decreased by 57,95% from 20,16% to 8,47%, aligning with Performance Efficiency characteristics in ISO 25010. The low CPU fluctuation indicates more effective concurrency management and meets the Resource Utilization sub-characteristics of ISO 25010 standards, proving that the re-engineering successfully addressed Laravel's limitations in large-scale applications
Desain Interior SLBN Pembina Tingkat Nasional Bagian C Malang Berkonsep Environmental Graphic Design (EGD) sebagai Sarana Pengembangan Multisensori Anak Berkebutuhan Khusus
Desain interior memiliki peran penting dalam mendukung proses pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB), terutama dalam menciptakan ruang yang sesuai dengan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus. Namun, menurut Kemendikbudristed (2016), realitanya masih terdapat 12,26% anak berkebutuhan khusus yang hanya dapat mengakses pendidikan khusus beserta fasilitasnya. Selain itu, masih banyak ditemukan ruang-ruang belajar yang belum mampu mengakomodasi tantangan aksesibilitas, navigasi, serta keterbatasan sensori yang dimiliki siswa. Lingkungan yang tidak responsif terhadap kondisi tersebut dapat membatasi potensi belajar, eksplorasi, dan kemandirian siswa dalam kegiatan sehari-hari. Permasalahan ini juga ditemukan pada SLBN Pembina Tingkat Nasional Bagian C Malang sebagai sekolah percontohan nasional yang menaungi berbagai jenis ketunaan. Berbagai ruang belajar di sekolah tersebut masih membutuhkan pendekatan desain yang lebih adaptif dan mendukung beragam kebutuhan siswa secara nyata. Pendekatan Environmental Graphic Design (EGD) dan multisensori diterapkan dalam perancangan interior untuk merespons permasalahan tersebut. EGD menghadirkan sistem komunikasi visual melalui integrasi warna, simbol, tipografi, dan bentuk visual lainnya ke dalam elemen-elemen ruang, sehingga fungsi ruang lebih mudah dikenali dan diingat oleh pengguna dengan berbagai hambatan. Sementara itu, pendekatan multisensori dirancang untuk mengaktifkan lebih dari satu indera dalam mendukung pembelajaran, melalui keterlibatan visual, auditori, taktil, hingga aroma. Di samping itu, perancangan didasarkan pada hasil observasi dan analisis langsung terhadap kebutuhan siswa dengan ketunaan tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, dan autisme. Setiap elemen dirancang tidak hanya mempertimbangkan fungsi, tetapi juga kenyamanan dan kejelasan informasi yang disampaikan oleh ruang.
Melalui pendekatan ini, desain interior dikembangkan sebagai bagian aktif dari sistem pembelajaran, yang tidak hanya memberikan ruang fisik untuk belajar, tetapi juga memperkuat pengalaman, orientasi, dan interaksi siswa di dalamnya. Konsep ini menjadi alternatif dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih ramah, adaptif, dan selaras dengan keragaman kebutuhan siswa di SLB.
======================================================================================================================================
Interior design plays a crucial role in supporting the educational process in Special Schools (SLB), particularly in creating environments that align with the needs of students with disabilities. However, according to the Ministry of Education and Culture (Kemendikbudristek, 2016), only 12.26% of children with special needs in Indonesia have access to special education and its supporting facilities. In addition, many learning spaces still fail to accommodate challenges related to accessibility, spatial navigation, and sensory limitations. Environments that are unresponsive to these conditions can restrict students' learning potential, exploration, and independence in daily activities.
These issues are also present at SLBN Pembina Tingkat Nasional Bagian C Malang, a national pilot school that serves students with various types of disabilities. The learning environments in this school still require a more adaptive design approach to adequately support the diverse needs of its students. The Environmental Graphic Design (EGD) and multisensory approaches are applied in the interior design process to address these challenges. EGD establishes a visual communication system by integrating colors, symbols, typography, and other graphic elements into the spatial design, making it easier for users with different limitations to recognize and recall spatial functions. Meanwhile, the multisensory approach activates more than one sense to support the learning experience, through the involvement of visual, auditory, tactile, and olfactory stimuli. Furthermore, the design process is based on direct observation and analysis of the specific needs of students with visual impairments, hearing impairments, intellectual disabilities, physical disabilities, and autism. Each design element considers not only functionality but also comfort and the clarity of information conveyed through the space. Through this approach, interior design becomes an active component of the learning system. It provides not just a physical place to study but also enhancesthe user experience, spatial orientation, and student interaction. This concept offers an alternative direction in creating educational environments that are more inclusive, adaptive, and aligned with the diverse needs of students in special education
Analisis Proses Risiko Operasional Penanganan Kargo Peti Kemas Menggunakan Metode Failure Mode and Effect Analysis
Kegiatan operasional penanganan kargo di terminal peti kemas memiliki peranan penting dalam mendukung kelancaran arus logistik nasional. Namun demikian, proses ini juga mengandung berbagai risiko yang dapat mengganggu keselamatan kerja, efisiensi operasional, dan kualitas pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko-risiko yang terdapat dalam proses operasional penanganan kargo di Terminal Peti Kemas Surabaya dengan menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi potensi kegagalan, mengevaluasi tingkat keparahan, kemungkinan terjadinya, dan kemampuan deteksi dari setiap potensi kegagalan, yang kemudian dihitung dalam bentuk Risk Priority Number (RPN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa mode kegagalan dengan nilai RPN tinggi yang memerlukan prioritas penanganan segera, seperti pada risiko (R20.2) memiliki nilai RPN tertinggi sebesar 315, dengan risiko GPS tracking rusak yang menyebabkan rute tidak optimal dan lead time naik, (R23.8) memiliki nilai RPN sebesar 240, dengan risiko pencahayaan route yard minim dan (R9.1) dengan risiko spreader twistlock tidak terpasang dengan benar yang menyebabkan container tergelincir dan jatuh, memiliki nilai RPN sebesar 216. Semua risiko yang disebutkan merupakan very high risk. Penelitian ini merekomendasikan tindakan mitigasi berupa risk avoidance, risk mitigation, risk transfer, dan risk acceptance Dengan penerapan analisis FMEA, Terminal Peti Kemas diharapkan dapat meminimalkan risiko operasional dan meningkatkan kinerja pelayanan secara berkelanjutan.
=================================================================================================================================
Operational activities of cargo handling at container terminals have a strategic role in supporting the smooth flow of national logistics. However, this process also contains various risks that can disrupt work safety, operational efficiency, and service quality. This study aims to analyze the risks in the operational process of cargo handling at the Surabaya Container Terminal using the Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) method. This method is used to identify potential failures, evaluate the severity, likelihood of occurrence, and detection capability of each potential failure, which is then calculated in the form of a Risk Priority Number (RPN). The results of the study indicate that there are several failure modes with high RPN values that require immediate priority handling, such as risk (R20.2) has the highest RPN value of 315, with the risk of damaged GPS tracking which causes the route to be suboptimal and lead time to increase, (R23.8) has an RPN value of 240, with the risk of minimal route yard lighting and (R9.1) with the risk of improperly installed spreader twistlocks which cause containers to slip and fall, has an RPN value of 216. All the risks mentioned are very high risk. This study recommends mitigation actions in the form of risk avoidance, risk mitigation, risk transfer, and risk acceptance. By implementing FMEA analysis, the Container Terminal is expected to minimize operational risks and improve service performance sustainably
Studi Eksperimen Evaluasi Performa Panel Surya Monocrystalline dengan Pendingin Berbasis Nano Enhanced Phase Change Material (NePCM) Paraffin Wax-CuO
Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang mendapatkan sinar matahari sepanjang tahun dan sebagai negara yang dilalui garis khatulistiwa, sehingga hampir seluruh wilayahnya mendapatkan sinar matahari cukup. Hal ini membuat indonesia menjadi negara dengan potensi energi surya yang besar. Pemanfaatan Potensi energi surya ini tentu perlu diiringi dengan pengembangan panel surya yang mampu menghasilkan efisiensi tinggi, karena hingga saat ini tingkat efisiensi panel surya masih tergolong rendah. Salah satu hambatan yang mempengaruhi efisiensi panel surya adalah peningkatan temperatur yang berlebihan pada permukaan panel selama operasi. Berbagai teknologi pendinginan dikembangkan, salah satunya pendinginan pasif phase change material (PCM). Sifat PCM yang mampu menyimpan panas dalam jumlah besar tanpa mengalami kenaikan temperatur saat perubahan fasenya, membuat PCM menjadi pendingin yang baik. Parafin Wax merupakan salah satu jenis PCM yang stabil, tidak korosif dan mudah ditemui di Indonesia. Sayangnya parafin wax memiliki konduktivitas termal yang rendah, yang mengakibatkan kinerja termal pendinginan kurang efisien. Sehingga dilakukan pengembangan dengan menambahkan nanopartikel pada parafin wax untuk meningkatkan konduktivitas termalnya. Oleh karena itu, dalam penelitian kali ini dilakukan penambahan nano partikel copper oxide (CuO) yang memiliki konduktivitas termal yang tinggi dengan harga terjangkau pada PCM parafin wax, dengan harapan dapat meningkatkan kinerja termal PCM, sehingga efisiensi panel surya selama beroperasi meningkat. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan eksperimen pada lima variasi diantaranya, panel surya tanpa pendingin, panel surya dengan pendingin PCM Murni, panel surya surya dengan pendingin NePCM CuO 1%, panel surya surya dengan pendingin NePCM CuO 2%, dan panel surya surya dengan pendingin NePCM CuO 3%. Eksperimen dilakukan di Atap Departemen Teknik Mesin FTIRS ITS, pada bulan Mei hingga Juni 2025, dengan periode pengambilan data di mulai pada pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Hasil menunjukan bahwasanya seiring dengan penggunaan PCM dan penambahan konsentrasi nanopartikel CuO, temperatur permukaan atas dan bawah panel surya semakin menurun, sedangkan temperatur permukaan bawah container PCM meningkat seiring penambahan konsentrasi nanopartikel CuO. Hal ini, menunjukan adanya peningkatan konduktivitas pada PCM yang meningkatkan kinerja termalnya, sebagai pendingin panel surya. Penurunan temperatur panel ini berdampak pada peningkatan tegangan sehingga daya keluaran dan efisiensi panel surya juga meningkat. Akibatnya, panel surya dengan pendingin NePCM CuO 3% yang memiliki PCM dengan konsentrasi nanopartikel CuO tertinggi pada penelitian ini, menunjukkan hasil paling optimal karena memiliki temperatur panel terendah dari variasi lainnya, dengan efisiensi rata-rata harian mencapai 22,7% dan peningkatan efisiensi sebesar 3,04% terhadap panel surya tanpa pendingin.
======================================================================================================================================
Indonesia is a tropical country that receives sunlight throughout the year and is located along the equator, allowing nearly all regions to receive sufficient solar radiation. This makes Indonesia a country with great solar energy potential. However, the utilization of this potential must be supported by the development of solar panels with high efficiency, as current solar panel efficiency remains relatively low. One of the main factors affecting the efficiency of solar panels is the excessive increase in panel surface temperature during operation. Various cooling technologies have been developed, one of which is passive cooling using phase change material (PCM). PCM has the ability to store large amounts of heat without a temperature increase during its phase change, making it an effective cooling method. Paraffin wax is one type of PCM that is stable, non-corrosive, and widely available in Indonesia. However, its low thermal conductivity limits its cooling performance. To overcome this limitation, nanoparticles are added to paraffin wax to enhance its thermal conductivity. Therefore, this study involves the addition of copper oxide (CuO) nanoparticles, which have high thermal conductivity and are relatively affordable, to paraffin wax-based PCM in order to improve its thermal performance and increase solar panel efficiency during operation. The experiment was conducted on five variations: solar panel without cooling, solar panel with pure PCM cooling, and solar panels with NePCM CuO at concentrations of 1%, 2%, and 3%. The experiments took place on the rooftop of the Mechanical Engineering Department, FTIRS ITS, during May to June 2025, with data collection conducted from 08:00 to 16:00 local time. The results show that the use of PCM and the increase in CuO nanoparticle concentration lead to a decrease in the top and bottom surface temperatures of the solar panel, while the bottom surface temperature of the PCM container increased with higher nanoparticle concentration. This indicates an improvement in the thermal conductivity of the PCM, enhancing its cooling performance. The reduction in panel temperature resulted in higher voltage output, thereby increasing power and efficiency. Among all variations, the solar panel with NePCM CuO 3% showed the most optimal performance, having the lowest panel temperature and achieving an average daily efficiency of 22.7%, with a 3.04% increase in efficiency compared to the solar panel without cooling
Analisis Risiko Operasional Automatic Teller Machine dan Mobile Banking dengan Metode Failure Mode and Effect Analysis (Studi Kasus : PT. Bank Riau Kepri Syariah (PERSERODA))
Bank Riau Kepri Syariah merupakan bank BUMD milik pemerintah Provinsi Riau dan Kepulauan Riau yang berkantor pusat di Pekanbaru, Riau. Penggunaan mesin ATM dan Mobile Banking dapat menimbulkan risiko operasional yang dapat menyebabkan kerugian. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor sistem teknologi, faktor manusia, faktor kegagalan internal, dan faktor kegagalan eksternal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis, mengidentifikasi, mengevaluasi, dan memberikan rekomendasi untuk dapat memitigasi risiko yang dapat terjadi pada perbankan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Identifikasi risiko dilakukan dengan menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) dengan mengetahui penyebab risiko. Setelah itu, dilakukan penilaian risiko yaitu severity, occurance dan detection. Kemudian, dilakukan perhitungan RPN dan menetukan risiko prioritas. Setelah menentukan risiko prioritas, dilakukan rekomendasi sebagai penanganan untuk dapat mengurangi risiko prioritas. Berdasarkan hasil identifikasi risiko, didapatkan 33 risiko dari aktivitas transfer, penarikan tunai dan pembayaran/pembelian pulsa ATM dan 24 risiko dari aktivitas transfer dan pembayaran/pembelian pulsa Mobile Banking. Berdasarkan hasil perhitungan RPN, diketahui bahwa 11% merupakan high risk, 5% merupakan moderate to high risk, 59% risiko merupakan moderate risk, 21% merupakan low to moderate risk dan 4% merupakan low risk pada ATM dan 5% merupakan high risk, 11% merupakan moderate to high, 61% merupakan moderate risk, 21% merupakan low to moderate risk, 2% merupakan low risk. Setelah itu dilakukan penentuan prioritas risiko dengan konsep pareto dan diperoleh sebanyak 42 risiko ATM dan 32 risiko Mobile Banking yang termasuk ke dalam prioritas.
===========================================================================================================================================
PT Bank Riau Kepri Syariah is a regional government-owned bank (BUMD) owned by the provincial governments of Riau and the Riau Islands, with its head office located in Pekanbaru, Riau. The use of ATM and mobile banking services may result in operational risks that can lead to financial losses. These risks may arise from several factors, including technological system failures, human errors, internal failures, and external disruptions. Therefore, this study aims to analyze, identify, evaluate, and provide recommendations to mitigate potential risks in banking operations. The method used in this study is the Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Risk identification was conducted using the Fault Tree Analysis (FTA) method by determining the root causes of each risk. Following the identification, each risk was assessed using three criteria: severity, occurrence, and detection. Then, the Risk Priority Number (RPN) was calculated to determine the priority of each risk. Based on the results of risk identification, a total of 33 risks were found in ATM activities (including transfer, cash withdrawal, and prepaid transactions), and 24 risks were identified in mobile banking activities (including transfer and payment/purchase transactions). According to the RPN calculation, ATM-related risks were categorized as follows: 11% high risk, 5% moderate to high risk, 59% moderate risk, 21% low to moderate risk, and 4% low risk. For mobile banking, the distribution was 5% high risk, 12% moderate to high risk, 61% moderate risk, 21% low to moderate risk, and 2% low risk. Finally, risk prioritization was carried out using the Pareto principle, resulting in 42 ATMrelated risks and 32 mobile banking-related risks being classified as priority risks
Perancangan Mekanisme Mesin Pembuat Brush Dari Siwak
Penelitian ini bertujuan untuk merancang mekanisme mesin pembuat brush dari siwak sebagai solusi terhadap produksi manual dan menghasilkan produk yang tidak seragam. Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana menentukan spesifikasi teknis dan cara kerja mesin yang sesuai untuk menghasilkan brush dari batang siwak yang telah dikupas. Perancangan dilakukan dengan pendekatan teknik rekayasa, mencakup identifikasi kebutuhan, penentuan mekanisme, dan perhitungan elemen mesin seperti poros, belt-pulley, bearing, dan motor penggerak. Mesin dirancang menggunakan dua mekanisme utama: mekanisme pengerollan dua roll untuk memipihkan batang siwak, dan mekanisme reciprocating untuk memotong batang menjadi bentuk brush yang diinginkan. Seluruh desain dibuat dengan perangkat lunak Autodesk Inventor Professional. Perhitungan daya, gaya potong, serta dimensi komponen juga dilakukan untuk memastikan kinerja mesin optimal. Hasil rancangan ini yaitu Alat pengujian ini memiliki panjang 560 mm, lebar 475 mm, dan tinggi 670 mm. Dari hasil perhitungan daya motor yang diperlukan untuk pengerollan sebesar 0.4 kW dan daya motor untuk pemotongan 90W, pulley yang digunakan yaitu NBK dengan ukuran 7 inch dan 5 inch tipe v-belt B dengan panjang 43 inch, diameter poros 25 mm.
========================================================================================================================
This research aims to design a brush making machine mechanism from miswak as a solution to manual production and produce non-uniform products. The main problem raised is how to determine the technical specifications and workings of the appropriate machine to produce brushes from peeled miswak sticks. The design is carried out with an engineering approach, including identification of needs, determination of mechanisms, and calculation of machine elements such as shafts, belt-pulleys, bearings, and drive motors. The machine was designed using two main mechanisms: a two-roll rolling mechanism to flatten the miswak sticks, and a reciprocating mechanism to cut the sticks into the desired brush shape. The entire design was created with Autodesk Inventor Professional software. Calculations of power, cutting force, and component dimensions were also carried out to ensure optimal machine performance. The results of this design are as follows: This testing device has a length of 560 mm, a width of 475 mm, and a height of 670 mm. Based on the calculations, the motor power required for rolling is 0.4 kW and the motor power for cutting is 90W. The pulleys used are NBK with sizes of 7 inches and 5 inches, type V-belt B, with a length of 43 inches and a shaft diameter of 25 mm