49971 research outputs found
Sort by
Pelacakan Sampah Laut dari Muara Sungai Menggunakan Pemodelan Hidrodinamika di Teluk Lamong
Teluk Lamong merupakan wilayah yang digunakan untuk berbagai macam aktivitas seperti industri, perdagangan dan pergudangan. Berbagai aktivitas yang dilakukan menyebabkan perairan Teluk Lamong menjadi salah satu perairan yang tercemar berat oleh limbah sampah. Keberadaan sampah laut menjadi salah satu bentuk pencemaran lingkungan laut yang semakin mengkhawatirkan. Karena sampah laut dapat memberikan pengaruh yang merugikan bagi manusia dan lingkungan air, khususnya habitat dan biota laut yang hidup di perairan Teluk Lamong. Selain dihasilkan oleh aktivitas yang ada di laut, sebagian besar sampah laut juga berasal dari sampah yang terbawa oleh sungai. Sampah yang berada di sungai Surabaya berpotensi berakhir di Teluk Lamong. Dalam Teluk Lamong sendiri terdapat tujuh sungai yang bermuara ke perairan Teluk Lamong. Sampah laut yang sampai ke Teluk Lamong kemudian akan tersebar akibat kondisi hidrodinamika di Teluk Lamong. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk memprediksi distribusi dan arah pergerakan sampah laut dari muara yang ada di Teluk Lamong serta keterkaitannya terhadap pola arus yang ada di Teluk Lamong. Metode yang digunakan untuk melakukan pemodelan hidrodinamika dan model pelacakan partikel adalah dengan menggunakan metode numerik perangkat lunak Delft3D. Validasi pemodelan dilakukan untuk mengukur keakuratan kualitas data antara model dengan data observasi menggunakan perhitungan statistik RMSE, dan Korelasi Pearson untuk mencari hubungan linier antara model dengan pengukuran. Hasil studi menunjukkan Pergerakan dan distribusi sampah plastik PP sangat terkait dengan pola arus dan pasang surut di kedua musim. sampah PP cenderung terkonsentrasi di dekat muara sungai dan di dalam Teluk Lamong, baik saat spring tide maupun neap tide. sampah PP pada musim barat cenderung terkonsentrasi di sisi tenggara dari teluk, sementara sampah PP pada musim timur lebih terkonsentrasi di sisi barat laut dari teluk. Konsentrasi sampah PP terapung lebih tinggi di musim barat (tertinggi sekitar 0,04 kg/m2) daripada musim timur (tertinggi sekitar 0,02 kg/m2).
=============================================================================================================================================
Lamong Bay is a region utilized for various activities such as industry, trade, and warehousing. These activities have led to Lamong Bay becoming one of the most polluted waters due to waste and debris. Marine debris is one form of marine environmental pollution that is becoming increasingly concerning, as it can have detrimental effects on humans and aquatic environments, particularly the habitats and marine life in Lamong Bay. Apart from being generated by activities at sea, the majority of marine debris also comes from waste carried by rivers. Waste from the Surabaya river has the potential to end up in Lamong Bay. Within Lamong Bay, there are seven rivers that flow into its waters. Marine debris that reaches Lamong Bay will then disperse due to the hydrodynamic conditions in the area. Therefore, this study aims to predict the distribution and movement of marine debris from the river mouths in Lamong Bay and its relationship with the current patterns in the area. The methods used for hydrodynamic modeling and particle tracking modeling involve numerical modeling using Delft3D software. Modeling validation was conducted to measure the accuracy of data quality between the model and observation data using RMSE statistical calculations, and Pearson Correlation to find a linear relationship between the model and measurements. The results of the study showed that the movement and distribution of PP plastic waste were closely related to current and tidal patterns in both seasons. PP waste tends to be concentrated near the river mouth and within Lamong Bay, both during spring tide and neap tide. PP waste in the west season tends to be concentrated on the southeast side of the bay, while PP waste in the east season is more concentrated on the northwest side of the bay. The concentration of floating PP waste is higher in the west season (the highest is around 0.04 kg/m2) than in the east season (the highest is around 0.02 kg/m2)
Analisis Peningkatan Capaian Service Level Pada Distributor Produk Air Minum Dalam Kemasan (Amdk) Di Pekanbaru Dengan Pendekatan Dmaic
PT.XYZ merupakan perusahaan distribusi produk air minum dalam kemasan (AMDK) di Pekanbaru yang menghadapi tantangan untuk meningkatkan pencapaian service level kepada para pelanggannya. Tercatat pada periode September 2023 hingga April 2024, rata-rata pencapaian service level produk kemasan galon adalah 87.89% sedangkan untuk produk dengan kemasan box adalah 89.23% dimana pencapaian ini belum memenuhi target perusahaan yakni 95%. Dari latar belakang tersebut, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk dapat mengidentifikasi akar permasalahan tidak tercapainya target service level perusahaan. Penelitian akan dilakukan dengan pendekatan DMAIC (Define-Measure-Analyze-Improve-Control) menggunakan tools cause effect diagram (fishbone diagram) dan 5 -whys analysis . Penelitian dimulai dengan observasi langsung terhadap proses distribusi perusahaan serta diikuti dengan wawancara terhadap stakeholder yang terkait pada proses bisnis perusahaan. Aktivitas observasi serta wawancara membantu dalam penggambaran process activity mapping yang bertujuan untuk dapat memberikan gambaran terkait alur proses distribusi. Selain itu pada penelitian ini juga dilakukan proses pengumpulan data historikal juga untuk mengetahui kondisi awal perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa faktor yang menjadi akar penyebab belum tercapainya target SLA adalah faktor metode, manpower, measurement dan material .Pada penelitian ini diberikan rekomendasi perbaikan berupa usulan digitalisasi, perbaikan sistem pemantauan (monitoring), struktur organisasi serta pembuatan standar operasional prosedur yang didapatkan dari hasil observasi serta wawancara dengan pihak terkait untuk mengatasi akar permasalahan tersebut. Dari hasil rekomendasi perbaikan yang dilakukan, terlihat terjadinya peningkatan produktivitas aktivitas distribusi dimana ritase kendaraan meningkat dari 1.16 menjadi rata-rata 1.38. Perbaikan dari sisi proses juga berdampak pada peningkatan pencapaian SLA, dimana pada kemasan galon capaian SLA meningkat dari rata-rata 87.8% menjadi 91.6% sedangkan pada kemasan box capaian SLA meningkat dari 89.2% menjadi 92%. Peningkatan indikator kinerja tersebut berdampak juga pada peningkatan angka penjualan perusahaan sebesar 22%
=================================================================================================================================
PT.XYZ , a bottled drinking water distribution company based in Pekanbaru, is currently facing challenges in achieving its targeted service level. From September 2023 to April 2024, the company recorded an average service level of 87.89% for gallon-packaged products and 89.23% for box-packaged products, both below the company’s target of 95%. This study aims to identify the root causes of the service level gap and provide improvement recommendations. The research employs the DMAIC (Define-Measure-Analyze-Improve-Control) methodology, supported by tools such as the fishbone diagram and 5 Whys analysis. Data collection involved direct observation of distribution activities, stakeholder interviews, process activity mapping, and analysis of historical operational data. Findings reveal that the primary causes of the unmet service level targets are related to method, manpower, measurement, and material. Based on these insights, several improvements are proposed, including digitalization, enhancement of monitoring systems, adjustments to the organizational structure, and the development of standard operating procedures (SOPs).Implementation of these recommendations led to improved distribution performance, as reflected in the increase of average vehicle trips (ritase) from 1.16 to 1.38. Furthermore, service level achievement rose to 91.6% for gallon-packaged products and 92% for box-packaged products. These results demonstrate the effectiveness of targeted process improvements in enhancing service levels. The improvement in these performance indicators also had a positive impact to the company’s sales, which increased by 22%
Model Optimasi Jaringan Rantai Pasok di Industri Semen Untuk Meminimalkan Biaya Distribusi dan Mereduksi Emisi Karbon
Industri semen memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan nasional, terutama dalam penyediaan bahan baku konstruksi infrastruktur. Namun, di wilayah Sumatra, pemanfaatan kapasitas distribusi semen belum berjalan secara optimal akibat ketidakseimbangan antara supply dan demand. Dari sisi lingkungan, perusahaan semen juga dituntut untuk mengurangi emisi karbon dari kegiatan produksi maupun distribusi dikarenakan kontribusinya yang besar tehadap emisi karbon. Penelitian ini berfokus pada permasalahan distribusi produk di perusahan semen PT. XYZ di wilayah Sumatera menggunakan metode Mixed Integer Linear Programming (MILP) dengan fungsi tujuan untuk meminimalkan biaya distribusi dan mereduksi emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas logistik. MILP digunakan dikarenakan mampu menangani permasalahan matematis yang melibatkan kombinasi variabel diskrit dan kontinu, dengan struktur fungsi objektif serta kendala yang bersifat linier. Hasil analisis menunjukkan dari sisi utilisasi, terjadi redistribusi beban produksi yang lebih merata antar fasilitas yang sebelumnya kurang optimal. Sementara itu, dari sisi biaya, total biaya rantai pasokan berhasil ditekan hingga 4% atau sekitar 451 miliar rupiah yang berasal dari efisiensi biaya produksi sebesar 3% dan distribusi sebesar 7% dengan penurunan terbesar ada di distribusi cement plant ke packing plant yaitu 44%. Sementara untuk emisi karbon dengan armada truk, penurunan terbesar terdapat pada distribusi dari grinding plant ke kota pemasaran sebesar 52% dengan rincian semula 84,469 lt.CO2-eq menjadi 40,277 lt.CO2-eq. Penurunan emisi karbon terbesar dengan armada kapal terdapat pada distribusi cement plant ke grinding plant yaitu sebesar 45% atau 210,916 lt.CO2-eq. Dalam analisa sensitivitas, kapasitas fasilitas pasok dapat memenuhi demand saat terjadi kenaikan demand 3%. Namun, saat terjadi kenaikan demand 4%, kapasitas fasilitas pasok tidak dapat memenuhi demand atau terjadi keadaan shortage.
=====================================================================================================================================
The cement industry strategically supports national development, especially in providing raw materials for infrastructure construction. However, in the Sumatra region, the utilization of cement distribution capacity has not been running optimally due to the imbalance between supply and demand. From an environmental perspective, cement companies are also required to reduce carbon emissions from production and distribution activities because of their large contribution to carbon emissions. This study focuses on the problem of product distribution at the cement company PT. XYZ in the Sumatra region using the MILP method with the objective function of minimizing distribution costs and reducing carbon emissions resulting from logistics activities. MILP is used because it is able to handle mathematical problems involving a combination of discrete and continuous variables, with an objective function structure and linear constraints. The results of the analysis show that in terms of utilization, there is a more even redistribution of production loads between facilities, as well as an increase in capacity utilization at facilities that were previously less than optimal. Meanwhile, in terms of costs, the total supply chain costs have been reduced by 4% or around 451 billion rupiahs, originating from production cost efficiency of 3% and distribution of 7% with the largest decrease was in the distribution of cement plant to packing plant, which was 44%. Meanwhile, carbon emissions with truck fleets, the largest decrease is in the distribution from the grinding plant to marketing cities by 52% with details of the original 84,469 lt.CO2-eq to 40,277 lt.CO2-eq. The largest decrease in carbon emissions with ship fleets is in the distribution of cement plant to grinding plant, which is 45% or 210,916 lt.CO2-eq. In the sensitivity analysis, the capacity of the supply facility can meet the demand when there is a 3% increase in demand. However, when there is a 4% increase in demand, the capacity of the supply facility cannot meet the demand and a shortage occurs
Desain Pabrik Garam Farmasi Dari Garam Rakyat Berkapasitas 2.600 Ton/Tahun Dengan Metode Rekristalisasi
Kebutuhan garam di Indonesia meningkat setiap tahunnya yang disebabkan oleh populasi global. Indonesia menghadapi peningkatan kebutuhan garam farmasi mecapai 5.000 hingga 7.000 ton per tahun dan meningkat sebesar 8% setiap tahunnya. Garam industri farmasi adalah jenis garam yang digunakan pada industri farmasi sebagai bahan baku dengan spesifikasi NaCl minimal 99,8% (adbk) dan kadar impurities mendekati 0%. Untuk mengurangi ketergantungan impor, pabrik garam farmasi berkapasitas 2.600 ton/tahun dirancang menggunakan metode rekristalisasi. Proses ini bertujuan untuk memurnikan garam rakyat hingga mencapai kadar NaCl minimal 99.8%. Pabrik ini direncanakan dibangun di Sampang, Jawa Timur. Garam rakyat dengan kemurnian awal 88,38% akan dimurnikan melalui tahapan pre-treatment, filtrasi, koagulasi menggunakan Na₂CO₃, NaOH, dan BaCl₂, dilanjutkan evaporasi pada 100°C, kristalisasi pada 87°C dan 0,57 atm, serta pemisahan melalui centrifuge. Produk dikeringkan dengan rotary dryer pada 120°C dan didinginkan pada rotary cooler pada 25°C pada 1 atm dan akan dibawa dengan ke warehouse gudang garam farmasi. Dari aspek ekonomi, investasi total (TCI) sebesar Rp93.424.416.409,71 dengan total biaya produksi tahunan sebesar Rp 29.560.212.861,05 dan proyeksi penjualan produk sebesar Rp 60.576.618.000. Analisis ekonomi menunjukkan nilai IRR sebesar 18,78% dengan WACC sebesar 9,76%, dengan waktu pengembalian modal (POT) selama 4 tahun 4 bulan dan nilai BEP sebesar 30,07%. Berdasarkan ekonomi, pendirian pabrik garam farmasi ini dinilai layak untuk direalisasikan.
==================================================================================================================================
The demand for salt in Indonesia increases annually due to global population growth. Indonesia faces a growing demand for pharmaceutical-grade salt, projected to reach 5,000 to 7,000 tons per year, with an annual growth rate of 8%. Pharmaceutical-grade salt is a type of salt used in the pharmaceutical industry as a raw material, with a specification of at least 99.8% NaCl (on a dry basis) and impurity levels close to 0%. To reduce dependence on imports, a pharmaceutical salt plant with a capacity of 2,600 tons/year is designed using the recrystallization method. This process aims to purify local salt to reach a minimum NaCl content of 99.8%. The plant is planned to be built in Sampang, East Java. Local salt with an initial purity of 88.38% will be refined through pre-treatment, filtration, coagulation using Na₂CO₃, NaOH, and BaCl₂, followed by evaporation at 100°C, crystallization at 87°C and 0.57 atm, and separation using a centrifuge. The product is dried with a rotary dryer at 120°C, cooled in a rotary cooler at 25°C and 1 atm, and then transported to the pharmaceutical salt warehouse. From an economic perspective, the total capital investment (TCI) is Rp 93,424,416,409.71, with an annual production cost of Rp 29,560,212,861.05 and projected product sales of Rp 60,576,618,000. The economic analysis shows an IRR of 18.78% with a WACC of 9.76%, a payback period (POT) of 4 years and 4 months, and a break-even point (BEP) of 30.07%. Based on these economic indicators, the establishment of this pharmaceutical salt plant is considered feasible for implementation
Desain Pabrik Refined Carrageenan Dari Rumput Laut Eucheuma Cottonii Menggunakan Metode Double Extraction Dengan Kapasitas 2.000 Ton/Tahun
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah terutama di sektor maritim. Hal ini yang menyebabkan keanekaragaman hayati Indonesia melimpah dan memiliki kondisi biologis yang sangat mendukung pertumbuhan rumput laut. KKP menyatakan bahwa budidaya rumput laut Indonesia menghasilkan 9,23 juta ton yang didominasi oleh varian Cottonii sebagai bahan baku dari karagenan. Meski Indonesia merupakan salah satu penghasil rumput laut Eucheuma cottonii terbesar di dunia yang merupakan bahan baku utama karagenan, sebagian besar produksi rumput laut mentahnya diekspor untuk diolah di luar negeri. Hal ini menunjukkan perlunya pengembangan industri pengolahan karagenan dalam negeri agar dapat memenuhi kebutuhan domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor. Salah satu produk utamanya adalah Refined carrageenan yang memiliki kemurnian tinggi dan banyak digunakan dalam industri makanan, farmasi, dan kosmetik sebagai pengental, pembentuk gel, atau pengikat. RC sangat penting untuk pasar internasional yang membutuhkan kualitas karagenan dengan kualitas dan kemurnian yang lebih tinggi. Refined carrageenan dapat dihasilkan dengan melakukan metode double extraction. Metode ini dipilih karena pada penelitian sebelumnya dapat menghasilkan yield yang lebih tinggi hingga 20% dibandingkan dengan metode single extraction. Ekstraksi dilakukan menggunakan KOH dan air panas kemudian diendapkan menggunakan larutan KCl dan selanjutnya dikeringkan menggunakan tray dryer infra merah untuk mengeringkan dan mensterilkan tepung karagenan tersebut. Bahan baku eucheuma cottonii terbesar dihasilkan oleh provinsi Sulawesi Selatan. Provinsi ini memiliki wilayah industri yang menjanjikan yaitu Kawasan Industri Makassar yang berada di Makassar. Pemasok bahan baku yang berasal dari Pangkep sebagai daerah terdekat dengan Makassar yang menjadi wilayah penghasil eucheuma cottonii terbesar kedua di Sulawesi Selatan. Didapatkan bahwa kami dapat mendirikan pabrik dengan kapasitas 2.000 ton/tahun. Dari hasil analisa ekonomi yang telah dilakukan didapatkan bahwa produksi pabrik Refined carrageenan memiliki IRR dengan nilai 20.03% yang nilainya berada diatas nilai WACC yaitu sebesar 8.67%. Diperoleh juga nilai NPV yang positif sehingga pabrik dianggap layak untuk didirikan. Dari perhitungan yang telah dilakukan diperkirakan bahwa pabrik ini akan balik modal dalam waktu 6 tahun produksi.
==========================================================================================================================================
Indonesia as the largest archipelagic country in the world, possesses abundant natural resources, especially in the maritime sector. This causes Indonesia’s biodiversity to be abundant and have biological conditions that greatly support the growth of seaweed. KKP stated that Indonesia’s seaweed cultivation produces 9.32 million tons, dominated by the Cottonii variant as the raw material of carrageenan. Although Indonesia is one of the largest producers of Eucheuma cottonii seaweed in the world, which is the raw material of carrageenan, most of its raw seaweed production is exported for processing abroad. This indicates the need for the development of the domestic carrageenan powder processing industry to meet the domestic needs and reduce dependence on the import products. One of its main products is Refined carrageenan, which has high purity and is widely used in the food, pharmaceutical, and cosmetic industries as thickener, gelling agent, or sequestrant. RC is very important for the international market that requires carrageenan of higher quality and purity. Refined carrageenan can be produced using the double extraction method. This method is chosen because in the previous research showed that it could yield up to 20% more compared to the single extraction method. Extraction was carried out using KOH and hot water2, then precipitated using KCl, and subsequently dried using and infrared tray dryer to dry and sterilize the carrageenan powder. The largest raw material for Eucheuma cottonii is produced by the province of South Sulawesi. This province has a promising industrial area, Kawasan Industri Makassar. The raw material suppliers will come from Pangkep, the nearest area to Makassar, which is the second largest producer of Eucheuma cottonii in South Sulawesi. It was found that we can establish a factory with a capacity of 2.000 ton/year. From the results of the economic analysis that has been done, it was found that the production of the Refined Carrageenan factory has an IRR with a value of 20.03% which is above the WACC value of 8.67%. A positive NPV value was also obtained so that the factory is considered feasible to be established. From the calculations that have been done, it is estimated that this factory will return its capital within 6 years of production
Identifikasi Lapisan Bawah Permukaan Menggunakan Metode Geolistrik (Resistivity) Konfigurasi Wenner-Schlumberger Di Desa Kedungjambe, Kabupaten Tuban
Struktur bawah permukaan tanah berperan penting dalam kegiatan perencanaan pembangunan, eksplorasi sumber daya alam, serta upaya mitigasi terhadap bencana geologi. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis distribusi nilai resistivitas bawah permukaan dan menginterpretasikan jenis dan susunan lapisan bawah permukaan berdasarkan hasil pengolahan data resistivitas di wilayah Desa Kedungjambe, Kabupaten Tuban, dengan menerapkan metode geolistrik resistivitas konfigurasi Wenner-Schlumberger. Terdapat empat lintasan pengukuran yang digunakan, masing-masing memiliki panjang antara 140 hingga 300 meter dengan jarak antar elektroda 5 meter, serta tingkat error di bawah 10%. Lintasan 3 memperlihatkan adanya anomali resistivitas tinggi (>9.13 Ωm) di kedalaman dangkal (2.5–7 meter) yang tidak umum ditemukan, dan diduga berkaitan dengan keberadaan fracture atau sesar aktif yang telah terisi mineral kuarsa atau kalsit, terutama karena posisinya yang dekat dengan kolam air panas dan berada pada jalur patahan. Temuan ini mengindikasikan adanya potensi struktur geologi aktif serta sistem panas bumi di wilayah tersebut.
==========================================================================================================================================
The subsurface structure of the soil plays a crucial role in development planning, natural resource exploration, and efforts to mitigate geological hazards. This study was conducted to analyze the distribution of subsurface resistivity values and to interpret the types and arrangements of subsurface layers based on resistivity data processing in Kedungjambe Village, Tuban Regency, using the resistivity geoelectrical method with the Wenner-Schlumberger configuration. Four measurement lines were used, each ranging from 140 to 300 meters in length with an electrode spacing of 5 meters, and an error rate below 10%. Line 3 revealed a high resistivity anomaly (>9.13 Ωm) at a shallow depth (2.5–7 meters), which is uncommon and suspected to be associated with an active fracture or fault filled with quartz or calcite minerals, especially considering its proximity to a hot spring and a fault zone. This finding indicates the potential presence of active geological structures and a geothermal system in the area
Pengembangan Model Appraisal Berbasis Data Citra Satelit Menggunakan Metode Deep Learning Untuk Penilaian Properti Di Kota Surabaya
Pertumbuhan pesat ekonomi di Surabaya telah mendorong perkembangan signifikan dalam sektor properti, dengan peningkatan konsisten sejak awal tahun 2017, terutama dalam sub-sektor tanah dan perumahan. Permintaan tempat tinggal yang meningkat didorong oleh pertumbuhan populasi dan keluarga baru, sementara Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) menjadi salah satu sumber utama pendapatan negara. Penilaian properti umumnya dilakukan melalui pendekatan perbandingan pasar, membandingkan properti dengan sejenisnya di sekitar lokasi. Faktor-faktor seperti ukuran, jumlah ruangan, dan keadaan lingkungan memengaruhi nilai properti, dengan citra satelit dan data Point of Interest (POI) dapat menggambarkan keadaan lingkungan dan tingkat kepadatan aktivitas manusia di sekitar properti. Meskipun telah banyak penelitian fokus pada penilaian menggunakan spesifikasi fisik rumah, masih jarang studi yang mempertimbangkan aspek lingkungan di sekitar rumah. Penelitian ini mengusulkan pendekatan berbasis data citra dengan menggabungkan citra satelit, spesifikasi rumah, dan POI untuk memprediksi nilai properti di Kota Surabaya menggunakan metode Convolutional Neural Network (CNN). CNN dipilih karena kemampuannya mengolah data citra serta efektivitasnya dalam mengenali pola spasial dan fitur visual kompleks, membuatnya ideal untuk memanfaatkan informasi visual lingkungan yang tidak terstruktur. Kota Surabaya dipilih sebagai lokasi penelitian karena keunikan dan kompleksitas kota tersebut, menjadikannya konteks relevan untuk menguji metode ini dalam dinamika perkembangan properti. Hasil ekstraksi fitur citra dengan CNN akan dijadikan variabel prediktor untuk memprediksi harga rumah di Kota Surabaya dengan membandingkan metode antara XGBoost dan MLP. Metode terbaik yang terpilih adalah XGBoost menggunakan data spesifikasi dengan nilai R2 sebesar 16,33%, MAPE sebesar 69,03%, dan RMSE sebesar Rp 182.518.279.
==================================================================================================================================
The rapid economic growth in Surabaya has driven significant developments in the property sector, with consistent increases since early 2017, especially in the land and housing sub-sectors. The rising demand for housing is driven by population growth and new families, while Land and Building Tax (PBB) has become one of the primary sources of government revenue. Property valuation is generally conducted through a market comparison approach, comparing the property with similar ones in the surrounding area. Factors such as size, number of rooms, and environmental conditions affect property Values, with satellite imagery and Point of Interest (POI) data providing insights into the property's surroundings and the density of human activity in the area. While much research has focused on physical property valuation, few studies have considered environmental aspects. This study proposes an image-based approach by combining satellite imagery, house specifications, and POI to predict property Values in Surabaya using Convolutional Neural Networks (CNN). CNN is chosen for its ability to process image data and POI simultaneously and for its effectiveness in recognizing spatial patterns and complex visual features, making it ideal for utilizing unstructured environmental visual information. Surabaya was selected as the study location due to its unique and complex urban characteristics, which provide a relevant context for testing this method in the dynamic property development landscape. The feature extraction results from CNN serve as predictor variables to estimate housing prices in Surabaya, with a comparison of methods between XGBoost and Multi-Layer Perceptron (MLP). The best-performing method, XGBoost using specification data, achieved an R2 value of 69,03%, a Mean Absolute Percentage Error (MAPE) of 16,33%, and a Root Mean Square Error (RMSE) of IDR 182.518.279
Analisis Workarounds Pada Platform Streaming Musik Untuk Penyusunan Rekomendasi Peningkatan Layanan
Dominasi platform streaming musik telah mengubah pola konsumsi musik global. Platform tersebut menerapkan model bisnis freemium yang membedakan fitur antara pengguna gratis dan premium. Namun, keterbatasan layanan pada versi gratis sering kali memicu ketidakpuasan pengguna yang mendorong mereka melakukan workarounds. Workarounds didefinisikan sebagai tindakan adaptasi atau improvisasi yang sengaja dilakukan untuk mengatasi hambatan dalam sistem kerja agar dapat mencapai tujuan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi fenomena workarounds yang dilakukan oleh pengguna dalam mengakses platform streaming musik di Indonesia, dengan menggunakan salah satu platform populer sebagai studi kasus. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus yang melibatkan wawancara semi-terstruktur dan observasi lapangan sebagai teknik pengumpulan data. Data yang terkumpul dianalisis melalui proses kodifikasi untuk mengidentifikasi hubungan antara penyebab serta bentuk workarounds. Penelitian ini juga mencakup penyusunan rekomendasi strategis yang ditujukan bagi penyedia layanan streaming musik untuk meningkatkan responsivitas terhadap kebutuhan pengguna. Hasil analisis dalam penelitian ini mengidentifikasi empat bentuk utama workarounds yang dilakukan oleh pengguna dalam mengakses platform streaming musik: penggunaan aplikasi MOD, content downloader, pembelian layanan premium melalui pihak tidak resmi, serta pemanfaatan mesin pencari dan situs eksternal. Keempat bentuk workarounds tersebut dipengaruhi oleh enam faktor utama: ketidakmampuan atau keengganan membayar, pengaruh dari orang terdekat atau promosi di media sosial, rasa penasaran, lemahnya sistem keamanan platform, kebutuhan atau keinginan akses offline, dan keterbatasan fitur. Dari keenam faktor tersebut, ketidakmampuan atau keengganan membayar menjadi faktor dominan yang mendorong pengguna untuk mencari alternatif di luar sistem resmi.
====================================================================================================================================
The dominance of music streaming platforms has transformed global music consumption patterns. These platforms typically adopt a freemium business model that differentiates features between free and premium users. However, the limitations of the free version often lead to user dissatisfaction, prompting them to engage in workarounds. Workarounds are defined as deliberate acts of adaptation or improvisation to overcome obstacles within a system to achieve specific objectives. This study aims to explore the phenomenon of workarounds carried out by users in accessing music streaming platform in Indonesia, using one popular platform as a case study. This research employs a case study approach, utilizing semi-structured interviews and field observations as data collection methods. The collected data is analyzed through a coding process to identify relationships between the causes and forms of workarounds. Additionally, the study involves giving strategic recommendations for music streaming service providers to enhance their responsiveness to user needs. The analysis in this study identifies four main forms of workarounds employed by users in accessing music streaming platform: the use of MODs, the use of content downloader, purchasing premium services through unofficial third parties, and utilizing search engines and external websites. These four types of workarounds are driven by six key factors: inability or unwillingness to pay, influence from close acquaintances or social media promotions, curiosity, weak platform security systems, need or demand for offline access, and features limitations. Among these factors, the inability or unwillingness to pay emerges as the dominant driver that compels users to seek alternatives outside the official system
Analisis Tingkat Kerentanan Gated Communities Terhadap Tindak Kejahatan Menggunakan Pendekatan Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) Di Kawasan Perumahan Keputih Dan Sekitarnya
Pesatnya pertumbuhan urbanisasi di Kota Surabaya telah membawa dampak signifikan terhadap kompleksitas masalah sosial, terutama peningkatan angka tindak kejahatan. Hal tersebut bukan hanya menjadi isu keamanan, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup masyarakat, menciptakan rasa takut, dan mengganggu stabilitas sosial. Masyarakat yang merasa terancam cenderung mencari solusi dengan memilih tempat tinggal yang dianggap lebih aman, seperti gated communities, yang dirancang untuk memberikan perlindungan bagi penghuninya. Namun, meskipun kawasan ini dilengkapi dengan pengamanan ketat dan akses terbatas, terdapat indikasi bahwa mereka tidak selalu lebih aman dibandingkan dengan area non-gated. Penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa batasan dalam gated communities sering kali menciptakan ilusi keamanan, yang justru membuat penghuni lebih lengah dan rentan terhadap tindak kejahatan. Hal ini mencerminkan ketidaksesuaian antara persepsi keamanan yang ditawarkan dan realitas tingginya potensi kejahatan di sekitarnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kerentanan gated communities di Perumahan Keputih dan sekitarnya terhadap tindak kejahatan dengan menggunakan pendekatan Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED). Penelitian ini menerapkan mixed methods, dengan Crime Vulnerability Index (CVI) sebagai alat ukur untuk menilai tingkat kerentanan terhadap tindak kejahatan. Objek penelitian mencakup tiga gated communities di Keputih, Surabaya: Bumi Marina Emas, Sukolilo Park Regency, dan Sukolilo Dian Regency. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga perumahan tersebut telah menerapkan tujuh elemen CPTED, meskipun beberapa elemen masih berada dalam tahap pengembangan atau kurang implementasinya. Perumahan Bumi Marina Emas berada pada kategori tingkat kerentanan rendah (0,669), sementara Perumahan Sukolilo Dian Regency (0,864) dan Perumahan Sukolilo Park Regency (0,803) menunjukkan tingkat kerentanan sangat rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketiga kawasan perumahan tersebut memiliki kapasitas yang cukup baik dalam menghadapi potensi risiko kejahatan. Hal ini terlihat dari penerapan berbagai elemen CPTED, yang mampu mengurangi peluang terjadinya tindak kriminal.
==================================================================================================================================
The rapid growth of urbanization in Surabaya has significantly impacted the complexity of social issues, particularly the increase in crime rates. This problem not only raises security concerns, but also affects the community’s quality of life, creating fear, and disrupting social stability. People who feel threatened tend to seek solutions by choosing places to live that are considered safer, such as gated communities, which are designed to provide protection for their residents. However, despite being equipped with strict security measures and limited access, there are indications that these areas are not always safer than non-gated areas. Previous research has revealed that the boundaries of gated communities often create a false sense of security, which can make residents more complacent and vulnerable to criminal activity. This reflects a mismatch between the perceived security offered and the reality of the high potential for crime in the surrounding areas. Therefore, this study aims to analyze the crime vulnerability of gated communities in the Keputih Residental Area using the Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED) approach. This study employs mixed methods, with the Crime Vulnerability Index (CVI) as a measurement tool. The research focuses on three gated communities in Surabaya: Bumi Marina Emas, Sukolilo Park Regency, and Sukolilo Dian Regency. The results of the study show that all three housing area have implemented seven CPTED elements, although some elements are still in development or partially implemented. Bumi Marina Emas is categorized as having a low vulnerability level (0.669), while Sukolilo Dian Regency (0.864) and Sukolilo Park Regency (0.803) show very low vulnerability levels. The analysis demonstrate that these residential areas generally possess adequate capacity to manage potential crime risks. The effective application of CPTED principles contributes to reducing criminal opportunities, thus enhancing overall environmental safety in these gated communities
Desain Pabrik Surfaktan Sodium Lignosulfonate (SLS) Berbasis Lignin Dari Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS)
Surfaktan Sodium Lignosulfonat (SLS) merupakan surfaktan anionik dengan gugus hidrofilik sebagai bagian kepala dan gugus hidrokarbon sebagai bagian ekornya. Struktur tersebut menyebabkan surfaktan lebih mudah larut di dalam air. Saat ini, kebutuhan akan surfaktan di Indonesia semakin meningkat seiring perkembangan industri deterjen, tekstil, kertas, polimer, serta teknologi Enhanced Oil Recovery. Pemenuhan kebutuhan surfaktan di Indonesia masih mengandalkan impor dari negara lain. Surfaktan Sodium Lignosulfonat (SLS) dapat digunakan dalam industri sebagai penunjang Yield yang dihasilkan dari teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR). Menurut Department of Energy United States, teknologi EOR dapat meningkatkan kapasitas produksi minyak sekitar 30-60%. Teknologi EOR semakin digunakan untuk memenuhi program pemerintah dalam mencapai target produksi minyak 1 juta barel per hari pada tahun 2030. Kelapa sawit adalah komoditas hasil perkebunan utama di Indonesia. Indonesia merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar atau hampir 60% minyak sawit di dunia. Pengolahan kelapa sawit menjadi minyak kelapa sawit menghasilkan limbah berupa Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), cangkang, dan serat. Limbah TKKS memiliki kandungan lignoselulosa yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan surfaktan. Pemilihan proses produksi pabrik ini dipertimbangkan melalui beberapa aspek meliputi persiapan bahan baku, proses delignifikasi, proses isolasi lignin, proses sulfonasi, proses pengendapan, dan pengeringan. Lokasi yang dipilih untuk membangun pabrik ini mempertimbangkan beberapa aspek meliputi ketersediaan bahan baku, wilayah pemasaran, ketersediaan utilitas, transportasi, ketersediaan tenaga kerja, lahan kosong, politik, komunitas local, dampak terhadap lingkungan, dan iklim. Pabrik Surfaktan Sodium Lignosulfonate (SLS) memiliki rencana sebagai berikut :
1. Perencanaan operasi : Kontinu, 24 jam/hari, selama 330 hari/tahun
2. Kapasitas Produksi : 25.000 ton/tahun
3. Lokasi Pabrik : Kota Dumai, Provinsi Riau
Ditinjau dari segi teknis dan ekonomi, pabrik ini layak didirikan karena mampu menghasilkan proses yang efisien untuk memproduksi SLS sesuai yang diinginkan. Berdasarkan Analisa yang telah dilakukan pada NPV, IRR, BEP, POT, dan Sensitivitas menunjukkan status pabrik dapat menghasilkan keuntungan. Jika ditinjau dari segi lingkungan, pabrik ini ramah lingkungan karena sedikit limbah yang dihasilkan selama berlangsungnya proses.
==================================================================================================================================
Sodium Lignosulfonate (SLS) surfactant is an anionic surfactant with a hydrophilic group at the head and a hydrocarbon group at the tail. This structure causes the surfactant to dissolve more easily in air. Currently, the need for surfactants in Indonesia is increasing along with the development of the detergent, textile, paper, polymer industry and Enhanced Oil Recovery technology. Meeting surfactant needs in Indonesia still relies on imports from other countries. Sodium Lignosulfonate (SLS) surfactant can be used in industry as a yield support resulting from Enhanced Oil Recovery (EOR) technology. According to the United States Department of Energy, EOR technology can increase oil production capacity by around 30-60%. EOR technology is increasingly being used to fulfill the government's program to achieve the oil production target of 1 million barrels per day by 2030. Palm oil is the main plantation commodity in Indonesia. Indonesia is the largest palm oil producing country or almost 60% of palm oil in the world. Processing palm oil into palm oil produces waste in the form of empty palm oil bunches (TKKS), shells and fiber. TKKS waste contains lignocellulose which can be used as raw material for making surfactants. The selection of the factory production process takes into consideration several aspects including raw material preparation, delignification process, lignin isolation process, sulfonation process, precipitation process, and drying. The location chosen to build this factory takes into account several aspects including availability of raw materials, marketing area, availability of utilities, transportation, availability of labor, vacant land, politics, local community, impact on the environment and climate. The Sodium Lignosulfonate (SLS) Surfactant Factory has the following plans:
1. Operation planning: Continuous, 24 hours/day, for 330 days/year
2. Production Capacity: 25,000 tons/year
3. Factory Location: Dumai City, Riau Province
From a technical and economic perspective, this factory is worth establishing because it is able to produce an efficient process for producing SLS as desired. Based on the analysis that has been carried out on NPV, IRR, BEP, POT, and Sensitivity, it shows that the factory status can generate profits. From an environmental perspective, this factory is environmentally friendly because little waste is produced during the process