Sepuluh Nopember Institute of Technology

ITS Repository
Not a member yet
    49971 research outputs found

    Implementasi COBIT 2019 pada Penyusunan Tata Kelola Teknologi Informasi di PT Telkom Landmark Tower (Studi Kasus: Subdomain APO06, APO11, BAI01, BAI05, dan BAI09)

    No full text
    Pengelolaan teknologi informasi (TI) yang efektif merupakan kebutuhan utama bagi perusahaan untuk mendukung tujuan strategis. Namun, tantangan seperti keterbatasan sumber daya manusia, resistensi terhadap perubahan, dan kurangnya prosedur formal sering menghambat optimalisasi tata kelola TI. Penelitian ini dilakukan di PT Telkom Landmark Tower dengan tujuan menyusun rekomendasi berbasis kerangka kerja COBIT untuk meningkatkan kapabilitas lima subdomain: Managed Organizational Change (BAI05), Managed Assets BAI09),Managed Programs (BAI01), Managed Quality (APO11), dan Managed Budget and Costs (APO06). Hasil analisis menunjukkan subdomain Managed Budget and Costs dan Managed Organizational Change memiliki tingkat penerimaan rekomendasi sebesar 100%, dengan kondisi as-is dan target to-be keduanya di level 4 untuk APO06 serta level 2 dan 3 untuk as-is dan to-be dari subdomain BAI05. Subdomain Managed Programs menunjukkan tingkat penerimaan rekomendasi 85,7% dengan kondisi as-is pada level 2 dan target to-be di level 3, Managed Quality memiliki tingkat penerimaan 100% dengan kondisi as-is di level 1 dan target to-be di level 2 dan Managed Assets 77,8%, dengan kondisi as-is di level 2 dan target to-be di level 3. Rekomendasi mencakup pengembangan SDM, pembentukan prosedur operasional yang terstruktur, penguatan kerangka kerja perubahan organisasi, pengelolaan aset yang lebih efektif, dan evaluasi berkelanjutan. Penelitian ini menghasilkan rekomendasi dan rencana aksi strategis yang diharapkan dapat menjembatani kesenjangan as-is dan to-be, mendukung perbaikan operasional, serta meningkatkan efisiensi dan daya saing perusahaan sesuai standar COBIT. ============================================================================================================================== Effective information technology (IT) management is a critical necessity for companies to support their strategic objectives. However, challenges such as limited human resources, resistance to change, and the lack of formal procedures often hinder the optimization of IT governance. This study was conducted at PT Telkom Landmark Tower to developrecommendations based on the COBIT framework aimed at improving the capabilities of five subdomains: Managed Organizational Change (BAI05), Managed Assets (BAI09), Managed Programs (BAI01), Managed Quality (APO11), and Managed Budget and Costs (APO06).The analysis revealed that the Managed Budget and Costs and Managed Organizational Change subdomain achieved a 100% recommendation acceptance rate, with both as-is and to be conditions for APO06 at level 4 and level 2 for as-is condition and level 3 for to-be condition of BAI05. The Managed Programs subdomain had an 85.7% acceptance rate, with as-is conditions at level 2 and a to-be target at level . The Managed Quality subdomain achieved a 100% acceptance rate with as-is conditions at level 1 and a to-be target at level 2, while Managed Assets received a 77.8% acceptance rate with as-is conditions at level 2 and a to-be target at level 3.The recommendations include developing human resources, establishing structured operational procedures, strengthening the organizational change framework, optimizing asset management, and implementing continuous evaluation. This study produces strategic recommendations and action plans expected to bridge the gap between as-is and to-be conditions, supporting operational improvement and enhancing the efficiency and competitiveness of the company in alignment with COBIT standard

    Manajemen Risiko Pemindahan Kondensat Berbasis Jetty Menggunakan FMECA

    No full text
    Pemindahan kondensat berbasis jetty memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan, lingkungan, dan efisiensi operasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi mode kegagalan, mengevaluasi risiko menggunakan metode Failure Mode, Effects, and Criticality Analysis (FMECA), serta menyusun rekomendasi mitigasi berdasarkan prioritas risiko. Lima mode kegagalan utama yang diidentifikasi adalah kebocoran pada pipa, kebocoran pada flexible hose, kesalahan pemasangan flexible hose, gangguan cuaca buruk, dan tekanan pompa tidak optimal. Analisis menunjukkan kebocoran pada pipa memiliki nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi (36,40) dan menjadi prioritas utama mitigasi. Rekomendasi mitigasi meliputi inspeksi pipa rutin, penggantian flexible hose berkala, pelatihan operator, dan penerapan teknologi deteksi. Hasil penelitian ini divalidasi melalui wawancara dengan narasumber ahli, yang menunjukkan bahwa rekomendasi relevan dan aplikatif. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengelolaan risiko dalam pemindahan kondensat berbasis jetty. ================================================================================================================================= The condensate transfer process using a jetty poses high risks to safety, the environment, and operational efficiency. This study aims to identify failure modes, evaluate risks using the Failure Mode, Effects, and Criticality Analysis (FMECA) method, and propose mitigation recommendations based on risk prioritization. Five main failure modes were identified: pipe leakage, flexible hose leakage, flexible hose misinstallation, adverse weather conditions, and suboptimal pump pressure. The analysis revealed that pipe leakage has the highest Risk Priority Number (RPN) of 36,40, making it the top mitigation priority. Recommended actions include routine pipe inspections, periodic flexible hose replacements, operator training, and the adoption of detection technology. The findings were validated through interviews with expert respondents, indicating that the recommendations are relevant and applicable. This study is expected to enhance risk management in condensate transfer operations using a jetty

    Studi Perbandingan Thermal Spray Aluminium (TSA) dan Thermal Spray Zinc (TSZ) terhadap Kekuatan Mekanik dan Laju Korosi pada Lingkungan Laut

    No full text
    Metode pengendalian korosi seperti coating, khususnya Thermal Spray Aluminium (TSA) dan Thermal Spray Zinc (TSZ) diterapkan sebagai pelindung fisik dan sacrificial anjungan lepas pantai. Variasi jenis material abrasif dan jenis metal wire dapat berpengaruh terhadap kualitas dan performa dari TSA serta TSZ. Penelitian ini dilakukan melalui ekperimen untuk mengetahui pengaruh variasi material abrasif dan jenis metal wire terhadap kekuatan adhesi, ketahanan bending, dan laju korosi hasil aplikasi TSA dan TSZ pada baja karbon ASTM A36. Penelitian ini menerapkan analisis berbasis eksperimen yang diuji melalui pull-off test, bending test, dan pengujian laju korosi sel tiga elektroda. Dilakukan pula pengamatan dengan Scanning Electron Microscope (SEM) untuk memvalidasi hubungan morfologi dengan performa coating. Adapun kesimpulan dari penelitian ini yaitu bahwa variasi jenis material abrasif dan jenis metal wire dapat memberikan pengaruh terhadap kekuatan adhesi dan ketahanan bending hasil aplikasi TSA dan TSZ coating pada baja karbon ASTM A36. Nilai rata-rata kekuatan adhesi tertinggi diperoleh spesimen coating TSA dengan material abrasif aluminium oxide dan metal wire Metallisation senilai 17,89 MPa. Nilai rata-rata kekuatan adhesi terendah diperoleh spesimen coating TSZ dengan material abrasif garnet dan metal wire Dura-Metal senilai 9,65 MPa. Hasil pengujian bending menunjukkan bahwa variasi yang dapat mengalami retak mayor hanya spesimen coating TSZ dengan material abrasif garnet dan metal wire Dura-Metal. Pengujian laju korosi menghasilkan pernyataan bahwa spesimen yang memiliki ketahanan korosi terbaik yaitu spesimen coating TSA dengan material abrasif aluminium oxide dan metal wire Metallisation dengan nilai laju korosi 0,002 mmpy, dan ketahanan terendah dimiliki oleh spesimen coating TSZ dengan material abrasif garnet dan metal wire Dura-Metal dengan nilai laju korosi 0,370 mmpy. ===================================================================================================================================== Corrosion control methods such as coating, specifically Thermal Spray Aluminium (TSA) and Thermal Spray Zinc (TSZ), are applied as physical and sacrificial protectors for offshore platforms. Variations in abrasive material types and metal wire can influence the quality and performance of TSA and TSZ. This research was conducted through experiments to determine the effects of variations in abrasive materials and metal wire types on adhesion strength, bending resistance, and corrosion rates of TSA and TSZ applications on ASTM A36 carbon steel. The study employed an experimental analysis tested through pull-off tests, bending tests, and corrosion rate testing using a three-electrode cell. Observations were also made using Scanning Electron Microscope (SEM) to validate the relationship between morphology and coating performance. The conclusion of this study indicates that variations in abrasive material types and metal wire types can significantly affect the adhesion strength and bending resistance of TSA and TSZ coatings on ASTM A36 carbon steel. The highest average adhesion strength was obtained from TSA coating specimens with aluminum oxide abrasive material and Metallisation metal wire, measuring 17.89 MPa. Conversely, the lowest average adhesion strength was found in TSZ coating specimens with garnet abrasive material and Dura-Metal wire, measuring 9.65 MPa. Bending test results showed that only the TSZ coating specimens with garnet abrasive material and Dura-Metal wire experienced major cracking. Corrosion rate testing revealed that the specimen with the best corrosion resistance was the TSA coating with aluminum oxide abrasive material and Metallisation wire, exhibiting a corrosion rate of 0.002 mmpy. In contrast, the lowest resistance was found in the TSZ coating with garnet abrasive material and Dura-Metal wire, which had a corrosion rate of 0.370 mmpy

    Proses Biokonversi Sampah Sisa Makanan Oleh Larva Black Soldier Fly

    No full text
    Timbulan sampah sisa makanan di Indonesia mencapai 41,05% dari total timbulan sampah dan terus meningkat setiap tahunnya. Sampah sisa makanan yang dihasilkan perlu dilakukan pengolahan guna mengurangi dan mencegah dampak negatif pada lingkungan. Pengolahan sampah sisa makanan dapat dilakukan dengan cara biokonversi menggunakan larva Black Soldier Fly (LBSF). Proses biokonversi dapat menghasilkan produk bernilai ekonomi seperti biogas, kompos dan/atau pakan ternak. Kinerja LBSF dalam proses biokonversi sangat dipengaruhi oleh substrat dalam hal ini sampah sisa makanan, sehingga perlu untuk mengoptimalkan kualitas dan kuantitas substrat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi optimum proses biokonversi dengan menganalisis pengaruh sumber substrat, rasio komposisi dan laju pemberian substrat. Penelitian ini terdiri dari 3 tahapan. Tahapan pertama adalah menganalisis pengaruh variasi jenis sampah sisa makanan. Jenis sampah sisa makanan yang digunakan mencakup sisa ayam dan sisa ikan sebagai sumber protein, sisa nasi dan sisa roti sebagai sumber karbohidrat serta sisa kulit ayam dan sisa ampas kelapa sebagai sumber lemak. Tahapan kedua adalah menganalisis pengaruh variasi komposisi makronutrien sampah sisa makanan yang mencakup protein: karbohidrat: lemak. Variasi yang digunakan untuk protein: karbohidrat yaitu 30:70; 40:60; 50:50; 60:40; 70:30. Hasil rasio optimum protein: karbohidrat akan digunakan sebagai variasi protein: karbohidrat: lemak. Tahapan ketiga adalah menganalisis pengaruh variasi laju pemberian substrat. Variasi yang digunakan untuk laju pemberian substrat yaitu 20; 40; 60 mg/larva.3hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi terbaik untuk proses biokonversi sampah sisa makanan menggunakan larva BSF adalah laju pemberian substrat 40 mg/larva.3hari, variasi sampah sisa ayam: sisa roti: sisa ampas kelapa (28:42:30) dengan berat akhir rata-rata 0,149 g/larva, laju pertumbuhan larva 25,52 mg/larva.hari, tingkat kelangsungan hidup 97,2%, indeks reduksi sampah 6,60% dan total reduksi 91,30%. ================================================================================================================================ Food waste generation in Indonesia reaches 41.05% of total waste generation and continues to increase every year. The resulting food waste needs to be processed to reduce and prevent negative impacts on the environment. Food waste processing can be done by bioconversion using Black Soldier Fly Larvae (LBSF). The bioconversion process can produce economically valuable products such as biogas, compost and/or animal feed. The performance of LBSF in the bioconversion process is greatly influenced by the substrate, in this case food waste, so it is necessary to optimize the quality and quantity of the substrate. This research aims to obtain optimum conditions for the bioconversion process by analyzing the influence of substrate source, composition ratio and substrate feeding rate.This research consisted of 3 stages. The first stage was to analyze the influence of variations in types of food waste. The types of food waste used include chicken waste and fish waste as a source of protein, rice waste and bread waste as a source of carbohydrates and chicken skin waste and coconut dregs waste as a source of lipid. The second stage was to analyze the effect of variations in the macronutrient composition of food waste which included protein: carbohydrates: lipid. The variations used for protein: carbohydrates were 30:70; 40:60; 50:50; 60:40; 70:30. The results of the optimum protein: carbohydrate ratio were used as a variation of protein:carbohydrate:lipid. The third stage was to analyze the effect of varying the feeding rate of substrate. The variations used for substrate feeding rate were 20; 40; 60 mg/larvae.The results showed that the best condition for the bioconversion process of food waste using BSF larvae was a substrate feeding rate of 40 mg/larvae.3days, a variation of chicken waste: bread waste: coconut dregs waste (28:42:30) with an average final weight of 0,149 g/larvae, larval growth rate 25,52 mg/larvae/day, survival rate 97,2%, waste reduction index 6,60% and toal reduction 91,30%

    Pemodelan Angka Kematian Ibu di Provinsi Jawa Timur Menggunakan Geographically Weighted Regression

    No full text
    Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan indikator utama kesehatan ibu dan anak serta menjadi target Sustainable Development Goals (SDGs). Jawa Timur menghadapi tantangan besar dalam menurunkan AKI akibat keragaman geografis, sosial ekonomi, dan rendahnya tingkat pendidikan di beberapa kabupaten. Selain melebihi target SDGs, beberapa wilayah di provinsi ini memiliki AKI yang melampaui batas darurat. Untuk menganalisis faktor lokal yang memengaruhi AKI, penelitian ini menggunakan metode Geographically Weighted Regression (GWR) yang mempertimbangkan variasi spasial antar wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Geographically Weighted Regression (GWR) menghasilkan model yang lebih akurat dibandingkan metode regresi linear berganda. Hal ini ditunjukkan oleh nilai Sum of Squared Errors (SSE) yang lebih kecil dan nilai R-squared yang lebih tinggi dibandingkan regresi linear berganda. Analisis GWR juga mengidentifikasi bahwa hubungan antara variabel-variabel signifikan terhadap AKI bervariasi antar kabupaten/kota. Semua variabel prediktor yang digunakan, yaitu prevalensi ketidakcukupan pangan, persentase ibu hamil yang mengikuti program K6, persentase ibu hamil yang menerima imunisasi Td2+, persentase ibu hamil dengan komplikasi kebidanan yang ditangani, dan Indeks Pembangunan Gender, terbukti signifikan setidaknya di lebih dari satu kabupaten/kota. Hasil penelitian menghasilkan 11 kelompok kabupaten/kota berdasarkan kesamaan variabel yang signifikan terhadap AKI. Mayoritas kabupaten/kota dalam satu kelompok berada berdekatan secara geografis, menunjukkan adanya pengaruh lokal dari faktor-faktor tersebut. Temuan ini memberikan wawasan mendalam mengenai distribusi spasial AKI di Jawa Timur, sehingga dapat digunakan untuk memprioritaskan kebijakan intervensi yang lebih efektif. Dengan memahami faktor-faktor lokal yang berkontribusi, pendekatan berbasis bukti dapat diterapkan untuk mendukung upaya penurunan AKI secara signifikan menuju pencapaian target pembangunan berkelanjutan. ======================================================================================================================== Maternal Mortality Rate (MMR) is a key indicator of maternal and child health and is one of the targets of the Sustainable Development Goals (SDGs). East Java faces significant challenges in reducing MMR due to geographic diversity, socioeconomic disparities, and low education levels in several districts. In addition to exceeding the SDG target, some areas in this province have MMR rates that surpass the emergency threshold. To analyze local factors influencing MMR, this study employs the Geographically Weighted Regression (GWR) method, which accounts for spatial variation between regions. The results demonstrate that the GWR method produces a more accurate model compared to multiple linear regression, as indicated by a lower Sum of Squared Errors (SSE) and a higher R-squared value. The GWR analysis also identifies that the influence between significant variables and MMR varies across districts or cities. All predictor variables used such as prevalence of food insufficiency, percentage of pregnant women participating in the K6 program, percentage of pregnant women receiving Td2+ immunization, percentage of pregnant women with obstetric complications receiving treatment, and the Gender Development Index proved to be significant in at least one district or city. The study results classify 11 groups of districts or cities based on similarities in significant variables affecting MMR. Most districts or cities within the same group are geographically close, indicating local influences of these factors. These findings provide deeper insights into the spatial distribution of MMR in East Java, offering valuable guidance for prioritizing more effective intervention policies. By understanding the local factors contributing to MMR, evidence-based approaches can be applied to support efforts in significantly reducing MMR toward achieving sustainable development goals

    Perencanaan Alternatif Perkuatan Timbunan Pada Badan Jalan. Studi Kasus: Longsoran Pada Ruas Jalan Bypass Bandara Internasional Lombok- Mandalika KM 10+415 s.d. 10+519

    No full text
    Ruas Jalan Bypass Bandara Internasional Lombok – Mandalika merupakan Jalan Nasional dengan Nomor Ruas 75 050 Panjang Ruas 17,36 Km dalam kewenangan pemeliharaan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional Nusa Tenggara Barat dan menurut fungsinya merupakan Jalan Arteri Primer. Telah terjadi longsor pada ruas jalan tersebut berada pada KM 10+415 hingga 10+519 terjadi pada bulan Februari Tahun 2023 dan terjadi pada saat hujan lebat. Diperkirakan longsor terjadi akibat proses penjenuhan tanah akibat aliran air bawah tanah dan infiltrasi air hujan sehingga kekuatan tanah berkurang. Berdasarkan kejadian longsor tersebut penulis melakukan studi kasus dan menemukan kejadian longsor pada bulan Agustus 2024 dengan penurunan sebesar 5 cm. Berdasarkan kejadian penurunan tanah pada saat studi kasus maka diusulkan alternatif perkuatan menggunakan mortar busa dengan variasi ketebalan 2m, 4m dan 6m baik menggunakan subdrain maupun tanpa subdrain. Selain itu juga diusulkan alternatif perkuatan menggunakan Rigid Inclusions berupa controlled modulus column (CMC) dengan variasi jarak kolom 2ø, 3ø dan 4ø baik menggunakan subdrain maupun tanpa subdrain. Dari kedua alternatif tersebut akan dianalisis nilai faktor keamanan dan besar penurunan. Alternatif perkuatan menggunakan mortar busa nilai SF dan penurunan yang didapat sudah memenuhi persyaratan yaitu > 1.4 dan penurunan 1.5 dan penurunan < 2 cm. nilai SF terkecil yaitu 1.583 didapat oleh perkuatan CMC 3ø tanpa subdrain dan SF terbesar yaitu 1.601 didapat oleh perkuatan CMC 2ø dengan subdrain. Sedangkan penurunan terkecil yaitu 1.202 cm didapat oleh perkuatan CMC 4ø tanpa subdrain dan penurunan terbesar yaitu 1.656 cm didapat oleh perkuatan CMC 2ø tanpa subdrain hal ini terjadi karena dengan jarak kolom lebih kecil maka berat CMC juga semakin besar sehingga membebani tanah. Nilai Stress Reduction Ratio (SRR) terkecil didapat oleh perkuatan CMC 3ø dengan subdrain dengan nilai 0.13 dan SRR terbesar didapat oleh perkuatan CMC 3ø tanpa subdrain dengan nilai 0.51. ================================================================================================================================ The Bypass Road of Lombok International Airport – Mandalika is a National Road with Road Section Number 75 050 and a Length of 17.36 km, under the maintenance authority of the National Road Implementation Center of West Nusa Tenggara. Functionally, it is classified as a Primary Arterial Road. A landslide occurred on this road section at KM 10+415 to 10+519 in February 2023, during heavy rainfall. The landslide is believed to have occurred due to soil saturation from groundwater flow and rainwater infiltration, which reduced the soil strength. Based on this landslide event, the author conducted a case study and identified a soil deformation of 5 cm in August 2024. Based on the deformation observed during the case study, an alternative reinforcement using foam mortar with thickness variations of 2m, 4m, and 6m, both with and without subdrainage, is proposed. Additionally, an alternative reinforcement using Rigid Inclusions in the form of Controlled Modulus Columns (CMC) with column spacing variations of 2ø, 3ø, and 4ø, both with and without subdrainage, is also proposed. Both alternatives will be analyzed for their safety factor (SF) and deformation. For the foam mortar reinforcement alternative, the resulting SF and deformation values meet the requirements, with SF > 1.4 and deformation < 2 cm. The smallest SF value was obtained for the 4m thick foam mortar with subdrain, with a value of 1.579, while the largest SF was obtained for the 6m thick foam mortar without subdrain, with a value of 1.599. The smallest deformation value was obtained for the 6m thick foam mortar with subdrain, with a deformation of 0.3554 cm, while the largest deformation occurred for the 2m thick foam mortar without subdrain, with a deformation of 0.8132 cm. The SF and deformation values for the foam mortar with subdrain were lower compared to those without subdrain. The influence of the subdrain was not significant because the failure plane did not reach the groundwater table, and the groundwater table reduction due to the subdrain did not have a significant effect. For the CMC reinforcement alternative, the variations in column spacing, both with and without subdrain, also met the SF and deformation requirements, with SF > 1.5 and deformation < 2 cm. The smallest SF value, 1.583, was obtained for the CMC 3ø without subdrain, and the largest SF value, 1.601, was obtained for the CMC 2ø with subdrain. The smallest deformation value, 1.202 cm, was obtained for the CMC 4ø without subdrain, and the largest deformation value, 1.656 cm, was obtained for the CMC 2ø without subdrain. This occurred because smaller column spacing results in heavier CMC units, thus exerting more load on the soil. The smallest Stress Ratio Reduction (SRR) value was obtained for the CMC 2ø without subdrain, with an SRR value of 0.13, while the largest SRR was obtained for the CMC 3ø with subdrain, with an SRR value of 0.51

    Studi Perbandingan Perilaku Lentur Balok pada Beton Mutu Tinggi yang Bertulang Berdasarkan ACI 318-19, CSA A23.3-14, dan EN1992-1-1:2004

    No full text
    Penggunaan material beton berkekuatan tinggi yang bertulang semakin meningkat. Dalam mendesain balok beton mutu tinggi, terdapat salah satu faktor penting yaitu perhitungan nilai kapasitas lentur, di mana nilai koefisien pada diagram block stress memiliki peranan yang sangat penting dalam analisis prediksi nilai kapasitas lentur. Hingga saat ini, Indonesia menggunakan standar SNI 2847-2019 yang mengacu pada peraturan ACI 318-14. Peraturan-peraturan dari negara-negara lain memiliki metode yang berbeda-beda dalam memprediksi nilai kapasitas lentur pada balok beton. Pada tugas akhir ini, dilakukan analisis statistik berupa analisis statistik untuk menentukan rata-rata, standar deviasi, dan koefisien variasi dari hasil perbandingan momen perhitungan berdasarkan ACI 318-19, CSA A23.3-14, dan EN1992-1-1:2004 dengan momen eksperimental sebanyak 50 benda uji yang didapatkan dari 7 peneliti sebelumnya yang telah melakukan uji eksperimental pada balok beton bertulang mutu tinggi. Setelah melakukan analisis dengan ACI 318-19, CSA A23.3-14, dan EN1992-1-1:2004, untuk perhitungan momen retak, standar ACI 318-19 dan CSA A23.3-14 memiliki format dasar yang sama dalam perhitungan sehingga hasil yang diberikan hampir sama. Sementara standar EN1992-1-1:2004 memprediksi hasil yang lebih besar, tetapi seiring dengan meningkatnya mutu beton maka momen retak dari EN1992-1-1:2004 semakin mendekati ACI 318-19 dan CSA A23.3-14 karena dalam perhitungan menggunakan fungsi pangkat yang berbeda untuk mendapatkan nilai modulus beton. Setelah lebih dari itu hasil momen retak dengan EN1992-1-1:2004 lebih kecil daripada kedua standar yang lainnya karena dalam perhitungan menggunakan fungsi logaritma natural untuk mendapatkan nilai modulus beton. Untuk perhitungan momen nominal, didapatkan nilai rata-rata secara berturut-turut adalah sebesar 1,0244, 1,0384, dan 1,0231 dengan standar deviasi secara berturut-turut adalah sebesar 0,1072, 0,1063, dan 0,1039, serta dan koefisien variasi (CoV) secara berturut-turut adalah sebesar 10,4687%, 10,2408%, dan 10,1535%. Sehingga didapatkan bahwa hasil rumusan dari EN1992-1-1:2004 memberikan hasil yang lebih efisien karena nilai parameter-parameter yang digunakan untuk perhitungan momen lentur nominal sangat bergantung pada kuat tekan betonnya. Namun, hasil dari ketiga standar tersebut juga tidak menunjukkan hasil yang signifikan berbeda. Di lihat dari sisi kemudahan dalam melakukan perhitungan, ACI 318-19 masih dapat dijadikan sebagai pedoman dalam mendesain balok beton mutu tinggi dengan baik di Indonesia. ================================================================================================================================= The use of reinforced high-strength concrete materials is increasing. In designing high�strength concrete beams, there is one important factor, namely the calculation of flexural capacity values, where the coefficient value on the stress block diagram has a very important role in analyzing the prediction of flexural capacity values. Until now, Indonesia uses the SNI 2847-2019 standard, which refers to the ACI 318-14 regulations. Regulations from other countries have different methods for predicting the flexural capacity of concrete beams. In this final project, a statistical analysis was conducted, including the calculation of the mean, standard deviation, and coefficient of variation (CoV) based on the comparison of calculated moments using ACI 318-19, CSA A23.3-14, and EN1992-1-1:2004 with experimental moments derived from 50 test specimens obtained from seven previous researchers who conducted experimental tests on high-strength reinforced concrete beams. After analyzing with ACI 31-19, CSA A23.3-14, and EN1992-1-1:2004, for the calculation of cracking moment, ACI 318-19 and CSA A23.3-14 standards have the same basic format in the calculation so that the results given are almost the same. While the EN1992-1-1:2004 standard predicts larger but, as the compressive strength of concrete increases, the cracking moment of EN1992-1-1:2004 is closer to ACI 318-19 and CSA A23.3-14 because the calculation uses a different power of numbers to calculate the concrete modulus value. After more than that, the cracking moment results with EN1992-1-1:2004 are smaller than the other two standards because the calculation uses the natural logarithm function to obtain the concrete modulus value. For the calculation of nominal moment, the mean ratio are 1.0244, 1.0384, and 1.0231, respectively, with standard deviations of 0.1072, 0.1063, and 0.1039, respectively, and coefficients of variation (CoV) of 10.4687%, 10.2408%, and 10.1535%, respectively. The results indicate that the formultion from EN1992-1-1:2004 provides more efficient outcomes because the values of the parameters used for the calculation of the nominal bending moment are highly dependent on the compressive strength of the concrete. However, the results from the three standards do not show significant differences. From the perspective of ease of calculation, ACI 318-19 can still serve as a reliable guideline for designing high-strength concrete beams effectively in Indonesi

    Pemodelan Jumlah Kasus Pneumonia Pada Balita Di Provinsi Jawa Barat Menggunakan Geographically Weighted Negative Binomial Regression

    No full text
    Pneumonia adalah infeksi saluran pernapasan akut yang menyerang paru-paru dan menjadi penyebab utama kematian akibat infeksi pada anak-anak di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pada tahun 2023, Provinsi Jawa Barat mencatat jumlah kasus pneumonia balita tertinggi, dengan 102.576 kasus, diikuti oleh Jawa Timur dan Jawa Tengah. Jumlah kasus pneumonia balita di Jawa Barat terus meningkat dalam tiga tahun terakhir, menjadikannya masalah serius. Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah kasus pneumonia balita di Jawa Barat, digunakan Geographically Weighted Negative Binomial Regression (GWNBR), yang mempertimbangkan efek spasial antar wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kasus pneumonia balita tertinggi terdapat di Kabupaten Bandung dan terendah di Kota Banjar. Berdasarkan analisis, kernel optimum yang digunakan adalah adaptive bisquare. Pemodelan regresi binomial negatif mengidentifikasi jumlah balita gizi kurang (X1) sebagai variabel signifikan. Sementara itu, analisis menggunakan GWNBR membentuk dua kelompok kabupaten/kota berdasarkan kesamaan variabel yang berpengaruh signifikan terhadap jumlah kasus Pneumonia balita di Jawa Barat tahun 2023. Variabel signifikan di semua kabupaten/kota adalah jumlah balita gizi kurang (X1), persentase Rumah Tangga Berperilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) (X3), persentase bayi menerima Inisiasi Menyusui Dini (IMD) (X4), dan persentase ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan K6 (X5). Berdasarkan nilai AIC, model GWNBR sebesar 469,44 lebih kecil dibandingkan regresi binomial negatif sebesar 491,99. ================================================================================================================================== Pneumonia is an acute respiratory infection that attacks the lungs and is the leading cause of death due to infections in children around the world, including Indonesia. In 2023, West Java Province recorded the highest number of cases of pneumonia under five years old, with 102,576 cases, followed by East Java and Central Java. The number of cases of pneumonia among toddlers in West Java has continued to increase in the past three years, making it a serious problem. To analyze the factors influencing the number of cases of pneumonia in toddlers in West Java, Geographically Weighted Negative Binomial Regression (GWNBR) was used, which considers the spatial effects between regions. The results of the study show that the highest number of cases of pneumonia for toddlers is found in Bandung Regency and the lowest in Banjar City. Based on the analysis, the optimal kernel used is adaptive bisquare. Negative binomial regression modeling identified the number of undernourished toddlers (X1) as a significant variable. Meanwhile, the analysis using GWNBR formed two groups of districts/cities based on the similarity of variables that had a significant effect on the number of cases of Pneumonia under five in West Java in 2023. Significant variables in all districts/cities were the number of undernourished toddlers (X1), the percentage of Households with Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) (X3), the percentage of babies receiving Early Breastfeeding Initiation (IMD) (X4), and the percentage of pregnant women doing K6 pregnancy checks (X5). Based on the AIC value, the GWNBR model of 469.44 is smaller than the negative binomial regression of 491.99

    Analisis Stabilitas Bendungan Jragung Terhadap Beban Gempa Menggunakan Metode PSHA (Probabilistic Seismic Hazard Analysis)

    No full text
    Bendungan Jragung merupakan bendungan yang berlokasi pada Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Kota Semarang termasuk daerah rawan gempa bumi karena terdapat sumber aktif gempa, yaitu sesar Semarang dan sesar Ungaran, dengan adanya potensi bahaya gempa tersebut akan berakibat pada terjadinya kerusakan infrastruktur Bendungan Jragung. Peneliti melakukan analisa statik dan analisa dinamik terhadap Bendungan Jragung dengan menggunakan beban gempa MDE (Maximum Design Earthquake) dengan beberapa simulisasi pengkondisian muka air waduk. Metode analisis menggunakan PSHA (Probabilitic Seismic Hazard Analysis) untuk mengetahui potensi bahaya gempa pada lokasi bendungan, serta analisis metode statik dan dinamik untuk mengetahui stabilitas bendungan yang ditinjau, dengan acuan SNI 8064:2016 dan Pd-T 14-2004-A sebagai acuan. Analisa Pada Proyek Pemabangunan Bendungan Jragung menggunakan data gempa (time history) berasal dari USGS (United State Geological Survey) dan untuk data-data yang belum didapatkan diambil dari beberapa sumber seperti buku dan jurnal. Penulis melakukan analisa suatu lapisan tanah dengan menggunakan Program Software Geostudio 2018 kemudian memasukkan data gempa (time history) pada horizontal earthquake record dan vertical earthquake record. Hasil yang didapatkan dari analisis adalah nilai akselerasi tanah puncak (PGA) untuk titik tinjauan adalah 0,157 untuk gempa kala ulang 100 tahun dan 0,605 untuk gempa kala ulang 10.000 tahun. Dalam penentuan Ground motion yang pada lokasi tinjauan menggunakan SAP2000 sesuai SNI 1726-2012, dengan Function IBC2012 yang digunakan untuk untuk menentukan Response Spectrum. Hasil analisis statis menunjukan bahwa bendungan Jragung memiliki nilai safety factor aman yang diatas standar yang ditetapkan pada kondisi tanpa gempa dan dengan gempa OBE, tetapi dalam kondisi dengan gempa MDE memiliki nilai safety factor tidak aman. Hasil simulasi pemodelan respon dinamik menunjukan nilai displacement vertikal yang masih masuk dalam standar (tidak melebihi 2.25 m) yaitu 0.0485 m sampai 0.707 m untuk kondisi mka air waduk kosong pada setiap STA. Pada saat muka air waduk normal nilai displacement vertikal masih masuk dalam standar (tidak melebihi 2.25 m) yaitu 0.281 m sampai 2.258 m. Pada saat muka air banjir nilai displacement vertikal masih masuk dalam standar (tidak melebihi 2.25 m) yaitu 0.317 m sampai 2.273 m. Pada saat muka air rapid draw down nilai displacement vertikal masih masuk dalam standar (tidak melebihi 2.25 m) yaitu 0.231 m sampai 2.054 m. ================================================================================================================================== Jragung Dam is located in Semarang Regency, Central Java. The city of Semarang is an earthquake-prone area because there are active earthquake sources, namely the Semarang fault and the Ungaran fault, with the potential earthquake hazard will result in damage to the Jragung Dam infrastructure. Researchers conducted static analysis and dynamic analysis of the Jragung Dam using MDE (Maximum Design Earthquake) earthquake loads with several reservoir water level conditioning simulations. The analysis method uses PSHA (Probabilitic Seismic Hazard Analysis) to determine the potential earthquake hazard at the dam site, as well as static and dynamic analysis methods to determine the stability of the dam under review, with reference to SNI 8064: 2016 and Pd-T 14-2004-A as a reference. Analysis of the Jragung Dam Construction Project uses earthquake data (time history) derived from the USGS (United State Geological Survey) and for data that has not been obtained is taken from several sources such as books and journals. The author analyzes a soil layer using the Geostudio 2018 Software Program and then enters the earthquake data (time history) on the horizontal earthquake record and vertical earthquake record. The results obtained from the analysis are the peak ground acceleration (PGA) value for the review point is 0.157 for a 100-year return period earthquake and 0.605 for a 10,000-year return period earthquake. In determining the ground motion at the review location using SAP2000 according to SNI 1726-2012, with Function IBC2012 used to determine the Response Spectrum. The results of the static analysis show that the Jragung Dam has a safe safety factor value that is above the standard set in conditions without earthquakes and with OBE earthquakes, but in conditions with MDE earthquakes it has an unsafe safety factor value. The simulation results of dynamic response modeling show that the vertical displacement value is still within the standard (not exceeding 2.25 m), namely 0.0485 m to 0.707 m for empty reservoir water level conditions at each STA. When the reservoir water level is normal, the vertical displacement value is still within the standard (not exceeding 2.25 m), namely 0.281 m to 2.258 m. When the water level is flooded, the vertical displacement value is still within the standard (not exceeding 2.25 m), namely 0.317 m to 2.273 m. At the time of rapid draw down water level, the vertical displacement value is still within the standard (not exceeding 2.25 m), namely 0.231 m to 2.05

    Analisa Neuromarketing Berbasis Sinyal EEG Menggunakan Video Reklame Produk

    No full text
    Memahami keterlibatan konsumen sangat penting untuk mengoptimalkan strategi pemasaran. Electroencephalography (EEG) telah menjadi alat penting dalam penelitian neuromarketing, memungkinkan analisis objektif terhadap respons neural terhadap berbagai stimulus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas neural pada individu yang menonton iklan video yang dikategorikan sebagai "menarik" atau "biasa saja," serta mengeksplorasi hubungan antara pola neural dengan keterlibatan konsumen melalui beban kognitif dan perhatial visual. Sebanyak 30 peserta sehat berusia 17 hingga 40 tahun direkrut untuk menonton 20 iklan video dengan tingkat daya tarik yang bervariasi. Data EEG direkam menggunakan Ultracortex Mark IV yang dilengkapi dengan Cyton 8 headset pada frekuensi sampling 250 Hz. Protokol eksperimen meliputi sesi menonton iklan dan kuesioner pasca-sesi untuk mengevaluasi memori, perhatian, dan keterlibatan emosional. Pipeline preprocessing yang kuat diterapkan untuk memastikan kualitas data, termasuk penyaringan bandpass (1–49 Hz), penghapusan artefak menggunakan Artifact Subspace Reconstruction (ASR), serta Independent Component Analysis (ICA) untuk koreksi artefak lebih lanjut. Sinyal yang telah dibersihkan kemudian didekomposisi ke dalam lima subband utama yaitu Delta, Theta, Alpha, Beta, dan Gamma. Ekstraksi fitur dilakukan dengan mengukur atribut temporal dan frekuensi, termasuk Power Spectral Density (PSD), Mean Absolute Value (MAV), Standar Deviasi, Peak-to-Peak, Hjorth Activity, dan Zero Crossing Rate. Analisis difokuskan pada kombinasi kanal-subband tertentu seperti O1-Gamma, O2-Gamma, F7-Beta, dan F8-Beta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas Gamma pada kanal O1 dan O2 secara signifikan lebih tinggi untuk iklan "menarik," yang mengindikasikan peningkatan perhatian visual. Sebaliknya, aktivitas Beta pada kanal F7 dan F8 lebih tinggi untuk iklan "biasa saja," mencerminkan peningkatan beban kognitif. Penelitian ini memberikan wawasan berharga tentang dinamika neural yang mendasari respons konsumen terhadap iklan. Dengan mengidentifikasi pola EEG yang unik terkait dengan tingkat keterlibatan iklan, temuan ini menekankan potensi EEG dalam mengembangkan strategi neuromarketing. Studi ini juga menyoroti kegunaan analisis fitur yang terarah dalam memahami preferensi konsumen, membuka peluang untuk pengembangan kampanye pemasaran yang lebih efektif. Dengan kontribusi ini, penelitian ini menetapkan kerangka kerja yang kuat untuk penerapan EEG dalam analisis perilaku konsumen baik secara praktis maupun akademis. ===================================================================================================================================== Understanding consumer engagement is critical to optimizing marketing strategies. Electroencephalography (EEG) has become an essential tool in neuromarketing research, allowing objective analysis of neural responses to various stimuli. This study aimed to analyze neural activity in individuals watching video ads categorized as “interesting” or “ordinary,” and explore the relationship between neural patterns and consumer engagement via cognitive load and visual attention. Thirty healthy participants aged 17 to 40 years were recruited to watch 20 video ads of varying levels of appeal. EEG data were recorded using an Ultracortex Mark IV equipped with a Cyton 8 headset at a sampling rate of 250 Hz. The experimental protocol included an ad-watching session and a post-session questionnaire to evaluate memory, attention, and emotional engagement. A robust preprocessing pipeline was implemented to ensure data quality, including bandpass filtering (1–49 Hz), artifact removal using Artifact Subspace Reconstruction (ASR), and Independent Component Analysis (ICA) for further artifact correction. The cleaned signal was then decomposed into five major subbands, which are Delta, Theta, Alpha, Beta, and Gamma. Feature extraction was performed by measuring temporal and frequency attributes, including Power Spectral Density (PSD), Mean Absolute Value (MAV), Standard Deviation, Peak-to-Peak, Hjorth Activity, and Zero Crossing Rate. The analysis focused on specific channel-subband combinations such as O1-Gamma, O2-Gamma, F7-Beta, and F8-Beta. The results showed that Gamma activity in O1 and O2 channels was significantly higher for “interesting” ads, indicating increased visual attention. In contrast, Beta activity in F7 and F8 channels was higher for “ordinary” ads, reflecting increased cognitive load. This study provides valuable insights into the neural dynamics underlying consumer responses to advertising. By identifying unique EEG patterns associated with levels of ad engagement, these findings highlight the potential of EEG in developing neuromarketing strategies. This study also highlights the usefulness of targeted feature analysis in understanding consumer preferences, opening up opportunities for developing more effective marketing campaigns. With this contribution, this study establishes a robust framework for the application of EEG in consumer behavior analysis both practically and academically

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    ITS Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇