Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
Not a member yet
453 research outputs found
Sort by
Kepadatan dan Keanekaragaman Animal Fouling Pada Dermaga Beton di Pulau Harapan, Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu
ABSTRAKAnimal fouling merupakan organisme multisel besar dan berbeda yang terlihat oleh mata manusia seperti teritip, cacing tabung, atau daun alga dan sebagainya yang bersifat merusak. Animal fouling menjadi perhatian yang serius untuk struktur-struktur buatan yang berada di wilayah laut atau pantai dimana penempelan dari fouling pada permukaan struktur (substrat) dapat mempengaruhi berat mati struktur dan kecepatan laju hidrodinamik pada kapal laut, bahkan bisa berpengaruh pada bangunan seperti dermaga. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung komposisi jenis, kepadatan, keanekaragaman dan mengukur parameter kualitas air di Pualu Harapan. Pengambilan data fouling dilakukan dengan menggunakan frame 20 x 54 cm. Pengamatan dilakukan sebanyak 2 stasiun, dimana setiap stasiun terdiri dari 20 substasiun. Dari hasil pengamatan didapatkan 3 kelas fouling, yaitu kelas bivalvia, thecostraca dan gastropda. Pada dermaga beton di kedua stasiun ditemukan 3 kelas fouling. Kelas bivalvia lebih mondominasi yaitu 99%, sementara kelas thecostraca ditemukan 0.38% dan kelas gastropoda 0.37%. Kerapatan dari kelas bivalvia ditemukan dengan rata-rata kepadatan 50173 ind/m², sementara kelas thecostraca 194 ind/m² dan kelas gastropoda 189 ind/m². Keanekaragaman pada stasiun 1 dan stasiun 2 menunjukkan nilai indeks keanekaragaman (H’) dengan nilai indeks 2,0, yang berarti tingkat keanekaragaman fouling pada masing-masing stasiun masuk kategori rendah. Hasil pengukuran kualitas air yang dilakukan di lokasi praktik ditemukan suhu 31.4 ⁰C - 31.8 ⁰C, salinitas 25 ⁰/ₒₒ - 30 ⁰/ₒₒ dan pH yang ditemukan yaitu 6. pH ini merupakan masih batas toleransi dari kehidupan fouling.Kata Kunci : Animal Fouling; Komposisi Jenis; Kepadatan; Keanekaragaman; Parameter Kualitas Air.ABSTRACTAnimal fouling is a large and different multicellular organism visible to the human eye such as barnacles, tube worms, or algae leaves and so on that are destructive. Animal fouling is a serious concern for artificial structures located in marine or coastal areas where the attachment of fouling to the surface of the structure (substrate) can affect the dead weight of the structure and the speed of hydrodynamic rates on ships, and can even affect buildings such as docks. This data collection aims to calculate the type composition, density, diversity and measure water quality parameters in Pualu Harapan. Fouling data collection is carried out using a 20 x 54 cm frame. Observations were made as many as 2 stations, where each station consisted of 20 substations. From the observations, 3 classes of fouling were obtained, namely the bivalve class, thecostraca and gastropda. On the concrete piers at both stations found 3 classes of fouling. The bivalve class is more dominant at 99%, while the thecostraca class is found to be 0.38% and the gastropod class is 0.37%. The density of the bivalve class was found with an average density of 50173 ind/m², while the thecostraca class was 194 ind/m² and the gastropod class was 189 ind/m². diversity at station 1 and station 2 shows a diversity index value (H') with an index value of 2.0, which means the level of fouling diversity at each station is in the low category. The results of water quality measurements carried out at the practice site found temperatures of 31.4 ⁰C - 31.8 ⁰C, salinity 25 ⁰ / ₒₒ - 30 ⁰ / ₒₒ and pH found to be 6. This pH is still the tolerance limit of fouling lifeKeywords : Animal Fouling; Density; Diversity; Type Composition; Water Quality Parameters
Kajian Parameter Oseanografi Perairan Pada Kawasan Konservasi Perairan di Kota Padang Untuk Mendukung Wisata Bahari (Studi Kasus: Pulau Bindalang dan Pulau Sibonta)
ABSTRAKKawasan perairan sekitar P. Bindalang dan P. Sibonta merupakan salah satu kawasan konservasi perairan di Kota Padang. Lokasi ke dua pulau ini cukup jauh dari daratan utama, sekitar 13.3 - 16 Km dari Muara Padang. Kajian parameter oseanografi diperlukan agar dalam pengelolaannya dapat dilakukan secara benar dan lebih baik. Tujuannya adalah untuk menentukan karakteristik beberapa parameter oseanografi di sekitar pulau, yaitu pasang surut, arus, gelombang laut, suhu dan salinitas permukaan laut. Metode yang digunakan dalam kajian adalah deskriptif, dengan menjelaskan karakteristik dari masing-masing parameter oseanografi yang dikaji. P. Bindalang dan P. Sibonta di kelilingi oleh pantai beting dan berpasir putih dengan pecahan karang, tergolong landai, pantai cukup luas dan lebar. Kedalaman laut sekitar pulau tergolong perairan dangkal (mencapai 60 - 190 m), termasuk landas kontinen. Pasang surut yang terjadi adalah pasang surut campuran condong ganda dengan tunggang pasut (tidal range) 149.42 cm. Arus permukaan laut cukup rendah, sebesar 4.69 – 15.33 cm/s (P. Bndalang) dan 4.14 – 20.16 cm/s (P. Sibonta). Nilai suhu permukaan laut (SPL) berkisar 30.0 – 30.3°C dan 30.1 – 30.6°C, salinitas permukaan 33.6 – 33.8 ‰ dan 30.7 – 33.8 ‰, serta kecerahan perairan 3.4 – 13.15 m dan 13 – 17.4 m. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kondisi kawasan perairan pesisir di sekitar P. Bindalang dan P. Sibonta dalam kondisi sangat baik. Hal ini sangat mendukung untuk keberlanjutan kawasan konservasi tersebut dan dapat dikembangkan sebagai lokasi wisata bahari ke depannya.Kata kunci: Oseanografi, Pasang Surut, Arus, Gelombang, SPL, Salinitas, Pulau Bindalang, Pulau Sibonta.ABSTRACTWater areas at Bindalang and Sibonta Island is which one protected areas in padang city water. Both the islands longth enough from Muara Padang (13.3 – 16 Km). Studies of water and coastal important to do so it could manage with easy and better for future. The purpose is known oceanography paramaters such as tides, current, waves, SST and salinity. The methods was using descriptif, can explained the caracteristic of each oceanography parameters. The islands have beting coastal, white sand and coral broken, slope slightly (4.12 – 9.52°), width coastal areas. water depth at island around until 60 – 190 m, is continental shelf. Tide caracteristic is mix tide premordialy semidiurnal and tidal range 149.42 cm. Sea surface current were low of 4.6.9 – 15.33 cm/s (Bndalang Island) and 4.14 – 20.16 cm/s (Sibonta Island). Parameters of SST values 30.0 – 30.3°C and 30.1 – 30.6°C, salinity values were 33.6 – 33.8 ‰ and 30.7 – 33.8 ‰, and water visibility 3.4 – 13.15 m and 13 – 17.4 m (until 100 %). The conditions of coastal and water area was better, so this is very supportive for the sustainability of the designated conservation area.Keywords: Oceanography, Tides, Sea Current, Sea Waves, SST, Salinity, Bindalang Island, Sibonta Island
Abundace and Potential of Megabenthos in The Banda Sea Waters Tourism Park in Lonthoir Village, Banda Island, Central Maluku
ABSTRACTMegabenthos are benthic biota with a size of more than 1 cm and are found living on the bottom of the water, either in coral reef or seagrass ecosystems. Megabenthos also provides benefits to the economy of the surrounding community. This research was conducted in the Banda Sea Tourism Park Area, Lonthoir Village, Banda Islands, Central Maluku, from February 11th to April 21st, 2022. This study aims to determine the type, abundance, and potential of megabenthos in the Banda Sea Waters Tourism Park. Data collection at the observation station is done using the quadratic linear transect method, which is drawn along 400 meters perpendicular to the sea and 300 meters parallel to the coastline with a quadrant size of 10 x 10 m2 with a distance of 10 m between quadrants and a distance of 30 m between transects. From the results of the research carried out, 6 classes of Megabenthos were found, namely Gastropoda, Bivalvia, Holothoroidea, Asteroidea, Echinoidea, and Malacostraca. The Gastropoda class is the megabenthos that is most commonly found in the Banda Sea Marine Tourism Park, namely 1118 individuals with an abundance value of 0.072 ind/m2 and a potential value of 8600 ind. while the lowest class is the Asteroidea class with 20 individuals with an abundance value of 0.011 ind/m2 and a potential of 1333 ind and Malacostraca with 9 individuals with an abundance value of 0.011 ind/m2 and a potential of 1350 ind. The high potential for megabenthos in the waters of the Banda Marine Tourism Park can be influenced by the high population of various marine biota.Keywords: Abundance, Banda Sea, Megabenthos, PotentialABSTRAKMegabentos merupakan biota bentik dengan ukuran lebih dari 1 cm dan ditemukan hidup di dasar perairan baik pada ekosistem terumbu karang atau padang lamun. Megabentos juga memberi manfaat terhadap ekonomi masyarakat sekitar. Penelitian ini dilaksanakan di Kawasan Taman Wisata Perairan Laut Banda, Desa Lonthoir, Kepulauan Banda Maluku Tengah pada 11 Februari sampai 21 April 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kelimpahan, dan potensi megabentos di Taman Wisata Perairan Laut Banda. Pengambilan data pada stasiun pengamatan dengan menggunakan Metode Transek Linier Kuadrat yang ditarik sepanjang 400 meter tegak lurus ke arah laut dan 300 m sejajar garis pantai dengan ukuran kuadran 10 x 10 m2 dengan jarak 10 m antar kuadran, serta jarak antar transek 30 m. Dari hasil penelitian yang dilakukan, ditemukan 6 kelas Megabentos, yaitu Gastropoda, Bivalvia, Holothoroidea, asteroidea, Echinoidea, dan Malacostraca. Kelas Gastropoda merupakan megabenthos yang paling banyak ditemukan di Taman Wisata Bahari Laut Banda yaitu sebanyak 1118 individu dengan nilai kelimpahan 0,072 ind/m2 dan nilai potensi 8600 ind. sedangkan kelas terendah ialah Kelas Asteroidea sebanyak 20 individu dengan nilai kelimpahan 0,011 ind/m2 dan potensi 1333 ind dan Malacostraca sebanyak 9 individu dengan nilai kelimpahan 0,011 ind/m2 dan potensi 1350 ind. Tingginya Potensi megabentos diperairan Taman Wisata Laut Banda, dapat berpengaruh dengan tingginya populasi berbagai biota laut.Kata kunci: Kelimpahan, Megabenthos, Potensi, Laut Band
Kandungan Logam Berat di Perairan Pulau Merak Kecil
ABSTRAKKota Cilegon memiliki berbagai potensi wisata alam khususnya wisata bahari. Salah satu wisata alam bahari yang sangat berpotensi adalah Pulau Merak Kecil. Pulau Merak Kecil merupakan salah satu destinasi wisata bahari di Kota Cilegon yang memiliki banyak potensi. Ketertarikan masyarakat akan wisata alam berkembang pesat khususnya wisata alam terbuka salah satunya adalah wisata bahari. Wisata bahari Pulau Merak Kecil ini belakangan ramai dikunjungi oleh wisatawan dalam kota maupun wisatawan luar kota. Kejadian Covid-19 yang terjadi dua tahun belakang ini membuat masyarakat lebih memilih wisata alam khususnya wisata bahari. Perairan sekitar Pulau Merak Kecil rentan terhadap pencemaran logam berat yang timbul oleh aktivitas manusia maupun aktivitas ekonomi melalui kapal-kapal yang berlayar di sekitar perairan Pulau Merak Kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat timbal (Pb), tembaga (Cu), dan Kadmium (Cd) dan dibandingkan dengan Lampiran VIII PP No. 22 Tahun 2021. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Pengecekan logam berat dilakukan di di Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B) Banten. Hasil penelitian menunjukan perairan Pulau Merak Kecil mengkhawatirkan karena dari tiga logam berat, dua diantaranya di atas baku mutu.Kata Kunci : Cilegon, logam berat, Pulau Merak Kecil, Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 2021ABSTRACTCilegon has various natural tourism potentials, especially marine tourism. One of the potential marine natural attractions is Pulau Merak Kecil. Pulau Merak Kecil is one of the marine tourism destinations which has a lot of potential. Public interest in natural tourism is growing rapidly, especially outdoor tourism, one of which is marine tourism. Marine tourism on Merak Kecil Island has recently been visited by tourists in the city and tourists outside the city. The Covid-19 incident that occurred in the past two years has made people prefer natural tourism, especially marine tourism. The waters around Pulau Merak Kecil are vulnerable to heavy metal pollution arising from human activities and economic activities through ships sailing around the waters of Pulau Merak Kecil. This study aims to determine the content of heavy metals lead (Pb), copper (Cu), and Cadmium (Cd) and compared with Appendix VIII of Government Regulation No. 22 of 2021. The research method used quantitative descriptive method. Heavy metal checks were carried out at the Environmental and Forestry Service Laboratory in the Banten Provincial. The results showed that the waters of Merak Kecil Island are worrying because of the three heavy metals, two of which are above the quality standard.Keywords: Cilegon, heavy metals, Pulau Merak Kecil, Government Regulation No. 22 Year 202
Kepadatan dan Laju Pertumbuhan Bulu Babi (Tripneustes gratilla) di Perairan Letman, Kabupaten Maluku Tenggara
ABSTRAKAktivitas penangkapan biota padang lamun khususnya terhadap bulu babi cenderung ke arah penangkapan berlebih (over fishing). Pengambilan bulu babi di alam terus dilakukan tanpa mempertimbangkan aspek kelestariannya, sehingga ada kecenderungan populasi bulu babi tersebut menurun secara drastis dari tahun ke tahun. Penurunan stok bulu babi di alam akan semakin cepat jika tingkat eksploitasinya lebih sering dilakukan, karena penambahan individu baru (recruitment) dari populasi tersebut tidak sebanding dengan hasil tangkapan. Diperkirakan tingkat eksploitasi sumberdaya tersebut di alam telah melebihi batas yang diperbolehkan (over exploitation). Tujuan penelitian antara lain mengetahui dan menganalisis kepadatan dan laju pertumbuhan bulu babi (T. gratilla). Penelitian dilakukan di pesisir perairan Letman, Kepulauan Kei Kecil selama bulan September sampai November 2022 dengan dua kali pengambilan sampel setiap bulannya. Sampel bulu babi diperoleh dari hasil pengambilan sampel menggunakan metode belt transek pada saat air surut dan dipasang tegak lurus garis pantai ke arah laut. Kepadatan bulu babi di perairan Letman tergolong rendah dengan distribusi tidak merata terkait kedalaman dan tutupan lamun. diameter bulu babi yang tertangkap berkisar antara 1.7-8.8 cm dengan ukuran rata-rata 5.2 cm. Hasil analisis menunjukan bahwa pertumbuhan bulu babi bersifat allometrik negatif, lambat dan diameter infinitif kecil.Kata kunci: kepadatan, laju pertumbuhan, bulu babiABSTARCTFishing activities for seagrass biota, especially for sea urchins, tend to be over-fishing. Sea urchins are collected from nature without considering the aspect of sustainability, so there is a tendency for the sea urchin population to decrease drastically from year to year. The decline in sea urchin stocks in nature will accelerate if the level of exploitation is more frequent, because the addition of new individuals (recruitment) from the population is not proportional to the catch. It is estimated that the level of exploitation of these resources in nature has exceeded the permissible limits (over exploitation). The aims of the research included knowing and analyzing the density and growth rate of sea urchins (T. gratilla). The research is planned to be carried out in the coastal waters of Letman, Kei Kecil Islands from September to November 2022 with two samplings per month. Sea urchin samples were obtained from the results of sampling using the belt transect method at low tide and installed perpendicular to the shoreline towards the sea. The density of sea urchins in Letman waters is low with an uneven distribution regarding seagrass depth and cover. The diameter of the sea urchins caught ranged from 1.7-8.8 cm with an average size of 5.2 cm. The results of the analysis showed that the growth of sea urchins was negative allometric, slow and small infinitive diameter.Keywords: density, growth rate, sea urchin
Struktur Komunitas dan Kelimpahan Makrozoobenthos di Ekowisata Mangrove Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan
ABSTRAKMakrozoobenthos merupakan salah satu biota yang hidup di ekosistem mangrove, makrozoobenthos berperan untuk membantu mempercepat proses dekomposisi dan mineralisasi materi organik. Tujuan penelitian adalah mengetahui tentang struktur komunitas dan kelimpahan makrozoobenthos di ekowisata mangrove lembung, kecamatan galis, kabupaten pamekasan sehingga diperoleh informasi dan data base dalam pengelolaan yang bekelanjutan. Lokasi penelitian pada ekosistem mangrove di Desa Lembung Kecamatan Galis Kabupaten Pamekasan . Metode penganbilan data menggunakan metode transek dengan analisis datanya menggunakan indeks Shannon-Winner. Nilai tertinggi kelimpahan individu dan relatif adalah spesies Cerithium coralium. indeks ekologi yang didapat menunjukkan kriteria indeks keanekaragaman (H’) sedang, di setiap stasiun, indek keseragaman (E) sedang hingga tinggi dan nilai indeks dominansi (C) rendah, hal ini disebabkan oleh keberadaan biota yang mendominansi daerah Ekowisata Mangrove Lembung sehingga daerah tersebut termasuk pada kriteria stabil.Kata Kunci: Mangrove, Struktur Komunitas, Makrozoobenthos, Desa LembungABSTRACTMakrozoobenthos is one of the biota that lives in mangrove ecosystems, macrozoobenthos plays a role to help accelerate the process of decomposition and mineralization of organic matter. The purpose of the study was to know about the community structure and abundance of macrozoobenthos in lembung mangrove ecotourism, Galis District, Pamekasan Regency so that information and data base are obtained in sustainable management. The location of research on mangrove ecosystems in Lembung Village, Galis District, Pamekasan Regency. The data collection method uses the transect method with data analysis using the Shannon-Winner index. The highest value of individual and relative abundance is the species Cerithium coralium. The ecological index obtained shows the criteria of a moderate diversity index (H'), at each station, medium to high uniformity index (E) and low dominance index (C) value, this is due to the presence of biota that dominates the Lembung Mangrove Ecotourism area so that the area is included in the stable criteria.Keywords: Mangrove, Community Structure, Makrozoobenthos, Lembung Villag