Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
Not a member yet
    453 research outputs found

    Perbandingan Teknik Pengukuran Terumbu Karang Menggunakan Metode 2 Dimensi Dan 3 Dimensi Di Pulau Gili Labak, Sumenep

    No full text
    ABSTRAKKemajuan teknologi pada saat ini berpeluang mengembangkan metode penelitian, termasuk juga metode penelitian yang digunakan pada terumbu karang. Studi ini bertujuan untuk membandingkan teknik pengukuran terumbu karang menggunakan metode 2 dimensi (2D) dan 3 dimensi (3D) di Pulau Gili Labak, Metode 2D yang digunakan dalam penelitian ini adalah transek kuadrat dengan luas 2 meter dan Panjang 14 meter dan penghitungan secara visual, sementara metode 3D mengaplikasikan teknologi fotogrametri untuk memperoleh volume dari terumbu karang. Data yang dikumpulkan meliputi parameter-parameter fisik terumbu karang, seperti luas area, keragaman spesies, kondisi morfologi serta volume terumbu karang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun metode 2D lebih sederhana dan lebih murah, akurasi pengukuran yang dihasilkan terbatas pada aspek visual dan linear tanpa informasi mendalam mengenai struktur vertikal terumbu karang. Sebaliknya, metode 3D memberikan representasi yang lebih akurat dan detail mengenai topografi terumbu karang, namun memerlukan biaya dan perangkat teknologi yang lebih tinggi. Perbandingan kedua metode ini menunjukkan bahwa pengukuran 3D dapat memberikan informasi yang lebih komprehensif mengenai kondisi terumbu karang, terutama dalam memetakan perubahan morfologi terumbu karang dari waktu ke waktu. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pemilihan metode pengukuran terumbu karang yang lebih efisien dan tepat guna, serta dapat digunakan dalam program konservasi dan rehabilitasi terumbu karang di Pulau Gili Labak dan kawasan serupa.Kata Kunci : Terumbu karang, Pengukuran 2D, Pengukuran 3D, Fotogrametri, Pulau Gili LabakABSTRACTCurrent technological advances have the potential to develop research methods, including research methods used on coral reefs. This study aims to compare coral reef measurement techniques using 2-dimensional (2D) and 3-dimensional (3D) methods on Gili Labak Island, one of the tourist locations that is always crowded with tourists for swimming and diving located in Sumenep Regency, Madura. Coral reef measurement is very important in monitoring and managing coral reef ecosystems that are vulnerable to environmental changes. The 2D method used in this study is a quadrat transect with an area of 2 meters and a length of 14 meters and visual calculations, while the 3D method applies photogrammetry technology to obtain the volume of coral reefs. The data collected include physical parameters of coral reefs, such as area, species diversity, morphological conditions and coral reef volume. The results of the study show that although the 2D method is simpler and cheaper, the accuracy of the measurements produced is limited to visual and linear aspects without in-depth information about the vertical structure of the coral reef. In contrast, the 3D method provides a more accurate and detailed representation of coral reef topography, but requires higher costs and technological devices. The comparison of these two methods shows that 3D measurements can provide more comprehensive information on coral reef conditions, especially in mapping changes in coral reef morphology over time. This study is expected to be a reference in selecting more efficient and appropriate coral reef measurement methods, and can be used in coral reef conservation and rehabilitation programs on Gili Labak Island and similar areas.Keywords : coral reef, 2D measurements, 3D measurements, Photogrammetry, Gili Labak Islan

    Prevalensi Penyakit Dan Gangguan Kesehatan Karang Di Perairan Pulau Tidung Besar Kepulauan Seribu

    No full text
    ABSTRAKSalah satu pulau di Kepulauan Seribu yang banyak mendapatkan tekanan dari lingkungan sekitar, baik dari faktor alami maupun faktor antropogenik adalah Pulau Tidung Besar. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi terumbu karang, prevalensi penyakit dan gangguan kesehatan karang di Perairan Pulau Tidung Besar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2022 - Mei 2023 di Perairan Pulau Tidung Besar. Data yang diambil meliputi data kualitas perairan, bentuk pertumbuhan karang, serta penyakit dan gangguan kesehatan karang. Metode yang digunakan adalah metode LIT (Line Intercept Transect) untuk pengambilan data bentuk pertumbuhan karang dan metode Transek Sabuk (Belt Transect) untuk pengambilan data penyakit dan gangguan kesehatan karang. Selanjutnya dilakukan pengolahan data menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel. Tutupan terumbu karang pada stasiun penelitian berada dalam kondisi buruk hingga baik. Penyakit dan gangguan kesehatan karang yang ditemukan pada stasiun penelitian antara lain, Predation, Black Band Disease, Brown Band Disease, Ulcrative White Spots, White Syndrome, Bleaching, Sediment Damage, Growth Anomalies, dan Pigmentation Response. Prevalensi keseluruhan penyakit dan gangguan kesehatan karang yang tertinggi berada pada staiun 3 sebesar 62,86%. Sediment Damage adalah yang paling banyak ditemukan di semua titik penelitian. Kondisi lingkungan perairan pada stasiun penelitian berdasarkan PP RI No.22 Tahun 2021 masih baik serta mendukung pertumbuhan karang.Kata Kunci: Prevalensi, Penyakit, Gangguan Kesehatan, Karang, Pulau Tidung BesarABSTRACTOne of the islands in the Kepulauan Seribu that receives a lot of pressure from the surrounding environment, both from natural and anthropogenic factors is Tidung Besar Island. This research aims to analyze condition of coral reefs, prevalence of coral disease and health problems in the waters of Tidung Besar Island. This research was conducted from November to May 2023 in the waters of Tidung Besar Island. The data collected included water quality data, coral growth forms, and coral disease and health problems. The method used was the Line Intercept Transect (LIT) method to collect data on coral growth forms and the Belt Transect method to collect data on coral disease and health problems. Furthermore, data processing is done using Microsoft Excel software. Coral cover at the research station is in poor to good condition. Coral diseases and health problems found at the research station include Predation, Black Band Disease, Brown Band Disease, Ulcrative White Spots, White Syndrome, Bleaching, Sediment Damage, Growth Anomalies, and Pigmentation Response. The overall prevalence of coral disease and health disorders was highest in station 3 at 62.86%. Sediment Damage is yes. The condition of the aquatic environment at the research station based on PP RI No.22 of 2021 is still good and supports coral growth.Keywords: Prevalence, Diseases, Health Disorders, Coral, Tidung Besar Islan

    Pemetaan Habitat Bentik Berbasis Objek Menggunakan Drone Di Perairan Pulau Gili Labak, Sumenep

    No full text
    ABSTRAKPemetaan habitat bentik menggunakan drone memiliki kendala terkait kodisi cuaca dan lingkungan, seperti kecepatan angin dan sun glint yang dapat mengganggu pengambilan gambar dan klasifikasi gambar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sudut sensor drone yang optimal, waktu penerbangan drone terbaik di lokasi penelitian, serta mengetahui tingkat akurasi algoritma support vector machine menggunakan metode OBIA. Penelitian ini dilaksanakan di perairan Pulau Gili Labak pada bulan Oktober 2022 menggunakan drone DJI Phantom 4. Penelitian ini menerapkan dua sudut sensor 45° dan 90° serta waktu pengambilan pukul 08:00; 09:30; 13:15; 14:45. Klasifikasi citra drone menggunakan metode OBIA menggunkan metode contextual editing pada level 1 (perairan dangkal). Level 2 menggunakan klasifikasi terbimbing menggunakan algoritma klasifikasi machine learning yaitu support vector machine (SVM) dengan input themathic layer dari data lapangan. Klasifikasi habitat bentik dilakukan pada 6 kelas dengan penerapan skala segmentasi 25, 50, 70, 100. Berdasarkan hasil  pengambilan gambar waktu terbaik menerbangkan drone pada pukul 13:15 menggunakan sudut sensor 90º dilokasi penelitian, diperoleh nilai overall accuracy sebesar 84.06% serta nilai kappa 0.78656 pada skala segmentasi 50 dengan algoritma support vector machine.Kata kunci: pemetaan, habitat bentik, OBIA, drone, Pulau Gili LabakABSTRACTBenthic habitat mapping using drones has constraints related to weather and environmental conditions, such as wind speed and sun glint that can interfere with image capture and image classification. This study aims to determine the optimal drone sensor angle, the best drone flight time at the research location, and determine the accuracy of the support vector machine algorithm using the OBIA method. This research was conducted in the waters of Gili Labak Island in October 2022 using a DJI Phantom 4 drone. This research applied two sensor angles of 45° and 90° and the capture time at 08:00; 09:30; 13:15; 14:45. Classification of drone imagery using the OBIA method utilizes contextual editing at level 1 (shallow water). Level 2 uses guided classification using a machine learning classification algorithm, namely support vector machine (SVM) with themathic layer input from field data. Benthic habitat classification was performed on 6 classes with the application of segmentation scales of 25, 50, 70, 100. Based on the results of taking pictures of the best time to fly the drone at 13:15 using a 90º sensor angle at the research location, an overall accuracy value of 84.06% was obtained and a kappa value of 0.78656 on a segmentation scale of 50 with the support vector machine algorithm. Keywords: Mapping, Benthic Habitats, OBIA, Gili Labak Island Penelitian pemetaan habitat bentik di Perairan Pulau Gili Labak masih sangat sedikit dilakukan, sehingga ketersediaan data spasial habitat bentik di perairan ini sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan habitat bentik perairan dangkal menggunakan drone dengan mempertimbangkan pengambilan waktu yang berbeda serta sudut sensor yang berbeda menggunakan metode klasifikasi berbasis objek/OBIA serta menghitung tingkat akurasi hasil klasifikasi habitat bentik di perairan Pulau Gili Labak. Penelitian dilakukan pada Bulan Oktober 2022 diperoleh 415 titik pengamatan menggunakan drone DJI Phantom 4, serta dua sudut sensor 45° dan 90° dan waktu pengambilan pukul 08:00; 09:30; 13:15; 14:45. Klasifikasi citra diproses menggunakan metode analisis OBIA menggunkan metode contextual editing pada level 1 (perairan dangkal). Level 2 menggunakan klasifikasi terbimbing menggunakan algoritma klasifikasi machine learning yaitu support vector machine (SVM). Klasifikasi habitat bentik dilakukan pada 6 kelas menggunakan skala segmentasi 25, 50, 70, 100. Berdasarkan klasifikasi metode OBIA, hasil terbaik pada pukul 13:15 diperoleh tingkat akurasi sebesar 84.06% dan 68.12% pada sudut 90° dan 45° menggunakan algoritma SVM pada skala segmentasi 50 dengan nilai indeks kappa sebesar 0.78656 dimana masuk dalam kategori baik

    Back Cover

    No full text

    Pola Arus Dan Sebaran Klorofil-a Di Perairan Laut Flores Pada Tahun 2021

    No full text
    ABSTRAKPola arus dan sebaran klorofil-a merupakan salah satu parameter terpenting dalam perairan untuk memahami dinamika ekosistem laut dan mendukung berbagai aktivitas terkait pemanfaatan sumber daya kelautan. Tujuan penelitian untuk mengetahui konsentrasi sebaran klorofil-a dan pola arus pada perairan Laut Flores tiap musimnya.Penelitian dilakukan pada  bulan Agustus sampai Oktober 2023 di Laboratorium Inderaja, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin Makassar, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Data yang digunakan adalah data bulanan selama satu tahun yang diambil dari satelit Aqua MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) adalah data klorofil, sedangkan untuk data arus diambil dari Marine Copernicus. Hasil dari penelitian ini adalah Konsentrasi sebaran klorofil-a di perairan Laut Flores pada tahun 2021 menunjukkan bahwa sebaran klorofil-a sangat bervariasi sesuai dengan musimnya. Konsentrasi klorofil-a tertinggi terjadi pada musim peralihan I dan terendah terjadi pada musim peralihan II. Arus di perairan laut Flores kecepatan tertinggi terjadi pada musim barat dan terendah terjadi pada musim timur. Arus juga berpengaruh terhadap penyebaran nutrien dan fitoplankton yang mempengaruhi kesuburan dan produktivitas primer perairan. Adanya arus yang merupakan salah satu oseonografi menyebabkan nutrien dan klorofil-a akan mengalami persebaran sesuai dengan pergerakan massa air yang mempengaruhi. Kata kunci: Pola arus dan sebaran klorofil-aABSTRACTCurrent patterns and distribution of chlorophyll-a are one of the most important parameters in waters to understand the dynamics of marine ecosystems and support various activities related to the utilization of marine resources. The purpose of this study was to determine the concentration of chlorophyll-a distribution and current patterns in the Flores Sea waters each season. The study was conducted from August to October 2023 at the Inderaja Laboratory, Faculty of Marine Sciences and Fisheries, Hasanuddin University, Makassar City, South Sulawesi Province. The data used were monthly data for one year taken from the Aqua MODIS (Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer) satellite, chlorophyll data, while current data was taken from Marine Copernicus. The results of this study are the concentration of chlorophyll-a distribution in the Flores Sea waters in 2021 showing that the distribution of chlorophyll-a varies greatly according to the season. The highest concentration of chlorophyll-a occurs in the transition season I and the lowest occurs in the transition season II. The current in the Flores Sea waters has the highest speed in the west season and the lowest in the east season. Currents also affect the distribution of nutrients and phytoplankton that affect the fertility and primary productivity of waters. The presence of currents which are one of the oceanographies causes nutrients and chlorophyll-a to experience distribution according to the movement of the water mass that affects it.Keywords: Current patterns and distribution of chlorophyll-

    Keanekaragaman Fitoplankton dan Kaitannya Dengan Kondisi Perairan di Senggarang Besar, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau

    No full text
    ABSTRACTThe existence of phytoplankton in water can provide information about the state of the waters. Changes in water quality can be seen from the abundance and composition of phytoplankton. The purpose of this study was to determine the diversity of phytoplankton, to determine the relationship between the abundance of phytoplankton and environmental conditions, to determine the quality of the waters based on the diversity of phytoplankton in Senggarang Besar. The research method used is a survey method. This study took 10 sampling points with the Systematic Random Sampling method. Data analysis used is an ecological index, multiple regression lines, correlation, and ANOVA. The diversity index value in the waters of Senggarang Besar Tanjungpinang City is in the low category, with the results of identifying phytoplankton from the whole weekly found 3 divisions with 21 genera, the three divisions include Bacillariophyta (18 genera), Dinophyta (2 genera), and Chlorophyta (1 genus). The parameter that has the highest correlation with the abundance of phytoplankton is the parameter of nitrate (NO3), while the comparison of the abundance of phytoplankton per week in Senggarang Besar waters shows that the combination between the first week and the second week is very significantly different, the combination of the first week with the third week is very significantly different and the combination is significantly different in the second and third week. Based on the saprobic index in Senggarang Besar waters, it is categorized into the class of oligosaprobic/very light organic matter pollution.Keywords: Diversity, Phytoplankton, Saprobic, Senggarang Besar Waters. ABSTRAKKeberadaan fitoplankton di suatu perairan dapat memberikan informasi mengenai keadaan perairan. Perubahan terhadap kualitas perairan dapat ditinjau dari kelimpahan dan komposisi fitoplankton. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman fitoplankton, mengetahui kaitan antara kelimpahan fitoplankton dengan kondisi lingkungan dan kualitas perairan berdasarkan keanekaragaman fitoplankton di Senggarang Besar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Penelitian ini mengambil 10 titik sampling dengan metode Sistematik Random Sampling. Analisis data yang digunakan yaitu indeks ekologi, regresi linier berganda, korelasi, dan ANOVA. Nilai indeks keanekaragaman di perairan Senggarang Besar Kota Tanjungpinang dalam kategori rendah, dengan hasil identifikasi fitoplankton dari keseluruhan perminggu ditemukan 3 divisi dengan 21 genera, ketiga divisi tersebut antara lain Bacillariophyta (18 genera), Dinophyta (2 genera), dan Chlorophyta (1 genus). Parameter yang berkorelasi paling tinggi terhadap kelimpahan fitoplankton adalah parameter nitrat (NO3). Perbandingan kelimpahan fitoplankton perminggu di Perairan Senggarang Besar menunjukkan bahwa kombinasi antara minggu pertama dan minggu kedua berbeda sangat nyata, kombinasi minggu pertama dengan minggu ketiga berbeda sangat nyata dan kombinasi pada minggu kedua dan minggu ketiga berbeda nyata. Berdasarkan indeks saprobik di perairan Senggarang Besar terkategori ke dalam golongan pencemaran bahan organik Oligosaprobik/sangat ringan.Kata kunci: Fitoplankton, Keanekaragaman, Perairan Senggarang Besar, Saprobik

    Perhitungan Volume Dan Berat Terumbu Karang Menggunakan Foto Grametri Bawah Air 3 Dimensi Di Pulai Gili Labak, Sumenep

    No full text
    ABSTRAKMengukur struktur habitat terumbu karang secara 3 dimensi (3D) merupakan hal yang penting yang digunakan untuk aspek pemantauan terumbu karang, karena arsitektur habitat mempengaruhi kelimpahan dan keanekaragamn terumbu organisme. Produksi 3D memungkinkan pengamatan karang dari sisi dan bidang. Peneliti menggunakan metode foto bawah air 3D untuk melihat bahwa metode tersebut sangat efisien untuk menghitung volume dan berat terumbu karang yang ada di Pulau Gili Labak. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui volume dan berat terumbu karang menggunakan foto grameteri bawah air 3 dimensi di Pulau Gili Labak, Kabupaten Sumenep. Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu alat selam, frame 50x50 cm, kamera Olympus TG 6, GPS, Software Agisoft, dan terumbu karang. Hasil rata-yang didapat dari perhitungan volume menggunakan persamaan y = 0,4835x + 103,34 adalah 592,86 cm3 sedangkan hasil rata-rata yang didapat dari perhitungan berat menggunakan persamaan y = 2,4512x0,898 adalah 1194,59 gram.Kata Kunci: Estimasi, 3 Dimensi, Volume, BeratABSTRACTMeasuring the structure of coral reef habitats in 3 dimensions (3D) is an important aspect of coral reef monitoring, because habitat architecture influences the abundance and diversity of reef organisms. 3D production allows viewing of corals from sides and planes. Researchers used the 3D underwater photography method to see that this method was very efficient for calculating the volume and weight of coral reefs on Gili Labak Island. The aim of this research is to determine the volume and weight of coral reefs using 3-dimensional underwater gramometry photographs on Gili Labak Island, Sumenep Regency. The tools used in this research were diving equipment, 50x50 cm frame, Olympus TG 6 camera, GPS, Agisoft software, and coral reefs. The average result obtained from volume calculations using the equation y = 0.4835x + 103.34 is 592.86 cm3, while the average result obtained from weight calculations using the equation y = 2.4512x0.898 is 1194.59 grams.Keywords: Estimation, 3 Dimensions, Volume, Weigh

    Perbandingan Densitas Zooxanthellae Pada Karang Keras di Perairan Rebo Kabupaten Bangka

    No full text
    ABSTRAKPerairan Rebo yang berada di Desa Rebo Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki populasi terumbu karang di daerah Karang Melantut, namun daerah ini mengalami kerusakan dari kegiatan penambangan timah lepas pantai dan TI apung yang menghasilkan limbah berupa tailing (lumpur). Akibat dari pengendapan lumpur berdampak buruk terhadap ekosistem terumbu karang salah satunya pertumbuhan alga yang bersimbiosis dengan karang yaitu zooxanthellae. Tujuan penelitian yaitu mengetahui perbedaan densitas zooxanthellae pada karang keras dengan jenis yang berbeda. Penelitian dilakukan pada Bulan Agustus tahun 2022, dengan mengambil tiga jenis karang yaitu Lobophyllia corimbosa, Acropora kimbeensis, dan Acropora nobilis. Metode penelitian yaitu melakukan isolasi sel zooxanthellae dengan menyemprotkan air laut tersaring pada fragmen karang menggunakan water flosser hingga sel terlepas dari jaringan karang. Larutan sel zooxanthellae diawetkan dalam botol sampel yang diteteskan formalin 4% sebayak lima tetes dan diamati di bawah mikroskop. Rata-rata densitas zooxanthellae dihitung menggunakan  Microsoft exel yaitu Lobophyllia corimbose 1507 sel/cm², Acropora kimbeensis 4134 sel/cm², dan Acropora nobilis rata-rata 2294 sel/cm². Hasil pengolahan data menggunakan statistik  analisis  varian (ANOVA) menunjukkan adanya perbedaan nyata densitas zooxanthellae pada ketiga jenis karang dengan nilai signifikan 0,05. Hasil dari uji ANOVA dan tukey test, mendapatkan nilai F hitung 67.413 dan memperoler F tabel sebesar 3,13 sehingga keputusan yang diterima adalah H1, yaitu adanya perbedaan densitas zooxanthellae pada tiga jenis karang. Adanya perbedaaan densitas zooxanthellae pada ketiga jenis karang disebabkan oleh perbedaan lifeform karang.  Perbedaan lifeform karang dipengaruhi oleh suhu, kedalaman dan tingkat ekstrim suatu perairan. Kata Kunci: zooxanthellae; densitas; kabupaten bangka.ABSTRACTRebo Villagein Bangka Regency, Bangka Belitung Islands Province has high population of coral reefs in Karang Melantut area, but has suffered damage from offshore tand anshore in mining activities which produce waste in the from of sludge. The consequences of sludge deposition can have a negative impact on coral reef ecosystems, especially the relationship of corals with the symbiotic algae (zooxanthellae). The aim of this research is to analysis of differences in density, size and mitotic index of zooxanthellae. The research was conducted in August 2022, by taking three types of coral, Lobophyllia corimbosa, Acropora kimbeensis, and Acropora nobilis. The research method is to isolate zooxanthellae cells by spraying  filtered seawater on coralfragments using a water flosser until the cels are seperatedfrom the coral. The zooxanthellae cell solution was placed in a sample bottle in which five drops of 4% formalin were added and observed under the microscope. The average density of zooxanthellae was calculated using Microsoft exel, from Lobophyllia corimbosa is 1507 cells/cm², Acropora kimbeensis 4134 cells/cm², and Acropora nobilis an average of 2294 cells/cm². The results of the statistic analisis of variance (ANOVA) showed that there were significant differences zooxanthellae in the three types of coral with a significant value of 0.05. The results of the ANOVA test and Tukey test obtained a calculated F value of 67.413 and obtained an F table of 3.13 so that the decision received was H1, namely that there were  differences in  zooxanthellae density in  the three  types of coral. The difference in zooxanthellae density in the three types of coral is caused by differences in coral lifeforms.  Differences in coral life forms are influenced by temperature, depth and extreme levels of water.Keywords: Zooxanthellae; Density; regency bangka.

    Perbandingan Larutan NaCl dan K2CO3 Sebagai Media Pemisahan Densitas Mikroplastik Pada Sedimen Pantai Kondang Merak dan Pantai Goa Cina

    No full text
    ABSTRAKSalah satu tahapan dalam analisis mikroplastik adalah proses pemisahan partikel mikroplastik dari sampel untuk memudahkan proses identifikasi. Pada penelitian ini digunakan larutan NaCl dan K2CO3 yang memiliki densitas berbeda, yaitu masing-masing 1,18 g/cm3 dan 1,43 g/cm3. Larutan NaCl dan K2CO3 memiliki densitas yang lebih tinggi daripada rata-rata mikroplastik yang ditemukan (0.9-1.4 g/cm3), oleh karena itu kedua larutan ini dipilih dalam proses pemisahan densitas. Sampel yang digunakan adalah sampel sedimen Pantai Goa Cina dan Pantai Kondang Merak. Kedua pantai ini dipilih sebagai lokasi pengambilan sampel karena reputasinya sebagai pantai wisata dan berpotensi terhadap pencemaran mikroplastik. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan efektivitas penggunaan larutan NaCl dan K2CO3 dalam proses pemisahan densitas mikroplastik serta menganalisis hasil persentase jenis mikroplastik yang ditemukan. Secara keseluruhan terdapat 11 sampel yang terdiri dari lima sampel sedimen dari pantai Goa Cina dan enam sampel sedimen dari Pantai Kondang Merak. Sampel kemudian dikeringkan dan direndam pada masing-masing larutan NaCl dan K2CO3. Supernatant yang terbentuk dalam proses ekstraksi kemudian disaring menggunakan vacuum pump dan kertas whatman untuk diamati partikel mikroplastiknya menggunakan mikroskop. Kedua pantai menunjukkan hasil yang serupa, yaitu didominasi oleh mikroplastik berbentuk fiber. Hasil ekstraksi dengan menggunakan K2CO3 menunjukkan lebih banyak fragmen yang ditemukan dibandingkan dengan hasil ekstraksi dengan menggunakan NaCl. Mikroplastik dalam bentuk pellet hanya ditemukan pada ekstraksi menggunakan larutan K2CO3 pada sampel sedimen Pantai Kondang Merak. K2CO3 lebih mahal daripada NaCl, namun hasil ekstraksi menunjukkan bahwa mikroplastik yang terekstraksi dengan K2CO3 lebih banyak dibandingkan yang terekstraksi dengan NaCl. Kata Kunci: Densitas, Fiber, Fragmen, Pencemaran, WisataABSTRACTOne of the stages in microplastic analysis is the process of separating microplastic particles from the sample to facilitate the identification process. This study used NaCl and K2CO3 solutions used with the density of 1.18 g/cm3 and 1.43 g/cm3 respectively. NaCl and K2CO3 solutions have higher densities than the average microplastics (0.9-1.4 g/cm3) therefore these two solutions were used in the density separation process. The samples used were sediments from Goa Cina Beach and Kondang Merak Beach. Both beaches were chosen as sampling locations because of the reputation of their beauty which make it popular tourist destination. This study will serve as a reference to investigate the abundance of microplastics in the tourist beach of Malang. The purpose of this study is to compare the use of NaCl and K2CO3 solutions in the density separation process, starting from the cost required, materials needed, and the extraction results. Five samples were taken from Goa Cina beach and six samples from Kondang Merak Beach. The sediment samples taken then dried and immersed in the extraction solution, the supernatant formed in the extraction process was then filtered using a vacuum pump and wattman paper to be observed using a microscope. Both beaches showed similar results with fiber-shaped microplastics being the most common. The results of extraction using K2CO3 showed that more fragments were found than the results of extraction using NaCl. Microplastics in the form of pellets were only found in the extraction using K2CO3 solution in Kondang Merak Beach sediment samples. The price of K2CO3 is more expensive than NaCl, but the extraction results showed that microplastics extracted with K2CO3 are more abundant than those extracted with NaCl.Keywords: Density, Fiber, Fragment, Pollution, Touris

    Studi Karakteristik Oseanografi Sebagai Rekomendasi Waktu Penanaman Mangrove (Studi Kasus: Pulau Dompak)

    No full text
    ABSTRAKDegradasi ekosistem mangrove menyebabkan banyak kerugian baik dalam hal pengelolaan jasa lingkungan maupun secara finansial. Penanaman mangrove sendiri merupakan bentuk restorasi guna menyelamatkan penurunan luasan areal mangrove. Dinamika oseanografi merupakan faktor penentu untuk peningkatan keberhasilan dalam kegiatan restorasi ekosistem mangrove. Pulau Dompak tercatat sebagai kawasan Provinsi Kepulauan Riau dengan areal tutupan ekosistem mangrove yang cukup luas namun tergolong tinggi tingkat pemanfaatannya. Penelitan ini bertujuan untuk merekomendasikan waktu terbaik dalam penanaman mangrove dengan melakukan studi karakteristik oseanografi. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu berupa pemetaan data karakteristik oseanografi dan deskriptif analisis. Hasil yang didapat pada empat parameter oseanografi berupa suhu, salinitas, arus dan pasang surut masing-masing menunjukan perubahan yang tidak terlalu signifikan dan tergolong baik untuk dilakukan penanaman mangrove. Rekomendasi waktu penanaman mangrove terbaik yaitu pada kondisi kecepatan arus terendah yaitu pada Musim Peralihan I.Kata kunci : Musim Peralihan I, Penanaman mangrove, Pulau Dompak, OseanografiABSTRACTDegradation of mangroves causes many losses both in terms of management of environmental services and financially. Mangrove planting is a restoration to save decreasing areas of mangrove. Oceanography is a determining factor for increasing success in mangrove ecosystem restoration activities. Dompak Island is listed as an area of the Riau Archipelago Province with a relatively wide area of mangrove ecosystem cover but a relatively high level of utilization. This research aims to recommend the best time for planting mangroves by conducting a study of oceanographic characteristics. The method used in this study is in the form of mapping data on oceanographic characteristics and descriptive analysis. The results obtained for the four oceanographic parameters, namely temperature, salinity, currents, and tides each show not too significant changes and classified as good for planting mangroves. The recommendation for the best time to plant mangroves is at the lowest current velocity, namely during the Transitional Season I.Keyword : Dompak island, Planting mangrove, Oceanography, Transitional Season

    0

    full texts

    453

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇