Jurnal Kelautan: Indonesian Journal of Marine Science and Technology
Not a member yet
453 research outputs found
Sort by
KERAGAAN SPESIES FITOPLANKTON DI TELUK GORONTALO
ABSTRAKFitoplankton merupakan organisme yang memiliki peran sangat penting dalam siklus kehidupan di perairan. Selain itu fitoplankton juga memiliki peran sebagai produsen primer dan awal mata rantai dalam jaringan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengindetifikasi jenis fitoplankton di perairan Teluk Gorontalo, sehingga dapat digunakan sebagai data dasar untuk dikembangkan dalam menunjang pengelolaan perairan yang tepat. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa fitoplankton yang paling dominan tergolong dalam filum Bacillariophyta sedangkan sisanya berasal dari filum Ochrophyta, Chlorophyta, Cyanophyta, Arthropoda, Cyanobacteria, dan Charophyta. Kata Kunci: Fitoplankton, Teluk Tomini, Gorontalo, Bacillariophyta, Diatom.ABSTRACTPhytoplankton is a tiny-organism group that has an essential role in aquatic life cycle. It also functions as a primary producer in the food chain and food web trophic levels. This study aimed to identify the types of phytoplankton in Gorontalo Bay; therefore, the data can be used and developed for supporting proper aquatic resources management. The results of this study revealed that the most dominant phytoplankton belonged to the phylum Bacillariophyta while the rest were from the phylum Ochrophyta, Chlorophyta, Cyanophyta, Arthropoda, Cyanobacteria, and Charophyta.Keywords: Bacillariophyta, Chlorophyta, Diatom, Gorontalo, Tomini Ba
Pemetaan Daerah Rawan Abrasi di Wilayah Pesisir Kota Tanjungpinang (Studi Kasus: Kelurahan Kampung Bugis dan Senggarang)
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memetakan daerah rawan abrasi pantai diwilayah pesisir Kelurahan Kampung Bugis dan Senggarang, Kota Tanjungpinang. Pengumpulan data dilakukan sejak Desember 2020 samapi April 2021. Data diperoleh dari survei lapangan pengamatan dan interpretasi penginderaaan jauh. Analisis overlay menggunakan metode model builder dengan bantuan perangkat lunak ArcGIS digunakan dalam penentuan kelas kerawanan abrasi. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa tingkat kerawanan abrasi di Kelurahan Kampung Bugis dan Senggarang dikategorikan dalam kelas kerawanan sedang dan rendah. Luas daerah dengan katergori kerawanan rendah mencapai 79.29 Ha, sedangkan kategori rawan sedang seluas 147.59 Ha. Kelurahan Kampung Bugis memiliki daerah rawan abrasi pantai sedang mencapai 54,92 Ha, dan rendah mencapai 47,8 Ha, sementara itu Kelurahan Senggarang memiliki daerah rawan abrasi sedang mencapai 92,67 Ha dan kerawanan rendah mencapai 31,49 Ha.Kata kunci: Pemetaan, Kerawanan abrasi pantai, SIG, Kota TanjungpinangABSTRACTThis study aims to mapping of abrasion vulnerability areas in the coastal of Kampung Bugis and Senggarang Villages, Tanjungpinang City. Data collection was carried out from December 2020 to April 2021. Data were obtained from field surveys of observations and interpretation of remote sensing. Overlay analysis using the model builder method by ArcGIS software is used to determine the abrasion susceptibility class. The results of the study indicate that the level of vulnerability to abrasion in the Villages of Kampung Bugis and Senggarang is categorized into medium and low vulnerability classes. The area in the low vulnerability category is 79.29 Ha, while the medium vulnerability category is 147.59 Ha. Kampung Bugis Village has a moderate abrasion vulnerability area of 54.92 Ha, and a low area of 47.8 Ha, meanwhile Senggarang Village has a moderate abrasion vulberability area of 92.67 Ha and a low vulnerability of 31.49 Ha.Keywords: Mapping, Abration vulnerability, GIS, Tanjungpinang cit
Tingkat Kesuburan Perairan Desa Mantang Baru, Kecamatan Mantang, Kabupaten Bintan
ABSTRAKDesa Mantang Baru kawasan pesisir yang terletak di Kecamatan Mantang. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis tingkat kesuburan perairan di Desa Mantang Baru Kecamatan Mantang Kabupaten Bintan. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei, pengambilan sampel menggunakan metode random sampling sebanyak 15 titik sampling. Analisis kesuburan perairan mengunakan indeks TRIX. Hasil parameter penunjang yakni fisika, kimia, dan biologi perairan telah memenuhi baku mutu perairan berdasarkan Lampiran VIII PP No. 22 Tahun 2021 kecuali parameter NO₃ dan PO₄. Hasil pengukuran kandungan klorofil-a di perairan Desa Mantang Baru pada saat pasang berkisar 0,094 µg/l dan pada saat surut 0,089 µg/L Hasil kesuburan perairan berdasarkan TRIX pada saat pasang berkisar 5,61mg/L surut berkisar 5,87 mg/L, berdasarkan kategori TRIX perairan Desa Mantang Baru tergolong dalam perairan eutrofik.Kata kunci: Bintan, eutrofikasi, kesuburan perairan, Mantang Baru, TRIX ABSTRACTThe village of Mantang Baru which is lcoastal area, located in the district of Mantang. The objective of this study was to analyze the trophic status of the Mantang Baru village, subdistrict of Mantang, Bintan regency. The reserch was conducted by survey method, sampel observation using random sampling at 15 sampling points. Analysis of trophic levelwas used the TRIX index. The results of supporting parameters namely physics, chemistry, and biology of he water have met the water quality standards based on PPRI no.22 years of 2021 attachment of 8theexpect NO3 and PO4. The results of the measurement of chlorophyll-a content in the waters of the village of mantang baru at high t ide was 0,094µg/L at low was 0,089µg/L, the resutls of water based on TRIX at high tide ranged from 5,16 mg/L at low tide ranged from 5,87mg/L. Based on category TRIX the waters of the village of Mantang Baru are classified as eutrophic waters.Keywords: Bintan, Eutrophication, Mantang Baru, Trix, Tropic Leve
KEANEKARAGAMAN SPESIES DAN KARAKTERISTIK HABITAT KERANG KIMA (Cardiidae: Tridacninae) DI EKOSISTEM INTERTIDAL TANJUNG BILIK TAMAN NASIONAL BALURAN
ABSTRAKKima (Giant clam) merupakan kelompok kerang laut yang termasuk dalam anggota Famili Cardiidae dan Kelas Bivalvia. Kima merupakan salah satu komoditas perdagangan internasional yang bernilai ekonomis tinggi. Kondisi habitat Kima yang heterogen sangat menarik untuk diteliti, terutama dalam rangka memahami karakteristik habitat dan keanekaragaman spesies kerang kima di zona intertidal Pantai Bilik Taman Nasional Baluran. Untuk menentukan karakteristik habitat yang dipilih populasi kerang kima dan keanekaramanan spesies, dilakukan metode road sampling dengan cara ‘tracking’ pada tipe-tipe habitat dan analisis karakteristik habitat mengggunakan klasifikasi analisis substrat karang laut. Karakteristik habitat yang paling disukai kerang kima adalah RCK (rocks) dengan prosentase 64.28% dan yang terendah S (sand) dengan prosentase 3.57 %. Keanekaragaman spesies kerang kima di zona intertidal pantai Bilik TNB tergolong rendah, sejumlah 4 spesies yang ditemukan yaitu Tridacna crocea, T. maxima, T. squamosa dan Hippopus hippopus. Nilai kemerataan menunjukkan hasil yang mendekati nol yang berarti ada spesies yang mendominasi dalam komunitas kerang kima yaitu spesies T. crocea yang jumlahnya mencapai 38 individu.Kata Kunci: Kima, Tanjung Bilik, Taman Nasional BaluranABSTRACTKima (Giant clam) is a group of sea shells that belongs to the cardiidae family and the Bivalvia class. Kima is one of the international trade commodities with high economic value. This heterogeneous habitat condition is interesting to study, especially in order to understand the habitat characteristics and species diversity of clams in the intertidal zone of the Baluran National Park chambers. To determine the characteristics of the habitat selected by the clam shell population and species diversity, a road sampling method was carried out by 'tracking' the habitat types and the Habitat characteristics analysis using coral reef classification. The most preferred habitat characteristics for clams are RCK (rocks) with a percentage of 64.28% and the lowest is S (sand) with a percentage of 3.57%. The diversity of species of clams in the intertidal zone of Bilik TNB beach is low, numbers 4 species were found, namely Tridacna crocea, T. maxima, T. squamosa and Hippopus hippopus. The evenness value shows a result that is close to zero, which means that there are species that dominate in the clam shell community, namely T. crocea, which number reaches 38 individuals.Keywords: Kima, Bilik Capet, Baluran National Par
Distribusi Spasial Parameter Kualitas Air di Teluk Beno, Bali
ABSTRACTBy overviewing environmental issues and the pros/cons of the revitalization planning of the Benoa Bay, a study encompasing various problems is crucial to be carried out. One of which is related to the water quality. This study aims to spatially map the quality of seawater based on the values obtained from secondary data. Benoa Bay water quality conditions in 2016, has a water transparency ranging from 1.5-6 m, DO (not detected), the average of BOD was 47.49 mg/l, nitrate (0.2-0.3 mg/l), ammonia (0-0.33 mg/l), phenol (average 2.42 mg/l), and coliform (0-1100 MPN/100 ml). These values are alarming whereby it exceeds the quality standard allowed for marine biota. On the other hand, sea temperature ranged from 28.50 to 30.50°C, the average of pH was 8.27, salinity (31.6-32.8 ‰), sulfide (not detected), CN (not detected), oil fat (0-0.2 mg/l), and the average of TSS was 3.27 mg/l. These parameter concentrations are still suitable for supporting marine biota within Benoa Bay. Generally, the condition of water quality in Benoa Bay was categorized as polluted through the input of excess nutrients and bacteria. Keywords: sea water quality, physics, chemical, excess nutrient, biology, Benoa Bay, BaliABSTRAKMelihat permasalahan lingkungan yang terjadi, serta banyaknya pro dan kontra perencanaan revitalisasi Teluk Benoa, sebuah kajian untuk menjawab berbagai persoalan yang terjadi sangat perlu untuk dilakukan. Salah satu permasalahan tersebut berkaitan dengan kondisi kualitas perairan. Tujuan kajian ini adalah untuk memetakan kualitas air laut secara spasial berdasarkan nilai-nilai yang didapatkan dari data sekunder. Kondisi kualitas perairan Teluk Benoa pada tahun 2016, memiliki kecerahan perairan berkisar antara 1,5-6 m, DO (tidak terdeteksi), rata-rata nilai BOD sebesar 47,49 mg/l, nitrat (0,2-0,3 mg/l), amoniak (0-0,33 mg/l), phenol (rataan 2,42 mg/l), dan coliform (0-1100 MPN/100 ml). Konsentrasi parameter kaulitas air tersebut cukup mengkhawatirkan karena sudah melampaui rentang baku mutu air laut yang diperbolehkan untuk kehidupan biota laut. Disisi lain, parameter suhu berkisar antara 28,50-30,50°C, rata-rata nilai pH sebesar 8,27, salinitas (31,6-32,8 ‰), sulfida (tidak terdeteksi), CN (tidak terdeteksi), minyak lemak (0-0,2 mg/l), dan rata-rata TSS sebesar 3,27 mg/l), masih aman untuk kehidupan biota di sekitar perairan Teluk Benoa. Secara umum, kondisi kualitas perairan di Teluk Benoa termasuk dalam kategori tercemar melalui masukan nutrien berlebih dan bakteri.Kata kunci: kualitas air laut, fisika, kimia, nutrien berlebih, biologi, Teluk Benoa, Bal
Zooplankton di Perairan Teluk Doreri, Kabupaten Manokwari, Provinsi Papua Barat
ABSTRACTThis study aims to determine the abundance and composition of zooplankton in the waters of Doreri Bay. Water samples were taken at a depth of 5 meters and 10 meters at 2 research stations. Identification of zooplankton was carried out using the sweep method. The results obtained that the average abundance of zooplankton at station 1 at a depth of 5 and 10 meters respectively was 54 ind/L in the morning and 33 ind/L in the afternoon and 33 ind/L in the morning and 30 ind/L in the afternoon. On the other hand, the average abundance of zooplankton at station 2 at a depth of 5 meters and 10 meters consecutively was 61 ind/L in the morning and 67 ind/L in the afternoon and 81 ind/L in the morning and 66 ind/L in the afternoon. The number of zooplankton genera is 29 genera with a percentage of 32.41% in 1 genera (Nauplius sp.), 20.99% in 1 genera (Calanus sp.), 5-9% in 2 genera (Epiplocylis sp., and Euntintinnus sp.), 3-.5% in 3 genera (Arcelia sp., Rhabdonella sp., and Salpingella sp.), and 0-3% in 22 genera (Abarenicola sp., Amphorellopsis sp., Ascomorpha sp., Balanus sp., Codonellopsis sp., Cornutella sp., Cyphoderia sp., Evadne sp., Lecane sp., Lithotrobus sp., Notholca sp., Oikopleura sp., Paravafella sp., Penaeus sp., Pinctada sp., Pleuraspis sp., Protorhabdonella sp., Spiophanes sp., Tintinnidium sp., Tintinnopsis sp.,Trichocerca sp., and Undella sp.). Keywords: Abundance, compositon, zooplankton, Doreri Bay Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan komposisi zooplankton di perairan Teluk Doreri. Sampel air diambil pada kdalaman 5 meter dan 10 meter pada 2 stasiun penelitian. Identifikasi zooplankton dilakukan dengan menggunakan metode penyapuan. Hasil yang diperoleh rata-rata kelimpahan zooplankton di stasiun 1 pada kedalaman 5 dan 10 meter secara berturut-turut sebesar 54 ind/L pada pagi hari dan 33 ind/L di sore hari serta 33 ind/L di pagi hari dan 30 ind/L di sore hari. Rata-rata kelimpahan zooplankton di stasiun 2 pada kedalaman 5 meter dan 10 meter secara berturut-turut sebesar 61 ind/L di pagi hari dan 67 ind/L di sore hari serta 81 ind/L di pagi hari dan 66 ind/L di sore hari. Jumlah genera zooplankton adalah 29 genera dengan persentase 32,41% sebanyak 1 genera (Nauplius sp.), 20,99% sebanyak 1 genera (Calanus sp.), 5-9% sebanyak 2 genera (Epiplocylis sp., dan Euntintinnus sp.), 3-5% sebanyak 3 genera (Arcelia sp., Rhabdonella sp., dan Salpingella sp.), dan 0-3% sebanyak 22 genera (Abarenicola sp., Amphorellopsis sp., Ascomorpha sp., Balanus sp., Codonellopsis sp., Cornutella sp., Cyphoderia sp., Evadne sp., Lecane sp., Lithotrobus sp., Notholca sp., Oikopleura sp., Paravafella sp., Penaeus sp., Pinctada sp., Pleuraspis sp., Protorhabdonella sp., Spiophanes sp., Tintinnidium sp., Tintinnopsis sp.,Trichocerca sp., dan Undella sp.).Kata kunci: Kelimpahan, komposisi, zooplankton, Teluk Dorer
KAJIAN PASANG SURUT DAN ARUS DI MUARA UNTUK PENGEMBANGAN PELABUHAN SATUI, KALIMANTAN SELATAN
ABSTRAKKajian pasang surut dan arus sangat diperlukan untuk mendukung rencana pengembangan pelabuhan terintegrasi di muara Satui, Kalimantan Selatan yang saat ini sudah aktif beroperasi untuk alur lintas berbagai komoditas ekonomi penting. Pada kajian ini, karakteristik pasang surut dan kecepatan arus diperoleh dari observasi lapangan dengan alat pencatat arus yang dipasang di muara Satui dan data sekunder yang dikumpulkan dari beberapa sumber. Hasil kajian menunjukkan tunggang pasang surut sebesar 1,86 meter, dengan kecepatan arus berkisar ~0-0,47 m/detik (rata–rata kecepatan arus 0,12 cm/detik) yang dipengaruhi oleh debit air dari sungai Satui. Hasil kajian menunjukkan pasang surut dan arus di sekitar perairan muara Satui sesuai untuk kepentingan pelabuhan.Kata kunci: Pasang Surut, Arus, Muara Satui, PelabuhanABSTRACTThe study of tide and ocean currents is very useful to support the plan to develop an integrated port area at Satui estuary, South Kalimantan which currently is being operated for transporting high value commodities. In this study, the characteristic of tides and currents was obtained from a field measuring campaign with a current profiler installed in Satui estuary and secondary data from various resources. The study showed the tide range was 1.86 m, with current velocity ranging ~0-0.47 m/s (average of 0.12 m/s) that was influenced by the flow of Satui river. The result exhibited the tides and currents within Satui eastuary was suitable for ports Keywords: Tides, Current, Muara Satui, Harbo