Saraswati
Not a member yet
696 research outputs found
Sort by
DEFORMASI BURUNG ENGGANG DALAM PENCIPTAAN LAMPU
Penciptaan karya seni dilakukan dengan proses yang kompleks. Burung Enggang sebagai sebuah sumber inspirasi penciptaan karya seni, karena memiliki beberapa hal yang menarik. Burung Enggang memiliki bentuk dan warna yang unik pada paruh, cula, sayap, dan ekornya, menyatu, dan seimbang jika dilihat dari perspektif seni rupa. Secara simbolis dipakai sebagai lambang bagi suku Dayak. Proses penciptaan karya seni ini tak lepas dari tahapan yaitu dengan menggunakan metode tiga tahap enam langkah sebagai proses penciptaan karya fungsional. Eksplorasi, perancangan, dan perwujudan, menjadi langkah utama dalam penciptaan ini. Proses penghayatan, penyetaraan antara rasa dan pikiran juga dilakukan untuk memeberikan spirit dan ruh agar karya dapat memberikan inspirasi dan semangat, serta memberikan pesan-pesan kebaikan kepada orang lain yang melihatnya, adapun visualisasinya dengan cara deformatif. Konsepsi dari visual burung Enggang menjadi suatu kelebihan tersendiri dari karya ini. Menguatkan karya seni kriya ke dalam perkembangan seni rupa modern. Dengan mempertimbangkan nilai estetis dan simbolis terciptalah karya seni berwujud tiga dimensi fungsional karya ekspresi yang berupa bentuk lampu. Karya yang diciptakan menghasilkan karakter baru dari burung Enggang, dengan membentuk kesan feminimitas maupun maskulin yang menjadi figur dalam penciptaan burung Enggang tersebut. Kata kunci: Burung Enggang, lampu, deformas
KAJIAN ERGONOMI KOGNITIF INTERIOR BALAI BESAR REHABILITASI SOSIAL BINA GRAHITA KARTINI TEMANGGUNG BAGI PENYANDANG DISABILITAS INTELEKTUAL
Ergonomi kognitif berkaitan dengan karakteristik pikiran manusia dan hubungan aktivitas dan interaksi serta bagaimana informasi diperoleh, digunakan, disimpan dan dipanggil kembali. Termasuk di dalamnya sensasi dan persepsi, memori, penalaran dan perkembangan logis, pengolahan informasi, kontrol motorik dan respon. Penyandang disabilitas intelektual yang memiliki keterbatasan pada sistem kognitifnya tidak dapat beraktivitas seperti umumnya. Mereka membutuhkan pembimbing demi memudahkan aktivitas sehari-hari. Ergonomi kognitif dibutuhkan penyandang disabilitas intelektual dalam mengakses ruang dan fasilitas untuk menujang aktivitas sehari-hari di Balai Besar Rehabillitasi Sosial Bina Grahita “Kartini” Temanggung.Kata kunci: ergonomi kognitif, penyandang tunagrahita, Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita “Kartini” Temanggun
ATLETIK DI RUANG PUBLIK DALAM FOTOGRAFI EKSPRESI
Tugas akhir karya seni ini berjudul “Ruang Publik menjadi Arena Atletik”. Inspirasi penulis dalam pembuatan karya ini berawal dari kegemaran penulis berolahraga salahsatunya olahraga Atletik. Dari macam-macam gerakan Atletik itulah penulis berimajinasi dan berusaha mewujudkannya dalam bentuk karya seni fotografi. Penciptaan karya seni fotografi ini dibuat dalam rangka pameran tugas Akhir yang merupakan syarat kelulusan untuk memperoleh gelar Sarjana Seni di Jurusan Fotografi Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Objek dari penciptaan Tugas Akhir Karya Seni ini adalah ruang publik yang direspon menjadi sebuah arena Atletik. Bentuk-bentuk tersebut penulis wujudkan berdasarkan imajinasi dan pertimbangan estetik sehingga menghasilkan bentuk-bentuk yang unik dan sesuai dengan keinginan penulis. Ketertarikan terhadap tema yang diangkat merupakan proses panjang dari sebuah pemikiran dalam pembuatan karya tugas akhir ini. Untuk merubah ide menjadi karya cipta, dilakukan serangkaian proses berpikir yang logis dan seringkali realisasinya memerlukan usaha yang terus menerus sehingga antara ide awal yang muncul di pikiran dan karya cipta satu sama lain saling sesuai sebagai kenyataan. Kata kunci: Atletik, Ruang, Publi
REPRESENTASI ANAK-ANAK DI DALAM PERANG
Situasi yang terjadi pada anak-anak di dalam perang menimbulkan empati yang mendalam, selain mengancam jiwa, perang berbahaya secara psikologis bagi anak-anak. 'Berhadapan terus menerus dengan bom, roket, senjata, dan darah bisa menjadi faktor utama trauma dan tekanan mental'.[1] keadaan yang jauh dari kata indah menimbulkan permasalahan tersendiri dalam pemilihan tematik untuk penciptaan karya seni lukis, namun menjadi menarik karena, 'Sesungguhnya tidak perlu diulang-ulang dan diributkan bahwa seni tidaklah harus selalu indah. Baik pandangan historis maupun secara sosiologis, ternyata bahwa hasil seni sering-sering merupakan yang tidak indah'.[2] Terlahirnya gagasan ini dalam sebagian karya terpicu dari kegiatan kehidupan sehari-hari. Diantaranya melihat anak-anak yang sedang bermain lompat tali, lalu menumbuhkan imajinasi seperti meminjam sosok anak bermain lompat tali diantara ranjau darat di daerah perang dalam bahasa visualnya. Dalam ide yang lainnya, melihat anak-anak yang sedang bermain bongkar pasang seperti action figure dan meminjam kerangka mainan itu sendiri digantikan dengan anak nyata sebagai pengganti action figure tersebut. Berkenaan dengan ini, sependapat dengan Marcia Muelder Eaton, yaitu 'kondisi keharusan (necessary condition) dan kondisi yang mencukupi (sufficient condition) untuk menunjukan bahwa sesuatu adalah objek, kegiatan, pengalaman, atau situasi estetis'.[3] Dengan demikian, mengasah kepekaan diri tidak menutup mata juga pada pengalaman empiris yang banyak dilihat pada pameran seni rupa di luar seni lukis. Mengangkat karya penciptaan yang bertemakan sosial khususnya anak-anak korban perang bukan suatu kebetulan, yang pada dasarnya adalah penafsiran, dimana tafsir merupakan 'persoalan yang menyangkut apa yang baik dan tak baik, yang adil dan tak adil, berguna dan tak berguna, juga persoalan otoritas dan kebebasan'.[4] Sejalan dengan hal ini, menciptakan sebuah karya dari fenomena lingkungan sekitar yang terjadi, khususnya pada anak-anak di dalam negara konflik perang sebagai sumber inspirasi. Dengan menemukan sudut pandang yang menarik dari sebuah polemik perang yang tak berkesudahan sebagai sebuah usaha interpretasi kegelisahan yang dirasakan pada diri sendiri selama menempuh studi seni lukis ini
Merespons Repro Foto Masa Kecil dalam Fotografi Montase
Fotografi adalah sebuah media paling ampuh dalam merekam kejadian. Semua orang pasti pernah melakukan kegiatan fotografi, mereka merekam karena tak ingin kehilangan momen-momen penting dalam hidupnya. Momen itu menjadi arsip yang siap untuk dikenang sebagai pembuktian sejarah diri. Fotografi potret saat ini dengan perkembangan teknologi dan pemikiran yang berkembang tidak lagi hanya sebatas potret diri dengan kekakuan gestur tubuh, fenomena merekam diri menjadi gaya hidup yang kian hari kian menampakan diri dan menjadi bagian dalam fotografi potret. Arsip foto diri menjadi penting dalam setiap perkembangannya. Teknologi digital menjadikan apapun menjadi mungkin, dengan perangkat lunak seperti Photoshop arsip-arsip yang semula hanya sebatas memori pengingat, dapat didayagunakan lebih sebagai media baru dalam berekspresi. Penciptaan karya fotografi ini bertujuan untuk menghadirkan kembali ingatan dan kenangan diri, tentang bagaimana fotografi tidak lagi sebatas membekukan waktu dan ruang namun juga bekerja sebagai mesin waktu yang akan menghantarkan kita kemanapun kita inginkan. Pada karya ini terlihat interaksi antara satu orang yang sama namun berbeda usia, bertemu dalam situasi dan keadaan yang seolah-olah bersatu dan dibekukan melalui fotografi Kata kunci: Memori sejarah diri, Montase, Fotograf
Fantasi Masakan Rumah Dalam Fotografi Seni
Inspirasi dalam pembuatan karya seni tugas akhir yang berjudul “Fantasi Masakan Rumah dalam Fotografi Seni” berawal dari pengalaman pribadi saat berada di dapur dan mengamati bahan masakan yang akan dimasak serta pengalaman terhadap apa yang pernah dilihat dan dialami. Dari bahan dasar masakan rumah itulah timbul sebuah ide untuk berfantasi dengan menggunakan bahan dasar dari masakan rumah yang diwujudkan dalam fotografi seni.Fotografi dengan subgenre fotografi seni, fotografer diberikan kebebasan dalam berkreasi dan mengekspresikan dirinya untuk menyampaikan pesan dan imajinasi yang ada didalam dirinya. Oleh karena itu fotografi seni dalam penciptaan karya seni ini dijadikan sebagai media visual dalam mengungkapkan ide yang akan diwujudkan. Dalam perwujudannya fantasi-fantasi yang ingin ditampilkan mengacu pada bentuk-bentuk yang ada di kehidupan sehari-hari dan memiliki kisah tersendiri serta diwujudkan sesuai dengan konsep. Proses penciptaan karya seni ini menggunakan teknik pencahayaan Window Lighting dan flash untuk menambah pencahayaan.Pemilihan tema karya seni tugas akhir melewati sebuah proses berpikir panjang yang melibatkan pengalaman empiris di dalamnya. Untuk mewujudkan ide menjadi karya cipta, dilakukan sebuah proses panjang yang realisasinya memerlukan usaha terus menerus sehingga antara ide awal dan perwujudan karya menjadi satu kesatuan yang utuh.Kata kunci : fantasi, masakan rumah, fotografi sen
PERANCANGAN PROGRAM TALK SHOW OLAHRAGA “SPORTIVA” Episode Self Defense Taekwondo
Karya Seni “Perancangan Program Talk Show Olahraga “Sportiva” ini bertujuan agar masyarakat Indonesia membiasakan diri untuk menontonprogram tayangan televisi yang bermanfaat dan memiliki nilai informasi yangdibutuhkan khalayak. Mengangkat tema Self Defense yang diambil dari cabangolahraga beladiri Taekwondo, karena dewasa ini banyak orang yang kurangmemahami pentingnya pertahanan diri, sedangkan saat ini marak terjadi tindakkekerasan maupun kriminalitas. Hal ini yang kemudian menjadi salah satu faktoratas terciptanya karya ini. Karya seni ini berbentuk program talkshow dengandurasi 30 menit dengan commercial break. Karya Seni ini memiliki konsep pengemasan program olahraga yangsantai, dirancang sedemikian rupa sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat.Program ini menggabungkan antara format olahraga dan format hiburan untukmembuat sebuah daya tariknya semakin dominan. Konsep talkshow padaprogram Sportiva diwujudkan dalam 4 segment yang merupakan perbincangandengan diselingi Video Tape (VT) dan instruksional. Konsep santai padaprogram ini juga diwujudkan dengan konsep interview on location, sertamengajak penonton untuk berjalan-jalan di lokasi seputar tema yang diangkat. Keyword: Talk Show, Sportiva, Self Defense, Taekwondo
PERANCANGAN INTERIOR LOBBY, RESTAURANT & MEETING ROOM HOTEL LOTUS GARDEN KEDIRI
Kediri adalah kota yang terletak di Provinsi Jawa Timur Indonesia, yangdinobatkan sebagai peringkat pertama Indonesia Most Recommended City for Investment 2010 berdasarkan survei oleh SWA Business Digest sebagai kota terbaik untuk berbisnis dan berinvestasi. Pesatnya pertumbuhan ekonomi kota Kediri selaras dengan permintaan domestik akan hotel bisnis yang dikelola dengan baik dengan standar hotel berbintang dan fasilitas konferensi bermutu.Alasan itulah yang menjadikan pihak Lotus Garden Grup selaku pemilik Hotel Lotus Gaden Kediri me-redesign interior hotel untuk meningkatkan daya saing dengan muncul serta banyaknya hotel di kota Kediri. Perancangan interior Hotel Lotus Garden Kediri meliputi area lobby,restaurant indoor, restaurant outdoor, meeting room 1 dan meeting room 2. Tema “Kekedirian in City Hotel” yang diangkat diharapkan mampu mencirikan serta memberi nuansa Kediri kepada para pengunjung hotel yang singgah melalui aspek desain interiornya. Pemilihan tema didasari oleh kepedulian untuk menggali nilai Kekedirian yang terwujud pada ciri khas ragam hias dan pemilihan material lokal.Kata kunci : kediri, desain interior, hote
Perancangan Showroom dan Kantor PT Nasmoco Bahana Motor (Nasmoco Bantul)
Branding atau citra sebuah merek adalah poin penting untuk beberapa ruang usaha, termasuk showroom.Cara mengkomunikasikan suatu karakter dan identitas sebuah perusahaan kedalam ruang adalah peran desain interior. Desain interior memiliki tugas dalam mengolahdan mengitepretasikan makna suatu brand kedalam ruangan. Toyota sebagai perusahaan mobil ternama didunia, tentunya memiliki citra dan gayatersendiri untuk mencerminkan interiornya. Demikian juga dengan dealer Toyota di Indonesia, Nasmoco yang sedang mengangkat isu penghijauan kedalam perusahaannya. Dalam hal ini, upaya merancang interior Nasmoco Bantul yang mengangkat citra peduli lingkungan akan menjadi topik dalam kajian ini
TEKNIK SINGLE LIGHTING DAN MULTI-IMAGE DALAM PEMOTRETAN PRODUK JAM TANGAN
Teknik lighting fotografi komersial saat ini telah berkembang pesat dan banyak dipelajari oleh profesional fotografer dan para pehobi fotografi. Namun ketika seseorang melangkah lebih jauh dalam mempelajari teknik lighting tingkat lanjut, akan menghadapi permasalahan dan kendala produksi. Permasalahan tersebut seringkali membuat pelakunya menjadi stres dalam mencoba memecahkan permasalahan produksi saat menggunakan banyak lighting. Hal tersebut juga membuat fotografer harus mengeluarkan uang ekstra untuk dapat memenuhi kebutuhan alat yang terbilang tidak sedikit dan murah. Pada era yang berkembang ini fotografer harus dituntut untuk dapat berfikir kreatif dalam menciptakan suatu karya. Salah satu cara dalam menghadapi permasalahan atau kesulitan saat menggunakan lighting adalah dengan Teknik Single Lighting dan Multi-image. Teknik ini adalah suatu rangkaian teknik produksi fotografi komersial, dimana dalam pengerjaannya menggunakan satu buah sumber lighting yang diletakan berpindah-pindah. Teknik ini akan diterapkan pada objek berupa jam tangan yang difoto menggunakan satu angle yang sama. Proses ini akan menghasilkan beberapa data foto dengan karakter, arah dan intensitas cahaya yang berbeda pada tiap fotonya. Proses selanjutnya adalah foto-foto tersebut akan diolah kembali menggunakan softwere Adobe Lightroom 5 untuk mengontrol warna dan ketajamannya dan softwere Photoshoop CS6 untuk melakukan masking dan penyatuan. Teknik digital imaging ini disebut multi-image. Kata kunci: lighting, teknik single lighting, multi-image, produksi, fotografi komersial, angle, Softwere Adobe Lightroom 5, Softwere Adobe Photoshop CS6, objek, intensitas