Saraswati
Not a member yet
696 research outputs found
Sort by
EKSPLORASI BENTUK NON-FIGURATIF DALAM SENI LUKIS
karya seni merupakan hasil ungkapan yang ditimbulkan dari kesadaran terhadap apa saja yang terjadi maupun yang telah menjadi sebuah pengalaman. Karya seni tidak bisa terlepas dari pengalaman hidup, karena pengalaman terkait langsung dengan apa yang pernah dijalani dan dirasakan, kesadaran tersebut mampu menimbulkan sikap yang melatarbelakangi gagasan sebuah karya seni.Berdasarkan pengalaman, latar belakang pendidikan, agama dan segala hal dalam ruang lingkup penulis telah membentuk mental dan cara pandang dalam menghadapi apa yang ditimbulkan dari kejadian-kejadian yang terjadi, khususnya dalam seni lukis pemilihan untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk non-figuratif tidak serta merta timbul begitu saja, melainkan refleksi sebab akibat dari pengalaman personal.Eksplorasi yang dimaksud bukan lagi menjadi langkah awal dari suatu penciptaan karya seni. Yang telah melewati beberapa tahapan termasuk berpikir, berimajinasi, merasakan dan merespon objek yang dijadikan sumber penciptaan, Dalam eksplorasi memungkinkan untuk melakukan berbagai macam percobaan-percobaan (eksperimentasi) dengan berbagai seleksi material dan penemuan bentuk-bentuk artistik, untuk mencapai integritas dari hasil percobaan yang telah dilakukan. Kebentukan yang tercipta merupakan suatu perwujudan dari berbagai percobaan yang telah dilakukan.Karya yang ditampilkan lebih membicarakan teknis visual, karena dirasa teknis menjadi penting sebelum tercapainya kepuasan secara subjektif, dalam hal ini yang difokuskan merupakan bentuk-bentuk bersifat non-figuratif, melalui pengolahan bidang-bidang datar, bentuk geometris, kubistik, dan formalistik. Atas dasar semua yang telah disampaikan, kemudian dipilihlah eksplorasi bentuk non-figuratif untuk diangkat sebagai tema dalam tugas akhir ini.Kata kunci: Eksplorasi, bentuk Non-fiuratif, bidang datar, geometris, kubistik, formalistik
BENTUK PENYAJIAN DAN SPESIFIKASI KESENIAN OGLEK TURONGGO SETO GEDANGAN, SENTOLO, SENTOLO KULON PROGO
Oglek Sentolo art widely available in the Sentolo village, Kulon Progo regency. Almost in every pedukuhan (a little part of village, consist of aproximately 40 houses) in the Sentolo village have paguyuban (society) that engage in the field of oglek art. One is the paguyuban Turonggo Seto in Gedangan hamlet. Oglek art is an art form that belongs to the kuda kepang (horse braid) genre. Kuda kepang identical to a dance using kuda kepang property that tells the story of a riding soldier, with the trance scene on the crest of the show. Although it belongs to the genre of kuda kepang dance, oglek art has its own characteristics. Oglek art hallmark can be viewed and obtained from the elements in the form of performance such as the costumes worn, accompaniment, shape and motion properties and the order of performance.Based on the observation of Paguyuban Turonggo Seto oglek art forms can be seen the differences between oglek arts with the another kuda kepang art genre. The elements that exist in the performing arts of oglek Turonggo Seto can also be used as a differentiator between Oglek Turonggo oglek Seto with other arts that live in the same village, because the elements that exist in the oglek Turonggo Seto performance form has its own characteristics. These characteristics are only presented in the form oglek Turonggo Seto art performance so that people can easily recognize oglek art form the Paguyuban Turonggo Seto itself.Key words: Oglek Turonggo Seto, Spesification
ANALISIS STRUKTURAL JARANAN SENTEREWE TURANGGA WIJAYA DI DUSUN SOROGENEN, KECAMATAN KALASAN, KABUPATEN SLEMAN, YOGYAKARTA
Struktur memandang suatu tari dari sisi bentuk atau teks. Berbicara tentang struktur selalu berhubungan dengan tata hubungan yang ada dalam sajian pertunjukan, diawali dari motif yang terbentuk sampai pada tataran gugus kalimat gerak dan bentuk tari secara utuh. Selain itu dari segi konteks dipengaruhi oleh struktur sosial masyarakat pendukung yang berkaitan dengan nilai-nilai dan gejala sosial budaya. Oleh sebab itu, dalam mendeskripsikan tari Jaranan Senterewe Turangga Wijaya harus dapat memilah unsur-unsur yang ada beserta penghubungnya agar menghasilkan struktur yang bermakna dan dapat ditemukan faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan kesenian ini.Bentuk gerak dalam tari Jaranan Senterewe Turangga Wijaya ini tegas, kuat, dan dinamis yang menggambarkan karakter pasukan berkuda. Kesenian ini memiliki beberapa bagian yang terstruktur diawali dengan bagian Introduksi, bagian Awal Tari yakni Sembahan dan Bumi Langit, bagian Tengah Tari yakni Jogedan, Dangdutan, dan Jogedan kedua, bagian Akhir Tari yakni Perangan, dan perang dengan barongan. Secara tekstual, kesenian ini ditinjau dari tata hubungan hirarki gramatikal yaitu hubungan dimana satuan tataran gramatikal yang dimulai dari tingkat motif, frase gerak, kalimat gerak, dan gugus kalimat gerak yang dihubungkan dalam hubungan sintagmatis. Dalam gugus kalimat gerak, bentuk tari ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Gangsaran, Lancaran, dan Ponoragan. Secara keseluruhan terdapat tiga hubungan sintagmatis, yaitu berupa penjajaran gerak, sebuah gerak yang saling mengkait, dan terdapat penghubung dari sebuah motif untuk menghubungkan ke dalam motif selanjutnya.Jaranan Senterewe Turangga Wijaya di Dusun Sorogenen menggambarkan keadaan sosial masyarakat yang merupakan wilayah di pinggir kota, yaitu antara kabupaten Sleman dan kabupaten Klaten. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberadaan kesenian ini, yaitu: 1) Segi masyarakat pendukung yang dipengaruhi oleh sistem kemasyarakatan, kekerabatan, religi, dan mata pencaharian; 2) Segi bentuk pertunjukan yang dipengaruhi oleh perubahan yang bertahap, akibat adaptasi yang selektif, dan upaya penghidupan kembali pada bentuk-bentuk lama; dan 3) Segi pencipta seni yang dipengaruhi hubungan sosial kemasyarakatan. Oleh karena faktor-faktor tersebut, maka kesenian Jaranan Senterewe Turangga Wijaya ini masih dapat hidup dan diakui sebagai kesenian tradisi milik masyarakat Dusun Sorogenen.Kata kunci : Struktur, Turangga Wijaya, Senterew
Jurnal penerapan struktur tiga babak dalam penyutradaraan program televisi video musik 8iliv “tak terusik” dan everlong “kecanduan”
Karya seni dengan judul Penerapan Struktur Tiga Babak dalam Program Televisi Video Musik 8iliv “Tak Terusik” dan Everlong “Kecanduan” bertujuan untuk menyampaikan pesan dalam makna lagu dengan penerapan struktur tiga babak.Objek Penciptaan karya seni ini adalah dua band dari Yogyakarta yang sudah cukup ternama yaitu 8iliv dengan judul lagu Tak terusik dan Everlong dengan judul lagu Kecanduan. Konsep estetik video musik adalah, lagu dalam sebuah band yang mempunyai makna, diterjemahkan dalam cerita secara verbal dan naratif, dengan penuturan cerita struktur tiga babak. Struktur tiga babak yang diterapkan dalam karya video musik ini karena dirasa sebuah lagu mempunyai makna, dan struktur dramatik untuk membangkitkan emosi pendengarnya, mempunyai kesamaan dengan dramatik sebuah cerita untuk membangkitkan emosi penonton.Kata kunci : Video musik, struktur tiga babak, penyutradaraan.The artwork entitled Application Structure in Three Rounds Program Television Video Music 8iliv "Tak Terusik" and Everlong "Kecanduan" aims to convey the message in the song meaning to the application of the three rounds.The creation of art objects are two bands of Yogyakarta which is quite famous with the song title is 8iliv Tak Terusik and the title of the song Everlong Kecanduan. The concept of the music video aesthetic is, songs in a band that had a meaning, verbally translated the story and narrative, with a three-act storytelling structure. Three-act structure adopted in the work of this music video because it feels a song has meaning, and dramatic structure to evoke emotion listeners, have in common with a dramatic story to stir audience emotions.Keywords: music video, the three rounds, directing
Eksplorasi Organ Vokal Dan Proses Latihan Beatbox Pada Komunitas Beatboxing Of Jogja (Bejo) Di Taman Budaya Yogyakarta
Beatbox adalah salah satu bentuk seni yang menggunakan organ vokal manusia untuk mengimitasi bunyi-bunyian ritmis dan ketukan drum, instrumen musik, maupun tiruan bunyi-bunyian lainnya. Organ vokal yang umumnya digunakan untuk berbicara atau berkomunikasi, kini dieksplorasi untuk mengimitasi berbagai bunyi perkusi dan suara efek. Salah satu komunitas yang mewadahi pecinta musik beatbox adalah komunitas Beatboxing of Jogja (BeJo). Para anggota BeJo mengadakan latihan bersama seminggu sekali dan saling bertukar pikiran tentang perkembangan seputar beatbox. Tujuan dari penelitian ini adalah: (1) untuk mengetahui eksplorasi organ vokal yang diterapkan pada teknik beatbox, (2) untuk mengetahui proses latihan beatbox yang dilakukan oleh BeJo, dan (3) untuk mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi selama proses latihan yang dilakukan oleh BeJo. Setelah melalui penelitian dengan menggunakan metode deskriptif analisis dengan memanfaatkan data kualitatif, beatbox memiliki keunikan dalam hal proses memproduksinya. Banyak teknik yang ditemukan dalam beatbox, tidak hanya bunyi-bunyi perkusi tetapi juga efek suara. Dalam proses latihannya, BeJo dibagi menjadi tiga kelas yang masing-masing kelas mempunyai standar penguasaan teknik tertentu. Latihan akan dipimpin oleh seorang kordinator dari tiap-tiap kelas untuk memberikan contoh dan anggota yang lain akan menirukannya satu per satu. Selama proses penelitian terdapat beberapa hambatan yang ditemukan selama proses latihan BeJo, misalnya kurangnya kedisiplinan anggota dalam berlatih. Tiap-tiap anggota sebaiknya mempunyai waktu latihan individu di luar jam latihan bersama, agar memperoleh hasil yang maksimal Kata kunci : beatbox, eksplorasi, beatboxing of Jogja (Bejo
8. Analisis makna transisi pada pemberitaan kejahatan makanan (studi kasus pemanfaatan teknik editing pada program berita “reportase investigasi” trans tv jakarta
Analisis Makna Transisi pada Pemberitaan Kejahatan Makanan (Studi Kasus Pemanfaatan Teknik Editing Pada Program Berita “Reportase Investigasi” Trans TV Jakarta) Televisi merupakan media massa eletronik yang dekat dengan masyarakat. Trans TV merupakan salah satu televisi swasta nasional yang selalumenghadirkan program-program unggulan. Salah satunya berita Reportase yang memberikan informasi-informasi aktual serta menyajikan informasi liputan investigasi yang diselipkan pada Reportase dengan nama program Reportase Investigasi.Penelitian ini menganalisis makna editing transition pada pemberitaan kejahatan makanan terhadap studi kasus pemanfaatan teknik editing pada program Reportase Investigasi. Jika dihubungkan teknik editing transition, makadidapatkan hasil bahwa berita Reportase Investigasi menggunakan transisi dissolve sebagai daya tarik emosional cerita kegelisahan. Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian gabungan antara metode kualitatif dan kuantitatif. Data yang dihasilkan kemudian dianalisis dengan metode ekspositoris dengan menguraikan satu-persatu jenis, fungsi, dan makna transisi pada program Reportase Investigasi.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa program berita ReportaseInvestigasi menggunakan transisi dissolve sabagai daya tarik emosional cerita kegelisahan.Kata kunci:Reportase Investigasi, Editing Transition, Kejahatan Makanan.
GAYA VISUAL POP ART PADA PROGRAM ACARA FEATURE “IT’S HIJAB” EPISODE FASHION HIJAB
Fashion adalah suatu istilah yang menggambarkan gaya berpakaian yang dianggap lazim pada satu periode waktu tertentu dalam suatu budaya. Hijab merupakan segala sesuatu yang menghalangi atau menutupi aurat perempuan dari pandangan mata. Seiring dengan perkembangan jaman kini perkembangan fashion di Indonesia semakin berkembang salah satunya adalah Fashion hijab. Seiring dengan perkembangannya kini para muslimah memiliki banyak referensi dalam berpenampilan sesuai dengan karakteristik dan kepribadian masing-masing. Banyak desainer-desainer muda yang berani menciptakan sesuatu yang baru di dunia fashion hijab. Program feature “It’s Hijab” telah melalui beberapa tahapan hingga dapat terselesaikan sesuai kaidah dan prosedur yang ada. Program feature ini akan di kemas dengan gaya visualisasi pop art. Karakter penting dalam gaya visual pop adalah penggunaan imaji-imaji populer, warna cerah, tipografi yang menonjol serta grafis yang ekspresif. Penggabungan konsep teknis editing kompilasi, animasi, desain grafis, disolve, editing cut, dan penambahan footage foto, video yang diperkuat oleh narasi untuk mendukung pemaparan informasi yang akan disampaikan. Kata kunci: feature, pop art, fashion, dan hijab
Ensambel Instrumen Tiup Yie Di Daiget Kabupaten Keerom Papua
Studi ini membahas ensambel Yie dari Daiget, Keerom, Jayapura, Papua, yang dimainkan khususnya oleh suku Dinimamoi dan Yatgubru. Metode yang digunakan dalam kajian ini ialah metode kualitatif dan analisis deskriptif melalui studi pustaka, wawancara, serta penelitian lapangan di wilayah Daiget. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap nada yang dihasilkan dari setiap instrumen pada ensambel Yie mengandung makna spiritual dan arti, serta makna yang begitu banyak bagi masyarakat Keerom Jayapura, Papua. Diantaranya dengan teknik dasar pernapasan diafragma yang baik serta ambasir yang matang, maka produksi nada tersebut dipadukan dengan ekspresi tempo lambat dan dimainkan dengan durasi panjang. Yie sangat layak dijadikan sebagai repertoar baru dimana dari aspek teknik serta teknisnya merupakan hal yang sangat menarik untuk diangkat. Itu terbukti dengan adanya keragaman bunyi yang harmonis dan menyatu dengan aspek budaya papua. Ensambel Yie dalam penerapanya kepada masyarakat Dinimamoi dan Yatgubru merupakan sebuah kemajuan yang mendasar dimana masyarakat dapat memahami yie lebih dalam dan menjadi harapan baru bagi mereka untuk mewariskan kepada anak cucu. Kata kunci : ensambel.yie,daige
Embus
“Embus” merupakan persembahan sebuah komposisi musik etnis yang didedikasikan kepada sosok Ibu. Ibu yang selalu mendo’akan anaknya dengan cara menghembuskan nafas ke kepala anaknya dengan penuh cinta kasih. Dari hembusanya tersebut penulis percaya bahwa hembusannya adalah nafas kehidupan bagi anaknya. Nafas mempunyai kekuatan yang dahsyat, karena tanpa ada nafas kehidupan akan berhenti pula. Di mulai dari nafas ketika bayi dalam kandungan Ibu melalui plasenta. Ketika itulah nafas lahir melalui nafas cinta dan kasih sayang seorang Ibu. Nafas Ibu lah yang menjadikan awal kehidupan bagi sang bayi, hingga apa yang penulis rasakan dari kecil hingga dewasa ini tidak pernah lepas dari nafas atau hembusan nafas Ibu. Salah satu fenomena tentang nafas kehidupan adalah hal pertama dan juga terakhir. Dalam berbagai bahasa, satu kata yang sama bisa memiliki dua arti; bisa berarti nafas atau bisa juga berarti spirit. Ini merupakan petunjuk yang menarik bahwa nafas sangat dekat atau bahkan sama dengan spirit atau rohani kita. Bahkan pola bernafas sangat menggambarkan kondisi batin dan hati kita. Dari hembusan nafas ibu dan penulis percaya bahwa hembusan itu adalah nafas kehidupan menjadikan tema dalam komposisi musik etnis ini. Penyajian “Embus” menggunakan instrumen tiup (suling bambu), diantaranya suling Sunda dan Suling Bali sebagai gagasan awal. Gagasan awal tersebut dimusikalisasikan dengan beberapa idiom yaitu Sunda, Jawa, Bali.Kata kunci : embus, nafas, ib
Kontinuitas Dan Perubahan Musik Suling Bambu Di As Manuela, Malaka Nusa Tenggara Timur
Seiring dengan perkembangan pendidikan yang ada di As Manulea kesenian yang awalnya berfungsi sebagai media pelengkap dalam mengisi kesendirian kemudian beralih sebagai seni pertunjukan. Musik suling bambu yang disajikan dalam kelompok ansambel kecil ini didukung oleh tiga jenis suling bambu sesuai dengan peranannya, yaitu suling lagu sopran, suling lagu alto, suling trompet dan suling bas dengan tambahan alat musik beritmis seperti tifa dan tamborin yang disesuaikan dengan kebutuhan aransemen atau komposisi lagu yang ada. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kontinuitas dan perubahan pada musik suling bambu di As Manulea. Hasil yang diperoleh yaitu telah terjadi kontinuitas dan perubahan khususnya pada alat musik suling bambu besar atau suling alto dengan ukuran dua kali lebih besar dari pada suling kecil atau suling lagu. Suling besar atau suling alto ini tidak dibuat lagi akibat kurangnya minat orang dewasa terhadap musik suling bambu ini meskipun masih kontinu dengan perubahan yang ada melalui elemen-elemen musik serta peranannnya terhadap masyarakat As Manulea itu sendiri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan musikologis dalam perspektif historis. Pendekatan musikologis dalam perspektif historis yang dimaksud bertujuan untuk menggali asal-usul keberadaan musik suling bambu di As Manulea. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan musik suling bambu sangat dibutuhkan untuk memberi hiburan pada masyarakat luas, tempat para seniman berekspresi, melestarikan kesenian daerah serta untuk menunjang sektor pariwisata Kata kunci : kontinuitas dan perubahan, musik suling bamb