KARYA DOSEN Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    77 research outputs found

    LINGUISTIC RELATIVITY REVISITED AND RENEWED

    No full text
    During the first half of the 20th century, linguistic relativity—not an explicit term but a common assumption in language research—prevailed well in American linguistics.  It was the main characteristic of Boas’s works on American-Indian languages, Sapir’s writings on language and culture, and even Bloomfield’s “scientific linguistics.”  It is easy to understand relativism in the Boasian and Sapirean traditions, since Boas and Sapir were both linguist anthropologists.  Their expertise in anthropology, or their deep concern with local cultures, no doubt gave strong influence on their linguistic research.[1]  Bloomfield, as best exposed by his Language (1933), was different.  When he claimed that linguistics was a “scientific” discipline, he referred to “natural sciences,” not in terms of content but in terms of methodology.  Bloomfield’s methodology was rigorous: the approach must be inductive, the object must be observable (language is primarily speech), and the generalizations must be empirically verifiable.  The end-results of Bloomfieldian research were meticulous, detailed descriptions of individual languages.  One important generalization was that “languages are different.”  Relativism is indeed the hallmark of pre-Chomskyan linguistics. [1]  More on Boas and Sapir will be presented in section 2 of this paper

    Resensi Buku (6) Beyond the Sentence: Introducing discourse analysis

    No full text
    Resensi Buku (6) Judul                : Beyond the Sentence: Introducing discourse analysis Pengarang        : Scott Thornbury Tahun               : 2005 (sampul tipis) Penerbit            : Oxford University Press Halaman           : ix, 356 halaman ISBN               : 1-4050-6407-

    Hipotesis dan Asumsi dalam Penelitian

    No full text
    Pembahasan tentang hipotesis dan asumsi penelitian ini disajikan dalam bentuk tanya jawab. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam pembahasan ini berdasarkan pengalaman penulis yang sering menerima pertanyaan mahasiswa dan sering melihat praktek yang salah. Pertanyaan tersebut meliputi pengertian hipotesis dan macam hipotesis, perumusan hipotesis, perbedaan asumsi dan hipotesis, penyajian hipotesis teoritis dan hipotesis null dalam thesis atau laporan penelitian, hubungan antara hipotesis teoritis dan hipotesis statistik, dan jumlah hipotesis alternatif

    Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian Pendidikan (Bahasa)

    No full text
    Pembahasan tentang rumusan masalah dan tujuan penelitian ini disajikan dalam bentuk tanya jawab, yaitu dimulai dengan pertanyaan yang diikuti jawaban dan diakhiri beberapa contoh.  Pertanyaan-pertanyaan meliputi pegertian rumusan masalah, perbedaan pertanyaan wartawan ketika melaksanakan tugas kewartawanannya dengan pertanyaan peneliti ketika melaksanakan tugas penelitianya, perbedaan pertanyaan guru ketika melaksanakan tugas mengajar dengan pertanyaan peneliti ketika melaksanakan tugas penelitianya, isi dari jawaban terhadap pertanyaan penelitian, alasan masalah penelitian harus dirumuskan dengan jelas, ciri rumusan masalah penelitian yang baik, kejelasan hipotesis yang dapat ditarik dari rumusan masalah penelitian, dan cara merumuskan tujuan penelitian

    BERKENALAN DENGAN ETNOPUITIKA

    No full text
    Abstract: This paper presents ethnopoetics from the linguistic perspective by making the best use of structural approach.  Ethnopoetics is essentially the study of poetic or verbal art performance; it tries to understand the nature and structure of poetic performance as situated in its local context.  Toward this end, ethnopoetics relies heavily on Jakobson’s linguistic poetics on the one hand and on literary poetics on the other, while using local knowledge to shed light on a given poetic performance to reveal its literary as well as its ritual significance.  To show the working mechanism of ethnopoetics, the paper looks critically at Hymes’s and Tedlock’s models, unraveling their respective strengths and weaknesses.  As a theoretical framework for investigating verbal art performance, ethnopoetics—as introduced in this paper—should help enrich the research in oral tradition in Indonesia. Key words: ethnopoetics, linguistic poetics, local knowledge, Hymes’s model, Tedlock’s model, oral tradition

    Collecting Research Data on Students Writing Skills

    No full text
    Data on students writing skills can be obtained from professional writing teachers who keep good records of students writing progress through authentic writing assessment as well as through formal summative evaluation, or directly from students through the process of writing assessment.  Students writing skills can be assessed indirectly by giving them an objective test to measure the students skill and knowledge of the components of writing. From the scores of the mastery of the writing components, then the students writing skill is predicted. Direct measurement of students writing skills requires the prompt and the scoring scale to be prepared. The prompt which may provide students with one topic or more than one alternative topics for students to write about, must be stated very clearly so that the students are sure of what they have to write. A scoring scale can be developed using holistic, analytic, or primary-trait scoring technique. In holistic scoring, the quality of  each text is graded with one score based the general quality of the text, while in analytic scoring, the quality of each text is graded with a profile of several scores each representing the quality of different components. Primary-trait scoring is in between the holistic and analytic scoring techniques. A long writing scale of many points can differentiate quality levels of students texts but it is difficult to develop the scale and difficult to score the texts. A short scale of few points, on the other hand, is easy to develop and it is easy to score the texts, but it cannot separate different levels among good texts or among poor texts. Good data on students writing skills have to be supported with evidence of construct validity, content validity, empirical validity evidence, as well as good estimate of reliability   Key Words: writing assessment, validity, reliability, error of assessment, correctness, preciseness, holistic, analytic, primary-trait scorin

    Penelitian Tindakan Kelas

    No full text
    oai:ojs.karya-ilmiah.um.ac.id:article/2215Penelitian Tindakan Kelas Pembelajaran Bahasa (Inggris) oleh Mohammad Adnan Latief     Pembahasan tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini disajikan dalam bentuk tanya jawab. Pertanyaan yang dijawab dalam pembahasan ini meliputi tujuan PTK, perumusan masalah PTK, proses PTK, criteria of success, penggunaan kelompok yang sama untuk pelaksanan siklus kedua, ketiga dst, penggunaan kata kerja Bahasa Inggris dalam melaporkan Planning (pada bab 3: Metode Penelitian), isi dalam tahap implementing, ukuran keberhasilan satu siklus pada PTK,  penggunaan perbedaan pre-test dan post-test sebagai ukuran keberhasilan PTK, data yang dikumpulkan pada tahap Observing, isi pada Bab 4 pada tesis yang berjudul Findings (Hasil) and Discussion, cara penulisan kesimpulan pada laporan penelitian atau tesis PTK, produk PTK, rancangan Kuantitatif atau Kualitatif, dan penyajian pembahasan tentang data, instrumen pengumpulan data, pengumpulan data, dan analisis data.   1.  Apa Tujuan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)? Penelitian tindakan kelas adalah satu rancangan penelitian yang dirancang khusus untuk peningakatan kualitas praktek pembelajaran di kelas.  Peneliti dalam PTK adalah guru yang ingin meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya. Dengan demikian guru yang melakukan penelitian tindakan kelas berperan ganda, yaitu sebagai guru dan sebagai peneliti (teacher-researcher). Sebagai guru dia harus menyelesaikan masalah pembelajaran (dengan demikian dia meningkatkan kualitas praktek pembelajaran) di kelasnya, sedangkan sebagai peneliti dia harus menghasilkan karya ilmiah yang berupa strategi pembelajaran inofatif yang bisa dimanfaatkan oleh guru-guru lain yang memiliki masalah yang serupa. Tahun 1976, John Elliot (1991) membangun jaringan peneliti tindakan kelas bagi guru-guru di Inggris dan negara-negara lain untuk bersama-sama membagi pengalaman penelitian tindakan di dikelasnya melalui korespondensi atau pertemuan. The classroom Action Research Network was established in 1976 to enable individuals and groups committed to action research in the UK and other countries to communicate with each other and share experience through correspondence, papers documenting the experience of action research and conferences. (Elliot, 1991:39).   Dengan demikian penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh teacher-researcher  berfungsi ganda, yaitu meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya (as a teacher) dan berbagi pengalaman keberhasilannya dalam memecahkan masalah tersebut (as a researher) melalui karya ilmiah inofatif pembelajaran. Dengan berbagi pengalaman melalui jaringan PTK itulah kulitas pembelajaran di satu daerah bisa bersama-sama meningkat.   2. Bagaimana merumuskan masalah PTK? Rumusan masalah adalah pernyataan tujuan penelitian yang lebih operasional (biasanya) dalam bentuk kalimat tanya. Karena tujuan PTK meliputi dua hal (a) penyelesaian masalah pembelajaran di kelas dan (2) strategi pembelajaran yang akan dikembangkan sebagai karya ilmiah inofatif untuk disebarluaskan kepada khalayak guru, rumusan masalah penelitian tindakan kelas harus mengakomodasi ke dua aspek tersebut.  Beberapa ahli menyatakan bahwa rumusan masalah PTK harus menonjolkan (topicalization) aspek penyelesaian masalahnya, sementara yang lain harus menonjolkan aspek pengembangan strateginya.  Kelompok pertama yang lebih mengedepankan pemecahan masalah pembelajaran dalam rumusan masalah penelitiannya tidak melihat PTK sebagai penelitian yang mengembangkan sebuah strategi pembelajaran, sehingga tidak setuju mengedepankan pengembangan strategi pembelajaran. Bagi kelompok ini yang utama adalah menyelesaikan masalah. Kelemahan pemahaman ini adalah kemungkinan diabaikannya produk penelitian yang berupa karya ilmiah inofatif strategi pembelajaran yang bisa disebarluaskan ke khalayak guru bidang studi yang sama. Beberapa kali pengalaman penulis menemukan laporan PTK (di seminar nasional maupun dalam banyak tesis S2) yang tidak disertai produk strategi pembelajaran inofatif yang telah dikembangkan, sehingga peserta seminar dan pembaca laporan PTKnya tidak bisa menggunakan pengalaman keberhasilan peneliti tersebut. Sementara kelompok yang mengedepankan pengembangan strategi pembelajaran inofatif beranggapan bahwa PTK dilatar belakangi oleh masalah pembelajaran yang ingin dipecahkan atau oleh tujuan untuk meningkatkan kualitas praktek pembelajaran dikelasnya. Dengan kata lain, penyelesaian masalah atau peningkatan kualitas pembelajaran ditempatkan sebagai dasar/alasan untuk melakukan PTK yang akan menghasilkan sebuah strategi pembelajaran inofatif. Karena ukuran (criteria of success) kualitas strategi pembelajaran yang dikembangkan (dengan tahapan dirumuskan, dicobakan, dievaluasi, kemudian direvisi untuk dicoba lagi pada siklus berikutnya) adalah penyelesaian masalah atau peningkatan kualitas pembelajaran yang telah ditargetkan, maka kelompok ini melihat bahwa yang diutamakan dalam PTK adalah produk strategi pembelajaran inofatifnya dengan tanpa mengabaikan pemecahan masalah atau peningkatan kualitas pembelajarannya. Contoh rumusan masalah PTK yang mengedepankan pemecahan masalah §      How can the skill of writing recount texts of the second year students of SMP Negeri 3 Nganjuk in 2007/2008 academic year be improved through the implementation of interactive experience? (Sumidi, 2008:6) §      How can reading comprehension instruction be improved using the Reciprocal Teaching Strategy?(Iyan Hayani, 208:5) §      Bagaimana meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran speaking melalui strategi pembelajaran dengan Picture Games?   Contoh rumusan masalah PTK yang mengedepankan produk strategi pembelajaran inofatif Bagaimana mengembangkan strategi pembelajaran dengan Picture Games yang bisa meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran speaking?How can the Reciprocal Teaching Strategy be developed to improve the quality of reading comprehension instruction?   3. Bagaimana merumuskan tujuan PTK? Sebagaimana perumusan masalah PTK, perumusan tujuan PTK yang benar tentunya juga harus menagandung dua unsur tersebut, yaitu masalah yang akan dipecahkan dan strategi yang akan dikembangkan untuk memecahkan masalah tersebut. Apapaun rumusannya asal isinya meliputi dua unsur tersebut bisa dianggap benar, atau apapun rumusan tujuannya, bila tidak lengkap berisi dua unsur tersebut, rumusan tujuan PTK tersebut salah. Contoh rumusan tujuan PTK yang mengedepankan pemecahan masalah §      This study aims at improving the skill of writing recount texts of the second year students of SMP Negeri 3 Nganjuk in 2007/2008 academic year through the implementation of interactive experience? (Sumidi, 2008:6) §     The purpose of this study is to improve the quality of reading comprehension instruction using the Reciprocal Teaching Strategy (Iyan Hayani, 208:5) §      Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran speaking melalui strategi pembelajaran dengan Picture Games   Contoh rumusan masalah PTK yang mengedepankan produk strategi pembelajaran inofatif Tujuan penelitian ini adalah  mengembangkan strategi pembelajaran dengan Picture Games yang bisa meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran speaking.This study aims at developing the Reciprocal Teaching Strategy to improve the quality of reading comprehensiuon instruction   4. Berapa jumlah pertanyaan PTK? Masalah PTK yang benar harus berisi dua aspek, yaitu penyelesaian masalah (misalnya meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran speaking) dan strategi yang dikembangkan (misalnya strategi penggunaan Picture Games) untuk memecahkan masalah tersebut. Selama dua aspek tersebut terkandung dalam sebuah rumusan masalah PTK, maka rumusan masalah tersebut sudah benar. Penambahan beberapa sub-masalah untuk merinci rumusan masalah (utama) bisa saja dilakukan selama tidak mengurangi kejelasan makna dari rumusan masalah (utama) nya, misalnya tetap hanya akan menghasilkan satu strategi dalam satu PTK. Rumusan masalah yang bisa dirinci menjadi beberapa sub-masalah adalah rumusan masalah yang mengembangkan satu strategi pembelajaran inofatif yang bisa dibagi menjadi beberapa tahapan kegiatan pembelajaran, misalnya tahapan pembelajaran dalam writing, bisa dirinci menjadi 5 tahapan pembelajaran, yaitu (1) tahapan pembelajaran activating schemata, (2) tahapan pembelajaran brainstorming, (3) tahapan pembelajaran drafting, (4) tahapan pembelajaran editing, dan (5) tahapan pembelajaran publishing.  Kelima strategi tersebut membentuk satu strategi yang terkait bukan membentuk 5 strategi yang berbeda dan terpisah. Menjadi kurang jelas apabila satu rumusan masalah dirinci berdasar kriteria keberhasilan PTK, karena akan memberikan kesan seakan-akan yang dikembangkan lebih dari satu strategi pembelajaran. Misalnya strategi (tertentu) yang dikembangkan untuk meningkatkan kualitas writing siswa, dirinci menjadi beberapa sub-strategi, yaitu (1) strategi untuk meningkatkan kualitas penggunaan tata bahasa, (2) strategi untuk meningkatkan kekayaan kosa kata, (3) strategi untuk meningkatkan kualitas koherensi, (4) strategi untuk meningkatkan kualitas organisasi karangan, (5) strategi untuk meningkatkan kualitas isi karangan, dsb. Ke lima hal tersebut menjadi indikator keberhasilan satu strategi utama, bukan sub-bagian atau tahapan kegiatan pembelajaran dengan strtaegi (utama) tersebut.   5. Bagaimana proses PTK? Proses PTK dimulai dengan identifikasi masalah pembelajaran yang ditemui di kelas oleh guru yang akan melakukan PTK. Tidak ada guru yang tidak memiliki masalah pembelajaran di kelasnya. Yang dimaksud masalah pembelajaran.adalah situasi pembelajaran dan atau hasil pembelajaran yang masih bisa ditingkatkan. Guru professional selalu mencari cara untuk melaksanakan praktek pembelajaran yang lebih baik dari yang sudah diusahakan. Sebaliknya guru yang tidak profesional merasa tidak perlu lagi mengupayakan peningkatan kualitas pembelajarannya karena dia merasa masih banyak praktek pembelajaran oleh guru lain yang belum sebaik yang dia laksanakan. Guru yang tidak professional semacam ini tidak pernah merasa ada masalah dalam praktek pembelajaran yang dia laksanakan.  Sebaliknya guru yang  professional selalu melihat banyak masalah yang bisa diselesaikan untuk meningkatkan kualitas praktek pembalajaran. Tentunya tidak semua masalah akan diselesaikan sekaligus, beberapa masalah saja yang dipilih sebagai prioritas untuk diselesaikan lebih dulu. Masalah inilah yang diangkat sebagai dasar melaksanakan PTK.   Tahap berikutnya adalah mencari alternatif strategi pembelajaran yang paling cocok untuk mengatasi masalah yang telah dipilih melalui kajian sumber pustaka atau diskusi dengan sejawat.  Peneliti harus bisa menjelaskan bahwa strategi yang dipilih bisa menyelesaikan masalah yang akan dipecahkan.  Ukuran terselesaikannya masalah melalui strategi yang dipilih itu nantinya akan digunakan sebagai criteria of success, yang menentukan apakah strategi tersebut masih harus dimodifikasi lagi atau dianggap sudah baik.  Strategi tersebut kemudian harus dirumuskan dalam skenario pembelajaran yang berisi langkah-langkah pembelajaran, dilengkapi dengan bahan ajar dan media pembelajaran yang relevan. Penyiapan strategi ini disebut dengan tahap perencanaan (tahap pertama). Tahap kedua adalah mengimplemantasikan skenario pembelajaran yang telah disiapkan. Sebelum melaksanakan pembelajaran, peneliti harus berlatih menguasai skenario pembelajaran yang telah disiapkan sehingga pada saat implementasi, kegiatan pembelajaran sudah bisa diamati untuk melihat tingkat keberhasilannya. Apabila ternyata dalam pelaksanaan pembelajaran, skenario pembelajaran yang telah disiapkan tidak diikuti dengan baik, maka pembelajaran tersebut belum bisa diamati untuk dievaluasi tingkat keberhasilanya. Tahap ketiga adalah pengamatan. Pada tahap ini kegiatan pembelajaran seperti yang telah direncanakan sebelumnya diamati untuk dilihat tingkat keberhasilannya. Tujuan pengamatan adalah untuk mengumpulkan data yang menjadi indikator dampak dari implementasi strategi yang telah direncanakan, untuk menentukan seberapa jauh strategi yang diimplementasikan telah mampu menyelesaikan masalah seperti yang telah ditentukan dalam criteria of success.  Data yang dikumpulkan pada tahap ini bukan yang terkait dengan indikator kesesuaian antara skenario pembelajaran dengan pelaksanaan pembelajaran, karena kesesuaian ini sudah harus dijamin tidak berbeda. Sekali lagi kalau masih ada perbedaan, maka pelaksanaan pembelajaran belum bisa diamati, karena pengamatan hanya untuk melihat dampak dari strategi pembelajaran yang telah sesuai dengan skenarionya. Checklist untuk kegiatan guru dan siswa, seperti yang banyak dilakukan oleh mahasiswa yang sedang melakukan PTK untuk kepentingan tesisnya, tidak dipakai untuk mengamati keberhasilan strategi pembelajaran, tetapi dipakai pada saat latihan sebelum memulai implementasi yang sesungguhnya. Tahap keempat adalah refleksi. Pada tahap ini, data yang telah terkumpul pada tahap pengamatan dianalisis, untuk disimpulkan, kemudian dibandingkan dengan criteria of success. Apabila hasil analisis menunjukkan bahwa target criteria of success telah tercapai, maka strategi tersebut telah terbukti mampu menyelesaikan masalah yang sedang dipecahkan.  Penelitian dilanjutkan dengan melaporkan hasil penelitian yang berupa tesis atau artikel ilmiah dan menuliskan secara lebih detail (sebagai panduan) bagi orang lain bagaimana mengimplementasikan strategi tersebut di tempat lain yang memiliki masalah yang sama.  Tetapi apabila target belum tercapai, peneliti harus mempelajari kembali strategi tersebut, untuk menentukan bagaian mana dari strategi tersebut yang harus dimodifikasi, untuk diimplementasikan pada siklus berikutnya.   6. Apa saja yang bisa dijadikan criteria of success?   Kriteria keberhasilan dikembangkan dari masalah pembelajaran yang akan dipecahkan atau tujuan peningkatan kualitas pembelajaran yang ingin dicapai. Dalam pembelajaran banyak aspek menjadi ukuran keberhasilan. Kegiatan pembelajaran yang tidak menghasilkan tingkat prestasi akademik seperti yang diinginkan pada peserta didik memiliki masalah pembelajaran yang perlu dipecahkan. Kegiatan pembelajaran yang tidak berdampak pada tumbuhnya motivasi peserta didik untuk memiliki self-regulated learning, atau kegiatan belajar mandiri memiliki masalah pembelajaran yang perlu dipecahkan. Kegiatan pembelajaran yang berlangsung dalam suasana yang tidak menyenangkan, yang menakutkan, yang menimbulkan stress bagi peserta didik ataupun bagi gurunya, yang menyebabkan peserta didik kehilangan kepercayaan akan kemampuan dirinya untuk menguasai ketrampilan yang sedang dipelajari, yang mematikan kemampuan sosial siswa (seperti kerjasama, kepedulian) adalah kegiatan pembelajaran yang memiliki masalah yang perlu dipecahkan. Indikator terpecahkannya masalah-masalah tersebut bisa berupa data kuantitatif (seperti skor hasil tes yang menggambarkan prestasi akademik, frekwensi bertanya yang menggambarkan keaktifan dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, dsb), dan atau data kualitatif (seperti gambaran suasana kelas, gambaran suasana batin peserta didik maupun guru yang bersangkutan). Data kuantitatif sangat objektif, terukur dengan pasti dan bisa dianalisis secara statitik. Sementara data kualitatif sangat subjektif berupa gambaran suasana kelas, kecintaan peserta didik pada bidang yang sedang dipelajarai, dsb. Strategi pembelajaran yang dihasilkan melalui PTK akan memiliki banyak kelebihan yang menarik bagi banyak guru lain untuk ikut menggunakannya dalam kelas mereka apabila telah terbukti mampu mencapai target criteria of success baik yang berupa prestasi akademik maupun atmosfir akademik yang menunjang.       7.  Apa yang dimaksud satu siklus?   Satu siklus adalah satu putaran dalam PTK yang di dalamnya melipti tahapan kegiatan perencanaan strategi pembelajaran, tahapan pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan strategi yang telah disiapkan, yang diamati tingkat keberhasilannya, dan dievaluasi apakah tingkat keberhasilan sudah mencapai yang ditargetkan. Pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan strategi yang telah direncanakan bisa terdiri dari satu atau beberapa pertemuan yang merupakan kelanjutan dalam satu unit strategi yang telah direncanakan. Misalnya, pertemuan pertama untuk tahapan pembelajaran menulis berupa pembangkitan skemata siswa (schemata activation) dilanjutkan dengan drafting awal, pertemuan kedua adalah tahapan peer editing dan revising, dan pertemuan ketiga melanjutkan tahapan publishing. Dalam contoh ini tiga pertemuan dilaksanakan dalam satu siklus. Apabila satu pertemuan sudah melaksanakan pembelajaran secara utuh, misalnya pembelajaran speaking satu jam pertemuan dengan Picture Games, maka pertemuan satu jam berikutnya dengan picture games lagi merupakan siklus lanjutan. Dalam contoh ini setiap jam pertemuan speaking melibatkan proses perencanaan strategi Picture Games, pelaksanaan pembelajaran dengan Picture Games yang telah direncanakan, yang diamati, dan kemudian dievaluasi keberhasilannya. Pada pertemuan berikutnya, strategi pembelajaran Pictue games tersebut telah dimodifikasi, untuk kemudian dilaksanakan, diamati, dan dievaluasi lagi tingkat keberhasilannya.   8.  Bolehkah menggunakan kelompok yang sama untuk pelaksanan siklus kedua, ketiga dst.?   Hal yang perlu dijaga dalam pelaksanaan siklus berikutnya adalah tidak terjadinya pengulangan pembelajaran pada kelas yang sama dengan topik pembelajaran yang sama karena apabila ini terjadi, keberhasilan pembelajaran bukan indikator dari keberhasilan pemakaian strategi tersebut tetapi karena pengulangan pembelajaran. Pengulangan pembelajaran di satu kelas seharusnya menggunakan metode lain yang bertujuan untuk pengayaan atau remedy. Sebaiknya siklus lanjutan dilakukan pada kelompok lain yang memulai pembelajaran dari awal bukan mengulang pelajaran sebelumnya. Kelas yang sama bisa saja menjadi tempat pelaksanaan siklus berikutnya (tentunya untuk topik pembelajaran yang beda) apabila strategi yang sedang dikembangkan cocok untuk berbagai topik pembelajaran.   9. Apakah Planning (pada bab 3: Metode Penelitian) dalam tesis berisi laporan kegiatan yang telah dilaksanakan sehingga mengunakan past tense verbs atau berisi strategi yang akan dikembangkan?   Planning pada bab 3 berisi strategi yang akan dikembangkan, akan direvisi, ditambah, dikurangi, dsb. bukan laporan yang telah dilaksanakan, jadi tidak menggunakan past-tense verbs. Dalam penelitian jenis lain, Bab3 tentang metode penelitian berisi laporan proses kegiatan penelitian, seperti design penelitian yang telah digunakan, proses pemilihan sample yang telah dilaksanakan, instrumen pengumpulan data yang telah dikembangkan dan digunakan, pengumpulan data dan analisis data yang telah dilaksanakan dalam penelitian tersebut, sehingga kata kerja Bahasa Inggris yang digunakan harus berbentuk past tense. Tapi Penelitian tindakan kelas berbeda. Strategi di Bab 3  adalah yang akan dikembangkan. Memang seluruh tesis adalah laporan penelitian, tetapi dalam laporan penelitian ada bagian-bagiannya, ada bagian perencanaan pada Bab 1, ada bagian kajian teori pada bab 2, ada bagian metode penelitian pada bab 3, ada bagian hasil penelitian pada bab 4, dsb. yang tidak semuanya merupakan laporan kegiatan yang harus menggunakan past tense verbs.   10. Apa yang disebutkan dalam tahap implementing?   Pada tahap implementing, peneliti cukup melaporkan cara kerja dalam mengimplementasikan  strategi yang telah disiapkan, tidak perlu menceritakan lagi tahapan-tahapan pembelajarannya. Semua tahapan (skenario) pembelajaran harus sudah dideskripsikan secara detail pada tahap planning dan tidak perlu lagi diulang pada tahap implementing. Seringkali mahasiswa penulis tesis berdasar PTK mengisi planning dengan rencana yang akan dilakukan, termasuk rencana akan menyusun skenario pembelajaran, sedangkan deskripsi skenario pembelajarannya diuraikan secara detail di bagian implementing. Dengan cara ini strategi yang menjadi sentral pembahasan dalam PTK berada di dalam implementing, bukan di bagian planning. Ini bertentangan dengan alur prosedur PTK, yaitu apabila satu siklus belum mencapai prestasi yang ditargetkan, maka langkah berikutnya adalah memperbaiki planning (yang berisi skenario pembelajaran) bukan memperbaiki implementing. Kalau skenarionya berada dalam bagian implementing, berarti skenarionya tidak diperbaiki. Atau dengan kata lain kalau planning (yang berisi rencana akan menyusun skenario pembelajaran) itu yang diperbaiki, berarti rencana akan menyusun skenario itulah yang akan dirubah. Ini salah, karena yang direvisi adalah strateginya. Dalam tahap implementing cukup dideskripsikan secara sekilas bahwa semua kegiatan yang dilakukan pada tahap ini berdasarkan strategi yang telah disiapkan, perlu dijelaskan siapa pelaksana pembelajarannya, biasanya peneliti sendiri, siapa observernya, bagaimana training yang telah dilakukan untuk menjamin bahwa strategi itu betul-betul telah dikuasai oleh implementer dan siap diamati tingkat keberhasilannya. Tidak lagi ada pertanyaan apakah implementernya sudah menguasai strateginya atau belum. Tidak relevan lagi pertanyaan Seberapa jauh strategi yang telah disiapkan telah diikuti dalam proses implementasi karena semua ini sudah harus dikuasai, dilatihkan sebelum penelitian dimulai. Kalau dalam perjalanan ternyata implementasi belum sesuai dengan strategi yang telah disiapkan, maka pengamatan terhadap dampak keberhasilan belum bisa dilakukan. Penelitian harus diulang kembali dari awal.   11. Apa ukuran keberhasilan sebuah siklus pada PTK?   Sebuah siklus dalam PTK dikatakan sudah berhasil atau belum berhasil diukur dari pencapaian target yang telah ditentukan, yang berupa kriteria keberhasilan

    PUITIKA LINGUISTIK PASCA-JAKOBSON: TANTANGAN MENJARING MAKNA SIMBOLIK

    No full text
    Berbicara tentang “puitika linguistik pasca-Jakobson” mungkin terdengar seperti oxymoron—seperti berbicara tentang “strukturalisme pasca-Saussure” atau “gramatika generatif pasca-Chomsky”.  Puitika Jakobson telah menjelaskan hampir semua yang perlu dijelaskan.  Yang tak boleh dilupakan: puitika, tema sentral dari karya klasik Jakobson “Linguistics and Poetics” (1960), muncul dari pandangannya yang bersifat struktural-fungsional terhadap bahasa.  Ada enam fungsi bahasa yang terkait dengan “enam komponen komunikasi yang telah dibekukan”, yang masing-masing memiliki fokus yang berbeda.  (1) Fungsi referensial (misalnya, Harga BBM naik terus) berfokus pada isi tuturan atau makna denotatif.  (2) Fungsi emotif/ekspresif (misalnya, Wah, hebat!) berfokus pada sikap atau perasaan penutur terhadap isi tuturannya. (3) Fungsi konatif (misalnya, Masuklah, Yan) berfokus pada mitra tutur dan lazimnya muncul sebagai kalimat perintah.  (4) Fungsi fatis (misalnya, Ya, ya) berfokus pada upaya memelihara keberlangsungan komunikasi antara penutur dan mitra tutur.  (5) Fungsi metalingual (misalnya, “Terbantun” itu apa artinya?) berfokus pada penggunaan bahasa untuk membicarakan bahasa.  Yang terakhir, (6) fungsi puitis, berfokus pada bahasa itu sendiri, atau menonjolkan bentuk bahasa demi dampak estetis.  Fungsi puitis ini adalah pokok bahasan dari bagian kedua makalah ini

    FROM ANNE BRADSTREET TO W. H. AUDEN: AMERICAN POETS THROUGH THE CENTURIES

    No full text
    Abstract: Taking at the outset the recently published anthology 101 Great American Poems, this article takes a close look at the thirty-nine American poets who established literary prominence through the period of three and a half centuries.  For analytical purposes, these poets are classified into several different categories: major and minor poets, romantic and realist poets, and women poets. Further investigation is conducted to find out the salient literary features pertaining to each of these categories.  Finally, it is equally important to see how these poets “worked together” in shaping the so-called American poetry. Key words: American poets, major and minor poets, romantic and realist poets, women poets, American poetry

    Resensi Buku (5) Syntax: A Generative Introduction

    No full text
    Resensi Buku (5) Judul                : Syntax: A Generative Introduction Pengarang        : Andrew Carnie Tahun               : 2002 (sampul tebal) Penerbit            : Blackwell Publishers Halaman           : xii, 390 ISBN               : 0-631-22543-

    3

    full texts

    77

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    KARYA DOSEN Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇