KARYA DOSEN Fakultas Sastra UM
Not a member yet
    77 research outputs found

    Research Problems and Objectives In Language Learning

    No full text
    Research problems refer to questions raised to be answered through research projects. Research questions are different from questions raised by journalists, by classroom teachers, or by a book reader. Research questions involving one research design is stated differently from those involving another different research design. Good research questions are stated clearly, involving clear assessable and accessible variables, showing clear relationship of the variables to be investigated. Most of all, the answer to the questions has to give some theoretical as well as practical contribution. Research questions can be found primarily from the recommendation of the last part of research reports.   Key terms: research problem, descriptive, evaluative, experimental, ex-post facto, co-relational, developmental, action research

    HIPOTESIS SAPIR-WHORF DAN UNGKAP-VERBAL KEAGAMAAN

    No full text
    Abstract.  The moderate version of the Sapir-Whorf Hypothesis states that the way we perceive reality is partly determined by the language we speak.  This implies that a native language has strong influence on the thought patterns of its individual speakers; and hence the collective thought patterns of the speech community contribute to the formation of culture-specific way of thinking.  This means that linguistic relativity boils down into cultural relativity.  Theoretically, this view is only half-way true, for the opposite hypothesis is equally acceptable: cultural relativity leads to linguistic relativity.  In other words, linguistic relativity and cultural relativity are related to each other not in a uni-directional manner but in a mutually influential way.  At the surface level and by way of illustration, the mutual relationship between linguistic relativity and cultural relativity shows up explicitly in the different ways of how Indonesians and Americans “verbalize” their mundane and more specifically their religious experience, as can be seen—referring to the latter—in their different poetic genres pertaining to the realm of divinity. Key words: Sapir-Whort hypothesis, linguistic relativity, cultural relativity, Indonesian and American poetry, divine poems

    DARI ETNOPUITIKA KE LINGUISTIK: MENAMPILKAN POTRET LAIN BAHASA JAWA

    No full text
    Selama empat dasawarsa terakhir, bahasa Jawa dengan keunikan tingkat tuturnya telah dibahas secara rinci oleh para ahli bahasa, terutama oleh ahli sosiolinguistik dan linguistik antropologi.  Istilah lokal untuk tiga tingkat tutur bahasa Jawa adalah ngoko (tingkat rendah), madya (tingkat menengah), dan krama (tingkat tinggi).  Sebagian penutur bahasa Jawa berpendapat bahwa bentuk madya pada hakekatnya adalah bentuk krama yang rusak sehingga terdengar kurang santun (Errington 1985: 44, 112); tetapi kenyataannya sampai saat ini bentuk madya tetap lazim digunakan di antara wong cilik (orang kecil) atau oleh priyayi terhadap wong cilik. Dalam membicarakan tingkat tutur bahasa Jawa, Poedjosoedarmo et al. (1979: 12) bukan saja menunjukkan gerak vertikal yang lentur dari ngoko ke krama, melainkan juga membuat daftar kata bagi ketiga tingkat tutur tersebut.  “Gerak lentur” di sini berarti: semakin banyak kata krama yang muncul dalam sebuah kalimat, semakin santun kalimat itu terdengar bagi mitra tutur.  Bagi ahli bahasa, adanya daftar kata yang memiliki tingkat tutur tersebut sangat berguna, terutama dari segi jumlahnya.  Dalam daftar kata oleh Poedjosoedarmo et al. (1979: 66-121) maupun dalam catatan Uhlenbeck (1959 [1987]: 297), jumlah kata yang memiliki tingkat tutur yang berbeda berkisar antara 850 dan 900 kata; sedangkan jumlah kata (dictionary entries) dalam bahasa Jawa diperkirakan sekitar 100.000 kata.  Jadi jumlah kata yang menentukan perbedaan tingkat tutur tak lebih dari 1%.  Namun bentuk ngoko dan krama terdengar sangat berbeda, karena kosakata tersebut adalah kosakata yang sangat sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, misalnya pronomina, kata tugas, nama-nama anggota tubuh, verba serta adjektiva untuk memerikan peristiwa sehari-hari, dan sebagian besar afiks

    Validity in the Research Data on Language Learning

    No full text
    Abstract: In assessing students’ skills and knowledge for the purpose of instruction or research, we want to get a valid (right, appropriate, correct) result, the assessment that shows the actual skills and knowledge of the students. Because validity of the result of assessment is something abstract, it can only be predicted. To make the prediction close to the actual skills and knowledge of the students, we have to provide the prediction with validity evidence. Validity evidence can be collected from the test (the assessment instrument) being used and other related data (criterion-related validity evidence).  From the assessment instrument used, we can collect construct and content validity evidence, from the criterion-related data, we can collect concurrent and predictive validity evidence.   Key Words:  validity, assessment, construc

    Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

    No full text
    <!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"MS Mincho"; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-alt:"MS 明朝"; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} @font-face {font-family:"\@MS Mincho"; panose-1:2 2 6 9 4 2 5 8 3 4; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-1610612033 1757936891 16 0 131231 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:EN-US; mso-fareast-language:EN-US; mso-bidi-language:HE;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:1995910573; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:63701836 918697042 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:18.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:18.0pt; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} --> Pertanyaan Pemahaman   1.     Ada persamaan tujuan penelitian kuantitaif dan kualitatif. Apa persamaan tujuan antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif?   2.     Apa yang dimaksud dengan theoretical significance dan practical significance?   3.     Antara kegiatan seorang wartawan dengan kegiatan penelitian sering tidak dibedakan. Apa perbedaan tujuan pekerjaan utama seorang wartawan dengan tujuan utama pekerjaan seorang peneliti?   4.     Seringkali seorang peneliti menghasilkan laporan penelitian seperti hasil membaca pemahaman. Apa perbedaan tujuan peneliti yang meneliti sebuah novel karya sastra dengan pembaca sebuah novel karya sastra?   5.     Seringkali pekerjaan peneliti disamakan dengan kegiatan seorang guru dalam mengukur kemampuan siswanya. Apa perbedaan tujuan penelitian yang mengumpulkan data dari kemampuan siswa dengan tujuan guru yang mengukur kemampuan siswanya?   6.     Sebuah novel karya sastra bisa diteliti dengan menggunakan pendekatan kuantitatif atau kualitatlif. Apa perbedaan tujuan dan strateginya?   7.     Baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif harus menggunakan data yang terpercaya, karena data yang salah menjadi dasar kesimpulan penelitian yang salah. Data penelitian kuantitatif berbeda dengan data penelitian kualitatif. Apa perbedaan data dalam kuantitatif dan kualitatif?   8.     Baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif harus mendapatkan sumber data yang terpercaya, karena kesalahan sumber data akan menghasilkan data yang salah dan akhirnya menjadi dasar kesimpulan penelitian yang salah. Namun cara penelitian kuantitatif mendapatkan sumber data yang terpercaya berbeda dengan cara penelitian kualitatif. Bagaimana perbedaan kedua pendekatan tersebut memilih sumber data yang terpercaya?   9.     Baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif harus menggunakan instrumen pengumpulan data yang terpercaya, karena kesalahan memilih instrumen pengumpulan data akan menghasilkan data yang salah dan akhirnya menjadi dasar kesimpulan penelitian yang salah. Namun cara penelitian kuantitatif memilih instrumen pengumpulan data yang terpercaya berbeda dengan cara penelitian kualitatif. Bagaimana perbedaan kedua pendekatan tersebut memilih instrumen pengumpulan data yang terpercaya?   10. Mengapa harus human instrument dalam penelitian kualitatif dan non-human instrument dalam penelitian kuantitatif?   11. Penelitian kuantitatif menggunakan linear procedure sementara penelitian kualitatif menggunakan non-linear procedure. Apa yang dimaksud dengan linear dan non-linear procedure? Jelaskan alasan masing-masing.   12. Penelitian kualitatif menggunakan snowballing procedure. Apa yang dimaksud dengan snowballing procedure? Mengapa harus snowballing procedure?   13. Apa perbedaan hypothesis dalam penelitian kuantitatif dan dalam kualitatif?   14. Penelitian kuantitatif melakukan theory-verifying, sementara penelitian kualitatif melakukan theory-generating? Apa perbedaannya?.   15. Baik penelitian kuantitatif maupun kualitatif harus melakukan pengumpulan data yang benar, karena kesalahan dalam pengumpulan data akan menghasilkan data yang salah dan akhirnya menjadi dasar kesimpulan penelitian yang salah. Namun cara penelitian kuantitatif memlakukan pengumpulan data yang terpercaya berbeda dengan cara penelitian kualitatif. Bagaimana perbedaan kedua pendekatan tersebut melakukan pengumpulan data yang benar?   16. Bisakah penelitian kuantitatif digabung dengan penelitian kualitatif?   17. Mana yang lebih baik antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif?   18. Apakah Classroom Action Research termasuk dalam penelitian kuantitatif atau kualitatif?   19. Apakah Research-Development termasuk dalam penelitian kuantitatif atau kualitatif

    THE “LANGUAGE IS A MIRROR” METAPHOR AND ITS IMPLICATIONS ON FOREIGN LANGUAGE TEACHING

    No full text
    What is language?  A rough-and-ready answer to this question is: language is a means of communication, or more precisely (setting aside sign language used among the deaf) “language is a means of verbal communication”.  While this functional definition of language may satisfy the general public, linguists want to know more about language.  An integrative view combining aspects and functions of language in the definitions given by Sapir (1921), Francis (1958), and Finochiaro (1974) would lead to the following technical definition: Language is a system of arbitrary vocal and visual symbols used by people in a given culture to carry on their daily affairs. This definition covers three important components: (a) internal structure, (b) speech community in a given culture, and (c) communicative function of language

    Resensi Buku (1) Chomsky: Ideas and Ideals

    No full text
    Resensi Buku (1) Judul                : Chomsky: Ideas and Ideals. Pengarang        : Neil Smith Tahun               : 1999 (sampul tipis) Penerbit            : Cambridge University Press Halaman           : ix, 356 halaman ISBN               : 0-521-47570-8     Sejak kemenangan “revolusi Chomsky”, yang dikukuhkan dengan tegaknya aliran Linguistik Generatif pada pertengahan dasawarsa 1960-an (Newmeyer 1986), kepeloporan Chomsky di bidang linguistik maupun di bidang filsafat ilmu telah banyak dibicarakan oleh kaum akademisi.  Untuk menyebut beberapa contoh, gagasan pembaharuan di bidang linguistik oleh Chomsky dibicarakan ole Lyons dalam Chomsky (1970); tinjauan kritis terhadap pemikiran linguistik Chomsky dihimpun oleh Harman (ed.) dalam On Noam Chomsky: Critical Essays (1982); dan pengaruh Chomsky di bidang filsafat dikemukakan oleh George (ed.) dalam Reflections on Chomsky (1989).  Mengikuti alur kepustakaan tentang Chomsky, buku Chomsky: Ideas and Ideals yang diresensi ini, sebagaimana disarankan oleh judulnya, mencoba menyarikan dan menjelaskan gagasan-gagasan pokok Chomsky secara kronologis dan analitis, terutama di bidang linguistik dan juga, selayang-pandang, di bidang politik

    MANUSIA, LINGKUNGAN ALAM, DAN BUDAYA PRASEJARAH INDONESIA DALAM KONTEKS STRATIGRAFI PLESTOSEN

    No full text
    Abstrak: Berbicara perkara kehidupan manusia, khususnya dalam arena prasejarah, tentu tidak akan terlepas dari perkara yang lain yaitu lingkungan alam dan budaya. Aspek lingkungan ini merupakan salah satu unsur penting pembentuk suatu budaya masyarakat. Manusia masa prasejarah masih sangat menggantungkan hidupnya pada alarn, oleh karena itu hubungan yang begitu dekat antara manusia dengan lingkungan membawa konsekuensi bahwa manusia hams senantiasa beradaptasi dengan lingkungan yang ditempati, salah satunya tercermin dari hasil budaya. Untuk mendapatkan penjelasan tentang kehidupan manusia masa prasejarah maka perlu mengintegrasikan antara tinggalan manusia, tinggalan budaya, dan lingkungan alamnya. Dengan demikian studi tentang hubungan antara manusia, budaya, dan lingkungan alam masa prasejarah merupakan topik yang tetap aktuaL menarik, dan perlu dikembangkan dalam disiplin ilmu arkeologi.   Kata kunci: manusia, lingkungan alam, budaya, prasejarah, plestose

    SKETSA PUITIKA JAWA: DARI RIMA ANAK-ANAK SAMPAI FILSAFAT RASA

    No full text
    ... sajroning jantung iku budi, sajroning budi iku jinem, iya iku angen-angen, sajroning angen-angen iku rahsa, sajroning rahsa iku Ingsun, ora ana Pangeran amung Ingsun Dat kang anglimputi kahanan jati.(... di dalam jantung ada budi, di dalam budi ada jinem, yaitu angan-angan, di dalam angan-angan ada rahsa, di dalam rahsa ada Aku, tiada Tuhan kecuali Aku, Dzat yang meliputi keadaan hakiki.)Ranggawarsit

    ETNOPUITIKA: DARI BUNGA RAMPAI TEKS DAN PENTAS SAMPAI KE AKAR BUDAYA

    No full text
    Sebagai pengantar makalah ini, dikemukakan sejumlah kasus sebagai contoh tata kerja etnopuitika.  Dalam setiap kasus, peneliti melakukan pengamatan terhadap teks dan pentas[1] yang bertalian erat dengan puitika Jawa, beserta reaksi emotif (yaitu sikap atau perasaan, baik positif maupun negatif) yang muncul dalam diri pengamat atau peneliti; kemudian diberikan penjelasan singkat mengenai penyebab munculnya reaksi emotif peneliti terhadap teks atau pentas tersebut. [1]  Istilah "teks" dalam makalah ini digunakan untuk merujuk ujaran atau tuturan, baik dalam bentuk lisan maupun tertulis.  Untuk selanjutnya, istilah teks ditulis tanpa tanda kutip.  Sedangkan stilah "pentas" dalam etnopuitika merupakan terjemahan dari verbal art performance, dalam pengertiannya yang cair dan luas.  Verbal art merujuk pada poetic language menurut pandangan Jakobosn (lihat uraian pada bagian kedua dari makalah ini), sedangkan performance (dalam verbal art performance) dikontraskan dengan ordinary speech performance.  Singkatnya, istilah "pentas" bukan hanya merujuk pada pentas dalam seni pertunjukan, melainkan juga merujuk pada "cara berbicara atau berbahasa yang khas, yang berbeda dengan cara berbicara sehari-hari."  Penjelasan lebih lengkap tentang teks dan pentas diberikan pada bagian kedua dari makalah ini

    3

    full texts

    77

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    KARYA DOSEN Fakultas Sastra UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇