SKRIPSI Jurusan Pendidikan Luar Biasa - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
361 research outputs found
Sort by
Pengaruh Metode Picture Exchange Communication System (PECS) Terhadap Kemampuan Komunikasi Anak Autis Di SLB Autis Laboratorium UM
ABSTRAK Putri, Citra. 2018. Pengaruh Metode Picture Exchange Communication System (PECS) Terhadap Kemampuan Komunikasi Anak Autis Di SLB Autis Laboratorium UM. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Biasa, FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra. Wiwik Dwi Hastuti, S.Pd, M.Pd, (2) Eka Pramono Adi, S.IP, M.Si Kata kunci: Autis, Metode Picture Exchange Communication System (PECS), Kemampuan Komunikasi. Anak autis adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan yang sangat kompleks yang mencakup bidang komunikasi, interaksi sosial, emosi, dan ketertarikan terhadap perilaku tertentu. Autis mengalami hambatan belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar yang mengakibatkan dampak-dampak tertentu, salah satunya hambatan dalam berkomunikasi pada siswa autis sehingga diperlukannya metode untuk membantu anak dalam mengemukakan keinginannya. Anak membutuhkan alat bantu dan metode khusus dalam mengembangkan kemampuan komunikasi dan bahasa terutama dalam kemampuan berbicara. Salah satu metodenya yaitu metode Picture Exchange Communication System (PECS). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan tentang kemampuan komunikasi anak autis di SLB Autis Laboratorium UM sebelum diberikan metode Picture Exchange Communication System (PECS). (2) Mendeskripsikan tentang kemampuan komunikasi anak autis di SLB Autis Laboratorium UM sesudah diberikan intervensi metode Picture Exchange Communication System (PECS). (3) Mendeskripsikan pengaruh metode Picture Exchange Communication System (PECS) terhadap kemampuan komunikasi anak autis di SLB Autis Laboratorium UM. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Single Subject Research dengan desain A-B-A. Subjek penelitian adalah anak autis kelas 1 SLB Autis Laboratorium UM. Instrumen penelitian ini menggunakan yang berisikan tentang kemampuan komunikasi anak berdasarkan tahapan PECS fase 1 sampai fase 6 dengan menggunakan kriteria penilaian skor maksimal adalah 4 dan 1 adalah skor minimal. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan analisis visual dalam bentuk grafik data antar kondisi dan dalam kondisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Picture Exchange Communication System (PECS) berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan komunikasi anak autis di SLB Autis Laboratorium UM. Hal ini ditunjukkan dengan presentase overlap 0% yang berarti bahwa intervensi berupa metode Picture Exchange Communication System (PECS) memiliki pengaruh yang baik terhadap kemampuan komunikasi anak di SLB Autis Laboratorium UM. Selain itu, hasil analisis data menunjukan kemampuan komunikasi anak autis mengalami peningkatan pada kondisi Baseline-2 (A2) atau kondisi kontrol yaitu skor stabil 72,50%, skor tersebut lebih tinggi dari kondisi Baseline-1 (A1) atau kondisi sebelum diberikan intervensi dengan skor stabil 50,00%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode Picture Exchange Communication System (PECS) terdapat pengaruh terhadap peningkatan kemampuan komunikasi anak autis di SLB Autis Laboratorium UM. Saran yang dapat diberikan adalah: (1) Bagi sekolah disarankan untuk memberikan jam khusus setiap harinya untuk memberikan latihan atau terapi pada anak autis verbal pasif agar kemampuan komunikasi anak meningkat baik komunikasi ekspresif maupun reseptif.(2) Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian menggunakan metode Picture Exchange Communication System (PECS) untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan bicara pada anak autis. (3) Bagi orang tua agar dapat memberikan metode PECS dirumah, agar dapat mengetahui keinginan anak melalui media visual dan kemampuan komunikasi anak menjadi lebih berkembang
Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMPLB-B YPTB Malang
ABSTRAK Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan kegiatan pembiasaan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bagi anak berkebutuhan khusus, khususnya tunarungu harus dapat mengembangkan keterampilan dasar berbahasa antara lain menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Meskipun mereka memiliki hambatan dalam mendengar dan berbicara (tunarungu), tahap pembiasaan literasi dasar yang inti dari literasi dasar itu meliputi kegiatan membaca, berpikir, menulis.Tujuan Penelitian ini meliputi: (1) Mendeskripsikan pelaksanaan GLS tahap pembisaan literasi dasar (2) Mendeskripsikan dampak pelaksanaan GLS tahap pembiasaan literasi dasar. (3) Mendeskripsikan hambatan pelaksanaan GLS tahap pembiasaan literasi dasar. (4) Upaya mengatasi hambatan pelaksanaan GLS tahap pembiasaan literasi dasar.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti meliputi wawancara, observasi dan studi dokumentasi.Dari hasil data yang diperoleh, maka dilakukan sebuah analisis data meliputi: (1) Reduksi, yaitu proses memilih, memilah dan membuang sesuatu yang tidak sesuai dengan fokus penelitian. (2) Penyajian data, dilakukan untuk melihat gambaran keseluruan hasil penelitian berupa pengkodean yang selanjutnya dapat ditarik sebuah kesimpulan. (3) Pengambilan kesimpulan, berupa mencari makna dari data yang diperoleh sampai dapat ditarik sebuah kesimpulan. Pengecekan keabsahan data diperlukan juga dalam penelitian kualitatif agar data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan. Pengecekan keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan trianggulasi sumber, yaitu dengan mengecek data melalui beberapa sumber dan trianggulasi teknik, yaitu menguji data kepada sumber data dengan teknik yang berbeda.Hasil penelitianpelaksanaan gerakan literasi sekolah tahap pembiasaan literasi dasar berupa:(1) Pelaksanaan tahap pembisaan literasi dasar terdiri dari: kegiatan 35 menit membaca, jurnal membaca harian, lingkungan fisik, dan pemilihan jenis buku bacaan. (2) Dampak tahap pembiasaan literasi dasar berupa: inisiatif membaca, kepercayaan diri, pembendaharaan kata, pemahaman bacaan dan kreativitas. (3) Hambatan tahap pembiasaan literasi dasar meliputi : kondisi siswa dan sarana prasarana sekolah. (4) Upaya mengatasi hambatan tahap pembiaasan literasi dasar berupa: pemahaman bacaan diulang-ulang, buku-buku literasi diperbanyak dan tempat untuk literasi agar dibenahi. Saran dalam penelitian ini ditujukan: (1) Kepala sekolah, untuk selalu mengawasi, mengevaluasi dan meningkatkan sarana prasarana kegiatan literasi. (2) Guru kelas, meningkatkan kegiatan tahap pembiasaan literasi dasar agar lebih baik. (3) Peneliti lain, dapat dijadikan referensi untuk melakukan penelitian dengan jenis ketunaan yang berbeda yang lebih luas dan terencana
Pembinaan olahraga atletik bagi siswa cerebral palsy menuju kejuaraan paralympic competition (studi kasus di slb pembina tingkat nasional bagian c malang)
Gerakan dasar atletik adalah gerakan dasar manusia di dalam kehidupannya sehari-hari, yaitu berjalan, berlari, melompat dan melempar. Pembinaan adalah proses dan usaha atau tindakan yang dilakukan untuk mengoptimalkan kemampuan siswa menjadi seorang atlet, salah satunya di cabang olahraga lari. Anak cerebral palsy mengalami gangguan di dalam otak, dan kelainan bersifat kekakuan pada anggota geraknya, sehingga anak cerebral palsy membutuhkan pembinaan dalam olahraga lari. Penelitian ini memiliki fokus adalah: (1) Program kegiatan pembinaan olahraga atletik bagi siswa cerebral palsy. (2) Teknik-teknik yang di ambil dalam sprint pada pembinaan olahraga atletik bagi siswa cerebral palsy (3) Pemenuhan kebutuhan gizi sebagai pendukung pembinaan olahraga atletik bagi siswa cerebral palsy. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Pengumpulan data yang dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Setelah data diperoleh kemudian data dianalisis dengan cara reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Kemudian mengecek keabsahannya dengan menggunakan: (1) Triangulasi pengecekan kembali informasi atau data yang sudah didapatkan atau sumber yang berbeda, (2) Menggunakan bahan referensi, (4) Mengadakan membercheck. Hasil penelitian ini meliputi: (1) Program pembinaan olahraga atletik bagi siswa cerebral palsy di SLB Pembina Tingkat Nasional Bagian C Malang. (2) Teknik-teknik yang diambil dalam sprintpada pembinaan olahraga atletik bagi siswa cerebral palsy menyesuaikan dengan kemampuan siswa, (3) Pemenuhan kebutuhan gizi sebagai faktor pendukung pembinaan olahraga atletik guna menjaga stamina tetap fit.Kata Kunci: Pembinaan, Olahraga Atletik, Cerebral Pals
HUBUNGAN POLA ASUH ORANGTUA DENGAN KESADARAN BINA DIRI (MENGGOSOK GIGI) SISWA TUNAGRAHITA DI SLB KEDUNGKANDANG MALANG
ABSTRACT Rudita, Risky. 2018. Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kesadaran bina diri (Menggosok Gigi) Siswa Tunagrahita Di SLB Kedungkandang Malang. Skripsi, SI Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ir. Endro Wahyuno, M.Si. (II) Eka Pramono Adi, S.IP., M.Si. Kata Kunci: Pola Asuh, Kesadaran Menggosok Gigi, Tunagrahita. Dalam lembaga formal SLB pengembangan potensi peserta didik dalam upaya pembentukan kemandirian serta ketrampilan anak. Keterlibatan orang tua dan anggota keluarga lain mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan anak di sekolah. Hasil observasi awal ditemukan bahwa ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan kesadaran menggosok gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil adanya hubungan pola asuh orangtua (Y) dan kesadaran menggosok gigi (X) di SLB Kedungkandang Malang. Berdasarkan teori di atas anak tunagrahita memiliki pola asuh tertentu untuk melatih anak memiliki kesadaran menggosok gigi, sehingga peneliti melakukan penelitian ini. Pendekatan penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian korelasional. Metode pengambilan data yang digunakan adalah angket. Data dianalisis dengan analisis korelasional Rank Spearman. Sampel dalam penelitian ini adalah orangtua dari peserta didik SLB Kedungkandang Malang sebanyak 21 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: terdapat hubungan signifikan antara pola asuh orangtua (X) dan kesadaran menggososk gigi anak tunagrahita (Y) dimana yang diperoleh nilai korelasi rho sebesar 0,808 dengan taraf signifikasi 0.000. Dengan demikian H0 ditolak dan Ha diterima, sehingga ada hubungan yang signifikan pengambilan keputusan jika Rh0 tabel < dari Rh0 hitung maka ada hubungan antara pola asuh orang tua dengan kesadaran menggosok gigi anak tunagrahita. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya hubungan positif dan sejalan antara pola asuh orang tua (X) dan kesadaran menggosok gigi anak tunagrahita (Y).
Pengaruh Penggunaan Media Pensil Grip Terhadap Kemampuan Menulis Permulaan Pada Siswa ADHD Kelas II Di SDLB Negeri Kedungkandang Malang
ABSTRAK Siswa ADHD yang disertasi dengan afasia, berdampak pada salah satunya kemampuan motorik halus pada bagian tubuh kanan. Kemampuan motorik halus kurang maka kemampuan menulis permulaan juga kurang. Salah satu media yang dapat melatih dan meningkatkan kemampuan menulis permulaan dengan media pensil grip. Tujuan penelitian untuk mendeskripsikan tentang, 1) Kemampuan siswa ADHD dalam menulis permulaan sebelum menggunakan media pensil grip {baseline (A1)}. 2) Kemampuan siswa ADHD dalam menulis permulaan setelah menggunakan media pensil grip {intervensi (B)}.3) Pengaruh penggunaan media pensil grip terhadap kemampuan menulis permulaan pada siswa ADHD Kelas II Di SDLB Negeri Kedungkandang Malang. Penelitian ini mengambil metode eksperimen dengan menggunakan jenis rancangan dalam bentuk singel subject research (SSR) dengan desain A- B- A. subyek penelitian menggunakan 1 siswa ADHD dengan rentang usia 10 tahun di SDLB Neregi Kedungkandang. Adapun teknik pengumpulan data penelitian ini yaitu, 1) Observasi sebagai langkah untuk mengamati secara langsung kejadian di lapangan dan mencatat selama pelaksanaan pembelajaran. 2) Dokumentasi untuk melengkapi data yang diperoleh melalui observasi dan berguna untuk menjawab fokus penelitian yang telah ditentukan. 3) Lembar penilaian digunakan untuk mengetahui skor yang didapat selama pembelajaran. Nilai atau skor yang sudah terkumpul dijumlahkan untuk diambil sebagai nilai rata-rata. Analisis data yang digunakan adalah analisis dalam kondisi dan analisis antar kondisi. Hasil penelitian mendaatkan mean level meningkat dari baseline (A1) sebesar 48.50, sedangkan mean level pada intervensi (B) sebesar 60.67, dan baseline (A2) sebesar 61.45. Selain itu presentase overlab antarkondisi baselin (A1) ke intervvensi (B) sebesar 0%. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan menggunakan pensil grip berpengaruh terhadap kemampuan menulis permulaan siswa. Adapun saran bagi guru dari peneliti adalah guru dapat memanfaatkan media dalam pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa
Pengaruh Pembelajaran Seni Clay Tepung Terhadap Motorik Halus Dalam Menulis Permulaan Peserta Didik Cerebal Palsy TK Khadijah 179 Temuasri Kab. Banyuwangi
ABSTRAK Ningrum, Diah Ayu . 2018. Pengaruh Pembelajaran Seni Clay Tepung Terhadap Motorik Halus Dalam Menulis Permulaan Peserta Didik Cerebal Palsy TK Khadijah 179 Temuasri Kab. Banyuwangi. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Wiwik Dwi Hastuti, S.Pd, M. Pd, (II) Drs. Usep Kustiawan, M.Sn. Kata kunci : cerebral palsy, motorik halus, menulis permulaan, pembelajaran seni clay tepung Kurangnya kreatifitas, pembelajaran, serta media merupakan factor penyebap rendahnya kemampuan peserta didik dalam mengembangkan kemampuan yang dapat dikembangkan pada usia dini. Salah satunya adalah peserta didik cerebral palsy spatic yang memiliki kesulitan dalam belajar menulis. dalam kegiatan menulis memerlukan kinerja motorik halus, apabila kemampuan motorik halus peserta didik rendah itu disebapkan karena kurangnya latihan dalam mengembangkan kemampuan motorik halus. Salah satu media dan pembelajaran yang dapat melatih kemampuan motorik halus salah satunya dengan pembelajaran seni clay tepung. Tujuan pada penelitian ini dianataranya untuk mendiskripsikan kemampuan motorik halus dalam menulis penulis permulaan pada peserta didik sebelum diberikannya intervensi atau perlakuan. Selanjutnya mendiskripsikan kemampuan motorik halus dalam menulis permulaan peserta didik saat diberikan sebuat intervensi sebuah pembelajaran seni clay tepung. Kemudian mendiskripsikan pengaruh kegiatan pembelajaran seni clay tepung terhadap kemampuan motorik halu dalam menulis permulaan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan menggunakan single subjek reseach (SSR) dengan metode desain A-B-A. subjek penelitian menggunakan satu peserta didik dengan hambatan cerebral palsy spatic yang memilki usia 6 tahun di TK Khadijah Temuasri Kab. Banyuwangi. Analisis data yang digunakan adalah analisis dalam kondisi dan analisi antar kondisi. Hasil penelitian menunjukkan perolehan mean level meningkat dan baseline-1 sebesar 60,4% sedangkan mean level pada kondisi intervensi sebesar 92,57% dan baseline-2 sebesar 80% Selain itu, presentasi overlap anatara kondisi baseline-1 ke kondisi intervensi sebesar 0% yang mana menunjukkan pengaruh antar pembelajaran terhadap subjek. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran seni clay tepung berpengaruh terhadap kemampuan motorik halus dalam menulis permulaan peserta didik. Adapun saran bagi guru dari peneliti ini adalah guru dapat memanfaatkan media serta kegiatan pebelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Serta dapat menerapakan pembelajaran seni clay tepung ini secara rutin agar kemampuan subjek terus meningkat, tidak turun atau menetap
PENGARUH MEDIA MAKET BINATANG TERHADAP KEMAMPUAN PENGENALAN JENIS-JENIS HEWAN PADA ANAK AUTIS DI SDLB AL-IKHSAN BAGOR KAB. NGANJUK
ABSTRAK Zaelani, Achmad. 2018. Pengaruh Media Maket Binatang Terhadap Pengenalan Hewan Pada Anak Autis di SDLB Al-Ikhsan Bagor Kab. Nganjuk. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Biasa FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Abdul Huda, M.Pd, (II) Dr. Sulthoni, M.Pd Kata Kunci: Media Maket Binatang, Pengenalan Hewan, Autis Dalam Proses pembelajaran, penggunaan media pembelajaran agar materi pelajaran yang disampaikan guru dapat lebih mudah diterima dan dipahami oleh siswa, sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara tepat guna. Komunikasi dan interaksi antara guru dan murid dapat berlangsung secara efektif dan efesien. Seharusnya dalam pembelajaraan anak berkebutuhaan khusus autis menggunangakan media yang konkret, dengan menggunakan benda konkret pembelajraan menjadi menyenangkan membantu ingatan siswa terhadap pembelajaraan yang menggunakan media sebagai bermain. Tujuan Penelitian (1) Mendeskripsikan kemampuan pengenalan hewan siswa autis ssebelum menggunakan media maket pada saat pembelajaran di SDLB Al-Ikhsan bagor kabupaten Nganjuk. (2) Mendeskripsikan kemampuan pengenalan hewan siswa autis saat menggunakan media maket dalam proses pembelajaran SDLB AL-Ikhsan Bagor kabupaten Nganjuk. (3) Mendeskripskan pengaruh media maket binatang terhadap peningkatan pengenalan hewan autis kelas 3 SDLB Al-Ikhsan Bagor kabupaten Nganjuk Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah One-Group Pretest-Posttest Design. Dalam desain penelitian ini hanya menggunakan satu kelompok dan tidak memerlukan kelompok control. Dalam pelaksanaannya sebelum perlakuan, diberikan terlebih dahulu pre-test (tes awal) dan di akhir pembelajaran subyek diberikan posttest (tes akhir). Hasil yang didapat dari peneilitian ini Thitung diperoleh 13 dan Ttabel diperoleh 1, jadi Thitung < Ttabel α 0,05 atau (13 < 1) maka H0 ditolak dan H1 diterima, artinya terdapat pengaruh kemampuan berhitung antara sebelum dan sesudah menggunakan media maket binatang sehingga dapat disimpulkan media maket binatang berpengaruh terhadap kemampuan berhitung siswa autis di SDLB Al-Ikhsan Bagor Kab. Nganjuk. Saran dalam penelitian ini ditujukan: (1) Guru, diharapkan menerapkan media maket binatang dalam pembelajarannya supaya target pembelajaran yang diinginkan dapat tercapai , (2) Sekolah, disarankan untuk menyediakan media yang menarik siswa agar siswa tidak bosan dan monoton dalam proses pembelajaran , (3) Peneliti lain, diharapkan dapat mengembangkan media maket binatang
Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Melalui Pembelajaran Batik Jumpu tBagi Siswa TunagrahitaKelas IV Di Slb Paedagogia Magetan
ABSTRAK Rina Sulistyorini. 2018. Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Melalui Pembelajaran Batik Jumpu tBagi Siswa TunagrahitaKelas IV Di Slb Paedagogia Magetan. Skripsi, JurusanPendidikanLuarBiasa, FakultasIlmuPendidikan, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing :(I) Drs. Abdul Huda, M.Pd , (2) Drs. UsepKustiawan, M.Sn Kata Kunci :Pembelajaran Batik Jumput, PeningkatanKemampuanMotorikHalus, Tunagrahita Dampakgagguanintelegensi yang dialamibagi siswa tunagrahitamengakibatkanhambatanperkembangandalambergerak, tersenyum, menunjukkanminatpadaberbagaihal, menggunakantangannya, duduk, berjalan, berbicaradanmengerti.Hal inimengakibatkanbagi siswa tunagrahitamengalamikesulitandalammenggerakkan motoric halusnya, sehinggadalammelatih motoric halusbagi siswatunagrahitamembutuhkansuatupembelajaranketrampilan yang dapatmerangsangotot – ototpadajarijemarinya agar dapatlebihkuatdanterkontrol. Penelitianinimenerapkanpembelajaran batik jumput yang bertujuanuntukmengetahuipeningkatan motoric halusbagi siswatunagrahitakelas IV di SLB PaedagogiaMagetan. Penelitianinimenggunakanpenelitiankualitatifdenganrancanganpenelitiantindakankelas( PTK ). Penelitianinidilaksanakandengan 2 siklus, darimasing – masangsiklusterdiriatasempattahapyaituperencanaan, pelaksanaan, pengamatan, danevaluasi, sertarefleksi.Pengumpulan data menggunakantespraktekuntukmengetahuihasilkemampuan motoric halussebelumdansesudahdiberikan treatment.Hasilpenelitianmenunjukkanadanyapeningkatan motoric halusmelaluipembelajaran batik jumputdenganhasilnilai rata – rata padapratindakan 38,9%, padasiklus I 45,4% danpadasiklus II 72,2%. Berdasarkanuraiandiatasdapatdisimpulkanbahwa“ adapeningkatan motoric haluspesertadidiktunagrahitakelas IV melalupembelajaran batik jumput di SLB PaedagogiaMagetan”. Agar persiapanpembelajaranlebihmatang, mudahdalammengkondisikankelas, danpembelajarantidakmembuatsiswajenuhmaka guru sebaiknyamenyiapkanmateri – materi yang akandiajarkanterlebihdahuludanmenggunakan media yang menarikdansesuaidengankebutuhansiswa
IMPLEMENTASI LAYANAN BIMBINGAN KEMATANGAN KARIR BAGI PESERTA DIDIK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SMK INKLUSI DI KOTA MALANG
ABSTRAK Novitarani, Serlia. W. 2017. Implementasi Layanan Bimbingan Kematangan Karir Bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus Di SMK Inklusi Di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Biasa, FIP, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Prof. Dr. Mohammad Effendi, M.Pd, M.Kes., (II) Eka Pramono, M.Si. Kata Kunci: Layanan bimbingan kematangan karir, peserta didik berkebutuhan khusus, SMK Inklusi. Selama menempuh pendidikan di sekolah kejuruan inklusi peserta didik berkebutuhan khusus telah mendapatkan ilmu keterampilan, namun masih membutuhkan bimbingan dalam setiap pengambilan keputusan karir setelah lulus sekolah. Oleh karena itu perlu kajian intensif tentang layanan bimbingan kematangan karir bagi peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah kejuruan inklusi di kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi layanan bimbingan kematangan karir bagi peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah kejuruan inklusi. Layanan bimbingan tersebut meliputi enam aspek kematangan karir yaitu perencanaan karir, eksplorasi karir, pengetahuan tentang membuat kaputusan karir, pengetahuan (informasi) tentang dunia kerja, pengetahuan tentang kelompok pekerjaan yang lebih disukai, realisasi keputusan karir. Penelitian menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kuantitatif dengan persentase. Sampel penelitian ini adalah seluruh guru BK, GPK dan Wali Kelas di lima sekolah kejuruan inklusi di kota Malang, yang terdapat 5 sekolah menurut data Dinas Pendidikan Kota Malang yang berjumlah 39 responden. Instrumen penelitian menggunakan angket dengan skala Guttman dengan mengembangkan aspek kematangan karir yang dikembangkan oleh Donald. E. Super. Analisis data mengguakan teknik analisis deskriptif persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata (82,7%) aspek dalam kematangan telah terlaksana dengan baik. Terdapat satu pernyataan pada aspek realisasi keputusan karir yang memiliki data sebesar 40 %, yang artinya bahwa peserta didik berkebutuhan khusus belum mampu mengambil keputusan mengenai masa depannya secara mandiri tanpa bimbingan dan bantuan orang tua. Saran bagi guru pembimbing untuk mengembangkan program bimbingan supaya peserta didik berkebutuhan khusus memiliki kematangan dalam pengambilan keputusan karir. Bagi sekolah dapat menjadi sumber informasi atau data yang membantu dalam bimbingan pada peserta didik berkebutuhan khusus pada penyusunan program bimbingan karir, sehingga tujuan dari pelaksanaan layanan bimbingan dapat tercapai. ABSTRACT Novitarani,Serlia. W. 2017. Implementation of CareerMaturity Guidance Services for Children with Special Needs at Vocational Schools Inclusive In Malang. Undergraduate Thesis, Department of Special Education, Faculty of Education, State University of Malang. Advisors: (1) Prof. Dr. Mohammad Effendi, M.Pd, M.Kes., (II) Eka Pramono Adi, M.Si Keywords: Maturity career guidance service, children with special needs, inclusion SMK While studying in inclusion vocational schools, students with special needs have gained skills knowledge, but still need guidance in every career decision after graduating school. Therefore, it is needed intensive study of career maturity guidance for special needs students in inclusion vocational school in Malang city. This study is aimed at describing the implementation of career maturity guidance services for students with special needs in the inclusion vocational schools. The guidance services cover six aspects of career maturity such as career planning, career exploration, knowledge of making decision career, knowledge (information) about the world of work, knowledge of the work group is preferred, the realization of a career decision. The research used quantitative descriptive research approach with percentage. The samples were taken from 39 respondents such as all guidance and counseling (BK/Bimbingan Konseling) teachers, shadow teachers (Guru Pendamping Kelas/GPK) and class teachers in 5 inclusion vocational schools in Malang city. The research instrument was a Guttman-scale questionnaire by developing a career maturity aspect developed by Donald. E. Super. The data analysis was using descriptive analysis technique percentage. The results showed that the average (82,7%) aspect in maturity has been performed well. There is one statement on the aspect of the realization of career decisions that have a data of 40, that mean was the learners with special needs have not been able to make decisions about their future independently without parental guidance and assistance
Pengaruh Penggunaan Media Kartu Kata Terhadap Kemampuan Menulis Permulaan Siswa Tunagrahita Kelas II di SD Unggulan Permatajingga Malang
ABSTRAK Siswa tunagrahita merupakan siswa yang mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental intelektual jauh dibawah rata-rata. Hal ini mengakibatkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung siswa tunagrahita rendah. Salah satu media yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kemampuan menulis permulaan yaitu dengan menggunakan media kartu kata.Penelitan ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan kemampuan menulis permlaan sebelum menggunakan media kartu kata, (2) mendeskriptifkan kemampuan menulis permlaan sesudah menggunakan media kartu kata, (3) mendeskriptifkan seberapa besar pengaruh penggunaan media kartu kata terhadap peningkatan kemampuan menulis permulaan pada anak tunagrahita kelas II di SDUnggulan Permatajingga.Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan bentuk Single Subject Research (SSR) disain A-B-A. Subjek penelitian adalah siswa tunagrahita kelas II di SDUnggulan Permatajingga Malang. Instrumen penelitian ini berupa lembar kerja kemampuan menulis permulaan. Teknik analisis data penelitian ini adalah teknik analisis visual yang meliputi analisis dalam kondisi dan analisis antar kondisi.Hasil penelitian menunjukkan sebelum diberikan intervensi kemampuan menulis permulaan termasuk dalam kategori rendah yang memiliki mean level sebesar 57%, sedangkan sesudah diberikan intervensi memiliki mean level sebesar 85,5%, dan pada kondisi control memiliki mean level 80,6%. Persentase overlape menunjukkan 0% yang artinya penggunaan media kartu kata berpengaruh positif terhadap kemampuan menulis permulaan siswa tunagrahita kelas II di SDUnggulan Permatajingga Malang.Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa (1) kemampuan menulis permulaan siswa berada pada kategori rendah sebelum menggunakan media kartu kata, (2) kemampuan menulis permulaan siswa mengalami peningkatan ketika menggunakan media kartu kata, (3) kemampuan menulis permulaan siswa tetap stabil dan meningkat setelah menggunakan media kartu kata, (4) penggunaan media kartu kata berpengaruh positif terhadap kemampuan menulis permulaan siswa tunagrahita kelas II. Saran untuk guru diharapkan dapat menggunakan media yang sesuai dengan kemampuan menulis permulaan siswa tunagrahita yaitu dengan menggunakan media katu kata. Peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian dengan menggunakan media kartu kata pada subjek dengan karakteristik yang berbeda atau dengan target behavior yang berbeda sehingga dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas