SKRIPSI Jurusan Pendidikan Luar Biasa - Fakultas Ilmu Pendidikan UM
Not a member yet
361 research outputs found
Sort by
Pengembangan Media Quiet Book Untuk Meningkatkan Keterampilan Merawat Luka Ringan Bagi Anak Tunagrahita Ringan di SDLB B-C Kepanjen Kabupaten Malang
ABSTRAK Sari, Gema Siam. 2019. Pengembangan Media Quiet Book Untuk Meningkatkan Keterampilan Merawat Luka Ringan Bagi Anak Tunagrahita di SDLB B-C Kepanjen Kabupaten Malang. Skripsi Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Abdul Huda, M.Pd (II) Drs. Usep Kustiawan, M.Sn Kata Kunci: Media Quiet Book, Keterampilan Merawat Luka Ringan, Tunagrahita Tunagrahita atau hambatan inteletual merupakan anak yang memiliki kondisi meliputi terganggunya fungsi intelektual dan fungsi adaptif pada ranah konsep sosial dan praktik bina diri yang rendah. Hambatan tersebut menjadikan anak tunagrahita harus memiliki keterampilan bina diri khususnya menolong diri seperti merawat luka ringan agar dapat merawat diri secara mandiri. Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di SDLB B-C Kepanjen Kabupaten Malang, diperoleh informasi bahwa siswa belum memahami merawat luka ringan serta belum adanya media yang dapat menunjang dan menarik untuk melatih keterampilan merawat luka ringan. Tujuan dari penelitian ini adalah dapat menghasilkan produk berupa media quiet book yang efektif dan layak untuk meningkatkan keterampilan merawat luka ringan bagi anak tunagrahita dengan mengadaptasi metode pengembangan Borg and Gall yang memiliki sepuluh tahap, namun dalam penelitian ini hanya mengadaptasi tujuh langkah. Subjek uji coba produk terdiri dari ahli media, ahli materi, ahli pembelajaran ABK, praktisi dan siswa tunagrahita kelas VI sebanyak 3 siswa dibagi menjadi individu 1 siswa dan kelompok 2 siswa. Hasil pengembangan produk media quiet book diperoleh data sebagai berikut : (1) validasi ahli media 95% (Valid), (2) validasi ahli materi 75% (cukup valid), (3) validasi ahli pembelajaran ABK 98% (valid), (4) praktisi 86% (valid), (5) uji coba individu dengan pretest 36% dan posttest 96% (uji coba kelompok rata-rata pretest 42% dan posttest 91%. Hasil pengembangan secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa produk media quiet book layak digunakan untuk meningkatkan keterampilan merawat luka ringan bagi anak tunagrahita ringan. Media Quiet book adalah media 3 dimensi berupa buku kain yang perpaduan bahan kain katun dan kain flanel, terdiri dari halam-halaman yang berisi bermacam-macam kegiatan merawat luka ringan seperti luka lecet, luka memar, luka sayat dan luka bakar. Selain itu terdapat perkenalan kotak P3K serta profesi pada bidang kesehatan juga kendaraan kesehatan. Saran penggunaan untuk siswa adalah untuk menggunakan media quiet book untuk meningkatan pemahaman mengenai merawat luka ringan, untuk guru adalah untuk menyiapkan materi penjelasan awal dan menunjukkan peralatan P3K dengan benda konkrit sebelum menggunakan media quiet book. ABSTRACT Sari, Gema Siam. 2019. Development of Media Quiet Book to Improve Skills for Caring for Minor Injuries for Children with Mild Intellectual Disabilityin the SDLB BC Kepanjen Malang Regency . ThesisDepartment of Special Education, Faculty of Education, State University of Malang. Advisor (I) Drs. Abdul Huda, M.Pd (II) Drs. Usep Kustiawan, M.Sn Kata Kunci: Media Quiet Book, Mild Wound Care Skills, Intellectual Disability Impotence or intellectual barriers are children who have conditions including disruption of intellectual function and adaptive function in the realm of social concepts and low self-esteem practices. These obstacles make mentally retarded children must have self-development skills, especially self-help such as caring for minor injuries so that they can take care of themselves independently. Based on the results of observations conducted by researchers at the BC Kepanjen Elementary School in Malang Regency, information was obtained that students did not understand caring for minor wounds and the absence of media that could support and attract the skills to treat minor injuries. The purpose of this study is to produce a product that is effective and feasible quiet book media to improve the skills of treating minor injuries for mild intellectual disability by adapting the development method of Borg and Gall which has ten stages, but in this study only adapted seven steps. The product trial subjects consisted of media experts, material experts, ABK learning experts, practitioners and class VI mild intellectual disability students as many as 3 students divided into 1 student and 2 students. The result of the development of media products quiet book data obtained as follows: (1) validation of media experts 95% (Valid), (2) validation of subject matter experts 75% (quite valid), (3) validation of learning experts ABK 98% (valid), (4) 86% practitioners (valid), (5) individual trials with pretest 36% and posttest 96 % (trial group average pretest 42% and posttest 91 % . The results of overall development can be concluded that media products quiet book is worth using to improve the skills of treating mild intellectual disability. Quiet media book is a 3-dimensional media such as books that blend fabric cotton fabric and flannel, consisting of yard-page that contains an assortment of activities to care for minor injuries such as abrasions, bruises, cuts and burns. In addition there are introductions of first aid kits and professions in the health sector as well as health vehicles. The use advice for students is to use quiet book media to improve understanding about treating minor wounds, for teachers to prepare preliminary explanatory material and show P3K equipment with concrete objects before using quiet book media
Pengaruh Teknik Modelling Terhadap Keterampilan Bina Diri Menggosok Gigi Anak Tunagrahita Kelas 3 di SDLBN Kedungkandang Malang
Tunagrahita merupakan anak dengan intelegensi di bawah rata-rata, keadaan tersebut mengakibatkan beberapa gangguan salah satunya gangguan perkembangan perilaku contohnya saja dalam hal merawat diri. Merawat diri adalah hal dasar yang harus dilakukan oleh setiap orang untuk menjaga tubuh tetap bersih dan sehat. Bagian tubuh yang sering kali terabaikan adalah gigi dan mulut, terkadang mereka tidak peduli dengan kebersihan area tersebut, sehingga menyebabkan gigi berlubang dan karies gigi. Masalah itu yang harus dibenahi dengan mengajarkan anak cara menggosok gigi yang benar. Pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan bina diri anak tunagrahita yaitu program bina diri. Dengan melihat karakteristik anak tunagrahita teknik yang dapat digunakan untuk pembelajaran bina diri sebagai pembelajaran tingkah laku baru kepada seorang anak yaitu, teknik modelling di mana anak belajar dengan cara mengamati. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh teknik modelling terhadap keterampilan bina diri menggosok gigi yang difokuskan pada langkah-langkah menggosok gigi. Penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan design one group pre-test post-test. Tahap yang dilakukan yaitu menentukan subjek kemudian membuat instrumen yang akan diuji cobakan kepada subjek. Setelah membuat instrumen peneliti melaksanakan penelitian dengan menggunakan pre-test, pemberian treatment dan post-test guna mengetahui pengaruh yang signifikan penggunaan teknik modelling terhadap keterampilan menggosok gigi sebelum dan sesudah diberikannya perlakuan. Penelitian ini dilakukan di SDLBN Kedungkandang Malang dengan megambil subjek dari kelas IIIC sebanyak 8 siswa. Hasil penelitian yang dihitung menggunakan uji Willcoxon menunjukkan jumlah thitung adalah 0 sedangkan ttabel dengan (α =0,05 dan n=8) adalah 4. Dari kriteria yang telah ditetapkan maka hipotesis diperoleh H0 ditolak karena thitung < ttabel atau diartikan
IMPLEMENTASI PERGURUAN TINGGI NEGERI INKLUSIF DI KOTA MALANG (Studi Multi Situs di Universitas Negeri Malang dan Universitas Brawijaya)
KEGIATAN PERKULIAHAN MAHASISWA DISABILITAS DALAM PERGURUAN TINGGI NEGERI INKLUSIFNafisa Nurani Aulia1 Abdul Huda2 Ahmad Samawi3 Jurusan PLB FIP UM Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang No.5 Malang 65145E-mail: [email protected] Abstract:The lecture activities of disability students in inclusive state universities are crucial in implementation inclusiveness in state universities. The purpose of this research is to describe and analyze lecture activities in inclusive state universities. The research approach used was a descriptive qualitative research approach with a type of case study and multi site design. This study produces data that students with disabilities take part in lecture activities with duplicate curriculum but they are given many accommodations including volunteers to help their activities. Key Words: Disability student lectures, Inclusive State UniversitiesAbstrak:Kegiatan perkuliahan mahasiswa disabilitas dalam perguruan tinggi negeri inklusif merupakan hal krusial dalam implementasi inklusivitas di perguruan tinggi negeri. Tujuan peneitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis kegiatan perkuliahan di perguruan tinggi negeri inklusif. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan jenis studi kasus dan rancangan multi situs. Penelitian ini menghasilkan data bahwa mahasiswa disabilitas mengikuti kegiatan perkuliahan dengan kurikulum duplikasi namun mereka diberikan banyak akomodasi termasuk volunteer untuk membantu kegiatan perkuliahan.Kata Kunci: Perkuliahan mahasiswa disabilitas, Perguruan Tinggi Negeri InklusifPendidikan memiliki peran penting dalam upaya peningkatan sumber daya manusia kearah yang lebih baik. Pendidikan bertujuan untuk membentuk peserta didik untuk mengembangkan sikap, keterampilan, dan kecerdasan intelektual agar menjadi manusia yang terampil, cerdas, serta berakhlak mulia. Undang-undang Dasar 1945 Pasal 31 ayat 1 menyatakan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Pendidikan adalah hak Warga Negara tanpa terkecuali baik berupa pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan Untuk Semua (PUS) atau Education for All (EFA) telah menjadi bagian dari kebijakan pemerintah Indonesia sejak pertama kali disepakati tahun 2000 melalui Deklarasi Dakkar. PUS menawarkan sebuah konsep pendidikan yang merata untuk semua lapisan masyarakat tanpa membedakan suku, ras, agama, dan golongan. PUS juga mendorong seseorang dengan disabilitas untuk ikut serta dalam penyelenggaraan pendidikan yang bermutu.Disabilitas menurut Convention on the Rights of Persons with Disabilities (Konvensi mengenai Hak-hak Penyandang Disabilitas) termasuk mereka yang memiliki keterbatasan mental, fisik, intelektual, atau sensorik dalam jangka waktu lama. Seseorang disebut disabilitas ketika berhadapan dengan berbagai hambatan, yang dapat menghalangi partisipasi penuh dan keefektifan mereka dalam masyarakat berdasarkan prinsip kesetaraan. Sistem pendidikan tidak terkecuali pada pendidikan di perguruan tinggi perlu berorientasi pada inklusi untuk memerangi sikap diskriminatif, membangun masyarakat inklusif, dan mencapai pendidikan untuk semua. Pendidikan untuk semua adalah sebuah sistem pendidikan yang ‘bisa dikases’ oleh semua kalangan, meliputi orang-orang yang kaya, miskin, tua, muda, disabilitas, non disabilitas, dan dengan segala jenis perbedaan. Tidak ada diskriminasi diantaranya, sehingga terwujudlah masyarakat yang inklusif dimana perbedaan dapat dihargai dalam satu kesatuan kehidupan. Kemenristekdikti (2017) juga menyatakan bahwa data yang masuk ke Direktorat Pembelajaran Kemenristekdikti tercatat ada 401 mahasiswa disabilitas dari 152 perguruan tinggi yang telah melaporkan. Mereka berasal dari berbagai jenis hambatan (tunanetra, tunarungu, tunadaksa dan lain-lain) dan mereka tersebar di berbagai program studi.Mahasiswa disabilitas wajib mendapatkan akses yang sama terhadap materi seperti mahasiswa pada umumnya dengan mempertimbangkan derajat disabilitas yang dimilikinya. Pengembangan materi untuk mahsiswa disabilitas dapat dilakukan melalui:1) Duplikasi, yaitu tidak ada perbedaan jenis, kedalaman, dan keluasan materi untuk mahasiswa diasbilitas dengan mahasiswa non disabilitas. Perbedaan bukan terletak pada tingkat kedalaman dan keluasan materi tetapi pada modifikasi proses belajar mengajarnya.2) Substitusi, yaitu mengganti sebagian materi dengan materi yang setara. Penggnatian dilakukan karena materi tidak mungkin dilakukan oleh mahasiswa disabilitas, tetapi masih bisa diganti dengan materi lain yang sepadan.Keterbatasan yang dialami oleh mahasiswa disabilitas mengharuskan adanya upaya modifikasi cara dan atau alat sehingga memungkinkan mereka mengikuti perkuliahan dengan baik. Adapun modifikasi pembelajaran untuk disabilitas netra meliputi: a) Perangkat pembelajaran disediakan dalam bentuk braille atau soft copy; b) Memperbanyak informasi secara verbal; c) Pengerjaan soal evaluasi menggunakan braille, laptop, atau rekaman audio; dan d) Pengerjaan tugas seperti makalah dituntut menyerahkan printout seperti mahasiswa lainnya (Kemenristekdikti, 2017).Selanjutnya adalah modifikasi pembelajaran untuk disabilitas rungu meliputi: a) Memperbanyak bahan ajar yang bersifat visual; b) Tidak memalingkan wajah dari disabilitas rungu kerena mereka mendapat informasi dari gerakan bibir; c) Mahasiswa disabilitas rungu duduk paling depan; d) Hindari ucapan yan terlalu cepat dan kalimat kompleks; e) Dianjurkan menggunakan metode demonstrasi, peragaan, atau praktek langsung; f) Disabilitas rungu diperbolehkan menjelaskan pikirannya dengan menggunakan bahasa isyarat dan/atau tulis; g) Menyediakan interpreter bahasa isyarat (Kemenristekdikti, 2017).Modifikasi pembelajaran untuk mahasiswa disabilitas daksa, yaitu: a) Memodifikasi atau mensubstitusi pembelajaran yang menuntut aktivitas motorik; b) Memberikan tugas alternatif sesuai kemampuan disabilitas; c) Hendaknya ditempatkan ada posisi yang memudahkan mereka melakukan mobilitas; d) Lingkungan fisik dan peralatan kelas harus ditata sehingga memungkinkan kursi roda melakukan mobilitas (Kemenristekdikti, 2017).Modifikasi pembelajaran untuk mahasiswa autis dan gangguan perhatian, meliputi: a) Tingkat dan karakteristik autistik sangat beragam sehingga menyebabkan kebutuhan layanan khusus bersifat individual; b) Mahasiswa autis pada umumnya membutuhkan dukungan sosial yang berfungsi membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan; c) Dosen harus siap dengan segala kemungkinan perilaku yang ditunjukkan oleh mahasiswa autis, misalnya menyela pembicaraan, tertawa keras, dll; d) Pre-university briefing. Sebelum perkuliahan dimulai, mahasiswa autis hendaknya mendapatkan orientasi dalam berbagai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam perkuliahan; e) Peer Support Service. Setiap mahasiswa autis dan gangguan perhatian hendaknya dilengkapi dengan seorang atau beberapa teman yang berfungsi menjadi teman mentor untuk menolong mereka bersosialisasi dan mengikuti perkuliahan; f) Counseling Service. Universitas perlu menyediakan konselor bagi mahasiswa dengan autis dan gangguan perhatian ynag dapat diakses kapan saja; g) Diberikan peluang atau kesempatan untuk menentukan tempat khusus (cenderung sama setiap belajar), tidak dituntut untuk komunikasi dua arah, dan menyelesaikan tugas dengan waktu yang tidak terbatas (Kemenristekdikti, 2017).Uraian diatas menjelaskan bahwa mahasiswa disabilitas berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu di perguruan tinggi. Pendidikan yang bermutu memerlukan efisiensi dan efektivitas yang dapat diperoleh dengan orientasi terhadap pendidikan inklusi. Hal ini membutuhkan peran berbagai pihak dalam pemberian layanan pendidikan sesuai dengan Panduan Layanan Mahasiswa Disabilitas di Perguruan Tinggi Tahun 2017 yang diterbitkan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Tahun 2017. Secara empiris studi pendahuluan yang sudah dilakukan peneliti melalui kegiatan observasi didapati perkuliahan mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi negeri inklusif masih belum benar-benar terlaksana dengan baik. Ditunjukkan dengan kesulitan komunikasi, mobilitas, dan akses belajar yang dialami oleh mahasiwa disabilitas. Temuan inilah yang melatar belakangi penulis untuk melakukan sebuah penelitian Kegiatan Perkuliahan Mahasiswa Disabilitas dalam Perguruan Tinggi Negeri Inklusif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan dalam penyelenggaraan perkuliahan mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi. METODEPendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan jenis studi kasus dan rancangan multi situs (Moleong, 2013: 4). Peneliti menggunakan complete participant observation (Sugiyono, 2013:227), in depth interview (Sutopo, 2006:72), dan studi dokumentasi (Mulyana, 2001: 195). Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder (Bungin, 2001:128). Peneliti juga melakukan triangulasi metode dan triangulasi sumber (Denzin, 2009). Teknik analisis data dilakukan dengan tiga langkah, yaitu kondensasi data (data condensation), menyajikan data (data display), dan menarik simpulan atau verifikasi (conclusion drawing and verification) (Miles dkk, 2014:14). Lokasi penelitian dilakukan di Universitas Negeri Malang dan Universitas Brawijaya. Penelitian ini dimulai pada bulan Februari 2019. HASILPerguruan tinggi negeri inklusif memiliki unit khusus yang memberikan layanan terhadap disabilitas. Unit tersebut berupa Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) atau Unit Kegitan Mahasiswa (UKM) Diadakan kegiatan disability awareness untuk para dosen di perguruan tinggi. Pada kegiatan tersebut disampaikan bahwa di dalam penyusunan kurikulum tenaga pendidik harus mempertimbangkan keberadaan mahasiswa disabilitas dimana mereka memiliki kemampuan yang berbeda. Tidak ada pengelolaan akademik yang khusus untuk mahasiswa disabilitas Tentang bagaimana pelayanan di kelas adalah tergantung kebijakan dosen. Apabila disabilitas mengalami kesulitan dapat menghubungi dosen di luar kelas.Kurikulum ditentukan oleh program studi masing-masing. Kurikulum tersebut juga dibuat standard dan tidak bisa membuat kurikulum khusus karena standard yang digunakan sama Tidak ada kurikulum yang bisa mengakomodasi seluruh mahasiswa di dalam kelas inklusif. Mahasiswa disabilitas harus menyesuaikan kurikulum mahasiswa non disabilitas. Untuk mengakomodir hal tersebut, diupayakan materi yang disampaikan sedapat mungkin diterima oleh mahasiswa disabilitas secara optimal. Mahasiswa disabilitas netra diberikan file-file, diberikan teknik evaluasi dengan mengerjakan pada laptop, dan diperkenankan untuk didampingi oleh volunteer. Sudah ada upaya pendampingan, tapi pendampingan belum memberikan banyak pengaruh terhadap perkembangan mahasiswa disabilitas. Banyak capaian pembelajaran yang secara konten materi belum begitu sampai ke mahasiswa disabilitas. Mahasiswa disabilitas netra dan daksa umumnya dapat mencapai tujuan pembelajaran dengan baik. Tetapi untuk mahasiswa disabilitas rungu mungkin tidak seperti mahasiswa yang lain.Perguruan tinggi menggunakan standard kelulusan yang sama bagi setiap mahasiswa baik disabilitas maupun non disabilitas. Apabila dinyatakan tidak lulus maka kompetensinya belum tercapai sehingga diharuskan mengulang lagi. Hanya saja, dalam pengerjaannya dia dibantu oleh pendamping dan tutor. Unit memberikan banyak akomodasi untuk aktivitas perkuliahan Mahasiswa disabilitas mengalami masalah dalam lingkup perkuliahan yang disebabkan oleh kondisi lingkungan yang kurang akomodatif terhadap kedisabilitasannya. Contoh konkrit yang terjadi adalah seorang mahasiswa disabilitas netra harus menyelesaikan tugas statistik dan tugas keterampilan yang melibatkan indera visual seperti menggambar. Karenanya, dosen memberinya izin untuk digambarkan oleh temannya Masalah perkuliahan yang dialami oleh disabilitas selama ini dibantu oleh volunteer. Pendampingan ini merupakan bentuk usaha yang dibuat untuk mengakomodasi kebutuhan mahasiswa disabilitas. Kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan berkomunikasi dan memahami materi dalam perkuliahan. Menurut hasil wawancara yang dilakukan kepada salah satu volunteer, dia mendampingi mahasiswa disabilitas sesuai dengan kebutuhan disabilitas tersebut. Apsbila mendampingi mahasiswa disabilitas netra, dia mencatat poin-poin penting yang disampaikan oleh dosen. Ketika dosen menampilkan video, volunteer menjelaskan isi videonya dengan jelas dan detail. Poin-poin yang dicatat volunteer akan dijelaskan di akhir perkuliahan apabila diperlukan. Berbeda dengan mendampingi disabilitas netra, pendampingan terhadap disabilitas rungu biasanya dilakukan dengan cara mencatat, karena beberapa volunteer tidak begitu bisa bahasa isyarat. Tetapi, selama volunteer bisa berisyarat untuk beberapa kata, maka dia akan melakukannya Disabilitas autis mengalami permasalahan sosial seperti tidak tidak ada teman sekelas yang mengajak bicara dan dia sibuk dengan dunianya sendiri. Kondisi ini berdampak pada bagaimana pembagian kelompok di dalam sebuah perkuliahan menjadi tidak efektif karena tidak ada yang ingin satu kelompok dengan disabilitas autis tersebut. Ketidakfokusan yang dialami oleh disabilitas autis juga berpengaruh pada seberapa banyak dia menerima meteri, sehingga volunteer selalu mengingatkan untuk terus mendengarkan dosen dan mencatat hal-hal yang penting di dalam perkuliahan Dosen tidak memberikan layanan khusus kepada mahasiswa disabilitas. Volunteer lah yang dimaksimalkan dalam memberikan akomodasi untuk membantu mahasiswa disabilitas menyelesaikan tuntutan-tuntutan yang diberikan oleh universitas. Selain itu, kurikulum dan standard kelulusan mahasiswa disabilitas sama dengan kurikulum dan standard kelulusan mahasiswa non disabilitas. Hal ini bertujuan untuk menjaga konsistensi kredibilitas lulusan Perguruan Tinggi sehingga output yang dihasilkan adalah lulusan yang berkualitas tanpa terkecuali. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa disabilitas beragam, ada yang mampu mengikuti dan ada yang kesulitan mengikuti perkuliahan. Hal tersebut dinilai wajar karena mahasiswa non disabilitas pun juga bisa mengalaminya. Namun, volunteer dan unit tetap berusaha memberikan akomodasi secara maksimal. PEMBAHASANKeterbatasan yang dialami oleh mahasiswa disabilitas mengharuskan adanya upaya modifikasi cara dan atau alat sehingga memungkinkan mereka mengikuti perkuliahan dengan baik. Adapun modifikasi pembelajaran untuk disabilitas netra meliputi: a) Perangkat pembelajaran disediakan dalam bentuk braille atau soft copy; b) Memperbanyak informasi secara verbal; c) Pengerjaan soal evaluasi menggunakan braille, laptop, atau rekaman audio; dan d) Pengerjaan tugas seperti makalah dituntut menyerahkan printout seperti mahasiswa lainnya (Kemenristekdikti, 2017).Kurikulum ditentukan oleh program studi masing-masing. Kurikulum tersebut juga dibuat standard dan tidak bisa membuat kurikulum khusus karena standard yang digunakan sama Tidak ada kurikulum yang bisa mengakomodasi seluruh mahasiswa di dalam kelas inklusif. Mahasiswa disabilitas harus menyesuaikan kurikulum mahasiswa non disabilitas. Untuk mengakomodir hal tersebut, diupayakan materi yang disampaikan sedapat mungkin diterima oleh mahasiswa disabilitas secara optimal. Mahasiswa disabilitas netra diberikan file-file, diberikan teknik evaluasi dengan mengerjakan pada laptop, dan diperkenankan untuk didampingi oleh volunteer. Dosen sudah memberikan modifikasi metode dan alat untuk mahasiswa disabilitas netra sesuai dengan Kemenristekdikti tahun 2017.Selanjutnya adalah modifikasi pembelajaran untuk disabilitas rungu meliputi: a) Memperbanyak bahan ajar yang bersifat visual; b) Tidak memalingkan wajah dari disabilitas rungu kerena mereka mendapat informasi dari gerakan bibir; c) Mahasiswa disabilitas rungu duduk paling depan; d) Hindari ucapan yan terlalu cepat dan kalimat kompleks; e) Dianjurkan menggunakan metode demonstrasi, peragaan, atau praktek langsung; f) Disabilitas rungu diperbolehkan menjelaskan pikirannya dengan menggunakan bahasa isyarat dan/atau tulis; g) Menyediakan interpreter bahasa isyarat (Kemenristekdikti, 2017). Perkuliahan mahasiswa disabilitas rungu sudah mengupayakan adanya pendampingan tetapi pendampingan belum memberikan banyak pengaruh terhadap perkembangan mahasiswa disabilitas. Sehingga banyak capaian pembelajaran yang secara konten materi belum begitu sampai ke mahasiswa disabilitas. Menurut hasil observasi peneliti yang dilakukan secara partisipatif, mahasiswa disabilitas rungu ada yang duduk di bangku tengah dan ada yang duduk di bangku depan tergantug pada masing-masing individu. Pendamping mencatat dan sedikit mengisyaaratkan penjelasan dosen. Penjelasnanya melalui power point dan papan tulis berupa tabel dan rumus-rumus sehingga mahasiswa disabilitas rungu juga dapat mengikuti dengan baikModifikasi pembelajaran untuk mahasiswa disabilitas daksa, yaitu: a) Memodifikasi atau mensubstitusi pembelajaran yang menuntut aktivitas motorik; b) Memberikan tugas alternatif sesuai kemampuan disabilitas; c) Hendaknya ditempatkan ada posisi yang memudahkan mereka melakukan mobilitas; d) Lingkungan fisik dan peralatan kelas harus ditata sehingga memungkinkan kursi roda melakukan mobilitas (Kemenristekdikti, 2017).Menurut hasil observasi partisipatif di kelas mahasiswa disabilitas daksa pembelajaran yang menuntut aktivitas motorik dimodifikasi berupa kurikulum yang disubstitusi. Ketika mahasiswa lain bermain basket, mahasiswa disabilitas daksa diminta berlari saja. Seain itu, dosen juga menggantinya dengan tugas. Apabila ada kelas yang tidak dapat diakses, dilakukan lobbying dengan tenaga kependidikan maupun kelas lain yang bersangkutan.Permasalahan yang terjadi cenderung pada bagaimana mobilitas mahasiswa disabilitas daksa dari satu tempat ke tempat lain Meskipun sudah dibangunn bidang miring pad trotoar, disabilitas dakasa sulit menjangkaunya sendiri karena terlalu curam.Modifikasi pembelajaran untuk mahasiswa autis dan gangguan perhatian, meliputi: a) Tingkat dan karakteristik autistik sangat beragam sehingga menyebabkan kebutuhan layanan khusus bersifat individual; b) Mahasiswa autis pada umumnya membutuhkan dukungan sosial yang berfungsi membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan; c) Dosen harus siap dengan segala kemungkinan perilaku yang ditunjukkan oleh mahasiswa autis, misalnya menyela pembicaraan, tertawa keras, dll; d) Pre-university briefing. Sebelum perkuliahan dimulai, mahasiswa autis hendaknya mendapatkan orientasi dalam berbagai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam perkuliahan; e) Peer Support Service. Setiap mahasiswa autis dan gangguan perhatian hendaknya dilengkapi dengan seorang atau beberapa teman yang berfungsi menjadi teman mentor untuk menolong mereka bersosialisasi dan mengikuti perkuliahan; f) Counseling Service. Universitas perlu menyediakan konselor bagi mahasiswa dengan autis dan gangguan perhatian ynag dapat diakses kapan saja; g) Diberikan peluang atau kesempatan untuk menentukan tempat khusus (cenderung sama setiap belajar), tidak dituntut untuk komunikasi dua arah, dan menyelesaikan tugas dengan waktu yang tidak terbatas (Kemenristekdikti, 2017).Mahasiswa autis tidak didampingi dengan alasan tidak mau didampingi. Ada juga yang dikarenakan dosen tidak berkenan mahasiswa didampingi oleh volunteer. Berdasarkan wawancara tidak terstruktur yang dilakukan di sela kegiatan bersama disabilitas autis, dia menyadari bahwa dirinya autis dan menghendaki untuk didampingi, tetapi karena dosen tidak mengizinkan maka yang terjadi adalah volunteer yang satu kelas dengannya mendampingi tanpa terlihat mencolok. Berdasarkan hasil observasi pun terlihat ada sedikit perilaku maladaptif yang muncul pada saat dia mulai bosan. Tidak ada teman sekelas yang mengajak bicara. Dia sibuk dengan dunianya sendiri. Kondisi ini berdampak pada bagaimana pembagian kelompok di dalam sebuah perkuliahan menjadi tidak efektif karena tidak ada yang ingin satu kelompok dengan disabilitas autis tersebut. Beberapa mahasiswa autis sulit menyerap materi. Terbukti pada saat ujian dia tidak dapat mengerjakannya dengan baik sehingga volunteer memberikan clue untuk menjawabnya. Tetapi untuk beberapa volunteer yang sabar dia memberikan jawaban atas dasar kemanusiaan. Mahasiswa autis juga pernah tantrum di kelas. Pada proses perkuliahan, dosen tidak memberikan layanan khusus kepada mahasiswa disabilitas. Unit yang dimaksimalkan dalam memberikan akomodasi dalam bentuk apapun untuk membantu mahasiswa disabilitas menyelesaikan tuntutan-tuntutan yang diberikan oleh universitas. Selain itu, kurikulum dan standard kelulusan mahasiswa disabilitas sama dengan kurikulum dan standard kelulusan mahasiswa non disabilitas. Hal ini bertujuan untuk menjaga konsistensi kredibilitas lulusan sehingga output yang dihasilkan adalah lulusan yang berkualitas tanpa terkecuali. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan mahasiswa disabilitas beragam, ada yang mampu mengikuti dan ada yang kesulitan mengikuti perkuliahan. Volunteer dan Unit tetap berusaha memberikan akomodasi secara maksimal. PENUTUPKegiatan perkuliahan mahasiwa disabilitas di perguruan tinggi negeri inklusif sudah cukup sesuai dengan Buku Panduan Layanan Disabilitas oleh Kemenristekdikti tahun 2017. Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki untuk menjadikan perguruan tinggi negeri inklusif menjadi lebih baik. KesimpulanAdapun kesimpulan dari penelitian tentang kegiatan perkuliahan mahasiswa disabilitas di perguruan tinggi inklusif, meliputi:1.Kurikulum dan Standar kelulusan antara mahasiwa disabilitas dan mahasiswa non disabilitas sama.2.Mahasiwa disabilitas mendapatkan akomodasi dan modifikasi. Akomodasi tersebut berupa materi softfile, volunteer, dan pemilihan ruangan yang akses. Modifikasi tersebut berupa modifikasi metode perkuliah
PENINGKATAN KEMAMPUAN BINA DIRI MAKAN MELALUI MEDIA VIDEO UNTUK ANAK TUNAGRAHITA KELAS IV DI SDLB PEMBINA TINGKAT NASIONAL BAGIAN C MALANG
ABSTRAKSafitri, Dian Anggreni. 2019 Peningkatan Kemampuan Bina Diri Makan Melalui Media Video Untuk Anak Tunagrahita Kelas IV di Sdlb Pembina Tingkat Nasional Bagian C Lawang. Skripsi, Jurusan pendidikan luar biasa, fakultas ilmu pendidikan, universitas negeri malang. Pembimbing (1) Drs. Abdul Huda M.Pd, (2) dr.Agung Kurniawan, M.Kes Kata Kunci: Media video, Bina diri, TunagrahitaTunagrahita adalah anak yang mempunyai kemampuannintelektual di bawah rata-rata dan ditandai oleh keterbatasannintelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial. Namun mereka dapat dilatih untuk mengurusi dirinya sendiri serta dapat melakukan fungsi sosial kemasyarakatan menurut kemampuannya. Penelitian ini menggunakan video animasi sebagai media pembelajarannya, agar saat siswa menontonya menjadi lebih bersemangat dan menyenangkan. Pada media video ini berisi tentang tata cara makan yang baik dan benar.Penelitian ini bertujuan untuk:(1) mendeskripsikan bagaimana kemampuan makan siswa tunagrahita saat fase baseline1 (A1),(2) mendeskripsikan kemampuan makan siswa tunagrahita saat fase intervensi (B),(3) mendeskripsikan bagaimana kemampuan makan siswa tunagrahita siswa tunagrahita saat fase baseline2 (A2),(4) menganalisis efektifan media video dalam meningkatkan kemampuan bina diri makan siswa tunagrahita.Metode penelitian yang digunakan adalah Pendekatan kuantitatif dan metode yang digunakan adalah metode Eksperimen subjek tunggal atau lebih di kenal dengan istilah “Single Subject Research (SSR)”. Desain yang digunakan adalah desain A-B-A. subjek penelitian ini adalah siswa tunagrahita kelas IV SDLB Pembina Tingkat Nasional Bagian C Lawang. Teknik pengumpulan data menggunakan Teknik observasi berbentuk task analysis. Data analisis yang digunakan adalah analisis dalam kondisi dan analisis antar kondisi.Hasil penelitian menunjukan bahwa kemampuan baseline1 cendrung rendah yaitu antara 57,4% sampai 58,9%, kemampuan bina diri siswa tunagrahita fase intervensi (B) cenderung lebih tinggi dari baseline 1dengan nilai rentang 76,47% sampai 89,70%, sementara baseline2 lebih rendang dari intervensi (B) namun lebih tinggi dari baseline 1 yaitu dengan rentang nilai 82,35% sampai 86,76%. Presentase overlap pada penelitian ini menunjukan hasil 0% yang artinya bahwa intervensi dengan menggunakan media video memiliki pengaruh baik dalam peningkatan kemampuan bina diri makan anak tunagrahita. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan media video dapat meningkatkan kemampuan bina diri makan anak tunagrahita kelas IV. dengan demikian guru diharapkan dapat menggunakan hasil dari penelitian untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam bina diri diri agar siswa dapat meningkatkan kemampuan pengembangan dirinya
PENGARUH MEDIA BONEKA MANUSIA TERHADAP KEMAMPUAN MENGENAKAN PAKAIAN BAGI PESERTA DIDIK TUNAGRAHITA KELAS II DI SDLB BC KEPANJEN KABUPATEN MALANG
ABSTRAKRisfi, Latifah Maudy, 2019. Pengaruh Media Boneka Manusia Terhadap Kemampuan Mengenakan Pakaian Bagi Peserta Didik Tunagrahita Kelas II SDLB BC Kepanjen. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Drs. Abdul Huda, M.Pd, (II) Drs. Usep Kustiawan, M.Pd. Kata Kunci : tunagrahita, kemampuan bina diri, media boneka manusiaTunagrahita adalah individu yang memiliki atau mempunyai kecerdasan di bawah rata- rata anak pada umumnya yang disertai ketidak mampuan dalam bersosial, penyesuaian diri dengan lingkungan sekitar. Bina diri adalah suatu program khusus yang membangun untuk anak berkebutuhan khusus menjadi lebih baik sebagai individu. Peneliti menemukan permasalahan pada anak tungarhita masih kurang mampu dalam aspek mengunakan pakaian secara mandiri.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan metode eksperimen dengan bentuk Single Subject Research (SSR) serta menggunakan desain A-B-A. Desain A-B-A yang terdiri dari tiga tahapan yaitu baseline- 1 (A1) atau kondisi awal sebelum diberikan treatment, kondisi intervensi (B) atau treatment yang sedang diberikan, dan kondisi baseline -2 (A2) atau kondisi setelah diberikan treatment.Hasil penelitian menunjukkan ada peningkatan kemampuan dilihat dari Data pada kondisi baseline-1 data cenderung stabil dengan rentang (54,5-56,81) begitu pada kondisi intervensi (B) data meningkat dengan rentang (65,91-77,27), dan kondisi baseline-2 (A2) data cenderung stabil dengan rentang (84,09-93,18). Dengan perolehan tersebut dinyatakan bahwa data kecenderungan stabilitas adalah 100% (data stabil). Kesimpulan pada penelitian ini bahwa dinyatakan adanya pengaruh dalam penggunaan media boneka manusia dengan kemampuan Bina Diri mengenakan pakaian. Saran yang diberikan kepada sekolah dan guru, dapat memberikan pembelajaran dan media untuk kegiatan pembelajaran Bina Diri agar anak memenuhi kebutuhan sehari-harinya untuk mengurangi adanya keinginan meminta pertolongan terhadap orang lain
Pengembangan Buku Panduan Budidaya Hortikultura untuk Meningkatkan Keterampilan Vokasional Anak Tunarungu di SMALB
RINGKASAN Maulida, Dinda Ayu. 2019. Pengembangan Buku Panduan Budidaya Hortikultura untuk Meningkatkan Keterampilan Vokasional Anak Tunarungu di SMALB. Skripsi. Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Abdul Huda, M.Pd., (II) Drs. Ahmad Samawi, M.Hum. Kata Kunci: Pendidikan Vokasional, Buku Panduan, Budidaya Hortikultura, Tunarungu Pendidikan vokasional merupakan pendidikan yang menyiapkan dan mengembangkan SDM agar mampu bekerja secara profesional. Penerapan pendidikan vokasional di tingkat SMALB lebih ditekankan pada keterampilan vokasional peserta didik. Salah satu keterampilan vokasional yang bisa diterapkan untuk siswa SMALB adalah budidaya hortikultura. Menurut PKLK budidaya hortikultura dapat diterapkan pada siswa tunarungu. Hambatan pada indra pendengaran membuat siswa tunarungu mengalami kesulitan pada pemerolehan informasi materi yang diberikan guru. Oleh sebab itu, untuk memaksimalkan indra lainnya peneliti mengembangkan bahan ajar yang dapat digunakan anak tunarungu selama pembelajaran budidaya hortikultura. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan buku panduan budidaya hortikultura yang bisa dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam mencapai tujuan pembelajaran serta memudahkan siswa tunarungu untuk meningkatkan keterampilan vokasioal khususnya dibidang budidaya sayuran. Selain itu, tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah untuk menguji produk yang akan dibuat serta melihat tingkat kevalidan, kemenarikan, dan keefektivan produk. Pengembangan ini mengadaptasi langkah-langkah model pengembangan Borg and Gall yang terdiri dari 10 tahapan, kemudian dimodifikasi menjadi 7 tahap. Subjek penelitian terdiri dari 2, yaitu 4 validator dan 4 siswa tunarungu SMALB YP2 Kedungkandang. Uji coba penelitian terdiri dari 2 bagian yaitu tahap individu dan tahap kelompok. Instrumen penelitian adalah pedoman wawancara, angket terbuka dan tertutup, lembar pengamatan, lembar penilaian, serta tes pengetahuan. Analisis data dibagi menjadi analisis data kuantitatif dan kualitatif. Hasil pengembangan menunjukkan tingkat kevalidan sangat layak digunakan oleh siswa tunarungu di SMALB YP2 Kedungkandang. Hasil penilaian dari ahli materi menunjukkan angka 95% dengan krtieria sangat valid. Hasil penilaian dari ahli media adalah 98,3% dengan krtieria sangat valid. Hasil penilaian dari ahli praktisi adalah 77,5% dengan kriteria valid. Hasil penilaian dari ahli pembelajaran adalah 89,5% dengan krtieria sangat valid. Hasil belajar siswa pada kelompok kecil mendapatkan hasil 78,1% dengan kriteria cukup efektif, sementara itu rata-rata hasil belajar siswa pada kelompok besar mendapatkan hasil 83,4% dengan kriteria efektif. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu produk yang dihasilkan mendapatkan hasil efektif dilihat dari hasil belajar siswa, sementara itu tingkat keefisienan produk menunjukkan kriteria sangat layak dilihat dari rata-rata hasil penilaian para ahli. Saran yang diajukan adalah: (1) guru hendaknya memberikan latihan unjuk kerja secara praktik, serta tidak melupakan materi secara teori, (2) peneliti selanjutnya dapat mengembangakan buku panduan dalam berbagai kompetensi pembelajaran dan keragaman subjek serta materi
Motivasi Berprestasi Mahasiswa Disabilitas dalam Mengikuti Organisasi Kemahasiswaan di Universitas Negeri Malang
RINGKASAN Suraji. 2019. Motivasi Berprestasi Mahasiswa Disabilitas dalam Mengikuti Organisasi Kemahasiswaan di Universitas Negeri Malang. Skripsi. Program Studi Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. H. Mohammad Efendi, M. Pd, M.Kes., (II) Dr. Henry Praherdhiono, S.Si, M.Pd. Kata Kunci: motivasi berprestasi, mahasiswa disabilitas dan organisasi kemahasiswaan Mahasiswa merupakan seorang agent of change untuk bangsa indonesia. Negara bisa berkembang, memiliki prestasi yang banyak, dan SDM yang cerdas itu semua tergantung pada mahasiswa bagaimana mereka menempa diri untuk bisa mengharumkan negara Indonesia. Peran pendidikan perguruan tinggi dalam menyiapkan calon sarjana adalah membekalinya dengan kemampuan hard skill dan soft skill. Mahasiswa disabilitas dalam menyiapkan bekal untuk terjun di kalangan masyarakat luas mereka membutuhkan kemampuan soft skill, kemampuan ini mereka dapatkan salah satunya dengan mengikuti organisasi kemahasiswaan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana motivasi berprestasi mahasiswa disabilitas dalam mengikuti organisasi kemahasiswaan. Penelitian ini dilakukan dengan kualitatif. Tahapan dalam penelitian ini meliputi tahap wawancara dan pengisian lembar angket. Wawancara dilakukan peneliti untuk memperoleh data umum tentang pengetahuan organisasi kemahasiswaan dan pelengkap dari angket. Sedangkan angket digunakan untuk mengetahu data mendalam dari mahasiswa disabilitas yang mengikuti organisasi kemahasiswaan, jumlah pernyataan angket sebanyak 32 pernyataan dan pertanyaan. Penelitian ini dilakukan di Universitas Negeri Malang pada mahasiswa disabilitas. Responden merupakan mahasiswa aktif di organisasi kemahasiswaan dengan klasifikasi disabilitas yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa disabilitas memiliki tingkat motivasi yang tergolong tinggi dalam mengikuti organisasi kemahasiswaan. Motivasi yang mempengaruhi mahasiswa disabilitas aktif dalam organisasi kemahasiswaan merupakan motivasi ekstrinsik dari teman sejawat. Organisasi kemahasiswaan yang di ikuti oleh mahasiswa disabilitas tergolong sudah memiliki tingkat disability awareness yang cukup baik. Organisasi kemahasiswaan yang awareness merupakan organisasi yang menerima mahasiswa disabilitas apa adanya serta mencoba untuk menciptakan lingkungan yang ramah disabilitas
implementasi pembelajaran bagi siswa tunagrahita ringan (studi kasus) di kelas inklusi SD Anak Saleh Malang
ABSTRAK Ilmi, Alfiatul Dita, 2019.Implementasi Pembelajaran Bagi Siswa Tunagrahita Ringan (Studi Kasus) di Kelas Inklusi SD Anak Saleh Malang. Skripsi, jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbig: (I) Dra. Sudarsini, M.Pd (II) Eka Pramono Adi, S. IP, M. Si Kata Kunci: Pembelajaran, Tunagrahita Ringan, Pendidikan Inklusi Berdasarkan hasil observasi peneliti di SD Anak Saleh Malang di kelas inklusi, dari penelitian lapangan yang di dapat saat pembelajaran bahwa terdapat siswa tunagrahita ringan mampu latih di kelas V bernama HZ. Implementasi pembelajaran HZ di kelas inklusi memerlukan modifikasi pembelajaran dengan menyederhanakan perangkat pembelajaran dari RPP dan PPI. Tujuannya adalah mengoptimalkan kemampuan dan perkembangan diri yang dimiliki HZ. Dan komponen pembelajaran yang perlu di modifikasi meliputi materi, metode, media pembelajaran. Dalam pendidikan inklusi di SD Anak Saleh Malang berusaha memberikan pembelajaran akademik maupun non akademik (pengembangan diri) sesuai dengan kebutuhan HZ. Selain itu untuk mencapai tujuan dalam perkembangan HZ terdapat kolaborasi dari lingkungan sekolah dan luar sekolah. Seperti Koordinator Inklusi, guru kelas, GPK, terapis serta orang tua HZ. Penelitian ini bertujuan (1) Mendiskripsikan implementasi pembelajaran bagi siswa tunagrahita ringan (Studi Kasus) di kelas inklusi SD Anak Saleh Malang, dan (2) Mendiskripsikan faktor pendukung dan faktor penghambat dalam implementasi pembelajaran bagi siswa tunagrahita ringan (Studi Kasus) di kelas inklusi SD Anak Saleh Malang. Metode penelitian menggunakan penelitian deskriptif kualitatif desain studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk mengetahui hasil penelitian menggunakan analisis data dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian studi menunjukkan bahwa SD Anak Saleh Malang memiliki komitmen dalam pendidikan inklusi untuk penerimaan siswa berkebutuhan khusus yang berkolaborasi dengan, koordinator inklusi, guru kelas, GPK, terapis dan orang tua. Faktor pendukung yaitu lingkungan sekolah menerima keadaan siswa tunagrahita ringan. Faktor penghambat dari lingkungan sekolah yang membuat HZ tidak mood belajar. karena lingkungan juga sangat mempengaruhi kondisi HZ
Pengaruh Penggunaan Strategi Think-Talk-Write (TTW) Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Teks Ekposisi Siswa Kelas VII Tunagrahita Ringan Di SMPLB Negeri Malang
ABSTRAK Sari, Widya 2018. Pengaruh Penggunaan Strategi Think-Talk-Write (TTW) Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Teks Eksposisi Siswa Kelas VII Tunagrahita Ringan di SMPLB Negeri Malang. Skripsi S1 PLB, Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra.Sudarsini, M.Pd, (2) Eka Pramono Adi, S.IP, M.Si. Kata Kunci: Tunagrahita Ringan, membaca pemahaman, Think-Talk-Write (TTW) Membaca merupakan kemampuan pemahaman ide baik tersirat maupun tersurat. Keterampilan membaca merupakan salah satu aspek berbahasa yang sangat penting untuk dikuasai oleh siswa tunagrahita ringan. Dalam memperoleh informasi yang disajikan dalam bahasa tulis dibutuhkan suatu keterampilan khusus, yaitu dengan membaca pemahaman. Kemampuan membaca pemahaman siswa akan terlihat jika dikaitkan dengan penguasaan jenis teks bacaan tertentu, salah satunya adalah jenis teks eksposisi. Namun siswa tunagrahita ringan belum menguasai keterampilan membaca pemahaman ini. Untuk itu dibutuhkan strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa. Strategi pembelajaran yang dapat diterapkan adalah Think-Talk-Write (TTW). Tujuan penelitian ini adalah : (1) untuk mengetahui kemampuan membaca pemahaman teks eksposisi siswa tunagrahita ringan sebelum dan sesudah diberikan strategi Think-Talk-Write (TTW), (2) untuk mengetahui pengaruh penggunaan strategi Think-Talk-Write (TTW) terhadap kemampuan membaca pemahaman teks eksposisi siswa kelas VII tunagrahita ringan di SMPLBN Malang. Penelitian ini menggunakan metode Quasi Experiment dengan time series design, dengan rincian O1-O4 pre-test untuk mengukur kemampuan membaca pemahaman teks eksposisi sebelum menggunakan strategi Think-Talk-Write (TTW) dan O5-O8 post-test untuk mengukur kemampuan membaca pemahaman teks eksposisi sesudah menggunakan strategi Think-Talk-Write (TTW). Hasil penelitian menunjukkan perolehan rata-rata pada saat pre-test sebesar 43, sedangkan perolehan rata-rata saat post-test mengalami peningkatan sebesar 74. Dari data tersebut dapat dinyatakan bahwa adanya pengaruh penggunaan strategi Think-Talk-Write (TTW) adalah bentuk intervensi terhadap kemampuan membaca pemahaman teks eksposisi. Saran dalam penelitian ini adalah kepada: (1) guru, agar dapat menerapkan strategi Think-Talk-Write sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa tunagrahita ringan, (2) peneliti selanjutnya, diharapkan dapat mengembangkan penelitian serupa dengan menggunakan strategi Think-Talk-Write (TTW)
Pengaruh Brain Gym Terhadap Konsentrasi Belajar Pada Kegiatan Terapi Autis di SLBS BCG Idayu Kota Malang
ABSTRAK Khasanah, Rina. 2018. Pengaruh Brain Gym terhadap Konsentrasi Belajar pada Kegiatan Terapi Siswa Autis di SLBS BCG Idayu Kota Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. M. Shodiq A.M, M.Pd, (II) Sopingi, S.Sos, M.Pd. Kata Kunci: brain gym; konsentrasi belajar; autis Menurut observasi awal peneliti di SLBS BCG Idayu Malang, siswa yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa autis “DA” yang mempunyai sikap aktif atau banyak gerak. Kelebihan siswa tersebut sudah bisa melakukan kontak mata dengan baik, siswa juga sudah dapat memegang pensil dengan baik tetapi dalam menulis tulisannya besar dan kurang jelas, dalam membaca dan pengucapan kata dan/angka siswa kurang jelas pada pelafalannya, tetapi yang menjadi perhatian adalah pada konsentrasi siswa yang mudah teralihkan pada orang atau benda disekitarnya. Siswa tersebut memiliki konsentrasi yang rendah hanya sekitar 1 sampai 2 menit saja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskrispsikan pelaksanaan brain gym pada kegiatan terapi siswa autis dan mendeskripsikan pengaruh brain gym terhadap konsentrasi belajar pada kegiatan terapi siswa autis. Rancangan penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen menggunakan rancangan Single Subject Research (SSR) dengan desain A-B-A-B. Subjeknya adalah satu siswa autis “DA” yang melakukan terapi di SLBS BCG Idayu Kota Malang. Instrumennya berupa tes. Pada saat terapi siswa diamati konsentrasi belajarnya dan peneliti mencatat perilaku yang diamati sesuai dengan pernyataan yang ada pada lembar instrumen. Analisis datanya berdasarkan kondisi yaitu mean, level, trend, dan latency. Dari penelitian yang telah dilakukan, siswa merasa senang dan dapat mengikuti instruksi dari terapis dengan baik. Siswa dapat melakukan gerakan awal dan 5 gerakan brain gym dengan baik tetapi dia merasa kesulitan saat memutar pinggul pada gerakan the rocker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh brain gym terhadap konsentrasi belajar siswa autis pada kegiatan terapi di SLBS BCG Idayu Kota Malang yang ditunjukkan dengan mean yang naik dari kategori rendah menjadi tinggi. Levelnya bernilai positif yang artinya terdapat peningkatan perilaku. Trend pada semua fase menunjukkan adanya peningkatan. Tidak terdapat latency pada penelitian dikarenakan tidak ada nilai yang sama antara sesi terakhir satu fase dengan sesi awal fase selanjutnya. Selain berpengaruh terhadap konsentrasi belajar, hasil juga menunjukkan adanya pengaruh pada perhatian yang meningkat, sikap yang membaik dan daya ingat yang meningkat. Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar terapis dapat mempelajari dan menerapkan brain gym kepada siswa untuk mengembalikan rasa lelah dan bosan siswa menjadi senang agar dapat melakukan terapi kembali. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat melanjutkan penelitian tentang pengembangan metode untuk meningkatkan konsentrasi belajar siswa berkebutuhan khusus terutama siswa autis