4897 research outputs found
Sort by
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUGAN DENGANPEMBERIAN MP-ASI PADA BADUTA USIA 6-24 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MAMBORO
ABSTRAK
INDRIYANI 2023, Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian MP-ASI Pada Baduta usia6-24 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas Mamboro. (dibimbing oleh Nurulfuadi).
Makanan atau nutrisi yang tidak seimbang akan menyebabkan terjadinya kekurangan zat gizi. Apabila asupan zat gizi tidak adekuat atau kekurangan zat gizi pada anak tidak segera ditangani akan menyebabkan peningkatan risiko kesakitan serta kematian anak. Masalah gizi kurang maupun gizi buruk dapat diatasi dengan memberikan asupan zat gizi yang baik serta kebutuhan zat gizi anak harus terpenuhi. World Health Organization (WHO) mengemukakan bahwa anak-anak yang berusia kurang dari lima tahun, lebihdari 45% mengalami kurus dan hampir 22% anak sangat kurus serta lebih dari 32% kejadian obesitas di dunia pada tahun 2018. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan menggunakan desain Cross Sectional. Sampel dalam penelitian iniadalah baduta usia 6-24 bulan yang berada di wilayah kerja puskesmas Mamboro dan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan ibu dengan pemberian MP-ASI (0.000), ada hubungan antara pekerjaan ibu dengan pemberian MP-ASI (0.079), tidak ada hubungan antara pendapatan keluarga dengan pemberian MP-ASI (0.650), ada hubungan antara sikap ibu dengan pemberian MP-ASI (0.098), ada hubungan antara dukungan keluarga dengan pemberian MP-ASI (0.075), ada hubungan antara sosial budaya dengan pemberian MP-ASI (0.000). Pemberian makanan pendamping mesti tepat pada waktunya, tercukupi dan sesuai yang artinya setiap bayi mulai mendapatkan MP-ASI mulai usia 6 bulan kedepan. Bayi harus mendapatkan MP-ASI untuk mencegah terjadinya gizi kurang pada anak. Kekurangan gizi dapat terjadi apabila dalam memberikan MP-ASI pada anak tidak sesuai. Kepada ibu ataupun keluarga untuk memahami pemberian MP-ASI pada bayi yang mulai memasuki 6 bulan, karena MP-ASI membantu memenuhi kebutuhan gizi pada bayi.
Kata Kunci : MP-ASI, Pengetahuan Ibu, Pekerajan Ibu, Sikap Ibu, Dukungan Keluarg
PERILAKU IBU TERHADAP KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MARAWOLA KECAMATAN MARAWOLA KABUPATEN SIGI
ABSTRAK
ADYSTI RAMADHANTI. Perilaku Ibu Terhadap Kejadian stunting Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Marawola Kecamatan Marawola Kabupaten Sigi (di bawah bimbingan Herman Kurniawan).
Peminatan Promosi Kesehatan
Program Studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat
UniversitasTadulako
Stunting merupakan permasalahan gizi utama yang diderita oleh bayi di Indonesia dan dapat disebabkan kurangnya asupan nutrisi yang adekuat pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Perilaku Ibu Terhadap Kejadian Stunting Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Marawola Kecamatan Marawola Kabupaten Sigi. Metode penelitian yang digunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Informan penelitian sebanyak 11 informan yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor predisposisi perilaku ibu tentang pengetahuan tentang gizi dan stunting masih sangat kurang, karena informan tidak dapat menjawab dengan tepat pengertian stunting, cara pencegahan dan dampak dari stunting, bahkan ada informan yang tidak mengetahui sama sekali tentang stunting. Hal tersebut membuat sikap ibu tidak peduli terhadap gizi anak. Faktor pendukung perilaku ibu terhadap stunting sudah cukup baik dilihat dari sarana dan prasarana yang tersedia serta pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas Marawola. Faktor pendorong variable dukungan tenaga kesehatan dapat dikatakan baik karena petugas kesehatan selalu memberikan dukungan berupa edukasi dan motivasi kepada ibu dari masa kehamilan hingga menyusui. Sedangkan pada variable dukungan keluarga bisa dikatakan sangat kurang hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan keluarga mengenai stunting dan bagaimana pencegahan stunting itu sendiri. Saran dalam penelitian ini yaitu puskesmas bekerja sama dengan perangkat desa untuk sering melakukan sosialisasi tentang stunting pada seluruh masyarakat.
Kata Kunci: Perilaku, Stunting, Pengetahuan, Tenaga Kesehata
HUBUNGAN STATUS GIZI TERHADAP GANGGUAN SIKLUS MENSTRUASI PADA MAHASISWI PREKLINIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO ANGKATAN 2021
Hubungan Status Gizi Terhadap Gangguan Siklus Menstruasi pada Mahasiswi Preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako
Angkatan 2021
Hasriyana *, Rahma Badaruddin**, Sumarni**, Mohammad Zainul Ramadhan***
*Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
**Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
***Departemen Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Latar Belakang: Menstruasi merupakan suatu perdarahan secara periodik dan siklik yang berasal dari uterus disertai deskuamasi endometrium. Menstruasi dinilai berdasarkan tiga hal yaitu siklus menstruasi, lama menstruasi, dan jumlah darah menstruasi. Terdapat tiga jenis gangguan siklus menstruasi terdiri dari amenorea, polimenorea dan oligomenorea. Menstruasi dikatakan normal bila didapatkan siklus menstruasi, tidak kurang dari 24 hari dan tidak melebihi 35 hari, lama menstruasi 3-7 hari, dengan jumlah darah selama menstruasi berlangsung tidak melebihi 80 ml atau ganti pembalut 2-6 kali per hari. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi siklus menstruasi yaitu status gizi. Seorang wanita dengan masalah gizi dapat memberikan dampak terhadap kondisi kesehatannya, salah satunya adalah terganggunya regulasi hormonal yang berperan dalam siklus menstruasi. Keadaan ini akan memicu gangguan saat menstruasi, salah satunya yakni dismenore.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan desain cross sectional study. Populasi pada penelitian ini adalah Mahasiswi Preklinilik Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako angkatan 2021. Teknik pengambilan sampel dengan metode simple random sampling dan didapatkan sampel sebanyak 86 responden yang merupakan Mahasiswi Preklinilik Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako angkatan 2021 yang masuk kriteria inklusi. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner. Analisis statistik menggunakan uji chi-square yang akan dianalisis menggunakan program komputer SPSS.
Hasil: Pada penelitian ini menunjukkan hubungan secara statistik antara status gizi terhadap gangguan siklus menstruasi pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako angkatan 2021 dengan nilai ρ-value = 0,000 (α < 0,05).
Kesimpulan: Terdapat hubungan antara status gizi terhadap gangguan siklus menstruasi pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako angkatan 2021.
Kata Kunci: Gangguan Siklus Menstruasi, Status Giz
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ADEAN KABUPATEN BANGGAI LAUT
ABSTRAK
BASO ALFIRMANSYAH. Faktor – Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Adean Kabupaten Banggai Laut
Peminatan Promosi Kesehatan
Program Studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Tadulako
2023
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan linear yang dapat ditunjukan melalui pengukuran z-score tinggi badan menurut umur (TB/U). Stunting diakibatkan karena malnutrisi asupan gizi kronis atau penyakit infeksi kronis. Dari 13 kabupaten/kota di Sulawesi Tengah, prevalensi balita Stunting tertinggi pada tahun 2020 yaitu di Kabupaten Banggai Laut sebesar 20,8%. Prevalensi Stunting Puskesmas Adean sebesar 26%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang menyebabkan terjadinya Stunting di wilayah kerja puskesmas Adean kabupaten banggai laut. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian Case Control. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 81 orang dengan teknik Stratifaid Random Sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, data dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan antara Pemberian ASI, Waktu Pemberian, Riwayat Penyakit Infeksi, Praktek Kesehatan Dasar, Hygiene Sanitasi Lingkungan, Pengetahuan Gizi dengan kejadian Stunting di wilayah kerja Puskesmas Adean Kabupaten Banggai Laut. Variabel Praktek Kesehatan Dasar merupakan variabel yang paling berhubungan dengan nilai OR= 7.158. Saran untuk pihak Puskesmas Adean untuk menetapkan kebijakan dan program yang dapat dibentuk dalam upaya menurunkan kejadian Stunting kepada ibu tentang Pemberian ASI, Waktu Pemberian MP-ASI, riwayat penyakit infeksi, praktek kesehatan dasar, dan hygiene sanitasi lingkungan, pengetahuan gizi ibu.
Kata Kunci : Stunting, Balita, Paktek Kesehatan Dasa
HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK, OBESITAS DAN HIPERTENSI DENGAN KEJADIAN DIABETES MELITUS DI PROVINSI SULAWESI SELATAN (SURVEI DATA IFLS 5)
ABSTRAK
NURWAHIDAH. Hubungan Aktivitas Fisik, Obesitas dan Hipertensi dengan Kejadian Diabetes Melitus di Provinsi Sulawesi Selatan (Survei Data IFLS 5) (dibawah bimbingan Marselina)
Peminatan Epidemiologi
Program Studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Tadulako
Indonesia menghadapi beban ganda penyakit yaitu penyakit menular disertai kemunculan penyakit tidak menular (PTM). Perubahan pola penyakit terjadi karena perubahan perilaku masyarakat, transisi demografi, teknologi, ekonomi dan sosial budaya. Diabetes melitus merupakan salah satu PTM yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Faktor risiko PTM dan diabetes diantaranya perokok aktif, kurang asupan buah dan sayur, aktivitas fisik kurang, hipertensi dan indeks massa tubuh. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik, obesitas dan hipertensi dengan kejadian diabetes melitus di provinsi Sulawesi Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian yaitu responden IFLS 5 yang diwawancara berdasarkan diagnosis penyakit diabetes pada provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 1315 orang. Jumlah sampel tersebut diperoleh setelah melakukan teknik pengolahan data. Teknik pengambilan sampel penelitian yaitu menggunakan total sampling. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara hipertensi (ρ=0,000) dengan kejadian diabetes melitus di provinsi Sulawesi Selatan, adapun faktor yang tidak berhubungan yaitu aktivitas fisik (ρ=0,085) dan obesitas (ρ=0,936). Kepada masyarakat yang berisiko terkena diabetes, disarankan untuk menjalankan pola hidup sehat yaitu rutin beraktivitas fisik, menjaga pola makan serta rutin memeriksakan kesehatan ke puskesmas terdekat.
Kata Kunci : Diabetes Melitus, Aktivitas Fisik, Obesitas, Hipertens
UJI EFEK ANTIPIRETIK EKSTRAK ETANOL DAUN KELOR (Moringa oleifera) PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DI INDUKSI VAKSIN DPT
UJI EFEK ANTIPIRETIK EKSTRAK ETANOL DAUN KELOR (Moringa oleifera) PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR (Rattus norvegicus) YANG DI INDUKSI VAKSIN DPT
* Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
** Departemen Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako, Indonesia
Amalia Syafrida*, Christin Rony Nayoan**
ABSTRAK
Latar Belakang: Demam atau pireksia dapat didefinisikan sebagai keadaan suhu di atas kisaran normal karena peningkatan setpoint suhu inti tubuh. Demam disebabkan oleh gangguan pada homoeostasis termal dan setpoint termal yang disebabkan oleh sitokin pirogenik, sebagai respons tubuh terhadap adanya peradangan dan infeksi. World Health Organization menunjukan jumlah kasus demam di dunia mencapai 16-33 Juta dengan kasus kematian sekitar 500.000-600.000 kasus per tahun. Paracetamol sebagai pilihan obat pertama dalam penanganan nyeri dan inflamasi pada penggunaan jangka panjang dan dengan dosis yang tinggi, memiliki berbagai efek samping antara lain pada sistem kardiovaskular, respirasi dan hepatotoxic. Di Indonesia pengobatan tradisional masih diminati masyarakat sampai saat ini. Salah satu tanaman yang paling sering di gunakan di Indonesia adalah kelor (Moringa oleifera L). Tanaman kelor diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder (flavonoid, saponin, tanin, alkaloid) yang dapat berpotensi sebagai antipiretik.
Tujuan: Mengeteahui efek antipiretik ekstrak etanol daun kelor (Moringa oleifera) dan dosis paling efektif dari ekstrak daun kelor sebagai penurun demam pada tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus) yang telah di induksi Vaksin DPT.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode Eksperimental dengan rancangan Pre-posttest with control group design. Sebanyak 30 tikus sebagai sampel dan terbagi atas 6 kelompok. Sebelum dilakukan penelitian tikus adaptasikan dan dipuasakan selama 8 jam, setelah itu dilakukan pengukuran suhu rektal sebelum diberikan perlakuan selanjutnya 5 kelompok tikus di induksi vaksin DPT dan dilakukan pengukuran suhu setalah 2 jam di induksi vaksin dan dilakukan pengukuran kembali setiap 30 menit hingga menit ke-180.
Hasil: Terdapat hasil signifikan pada setiap kelompok yang dinilai dari adanya perbedaan suhu yang bermakna pada setiap kelompok. Hasil signifikan didapatkan pada kelompok tanpa perlakuan banding dosis 100mg/KgBB dan 400mg/KgB. Serta kontrol negatif banding dosis 200mg/KgBB dan 400mg/KgBB
Kesimpulan: Berdasarkan hasil temuan klinis dan uji statistik disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun kelor (Moringa oleifera) dapat bersifat sebagai agen antipiretik terhadap tikus putih jantan galur wistar (Rattus norvegicus) yang telah di induksi vaksin DPT, dan yang memiliki sifat antipiretik yang efektif adalah dosis ekstrak kelor 200mg/KgBB.
Kata Kunci: Demam, ekstrak daun kelor, paracetamo
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN KALORI DAN PROTEIN TERHADAP PERTAMBAHAN BERAT BADAN IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANTOLOAN
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN KALORI DAN PROTEIN TERHADAP PERTAMBAHAN BERAT BADAN IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANTOLOAN
Arifah Mawaddah1, Sumarni2, Tri Setyawati3, Ryka Marina Walanda3
1Mahasiswa Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako 2Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako 3Departemen Biokimia, Fakultas Kedokteran, Universitas Tadulako
ABSTRAK
Pendahuluan: Masa kehamilan adalah fase yang memerlukan perhatian khusus dalam segi kebutuhan energi dan zat gizi lainnya. Asupan gizi ibu hamil dilihat dari pertambahan berat badan selama kehamilan. Asupan kalori dan protein ibu merupakan energi yang terkandung dalam makanan yang berfungsi menjaga keseimbangan berat badan, memberikan peluang baik bagi kehamilan, dan berperan dalam penumpukan lemak di bagian tubuh ibu.
Tujuan: Mengetahui Hubungan Antara Asupan Kalori Dan Protein Terhadap Pertambahan Berat Badan Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Pantoloan.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan kohort prospektif. Teknik pengambilan sampel yaitu simple random sampling dengan total 60 wanita hamil trimester II dan III di wilayah kerja Puskesmas Pantoloan.
Hasil: Pada penelitian didapatkan asupan kalori ibu hamil yang termasuk kurang sebanyak 52 orang (86,7%), sesuai 8 orang (13,3%). Asupan protein ibu hamil yang termasuk kategori kurang sebanyak 38 orang (63,3%), sesuai 13 orang (21,7%), dan lebih 9 orang (15%) di wilayah kerja Puskesmas Pantoloan. Pertambahan berat badan ibu hamil berdasarkan kriteria IOM, kategori kurang 17 orang (28,3%), sesuai 1 orang (1,7%), lebih 42 orang (70%). Tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan kalori dan protein terhadap pertambahan berat badan ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Pantoloan dengan nilai p=0,299 dan p=0,088 (p>0,05).
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan signifikan antara asupan kalori dan protein terhadap pertambahan berat badan ibu hamil di wilayah Kerja Puskesmas Pantoloan.
Kata Kunci: Asupan Kalori, Asupan Protein, Berat Bada
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TALISE
ABSTRAK
NI KADEK ELGI CINTIYANI. Faktor yang berhubungan dengan Kejadian Pneumonia pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Talise (di bawah bimbingan Dilla Srikandi Syahadat)
Peminatan Epidemiologi
Program Studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Tadulako
Sampai saat ini, penyakit pneumonia merupakan penyebab utama kematian balita di dunia. Diperkirakan ada 1,8 juta atau 20% dari kematian anak diakibatkan oleh pneumonia. Puskesmas Talise merupakan salah satu puskesmas yang menyumbangkan kejadian pneumonia yang cukup tinggi. Data penyakit pneumonia di puskesmas Talise mengalami fluktuasi dari tahun 2018, yaitu 208 kasus dengan prevalensi sebesar 4,2%, pada tahun 2019 terdapat 221 kasus prevalensinya sebesar 4,7% dan pada tahun 2020 ada 75 kasus prevalensinya sebesar 1,5%. Tujuan penelitian ini untuk mengalanisis faktor risiko kejadian pneumonia pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Talise. Jenis penelitian observasional analitik dengan desain Cross Sectional. Populasi dalam penelitian ini yaitu balita yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Talise tahun 2020 sebanyak 828 balita. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 225 orang. Data dianalisis dengan univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian bahwa variabel pemberian ASI eksklusif (p=0,000), status imunisasi (p=0,003), dan kepadatan hunian kamar (p=0,000) berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Talise. Disarankan kepada pihak Puskesmas lebih aktif melakukan penyuluhan mengenai pneumonia, dan meningkatkan program ASI eksklusif, imunisasi serta rumah sehat agar mengurangi angka kejadian pneumonia pada balita.
Kata Kunci : ASI Eksklusif, Imunisasi, Kepadatan Hunian, Pneumoni
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA REMAJA SELAMA MASA PANDEMI COVID-19 DI SMA KATOLIK SANTO ANDREAS KOTA PALU
ABSTRAK
ZHAFIRAH. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Obesitas pada Remaja Selama Masa Pandemi COVID-19 di SMA Katolik Santo Andreas Kota Palu (dibawah bimbingan Dilla Srikandi Syahadat).
Peminatan Epidemiologi
Program Studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Tadulako Palu
Obesitas mengalami peningkatan yang signifikan pada remaja selama masa pandemi COVID-19. Pada tahun 2010 prevalensi obesitas sebesar 11,70%. Tahun 2013 prevalensi obesitas pada remaja umur 16-18 tahun sebanyak 7,30%. Pada tahun 2018 meningkat menjadi 4%. Tiga tahun terakhir (2020-2022) kejadian obesitas mengalami peningkatan sebesar 0,6% di Kota Palu. Kejadian obesitas terbanyak berada di Puskesmas Kamonji pada tahun 2020 sebesar 1,1% dan mengalami peningkatan pada tahun 2021 sebesar 2,2% dan terus meningkat pada tahun 2022 sebesar 2,3%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian obesitas pada remaja selama masa pandemi COVID-19 di SMA Katolik Santo Andreas Kota Palu. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 135 orang dengan menggunakan total sampling sehingga sampel sebanyak 135 orang. Analisis data yang digunakan terdiri dari univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik (p=0,000), pola makan (p=0,026) dan penggunaan gadget (p=0,001) berhubungan dengan kejadian obesitas pada remaja selama masa Pandemi COVID-19. Adapun saran dalam penelitian ini adalah diharapkan agar pihak sekolah lebih mengedukasi tentang bahaya obesitas, cara pencegahannya dan faktor-faktor pemicunya dengan selalu mengingatkan para siswa dan siswi untuk tidak jajan berlebihan dan aktif dalam kegiatan olahraga di sekolah.
Kata Kunci: Aktivitas Fisik, Pola Makan, Penggunaan Gadget, Obesitas, Remaj
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESIAPSIAGAAN BENCANA PADA PETUGAS KESEHATAN DI PUSKESMAS SANGURARA KOTA PALU
ABSTRAK
NILUH WIDHY ASIH. Faktor yang Berhubungan dengan Kesiapsiagaan Bencana pada Petugas Kesehatan di Puskesmas Sangurara Kota Palu (di bawah bimbingan Dr. Muh. Ryman Napirah)
Peminatan Administrasi dan Kebijakan Kesehatan
Progam Studi Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Tadulako
Bencana adalah rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan masyarakat baik yang disebabkan oleh alam, non alam maupun faktor manusia. Pada tahun 2018 di laporkan terjadi peristiwa bencana alam di seluruh dunia yang mengakibatkan kematian sebanyak 11.804 orang, dan lebih dari 68 juta orang terdampak bencana. Kurangnya kesiapsiagaan petugas kesehatan dalam bencana menyebabkan kesulitan dalam mencegah dan mengurangi resiko bencana. Kota Palu termasuk salah satu kota dengan tingkat rawan bencana yang tinggi. Kejadian bencana alam yang terjadi di Kota Palu tahun 2018 banyak menelan korban dan jumlah korban tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Sangurara berjumlah 902 orang, diantaranya 707 korban meninggal dunia dan 195 korban dinyatakan hilang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa yang berhubungan dengan kesiapsiagaan bencana pada petugas kesehatan di Puskesmas Sangurara Kota Palu. Jenis Penelitian yaitu kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 83 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan sikap (p=0,035), rencana tanggap darurat (p=0,042), dan mobilisasi sumber daya (p=0,046) dengan kesiapsiagan bencana pada petugas kesehatan di Puskesmas Sangurara Kota Palu. Adapun saran dalam penelitian ini adalah diharapkan pihak Puskesmas melakukan simulasi terkait kesiapsiagaan bencana alam dan melakukan sosialisasi mengenai perencanaan bencana kepada petugas kesehatan.
Kata Kunci: Kesiapsiagaan Bencana, Petugas Kesehata