Resital: Jurnal Seni Pertunjukan
Not a member yet
292 research outputs found
Sort by
Apropriasi Seni Musik Gugah Sahur: Studi Kasus Tongklek Tuban dan Tong-Tong Madura
ABSTRACTThe Appropriation of Gugah Sahur Musical Art: A Case Study of Tongklek Tuban and Tong-Tong Madura. This study aims to identify the interrelation between Tongklek Tuban and Tong-tong Madura. Tongklek Tuban, which is a typical music art of Tuban, evolves from the Patrol art in the form of music created originally in Tuban Regency. Interestingly, at first glance, Tongklek Tuban seems to have similarities to Tong-tong art that develops in Madura. To examine both art work thoroughly in this study, the authors implemented qualitative approach, employing both the literature review and documentation techniques. The results of the study reveal that Tongklek Tuban has undergone various changes in its visual form in terms of costumes, equipment, and decorations. It takes both tangible and intangible property from Tong-tong Madura. Moreover, Tonglek Tuban is experiencing another development in terms of creativity reflected to the wheelbarrow used to push the iron xylophone. Over time, the wheelbarrow has undergone a very extraordinary change in shape. At this time, Tongklek Tuban music groups are competing to form their wheelbarrows which actually look like Madurese Tong-tong music. According to the results of the study, positively, appropriation between artworks can be interpreted both positively or negatively. On one hand, an adapted culture can develop through innovation, so that the culture can remain sustainable. On the other hand, negatively, the feelings of disapproval from the owners of the original culture could emerge since they feel that their culture is carried out as an addition to the artistic elements of the appropriating subject.ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana apropriasi dalam kesenian antara Tongklek Tuban dan Tong-Tong Madura. Kesenian yang diambil dalam penelitian ini adalah Tongklek Tuban dan Tong-Tong Madura. Kesenian Tongklek Tuban yang muncul berawal dari kesenian Patrol merupakan kesenian yang berkembang di Kabupaten Tuban. Sekilas Tongklek Tuban jika dilihat ada kesamaan dengan kesenian Tong-Tong yang berkembang di Madura. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan metode studi pustaka dan menggunakan teknik dokumen. Hasil penelitian menemukan bahwa Tongklek Tuban yang merupakan kesenian musik khas Tuban mengalami berbagai macam fase perubahan secara visual mulai dari kostum, peralatan yang digunakan, hingga dekorasi. Tongklek Tuban mengapropriasi secara tangible dan intangible dari Tong-tong Madura. Tongklek mengalami perkembangan lagi secara kreativitas yakni terkait gerobak dorong yang biasanya digunakan untuk mendorong gambang besi. Seiring berjalannya waktu gerobak dorong mengalami perubahan bentuk yang sangat luar biasa. Kini para grup musik Tongklek Tuban berlomba-lomba membentuk gerobak dorong mereka yang jika dilihat malah menyerupai musik Tong-tong Madura. Apropriasi dapat dimaknai secara positif maupun negatif. Secara positif, budaya yang di apropriasi mengalami perkembangan dengan inovasi sehingga budaya tersebut dapat tetap lestari. Sisi negatifnya adalah timbulnya rasa tidak terima dari pemilik budaya asal karena merasa budayanya diambil untuk digunakan sebagai penambah unsur seni subjek pelaku apropriasi
Gayutan Rondo Alla Turca Karya WA. Mozart sebagai Iringan dalam Film Amadeus
ABSTRACTThe Use of WA Mozart's Gayutan Rondo Alla Turca in the Film Amadeus. This study describes the interconnection of Rondo music as an accompaniment in Amadeus film to the melodic structure of scene footage produced by HD Film Tributes and explains the form of Rondo which consists of six parts involving displayed scene expressions. The authors implemented qualitative approach with descriptive method in which the authors conducted literature review as well as observation through musical scores and YouTube channel to attain thorough results of field studies and documentation. Furthermore, the authors also conducted an analysis that began with the description of the film structure of the Rondo Alla Turca musical composition. The analysis was carried out by observing each scene footage of used melodic structure to form feelings and aesthetics in the film. The results of the study reveal that the melodic structure used in each scene creates feelings and aesthetics in Amadeus film since musical accompaniment plays an essential role in conveying the story of the film. In addition, the role of musical accompaniment is inherently employed to highlight the tones in Rondo Alla Turca music and visuals have the ability to provide a deeper and more complex interpretation of emotional content in every scene of Amadeus.ABSTRAKKajian ini mendiskripsikan gayutan atau hubungan musik Rondo sebagai iringan dalam film Amadeus terhadap struktur melodi dengan cuplikan adegan yang diproduksi oleh HD Film Tributes dan bentuk Rondo yang terdiri dari enam bagian dengan ekspresi adegan yang ditampilkan. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif kualitatif dimana peneliti melakukan telaah pustaka, melakukan observasi melalui skor musik, channel youtube untuk mendapat hasil kajian lapangan yang optimal dan dokumentasi. Selain itu peneliti juga melakukan analisis yang dimulai dengan penjabaran struktur film terhadap komposisi musik Rondo Alla Turca. Analisis dilakukan dengan pengamatan antara setiap cuplikan adegan terhadap struktur melodi yang digunakan untuk membetuk perasaan dan estetika dalam film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur melodi yang digunakan dalam setiap cuplikan adegan membentuk perasaan dan estetika dalam film Amadeus, iringan musik memegang peranan penting dalam mengusung cerita film Amadeus, peran iringan musik secara inheren digunakan untuk menyoroti nada-nada dalam musik Rondo Alla Turca dan visual memiliki kemampuan untuk memberikan makna interpretasi konten emosional yang lebih dalam dan kompleks dalam setiap adegan fim Amadeus
Ketokohan dan Nilai-nilai Spritualitas Ajaran Sunan Kalijaga dalam Praktik Kesenian Karawitan di Kabupaten Demak
Ketokohan dan Nilai-nilai Spritualitas Ajaran Sunan Kalijaga dalam Praktik Kesenian Karawitan di Kabupaten Demak. Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk mengungkapkan ketokohan ataupun pengaruh Nilai-nilai spritualitas ajaran Sunan Kalijaga dalam praktek kesenian di Kabupaten Demak. Hal ini penting dilakukan, mengingat telah menjamurnya tokoh-tokoh dan ajaran atau falsafah barat yang lebih besar eksis di Indonesia, seolah Indonesia tidak mempunyai tokoh yang mewariskan falsafah/ajaran tertentu. Harapannya penelitian ini, bisa menjawab ketimpangan penggunaan falsafah/ajaran barat itu khususnya dalam bidang seni. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis kualitatif. Dengan teknik pengumpalan data melalui observasi partisipatif, wawancara, dan studi pustaka. Adapun dalam analisis data, menggunakan model Miles & Huberman. Pertama, temuan dalam penelitian ini adalah, karya gending karawitan ciptaan Yusuf Sofyan pengurus Sanggar Seni Mulyo Sari Raras di Kabupaten Demak yang terinspirasi dari kisah hidup Wali sanga khususnya Sunan Kalijaga. Kedua, temuan falsafah murni Sunan Kalijaga dalam menjalani hidup bersosial maupun berkesenian yang diinformasikan oleh keturunan beliau
GITA SEWANA: Strategi Penciptaan Musik pada Masa Pandemi
ABSTRACT On December 2, 2020, the Department of Ethnomusicology, Faculty of Performing Arts, ISI Yogyakarta, showcased faculty works entitled "Knitting the Tones of Nusantara" (Merajut Nada Nusantara). The event was broadcasted online via YouTube. The students presented five works during the proceedings, one of which was Gita Sewana. This paper aims to elaborate on Gita Sewana as a case study related to the process of artistic creativity during the pandemic. Two subjects are explored in this research: the methods used for Gita Sewana and their application to creative work in general. The research data is taken from the author's experience during the process of Gita Sewana's creation and the video documentation of the event. The results of this study are presented through analytical and descriptive methodologies. These results demonstrate that the method used in the composition of Gita Sewana is based on the Panca Sthiti Ngawi Sani concept. The concept was applied to create Gita Sewana and adapted to the COVID-19 pandemic, referring to planning and performance activities. This work provides a model for music creation strategy during the pandemic.ABSTRAK Jurusan Etnomusikologi Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta pada penghujung tahun 2020, tepatnya tanggal 2 Desember, melangsungkan gelar karya dosen bertajuk “Merajut Nada Nusantara”. Kegiatan tersebut disiarkan secara daring melalui platform youtube. Ada lima karya yang ditampilkan dalam acara tersebut, salah satunya adalah Gita Sewana. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap karya Gita Sewana sebagai studi kasus berkaitan proses kreativitas seni pada masa pandemi. Ada dua hal yang digali dalam penelitian yaitu metode yang digunakan dalam penciptaan Gita Sewana dan aplikasinya dalam proses penciptaan karya. Data penelitian bersumber dari pengalaman pada saat proses karya Gita Sewana dan dokumentasi pertunjukan. Hasil penelitian disajikan dengan metode deskriptif analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode yang digunakan dalam proses karya Gita Sewana adalah metode Panca Sthiti Ngawi Sani. Tahap perencanaan sampai pada tahap pertunjukan dalam metode tersebut, diaplikasikan dalam proses penciptaan karya Gita Sewana dengan beradaptasi pada situasi pandemi Covid-19, sebagai strategi penciptaan musik pada masa pandemi
Orkestra sebagai Peristiwa Mediasi: Jakarta City Philharmonic, Tubuh dan Materialitas
The Covid-19 virus has infiltrated the recesses of human life around the world. The phenomenon that arises from restrictions on movement in offline spaces is the massive effort by humans to adapt to online media. We can see many artists and musicians performing through various digital platforms, including the Jakarta City Philharmonic (JCP) orchestra. This article will describe the changing process of orchestral space-time in online media which has eliminated bodily interactions as an essential element in musical performances. Through contemporary anthropology, we argue that technology allows orchestras to exist as mediating events through their role as mediators; which reassembles the connections and negotiations between the body and the materiality of the orchestra. The virtual ethnographic method was used through online observations and in-depth interviews with artistic directors, assistant musicians, and orchestra musicians. The results showed that the JCP orchestra experienced an embodied experience arising from technological disassembly and reassembly as a connecting tissue. It can be seen from the relation between actants, and their implications for evaluating artistic values and performativity of orchestral performances
Konsep Kempel dalam Keprakan dan Dhodhogan pada Pergelaran Wayang Golek Menak Gaya Yogyakarta
ABSTRACT The Concept of Kempel in Keprakan and Dhodhogan in Yogyakarta-style Menak Wooden Puppet Show. KKeprakan and dhodhogan are two of the accompaniments in Menak wooden puppet show in Yogyakarta. The term keprakan is derived from the essential word ‘keprak’ which refers to the principle of form, material, variety, and technique of creating sounds from the iron plates pounded by using cempala made from iron or wood. The term dhodhogan is taken from the root ‘dhog’ which refers to the sound produced by iron or wood that is pounded on kothak. The term kempel has meaning as ‘whole’ and ‘blend into one’. Further, in the context of keprakan, its meanings is that the sound created is harmonically integrated with the movement of the puppet and the motif of kendhangan. This study aims to disclose the pattern of keprakan and dhodhogan to produce a sense of kempel in supporting the aesthetic expression of puppet characters and the scenes’ ambiences. The author collected the data through direct participation, in-depth interviews, and observations of recordings of Menak puppet show in which Sukarno as the puppeteer. The data analysis was conducted to draw a conclusion as a result of an investigation of the relationship among the pattern of both keprakan and dhodhogan; the movement diversity of puppet characters; and the motif of kendhangan. According to the results, it can be stated that the design of keprakan and dhodhogan in Menak wooden puppet show in Yogyakarta consists of two styles – the one is free style and the other is bound style. The sense of kempel lies in the accuracy of keprakan and dhodhogan diverse sound combinations in relation to the movement varieties of puppet figures incorporated with the motif of kendhangan.ABSTRAK Keprakan dan dhodhogan adalah salah satu bagian dari iringan pergelaran wayang golek Menak gaya Yogyakarta. Istilah keprakan dari kata dasar keprak menunjuk pada persoalan bentuk, bahan, ragam, serta teknik menghasilkan bunyi dari lempengan besi yang dipukul menggunakan cempala berbahan besi maupun kayu. Istilah dhodhogan diambil dari kata dasar dhog yang menunjuk pada bunyi yang dihasilkan cempala besi atau kayu yang dipukul pada kothak. Kosa kata kempel mempunyai makna utuh dan melebur menjadi satu, dalam konteks keprakan maknanya bahwa bunyi yang dihasilkan menyatu dengan gerak wayang dan motif kendhangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pola keprakan dan dhodhogan untuk menghasilkan rasa kempel dalam mendukung ekspresi estetis tokoh wayang maupun suasana adegan. Data diperoleh melalui partisipasi terlibat, wawancara mendalam, serta pengamatan terhadap rekaman pergelaran wayang golek Menak dengan dalang Ki Sukarno. Analisis dilakukan untuk mendapatkan simpulan berdasarkan telaah terhadap relasi antara pola keprakan dan dhodhogan dengan ragam gerak tokoh wayang serta motif atau pola kendhangan. Berdasarkan hasil penelitian dapat dijelaskan bahwa pola keprakan dan dhodhogan dalam pergelaran wayang golek Menak gaya Yogyakarta terdiri dari dua ragam, yaitu ragam bebas dan ragam berpola. Rasa kempel terletak pada ketepatan dalam memadukan ragam bunyi keprakan dan dhodhogan sesuai dengan ragam gerak tokoh wayang yang menyatu dengan motif kendhangan
Jaap Kunst Legacies: A Site of Forgetting, Remembering and History-Making
ABSTRACT The study interrogate and reconfigure the project of disclosing the heritage of ethnomusicologist Jaap Kunst. Jaap Kunst recorded a lot of Indonesian music while living in Indonesia from 1919-1934. The teaching material and the development of ethnomusicology concepts as knowledge based on the sound record and his research experience. Now, after nearly 100 years, the Musicology Department of University van Amsterdam is initiating the opening of the Jaap Kunst legacy that has not yet been published. Because this heritage is related to Indonesia's cultural history and memory, University van Amsterdam collaborates with academics from Indonesia and trying to find support from the Indonesian government. This study introduces philosophical approaches to reflection: critical, hermeneutic, and finally phenomenological. Reveal the dynamic relationship between Jaap Kunst legacies as a historical artifact and a site of forgetting, remembering, and history-making. How were the memory and identity stored in the Jaap Kunst materials reinterpreted in the postcolonial era? How is ethnomusicology addressing this matter related to shaping the colonial knowledge into the various subject positions? This paper is discussed with a retrospective approach in which individuals are sampled and information is collected about their past. Through interviews in some participants are asked to recall important events, or by identifying relevant administrative data to fill in information on past events and circumstances. With that method I assumed that tracking down Kunst's legacy was like taking a vacation at grandma's house, bringing back all the memories but not necessarily related to the present. ABSTRAK Tulisan ini menginterogasi dan mengonfigurasi ulang proyek pembukaan warisan etnomusikolog yang Bernama Jaap Kunst. Jaap Kunst merekam banyak musik Indonesia selama tinggal di Indonesia dari tahun 1919-1934 dan menjadikan sebagai bahan ajar serta pengembangan konsep etnomusikologi sebagai ilmu pengetahuan berdasar rekaman suara dan pengalaman penelitiannya. Kini, setelah hampir 100 tahun, Departemen Musikologi Universitas Amsterdam memprakarsai pembukaan warisan Jaap Kunst yang belum sempat dipublikasikan. Warisan ini terkait dengan sejarah dan ingatan budaya Indonesia, Universitas Van Amsterdam bekerja sama dengan akademisi dari Indonesia dan berusaha mencari dukungan dari pemerintah Indonesia. Tulisan ini memperkenalkan pendekatan filosofis untuk refleksi: kritis, hermeneutik, serta fenomenologis. Mengungkapkan hubungan dinamis antara warisan Jaap Kunst sebagai artefak sejarah dan situs melupakan, mengingat, dan membuat sejarah. Bagaimana ingatan dan identitas yang tersimpan dalam materi Jaap Kunst diinterpretasikan ulang di era pascakolonial? Bagaimana etnomusikologi menyikapi hal ini terkait dengan pembentukan pengetahuan kolonial ke dalam berbagai posisi subjek? Pembahasan dalam tulisan ini menggunakan pendekatan retrospektif di mana individu diambil sampelnya dan dikumpulkan informasi tentang masa lalunya. Melalui wawancara beberapa partisipan diminta untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa penting, atau dengan mengidentifikasi data administrasi yang relevan untuk mengisi informasi tentang peristiwa dan keadaan masa lalu. Dengan cara itu dapat diasumsikan menelusuri peninggalan Kunst seperti berlibur ke rumah nenek, membawa kembali semua kenangan tapi tidak harus terkait dengan masa kini
Peran Emosi dalam Interpretasi Musikal Musisi untuk Meningkatkan Kinerja Estetis: Studi Kasus Pada Pemain Cello dan Gitar
ABSTRACT The complex task in musical performance sometimes makes musicians get an unsatisfactory evaluation. On the other hand, the structural approach to music itself, which is believed to be a fundamental tool for musical interpretation, has not clear yet how its capacities could become the basis for translating written notes into musical sounds. Moreover, music is experienced not exclusively as a mere structure and sound event but also participated as a subjective event. This study, therefore, explores the role of musicians' personal experiences, particularly emotions, in shaping musical interpretation. It uses a qualitative method with a comparative approach. The approach is used to investigate how emotion can mediate the transformation of written notes into musical sounds. A comparison of two cases of interpretation on the cellist and the guitar player is held to explain if there are differences in the interpretation process of the two groups of musicians. The result of this study shows that, firstly, emotional experience gained in the socialization of everyday emotions plays an essential role in understanding music. Secondly, after musicians can apprehend the feeling in the musical structure, they can manifest them into an acoustic code that has an iconic relationship with the emotional content of the musical form. And thirdly, emotional experience posts as the basis for translating structural information into meaningful sound.ABSTRAK Rumitnya tugas atau peran pemain musik membuat musisi terkadang mendapat evaluasi yang kurang memuaskan dari pendengar. Di sisi lain, pendekatan teoritis yang diyakini dapat menjadi alat bantu untuk menginterpretasi musik belum diketahui dengan jelas bagaimana musisi dapat menjadi basis dalam menerjemahkan nada-nada tertulis menjadi bunyi musikal. Padahal, musik dialami tidak hanya ekslusif sebagai peristiwa struktural dan bunyi semata, namun juga dialami sebagai peristiwa subjektif. Oleh sebab itu, penelitian ini mengeksplorasi peran pengalaman emosi subjektif pemain dalam membentuk interpretasi musikal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan komparatif. Pendekatan ini digunakan untuk mempelajari bagaimana emosi dapat menjadi perantara musisi dalam mentransformasi not tertulis menjadi bunyi musikal. Komparasi dua kasus interpretasi pada pemain cello dan pemain gitar dilakukan dalam rangka melihat apakah ada kemiripan dan perbedaan dalam proses menginterpretasi pada dua kelompok musisi intrumen yang berbeda. Hasilnya ditemukan bahwa pertama, pengalaman emosi yang diperoleh dalam sosialisasi emosi sehari-hari, berperan penting dalam memahami musik yang muatannya juga sarat dengan emosi. Kedua, setelah musisi dapat menangkap emosi yang terkandung dalam struktur musikal, musisi dapat merealisasikannya menjadi kode akustik yang memiliki relasi ikonikal dengan muatan emosi struktur musikal. Ketiga, pengalaman emosi menjadi basis dalam menterjemahkan informasi struktual menjadi bunyi yang bermakna
Membaca Praktik Musik Mamanda Kutai Lewat Ekosistem Musikal
ABSTRACT Mamanda Kutai (Ladon) music is a crucial aspect of Mamanda Kutai's performance. This is because, without the music, Mamanda Kutai is just an ordinary drama. Mamanda is a show originating from South Kalimantan. Mamanda arrived in East Kalimantan because Kutai was one of the areas controlled by the Banjarmasin Sultanate. The heyday of Mamanda Kutai occurred when this art was performed regularly by Kutainese society (not only in the Kutai Kartanegara Ing Maradipura Sultanate as the Karesmenan Aji). In its heyday, every village in Kutai Kartanegara had Mamanda Kutai group. Nowadays, there is only one group left, namely Mamanda Panji Berseri. This study aims to find out how to preserve Mamanda Kutai music by the Mamanda performer and the government. This study used a descriptive analysis method by collecting several sources of text and interview. The sustainability of Mamanda Kutai has degenerated in terms of the existing group’s quantity. This is due to the lack of preservation of the Mamanda Kutai musical ecosystem. Some of the challenges faced by Mamanda Kutai are (1) the lack of teachers with cultural literacy; (2) the lack of economic welfare of the Kutai Mamanda performer; (3) the absence of the documentation of this art; and (4) the lack of broadcasting of Mamanda Kutai's performances. ABSTRAK Musik Mamanda Kutai (Ladon) menjadi aspek yang sangat penting pada pertunjukan Mamanda Kutai. Hal ini dikarenakan, tidak adanya Musik Mamanda Kutai maka pertunjukan ini hanya sebagai drama biasa. Mamanda merupakan pertunjukan yang berasal dari Kalimantan Selatan. Mamanda sampai di Kalimantan Timur dikarenakan Kutai menjadi salah satu daerah yang dikuasai Kesultanan Banjarmasin. Masa kejayaan Mamanda Kutai pada saat kesenian ini dipertunjukan di masyarakat (tidak hanya di Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Maradipura sebagai Keresmenan Aji). Pada masa kejayaannya, setiap desa di Kutai Kartanegara memiliki kelompok Mamanda Kutai. Pada saat ini hanya tersisa satu kelompok saja, yaitu Mamanda Panji Berseri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara preservasi musik Mamanda Kutai oleh pelaku dan pemerintah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analisis dengan mengumpulkan beberapa sumber literasi dan data wawancara. Keberlanjutan Mamanda Kutai mengalami kemunduran dilihat dari kuantitas kelompok yang ada. Hal ini disebabkan oleh kurangnya preservasi ekosistem musikal dari Mamanda Kutai. Beberapa tantangan yang dihadapi Mamanda Kutai yaitu (1) kurangnya guru pembawa kebudayaan; (2) kurangnya kesejahteraan ekonomi para pelaku Mamanda Kutai; (3) tidak adanya pengarsipan dari kesenian ini; dan (4) kurangnya penyiaran pertunjukan Mamanda Kutai.
Lagu Salam Sahabat Anak Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Komposisi Tari
ABSTRACT. The series of beautiful, rhythmic and comical tones leave an impression of joy for the listeners. Once a musical work was auditive stimulated by Studio Omah Cangkem's entitled Salam Sahabat Anak, it prompted the birth of a dance work with the same title as the accompanying music. Following the title and the song's lyrics, the dance tells about the importance of making friends with children. The dance method of Jacqueline Smith was chosen to realize this dance design with the steps of dance design starting with listening and analyzing the structure of the song, which was identified as a varied composition of instrumental and vocals. The pattern of the musical framework and vocal variations became the basis for the selection of motifs and movement patterns and their variations. The concept of Creative Dance is also an option in this dance. The design aims to realize the Sahabat Anak dance, this pure dance type, to explore simple motion motifs according to the musical pattern. It is expected this simple dance can attract children's talents and encourage children to have a new perspective in which dancing is everyone's right; dancing is to set the heart; dance is for all; dance is an element of life; dancing makes life more beautiful, and dance makes life stronger to face various situations.ABSTRAK. Rangkaian nada indah, ritmik dan komikal meninggalkan kesan suka cita bagi pendengarnya. Dirangsang secara auditif dari karya musik Studio Omah Cangkem yang berjudul Salam Sahabat Anak, mendorong lahirnya karya tari yang diberi judul sama dengan musik pengiringanya. Sesuai dengan judul dan syair lagu yang terkandung di dalamnya maka tarian ini ini menceritakan tentang pentingnya bersahabat bagi anak-anak. Metode perancangan dimulai dengan mendengarkan, menganalisis struktur lagunya yang diidentifikasi sebagai sebuah komposisi bervariasi instrumental dan vokal. Pola kerangka musik dan variasi vocal menjadi landasan pemilihan motif dan pola gerak beserta variasinya serta konsep tari kreatif juga menjadi pilihan dalam perancangan karya ini. Perwujudan karya tari Sahabat Anak, bertipe tari murni dengan mengeksplor motif gerak sederhana sesuai pola musiknya. Harapan tarian sederhana ini dapat mengundang minat bakat anak dan mendorong anak memiliki citra baru bahwa menari itu hak siapa saja, menari itu menata hati, dance for all, dance as an element of life, menari itu membuat hidup lebih indah, membuat hidup lebih kuat menghadapi aneka situasi