Resital: Jurnal Seni Pertunjukan
Not a member yet
    292 research outputs found

    The Use of Growl Vocal Technique to Enhance Voice Quality in Singing Pop Songs

    Get PDF
    This study aims to provide solutions for students of Music Education Study Program of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta who face problems in singing pop songs, particularly to reach high notes. Growl is a kind of vocal technique for producing growling sounds. Initially, Growl vocal technique was used by metal or rock vocalists. However, this technique can be applied to pop songs as a variation. As a result, it can be functioned as a solution to reach high notes for the singers having low range of notes. This study focused on the process of practicing Growl vocal technique and the use of Growl when singing pop songs. The author implemented qualitative method emphasizing on cas study approach. The data collection was carried out through literature studies, observations, and interviews by selecting sample from the respondents engaging in this study case in which the subjects of the study were Pop Jazz vocal students in Music Education Study Program of Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta. The application of Growl Vocal Technique is highly efficacious when singing both low and high notes in legato manner. In addition, Growl can be an emphasis on the specific lines of song lyrics to convey the enotional meaning of that part. Furthermore, it also can be functioned as an alteration to create divergence of a singer in using vocal techniques when singing. It leads to a novelty that the use of Growl vocal technique can be said to be an aesthetic expression to make voice much more amusing.

    Aransemen Lagu Widodari Karya Denny Caknan sebagai Media Pembelajaran Musik Keroncong di SMK Negeri 8 Surakarta

    Get PDF
    SMK Negeri 8 Surakarta, a high-school level formal educational institution, focuses on preserving the values of local wisdom in globalization era through art education. One of the methods is strengthening character education through Keroncong music subjects. In this research, the action was done through the elaboration of local wisdom values in Keroncong music by arranging a popular song among millennials entitled Widodari by Denny Caknan. The objective of this research is examining the relationship between the arrangement of Widodari song by Denny Caknan as a medium for learning Keroncong music to preserve the values of local wisdom and as a form of character education at SMK Negeri 8 Surakarta. In this research, the author implemented descriptive qualitative approach using Miles and Huberman's interactive model as a data analysis technique. It included data collection, data reduction, data display, and conclusions: drawing/verifying. Through the arrangement of Widodari songs as a medium for learning Keroncong music, the results reveal that the values of local wisdom in Keroncong music are aesthetic values, mutual aid values, and tolerance values. All of them can be conveyed through musical aspects, such as harmony and ensemble play of each Keroncong instrument.SMK Negeri 8 Surakarta sebagai lembaga pendidikan formal memiliki konsentrasi dalam pelestarian nilai-nilai kearifan lokal di tengah arus globalisasi melalui pendidikan seni, salah satunya dengan menguatkan pendidikan karakter melalui mata pelajaran musik keroncong. Upaya yang dilakukan yaitu dengan mengelaborasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam Musik Keroncong dengan mengaransemen lagu yang popular dikalangan milenial, yaitu lagu Widodari karya Denny Caknan sebagai media pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut, artikel ini berfokus untuk mencermati relasi antara aransemen lagu Widodari karya Denny Caknan sebagai media pembelajaran musik keroncong dengan upaya pelestarian nilai-nilai kearifan lokal dan pendidikan karakter di SMK Negeri 8 Surakarta. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan model interaktif Miles & Huberman sebagai teknik analisis data yang memiliki komponen data collection, data reduction, data display, dan conclusions: drawing/verifying. Melalui aransemen lagu Widodari sebagai media pembelajaran musik keroncong, diperoleh hasil bahwa nilai-nilai kearifan lokal yang ada dalam musik keroncong seperti nilai estetika, nilai gotong royong, dan nilai toleransi dapat tersampaikan secara baik melalui aspek musikal, seperti harmoni dan permainan ansambel dari masing-masing instrumen keroncong

    Praktik Pertunjukan Musik Mandiri dalam Skena Metal Ekstrem

    Get PDF
    Independent Performance Practice in Extreme Metal Scene. Music performance, including extreme metal, is an integral part of music-based youth groups’ socio-cultural practices. The practice and meaning construction of music performance could not be considered as stagnant, but dynamic in its relationship with surrounding objective structure. In order to understand the meaning construction upon music performance, specifically within the extreme metal scene, this research focuses on the dynamics of independent music performance practice in Yogyakarta in the contemporary neoliberal era. This research was based on re-interpretation of ethnographic qualitative data. Yet, several challenges upon research data re-interpretation had been overcome by the insider status of the second author, and also triangulation interview with previously involved-informant. According to the re-interpretation of qualitative data, it can be argued that independent music performance is the reflection of the youth’s culture-based negotiations against the dominant discourse of commercial space by mainstream cultural industries as well as limited space of expression in the urban landscapes. This kind social networks-based of music performance, ranging from local to trans-local scene and constant experimentations of the scene habitus, show the manifestation of symbolic resistance. In this case, the symbolic resistance is not only based on social class, but also as a manifestation of spatial marginality. Thus, the independent music performance in this research can be a good example in order to keep the values of music idealism in the present and in the future.Pertunjukan musik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari praktik sosio-kultural kelompok budaya kaum muda berbasis musik, termasuk metal ekstrem. Adapun praktik dan pemaknaan terhadap pertunjukan musik bukan merupakan suatu hal yang stagnan, namun senantiasa bergulir secara dinamis dalam relasi dengan struktur objektif yang melingkupinya. Guna membangun pemahaman atas praktik dan pemaknaan terhadap pertunjukan musik, khususnya dalam skena metal ekstrem, artikel ini membahas dinamika praktik pertunjukan musik mandiri di Yogyakarta pada era neoliberal kontemporer. Artikel ini disusun melalui proses re-interpretasi atas data yang diperoleh dengan metode kualitatif etnografi. Beberapa tantangan atas re-interpretasi data penelitian dapat teratasi dengan posisi salah satu penulis sebagai insider dalam skena metal ekstrem serta melalui triangulasi dengan salah satu informan yang sudah terlibat dalam wawancara sebelumnya. Berdasarkan hasil re-interpretasi tersebut, dinamika pertunjukan musik mandiri merefleksikan bagaimana praktik negosiasi berbasis budaya kaum muda terhadap dominasi pewacanaan ruang komersial oleh industri budaya mainstream sekaligus keterbatasan ruang berekspresi dalam landscape perkotaan. Praktik pertunjukan musik mandiri yang mendasarkan pada jaringan sosial dari level lokal hingga trans-lokal dan eksperimentasi atas habitus skena secara berkelanjutan ini merupakan manifestasi perlawanan simbolik. Dalam hal ini, perlawanan tersebut tidak hanya berbasis kelas sosial namun juga merupakan manifestasi peminggiran berbasis ruang. Praktik pertunjukan musik mandiri ini dapat menjadi exemplar yang baik guna menjaga nilai-nilai idealisme bermusik tetap hidup di masa sekarang maupun di masa depan

    “Jroning Salah”, Realitas Sosial Politik: Sebuah Proses Kreatif Karawitan yang berpijak pada Salah Gumun

    Get PDF
    ABSTRACT“Jroning Salah”, A Socio-Political Reality: A Karawitan Creative Process based on Salah Gumun. “Jroning Salah” is a karawitan work that tells a social phenomenon based on one of Gender Barung, Indonesian traditional musical instrument, whose patterns called “salah gumun” become the basis of this artwork. This work is a new genre in karawitan projecting three “wrong” phenomena in Javanese: “Salah Gumun”, “Salah Kaprah”, and “Salah Kedadèn”. Therefore, the work is entitled “Jroning Salah”. The authors used acoustic approach whose point of view emphasizes combining two or more tones to express all ideas into karawitan compositions. The presence of dance in this karawitan composition is not a collaboration, but a strengthening of the presentation. Its function is to give tone pressure on certain instruments. Furthermore, the authors also implemented experimental method to avoid regulatory absoluteness for the sake of imagination development— an exploration process to find particular voices as alternatives that are relatively capable of representing ideas. Following the phenomenon of “wrong” as the source of the idea for this work, “Jroning Salah” was constructed in three repertoires entitled “Salah Gumun”, “Salah Kaprah”, and “Salah Kedadèn”. The presentation process was conducted sequentially and continuously, each of which was an expression of a situation in each story line.ABSTRAK“Jroning salah” adalah karya karawitan yang menceritakan salah satu fenomena sosial yang didasarkan pada salah satu pola tabuhan gender, yaitu “salah gumun”. Karya ini merupakan genre baru dalam karawitan untuk mempresentasikan tiga fenomena “salah”, yaitu salah kaprah, salah gumun, dan salah kedaden. Oleh karena itu, karya ini diberi judul “Jroning Salah”. Sudut pandang pendekatan akustik yang menekankan pada perpaduan dua nada atau lebih untuk mengungkapkan semua gagasan ke dalam komposisi karawitan. Kehadiran tarian dalam komposisi karawitan ini bukan sebagai kolaborasi, melainkan hanya sebagai penguatan presentasi. Fungsinya untuk memberi tekanan nada pada instrumen tertentu. Metode eksperimen digunakan untuk menghindari kemutlakan regulasi agar mampu mengembangkan imajinasi. Eksplorasi untuk menemukan suara tertentu sebagai suara alternatif yang relatif mampu merepresentasikan ide. Sesuai dengan fenomena salah sebagai sumber ide karya ini, maka “Jroning Salah” ini dibangun menjadi tiga repertoar, yaitu “Salah Gumun”, “Salah Kaprah”, dan “Salah Kedadèn”. Proses penyajiannya dibuat secara berurutan dan berkesinambungan, yang masing-masing merupakan ekspresi situasi fase cerita

    Ladrang Siyem: The Royal Anthem of Thailand, in Javanese Gamelan Version

    Get PDF
    Ladrang Siyem: The Royal Anthem of Thailand, in Javanese Gamelan Version. During 19th century, Thailand modernized by associating itself with the "West" or Westernization; consequently, musical concepts from the West were implemented. Sansoen Phra Barami, also known as the Thailand Royal Anthem, is a musical composition composed to pay tribute to the King of Thailand. Therefore, the Western musical style was utilized in the composition. The Thai people should examine Java's prosperity in the areas of transportation, postal and telegraph, railways, military, and irrigation, in addition to European colonial policies and governance styles toward Asian nations. Through the Netherlands, the relationship between Thailand and Java was revealed during the three visits of Thai King Chulalongkorn in 1870, 1896, and 1901, as well as King Prajadhipok in 1929. An item that was performed in homage to His Majesty King Prajadhipok, King Rama VII of Thailand, who arrived at Surakarta palace in 1929 accompanied by the Queen, is Ladrang Siyem, which is the Javanese rendition of the Thai Royal Anthem. This item is mentioned in an archive titled Serat Saking Gotek or Wedhapradangga. The Javanese musicians at the Surakarta Palace adapted the gamelan piece known as "Sansoen Phra Barami" to become known as "Ladrang Siyem." An unmistakable illustration of the manner in which crypto-colonialism is projected through music is provided by the occurrence. In other words, the text takes into consideration political movements that occurred in Southeast Asia during the time of the colonial era

    Memahami Hubungan Tarawangsa dan Erhu dalam Perspektif Etnomusikologi

    Get PDF
    Etnomusikologi merupakan suatu pendekatan yang bisa diterapkan guna menganalisis dua buah atau lebih alat musik dengan cara diperbandingkan. Aspek-aspek yang dikaji juga sangat menyeluruh dari bentuk fisik, teknis tangga nada, hingga sejarah pembentukannya. Hal ini juga yang coba diterapkan pada alat musik yang mirip secara penampilan, namun memiliki asal pemilik bangsa yang tidak berdekatan. Akan tetapi fakta lain menyebutkan bahwa budaya Tiongkok dengan Indonesia sudah ada sejak lama, maka keunikan ini yang coba diuraikan dalam penelitian ini. Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat kemiripan yang tinggi antara tarawangsa dan erhu dalam aspek bentuk fisik dan fungsi, namun kepastian secara sejarah belum bisa dibuktikan secara pasti bahwa erhu memiliki andil dalam terciptanya tarawangsa ataupun sebaliknya

    Komposisi Musik Alam Menyapa sebagai Media Terapi Pasien Narkoba di Yayasan Mutiara Abadi Binjai (MAB) Sumatera Utara

    Get PDF
    The objective of this research is to provide an alternative treatment for people affected by drugs at Mutiara Abadi Binjai Foundation (MAB). Currently, music therapy has been promoted as one of the treatments for various patient conditions. This treatment can be conducted through auditory system in which the audio is then connected to the nerves of the brain. These nerves have relationship with the emotional behavior system. The composition of the instrumental music of Alam Menyapa was used by the author as a therapeutic media for drug patients at Mutiara Abadi Binjai Foundation. The choice of the composition of the instrumental music of Alam Menyapa was based on the strains of the music which are more calming since it combines natural sounds and musical instruments in the form of digital music. The author applied mixed method or both qualitative and quantitative. In this research, the author implemented passive music therapy as it is an easy and highly effective therapy. The patients were instructed to sit down, then listened to the instrumental music through BmT (Music Box Therapy). The results of this research show that patients who take part in music therapy of Alam Menyapa feel they can decrease their stress levels while staying in rehabilitation at Mutiara Abadi Binjai Foundation (MAB). Moreover, they are also able to increase their self-esteem to return for living in society when they release.Terapi musik adalah sebagai salah satu alternatif sistem pengobatan bagi orang-orang yang terdampak narkoba di Yayasan Mutiara Abadi Binjai (MAB). Saat ini sedang mulai digalakkan terapi musik dapat menjadi salah satu pengobatan dengan berbagai kondisi pasien. Perlakuan ini bisa dilakukan dengan cara melalui sistem pendengaran. Melalui pendengaran yang kemudian dihubungkaitkan dengan saraf otak dimana memiliki hubungan dengan sistem perilaku emosional. Karya komposisi musik instrumental Alam Menyapa digunakan sebagai alat pengobatan terapi kepada pasien narkoba di Yayasan Mutiara Abadi Binjai. Pemilihan komposisi musik instrumental Alam Menyapa ini berdasarkan alunan musiknya lebih bersifat menenangkan dengan adanya penggabungan suara-suara alam dan instrumen musik digital. Metode penelitian yang yang digunakan adalah metode penelitian campuran yaitu kualitatif dan kuantitatif Pemilihan terapi musik secara pasif merupakan terapi yang lebih mudah dilakukan dan sangat efektif, dimana pasien duduk, kemudian mendengarkan musik isntrumental melalui Box musik Terapi (BmT). Hasil dari penelitian ini adalah pasien-pasien yang mengikuti terapi musik Alam Menyapa merasakan dapat menurunkan tingkat stress mereka selama dalam rehabilitasi di Yayasan Mutiara Abadi Binjai (MAB) dan memiliki kepercayaan diri untuk kembali melakukan kehidupan ditengah-tengah masyarakat

    Design of “Munyer” as a Respons to Social Condition in New Normal

    Get PDF
    This study aimed to observe social background of “Munyer” masterpiece creation. This study was a qualitative study through library research, observation and interview to elaborate the composition. The finding showed that the design method consisted of initial stimulation, idea generation, exploration, improvisation, formation and presentation or performance. The result of this design was a new musical masterpiece with instruments, pattern and performance in five composition parts. Each part illustrates online learning situation happened in New Normal. Thus, the creation of “munyer” was a response to social condition in new normal where all pedagogical activities were conducted via online. However, there were complex obstacles and problems during online classes such as poor provider network, massive internet data plan, non-updated hardware and software, etc

    Teknik Pengembangan Kacapi Siter: Menuju Permainan Kacapi Gaya Baru oleh Yayan Lesmana

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berkembangnya musik gaya baru dan berbagai faktor yang mempengaruhi dalam mengadaptasi, mengadopsi dan mengkonvensi pola tepakan kendang yang diaplikasikan dalam permainan kacapi siter. Kacapi Siter merupakan salah satu alat musik tradisi Sunda yang berfungsi sebagai pembawa melodi lagu (amardawalagu) pada umumnya. Dalam perkembangannya terjadi sebuah perubahan pada teknik dasar, fungsi dan peran, karena adanya kreativitas yang dilakukan oleh para praktisi seni tradisi. Salah satunya adalah Yayan Lesmana, seorang praktisi yang ahli dalam memainkan kacapi siter. Kreativitas merupakan kata kunci dari praktik bermusik, oleh karena itu, konsep proses kreatif Trustho digunakan untuk menggambarkan dan menganalisis bagaimana tepak kendang jaipongan berubah dan dapat diaplikasikan dalam memetik kacapi siter. Konsep tersebut terdiri dari metode mendapatkan bahan: ngrancang, ngentha-entha, nggrambyang, dan metode penciptaan: proses mengubah bentuk dan alih fungsi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan literatur. Penelitian ini menunjukan bahwa faktor internal dan eksternal berpengaruh secara signifikan terhadap pembentukan konsep dari permainan baru kacapi siter yang dikembangkan oleh Yayan Lesmana. Jenis permainan kacapi siter ini kemudian dikenal dengan kacapi jaipongan gaya Yayan Lesmana

    Adaptasi Membaca Notasi Viola sebagai Solusi Teknis dalam Mata Kuliah Ansambel Gesek

    Get PDF
    Pada prinsipnya secara struktur anatomi dan teknik memainkan instrumen violin dan viola tidak ada perbedaan yang signifikan. Kedua instrumen gesek tersebut boleh dikatakan serupa tetapi tidak sama. Perbedaan antara kedua instrumen tersebut terletak pada ukuran bodi, dawai yang digunakan, register suara dan notasi musiknya. Urgensi penelitian ini difokuskan pada perbedaan notasi yang digunakan pada kedua instrumen tersebut. Violin menggunakan kunci G (G clef) dan Viola menggunakan kunci C (C clef alto). Perbedaan notasi ini sering menimbulka masalah ketika pemain violin akan memainkan viola dalam sebuah ansambel atau orkestra. Pemain violin yang akan memainkan viola membutuhkan adaptasi membaca notasi ke kunci C alto. Tujuan dari penelitian ini untuk mencari solusi permasalahan yang dihadapi dalam Mata Kuliah Ansambel Gesek agar sebuah formasi ansambel gesek menjadi lengkap dan standar sesuai kebutuhan aransemen musik yang dimainkan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Studi kasus yang terjadi pada Mata Kuliah Ansambel Gesek dikarenakan jumlah mahasiswa violin banyak dan tidak ada mahasiswa viola, tetapi mahasiswa cello dan kontrabass terpenuhi. Hal ini perlu dicarikan solusi untuk memecahkan masalah tersebut dengan memberi kesempatan kepada para mahasiswa violin untuk memainkan instrumen viola agar dapat mengisi kekosongan pemain viola yang tidak ada. Tentu saja dengan mempelajari membaca notasi viola yang menggunakan kunci C diharapkan pemain violin bisa cepat menyesuaikan dalam bermain ansambel gesek. Hasil penelitian ini yakni formasi ansambel gesek menjadi lengkap dan standar karena posisi pemain viola yang kosong sudah terisi oleh mahasiswa violin yang telah melakukan adaptasi baik teknik permainan maupun teknik membaca notasi viola dengan lancar

    194

    full texts

    292

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Resital: Jurnal Seni Pertunjukan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇