Resital: Jurnal Seni Pertunjukan
Not a member yet
    292 research outputs found

    Gamelan Koromong dalam Konteks Ritual 14 Mulud pada Masyarakat Cikubang Sumedang Jawa Barat

    Full text link
    This research is about the social transformation process in gamelan Koromong performance in Cikubang Village area, Sumedang Regency, West Java. The fundamental objective of this research is to analyze the structural changes resulting social changes in the ritual of gamelan Koromong in Cikubang. The villagers still carry out this ritual activity as an annual activity which has a predetermined time accorded to the local calendar (Sundanese calendar) exactly on 14th of Mulud. This ritual is carried out by Cikubang community as a manifestation of a form of devotion and gratitude expression to God for everything that has been received and perceived during life. This disclosure is carried out with full rules based on what has been passed down by the ancestors in this region as a guide or management of ritual customs which then develops and adapts as time changes. The results of the study reveal that there are various structures that undergo a process of transformation, both textually and contextually. In the old structure that is ritualistic as well as in the context of the performance, it is the local wisdom that has high philosophical values. These are highly attractive to analyze. However, the values of this local wisdom have been degraded resulting changes in values. This phenomena is an interesting cultural transformation process which becomes the background for this research. The research method applied was qualitative approach. The data collection techniques implemented by the author were observation, interview, and document studies. The results show that the initial context of Koromong art as a ritual slowly experiences transformation process over time becoming a performing art that is not only ritualistic, but also popular.Artikel ini mengenai proses perubahan sosial pada masyarakat pelaku ritual seni gamelan koromong yang berada di wilayah Kampung Cikubang Kabupaten Sumedang Jawa Barat. Dasar pemikiran penting artikel ini adalah menganalisis perubahan struktur yang mengakibatkan terjadinya perubahan sosial pada ritual seni gamelan koromong Cikubang. Masyarakat di kampung ini masih melaksanakan kegiatan ritual ini sebagai rutinitas tahunan yang sudah ditentukan waktu pelaksanaannya pada penanggalan kalender lokal (kalender Sunda) yaitu pada tanggal 14 Mulud. Kegiatan ritual ini dilaksanakan oleh masyarakat Cikubang sebagai manifestasi dari bentuk pengabdian dan pengungkapan rasa bersyukur terhadap Tuhan atas segala yang telah diterima dan dirasakan selama menjalani kehidupan. Pengungkapan ini dijalankan dengan penuh aturan berdasarkan apa yang pernah diwariskan oleh para leluhur di wilayah ini sebagai panduan atau tata kelola adat ritual yang kemudian berkembang dan menyesuaikan terhadap perkembangan jaman. Hasil penelitian mengungkapkan terdapatnya berbagai struktur yang mengalami proses transformasi baik secara tekstual maupun kontekstual. Pada struktur yang bersifat ritual, dalam konteks pertunjukannya merupakan sebuah kearifan lokal yang mempunyai nilai filosofi tinggi yang menarik untuk dianalisis. Namun, nilai kearifan lokal ini mengalami degradasi yang mengakibatkan berubahnya nilai. Perubahan nilai tersebut merupakan sebuah proses perubahan sosial yang menarik untuk dikaji dan menjadi latar belakang pembahasan artikel ini. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konteks awal seni koromong dipakai oleh masyarakatnya sebagai seni ritual, perlahan-lahan mengalami proses perubahan seiring berubahnya waktu menjadi sebuah seni pertunjukan yang tidak hanya bersifat ritual saja namun bisa bersifat kekinian

    Ungkapan Estetika Karawitan Jawa pada Reproduksi Rekaman Gamelan Ageng Surakarta

    Full text link
    ABSTRACTThe Expression of Javanese Karawitan Aesthetics in the Reproduction of Gamelan Ageng Surakarta Recordings. Sound recordings have the purpose of transferring musical offerings to the storage media. The aesthetics and sound meanings contained in musical performances of course become a mandatory when sound is recorded. The concept of Javanese karawitan recordings certainly takes into consideration of the aesthetic value of the presentation and will not leave the principles as well as the sound meanings behind. Recorded musical performances of musical instruments must present an ideal sound according to the cultural convention. Recording documents in the form of audios are felt to be highly essential in karawitan concert area because they are way of storing events. As a result, musical concerts which are already in the form of audio media have more value compared to concerts being integrated with particular event. The authors found that karawitan concert carried out by using recorded audio are more practical, economic, efficient and encourage preservation value. Practical value arises because musical concerts that are already in the form of record media can be carried anywhere. Furthermore, this also lead to improve economic value since documentation can be a product of a commodity process if properly utilized. The value is efficient as the sounds are in the form of media, musical concert records can be employed without having to use devices and human resources as in the event.ABSTRAKProduk rekaman suara mempunyai tujuan memindahkan sajian musikal ke dalam media penyimpan. Estetika dan makna bunyi yang terkandung dalam sajian musik karawitan Jawa tentunya menjadi hal wajib ketika direkam. Kemasan produk rekaman karawitan Jawa pastinya mempertimbangkan nilai estetika sajian, serta tidak akan meninggalkan norma dan makna bunyi dalam sajiannya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pendekatan ini mengharuskan peneliti melakukan tafsir tentang makna yang ada dibalik data, tujuan-nya untuk membantu memahami kehidupan sosial. Dokumen rekaman sajian musik karawitan wajib menghadirkan suara yang ideal sesuai konvensi budayanya. Dokumen perekaman dalam bentuk media audio dirasakan penting dalam wilayah konser karawitan karena menjadi cara penyimpanan akan peristiwanya, sehingga konser karawitan yang sudah dalam bentuk media audio lebih banyak memiliki nilai lebih dibandingkan dengan konser dalam konteks peristiwanya. Kelebihan media audio konser karawitan lebih memiliki nilai praktis, ekonomis, efisien dan pengawetan. Nilai praktis muncul karena konser karawitan yang sudah dalam bentuk media rekam bisa dibawa ke mana-mana. Nilai ekonomis karena dokumentasi bisa menjadi produk yang bisa bernilai ekonomi jika diberdayakaan sebagai barang komuditas. Nilai efisien karena dalam bentuk media rekam konser karawitan bisa dimanfaatkan tanpa harus menggunakan perangkat dan sumber daya manusia sebagaimana dalam peristiwanya

    The Logic of Sensation and Fantasy as a Step of Art Creation Through Practice-Based Research

    Full text link
    ABSTRACTThe objective of this study is to identify a stage of art creation, especially composition, where the sensations and fantasies of a composer can be understood in detail based on logic of sensation (Deleuze) and fantasy (Freud). Every work of art produced is not just a sensation or a fantasy of the artist put into the work. However, that process has its logic. Sensations and fantasies in the creation of art work are highly essential and may continue to occur until the artwork is produced. In this study the author implemented practice-based research where experience and work become the basis of a study with various approaches: literature study, content analysis, musicology, philosophy, experimental, and several things that corroborate practice-based research. The result of this study is a method of art creation with several stages that need to be done, even already done by a creator; aesthetic experience, body rhythm, chaos, fantasy, and force. These five stages are at least an interesting reference in the process of artwork and reveal that our logic of sensations and fantasies can work properly. The implications of these results can be used in any area of the art, so that the creator is aware of the working steps of the perceived sensations. This study can be applied in the process of creating and can be discussed in the process of work creation. As a result, it can be used as a reference by art creators.ABSTRAKLogika Sensasi dan Fantasi sebagai Langkah dalam Kreasi Seni melalui Practice-Based Research. Tujuan penelitian ini menemukan sebuah tahapan penciptaan karya seni khusnya komposisi dimana sensasi dan fantasi seorang komposer dapat dipahami proses kerjannya secara detail dengan logika sensasi (Deleuze) dan fantasi (Freud). Setiap karya seni yang lahir bukan sekedar sebuah sensasi maupun fantasi seniman yang dituangkan ke dalam karya. Namun proses itu mempunyai logikanya sendiri. Sensasi dan fantasi dalam penciptaan karya seni sangat perlu dan mungkin terus terjadi sampai karya seni itu lahir. Penelitian ini menggunakan pratice-based research dimana pengalaman, karya menjadi dasar sebuah penelitian dengan berbagai macam pendekatan: studi pustaka, analisis isi, filsafat, eksperimental dan beberapa hal yang menguatkan practice-based research. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah metode penciptaan seni dengan beberapa tahapan yang perlu dilakukan bahkan sudah dilakukan seorang pencipta; pengalaman estetis, ritme tubuh, chaos, fantasi dan force. Kelima tahapan ini setidaknya menjadi sebuah acuan yang menarik dalam proses karya seni dan bagaimana logika sensasi dan fantasi kita dapat bekerja dengan baik. Implikasi dari hasil ini dapat digunakan wilayah apapun di seni sehingga pencipta sadar akan langkah kerja sensasi yang dirasakan. Penelitian ini bisa diterapkan dalam proses berkarya dan dapat didiskusikan pada tahapan penciptaan dari hasil penelitian ini agar dapat menjadi rujukan oleh para pencipta seni

    Akhir Zaman: Representasi Fenomena Alam dan Sosial melalui Komposisi Kacapi

    Full text link
    ABSTRACTThe End of Time: Representations of Natural and Social Phenomena through Kacapi Kawih Composition. The objective of this study is to analyze the results of a composition entitled End Times as a representation of natural and social phenomena. The method proposed by Alma W. Hawkins used in the process of creating this work include exploration, improvisation, and formation. The work entitled End Times is inspired by various natural and social phenomena that occur in society, such as volcanic eruption, flood, tsunami, and even covid-19 that boomed recently. Furthermore, the social order of society is increasingly uncertain due to war, assassination, and even oppression by the powerful over the weak. These are signs or characteristics of the end of time related to the involvement of mankind in nature. These various phenomena are the source of creativity and inspire the author to create a fresh work in the composition of the Sundanese kacapi kawih entitled "The End of Time". This composition attempts to construct an atmosphere of silence, emotion, comfort as well as anxiety through the Sundanese musical concepts and elements (rhythmic, melodic, ornamentation, dynamics, and other musical interweaving). In this study, the author used kacapi instruments, flutes, and song lyrics in which the song lyrics were carried through vocals. Since the lyrics are means of conveying moral messages to the public, they are considered as the prominent priority in this composition. The result indicates that the composition work entitled "The End of Time" has succeeded in conveying moral messages about the characteristics of the world’s end of time (apocalypse) to the public through the various phenomena reflected in performances and publications in online media. This art work is a wholesome reminder of moral values that have been eroded recently and encourages people to realize the true purpose of life.ABSTRAKTujuan penulisan ini untuk menganalisis hasil komposisi berjudul Akhir Zaman sebagai representasi dari fenomena alam dan sosial. Metode Alma W. Hawkins digunakan dalam proses penciptaan karya ini meliputi eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Karya berjudul Akhir Zaman terinspirasi oleh berbagai fenomena alam dan sosial yang terjadi di masyarakat dunia. Dunia sudah dianggap tua dan rapuh, sehingga sering terjadi bencana di mana-mana, seperti gunung meletus, banjir, sunami, bahkan covid-19 yang terjadi bau-baru ini. Begitu pula tatanan sosial masyarakat dunia semakin tidak menentu dengan terjadi perang di mana-mana, pembunuhan, bahkan penindasan oleh orang yang berkuasa terhadap orang yang lemah. Inilah sebagai tanda atau ciri-ciri akhir zaman yang penuh gejolak dengan keterlibatan umat manusia beserta alam lingkungannya. Berbagai fenomena tersebut menjadi inspirasi pengkarya untuk membuat karya baru serta dijadikan sumber ide penciptaan dalam komposisi kacapi kawih Sunda berjudul “Akhir Zaman”. Komposisi ini mencoba membangun suasana hening, haru, hidmat namun was-was yang dibangun melalui konsep musikal Sunda dan unsur-unsurnya (ritmis, melodi, ornamentasi, dinamika, serta jalinan musikal lainnya) dengan instrumen kacapi, suling, dan lirik lagu. Lirik lagu melalui vokal bertujuan agar pesan moral dapat tersampaikan ke publik. Kekuatan lirik lagu merupakan prioritas utama dalam komposisi ini untuk menyampaikan pesan pengkarya. Hasil kesimpulan menunjukkan bahwa karya komposisi berjudul Akhir Zaman telah berhasil menyampaikan pesan moral tentang ciri-ciri akhir zaman (kiamat) kepada publik dengan berbagai fenomenanya yang disampaikan melalui pertunjukan serta publikasi di media online. Hasil karya ini bermanfaat bagi pengingat nilai-nilai moralitas yang sudah tergerus akhir-akhir ini untuk lebih menyadarkan tujuan hidup yang sebenarnya

    Student Centered Learning-Comprehensive Musicianship Through Performance Dalam Pembelajaran Orkestra

    Full text link
    Model pembelajaran merupakan bagian penting untuk mengembangkan kapabilitas musikal peserta didik. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan model pembelajaran musik orkestra berbasis Student-Centered Learning: Comprehensive Musicianship through Performance (SCL-CMP). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif Huberman meliputi pengumpulan data, kondensasi data, reduksi data, dan verifikasi/kesimpulan, serta didukung dengan penggunaan software NVivo 12 untuk pengorganisasian data. Hasilnya yang pertama adalah manfaat SCL-CMP dalam pembelajaran orkestra bagi peserta didik meliputi partitur musik orkestra dapat dijelaskan dengan detail, mendorong peserta didik untuk lebih aktif, karakter instrumen musik menjadi lebih mudah dipahami, dan permasalahan teknis dalam memainkan instrumen musik lebih mudah diatasi; kedua, daya tarik SCL-CMP dalam pembelajaran orkestra antara lain peserta didik memiliki waktu lebih banyak untuk berdiskusi, lebih berani berpendapat, dan mendiskusikan partitur musik secara kritis; ketiga , kendala yang dihadapi dalam pembelajaran berbasis SCL-CMP antara lain sikap peserta didik yang malas dan pasif, dan kurangnya kesadaran pendidik terhadap kemajuan peserta didik; dan keempat, optimalisasi SCL-CMP dalam pembelajaran orkestra melalui upaya mengutamakan diskusi dalam pembelajaran, membagi kelompok alat musik menjadi beberapa kelompok, dan mencari solusi dari setiap permasalahan. Permasalahan dalam pembelajaran orkestra dapat dibahas secara mendalam beserta solusinya, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis model Student-Centered Learning-Comprehensive Musicianship Through Performance sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran orkestra

    Pengaruh Nyanyian Buku Ende terhadap Kualitas Bernyanyi Jemaat Gereja HKBP Yogyakarta

    Full text link
    ABSTRACTThe Influence of the Buku Ende Hymn on the Quality of Singing Among the Congregation of the HKBP Church in Yogyakarta. This paper talks about Ende book, a collection of worship songs for the HKBP congregation composed by European composers in the 16th and 17th centuries. Conveyed by missionaries to Batak land, these songs were later translated into Toba Batak language and some were composed to suit the rhythms of Batak indigenous music. In singing the songs, HKBP Yogyakarta congregation sing the original notation (not transfused lower) that frequently consists of high notes, causing the congregation having low vocal range to sing the song in one octave below the basic tone. The objective of the study is to examine how immense Ende Book influences the vocal quality of HKBP Yogyakarta congregation. The author implemented descriptive qualitative method by adapting the theory of 'The Power of Habit' by Charles Duhigg. Data collection techniques used by the author were observation, interview, and documentation. The results of this study reveal that habit plays a major role in the routines to achieve a satisfactory quality of singing. When singing Ende book, HKBP Yogyakarta congregation have unconsciously acquainted several elements of vocal techniques. The vocal techniques in particular are breathing, resonance, voice range, and interpretation, in which a significant impact on the quality of the singing voices of HKBP Yogyakarta congregation retain. By implementing the original range and sentence structure (phrasing) in Ende book, the learning process taken place e every Sunday worshipping has unconsciously imporoved the singing quality of HKBP Yogyakarta congregation.ABSTRAKBuku Ende merupakan buku yang berisi nyanyian ibadah bagi jemaat HKBP yang sebagian besar diciptakan oleh komponis Eropa pada abad ke-16 dan ke-17 Masehi. Nyanyian ini dibawa oleh para misionaris ke tanah Batak lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Batak Toba dan ada juga yang digubah untuk disesuaikan dengan irama musik Batak. Menyanyikan nyanyian buku Ende ini jemaat HKBP Yogyakarta bernyanyi dengan tangga nada aslinya (tidak ditransfus lebih rendah) sehingga ketika menyanyikan nada-nada tinggi, bagi jemaat yang mempunyai ambitus suara yang rendah sering menyanyikannya dengan nada satu oktaf dibawah nada dasar. Tujuan dari penelitian ini untuk melihat sejauh mana pengaruh nyanyian pada Buku Ende ini terhadap kualitas bernyanyi jemaat HKBP Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan memakai teori ‘The Power of Habit’ dari Charles Duhigg. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor kebiasaan menjadi salah satu rutinitas untuk mencapai kualitas bernyanyi yang memuaskan. Dalam menyanyikan buku Ende ini terdapat banyak unsur-unsur teknik vokal yang tanpa disadari telah memberikan pembelajaran vokal, khususnya kepada jemaat HKBP Yogyakarta. Teknik vokal yang dimaksud, antara lain: pernapasan, resonansi, ambitus suara, dan interpretasi, berdampak besar bagi kualitas suara bernyanyi jemaat HKBP Yogyakarta. Dengan nyanyikan tangga nada asli pada buku Ende dan kebiasaan menerapkan teknik vokal yang baik dan benar, tanpa disadari proses pembelajaran berlangsung setiap Minggu. Hal ini yang menyebabkan suara jemaat gereja HKBP Yogyakarta semakin berkualitas baik

    Conservation and Development Model of Mamaca in Pamekasan Madura

    Full text link
    ABSTRACTMamaca traditional performing art is an essential intangible asset for the people of Madura and Indonesia. Mamaca in Madurese language means reading. Contextually, it means reading verses from particular texts. Its diversity and uniqueness are not only known by Indonesian, but also worldwide people. Its paramount role in the life of Mamaca-supporting community is undeniable as the songs and notations generated while performing is not only functioned as performing, but also efforts to establish Madurese moral values. Unfortunately, the local people, especially younger generation currently have started to abandon this traditional art. It leads to a worrisome position of Mamaca existing in Pamekasan Regency, Madura Island. Considering that this traditional performing art emphasizes the nobility of values and norms in its form and implementation and its capability of strengthening the Indonesian character and the harmony of social life, Mamaca is urgently required to be preserved and developed in accordance to the fervor of nowadays era. The performers take turns reading and singing the verses containing some epics of Mahabharata, Ramayana, stories of Islamic Prophets, and values of benevolence regarding wisdom teachings. This research is a model for the conservation and development of noble cultural values that involves active supporting elements of Mamaca, relevant government, academics, industries or sponsors, and the role of the media.ABSTRAKModel Konservasi dan Pengembangan Mamaca di Pamekasan Madura. Seni pertunjukan tradisi Mamaca merupakan aset non bendawi yang penting bagi masyarakat di Madura dan bangsa Indonesia. Mamaca dalam bahasa Madura berarti membaca. Dalam penelitian ini, Mamaca yang dimaksud adalah tradisi membaca syair-syair dari naskah tertentu. Keanekaragaman dan keunikannya tidak hanya dikenal oleh bangsa Indonesia sendiri, tetapi juga sudah secara luas. Peran pentingnya Mamaca di dalam kehidupan masyarakat penyelenggaranya tidak dapat terbantahkan karena lagu-lagu yang dilantunkan serta notasi yang dimainkan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, namun sebuah upaya untuk menanamkan nilai moral. Sayangnya, Mamaca kini mulai ditinggalkan, terutama oleh generasi muda setempat. Oleh karena itu, seni Mamaca yang hidup di wilayah Kabupaten Pamekasan Pulau Madura dipandang penting dilestarikan dan dikembangkan sesuai zamannya. Mengingat bahwa seni pertunjukan tradisi yang berdasarkan pada pemanfaatan musik internal ini mengutamakan keluhuran nilai dan norma di dalam wujud dan penyelenggaraannya, Mamaca dipandang mampu menguatkan karakter bangsa dan harmoni kehidupan sosial. Para pelakunya secara bergantian membaca dan melagukan syair-syair yang memuat sebagian wiracarita Mahabharata, Ramayana, dan kisah para Nabi dalam agama Islam serta menyampaikan norma dan nilai kebaikan mengenai ajaran kebijaksanaan. Kajian ini merupakan model pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya adiluhur yang melibatkan unsur penyangga aktif Mamaca, pemerintah terkait, akademisi, pihak industri atau sponsor, dan peran media

    "Grain Gamelan": Adaptation of One More Grain Band's Songs to Gamelan Pelog Slendro

    Full text link
    "Grain Gamelan": Adaptation of One More Grain Band's Songs to Gamelan Pelog Slendro. Based on a recording project initiated by the label "Yantra" through one of the musicians of the group "one more grain", Daniel Patrick Quinn, the author was asked to adapt songs from their group to gamelan instruments. The songs use Western instruments that use a very different tonal system from gamelan. The phenomenon of the difference in tone system between Western instruments and gamelan is still a dilemma, especially when music creators have the idea to combine the two types of instruments. The purpose of this writing is to reveal the artistic process of working on One More Grain Band songs adapted to gamelan with the pelog slendro tone system. The method used is practice-led research/practice-based research by doing exploration, simulation, and practice. Artistically, the songs of one more grain band have repetitive patterns with a tendency to use only one chord and each pattern played has changes that can be interpreted openly by the musician. Both of these have the same principles as traditional gamelan music. In the composing process, an approach was found using a mixed 10-tone system of pelog and slendro tunings of Javanese gamelan tumbuk nem. Through the use of DAW, the adaptation process can be well organized and measured to produce audio simulations and notations that are ready to be played by musicians directly. In the process of practicing with the musicians, various communication and interpretation problems were encountered in adapting this work. Based on the results achieved, the adaptation of "One More Grain" songs to gamelan has new nuances and perspectives that can enrich the repertoire of gamelan music globally

    Peran Musik dalam Kesenian Montro di Yogyakarta

    Full text link
    Montro sebagai salah satu seni pertunjukan merupakan perpaduan dari berbagai media komunikasi yaitu gerak tubuh sebagai garap tari, bunyi dan bahasa sebagai garap iringan, serta rias dan busana sebagai garap seni rupa, yang kesemuanya direalisasikan kemunculannya secara komplementer. Bentuk kompleksitas pertunjukan tari mengarahkan penghayat pada pemahaman yang menyeluruh terhadap unsur-unsur tari yang pada dasarnya tidak bersifat parsial. Hubungan yang terjalin antara unsur musik dengan wiraga, wirasa, dan wirama dalam pertunjukannya membuat kesenian Montro menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk diungkap dalam memahami tentang makna yang terkandung di dalamnya. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif dengan pendekatan  multidisiplin seperti: etnomusikologis, sejarah, antropologis, sosiologis, dan semiotika. Peranan musik dalam kesenian Montro memiliki peranan yang penting dalam memberikan unsur estetis dalam pertunjukannya. Hal ini dapat mengungkap tentang apa yang terkandung dalam makna kesenian tersebut

    Embedded Criticism Sebagai Cara Lain Menulis Kritik Seni Pertunjukan di Indonesia

    Full text link
    Embedded criticism as another way to write performing arts criticism in Indonesia. This paper performs a re-examining of performing arts criticism in Indonesia, particularly about a critic-artist relationship. The modern tradition of criticism has built a hierarchy in the performing arts ecosystem. It happened in any tradition of criticism and has been living in Indonesia for more than 50 years. Instead of it has lived in print media, for instance, newspapers and magazines, the relationship also happens on the Indonesian website. In fact, traditional performing arts in Indonesia were connected by a good relationship between a critic—for instance, a teacher or influential person—and an artist. It means the critic has access to watch a rehearsal, has a good chit-chat with an artist, can talk about the idea of the performance, and so on; it is not like the West critic, who was watching only the performance. The paper aims at presenting the other way of writing criticism, not only as an option of ways of writing but also providing the idea of a reciprocal relationship and renders less hierarchal the critic-artist relationship. As explained, this paper would like to discuss embedded criticism, the other way of criticism that attempted showing the relation between critic and artist as a productive work. Writing an embedded criticism describes a critic's duty that is not about judging the performance but also articulating the production and performance complexity. This paper would like to ask, how does critic presenting the criticism accommodates the relation between them? How can the embedded criticism apply to performing arts criticsm in Indonesia? Those questions will be answered by a literature study. The result of this research is that embedded criticism can be solved the gap problem of criticism—emphasizing the relationship between critic and artist in traditional performing arts, that undisclosed in the modern tradition of critic—through a website that disseminates performing art criticism.Tulisan ini mengkaji ulang kritik seni pertunjukan di Indonesia, khususnya tentang hubungan antara kritikus-seniman. Tradisi kritik modern telah membangun hierarki dalam ekosistem seni pertunjukan. Itu terjadi dalam tradisi kritik apa pun dan telah hidup di Indonesia selama lebih dari 50 tahun. Selain hidup di media cetak, misalnya koran dan majalah, yang cukup disayangkan hubungan itu juga terjadi di Indonesia melalui website seni. Padahal, seni pertunjukan tradisional di Indonesia dihubungkan oleh hubungan yang baik antara seorang kritikus—misalnya seorang guru atau orang berpengaruh—dan seorang seniman. Tidak seperti kritikus Barat, yang hanya menonton pertunjukan; tradisi kritik kita memiliki akses untuk menonton geladiresik, berbincang-bincang dengan artis secara akrab, dapat berbicara tentang ide pertunjukan, dan sebagainya. Atas dasar itu, tulisan ini bertujuan untuk menyajikan cara lain dalam menulis kritik, tetapi bukan hanya sebagai pilihan cara menulis melainkan juga memberikan gagasan tentang hubungan timbal balik dan memangkas hierarki antara kritikus-seniman. Seperti yang telah dijelaskan, tulisan ini hendak membahas embedded criticism atau kritik melekat, yaitu cara ungkap kritik yang berusaha menunjukkan hubungan antara kritikus dan seniman sebagai sebuah hal yang produktif. Menulis kritik melekat menunjukkan tugas seorang kritikus yang tidak hanya menilai ketika pertunjukan dihelat, tetapi juga mengartikulasikan kompleksitas produksi sekaligus pertunjukan. Tulisan ini memiliki dua pertanyaan, bagaimana kritikus menyampaikan kritik yang mengakomodasi relasi di antara kritik-pencipta karya? Bagaimana kritik melekat bisa diterapkan pada kritik seni pertunjukan di Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab dengan studi literatur. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa kritik melekat dapat memecahkan masalah kesenjangan kritik—menekankan hubungan antara kritikus dan seniman yang terjadi pada seni pertunjukan tradisional, yang tidak terungkap dalam kritik tradisi modern—melalui website yang menyebarkan kritik seni pertunjukan

    194

    full texts

    292

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Resital: Jurnal Seni Pertunjukan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇