Resital: Jurnal Seni Pertunjukan
Not a member yet
    292 research outputs found

    Public Responsibility Towards Indonesian Idol's Music Talent: An Adorno Perspective

    Full text link
    The music expressed around us, particularly in the realm of competitive music, faces significant challenges in maintaining subjectivity and objectivity to ensure a fair competition process. This study examines reality shows like Indonesian Idol, questioning whether they are pure competitions or avenues for capitalist profit. From Adorno's perspective, this issue is linked to societal impact, highlighting three main problems: standardization, commodification, and massification. Using both quantitative and qualitative methods, this research involved 67 respondents who completed questionnaires to explore the systematic flaws in Indonesian Idol’s competition structure. The study aimed to analyse how these flaws align with Adorno's concepts of standardization, commodification, and massification, and their influence on public perception and critical thinking. The quantitative aspect involved statistical analysis of questionnaire responses, while the qualitative approach included in-depth interviews to gain insights into participants' views on transparency and fairness in the competition. The findings indicate that Indonesian Idol’s competition system is heavily influenced by industry standards that prioritize commercial success over artistic integrity. This results in a homogenized musical output that caters to mass appeal, undermining the authenticity of the competition. Additionally, the commodification of contestants transforms them into marketable products rather than genuine artists, while the massification process dilutes the cultural significance of the musical content presented. The study concludes that for reality shows to serve as responsible public entertainment, they must instil transparency and fairness in their competition processes. Implementing these principles can foster a more critical and discerning audience, ensuring that such shows contribute positively to the cultural landscape rather than merely serving commercial interest

    Kreativitas Pertunjukan Musik dalam Perspektif Bergsonian

    Full text link
    Penelitian fenomenologi ini mengulas aspek kreativitas pada pertunjukan musik klasik dari perspektif Bergsonian (dan juga Deleuzian). Masalah yang coba dijawab adalah hubungan antara repetisi (praktik dengan tradisi yang berulang) dengan kreativitas (kebaruan yang diproduksi dari praktik yang berulang tersebut). Data penelitian diambil melalui wawancara dengan tiga musisi klasik (pianis Ary Sutedja, gitaris Royke Koapaha, dan dirigen Adrian Prabawa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik repetisi berdampak pada tiga model pengalaman:  repetisi sebagai cara membangun secure, repetisi sebagai kondisi pengalaman yang bergerak diantara dua tendensi, serta pengalaman sensasi. Dari temuan data dapat didiskusikan bahwa repetisi hanya bisa menghadirkan kebaruan sejauh melibatkan intensifikasi sehingga bisa menggeser kesadaran orang dari satu teritori pengalaman ke teritori pengalaman baru. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa musik, sejauh melibatkan praktik intensifikasi, dapat dilihat sebagai praktik pengembangan kedirian dalam arti, bisa membuat orang mengalami kesadaran baru melalui pergeseran kesadaran

    Makna Hadrah dalam Prosesi Baharak pada Masyarakat Negeri Olok Gading Lampung

    Full text link
     Hadrah adalah musik yang mengiringi prosesi baharak (prosesi arak-arakan pengantin pada upacara pernikahan). Hadrah sebagai tanda yang berisi pengetahuan dan nilai, terus melahirkan interpretasi dalam mengonstruksi makna. Dengan kata lain, hadrah (sebagai material) bisa dibaca sebagai sebuah peristiwa bahasa atau gejala kebahasaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan etnografi sebagai metode pengumpulan data. Analisis tanda menggunakan teori semiotika dari Charles S. Peirce. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hadrah bagi masyarakat adat Lampung adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari pandangan masyarakat terhadap dunia natural (aspek sosial) dan supernatural (aspek religius). Hadrah dalam aspek sosial yakni mengatur bagaimana berperilaku berdasarkan norma adat dan norma dalam Islam, sedangkan dalam aspek religius, hadrah adalah upaya manusia dalam mendekatkan diri kepada Allah melalui dzikir. Dengan kata lain, hadrah berisi pandangan hidup masyarakat dalam membentuk perilaku. Hadrah sebagai musik yang mengiringi prosesi baharak dalam gawi adat, memiliki makna bagi masyarakat Negeri Olok Gading sebagai sebuah simbolisasi dari perjalanan hidup manusia. Bahwa perjalanan hidup seorang Lampung harus diikuti oleh perubahan kualitas hidup (terkait pemenuhan kebutuhan lahir dan batin manusia). Hal ini menunjukkan bahwa hadrah sebagai kebudayaan masyarakat Negeri Olok Gading adalah materialisasi dari nilai dan pengetahuan yang mengandung dimensi religius sekaligus dimensi sosial.Kata kunci: Hadrah, religius, sosial, dan maknaHadrah is the music that accompanies the baharak procession (bridal procession at a wedding ceremony). Hadrah as a sign that contains knowledge and values, continues to give birth to interpretations in constructing meaning. In other words, hadrah (as material) can be read as a language event or linguistic symptom. This research uses a qualitative research method with ethnography as the data collection method. Sign analysis uses Charles S. Peirce's pragmatic semiotics theory. The results showed that hadrah for Lampung indigenous people is something that cannot be separated from the community's view of the natural world (social aspect) and supernatural (religious aspect). Hadrah in the social aspect is regulating how to behave based on customary norms and norms in Islam, while in the religious aspect, hadrah is a human effort to get closer to Allah through dhikr. In other words, hadrah contains the community's worldview in shaping behaviour. Hadrah, as the music that accompanies the baharak procession in the traditional gawi, has a meaning for the people of Negeri Olok Gading as a symbolisation of the journey of human life. The life journey of a Lampungese must be followed by changes in the quality of life (related to the fulfilment of human physical and spiritual needs). This shows that hadrah as a culture of the people of Negeri Olok Gading is a materialisation of values and knowledge that contains both religious and social dimensions.Keywords: Hadrah, religious, social, and meaning.Hadrahadalah musik yang mengiringi prosesibaharak(prosesi arak-arakanpengantinpadaupacarapernikahan).Hadrahsebagaitandayangberisipengetahuandannilai,terusmelahirkaninterpretasidalammengonstruksimakna.Dengankatalain,hadrah(sebagaimaterial)bisadibacasebagaisebuahperistiwabahasaataugejala kebahasaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif denganetnografisebagaimetodepengumpulandata.AnalisistandamenggunakanteorisemiotikadariCharlesS.Peirce.HasilpenelitianmenunjukkanbahwahadrahbagimasyarakatadatLampungadalahsesuatuyangtidakdapatdipisahkandaripandanganmasyarakatterhadapdunianatural(aspeksosial)dansupernatural(aspekreligius).HadrahdalamaspeksosialyaknimengaturbagaimanaberperilakuberdasarkannormaadatdannormadalamIslam,sedangkandalamaspekreligius,hadrahadalahupayamanusiadalammendekatkandirikepadaAllahmelaluidzikir.Dengankatalain,hadrahberisipandanga

    Jazz Guitar Reharmonization in Malay Asli Music: A Case Study on Harmonic Adaptation in Pedagogy

    Full text link
    Jazz reharmonization techniques are a well-established area of focus in Western music. However, their application to non-Western genres, such as Malay Asli music, is, at best, an unexplored area of music. This disconnect is rooted in the absence of a theoretical model, one which exists within a broader Eurocentric approach to music pedagogy that privileges Western harmony. Jazz reharmonization of Malay Asli presents challenges in cross-cultural reinterpretation and hybrid learning. This study aims to develop and evaluate a guidebook on jazz guitar reharmonization techniques to be applied in Malay Asli music. It treats the guide’s pedagogical efficacy in a cross-idiomatic context while maintaining the genre’s stylistic integrity—A qualitative case study with five jazz guitarists following a structured method book. Data consisted of assessments of performance before and after instruction, participant reflections, and semi-structured interviews. Using ISO 9241-11 measurements—efficiency, effectiveness, and satisfaction—observational analysis and participant feedback were used to measure usability. Participants exhibited improved fluency and flexibility in processing Malay Asli melodies in jazz. They recommend the guide’s poetic and flexible approach as a tool for mastering complex harmonic ideas while keeping the central idea in Malay Asli music intact. The classification of jazz harmony in stages allowed for gradual integration into their normal structural perception, which complemented their understanding of both practices. Analysis implemented through usability testing found overall acceptance of the direct scope of instructions, ordering of steps needed, and appropriate application. The study's results demonstrated how jazz reharmonization can be potent in enhancing creativity versatility within the framework of Malay Asli music and closing its traditional monopoly barriers to cross-cultural engagement through creativity. This study addresses the larger conversation of inclusive music pedagogy by connecting jazz harmony and Malay Asli aesthetics. Further engagement in hybrid music learning could involve interactive tutorials or similar digital tools explored through future research

    Strategi Konservasi Musik Angklung Masyarakat Kampung Naga di Kota Tasiklamalaya Jawa Barat

    Full text link
    Musik Angklung merupakan salah satu kesenian tradisional khas Kampung Naga di kota Tasikmalaya Jawa Barat yang hingga saat ini masih dilestarikan, pertunjukan alat musik tradisional Angklung dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga di berbagai kegiatan. Tujuan penelitian untuk mengungkap kegiatan-kegiatan masyarakat Kampung Naga yang merupakan tindakan nyata pelestarian alat musik tradisional Angklung di era globalisasi saat ini. Bagaimana strategi konservasi musik Angklung yang diterapkan oleh masyarakat Kampung Naga menjadi rumusan masalah penelitian. Teori yang digunakan sebagai pijakan untuk menjawab pertanyaan penelitian adalah teori konservasi oleh Theodore Roosevelt. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan studi literatur. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa strategi konservasi musik Angklung yang diterapkan oleh masyarakat Kampung Naga di Tasikmalaya Jawa Barat ada tiga yaitu pertama, melakukan proteksi musik Angklung melalui pengembangan pertunjukan oleh generasi Kampung Naga secara turun temurun, serta penyebaran pertunjukan musik Angklung pada pentas budaya di berbagai wilayah Indonesia. Kedua, upaya negosiasi masyarakat Kampung Naga berupa penerimaan pengunjung domestik maupun mancanegara ke Kampung Naga. Ketiga, peningkatan respon masyarakat Kampung Naga terhadap situasi pariwisata berupa penyediaan jasa pertunjukan musik Angklung khas Kampung Naga bagi para wisatawan. Penelitian ini didanai oleh Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) Kemendikbudristek Tahun Anggaran 2023

    Metafora Konseptual dalam Praktik Musik Keroncong Vernakular

    Full text link
    Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan (mengonseptualisasikan) praktik musik keroncong vernakular, yaitu sub-genre musik keroncong yang mengakomodasi keberagaman idiom musikal, syair, alat musik, teknik permainan, bentuk musik, dan ekspresi informal lainnya (kostum dan bahasa), yang berbeda dengan ekspresi keroncong asli (pakem). Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang mengelaborasikan pendekatan musikologi, etnografi, dan kajian budaya. Analisis dilakukan dengan mengamati keberadaan sebuah kelompok musik asal Malang, yaitu Kos Atos dengan mengamati dua sample rekaman video musik lagu Kita Beda Berbahaya dan Kopi, didukung wawancara klarifikatif dari subjek. Ditemukan hasil: pertama, praktik musik keroncong vernakular yang diusung Kos Atos adalah bentuk artikulasi subjek (tindakan ekspresif dan praktik diskursif) yang bertujuan untuk menemukan segmentasi pendengar keroncong di luar keroncong asli dan mewacanakan nilai pengetahuan baru di bidang musik keroncong; kedua, terdapat beberapa elemen yang dapat dikonseptualisasikan dari praktik musik keroncong vernakular, yaitu ekspresi demotik (ekspresi kerakyatan), lagu yang tidak tersofistikasi (berselera umum), musical mood, dan politik-ekonomi; ketiga, praktik keroncong vernakular dapat dikatakan sebagai bentuk pelestarian keroncong dalam konsep yang lain. Melalui praktik keroncong vernakular, genre musik keroncong dapat dijamin kelestariannya karena dapat lebih mudah diterima masyarakat umum, aktual, serta dekat dengan praktik ekonomi yang menjamin kesejahteraan hidup seniman

    Jazz in Lampung: Community’s Perspective, Social Practices, Cultural Performance, Organization, and Consequences

    Full text link
    This article attempts to reveal the perspectives of the Lampung jazz community members dealing with organizational issues related to members’ perceptions or administrators. The cause is an extramusical issue that leads to the ulun Lappung (indigenous Lampung people) social characteristics. In general, problems uncommon in the jazz community arise in this communal setting. This article focuses on the Lampung jazz community’s perspective, cultural performances, social practices, and consequences. The data for this study came from immersive fieldwork conducted in Lampung jazz circles between 2017 and 2021. In addition to in-person data collection, field sites and apps were used. The research participants include senior musicians with over 20 years of experience, music scholars, music entrepreneurs, and jazz activists. Each participant has a unique perspective on group organization, jazz culture and knowledge, and socially musical practices. The significance of Lampung’s musical sense of community is discussed

    Mendengarkan Gaya Musik Rhythm n Blues dan Pengalaman Relaksasi

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh mental melalui pengalaman relaksasi seseorang ketika mendengarkan musik dengan gaya aransemen Rhythm n Blues. Selama ini banyak penelitian terkait musik tidak lagi hanya dalam konteks musikologis tetapi sudah berorientasi pada manfaat baik bagi pelaku aktif atau pendengar pasif. Sehingga perspektif musik atau seni pada umumnya saat ini sudah berkembang sedemikian rupa hingga tidak lagi berorientasi pada seni untuk seni. Model tema penelitian ini merupakan bagian dari penguatan dan pengumpulan bukti saintifik guna pengembangan psikoterapi musik yang banyak diimplementasikan dalam bidang terapi musik.Secara teoretis, paparan terhadap musik tidak hanya akan memunculkan familiaritas atas sebuah lagu atau karya musik tanpa lirik, tetapi juga membentuk kegemaran (liking) pendengar sebagai akibat dari respons emosi terhadap musik tersebut. Hal ini tidak terlepas dari peran ekspektasi dari efek kehadiran rasa puas serta kesan plesantness dan unpleasantness bagi pendengar yang memicu efek positif-negatif sebuah musik terhadap emosi. Selain itu, respons emosi seseorang terhadap rangsang stimulus juga tidak terlepas dari kerja sistem saraf pusat yang dapat berimplikasi pada reaksi fisiologis. Salah satu reaksi fisiologis yang sering kali dijadikan acuan dalam aplikasi musik untuk terapi dan bersifat terapeutik adalah kerja sistem saraf otonom (autonomic nervous system; selanjutnya disebut ANS).Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan kuasi eksperimen yang membandingkan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Subjek di kelompok eksperimen adalah mahasiswa musik dari berbagai instrumen mayor, sedangkan subjek di kelompok kontrol adalah mahasiswa non-musik dengan berbagai latar belakang studi dengan total sampel sebanyak N=78. Usia subjek berada di rentang 17-27 tahun (=20,5±1,53). Subjek mendengarkan rekaman repertoar musik Barok yang dimainkan oleh piano dan sudah diaransemen ulang dalam format band-kombo. Kemudian pengukuran kondisi relaksasi dilakukan menggunakan kuesioner yang aitemnya mengukur indikator kerja sistem syaraf parasimpatetik dan indikator psikis berupa state anxiety. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara statistik tidak terdapat perbedaan pengalaman rilaksasi yang signifikan di antara kedua kelompok baik melalui indikator ANS(t­ANS=.502, p=.617) maupun indikator psikir (tpsikis=1.38, p=.172) Kata kunci: gaya musik; rhythm n blues; relaksasi; musikologis; autonomic nervous system ABSTRACTThe aim of this research is to identify the effect of listening to RnB music to the experience of relaxation. Due to the increasing number of research in music and its benefit to the listeners, current researches tent to go over music beyond its trait as an art. These research themes and models are beneficial to be implemented in music theraphy in the long run. Focusing on the comparison between original and arranged music to different group of listeners, the present research explored the observable indicators of relaxation through the symptoms of parasympathetic nervous system and anxiety state. Two groups of subjects ranging of 17-27 years old (mean=20,5±1,53) divided into control and experiment group. The control group listened to the original Minuet in G major by J. S. Bach  meanwhile the experiment group  listened to the arranged version of this piece in RnB style. The data was collected though online survey to collect the demography, anxiet state, and relaxation state both phisically and psychologycally. The result showed no significant difference between the two subject groups in terms of relaxation state both physically (t­ANS=.502, p=.617) and psychologycally (tpsikis=1.38, p=.172

    Penciptaan Karya Konserto Grosso Untuk Menunjang Pembelajaran Mata Kuliah Ansambel Gesek

    No full text
    Artikel ini ditulis untuk menjelaskan proses penciptaan Konserto Grosso yang disusun penulis sebagai materi pembelajaran ansambel gesek di Jurusan Musik ISI Yogyakarta. Karya konserto ini memuat pembelajaran teknik permainan instrumen gesek, meliputi biola, viola, cello, dan contrabass. Teknik seperti tangga nada mayor, minor, arpeggio, double stop, detache, legato, staccato, dan spiccato disertakan dalam komposisi ini demi membangun fondasi teknik bagi tangan kanan dan tangan kiri seorang instrumentalis. Komposisi ini memiliki satu gerakan  yang terdiri dari bagian cepat dan lambat sebagaimana konserto pada umumnya. Penulis menyoroti bahwa sejumlah besar mahasiswa yang diterima di Jurusan Musik, ISI Yogyakarta belum memiliki kemampuan bermain instrumen gesek yang memadai. Penciptaan karya Konserto Grosso dilakukan guna menjembatani proses pembelajaran ansambel gesek baik dalam dimensi edukatif maupun performatif. Kreasi Konserto Grosso dengan teknik tangan kiri dan kanan ini menjadi alternatif yang menumbuhkan minat belajar dan meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam memainkan karya-karya standar instrumen gesek, baik itu konserto, divertimento, sonata, serenade, dan lain-lain. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Ada pun tahapan penelitian meliputi; pengumpulan dokumen, observasi, wawancara, penciptaan karya, penerapan karya, dan diseminasi. Demonstrasi atau penerapan uji karya dilakukan di dalam kelas ansambel gesek. Hasil penelitian menunjukan bahwa penciptaan Konserto Grosso menjadi terbatasi karena penulis selaku pencipta hanya mengolah teknik tangga nada dan arpeggio saja sehingga tidak banyak wilayah musikalitas yang dapat dieksplorasi. Di sisi lain, pemakaian teknik tangan kiri dan kanan yang terbatas ini membuat mahasiswa mampu memainkan sebuah karya ansambel dengan nyaman dan kualitas yang cukup baik, meskipun masih belum mampu memainkan sepenuhnya tempo yang dikehendaki.Kata kunci: ansambel gesek; Konserto Grosso; pengembangan teknik This article outlines the compositional process of a concerto grosso created by the author as a pedagogical tool for string ensembles at the Music Department of ISI Yogyakarta. The concerto serves as a comprehensive learning resource, incorporating essential techniques for playing string instruments, including the violin, viola, cello, and contrabass. These techniques encompass major and minor scales, arpeggio, double stops, détaché, legato, staccato, and spiccato, providing a solid foundation for both right and left-hand technique. The composition features a single movement with contrasting fast and slow sections, akin to traditional concerto structures. The author highlights a prevalent challenge among students admitted to the Music Department: a lack of adequate string instrument playing skills. The concerto grosso was composed with the aim of bridging this gap, fostering both educational and performance-based learning experiences within the string ensemble context. By incorporating a variety of left and right-hand techniques, the concerto seeks to stimulate interest in learning and enhance students' ability to perform standard works for string instruments, such as concertos, divertimentos, sonatas, serenades, and more. This study employs a qualitative research methodology, adopting a case study approach. The research process involved document collection, observation, interviews, composition, application, and dissemination. The concerto's effectiveness was evaluated through demonstrations and applications in string ensemble classes. The findings of the study reveal certain limitations in the concerto's scope, as the author primarily focused on scale and arpeggio techniques, restricting the exploration of other musical elements. However, the use of limited left and right-hand techniques enabled students to perform the ensemble work with relative ease and a reasonable level of proficiency. Despite these achievements, the students ultimately faced challenges in maintaining the desired tempo.Keywords: string ensemble, concerto grosso, technique developmen

    Efek Reinstrumentasi Karya Organ Js. Bach Melalui Alih Timbre Terhadap Selera Musik

    Full text link
    As today teenagers have less appreciation for instrumental works from Baroque era, the objective of this research is to identify the indicators their music preference through timbre shifting of the musical instrument. In the context of the creative economy, this will open opportunities for art music to compete in the music industry. Music has been studied and observed for centuries, and even today, the works of great composers are associated with timeless creations. One factor that has contributed to the continued existence of music is its strong reliance on conductors during performances, especially when presented in orchestral format involving dozens of supporting musicians. Generally, not only do audiences watch a stage filled with musicians, but they also listen to the works of composers in various timbres. Some musics are performed in the form of solo, duet, or as ensemble. However, the challenge for musicians is that the majority of society do not understand art music well due to lack of knowledge and the prevalence of easily accepted popular music. It occurs because music education still upholds the tradition of classifying music into high and low art according to European concepts. Art music carries musicological elements rooted in mathematical discipline, which implicitly requires audiences to have a background in music knowledge, even during performances. In Indonesia, which is currently developing and strengthening its creative economy, creative breakthroughs are needed to make art music more popular and have a positive impact on musicians. In this study, the author implemented a quantitative method with a one-posttest design approach. The sample consisted of teenagers studying art music. The total sample was N=100, consisting of students in music performance vocational program who were given treatment by listening to a recorded toccata in D minor by JS Bach played on the organ and re-instrumented using the electric guitar, electric bass, and synthesizer. The results reveal that the subjects' preference for rock music is significantly influenced by personal preference with p<0.05. Particularly, the predictor of preference has a coefficient of R 0.900 with an R2 of 0.809, indicating that preference contributes 80.9% to the variability of the preferences. Therefore, it can be concluded that the renewing instrumentaion of Baroque music by shifting timbre of electric instruments with rock sensation has an influence on the musical preference of today youth. It happens especially when the ornamentation, one of the characteristic of Baroque music, is played with forte dynamic and blended technique, resulting in piercing and swinging sounds as an effect of electric guitar distortion.Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi indikator selera musik remaja masa kini yang kurang menyukai karya instrumental era Barok (musik seni) melalui rekayasa warna suara (timbre) alat musiknya. Karena dalam konteks ekonomi kreatif akan membuka peluang musik seni untuk berkompetisi dalam dunia industri musik. Selama ini musik seni telah berabad lamanya dipelajari dan ditekuni hingga saat ini bahkan karya-karya para komponis besar diasosiasikan dengan karya abadi. Salah satu faktor yang menjadikan eksistensi musik seni hingga sekarang adalah karena dalam pertunjukkannya sangat dipengaruhi oleh konduktor. Terutama sekali jika karya tersebut dipertunjukkan dalam format orkestra yang melibatkan puluhan musisi pendukung. Di satu sisi secara visual selain menyaksikan panggung penuh dengan musisi juga mendengarkan karya para komponis dalam berbagai macam warna suara. Sementara di sisi lain, ada musik seni yang dimainkan secara solo, duet atau kelompok (musik kamar). Pada kenyataannya, tantangan musisi musik seni adalah karena sebagian besar masyarakat tidak paham musik seni baik karena kurangnya pengetahuan dan maraknya musik industri yang jauh lebih mudah dicerna. Hal ini terjadi karena dalam pendidikan musik seni pun masih mempertahankan tradisi seni tinggi sesuai dengan sumbernya di Eropah. Musik seni memiliki muatan musikologi yang berasal dari disiplin matematika sehingga dalam bentuk pertunjukanpun secara implisit mensyaratkan audiens memiliki latar belakang pengetahuan musik. Indonesia yang sedang mengembangkan serta memperkuat ekonomi kreatif maka diperlukan terobosan kreatif agar musik seni dapat semakin digemari sehingga membawa dampak positif bagi musisi musik seni. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan one posttest design only dan sampel dalam penelitian ini adalah remaja yang sedang belajar musik seni. Total sampel sebanyak N=100 terdiri dari mahasiswa program vokasi penyajian musik yang diberi intervensi dengan mendengarkan rekaman toccata in d-minor karya JS Bach untuk alat musik organ dan yang sudah direinstrumentasi menggunakan alat musik gitar, bas elektrik dan synthesizer. Hasilnya menunjukkan bahwa selera subjek terhadap musik rock secara signifikan lebih ditentukan oleh preferensi pribadi dengan p<0.05. Terutama dengan prediktor preferensi yang memiliki koefisien R 0.900 dengan R2 0.809 sehingga preferensi memberi sumbangsih sebanyak 80.9% terhadap variabilitas selera. Maka, dapat disimpulkan bahwa reinstrumentasi musik barok menggunakan warna suara instrumen elektrik dengan sensasi rock memiliki pengaruh terhadap selera musik subjek remaja. Terutama sekali ketika pada bagian ornamentasi sebagai ciri khas musik barok dibunyikan dalam dinamika forte dengan teknik blend sehingga terdengar melengking dan mengayun sebagai efek dari suara distorsi gitar elektrik

    194

    full texts

    292

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Resital: Jurnal Seni Pertunjukan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇