Jurnal Kesehatan Reproduksi
Not a member yet
239 research outputs found
Sort by
PENGARUH CARA PERSALINAN TERHADAP INISIASI LAKTASI
PENGARUH CARA PERSALINAN TERHADAP INISIASI LAKTASIAnna Ismiana 1, Irwan Taufiqurrahman2, Rukmono Siswishanto3ABSTRACT Background: Breastfeeding on the first day would prevent 16% of neonatal deaths and if early breastfeeding was given within the first 1 hour would prevent 22% neonatal of mortality per year.Objective: To determine the effect of mode of delivery on the initiation of breastfeeding.Method: The study was prospective cohort. The study was conducted by taking all cases of vaginal delivery and caesarean sections in the obstetric department of Dr. Sardjito, Banjarnegara Hospital, Wates Hospital, Wonosari Hospital and Magelang Hospital that met the criteria from January to May 2014. Maternal data were recorded from the medical records and the data of breast milk secretion within 24 hours after delivery were collected from paramedical personnel who had been trained before. The statistical test that is used was Chi-square.Results and Discussion: Subjects who met the inclusion criteria consisted of 162 women. Based on the mode of delivery, breastfeeding initiation on the first day after vaginal delivery were done in 73 women (90,1%), while in the cesarean delivery group, the initiation were done in only 34 women (42%). There were no significant relationship between age, education level, women occupation, and parity with the initiation of the first day of postnatal breastfeding. Statistically, BMI <25 kg/m2 had a significant association with 24 hours of postnatal breastfeeding initiation, but not clinically significant. There is a significant association between mode of delivery and the first day of postnatal lactation breastfeeding (OR=20,17;95% CI 7,47 to 54,43; p= 0,000).Conclusions: The proportion of the first day of breastfeeding initiation was larger in vaginal delivery group compared with cesarean delivery group.Keywords: mode of delivery, cesarean section, vaginal delivery, lactation initiation. ABSTRAKLatar Belakang: Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada hari pertama akan menyelamatkan 16% kematian neonatal dan jika menyusu dini dalam 1 jam pertama akan menyelamatkan 22% kematian balita pertahun dari kematian. Tujuan: Mengetahui pengaruh cara persalinan terhadap inisiasi laktasi.Metode: Studi kohort prospektif. Penelitian dilakukan dengan mengambil semua kasus persalinan vaginal dan seksio sesarea di RSUP Dr. Sardjito, RSUD Banjarnegara, RSUD Wates, RSUD Wonosari, dan RSUD Magelang yang memenuhi kriteria dari bulan Januari sampai dengan Mei 2014 sampai dengan sampel terpenuhi. Data maternal dicatat dari catatan medis, data penelitian didapat dari melakukan pemeriksaan keluarnya ASI dalam 24 jam pascasalin oleh petugas medis atau paramedis yang telah terlatih. Uji statistik yang digunakan adalah Chi-square. Hasil dan Pembahasan: Subyek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi berjumlah 162 orang. Berdasarkan karakteristik cara persalinan, kejadian inisiasi laktasi hari pertama pascasalin pada persalinan vaginal sebanyak 73 orang (90,1%), sedangkan pada persalinan secara seksio sesarea sebanyak 34 orang (42%). Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan paritas dengan inisiasi laktasi hari pertama pascasalin. Secara statistik IMT <25 kg/m2 memiliki hubungan yang bermakna dengan inisiasi laktasi 24 jam pascasalin, namun tidak bermakna secara klinis. Terdapat hubungan yang bermakna antara cara persalinan dengan inisiasi laktasi hari pertama pascasalin (OR=20,17; 95%CI 7,47-54,43; p=0,000).Kesimpulan: Proporsi inisiasi laktasi hari pertama pascasalin pada kelompok persalinan vaginal lebih besar dibandingkan dengan kelompok persalinan seksio sesarea.Kata kunci: cara persalinan, seksio sesarea, persalinan vaginal, inisiasi laktasi 1,2,3 Bagian Obstetri dan Ginekologi, Facultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mad
FAKTOR ANGIOGENIK SOLUBLE FMS-LIKE TYROSINE KINASE-1 DAN VASCULAR ENDOTHELIAL GROWTH FACTOR PADA IBU HAMIL 8 – 20 MINGGU DENGAN RISIKO PREEKLAMPSIA
Sri Sulistyowati1, Soetrisno2, Supriyadi Hari Respati3, Bambang Eko Wiyono4 ABSTRACTBackground: Preeclampsia is still the main cause for maternal and neonatal mortality or morbidity. Anti-angiogenic Soluble FMS-Like Tyrosine Kinase-1 (sFlt-1) and proangiogenic Endhothelial Vascular Growth Factor (VEGF) factors can be used as an early detection of preeclampsia due to itsrole in the pathogenesis of preeclampsia, so it can be used as one effort to reduce maternal or perinatal morbidity and mortality.Objective: To analyze sFlt-1 and VEGF levels in the serum of normal pregnancy and pregnancy with preeclampsia risk in 8 – 20 weeks gestation.Method: Observational analytic with cross sectional method performed at the Obstetrics and Gynecology, Dr. Moewardi Hospital/ Medical Faculty Sebelas Maret University Surakarta and Prodia laboratory since November – December 2013. Number of samples studied was 30 samples, comprising 15 samples of normal pregnancy and pregnancy with preeclampsia risk with 8 – 20 weeks of gestational age. The sFlt-1 and VEGF serum levels was assessed using ELISA and analyzed using t-test.Result & Discussion: Serum level of sFlt-1 in normal pregnancy is (1252,17±564,65 ng/ml), and in pregnancy with preeclampsia risk is (1741,90±640,97 ng/ml) with p=0,023 serum level of VEGF in normal pregnancy was 96,88±144,29 ng/ml and in pregnancy with preeclampsia risk was 14,24±8,73 ng/ ml with p=0,044.Conclusion: sFlt-1 level is higher and VEGF level is lower in pregnant women with preeclampsia risk than normal pregnancy on 8 – 20 weeks gestational age.Keywords: Pregnancy, Preeclampsia Risk, sFlt-1, VEGF.ABSTRAKLatar belakang: Preeklampsia saat ini masih merupakan masalah pada ibu hamil yang berhubungan dengan mortalitas dan morbiditas maternal dan perinatal. Faktor anti-angiogenik Soluble FMS-Like Tyrosine Kinase-1 (sFLt-1) dan proangiogenik Vascular Endhothelial Growth Factor (VEGF) diduga dapat digunakan sebagai deteksi dini karena perannya dalam patogenesis preeklampsia, sehingga dapat digunakan sebagai upaya untuk mengurangi angka morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal. Tujuan: Untuk menganalisis kadar sFlt-1 dan VEGF pada serum ibu hamil normal dan ibu hamil dengan risiko preeklampsia pada usia kehamilan 8 – 20 minggu.Metode: Penelitian observasional analitik dengan metode Cross Sectional yang dilakukan di bagian Obstetri dan Ginekologi, RSUD Dr. Moewardi/ FK UNS, Surakarta dan Laboratorium Prodia mulai Nopember – Desember 2013. Jumlah sampel terdiri 30 yang terbagi menjadi 15 sampel ibu hamil normal dan dan 15 sampel ibu hamil dengan risiko preeklampsia usia gestasi 8 – 20 minggu. Masing-masing dianalisis kadar sFlt-1 dan VEGF pada serumnya dengan metode ELISA dan dianalisis menggunakan uji t.Hasil & Pembahaasan: Kadar serum sFlt-1 pada kehamilan normal (1252,17±564,65 ng/ml), kehamilan dengan risiko preeklampsia (1741,90±640,97 ng/ml) dengan nilai p=0,023 dan kadar VEGF pada kehamilan normal (96,88±144,29 ng/ml), kehamilan dengan risiko preeklampsia (14,24±8,73 ng/ ml) dengan nilai p=0,044.Kesimpulan: Kadar sFlt-1 lebih tinggi dan kadar VEGF lebih rendah pada kehamilan dengan risiko preeklampsia dibanding kehamilan normal pada usia hamil 8 – 20 minggu.Kata kunci: Kehamilan, Risiko Preeklampsia, sFlt-1, VEGF.1,2,3,4Sri Sulistyowati, Bagian Obgin FK UNS/ RSUD Dr. Moewardi, Jl. Kol. Sutarto 132 Surakarta. Telp. 08122968215, Email: [email protected]
PENDIDIKAN/PEKERJAAN MATERNAL DAN FAKTOR RISIKO PREEKLAMPSIA: STUDI EPIDEMIOLOGI DI KOTA TERNATE
PENDIDIKAN/PEKERJAAN MATERNAL DAN FAKTOR RISIKO PREEKLAMPSIA: STUDI EPIDEMIOLOGI DI KOTA TERNATELilie Fransiska1, Edi Patmini2, Abdul Wahab3, Ova Emilia4 ABSTRACTBackground: Preeclampsia is one of leading cause of maternals and infants morbidity and mortality that can be prevented by an early detection in pregnant woman who have risk factors to preeclampsia. Early detection and management have a significant role in decreasing maternal and infant mortality rate.Objective: To determine the proportion of pregnancy with risk to preeclampsia and related risk factors. Method: This research is an observational study with cross sectional design. The independent variables are level of maternal education, and occupation. The dependent variable is increased risk of preeclampsia during pregnancy. Data collected by direct interview, physical examination and laboratory examination. Data analysis was done with SPSS programme.Results and Discussion: The result showed that there was no significant difference in maternal educational level with the risk of preeclampsia (p= 0,919), and there is no significant difference between maternal working status with risk of preeclampsia (p= 0,435).Conclusions: This research showed that maternal level of education and working status didn’t have a significant influence to the risk of preeclampsia (p> 0,05).Keywords : maternal occupation, level of maternal education, risk of preeclampsia ABSTRAKLatar Belakang: Preeklampsia merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas pada ibu dan bayi yang dapat dicegah dengan melakukan deteksi dini pada ibu hamil yang memiliki risiko terhadap terjadinya preeklampsia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan proporsi ibu hamil dengan risiko preeklampsia di Kota Ternate dan faktor-faktor risiko yang terkait. Hasil penelitian ini diharapkan supaya dapat digunakan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak di Kota Ternate. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan desain studi potong lintang. Variabel bebas adalah tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan ibu. Variabel terikat adalah peningkatan risiko terjadinya preeklampsia selama kehamilan. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara langsung, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Selanjutnya analisis deskriptif pada data penelitian dilakukan dengan menggunakan program SPSS.Hasil dan Pembahasan: Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara kelompok berpendidikan tinggi dan kelompok berpendidikan rendah (p= 0,919), serta antara kelompok bekerja dan tidak bekerja (p= 0,435).Kesimpulan: Faktor pendidikan dan pekerjaan maternal tidak memiliki pengaruh yang bermakna terhadap risiko terjadinya preeklampsia (p> 0,05).Kata kunci : pekerjaan ibu, pendidikan ibu, risiko preeklampsia 1 Mahasiswa S1 Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta2 Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UGM3 Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat UGM, Yogyakarta4 Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UG
PERBANDINGAN SKOR DISMENOREA PADA PASIEN ENDOMETRIOSIS YANG MENDAPATKAN TERAPI ABLASI LAPAROSKOPI DILANJUTKAN GnRH AGONIST VERSUS ABLASI LAPAROSKOPI SAJA DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA
PERBANDINGAN SKOR DISMENOREA PADA PASIEN ENDOMETRIOSIS YANG MENDAPATKAN TERAPI ABLASI LAPAROSKOPI DILANJUTKAN GnRH AGONIST VERSUS ABLASI LAPAROSKOPI SAJA DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTAMarta Isyana 1 , Djaswadi Dasuki2, Diah Rumekti3ABSTRACTBackground: Dysmenorrhea in endometriosis is a condition that adversely impacts the quality of life of women. The current treatment for dysmenorrhea in endometriosis is essentially palliative, since most of these treatment can only suppress disease progression and relieve its symptoms.Objective: To compare the difference in dysmenorrhea scores pre and post treatment of dysmenorrhea in endometriosis patients who received laparoscopic ablation followed with GnRH agonist versus laparoscopic ablation therapy alone.Method: This is an observational study with a retrospective cohort design. Endometriosis patients were identified through medical records at Dr Sardjito Hospital, Yogyakarta. Patients were categorized into laparoscopic ablation therapy followed by GnRH agonist group and laparoscopic ablation therapy only group. Evaluation of dysmenorrhoea scores were performed in 6 months after therapy.Result and Discussion: A total of 88 subjects (44 subjects in each group) were eligible and gave their consent to participate. Patients who received laparoscopic ablation therapy followed by GnRH agonist showed greater VAS difference pre and post treatment (6,27±0,22 vs 4,20±1,17,p<0,001) compared with only ablation laparoscopic. This difference was not affected by age, BMI, and endometriosis stage. Eleven of the 44 subjects who received laparoscopic ablation followed by GnRH agonists developed side effects. There were 7 people with hot flushes, 3 people with decreased bone mineral density and 1 people with dry skin, whereas no subject in laparoscopic ablation group alone experienced them.Conclusions: Laparoscopic ablation followed by GnRH agonist therapy was associated with greather difference in dysmenorrhea score pre and post treatment compared with laparoscopic ablation only. Laparoscopic ablation therapy followed with a GnRH agonist was associated with higher side effects.Keywords: endometriosis, laparoscopic ablation, GnRH agonist, visual analog scaleABSTRAKLatar Belakang: Dismenorea pada endometriosis adalah suatu kondisi yang memberikan dampak bermakna pada mutu kehidupan wanita. Penanganan dismenorea pada endometriosis saat ini pada hakikatnya masih belum berhasil menyembuhkannya, karena sebagian besar baru mampu menekan perkembangan penyakit dan menghilangkan gejalanya.Tujuan: Membandingkan selisih skor dismenorea sebelum dan setelah terapi pada pasien endometriosis yang mendapatkan terapi ablasi laparoskopi dilanjutkan GnRH agonist versus ablasi laparoskopi saja.Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional menggunakan rancangan penelitian kohort retrospektif. Pasien endometriosis diidentifikasi melalui rekam medis di RSUP DR Sardjito, Yogyakarta. Pasien dikelompokkan menjadi kelompok terapi ablasi laparoskopi dilanjutkan dengan GnRH agonist dan terapi ablasi laparoskopi saja.Evaluasi untuk skor dismenorea dilakukan pada jangka waktu 6 bulan setelah terapi. Hasil dan Pembahasan: Sebanyak 88 subyek (44 subyek dalam setiap kelompok) memenuhi kriteria penelitian dan memberikan persetujuan untuk diikutsertakan dalam penelitian. Pasien yang mendapatkan terapi ablasi laparoskopi dilanjutkan GnRH agonist menunjukkan selisih VAS sebelum dan setelah terapi yang secara signifikan lebih baik (6,22±0,22 vs 4,20±1,17;p<0,001) dibandingkan dengan ablasi laparoskopi saja. Perbedaan ini tidak dipengaruhi oleh umur, BMI, maupun derajat endometriosis. Sebelas dari 44 subyek yang mendapatkan ablasi laparoskopi dilanjutkan GnRH agonist mengalami efek samping, yaitu 7 orang mengalami hot flushes, 3 orang mengalami penurunan densitas masa tulang dan 1 orang mengalami kulit kering, sedangkan tidak ada subyek dalam kelompok ablasi laparoskopi saja yang mengalami efek samping.Kesimpulan: Terapi ablasi laparoskopi yang dilanjutkan dengan GnRH agonist berhubungan dengan selisih skor dismenorea sebelum dan setelah terapi yang lebih tinggi dibandingkan dengan terapi ablasi laparoskopi saja. Terapi ablasi laparoskopi yang dilanjutkan dengan GnRH agonist berhubungan dengan tingkat efek samping yang lebih tinggi.Kata kunci: endometriosis, ablasi laparoskopi, GnRH agonist, visual analog scale 1,2,3 Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mad
BIAYA PASIEN JAMINAN KESEHATAN NASIONAL YANG MENJALANI SEKSIO SESAREA DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA
Adi Rahmawan1, Detty Siti Nurdiati2, Sulchan Sofoewan3 ABSTRACT Background: Ease of access and timeliness in reaching emergency obstetric care is necessary to save the mother and newborn. Delivery by emergency caesarean section aims to save the mother and newborn. The amount of cost from the emergency obstetric care particularly caesarean section, was significantly higher compared to childbirth without complications. The implementation JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) aims to overcome this programs. Government hospitals have a dilemma between the mission of serving the lower middle class society and the limited financial resources, as well as a variety of rules and bureaucracy. Casemix system on INA-CBG’s (Indonesian Case Base Groups) is grouping similar patient characteristics. Hospital will receive payments based on the average amount of cost by a group of diagnosis. Objective: Knowing the cost of the JKN patient who underwent cesarean section in Dr. Sardjito Hospital. Method: The study design is a descriptive. JKN patients undergoing Caesarean section in January-July 2014 at the Hospital Dr. Sardjito included in the study. Patients who moved to the VIP, VVIP, and suites classes are excluded. Patient cost data will be averaged and be detailed by characteristics. Result: A total of 136 patients underwent Caesarean section with JKN during January-July 2014. Average cost of patients underwent Caesarean section was 10,337,411 rupiahs. Patient with severe preeclampsia had average cost of 3,050,776 rupiahs higher than patients without severe preeclampsia. Patients with 4 disesases and complications had the difference in cost 16,995,952 rupiahs higher than patients without the disease. Patients with ICU care had higher average cost than non-admission to the ICU in the amount of 3,340,288 rupiahs. Difference in the higher average costs also occur on length of stay. Class treatment, duration stay in the delivery room, the induction or stimulation in the delivery room. History of cesarean section was not the leading cause of higher cost.Conclusion: The average cost of patients underwent Caesarean section was 10,337,411 rupiahs. Complications of the disease and the patient’s condition, severe preeclampsia, long hospitalization, ICU care, led to high costs in patients underwent Caesarean section.Keyword: seksio sesarea, cost, JKN, INA-CBG’ABSTRAKLatar belakang: Kemudahan akses dan ketepatan waktu dalam menjangkau pelayanan kegawadaruratan obstetri sangat diperlukan demi menyelamatkan ibu dan neonatal. Persalinan dengan seksio sesarea pada kedaruratan obstetrik bertujuan untuk menyelamatkan ibu dan neonatal. Biaya yang dihabiskan dari pelayanan kedaruratan obstetri operasi sesar, secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan persalinan tanpa penyulit. Terselenggaranya program Jaminan Kesehehatan Nasional (JKN) mempunyai tujuan untuk mengatasi hal tersebut. Rumah sakit pemerintah menghadapi dilema antara misi melayani masyarakat kelas menengah ke bawah dengan adanya keterbatasan sumber dana, serta berbagai aturan dan birokrasi yang harus dihadapi. Sistem casemix pada INA-CBG’s merupakan pengelompokan karakteristik pasien yang sejenis. Rumah Sakit akan mendapatkan pembayaran berdasarkan rata-rata biaya yang dihabiskan oleh suatu kelompok diagnosis.Tujuan: Mengetahui besarnya biaya pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang menjalani operasi seksio sesarea di RSUP Dr. Sardjito Metode: Rancangan penelitian yang akan digunakan adalah deskriptif. Pasien JKN yang menjalani seksio sesarea pada Januari-Juli 2014 di RSUP Dr. Sardjito diikutsertakan dalam penelitian ini. Pasien yang pindah perawatan ke kelas VIP, VVIP, dan suite di eksklusi. Data biaya pasien akan dirata-rata dan dirinci besarnya berdasarkan karakteristik Hasil & Pembahasan: Sebanyak 136 pasien JKN menjalani seksio sesarea selama Januari-Juli 2014. Rata-rata biaya pasien yang menjalani seksio sesarea adalah 10.337.411 rupiah. Pasien preeklamsia berat mempunyai ratas-rata biaya yang lebih tinggi 3.050.776 rupiah dibandingkan pasien tanpa preeklamsia berat. Pasien dengan 4 penyakit dan komplikasi mempunyai selisih biaya 16.995.952 rupiah lebih tinggi dibandingkan pasien tanpa penyakit. Pasien dengan perawatan ICU mempunyai rata-rata biaya yang lebih tinggi dibanding yang tidak dirawat di ICU yaitu sebesar 3.340.288 rupiah. Selisih rata-rata biaya yang lebih tinggi juga terjadi pada lama rawat inap. Kelas perawatan, lama perawatan di kamar bersalin, tindakan induksi atau stimulasi di kamar bersalin, riwayat seksio sesarea saat ini tidak menyebabkan semakin tingginya biaya seksio sesarea.Kesimpulan: Rata-rata biaya pasien yang menjalani seksio sesarea adalah 10.337.411 rupiah. kondisi penyakit dan komplikasi pasien, preeklamsia berat, lama rawat inap, dan perawatan ICU menyebabkan tingginya biaya pada pasien yang menjalani seksio sesarea. Kata kunci: seksio sesarea, biaya, JKN, INA-CBG’s1,2,3 Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakart
GANGGUAN HASRAT SEKSUAL PADA WANITA PASCASALIN DAN HUBUNGANNYA DENGAN CARA PERSALINAN
1Yusnia Irchami F, 1Irfan H, 1Isanawidya H.P, 1Avie A.B, 2Edi Patmini, 3Agung Nugroho, 2Muhammad Nurhadi Rahman ABSTRACTBackground: Sexual dysfunction in postpartum woman is closely related to the period of pregnancy and childbirth. One of the diagnostic criteria for sexual dysfunction is a sexual desire. Sexual desire disorder can be influenced by psychological factors and marriage relationship. However, there has been no consensus stating with certainty the effect of the method of delivery against sexual desire disorder in postpartum woman.Objective: To assess association between delivery method and sexual desire disorder among postpartum woman in RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.Method: A cross sectional study was conducted involving 53 subjects in spontaneous vaginal group and 49 subjects in sectio caesarea group. The Female Sexual Function Index (FSFI) questionnaire was administered to measure sexual desire disorder in 2-6 months postpartum woman. Data was analyzed using chi-square analysis. Result & Discussion: In spontaneous vaginal group, 62.3% of the subjects experienced sexual desire disorder while in sectio caesarea group showed 55.1% (p=0.463). Spontaneous vaginal delivery increases the risk of sexual desire disorder, but not significant statistically (Prevalence ratio 1.130 convidence interval (CI) 0.814 to 1.569).Conclusion: There was no significant relationship between the method of delivery and the prevalence of sexual desire disorder among postpartum woman in RSUD Panembahan Senopati Bantul, Yogyakarta.Keywords: Sexual desire disorders, spontaneous vaginal delivery, sectio caesarea delivery, postpartum womanABSTRAK Latar Belakang: Disfungsi seksual yang terjadi pada wanita pascasalin erat kaitannya dengan masa kehamilan dan persalinan. Salah satu kriteria diagnostik disfungsi seksual adalah hasrat seksual. Gangguan hasrat seksual dapat dipengaruhi oleh faktor psikologis wanita dan hubungan pernikahan. Namun, belum terdapat konsensus yang menyatakan dengan pasti pengaruh metode persalinan terhadap gangguan hasrat seksual pada wanita pascasalin. Tujuan: Mengetahui hubungan antara metode persalinan terhadap prevalensi gangguan hasrat seksual pada wanita pascasalin di RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.Metode: Desain penelitian ini adalah studi potong lintang (cross sectional) dengan melibatkan 53 subjek pada kelompok persalinan vaginal dan 49 subjek pada kelompok sectio caesarea. Kuesioner Female Sexual Function Index (FSFI) digunakan untuk mengukur gangguan hasrat seksual pada subjek yang berada pada bulan ke 2-6 periode pascasalin. Data dianalisis dengan analis chi-square.Hasil & Pembahasan: Pada kelompok vaginal spontan, sebesar 62,3% subjek mengalami gangguan hasrat seksual sedangkan pada kelompok sectio caesarea didapatkan hasil sebesar 55,1% (p=0,463). Persalinan vaginal spontan meningkatkan risiko terjadinya gangguan hasrat seksual secara tidak bermakna (Rasio prevalensi 1,130 convidence interval (CI) 0,814-1,569). Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara metode persalinan dengan prevalensi gangguan hasrat seksual pada wanita pascasalin di RSUD Panembahan Senopati Bantul Yogyakarta.Kata kunci: Gangguan hasrat seksual, persalinan vaginal spontan, persalinan sectio caesarea, wanita pascasalin 1Mahasiswa S1 Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran UGM2Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran UGM / RSUP Dr. Sardjito3Bagian Kesehatan Ibu dan Anak, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran UGM
MICROVOLUME OF 0.1µL GAMA SLEEVED CRYOLOOPS FOR BLASTOCYST VITRIFICATION OF ASSISTED REPRODUCTIVE TECHNOLOGY PATIENTS
Ita Fauzia Hanoum1,2, Arief Boediono3, Mulyoto Pangestu4,5, Dwi Haryadi1,Shofwal Widad1,2, Djaswadi Dasuki1,2 ABSTRAK Latar Belakang: Prosedur embrio vitrifikasi menggunakan alat berupa grid, straw atau cryoloop. Gama Sleeved cryoloop dibuat dan dikembangkan di klinik Permata Hati. Untuk itu, dilakukan pengamatan keberhasilan prosedur vitrifikasi menggunakan 0.1µl Gama Sleeved cryoloop.Metode: Vitrifikasi dilakukan pada blastokis dengan kualitas baik yang diperoleh pada hari ke 5 setelah fertilisasi. Inform consent telah disampaikan sebelumnya kepada pasien program bayi tabung di Klinik Permata Hati. Prosedur dilakukan dengan menggunakan media handling (GMOPS Plus; Vitrolife) embrio diinkubasi selama 1 menit; (7.5% EG (v/v); 7.5% DMSO (v/v)) selama 2-3 menit, (15% EG (v/v); 15% DMSO v/v; 10 mg/ml Ficoll; 0.65 M Sucrosa) selama 30 detik pada suhu ruang sebelum kemudian diletakkan di dalam cryoloop, setelah itu secara cepat cryoloop yang berisi embrio dibenamkan ke dalam nitrogen cair. Sebelum dilakukan embryo transfer (ET), embrio dihangatkan dengan cara two step technique (sucrose 0.25M) selama 2 menit dan selama 3 menit (sucrose 0.125M).Hasil: Sejumlah 97 blastokis divitrifikasi dan dihangatkan (67 pasien), dimana 91 blastokis berhasil ditransfer ke rahim ibu (93.8%). Blastokis yang tidak berhasil selamat dari prosedur penghangatan adalah blastokis dengan kerusakan lebih dari 50%. Diperoleh kehamilan klinis 43.3% sedangkan angka implantasi adalah 37.4%. Sampai saat ini, dilaporkan 20 kelahiran (23 bayi) dari program vitrifikasi menggunakan 0.1µl Gama Sleeved cryoloop, sementara 5 kehamilan masih berlangsung. Satu kehamilan dilaporkan gugur pada usia kehamilan yang masih sangat awal, dua keguguran pada usia kehamilan 12 minggu dan satu bayi lahir meninggal karena kelainan kongenital.Kesimpulan: 0.1µl Gama Sleeved cryoloop merupakan pilihan untuk digunakan sebagai alat vitrifikasi blastokis. Data awal yang kami sampaikan dan kelahiran bayi dari program tersebut memberikan harapan untuk kesuksesan program simpan beku embrio di klinik Permata Hati RSUP DR Sardjito Yogyakarta.Kata kunci: kriopreservasi, blastokis, vitrifikasi ABSTRACTBackground: Vitrification has been applied succesfully in human embryo using grid, straw and cryoloop. Gama Sleeved is a home made device develop at Permata Hati. We assessed the survival rate of human blastocyst vitrified in 0.1µl Gama Sleeved cryoloop as device.Method: Excess good grade human D5 embryos were vitrified, upon a detailed informed consent. Embryos were hold in handling media (GMOPS Plus; Vitrolife) for 1 minute; (7.5% EG (v/v); 7.5% DMSO (v/v)) for 2-3 minutes, (15% EG (v/v); 15% DMSO v/v; 10 mg/ml Ficoll; 0.65 M Sucrosa) for 30 seconds at room temperature before inserted in to the loops, then directly plunged into the liquid nitrogen. Prior to ET, embryos were warmed by two step technique in sucrose 0.25M for 2 min and 0.125M sucrosa for 3 min. Embryos were then cultured.Results: Total of 97 vitrified warmed human blastocyst (67 patients) were used and 91 (93.8%) were transferred. Non-transferred blastocyst (6.2%) has more than 50% lyse. The clinical pregnancy rate was 43.9%. The implantation rate was 37.4%. Currently, 20 deliveries of 23 babies born from vitrified blastocyst using 0.1µl Gama Sleeved cryoloop, and another 5 ongoing pregnancy. So far there was 1 early pregnancy loss, 2 miscarriages at 12 weeks pregnancy, and one infant died due to a congenital anomaly.Conclusion: 0.1µl Gama Sleeved cryoloop provides an excellent alternative to existing vitrification devices. These initial data and babies delivered from the program have been promising to a vitrification system in our own ART program.Keywords: cryopreservation, blastocyst, vitrification1Permata Hati Infertility Clinic RSUP DR Sardjito, Yogyakarta2Div Reproductive Endocrinology and Fertility OBGYN Medical Faculty Gadjah Mada University, Yogyakarta3Lab. Anatomi Embriologi FKH, Institut Teknologi Pertanian, Bogor4EPRD- Dept. Obstetrics and Gynecology, Monash University, Monash Medical Center,Victoria, Melbourne5Lab. Reproductive Physiology, Jenderal Soedirman University, Purwokerto Correspondence address: + 62 274 518684; fax + 62 274 553575; email: [email protected]
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP KECEMASAN PRIMIGRAVIDA DALAM MENGHADAPI PERSALINAN
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP KECEMASAN PRIMIGRAVIDA DALAM MENGHADAPI PERSALINANMukhoirotin1, Ibrahim Rahmat2, Risanto Siswosudarmo3ABSTRACTBackground: During a process of labor and delivery a primigravida mother tends to have increased fear and anxiety, because of pain and discomfort. She is worry about her safety and her baby. Unless it is well managed it might cause same complication such us premature labor, prolonged labor, and fetal death. Health education is one effort that can be done by health workers to decrease anxiety and prepare mother in facing the process of labor and delivery.Objective: To find out the influence of health education to primigravida anxiety in facing the process of labor and delivery.Method: The study was a quasy experiment by pretest-postest control group design. Subjects were all primigravidas at Peterongan Public Health Centre (Puskesmas) area of Jombang Regency. A total of sixty six respondents meeting the inclusion and exclusion criteria were recruited. They were devided into two groups, the treated group received health education and booklet (n=33) and the control group received health education only (n=33). The sampling tehnique were using consecutive sampling and cluster randomized trial. The instrument used to measure anxiety was Zung Self-Rating Anxiety Scale. Data were processed using computer program. Paired and independent sample t-tests were used for statistical analysis .Results and Discussion: The anxiety scores before treatment was comparable between the two groups (p>0.05). This scores decreased significantly after treatment from 36.79 to 29.79 in the treated group, and from 36.85 to 32.03 in the control group (p0,05). Skor ini menurun secara signifikan setelah perlakuan dari 36,79-29,79 pada kelompok perlakuan, dan dari 36,85-32,03 pada kelompok kontrol (p<0,05). Skor setelah perlakuan terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan dan kontrol (29,79±4,14 vs. 32,03±4,01, p<0,05).Kesimpulan: Pendidikan kesehatan dengan booklet lebih efektif untuk menurunkan kecemasan primigravida dalam menghadapi persalinan dibandingkan dengan pendidikan kesehatan saja.Kata Kunci: pendidikan kesehatan, booklet, kecemasan, primigravida. 1,2 Program Studi Magister Keperawatan, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta3 Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
PENGARUH STATUS RAWATAN BAYI DI NICU TERHADAP RISIKO DEPRESI PASCASALIN
PENGARUH STATUS RAWATAN BAYI DI NICU TERHADAP RISIKO DEPRESI PASCASALINYasmina Ema1, Rukmono Siswishanto2, Shofwal Widad3ABSTRACT Background: Postnatal depression is a frequent complication after childbirth, approximately occurred 6.5 to 14.5% in postnatal women. Untreated postnatal depression can have adverse long-term effects. Episodes of depression can be chronic so it will affect the quality of life. Depression that occurs in the mother will affect behavioral, emotional, cognitive, and child interpersonal is in the future. Post partum women whose babies are takenb care in the NICU is believed to have the level of depression, level of anxiety, and trauma symptoms that were higher compared with the women who don’t. The occurrence of depression is associated with a variety of factors, including the adaptation with a sick baby, having a baby that isolated in the NICU, and the stress arising from the NICU environment itself.Objective: To observe the influence of the status of infants in the NICU treatment on the incidence of postnatal depression.Method: This study used a cross-sectional design. The subjects were post portum women days 14-21 who met the criteria. Subjects were divided into 2 groups, one group of mothers with babies in the NICU and one group of mothers with babies under wentrooming. This study used edinburgh post natal depression scale (EPDS). Statistical test used was chi-square and logistic in regression.Results and Discussion: The subjects who met the criteria were 144 women. A total of 19 women was suffered from postnatal depression (13.1%). Educational status of husband and infant admision to NICU giving significant differences on postnatal depression (p = 0.027 and p = 0.047). Infant care in the NICU increased postnatal depression 3.34 times compared rooming in group (CI 95% 1.12 to 9.99).Conclusion: The proportion of postnatal depression group of mothers with infants treated in the NICU were larger than the rooming in group. Keyword: postnatal depression, neonatal intensive care admission, EPDS ABSTRAK Latar Belakang: Depresi pascasalin merupakan salah satu komplikasi yang sering muncul setelah persalinan, terjadi pada 6,5-14,5% dari wanita pascasalin. Depresi pascasalin yang tidak diobati dapat memiliki efek jangka panjang yang merugikan. Episode depresi ini bisa menjadi kronis sehingga akan mempengaruhi kualitas hidupnya. Depresi yang terjadi pada ibu akan mempengaruhi perilaku, emosi, kognitif, dan interpersonal anak di kemudian hari. Wanita pascasalin yang bayinya dirawat di NICU dipercaya mempunyai tingkat depresi, tingkat kecemasan, dan gejala trauma yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita pascasalin yang bayinya menjalani rawat gabung. Terjadinya depresi ini berhubungan dengan berbagai macam faktor, meliputi adaptasi dengan bayi yang sakit, memiliki bayi yang terisolasi di ruangan NICU, dan stress yang timbul karena lingkungan NICU itu sendiri.Tujuan: Mengetahui pengaruh status rawatan bayi di NICU terhadap kejadian depresi pascasalin.Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang. Subyek penelitian adalah pasien pascasalin hari ke 14-21 yang memenuhi kriteria inklusi. Subyek dibagi menjadi 2, kelompok ibu dengan bayi yang dirawat di NICU dan kelompok ibu dengan bayi rawat gabung. Penelitian ini menggunakan Edinburgh Post Natal Depression Scale (EPDS).Hasil dan Pembahasan: Subyek penelitian yang memenuhi kriteria berjumlah 144 orang. Sebanyak 19 ibu menderita depresi pascasalin (13,1%). Pendidikan suami dan status rawat bayi memberikan perbedaan secara bermakna terhadap depresi pascasalin (p= 0,027 dan p=0,047). Perawatan bayi di NICU meningkatkan risiko depresi pascasalin sebesar 3,34 kali dibanding perawatan bayi secara rawat gabung (CI 95% 1,12-9,99). Kesimpulan: Proporsi depresi pascasalin kelompok ibu dengan bayi dirawat di NICU lebih besar dibanding kelompok ibu dengan bayi rawat gabung.Kata kunci: depresi pascasalin, status rawat bayi NICU, skor EPDS. 1,2,3 Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mad
PERBANDINGAN ANTARA PEMBERIAN PROGESTERON VAGINAL DAN ALLYLESTRENOL ORAL PADA PENANGANAN ABORTUS IMINENS
Umar Dhani1, Ova Emilia2, Risanto Siswosudarmo3 ABSTRACTBackground: Abortion is still the most common complication of pregnancy. Inadequate secretion of progesterone in early pregnancy has been associated with one of the cause of miscarriage. Progesterone supplementation has been used to prevent abortion but it is still debatable.Objective: To compare the success rate of vaginal progesterone vs oral allylestrenol in the treatment of threatened abortion and duration of maintaining pregnancy.Method: Randomized Clinical Trial. The study was conducted at four affiliated hospitals of Sardjito hospital Yogyakarta from November 2013 to May 2014. Subjects with the diagnosis threatened abortion meeting the following criteria were included: 8-16 weeks gestational age, hemoglobin content eH 10 g/dL, and live fetus. The following patients were excluded: there was a history of induced abortion, hormonal treatment, associated with IUD use, uterine anomaly and gynecology tumor. A total of 60 patients were recruited to obtain 0.6 times proportion difference and 80% power of study. Eligible subjects consisting of 30 and 29 were randomly allocated into vaginal progesterone and oral allylestrenol groups. Ability to maintain, duration of pregnancy and side effects were outcomes of interest. Chi-square, t-test, Fisher exact test and survival analysis were used for statistical analysis.Result & Discussion: Abortion rate in vaginal progesterone was 23.3% compared 37.9% with oral allylestrenol group (RR=0.61; 95% CI 0.27-1.36). Duration of maintaining pregnancy was 16.57 days vs 9.82 days in vaginal progesterone and oral allylestrenol respectively (mean difference 6.75 days; 95% CI 2.30-11.20). There was no difference in term of gestational age on the abortion rate (p>0.05). One case undergoing nausea was found in oral allylestrenol group.Conclusion: There was no difference between vaginal progesterone and oral allylestrenol in term of abortion rate. Vaginal progesterone could maintain pregnancy longer than oral allylestrenol.Keywords: Threatened abortion, Vaginal progesterone, Oral allylestrenol, Abortion rate, Side effect. ABSTRAKLatar Belakang: Abortus masih merupakan komplikasi kehamilan yang sering terjadi. Sekresi progesteron yang tidak memadai pada awal kehamilan telah dikaitkan dengan salah satu penyebab abortus. Suplementasi progesteron digunakan untuk mencegah keguguran spontan walaupun masih diperdebatkan.Tujuan: Membandingkan keberhasilan terapi progesteron vaginal vs. allylestrenol oral dalam hal kejadian abortus dan lama terjadinya abortus pada kasus abortus iminens.Metode: Randomized Clinical Trial. Penelitian dilakukan dibagian Obstetrika dan Ginekologi di RS Kabupaten yang merupakan afiliasi RS Sardjito dari bulan November 2013 sampai dengan Mei 2014. Subyek yang memenuhi kriteria berikut ini: hamil 8-16 minggu, terdiagnosis abortus iminens, kadar hemoglobin > 10 g/dL, dan janin hidup. Pasien berikut ini tidak dimasukkan dalam penelitian: riwayat abortus provokatus, riwayat penggunaan terapi hormonal, abortus imminens karena kegagalan IUD, anomali uterus dan tumor ginekologis. Sebanyak 60 pasien diikutsertakan dalam penelitian ini untuk mendapatkan beda proporsi kejadian abortus sebesar 0,6 kali dengan kekuatan penelitian sebesar 80%. Subjek dibagi menjadi dua kelompok secara random yaitu kelompok yang mendapat progesteron vaginal dan allylestrenol oral masing-masing sebanyak 30 dan 29. Keberhasilan mempertahankan kehamilan, lama hari bertahan dan efek samping adalah hasil yang dinilai. Uji Chi-square, t-test, uji Fisher dan analisis survival adalah uji statistik yang dipakai.Hasil & Pembahasan: Kejadian abortus pada kelompok progesteron vaginal adalah 23,3% dibanding, 37,9% pada kelompok allylestrenol oral (RR=0,61; 95% CI 0,27-1,36). Lama bertahan pada kelompok progesteron vaginal rata-rata 16,57 hari dibanding rata-rata 9,82 hari pada kelompok allylestrenol oral (beda rata-rata 6,75 hari; 95% CI 2,30-11,20). Tidak ada perbedaan bermakna pengaruh umur kehamilan terhadap kejadian abortus pada kedua kelompok (p>0,05). Efek samping berupa perasaan mual hanya dijumpai pada kelompok allylestrenol oral.Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan kejadian abortus pada kedua kelompok meskipun kemampuan bertahan lebih lama pada kelompok progesteron vaginal.Kata Kunci: Abortus iminens, progesteron vaginal, allylestrenol oral, angka abortus, efek samping. 1,2,3 Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/RS SardjitoYogyakart