SOSIALITAS; Jurnal Ilmiah Pend. Sos Ant
Not a member yet
    432 research outputs found

    IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENUMBUHAN BUDI PEKERTI DI SMAN 1 KARANGANYAR

    Full text link
    ABSTRAKPenelitian bertujuan untuk mengetahui strategi implementasi kebijakan penumbuhan budi pekerti di SMAN Negeri 1 Karanganyar. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan ada 5 strategi yang dilakukan sekolah untuk mengimplementasikan kebijakan penumbuhan budi pekerti di SMAN 1 Karanganyar. Pertama melalui sosialisasi kegiatan seremonial yaitu saat upacara bendera, pelaksanaan Pengenalan Lingkungan Sekolah dan seminar penumbuhan budi pekerti. Kedua, pembiasaan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Ketiga, pembiasaan dalam kegiatan non kurikuler. Keempat, adanya penilaian sikap dalam laporan pembelajaran. Kelima, adanya peraturan dan sanksi yang mengikat. Dalam analisi teori fakta sosial Emile Durkheim, penumbuhan budi pekerti merupakan sebuah fakta sosial. Dalam penumbuhan budi pekerti menunjukkan semangat disiplin moral, adanya keterikanan terhadap kelompok sosial dan adanya otoritas yang mengaturnya. Ketiga hal tersebut merupakan unsur moralitas dari teori fakta sosial Emile Durkheim.Kata Kunci : Implementasi, Penumbuhan Budi Pekerti, Fakta Sosia

    RASIONALITAS LIKE DI SOSIAL MEDIA SISWA SMA NEGERI 1 TERAS, BOYOLALI

    Full text link
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) alasan mengapa siswa SMAN 1 Teras melakukan like di sosial media; (2) bagaimana upaya siswa SMAN 1 Teras untuk mendapatkan like di sosial media; dan (3) bagaimana dampak like bagi siswa SMAN 1 Teras. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAN 1 Teras, Boyolali. Sampel yang dipilih adalah siswa kelas XI dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dilaksanakan dengan wawancara mendalam dan observasi. Analisis data menggunakan analisis model interaktif. Dengan menggunakan teori tindakan rasional Max Weber yaitu tindakan rasional instrumental (mempertimbangkan alat dan tujuan yang ingin dicapai). Hasil penelitian adalah sebagai berikut ini. Pertama, like di sosial media yang dilakukan oleh siswa SMAN 1 Teras disebabkan oleh adanya pemaknaan siswa terhadap like. Kedua,upaya yang dilakukan oleh siswa SMAN 1 Teras untuk mendapatkan like di sosial media terdiri dari upaya nyata (meminta langsung ke teman) dan upaya virtual (menggunakan hashtaq populer, dan melakukan like untuk mendapatkan like balasan). Ketiga, dampak like bagi siswa SMAN 1 Teras terdiri dari dampak nyata (mendapat masalah, dimusuhi teman, perasaan senang atau sedih akibat like) dan dampak virtual (tidak mendapat like, adanya relasi like for like). Kata Kunci : like, makna, upaya, dampak, tindakan rasional Max Webe

    STRATEGI ORANG TUA UNTUK MEMINIMALISIR DAMPAK TELEVISI TERHADAP ANAK DI KOTA SURAKARTA

    Full text link
    STRATEGI ORANG TUA UNTUK MEMINIMALISIR DAMPAK TELEVISI TERHADAP ANAK DI KOTA SURAKARTA  Dimas Teja Kusuma, Siany Indria Liestyasari, Zaini Rohmad Pendidikan Sosiologi Antropologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret, [email protected]   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengetahui pola konsumsi televisi anak di keluarga. (2) Mengetahui strategi orang tua untuk meminimalisir dampak televisi terhadap anak. (3) Melakukan analisis dengan teori Strukturasi berkaitan dengan konsumsi televisi anak dalam keluarga.Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara mendalam. Informan yang digunakan sebagai sumber data pada penelitian ini adalah 3 keluarga dengan kelas berbeda yang bertempat tinggal di Kota Surakarta. Teknik pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan terdiri dari empat tahap yaitu: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) Ada tiga pola yang membedakan ketiga keluarga kaitanya dengan konsumsi televisi anak. Anak di keluarga pertama memiliki pola konsumsi televisi yang bebas dengan hak akses televisi yang banyak. Anak di keluarga kedua memiliki pola menonton televisi yang sangat teratur dengan hak akses yang kecil. sedangkan anak di keluarga ketiga memiliki pola menonton televisi yang teratur dengan hak akses yang besar. (2) Ketiga keluarga yang diteliti memiliki strategi yang berbeda. Keluarga pertama menerapkan strategi permisif yang membebaskan anak untuk mengkonsumsi televisi. Keluarga kedua menggunakan strategi otoriter dengan mengatur konsumsi televsi anak. Sedangkan keluarga yang ketiga memiliki strategi otoritatif yang mana tetap mengawasi konsumsi televisi anak akan tetapi tetap memberi kebebasan anak untuk mengkonsuumsi acara yang ingin dikonsumsinya. (3) Proses penerapan strategi dalam keluarga merupakan proses strukturasi. Artinya  strategi  tersebut juga akan terus menerus terjadi dalam satu ruang dan waktu dan akan berproses kebali pada ruang dan waktu yang berbeda.  Kata kunci: televisi, strukturasi, keluarg

    SMARTPHONE DAN KELUARGA (DETERITORIALISASI KELUARGA PEMAKAI SMARTPHONE DI KOTA SURAKARTA)

    Full text link
    SMARTPHONE DAN KELUARGA  (DETERITORIALISASI KELUARGA PEMAKAI SMARTPHONE  DI KOTA SURAKARTA) Eri Satria Yudatama, Nurhadi dan Atik Catur BudiatiPendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, Surakarta [email protected] ABSTRACT The era of globalization brings the world that is experiencing deterritorialization, a new face of meaning is shown because territorial existence does not survive in one location. Deterritorialization contains the fusion of cultural boundaries that exist within a society. Through the participatory of fieldwork, this study aims to understand the patterns of behavior and relationships among the family members embodied in the smartphone user family in Surakarta, which has relevance to the context of deterritorialization that appears in the current urban families. Family members are able to get out of the territory of the family room when they are inside the home of a family institution. This results in the dynamics and the creation of new spaces of "virtual space" and "consumption space" in family homes in Surakarta. On the other hand, there is a new scheme that can be evoked from the smartphone user's family case is the existence of negotiations or adjustments made by the family members through socialization and interaction within the family home of smartphone users.  Keywords: urban families, smartphone, socialization, interaction, deterritorialization

    KONTRADIKSI FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN (KAJIAN FENOMENOLOGI PRAKTIK MENYONTEK PESERTA DIDIK SMA N 8 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2015/2016)

    Full text link
    ABSTRAKWahyu Joko Purnomo. NIM K8411071 KONTRADIKSI FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN (KAJIAN FENOMENOLOGI PRAKTIK MENYONTEK PESERTA DIDIK SMA N 8 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2015/2016). Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Januari 2016.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui media pembelajaran yang digunakan peserta didik menyontek dan cara-cara yang dipakai untuk memanfaatkannya. Penelitian ini dilakukan di SMA N 8 Surakarta.Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data berasal dari wawancara. Wawancara dilakukan dengan informan kunci yang terdiri dari 2 peserta didik laki-laki dan 2 peserta didik perempuan yang terkenal sebagai pimpinan menyontek dikelas. Sedangkan informan pendukung terdiri dari ketua kelas dan 1 peserta didik, 1 guru sosiologi dan 2 guru matematika, serta penjaga fotokopi. Penelitian ini menggunakan teknik pengambilan informan dengan cara purposive. Dalam melakukan uji validitas data, yang dilakukan yaitu dengan metode cara pengumpulan data yang berbeda dan triangulasi sumber. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan serta verifikasi.Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, mendapatkan hasil sebagai berikut: (1) media pembelajaran yang digunakan untuk menyontek adalah (a) LKS, dan (b) HP. (2) cara yang digunakan peserta didik dengan memanfaatkan media pembelajaran yaitu (a) LKS difotokopi diperkecil, dan (b) browsing lewat internet.Media pembelajaran tidak hanya menjadi satu media yang diperuntukkan sebagai penunjang belajar dan alat pemudah memahami mata pelajaran, melainkan menjadi sarana media menyontek peserta didik. Pemilihan LKS dan HP sebagai media menyontek merupakan suatu proses habitus dan arena yang ditempati oleh peserta didik. Habitus membuat peserta didik melakukan pilihan menyontek dengan strategi pemanfaatan media pembelajaran sebagai modal dalam menghadapi ujian.Kata kunci : Praktik, Menyontek, Media Pembelajara

    HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DAN SARANA PENDIDIKAN DENGAN PRESTASI BELAJAR SOSIOLOGI SISWA KELAS X IPS SMA NEGERI 1 TERAS

    Full text link
    ABSTRAKMuhammad Fauzan. K8412052. HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BELAJAR DAN SARANA PENDIDIKAN DENGAN PRESTASI BELAJAR SOSIOLOGI SISWA KELAS X IPS SMA NEGERI 1 TERAS. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret. Juni. 2016.Penelitian bertujuan untuk mengetahui: (1) Hubungan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar Sosiologi siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Teras. (2) Hubungan antara sarana pendidikan dengan prestasi belajar Sosiologi siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Teras. (3) Hubungan antara motivasi belajar dan sarana pendidikan dengan prestasi belajar Sosiologi siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Teras. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Teras yang berjumlah 170 siswa. Sampel yang digunakan sejumlah 60 siswa diambil dengan teknik sampling insidental . Teknik pengumpulan data dilakukan dengan angket. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi ganda. Kesimpulan penelitian ini bahwa: (1) Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar Sosiologi siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Teras. (2) Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara sarana pendidikan dengan prestasi belajar Sosiologi siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 Teras. (3) Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara motivasi belajar dan sarana pendidikan dengan prestasi belajar Sosiologi signifikan dengan prestasi belajar Sosiologi siswa kelas X IPS SMA Negeri 1 TerasKata kunci: Kuantitatif, Prestasi Belajar Sosiologi, Motivasi belajar, Sarana Pendidika

    MOTIF ‘AGAR’ DAN MOTIF ‘KARENA’ DALAM KEPUTUSAN ORANG TUA MEMILIH LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR (Studi Fenomenologi Alfred Schutz dalam Konteks Lembaga Bimbingan Belajar di Kabupaten Sukoharjo)

    No full text
    ABSTRAKSiti Fatimah. K8412077. MOTIF ‘AGAR’ DAN MOTIF ‘KARENA’ DALAM KEPUTUSAN ORANG TUA MEMILIH LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR (STUDI FENOMENOLOGI ALFRED SCHUTZ DALAM KONTEKS LEMBAGA BIMBINGAN BELAJAR DI KABUPATEN SUKOHARJO) TAHUN 2016. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Agustus 2016Penelitian ini bertujuan untuk untuk menjelaskan motif ‘agar’ dan motif ‘karena’ yang melekat pada tindakan orang tua dari latar belakang budaya yang berbeda dalam keputusannya memilih lembaga bimbingan belajar akademik di Sukoharjo.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Sumber data yang digunakan: informan, tempat dan peristiwa, dokumen. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan: wawancara, observasi, dan dokumentasi. Validitas data yang digunakan adalah triangulasi metode. Analisis data yang digunakan adalah analisis model interaktif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif-motif orang tua dalam keputusannya memilih lembaga bimbingan belajar di Sukoharjo dapat digolongkan ke dalam dua jenis motif sesuai dengan teori fenomenologi Alfred Schutz, yaitu motif ‘agar’ dan motif ‘karena’. Motif ‘agar’ mengacu kepada suatu keadaan di masa mendatang dimana aktor berkeinginan untuk mencapainya melalui beberapa tindakannya. Motif ‘karena’ mengacu langsung pada peristiwa masa silam sebagai sebab-sebab tindakan.  Adanya motif ‘agar’ atau motif tujuan orang tua memasukkan anak ke lembaga bimbingan belajar lokal diantaranya : (1) agar anak memiliki aktivitas yang positif (agar anak mengenal kegiatan dan dunia baru, agar ilmu pengetahuan anak bertambah, agar anak jauh dari pengaruh lingkungan bermain yang negatif), (2) agar dapat meningkatkan nilai akademik. Nilai akademik yang tinggi sangat penting sebagai dasar untuk masuk ke sekolah lanjutan negeri yang favorit. Orang tua ingin anaknya diterima di sekolah negeri untuk menghemat biaya pendidikan. Sedangkan motif ‘karena’ atau motif sebab yang melatarbelakangi orang tua memasukkan anak ke lembaga bimbingan belajar antara lain: (1) karena kesibukan orang tua, baik karena kesibukan bekerja maupun kesibukan mengurus anak-anak yang masih kecil, (2) ketidakmampuan orang tua dalam membimbing anak belajar. Ketidakmampuan orang tua tersebut dipengaruhi oleh dua hal yaitu karena ketidakmampuan orang tua dalam mengendalikan perilaku anak dan ketidakmampuan orang tua dalam menguasai materi pelajaran yang sulit.  Perilaku anak yang sulit diatur saat mendampingi anak belajar antara lain : anak kurang konsentrasi dalam belajar, anak malas belajar karena lebih suka bermain dengan teman dan anak suka membantah dan bertengkar dengan orang tua ketika belajar. Kata kunci: motif ‘agar’, motif ‘karena’, latar belakang orang tua, bimbel  

    KOMPARASI METODE PEMBELAJARAN CIRC DAN METODE PEMBELAJARAN PBL SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SOSIOLOGI SISWA KELAS XI IPS SMA NEGERI 1 GONDANG TAHUN PELAJARAN 2015/2016

    Full text link
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan mengetahui: (1) Perbedaan penggunan metode Cooperative Reading and Composition (CIRC) dan metode  Problem Based Learning (PBL) terhadap prestasi belajar sosiologi siswa (2) Pengaruh penggunaan metode Cooperative Reading and Composition (CIRC) dan metode  Problem Based Learning (PBL) terhadap prestasi belajar sosiologi siswa (3) Seberapa besar pengaruh penggunaan metode Cooperative Reading and Composition (CIRC) dan metode  Problem Based Learning (PBL) terhadap prestasi belajar sosiologi siswa. Adapun penelitian dilakukan pada kelas XI IPS di SMA Negeri 1 Gondang. Penelitian ini termasuk peneletian kausal komparatif bentuk penelitian semua. Populasi penelitian adalah seluruh siswa SMA Negeri 1 Gondang Tahun pelajaran 2015/2016. Sampel penelitian sebanyak dua kelas diambil dengan teknik multistage cluster random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan tes, angket dan dokumentasi. Teknik analisis data mengunakan analisi uji-t ganda Scheffe.Hasil peneletian menunjukkan: (1) ada perbedaan penggunaan metode CIRC dan metode PBL terhadap prestasi belajar sosiologi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Gondang. Hal ini dapat dilihat dari perhitungan analisis data yang menunjukkan bahwa ada perbedaan mean sebesar 10,13. Perbedaan ini merupakan selisih dari mean metode CIRC yaitu sebesar 52,67 dengan mean metode PBL yaitu sebesar 62,8 dengan harga t sebesar 4,014 dan ρ = 0,000 (sangat signifikan). (2) ada pengaruh penggunaan metode CIRC dan metode PBL terhadap prestasi belajar sosiologi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Gondang. Hal ini dapat dilihat dari harga F sebesar 16,115 dengan tingkat signifikansi 0,000 (sangat signifikan). (3) besar pengaruh penggunaan metode CIRC dan metode PBL terhadap prestasi belajar sosiologi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Gondang sebesar 21%.Kesimpulan penelitian ini adalah ada perbedaan penggunaan metode Cooperative Reading and Composition (CIRC) dan metode  Problem Based Learning (PBL) terhadap prestasi belajar sosiologi siswa kelas XI IPS SMA Negeri 1 Gondang. Nilai rata-rata kelas metode Problem Based Learning (PBL) lebih tinggi daripada nilai rata-rata kelas metode Cooperative Reading and Composition (CIRC). Metode belajar memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar sosiologi siswa yaitu sebesar 21% . Selebihnya sebesar 79% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak diteliti oleh peneliti. Kata Kunci    : Prestasi Belajar Sosiologi, Metode Cooperative Reading and Composition (CIRC), Metode Problem Based Learning (PBL)

    HIPERREALITAS “ANGKA” DALAM INSTAGRAM (STUDI FENOMENOOGI TENTANG DAMPAK MEDIA SOSIAL DIKALANGAN PESERTA DIDIK SMA NEGERI 4 SUARAKARTA)

    No full text
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan (1) “angka” dalam instagram dapat menunjukan eksistensi dikalangan peserta didik SMA Negeri 4 Surakarta; (2) “angka” dalam instagram dapat mempengaruhi pola perilaku  di kalangan peserta didik SMA Negeri 4 Surakarta.Informan yang dipilih adalah 9 siswa kelas XI di SMA Negeri 4 Surakarta. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis fenomenologi. Data primer dikumpulkan melalui teknik dokumentasi menggunakan screenshoot terhadap akun media sosial instagram milik peserta didik. Sementara data sekunder diperoleh dengan wawancara terhadap informan. Uji validitas data menggunakan trianggulasi sumber dan trianggulasi metode. Analisis data melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi.Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) “Angka” adalah jumlah followers dan like yang diperoleh seseorang dalam akun media sosial instagram. Dalam penelitian ini, “angka” dapat menunjukan eksistensi peserta didik. Hal ini dibuktikan dengan peserta didik yang berlomba-lomba untuk mendapatkan banyak “angka”. Sehingga semakin banyak “angka” yang diperoleh seseorang, maka ia akan semakin populer; (2) “Angka” tidak hanya mampu menunjukan eksistensi para peserta didik, namun “angka” juga dapat mempengaruhi pola perilaku para peserta didik. Hal ini ditunjukan dengan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik agar dirinya terlihat eksis diantaranya dengan menyelenggarakan pesta ulang tahun di hotel-hotel berbintang, berwisata ke tempat-tempat berkelas seperti resort dan kapal pesiar mewah, serta tempat-tempat yang tengah populer saat itu hanya sekedar untuk berfoto. Sehingga “angka” menjadikan peserta didik untuk memiliki gaya hidup yang hedonis dan konsumftif. Kata Kunci : Hiperrealitas, Media Sosial, Instagra

    PENGGUNAAN CLOSED CIRCUIT TELEVISION SEBAGAI MEKANISME PENDISIPLINAN DI SMAN 2 KARANGAYAR

    Full text link
    ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) bentuk-bentuk pelanggaran tata tertib sekolah yang dilakukan oleh siswa di SMAN 2 Karanganyar yang selama ini sudah terekam CCTV; (2) upaya apa saja yang dilakukan oleh sekolah dalam menggunakan CCTV sebagai mekanisme pendisiplinan siswa di SMAN 2 KarangayarPenelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menghasilkan dan mengolah data penelitian yang sifatnya deskriptif, seperti transkrip wawancara dan observasi. Populasi dalam penelitian ini adalah civitas akademik SMAN 2 Karangayar.. Informan yang terpilih adalah kepala sekolah, beberapa guru, karyawan, dan siswa. Teknik pengambilan subjek penelitian dilakukan menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu, yaitu (1) informan adalah seorang kepala sekolah, guru Bimbingan Konseling, petugas STP2K, karyawan dan siswa; (2) mempunyai wewenang atau pengalaman individu terhadap penggunaan CCTV di SMAN 2 Karangayar. Teknik pengumpuan data dilaksanakan dengan teknik wawancara dan observasi tentang penggunaan CCTV sebagai mekanisme pendisiplinan. Teknik analisis data dilakukan dengan cara pengumpulan data, reduksi data (data reduction), sajian data (data display) dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data (conclution drawing).            Hasil penelitian adalah sebagai berikut ini. Pertama, bentuk pelanggaran tata tertib siswa yang dilakukan siswa di SMAN 2 Karangayar yang sudah terekam CCTV di kategorikan ke dalam tiga jenis pelanggaran tata tertib. (1) bentuk tindakan pelanggaran tata tertib hubungan yaitu tindak pencurian oleh siswa dengan beban poin 50; (2) bentuk tindakan pelanggaran tata tertib lingkungan, yaitu gaduh di kelas, merusak mebeler, melompat pagar, dan membawa HP ke sekolah dengan beban poin 10-20; dan (3) tidak tertib sholat berjamaah yang merupakan bentuk tindakan pelanggaran tata tertib ibadah dengan beban poin 10-25. Kedua, upaya yang dilakukan SMAN 2 Karangayar dalam menggunakan CCTV sebagai mekanisme pendisiplinan siswa dengan penggunaan 22 CCTV di ruang kelas dan 9 CCTV di ruang publik dalam lingkungan sekolah. Selain itu juga adanya hierarki pengawasan yang dilakukan sekolah dengan menempatkan monitor pengawas CCTV di ruang kepala sekolah dan ruang Bimbingan dan Konseling. Penggunaan CCTV sebagai mekanisme pendisiplinan di SMAN 2 Karangayar tidak efektif karena salah satu syarat pendisiplinan yaitu sistem ujian tidak berlangsung dan hal ini diketahui secara umum oleh siswa. Sehingga menyebabkan efek panopticon yang seharusnya menimbulkan kesadaran dan visibilitas yang membuat individu merasa otomatis diawasi dan seolah olah permanen tidak terjadi. Kata Kunci : CCTV, pendisiplinan, sekola

    398

    full texts

    432

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SOSIALITAS; Jurnal Ilmiah Pend. Sos Ant
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇