SOSIALITAS; Jurnal Ilmiah Pend. Sos Ant
Not a member yet
432 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN ANTARA PROKRASTINASI AKADEMIK DAN KONFORMITAS TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU MENYONTEK SISWA PADA MATA PELAJARAN SOSIOLOGI KELAS XI IPS SMA NEGERI KARTASURA SUKOHARJO
HUBUNGAN ANTARA PROKRASTINASI AKADEMIK DAN KONFORMITAS TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU MENYONTEK SISWA PADA MATA PELAJARAN SOSIOLOGI KELAS XI IPS SMA NEGERI KARTASURA SUKOHARJO Danang Aditya NugrohoPendidikan Sosiologi Antropologi Universitas Sebelas Maret SurakartaEmail : [email protected] Dr. Zaini Rohmad, M.Pd, Dra. Siti Rochani Ch. M. PdDosen Pembimbing Pendidikan Sosiologi AntropologiUniversitas Sebelas Maret Surakarta ABSTRAK : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara prokrastinasi akademik dengan perilaku menyontek siswa pada mata pelajaran sosiologi kelas XI IPS SMA Negeri 1 Kartasura Sukoharjo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan mengunakan pendekatan Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan angket dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi product moment Karl Pearson dan analisis korelasi ganda. Hasil penelitian adalah sebagai berikut ini: (1) Terdapat hubungan positif yang signifikan antara prokrastinasi akademik dengan perilaku menyontek siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran sosiologi SMA Negeri 1 Kartasura dengan nilai r Pearson sebesar 0,500 dengan angka signifikansi 0,000. (2) Terdapat hubungan positif yang signifikan antara konformitas teman sebaya dengan perilaku menyontek siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran sosiologi SMA Negeri 1 Kartasura dengan nilai r Pearson sebesar 0,443 dengan angka signifikansi 0,002. (3) Terdapat hubungan positif yang signifikan antara prokrastinasi akademik dan konformitas teman sebaya dengan perilaku menyontek siswa kelas XI IPS pada mata pelajaran sosiologi SMA Negeri 1 Kartasura dengan hasil Fhitung 8,950 dengan signifikansi 0,001 dan koefisien korelasi sebesar 0,547. Dapat disimpulkan bahwa prokrastinasi akademik dan konformitas teman sebaya secara bersama-sama memiliki hubungan yang positif dan signifikan dengan perilaku menyontek siswa pada mata pelajaran sosiologi kelas XI IPS SMA Negeri 1 Kartasura.Kata Kunci : prokrastinasi akademik, konformitas teman sebaya, perilaku menyontek
Hubungan Antara Intensitas Komunikasi Keluarga Dan Minat Belajar Dengan Pemilihan Program Studi Di Perguruan Tinggi Siswa Kelas XII SMA Batik 2 Surakarta.
ABSTRAKYeni Istikomah. K8414058. Hubungan Antara Intensitas Komunikasi Keluarga Dan Minat Belajar Dengan Pemilihan Program Studi Di Perguruan Tinggi Siswa Kelas XII SMA Batik 2 Surakarta. Skripsi, Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.Penelitian ini bertujuan untuk menguji ada tidaknya hubungan antara (1) Untuk mengetahui hubungan antara intensitas komunikasi keluarga dengan pemilihan program studi di perguruan tinggi siswa SMA Batik 2 Surakarta; (2) Untuk mengetahui hubungan antara minat belajar dengan pemilihan program studi di perguruan tinggi siswa SMA Batik 2 Surakarta; dan (3) Untuk mengetahui hubungan antara intensitas komunikasi keluarga dan minat belajar dengan pemilihan program studi di perguruan tinggi siswa SMA Batik 2 Surakarta.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XII di SMA Batik 2 Surakarta. Sampel yang terpilih adalah kelas XII IPS 4 dan XII IPS 2 dengan teknik pengambiilan sampel cluster random sampling. Penelitian ini menggunakan metode teknik angket sebagai data primer serta dokumentasi dan wawancara sebagai data sekunder untuk mendukung penelitian. Analisis data menggunakan uji korelasi dan uji analisis regresi berganda dengan taraf signifikansi 0,05.Hasil penelitian adalah sebagai berikut ini. Pertama, ada hubungan positif dan signifikan antara variabel intensitas komunikasi keluarga (X1) dengan pemilihan program studi (X2) di perguruan tinggi pada siswa kelas XII SMA Batik 2 Surakarta, hasil uji analisis korelasi, dimana nilai r Pearson sebesar 0,271 dengan signifikansi 0,018. Kemudian, berdasarkan hasil uji analisis regresi berganda, diperoleh persamaan regresi : Y=17,682+0,077X1. Kedua, minat belajar dengan pemilihan program studi di perguruan tinggi pada siswa kelas XII SMA Batik 2 Surakarta memiliki hubungan yang positif dan signifikan, dengan hasil uji analisis korelasi yang diperoleh r Pearson sebesar 0,527 dengan signifikansi 0,000. Kemudian, hasil uji analisis relasi berganda diperoleh persamaan regresi : Y=17,682+0,377X2. Ketiga, Berdasarkan hasil uji analisis korelasi diperoleh F sebesar 11,620 dan nilai signifikansi 0,00 maka, hubungan intensitas komunikasi keluarga dan minat belajar dengan pemilihan program studi pada siswa SMA Batik 2 Surakarta memiliki hubungan yang positif dan signifikan. Kemudian, hasil uji analisis regresi berganda diperoleh persamaan regresi : Y=17,682+0,077X1+0,377X2. Kata kunci : Intensitas komunikasi keluarga, minat belajar, pemilihan program
PROSES KONSTRUKSI SOSIAL MAHASISWA PENGGEMAR K-POP (STUDI PADA MAHASISWA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET)
PROSES KONSTRUKSI SOSIAL MAHASISWA PENGGEMAR K-POP (STUDI PADA MAHASISWA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET)
Nena Puji Astuti, Sigit Pranawa, Siany Indria Liestyasari Pendidikan Sosiologi Antropologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret
[email protected]
ABSTRAK
Korean Pop Music atau K-Pop merupakan salah satu produk budaya Korea Selatan yang digunakan dalam menyebarkan budaya Korea Selatan kepada masyarakat internasional. Di Indonesia, kepopuleran K-Pop cukup tinggi dalam berbagai kalangan, salah satunya di kalangan mahasiswa FKIP UNS. Setiap mahasiswa penggemar K-Pop memiliki beberapa proses yang berbeda dalam menikmati K-Pop. Sehingga, peneliti melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengkaji proses konstruksi sosial mahasiswa penggemar K-Pop di FKIP UNS dalam mengkonsumsi budaya Korea. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengambilan data informan yang digunakan adalah teknik purposive sampling. Sumber data yang digunakan adalah data primer (melalui wawancara) dan data sekunder (melalui dokumentasi). Hasil penelitian ini adalah mahasiswa penggemar K-Pop mengalami tiga tahap proses konstruksi sosial, yaitu eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi. Pertama, eksternalisasi terjadi melalui persebaran K-Pop dan dukungan pemerintah dalam promosi budaya Korea Selatan melalui musik. Kedua, obyektivasi terjadi ketika penggemar secara terus-menerus menikmati K- Pop, berinteraksi dengan sesama teman penggemar K-Pop, dan mengakses informasi di internet tentang K-Pop dan budaya Korea Selatan. Ketiga, penggemar menginternalisasikan budaya Korea Selatan yang sudah mereka ketahui ke dalam kehidupan sehari-hari. Namun, penggemar lebih menginternalisasikan makna karya musik dan kehidupan idolanya daripada budaya Korea Selatan.
Kata Kunci: budaya Korea Selatan, K-Pop, penggemar K-Pop, proses konstruksi sosial
DAMPAK PANTAI WISATA KARANGJAHE PADA PENINGKATAN SOSIAL EKONOMI (Studi tentang Desa Wisata Kelurahan Punjulharjo, Kabupaten Rembang)
DAMPAK PANTAI WISATA KARANGJAHE PADA PENINGKATAN SOSIAL EKONOMI(Studi tentang Desa Wisata Kelurahan Punjulharjo, Kabupaten Rembang)Fadila Tinawati, Sigit Pranawa, Siany Indria Liestyasari Pendidikan Sosiologi Antropologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas [email protected] Pantai Karangjahe merupakan salah satu destinasi pariwisata bahari yang ada di Kelurahan Punjulharjo, Kabupaten Rembang dengan predikat paling sering dikunjungi oleh para wisatawan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji dampak pantai wisata Karangjahe pada peningkatan sosial ekonomi masyarakat setempat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan strategi penelitian bersifat studi kasus. Teknik pengambilan data informan dilakukan secara purposive sampling. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Validitas data menggunakan triangulasi sumber dan teknik. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil temuan penelitian ini bahwa Wisata Pantai Karangjahe memberikan perubahan pada kondisi kehidupan masyarakat setempat baik berupa perubahan dalam aspek sosial maupun pada aspek ekonomi. Perubahan yang terjadi pada aspek ekonomi yaitu berupa meningkatnya pendapatan harian masyarakat. Mayoritas masyarakat setempat berpartisipasi dengan cara berjualan di Karangjahe, menyewakan jasa wahana permainan dan sebagian lagi menjadi staff, pengelola dan petugas parkir. Sedangkan Wisata Pantai Karangjahe ini juga berdampak positif berupa meningkatnya tingkat pendidikan, terbukanya peluang usaha, dan mengurangi angka pengangguran yang mendorong meningkatkan status sosial masyarakat setempat. Selain dampak positif yang didapat, Wisata Pantai Karangjahe juga memberikan dampak negatif berupa lunturnya identitas berbudaya bagi masyarakat setempat. Kata kunci: Perubahan Sosial, Pariwisata, Dampa
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN OBYEK WISATA GANTOLE (Studi Kasus Desa Sendang Kecamatan Wonogiri Kabupaten Wonogiri)
PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN OBYEK WISATA GANTOLE (Studi Kasus Desa Sendang Kecamatan Wonogiri Kabupaten Wonogiri)
Ayu Indri Setyorini, Sigit Pranawa, Siany Indria Liestyasari Pendidikan Sosiologi Antropologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidiakn Universitas Sebalas Maret
[email protected]
ABSTRAK
Obyek Wisata Gantole merupakan obyek wisata yang dijadikan tujuan wisata karena memiliki cikal bakal sebagai obyek wisata dikarenakan menjadi lokasi penerbangan paralayang dengan standar nasional.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji partisipasi masyarakat dalam pengembangan Obyek Wisata Gantole melalui berbagai elemen masyarakat Desa Sendang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan strategi penelitian bersifat studi kasus. Teknik pengambilan informan dilakukan dengan cara purposive sampling. Data dan sumber data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Validitas data yang digunakan adalah triangulasi sumber dan metode. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis interaktif yang terdiri dari reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan.
Hasil temuan dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa Sendang yang ikut berpartisipasi dalam pengembangan Obyek Wisata Gantole tergabung dalam pengurus BUMDes, karang taruna, dan masyarakat sekitar lokasi wisata. Manajemen pengelolaan Obyek Wisata Gantole dipegang oleh BUMDes. Untuk pengelolaan teknis lapangan di lokasi obyek wisata dipegang oleh karang taruna. Menurut konsep Comunnity Based Tourism pengembangan yang dilakukan sudah terlaksana karena pengembangan dikerjakan oleh masyarakat lokal dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Partisipasi pengembangan ini menurut Ife terjadi karena adanya demokrasi partisipasif dan demokrasi deliberatif.
Kata kunci : Partisipasi, Masyarakat, Pengembangan Obyek Wisata, Demokras
ANALISIS FUNGSI SOSIALISASI KELUARGA UNTUK MENCAPAI STABILITAS SOSIAL DALAM PELAKSANAAN PROGRAM FULL DAY SCHOOL DI SMP NEGERI 1 SURAKARTA
ANALISIS FUNGSI SOSIALISASI KELUARGA UNTUK MENCAPAI STABILITAS SOSIAL DALAM PELAKSANAAN PROGRAM FULL DAY SCHOOLDI SMP NEGERI 1 SURAKARTA Andika Ahmanto, Nurhadi, dan Sigit PranawaPendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,Universitas Sebelas Maret, [email protected] AbstrakHasil pada penelitian ini adalah dapat diketahui jika penerapan sistem Full Day School di SMP Negeri 1 Surakarta memunculkan persoalan baru kepada orang tua peserta didik dan peserta didik. Persoalan tersebut diantaranya adalah peserta didik belum terbiasa dengan jadwal baru yang berlaku setelah Full Day School diterapkan, masih banyaknya pemberian tugas pekerjaan rumah oleh guru menyebabkan anak memiliki sedikit waktu untuk dapat istirahat begitu juga dengan kebutuhan bersosialisasi bersama orang tua mengalami penurunan. Akibatnya pada masa awal penerapan Full Day School peserta didik mengalami kelelahan dan cenderung sulit untuk membagi waktu antara beristirahat dan belajar. Sekolah tentu telah melaksanakan upaya untuk mencegah persoalan tersebut terjadi dengan melakukan sosialisasi kepada seluruh pihak yang berkaitan pada Kegiatan Belajara Mengajar di Sekolah, yakni Guru ajar, Staff, Orang tua wali murid dan peserta didik untuk saling membantu guna dapat melaksanakan sistem baru tersebut dengan baik. Namun tindakan tersebut belum dapat menyelesaikan masalah sehingga pada hasil penelitian ini diketahui akhirnya orang tua melakukan cara sendiri yang dibagi dalam dua skema untuk menyelesaikan persoalan tersebut yakni melalui skema sosialisasi dan pengendalian sosial. Melalui skema sosialisasi yakni orang tua berupaya untuk mendapatkan kesempatan pengasuhan kepada anak guna mengajarkan nilai dan norma pada beberapa varian cara, seperti membuat waktu bertemu yang sedikit menajdi lebih berkualitas, menyempatkan waktu di tengah kesibukannya bekerja, menggunakan media Handphone untuk dapat tetap berkomunikasi saat jarak memisahkan antara anak dan orang tua dan secara sengaja mengalokasikan waktu untuk bertamasya pada waktu dan hari tertentu untuk menghilangkan penat dan mendapatkan kesempatanbersosialsisi. Kemudian melalui skeman pengendalian sosial yakni orang tua memberlakukan sejumlah peraturan untuk menghindari terganggunya waktu bersosialisasi dengan anak dan menghindari terganggunnya akademik dan non akademik anak.Kata Kunci : Pendidikan, Full Day School, Keluarg
CERAI GUGAT (RAPAK) DALAM PERKAWINAN (Studi Kasus Mengenai Penyebab Cerai Gugat pada Masyarakat di Kelurahan Sumpiuh Kabupaten Banyumas)
CERAI GUGAT (RAPAK) DALAM PERKAWINAN
(Studi Kasus Mengenai Penyebab Cerai Gugat pada Masyarakat di Kelurahan Sumpiuh Kabupaten Banyumas)
Lina Herlina, Sigit Pranawa, Siany Indria Liestyasari
Pendidikan Sosiologi Antropologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret
[email protected]
ABSTRAK
Perceraian merupakan bentuk pemutusan ikatan perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang terdaftar secara resmi sebagai pasangan suami istri. Angka cerai gugat secara nasional maupun lokal di Kelurahan Sumpiuh didominasi oleh cerai gugat daripada cerai talak. Cerai gugat berlawanan dengan sistem masyarakat yang meletakan istri sebagai pihak penyeimbang (ekuilibrium) tetapi justru sebagai prakarsa perceraian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji mengapa cerai gugat dapat terjadi serta faktor apa saja yang mendorong cerai gugat di Kelurahan Sumpiuh Kabupaten Banyumas. Teori yang digunakan adalah teori Pertukaran Sosial George Homans. Penelitian ini merupakan penelitian kualitiatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengambilan data informan dilakukan dengan purposive sampling. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Validitas data menggunakan triangulasi sumber dan metode. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif dari Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil temuan dalam penelitian ini bahwa cerai gugat terjadi karena kemajuan dalam relasi yang terbangun antara suami istri dan adanya kesadaran wanita untuk keluar dari situasi yang tidak menguntungkan. Sementara itu faktor pendorong cerai gugat karena perselingkuhan, ekonomi yang kurang mencukupi, ditinggal suami, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kemandirian istri yang bekerja serta tidak memiliki keturunan. Faktor cerai gugat ini saling berhubungan satu sama lain dan kerap kali dalam cerai gugat disebabkan karena kompleksnya masalah di antara semua itu. Terjadinya cerai gugat menggambarkan ketidakadilan distribusi ganjaran antara suami istri. Istri sebagai pihak yang dirugikan dalam relasi yang terbangun dalam keluarga karena tidak mendapat ganjaran dari apa yang telah dia berikan akibatnya terjadi keretakan sebagaimana dalam teori pertukaran sosial George Homans yang menjelaskan bahwa kelangsungan ikatan dipengaruhi oleh ganjaran yang diterima oleh para aktor. Cerai dianggap sebagai hal yang tidak tabu karena diperbolehkan secara hukum negara maupun hukum agama sebagai jalan keluar dari persoalan kehidupan rumah tangga yang berujung tanpa titik terang.
Kata kunci: Cerai Gugat (Rapak), Perkawinan, Kemandirian Istri, Keretakan Perkawinan
ANALISIS TEORI STRUKTURASI ANTHONY GIDDENS DALAM UPAYA PENINGKATAN PARTISIPASI PEMUDA DALAM PROGRAM KARANG TARUNA
ANALISIS TEORI STRUKTURASI ANTHONY GIDDENS DALAM UPAYA PENINGKATAN PARTISIPASI PEMUDA DALAM PROGRAM KARANG TARUNA(Studi Kasus Pada Karang Taruna Garuda Desa Segaran , Delanggu , Klaten)Nurriza Dwi PrastikaK8414038Pendidikan Sosiologi Antropologi FKIP Universitas Sebelas MaretSiany Indria LiestyasariPendidikan Sosiologi Antropologi FKIP Universitas Sebelas MaretNurhadiPendidikan Sosiologi Antropologi FKIP Universitas Sebelas MaretABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan menjelaskan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan partisipasi pemuda dalam program-program Karang Taruna di Desa Segaran, Delanggu, Klaten. Desa Segaran dijadikan tempat penelitian karena memiliki keunikan yang jarang ditemukan di Desa lain khususnya di Kabupaten Klaten, yaitu terdapat Karang Taruna tingkat Desa (Karang Taruna Garuda) yang merupakan organisasi dibawah Pemerintah Desa Segaran. Karang Taruna Garuda sebagai organisasi yang mempunyai kekuasaan dapat mempengaruhi pemuda yang lain untuk aktif dalam program-program yang dilaksanakan oleh Karang Taruna.Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengambilan informan menggunakan teknik purposive sampling. Dalam mengumpulan data peneliti menggunakan teknik observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Teknik uji validitas data yang digunakan adalah triangulasi serta teknik analisis data yang digunakan berpedoman pada Miles dan Huberman. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa (1) Dalam upaya peningkatan partisipasi pemuda dalam program-program Karang Taruna dibutuhkan peran aktor yang dapat melakukan upaya tersebut. Kepala Desa memiliki peran yang paling besar dalam berjalannya program-program dalam pembangunan Desa maka membentuk Karang Taruna Garuda yang dijadikan fasilitator antara masyarakat dengan pemerintahan, serta Karang Taruna Garuda selain membuat program-program unggulan untuk menarik minat partisipasi pemuda, Karang Taruna Garuda juga bertugas melakukan sosialisasi yang pengarahan tentang pentingnya peran pemuda dalam pembangunan desa, dan pentingnya partisipasi pemuda dalam mengikuti program-program Karang Taruna. Setelah diadakan program-program dan sosialisasi tersebut masih diadakan evaluasi dan perbaikan dari waktu ke waktu serta monitoring tentang keberlangsungan program dan kemajuan yang dirasakan. (2) Proses upaya peningkatan partisipasi pemuda dalam program Karang Taruna merupakan proses Strukturasi. Artinya terjadi proses produksi dan reproduksi antara upaya yang diterapkan oleh aktor dan pemuda yang menerapkan sehingga terbentuk sebuah struktur, kemudian penerapan tersebut terjadi secara terus menerus dan trus berproses dari waktu ke waktu.Kata Kunci: Partisipasi, Strukturasi, Pemuda
Fenomena Berkurangnya Tenaga Kerja Petani Muda, Studi di Desa Pugeran, Karangdowo, Klaten
Fenomena Berkurangnya Tenaga Kerja Petani Muda, Studi di Desa Pugeran, Karangdowo, Klaten
(Penelitian Fenomenologi Berkurangnya Tenaga Kerja Petani Desa Karangdowo )
Fathan Syuhada Kuniawan, Sigit Pranawa2, Yuhastina Naina Sinaro3
Program Studi Sosiologi Antropologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta
Abstrak
Penelitian ini mengkaji tentang fenomena mengenai berkurangnya tenaga kerja petani muda diDesa Pugeran, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten, terkait ketidak mauan pemuda untuk bekerja disektor pertanian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yakni fenomenologi dengan pengumpulan data dan wawancara mendalam terhadap responden yang merupakan pemuda, petani, tokoh masyarakat, dan perangkat desa, disertai dengan observasi lapangan diDesa Pugeran, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten. Hasil dari penelitian ini adalah penghasilan disektor pertanian tidak pasti tergantung pada alam maupun hama, semakin banyak hama semakin banyak juga pengeluaran, sehingga hasilnya juga masih belum jelas, selain itu harga jual beras maupun gabah juga tidak stabil, apalagi pas panen raya. Kemudian teknologi disektor pertanian juga sudah maju dengan menggunakan mesin sehingga memerlukan tenaga manusia yang lebih sedikit. Pemuda diberi kebebasan dalam memilih pekerjaan dikarenakan selain hasil yang tidak pasti, teknologi juga menjadi faktor yang menyebabkan pemuda enggan untuk bekerja disektor pertanian karena dengan adanya teknologi mesin pemuda tinggal menuyuruh atau istilahnya memburuhkan kepada tenaga buruh untuk tanam, pemberantasan hama dan gulma maupun panen yang sekarang sudah menggunakan mesin.
Kata kunci: Pemuda, Penghasilan, Tenaga kerja, Petani, Petani Muda
INTERNALISASI NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL SEBAGAI PEMBENTUK SIKAP TOLERANSI SISWA (STUDI KASUS DI SMA N 1 SUKOHARJO)
INTERNALISASI NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL SEBAGAI PEMBENTUK SIKAP TOLERANSI SISWA
(STUDI KASUS DI SMA N 1 SUKOHARJO)
Hamdani Subroto, Sigit Pranawa, Abdul Rahman
Pendidikan Sosiologi Antropologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Email : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana internalisasi nilai pendidikan multikultural sebagai pembentuk sikap toleransi dan mengapa internalisasi nilai pendidikan multikultural dilakukan sebagai pembentuk sikap toleransi siswa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sumber data yang digunakan adalah (1) sumber data primer dan (2) sumber data sekunder. Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan observasi. Teknik uji validitas data yang digunakan adalah triangulasi sumber. Teknik pengambilan informan yang digunakan adalah purposive sampling. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan penyajian data dari Miles dan Haberman dengan tahapan yaitu (1) reduksi data, (2) penyajian data, (3) tahap kesimpulan dan (4) verifikasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Dalam upaya guru sebagai aktor dalam menginternalisasikan nilai pendidikan multikultural pada siswa melalui kegiatan formal dan non formal sekolah. Dalam kegiatan formal yaitu melalui kegiatan belajar mengajar seperti pada mata pelajaran Sosiologi dan Pendidikan Kewarganegaraan yang menekankan nilai pendidikan multikultural. Sedangkan kegiatan non formal upaya yang dilakukan melalui ekstrakurikuler dan aktivitas yang diadakan oleh sekolah. (2) Dari upaya yang dilakukan oleh guru dalam menginternalisasikan nilai pendidikan multikultural sebagai pembentuk sikap toleransi siswa, para guru memiliki pertimbangan alasan, manfaat dan dampak agar siswa dapat menghargai dan menghormati perbedaan, mencerminkan dan menjaga nama baik almamater sekolah, tidak bertindak bullying dan memperkuat rasa kesatuan.
Kata kunci: Internalisasi, Nilai Pendidikan Multikultural, Guru, Sisw