Research Report - Engineering Science

Research Report - Engineering Science
Not a member yet
    269 research outputs found

    KAJIAN DAYA DUKUNG PONDASI MENERUS TERHADAP JARAK ANTAR PONDASI DAN KONDISI TANAH YANG BERLAPIS

    Get PDF
    Penelitian ini dibagi menjadi dua bagian yaitu kajian daya dukung pondasi menerus terhadapjarak pondasi dan kajian daya dukung pondasi menerus terhadap profil pelapisan tanah yangberlapis. Berdasarkan teori yang berkembang saat ini, teori daya dukung pondasi dangkal tipemenerus yang mempertimbangkan jarak atau spasi antara pondasi dan tanah yang berlapis masihsedikit dilakukan. Sampai saat ini, terdapat beberapa rumus yang tersedia untuk mengakomodasidua kondisi diatas yang dikembangkan oleh Meyerhoff dan Stuart yang berdasarkan konsep LimitEquilibrium Method atau metode keseimbangan batas. Seiring dengan perkembangan jaman,metode-metode lain seperti metode elemen hingga banyak membantu dalam hal mencari solusidari permasalahan-permasalahan kompleks dalam bidang geoteknik. Oleh karena itu, tujuan daripenelitian ini adalah membandingkan rumus yang sudah ada (Limit Equilibrium Method) dengansolusi yang diberikan oleh metode elemen hingga. Dari hasil analisa yang diperoleh, untuk kajianjarak antar pondasi, ternyata apabila jarak antar pondasi semakin dekat, akan meningkatkan dayadukung tanah (tanah pasiran), sedangkan untuk pondasi yang terletak pada tanah lempungberlapis, maka perlu diperhatikan tebal lapisan pertama dan rasio kohesi antar lapisan karenaakan mempengaruhi daya dukung tanah

    STUDI KINETIKA DEHIDRASI OSMOTIK PADA IKAN TERI DALAM LARUTAN BINER DAN TERNER

    Get PDF
    Pengolahan ikan asin di Indonesia sebagian besar masih dilakukan secara tradisional dengan mengandalkan sinar matahari. Meskipun metode ini murah, namun dapat menurunkan kualitas produk karena laju dehidrasinya tidak dapat bersaing dengan laju pembusukan ikan. Sedangkan penggunaan garam sampai batas tertentu dapat meningkatkan kecepatan pengurangan air namun dapat menimbulkan masalah dengan tekstur dan rasa ikan asin. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari kinetika dehidrasi osmotik ikan teri dalam proses pengawetannya sehingga dapat mengendalikan kecepatan pengurangan air dan penambahan solute (NaCl & C12H22O11).Metodologi penelitian ini meliputi analisis awal ikan teri segar (kadar air, kadar garam, dan tekstur), proses dehidrasi osmosis dan dilanjutkan dengan pengeringan. Proses dehidrasi osmosis dilakukan dengan variasi jenis larutan osmosis (larutan NaCl – larutan Biner dan NaCl + sukrosa – larutan Terner), variasi konsentrasi larutan Biner (15%, 24,24%-jenuh, dan 50%). Penggunaan larutan Terner hanya diterapkan pada konsentrasi NaCl 24,24% dengan penambahan sukrosa 30%. Seluruh percobaan dilakukan pada temperatur ruang dan 40oC. Sebagai perbandingan, juga dilakukan penggaraman kering 10% dan 35 %-berat. Analisis produk ikan asin meliputi kadar air, kadar garam, kadar abu tak larut dalam asam, tekstur (kekerasan dan kekenyalan) sesudah pengeringan, serta uji rasa dan kesukaan pada ikan yang digoreng.Hasil penelitian menunjukkan bahwa hilangnya air karena difusi garam ke substrat ikan mengalami peningkatan secara paralel dengan peningkatan konsentrasi larutan osmosis dan temperatur. Namun pada konsentrasi NaCl yang sangat tinggi (50%), temperatur tidak berpengaruh secara signifikan. Selain itu, penggunaan larutan Terner akan meningkatkan hilangnya air dan juga mengurangi penetrasi garam. Koefisien difusivitas air berada dalam rentang 1,001x10-5 sampai 4,736x10-5 cm2 s−1, sedangkan koefisien difusivitas NaCl berada dalam rentang 1,25x10-4 sampai 2,929x10-5 cm2 s−1. Kekerasan ikan meningkat dan kekenyalan ikan berkurang setelah mengalami proses dehidrasi osmosis yang diteruskan dengan pengeringan.Kata kunci : dehidrasi osmosis, ikan teri, larutan Biner, larutan Terne

    PENGARUH TEMPERATUR, RASIO NaOH, WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP ALUMINA DARI SPENT CATALYST DENGAN METODE BAYER

    Get PDF
    Aluminium merupakan salah satu bahan logam yang banyak digunakan dalam industri dengan berbagai macam bentuk. Aluminium tersebut tidak diperoleh secara langsung tapi melalui permurnian dari oksidanya, yang dikenal dengan nama alumina, dengan rumus molekul Al2O3. Proses pemurnian dari aluminium tersebut dilakukan dengan elektrolisis. Namun sebelum proses pemurnian, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk mendapatkan alumina. Hal ini dikarenakan alumina tidak berada dalam bentuk murninya. Alumina merupakan bahan alam dan paling banyak terdapat di dalam bauksit, bersama dengan silika. Selain bauksit, alumina juga terdapat di dalam kaolin, tanah liat, dan spent catalyst. Spent catalyst adalah katalis yang dipergunakan dalam proses cracking dalam industri petroleum yang sudah jenuh dan tidak dapat dipergunakan lagi sehingga harus dibuang. Katalis ini masih mengandung senyawa-senyawa logam yang berharga seperti nikel, vanadium, rhodium, silika, alumina, dan lain-lain sehingga katalis tersebut masih berharga untuk di daur ulang. Proses daur ulang tersebut bertahap untuk masing-masing jenis senyawa logam. Pada penelitian terdahulu telah diperoleh bahwa metode Bayer dapat digunakan untuk mengekstrak alumina dari spent catalyst. Penelitian ini melakukan langkah yang lebih detail yaitu melihat pengaruh variabel temperatur, rasio katalis dengan pelarut NaOH, dan lama waktu ekstraksi. Temperatur divariasikan menjadi 80 oC, 150 oC, 200 oC, rasio divariasikan menjadi 1 : 3, 1 : 5, 1 ; 8, dan lama waktu menjadi 2 dan 3 jam. Pengukuran larutan tiap tahap dilakukan dengan mengukur konduktivitas larutan. Hasil yang diperoleh adalah konduktivitas hanya dapat melihat hasil tiap tahap secara kualitatif dan tidak dapat menunjukkan jumlah alumina secara kuantitatif. Tahap ekstraksi menjadi tahap yang paling utama dan penting dalam mengekstrak alumina dari spent catalyst. Kondisi ekstraksi yang baik diperoleh pada 150 oC, 1 : 5, dan 3 jam. Kemurnian alumina yang diperoleh berkisar 1 – 2 %

    PEMBENTUKAN FISIK LINGKUNGAN PERUMAHAN BERDASARKAN KETERLIBATAN MASYARAKAT PENGGUNA MELALUI PERANCANGAN ARSITEKTUR

    Get PDF
    Pada dasarnya dalam proses pembangunan permukiman sangat erat kaitannya dengankondisi masyarakat penggunanya. Oleh sebab itu pembangunan fisik suatu kawasanlingkungan permukiman dapat dinilai keberhasilannya berdasarkan tingkat keterlibatanpartisipasi masyarakat. Keterlibatan warga masyarakat merupakan bagian yang tidakdapat dipisahkan dengan terbentuknya fisik lingkungan melalui penataan letak bangunanyang dibutuhkan, bentuk-bentuk yang diciptakan secara bersama antara yang memberipengetahuan dan warga masyarakat. Proses pembangunan yang terdiri dari tahapperencanaan lingkungan, tahap perancangan bangunan huniandan bangunan fungsi lain,tahap pelaksanaan fisik bangunan serta tahap pemanfaatan lingkungan dan bangunanrumah oleh warga masyarakat. Penelitian ini membahas hubungan antara konsepperancangan arsitektur desa dengan partisipasi masyarakat warganya melalui tingkatkeberhasilannya dala kasus pembangunan kembali permukiman Desa Ngibikan, BantulYogyakarta.Kata kunci: permukiman desa, tahap pembangunan, partisipasi masyarakat.The role of community participation is one of the important point in architectural designingprocess, therefore physical development become promising and fruitfull.Community participation activities become part of the development program such asforming and massing activities through the phases of planning, designing and constructingprocesses . Chapters are devoted to the focus of the building processes throughcommunity participation, discussed and illustrated in a straight forward and logical mannerto enable the research utilized as a reference source for designing process in the context ofrural development area, especially in Desa Ngibikan Bantul, Yogyakarta, the case study, bytrying to see and understand how architectural design related with community participation.Keywords : rural settlement, development process, community participation

    DETOKSIFIKASI HIDROLISAT ECENG GONDOK DALAM PROSES PEMBUATAN BIOETANOL

    Get PDF
    Indonesia masih sangat bergantung pada minyak bumi untuk memenuhi kebutuhan energinya. Akan tetapi minyak bumi adalah sumber daya alam yang tidak terbaharukan dan jumlahnya terus menyusut. Salah satu kandidat utama yang terbaharukan untuk menggantikan minyak bumi adalah biomassa. Dalam usulan penelitian ini akan dikaji pemanfaatan eceng gondok sebagai sumber bahan baku pembuatan bioetanol, yang dapat digunakan sebagai BBM alternatif untuk kendaraan bermotor. Tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mempelajari dan mengoptimasi proses detoksifikasi hidrolisat eceng gondok dengan metode penambahan alkali. Target akhir dari penelitian ini adalah sebuah teknologi tepat guna proses optimum pembuatan bioetanol dari eceng gondok yang merupakan integrasi dari proses hidrolisis eceng gondok, proses detoksifikasi dan proses fermentasi. Metode yang digunakan adalah dengan merancang bangun alat yang dibutuhkan di tahapan proses, melakukan percobaan pendahuluan dan percobaan utama untuk mencari kondisi optimum di tahapan proses pembuatan bioetanol dari eceng gondok. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah kondisi optimum proses detoksifikasi pada pH 11 dan temperatur 60 °C yang ditunjukkan dengan persentase penurunan konsen-trasi furfural yang maksimum. Akan tetapi karakterisasi hasil hidrolisis termal eceng gondok masih perlu dioptimalkan dengan menggunakan kolom HPLC yang berbeda

    KAJIAN AWAL PEMANFAATAN BUAH BINTARO SEBAGAI BAHAN BAKU BIOETANOL : PENGARUH KONSENTRASI SUBSTRAT TERHADAP PEROLEHAN GLUKOSA

    Get PDF
    Dewasa ini, penggunaan bahan bakar minyak menjadi salah satu hal yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia dalam menjalankan perekonomian. Perubahan harga yang fluktuatif dan cadangan minyak yang berkurang menjadi suatu problem utama bagi pemerintah dalam menyediakan kebutuhan bahan bakar tersebut. Akibatnya perlu dicari suatu alternatif untuk mengatasi hal tersebut. Bahan bakar nabati adalah salah satu alternatif yang dapat mengatasi hal tersebut. Bioetanol merupakan salah satu jenis bahan bakar nabati yang dapat diperoleh melalui bahan-bahan terbaharukan yang mengandung karbohidrat. Hal ini menjadi berbenturan dengan penggunaan bahan-bahan berkarbohidrat tersebut sebagai bahan pangan. Oleh karena itu, perlu alternatif lain dalam penyediaan bahan baku bahan bakar nabati, yaitu bahan berselulosa. Bintaro merupakan bahan yang mengandung lignoselulosa dan bukan sumber bahan pangan. Tujuan utama penelitian ini adalah mendapatkan informasi tentang kandungan selulosa dalam buah bintaro dan pengaruh kadar enzim selulase terhadap perolehan glukosa sebagai sumber bioetanol. Tujuan lain yang ingin dicapai adalah menentukan kandungan lignin dan pemanfaatan buah bintaro sebagai sumber bahan karbon aktif. Target utama yang ingin dicapai adalah informasi kandungan buah bintaro, pengaruh konsentrasi substrat terhadap perolehan glukosa, dan informasi keekonomisan buah bintaro sebagai sumber bioetanol dan karbon aktif. Hasil penelitian adalah buah bintaro memiliki kandungan selulosa sebesar 36,945 % dan lignin sebesar 38 %. Kajian lebih dalam perlu dilakukan untuk melihat kelayakan secara ekonomi sebagai sumber glukosa dan karbon aktif. Konsentrasi enzim 5 g/L larutan buffer sitrat optimum untuk konsentrasi substrat 40 s.d. 100 g/L. Pada konsentrasi substrat dan enzim 1:1 menghasilkan perolehan glukosa tertinggi sebesar 51,6 % namun tidak layak secara ekonomis karena penggunaan enzim yang mahal dalam jumlah yang besar

    PENGARUH KONDISI PENGEPRESAN TERHADAP KUANTITAS DAN KUALITAS PRODUK MINYAK BIJI TEH KASAR DAN KAJIAN AWAL OPTIMASI KONDISI PENGEPRESAN MENGGUNAKAN PENGEPRES HIDROLIK

    Get PDF
    Pemanfaatan teh selama ini masih terbatas pada bagian daunnya saja. Biji teh merupakan bagian tanaman teh yang memiliki beragam kandungan senyawa berharga, khususnya minyak nabati bermutu tinggi yang menjadi fokus penelitian ini. Metode pengambilan minyak dari biji secara mekanik merupakan ide alternatif yang kompeten dan cocok untuk diaplikasikan pada masyarakat perkebunan. Perlakuan termal dan mekanik pada inti biji teh pra pengepresan mempengaruhi efektivitas pengepresan menggunakan pengepres hidrolik sehingga pemilihan metode pra perlakuan yang tepat menjadi salah satu langkah yang menentukan keberhasilan pengepresan. Kondisi pengepresan juga sangat menentukan keberhasilan pengepresan inti biji teh. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dikaji pengaruh kondisi pengepresan terhadap kuantitas dan kualitas minyak biji teh hasil pengepresan menggunakan pengepres hidrolik sekaligus mengkaji optimasi kondisi pengepresan tersebut.Bahan baku berupa buah teh akan mengalami perlakuan awal terlebih dahulu berupa penghilangan daging buah, pemecahan tempurung, sortasi inti biji, pengeringan inti biji di bawah sinar matahari hingga kadar air ±10%, perlakuan termal terhadap inti biji hasil sortasi berupa pemanggangan pada temperatur sesuai dengan level variasi yang ditentukan. Biji teh kemudian dipres menggunakan pengepres hidrolik dengan variasi kondisi pengepresan yang ditentukan. Minyak yang didapat disentrifugasi untuk memisahkan pengotor tersuspensi dan pengotor koloid lainnya sehingga diperoleh produk berupa minyak kasar. Pada penelitian ini, akan digunakan rancangan percobaan response surface methods menggunakan centre point dengan respon berupa yield minyak kasar dan kualitas minyak kasar.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan termal (pemanggangan dan pengukusan) pada inti biji teh pra pengepresan lebih dominan dibandingkan pengaruh kondisi pengepresan. Dari CCD didapatkan bahwa kondisi optimum perlakuan termal dan kondisi pengepresan untuk mendapatkan yield maksimum dengan kualitas minyak yang baik (kadar FFA, kadar air dan kadar pengotor minimal) didapatkan pada:a) Temperatur umpan : 62-64oC (63oC)b) Jumlah tahap pengepresan : 6c) Jumlah frekuensi pengepresan/tahap : 100 kalimenghasilkan yield minyak sebesar 42,8% dengan kadar pengotor sebesar 4,7%; kadar asam lemak bebas sebesar 4,3% dan kadar air minyak sebesar 1,8%

    Produksi Pigmen Merah dari Kapang P. purpurogenum dan M. purpureus dengan Fermentasi Cair secara Batch

    Get PDF
    Penicillium purpurogenum, dan Monascus purpureus merupakanmikroba yang dapat menghasilkan zat warna. Zat warna dari mikroba inidapat diproduksi dengan optimum dengan ditentukan jenis substratpertumbuhannya. Tujuan dari penelitian ini adalah zat warna yangdihasilkan dapat diproduksi dan dapat dipergunakan sebagai zat warnaalami, yang aman untuk dikonsumsi dan dapat diproduksi secara massal. Sertastabilitas zat warna tersebut terhadap beberapa perlakuan dalam pengolahanmakanan.Dua jenis kapang yakni Penicillium purpurogenum, dan Monascuspurpureus ditumbuhkan pada empat macam sumber karbon yakni pati jagung,pati kentang, glukosa, dan sukrosa dengan proses fermentasi cair secarabatch. Analisis yang dilakukan adalah analisis berat sel kering, analisisabsorban, serta analisis kestabilan. Analisis kestabilan zat warna yangdilakukan meliputi cahaya (UV dan sinar matahari), panas (autoklaf 121°C, 15psi seta autoklaf 105°C,17,5 psi), bahan pengawet (asam sitrat, asamaskorbat, dan sodium bisulfit) dan pH.Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah Monascus purpureusmenghasilkan konsentrasi zat warna merah yang lebih tinggi daripadaPenicillium purpurogenum. Medium pertumbuhan dengan sumber karbon darikentang merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan sel danmenghasilkan zat warna yang lebih banyak. Zat warna yang dihasilkan stabilterhadap bahan pengawet, namun tidak stabil terhadap panas, cahaya, danpH

    IDENTIFIKASI IDENTITAS KOTA CIMAHI

    Get PDF
    Arsitektur dalam kehidupan manusia berpengaruh pada pola pikir dan secara bertahap mempengaruhi perilaku dalam suatu masyarakat. Memahami hubungan antara lingkungan dan cara berpikir adalah sesuatu yang penting terutama bagi perancang, dimana hal yang menarik dari arsitektur adalah kemampuannya untuk masuk ke dalam pengalaman nostalgia melalui indera dan emosi. Arsitektur juga berperan sebagai panggung / setting dalam proses penciptaan pengalaman baru yang mengesankan. Persepsi memberikan gambaran atau perkiraan terbaik akan keadaan saat ini dari sebuah lingkungan binaan yang mengelilingi kita. Kita membutuhkan fakta dan opini publik dari lingkungan binaan di sekeliling kita, serta mengingat reaksi emosional dari sebuah lingkungan berdasarkan pengalaman. Secara garis besar, dapat disimpulkan bahwa kita dapat menggunakan representasi mental dari lingkungan binaan untuk merencanakan, meahami, dan bahkan memecahkan masalah yang berhubungan dengan konteks lingkungan, secara umum, peneliti menyebut kemampuan untuk membayangkan dan memperkirakan dunia spasial sebagai ‘Environmental Cognition’. Kota Cimahi sendiri selama ini dikenal sebagai kota militer, dengan latar belakang tradisi militer, yang berkembang juga melalui industrialisasi. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah apa yang dimaksud dengan identitas kota menurut penduduk kota Cimahi. Sehingga penelitian ini hendak mencoba memetakan identitas kota berdasarkan persepsi penduduk. Penelitian akan dilakukan melalui pendekatan ‘environmental perception’ dengan metoda penelitian menggunakan ’cognitive mapping’ dan instrumen penelitian berupa ‘sktech map’ dan ‘task recognition’. Melalui penelitian ini, diharapkan peneliti dapat merumuskan kriteria untuk merancang bangunan baru dalam setting historis guna mendapatkan perubahan perilaku yang diharapkan

    Studi Efek Kontinuitas Pada Tekuk Torsi Lateral Balok Terlentur

    Get PDF
    Steel beams with bending moment, have a kind of instability called lateral torsional buckling. The criticalmoment of a beam depends on its length, distribution of bending moment and on its end condition. Often,the beam is laterally supported on some points of the beam to increase critical moment. In AISCSpecification for Structural Steel Buildings takes the lengh as the unbraced length, which means thedistance between these lateral bracing. The AISC doesnot taken into account the influence of the parts ofthe beam which continuously connected to the part of the beam which is being considered. In thisresearch, the influence of the other parts of the beam is studied. Calculation of critical moment isperformed using finite difference method considering the beam as a whole, with its lateral support. Acomputer program is developed to performed the analysis. The results of this study is that the when thewhole beam is analysed, the critical moments is increased significantly compared to critical momet fromAISC method. For the beam being considered in this study, the increase is up to 49%. The conclusions ofthis study is that the analysis of critical moment for lateral torsional bukling, has to be performedconsidering all part of the beam

    261

    full texts

    269

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Research Report - Engineering Science
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇