269 research outputs found
Sort by
TRANSFORMASI ARSITEKTUR PERMUKIMAN TRADISIONAL DI JAWA DARI MASA HINDU-BUDHA KE MASA ISLAM
Hindu-Buddha period in Java was identical with the period when Indonesia was still influenced by Hinduism and Buddhism traditions or the syncretism i.e. Siva Buddha; around 4th century – 15 AD. The kingdoms which had strong influences in that period were Hindu-Buddha Mataram-Sailendra-Sanjaya until Majapahit. Settlements in this period were only being able to be seen on the relief carved on the wall of temples of the eras. In Java, in 15th century after the end of Majapahit Kingdom, there was an authority transition from Hindu-Buddha style to Islamic, by the existence of Demak-Pajang Kingdom and Islamic Mataram Kingdom. The settlements that are known until now are reckoned to be started from Mataram-Islam Kindgom and then become the basics of Javanese traditional architecture knowledge. Traditional architecture of this period was different from the description of Hindu-Buddha period, although in the cultural context, Majapahit period traditions still influenced significantly in Islamic Mataram period by enculturation. This study concerns architecture transformation of settlements in the two eras because of cultural transition, which can be observed until now. The architecture transformation can be noticed in building forms and arrangement patterns; settlements in urban context. The example of Hindu-Buddha settlements architecture in Java which based on the relief is the raised floor-platform with geometrical settlements pattern, which was abandoned in Islamic Mataram period, although the geometrical pattern was still used. The platform transformation to be a non-raised floor was estimated to be happened in Majapahit period. Based on archeologically found buildings of Majapahit period, some buildings had platforms, some others did not have. The transformation was possibly influenced by foreign countries along with the entries of new belief systems or new architecture styles, as the results of international relationships development, which slowly changed the settlements images, e.g. the influence of Chinese architecture style. Besides the lower part of building, the roof was also noticed to have changes from gable-hip/saddle roof to hip and at last became “joglo” (stacked hip roof). In Hindu period temple’s relief, there were no joglo roof form; so that it can be acknowledged that the roof type did not come from old tradition, but a new form of roof, which then became one of the icons of Javanese traditional roof form. The rooms inside the building also showed the transformation. In Java, recently, it is difficult to see genuinely the settlements pattern which still shows Majapahit characteristics. However, as the comparison to it, those in Bali will be used. Based on historical studies, Hindu-Majapahit influences is still there in Bali until now. The real form of settlements pattern of temple relief can still be seen in Bali, although there has been a modification, however, the traditional pattern trails can still be noticed. The architecture and settlements pattern transformations are related closely to the urban cultural transitions. Between traditiononal architecture of settlements in Hindu period and Islamic period, there are differences between the form and space (room and building), although there are still same things; an element which has been abandoned, while the other is still developed. Is there a spatial transformation which is caused by the spiritual transformation from Hindu period to Islamic period? This matter will be deeply studied through a history exploration. The purpose of this study is to examine the correlation between both of them, together with elements transformation and their correlations in urban scale, just like theirs with other functions such as worshipping places, palaces, and so on. Key word : Transformation, hip-roof, saddle-roof, raised floor-platfor
RUMAH BAMBU TAHAN GEMPA DESA CIKANGKARENG, CIANJUR
Bencana gempa disertai longsor yang menimbun permukiman warga BabakanCaringin membutuhkan pertimbangan penentuan lokasi untuk relokasi danresettlement, serta rencana tapak; dan rancangan rumah dalam waktu yangcepat dengan dana yang terjangkau. Untuk itu penelitian ini mencakup kajianperbandingan antara 2 lahan yaitu tanah desa dan tanah PERHUTANI; sertapembuatan rencana tapak dan rancangan rumah bambu bagi pengungsi ekswarga babakan Caringin yang terkena longsor di desa Cikangkareng KecamatanCibinong Kabupaten Cianjur, sesuai aspirasi mereka.Hasil kajian ini sangat penting dan berguna bagi semua pihak yang selanjutnyaberkiprah dalam pelaksanaan relokasi dan resettlement tersebut, sehinggapenanganan perumahan pengungsi dapat berjalan dengan baik
PENENTUAN KEY PERFORMANCE INDICATOR DAN TOLERANSINYA UNTUK OPERASI PLANT#11 PT.INDOCEMENT TUNGGAL PRAKARSA, TBK.
Kontrol dan evaluasi merupakan fungsi yang penting dalam manajemen untuk memastikan rencana kerja organisasi bisa berjalan dengan baik sehingga tujuan akhir organisasi bisa tercapai. Untuk bisa melakukan fungsi kontrol dan evaluasi dengan baik dibutuhkan sistem manajemen kinerja yang baik. Sistem manajemen kinerja yang baik harus bisa menggambarkan proses bisnis yang terjadi dalam organisasi secara keseluruhan. Sistem manajemen kinerja memuat ukuran-ukuran (KPI – key performance indicator) yang merepresentasikan kinerja dari seluruh bagian organisasi dan keterkaitan yang ada antar bagian-bagian tersebut.Saat ini Plant#11 ITP sudah memiliki sistem manajemen kinerja yang berisi ”list of KPIs” di mana penentuan target dan toleransi selama ini dilakukan tanpa melihat keterkaitan antar KPI. Ada kebutuhan di ITP untuk melakuan alignment terhadap indikator-indikator kinerja yang ada di Plant#11 ITP sehingga monitoring terhadap proses produksi semen dapat dilakukan dengan baikPenelitian ini bertujuan membangun model operasi Plant#11 ITP berdasarkan metodologi System Dynamics, menentukan key performance indicator (KPI) Plant#11 ITP berdasarkan model System Dynamics, dan menentukan toleransi untuk KPI operasi Plant#11 ITP.Berdasarkan model system dynamics yang dibangun diusulkan sebanyak 28 KPI yang terdiri dari 6 KPI layer 1, 19 KPI layer 2, dan 3 KPI layer 3, beserta dengan nilai toleransinya masing-masing
STUDI EKSPERIMENTAL KUAT GESER BALOK TERLENTUR DENGAN TULANGAN BAMBU GOMBONG
Beton merupakan suatu material yang memiliki kuat tekan yang cukup tinggi, namun lemah terhadap tarik. Untuk mencegah keruntuhan beton dalam hal tarik pada umumnya beton dipadukan dengan material yang memiliki kuat tarik yang tinggi sebagai tulangan. Untuk membuat beton bertulang salah satu material yang pada umumnya digunakan sebagai tulangan adalah baja yang memiliki kekuatan tarik yang tinggi, namun harga material baja tidaklah murah. Oleh karena itu untuk dapat mendapatkan beton bertulang yang relatif lebih murah, untuk bangunan rakyat di pedesaan, digunakan alternatif penggunaan tulangan bambu. Pada penelitian ini akan dimanfaatkan tulangan Bambu Gombong (Giganthocloa pseudoarundinacea) sebagai tulangan lentur maupun tulangan geser. Berdasarkan uji tarik bambu Gombong memiliki tegangan tarik ultimit sebesar 87.5 MPa. Pengujian kuat geser balok dilakukan pada balok berukuran 20 cm x 25 cm x 160 cm dengan dua buah konfigurasi pemasangan tulangan geser, yaitu pemasangan tulangan geser vertikal dengan dua buah kaki dengan jarak tumpuan sebesar 100 cm, dan tulangan geser bambu miring dan vertikal dengan dua buah kaki dengan jarak tumpuan 120 cm. Pengujian dilakukan dengan menggunakan Universal Testing Machine (UTM) dengan dua pembebanan simetris (two point loading). Dari hasil pengujian, balok mengalami kegagalan pada beban simetris rata-rata P sebesar 54.5 kN pada balok dengan konfigurasi tulangan geser bambu vertikal, dan beban simertis rata-rata P sebesar 52.4 kN pada balok dengan konfigurasi tulangan geser miring dan vertikal. Dari penyebaran pola keretakan terlihat bahwa balok dengan konfigurasi tulangan geser vertikal mengalami kombinasi kegagalan lentur dan geser, dan balok dengan konfigurasi tulangan geser miring dan vertikal mengalami kegagalan lentur murni. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tulangan geser bambu vertikal dan miring memiliki kontribusi dalam meningkatkan kuat geser selain dari kuat geser dari beton sendiri. Dalam desain lentur kekuatannya harus direduksi dengan faktor reduksi lentur sebesar 0.52.Kata kunci: Kuat geser, tulangan geser, bambu Gombong
PEMBUATAN SABUN DARI MINYAK KEMIRI
Kemiri merupakan tanaman asli Kepulauan Hawaii. Tanaman ini kemudian tersebar ke beberapa negara, salah satunya Indonesia. Di Indonesia, kemiri dapat tumbuh dengan subur dan menjadi komoditas dalam negeri dan komoditas ekspor. Bagian tanaman yang dikenal oleh masyarakat adalah bijinya, yang biasa digunakan sebagai bumbu masak. Di samping itu, biji kemiri tergolong biji dengan kandungan minyak yang tinggi, yaitu 50 – 66% dari berat biji. Minyak kemiri telah digunakan dalam skala kecil sebagai penyubur rambut, bahan kosmetik, bahan pelapis cat, dan bahan pembuat pernis. Dengan penelitian yang lebih mendalam, minyak kemiri diharapkan dapat diaplikasikan dengan lebih luas dalam masyarakat. Penelitian sebelumnya tentang minyak kemiri telah memberikan hasil mengenai temperatur dan kondisi umpan yang optimum untuk memperoleh minyak kemiri dengan kuantitas dan kualitas yang baik. Pada penelitian ini akan dilakukan pemanfaatan minyak kemiri yaitu pembuatan sabun. Tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah mempelajari pengaruh pembuatan sabun dengan dan tanpa pemecahan minyak menjadi asam lemak terhadap perolehan sabun, mempelajari rasio minyak / asam lemak terhadap basa terhadap perolehan sabun, dan mempelajari pengaruh penambahan NaCl terhadap karakteristik sabun. Metode penelitian yang akan dilakukan adalah pembuatan sabun dari minyak kemiri dengan variasi dengan dan tanpa perlakuan awal. Perlakuan awal yang akan dilakukan adalah pemecahan trigliserida menjadi asam lemak. Variasi lain yang akan dilakukan adalah konsentrasi KOH, etanol, dan NaCl. Kemudian sabun yang dihasilkan akan dianalisis tingkat keasaman dan kekerasannya. Kesimpulan yang diperoleh adalah pemecahan asam lemak memiliki pengaruh yang kecil terhadap perolehan sabun. Perolehan sabun tertinggi diperoleh pada jumlah NaOH tidak berlebih pada suhu reaksi 75oC. Penambahan NaCl yang menghasilkan perolehan tertinggi pada kadar 5%
KAJIAN KUALITAS FISIK PERUMAHAN SEDERHANA YANG DIBANGUN OLEH PENGEMBANG DI WILAYAH PENGEMBANGAN BANDUNG
Perumahan massal yang dibangun oleh pengembang merupakan aplikasi dari kebijakan pemerintah dalam menyediakan rumah bagi masyarakat khususnya di kawasan perkotaan. Dengan tujuan untuk mendalami tentang keberadaan bangunan rumah sederhana, maka dipilih beberapa obyek studi sebagai sampel yang akan ditelaah. Dari penelitian ini ditemukan pola penyelenggaraan yang dilakukan oleh para pengembang. Namun pada dasarnya dapat dinyatakan bahwa dalam menyediakan perumahan tersebut maka hal yang menjadi penting untuk dipikirkan adalah memasukkan aspek sosial pengguna ke dalam konsep perumahan tersebut. Karena dengan mengetahui dan memahami karakter para pengguna dapat dibentuk kawasan perumahan yang tetap memenuhi kaidah arsitektural yang harus dipenuhi dalam suatu lingkungan fisik perumahan di perkotaan. Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini meliputi pengkajian terhadap rencana dan program pemerintah, serta peran pengembang dalam membuat lingkungan perumahan di suatu kawasan kota.Kata kunci: perumahan massal, rumah sederhana, penggun
FISIKA DASAR DAN KESADARAN ILMIAH: SUATU STUDI – ANALISIS KAITAN FISIKA DENGAN DUNIA DIGITAL
Fisika dasar adalah kuliah pengantar Fisika yang banyak diajarkan di berbagai program studisains dan teknik, karena dianggap penting untuk melandasi penguasaan ilmu dan teknologi.Biasanya materinya dianggap baku, yaitu mencakup mekanika, termodinamika, getaran dangelombang, listrik-magnet dan optika, serta fisika modern. Masalah yang sering timbul adalah,keluhan dan temuan bahwa efektivitasnya rendah, relevansinya dengan dunia sehari-hari dandunia teknologi kurang tampak, dan penggunaan matematikanya terlalu menonjol. Dalam rangkameningkatkan efektivitas kuliah penting ini, telah dikembangkan studi berkelanjutan tentangcara-cara yang lebih beresonansi dengan keinginan mahasiswa peserta kuliah ini, dengan tetapmenjaga esensi fisika sebagai ilmu empiris yang berlatar teori yang kuat.Satu hipotesis yang telah dicapai dalam tahapan studi ini sekarang adalah, bahwa tingkatkesadaran ilmu (science awareness) dan kesadaran ilmiah (scientific awareness) merupakansasaran yang lebih relevan dan realistik, dibandingkan dengan tingkat kepahaman ilmu (scienceliteracy) dan kepahaman ilmiah (scientific literacy). Dalam rangka menguji hipotesis ini, telahdilakukan suatu analisis tentang kaitan fisika dengan dunia digital. Analisis ini didasarkan ataspentingnya mahasiswa program studi teknik informatika menyadari erat dan manfaatnyamengetahui (awareness) kaitan antara ilmu dan teknologi yang dipelajarinya, dengan sains danfisika yang melatarbelakangi berbagai segi teknik informatika itu. Pentingnya ini adalah, agarsarjana teknik informatika bukan hanya mengetahui segi teknis mengolah data, melainkan jugamengetahui latar belakang ilmunya, serta proses ilmiahnya, yang akan lebih memungkinkanmereka untuk mengenali cara-cara inovasi dan pengembangan ilmu yang mereka pelajari itu.Hasil analisis ini telah dipresentasikan pada Seminar Nasional Fisika 2011 di Serpong,Tangerang, yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Fisika, LIPI dalam kerjasama denganHimpunan Fisika Indonesia Cabang Jakarta, pada 12-13 Juli 2011. Selain itu, hasil analisis iniakan merupakan komponen dalam studi yang lebih luas tentang hipotesis tersebut di atas, yangdirencanakan dipresentasikan pada International Conference in Mathematics and NaturalSciences (ICMNS) di ITB tahun 2012, dan diusahakan diterbitkan sebagai buku melalui PenerbitLambert Academic Publishing GmbH & Co, Saarbrűcken, Jerman, yang telah menawarkan halini setelah mendeteksi adanya laporan dengan tema studi ini dalam Proceedings ICMNS 2010terbitan FMIPA ITB, Bandung
Spesikasi Sistem Multi Agen Berparameter Secara Formal dengan TLA+
Sebuah Sistem Multi Agen (SMA) adalah kumpulan agen cerdas yang berinteraksisatu dengan yang lain dan bekerja secara bersama-sama untuk mencapai suatu tu-juan. Pada penelitian SMA dipandang sebagai suatu sistem berparameter yaitusistem yang terdiri atas beberapa proses sejenis yang banyaknya ditentukan olehparameter masukan. Motivasi dari penelitian ini adalah dengan memandang SMAsebagai suatu sistem berparameter, maka proses spesikasi dan verikasi dapat di-lakukan dengan cara yang sama berapapun jumlah agen yang ada di dalam sistem.Permasalahan yang mungkin muncul dengan cara pandang ini adalah tidak se-mua SMA bersifat homogen, tidak semua agen mempunyai kapabilitas yang sama.Pada penelitian ini diusulkan sebuah solusi sederhana yaitu dengan menambahkanprekondisi pada aksi pada spesikasi SMA yang berbasis Temporal Logic of Actions(TLA). Hal ini untuk menjamin hanya agen tertentu yang dapat mengaktifkan aksitertentu. Pendekatan ini telah berhasil diterapkan pada SMA homogen maupunnon-homogen.Kata kunci: multi agent systems, parameterized systems, specication, TLA
PENGEMBANGAN INSTRUMEN PENGUKURAN MUTU JASA PENDIDIKAN TINGGI
Pendidikan sudah menjadi kebutuhan dasar manusia yang berperan dalammembentuk manusia yang bermartabat. Pendidikan dibagi ke dalam beberapajenjang yaitu dasar, menengah, dan tinggi. Walaupun Indonesia masihmemfokuskan pada pemenuhan pendidikan dasar sampai menengah, tidakberarti pendidikan tinggi diabaikan. Ada ratusan perguruan tinggi di Indonesaibaik negeri maupun swasta yang mengemban tugas mulia sebagai ujung tombakdalam menghasilkan manusia yang berkualitas. Untuk menghasilkan manusiayang berkualitas dibutuhkan institusi pendidikan yang berkualitas pula. Perbaikanyang berkesinambungan menjadi suatu keharusan bagi institusi pendidikan agardapat menjadi institusi pendidikan yang berkualitas. Salah satu elemen kuncidalam perbaikan adalah pengukuran mutu yang didalamnya melibatkaninstrumen pengukuran. Dalam penelitian ini akan dikembangkan instrumenpengukuran mutu jasa yang dapat digunakan untuk mengukur mutu jasapendidikan tinggi dengan memperhatikan konteks dan budaya Indonesia.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 12 faktor yang digunakan dalammengukur mutu layanan pendidikan tinggi di TI-Unpar yaitu: Tata Usaha,Asisten, Perhatian Personal, Dosen, Fasilitas Perkuliahan, Fasilitas Pendukung,Lokasi, Pendaftaran Kuliah, Perkuliahan, Materi, Perpustakaan, danKenyamanan Gedung
PENGARUH JENIS DAGING, JENIS TEPUNG BERAS, DAN RASIO DALAM FORMULASI DAN RHEOLOGI ADONAN PAKAN ANJING
Perkembangan dalam memelihara anjing akan diikuti dengan perkembangan terhadapkebutuhan pakan anjing. Selama ini, pakan tersebut diimpor dari luar negeri denganberbagai merk dan kualitas. Hal ini disebabkan karena belum adanya suatu formulasipembuatan pakan anjing yang tepat. Dalam penelitian sebelumnya telah diperoleh bahwaformula 1: 2 telah memenuhi kandungan gizi lemak dan karbohidrat namun belummencukupi kandungan protein dalam pakan anjing. Kandungan protein tersebut dapatditingkatkan dengan melakukan penambahan atau pencampuran daging ayam dengandaging sapi. Selain itu, karakteristik fisikokimia dan rheologi dari pakan anjing jugamerupakan faktor utama yang menentukan kualitas dan diterima atau tidaknya produktersebut oleh konsumen.Tujuan penelitian ini adalah mempelajari teknologi pembuatan pakan anjing kering;mengetahui pengaruh jenis daging, jenis tepung, dan rasio dalam pembuatan pakan anjingkering terhadap sifat rheologi dan karakteristik adonan serta produk akhir. Penelitiandimulai dengan menentukan jumlah air optimum dalam adonan dilanjutkan dengan variasijenis daging (daging ayam dan daging sapi), jenis tepung (tepung beras merah dan putih),dan komposisi bahan baku (rasio daging dan tepung 1:1, 2:1, 3:1). Analisa rheologi adonanyang dilakukan berupa viskositas dan analisa fisikokimia berupa kekerasan dari pakan anjingkering.Hasil penelitian menunjukkan jumlah air untuk menghasilkan adonan yang baik dipengaruhioleh jenis tepung dan rasio. Jumlah air untuk tepung beras putih lebih sedikit dibandingkandengan tepung beras merah pada berbagai rasio daging dan tepung. Viskositas adonanberkisar antara 8.000 cP - 20.000 cP dengan kadar protein pada rentang 20 % - 60 %. Dariadonan-adonan tersebut dihasilkan pakan anjing kering dengan kadar protein 20 % - 60 %dan tekstur kekerasan 2.000 gLoad - 5.000 gLoad