BIMIPA
Not a member yet
159 research outputs found
Sort by
ALJABAR MAX-PLUS BILANGAN KABUR
Makalah ini membahas suatu aljabar himpunan semua bilangan kabur (fuzzy number) yang dilengkapi dengan operasi maximum dan penjumlahan. Aljabar ini merupakan perluasan aljabar max-plus melalui aljabar max-plus interval dan Teorema Dekomposisi dalam himpunan kabur. Dapat ditunjukkan operasi maximum dan penjumlahan yang didefinisikan melalui potongan-alfa tertutup dalam himpunan semua bilangan kabur tersebut. Selanjutnya himpunan semua bilangan kabur yang dilengkapi dengan operasi maximum dan penjumlahan tersebut merupakan semiring idempoten komutatif.Kata-kata kunci: semiring , idempoten, aljabar max-plus, bilangan kabur
APLIKASI PRINCIPAL COMPONENT REGRESION UNTUK ANALISIS QSAR SENYAWA ANTIOKSIDAN TURUNAN FLAVON/ FLAVONOL MENGGUNAKAN DESKRIPTOR ELEKTRONIK HASIL PERHITUNGAN METODE AM1
Telah dilakukan aplikasi teknik Principal Component Regresion (PCR) untuk analisis hubungan kuantitatif antara struktur elektronik dan aktivitas (QSAR) antioksidan dari senyawa turunan flavon / flavonol. Data aktivitas merupakan data sekunder yang diperoleh dari literatur dan masing-masing dinyatakan sebagai % aktivitas. Representasi struktur kimia berupa deskriptor elektronik meliputi muatan bersih atom dan momen dipol yang diperoleh dari hasil perhitungan metode semiempirik AM1. Evaluasi QSAR yang dilakuakan berupa analisis tahapan Principal Component Analysis (PCA) untuk mengkonversi variabel laten yang dilanjutkan dengan analisis regresi multilinier antara aktivitas dan variabel laten. Hasil penelitian ditunjukkan dengan model persamaan QSAR terpilih dengan menggunakan 4 komponen utama yang dipresentasikan dalam persamaan :%A = 212.2 + (7.196) T1-(20.593)T2-(192.906)T3+(242.706)T4; n=18; 2=0.822 Fhitung/Ftabel=1,397.
Kata Kunci: QSAR, Principal Component Analysis, molecular modelin
STUDI SPEKTROSKOPI TENTANG PASIVASI DALAM ANODA CuFeS2 + CaCO3 (CHALCOPYCA) PADA PROSES ELEKTRO-EKSTRAKSI TEMBAGA
Studi spektroskopi fungsionalisasi anoda campuran padatan CuFeS2 dan CaCO3 (Chalcopyca) telah dilakukan dengan menggunakan Difraksi Sinar-X (XRD) dan FT-IR. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari pasivasi pelarutan CuFeS2 secara elektrokimia. CuFeS2 murni diperoleh dari konsentrat tembaga yang dicuci dengan HF 40 % dan kemudian dinetralkan dengan B(OH)3 8,5 x 10-2M. Padatan CuFeS2 dicampur dengan CaCO3 dengan perbandingan 9 : 1. Campuran diambil 3 gram untuk dibuat pellet dengan tekanan 20 kN/cm2, kemudian dijadikan sebagai anoda. Elektrolisis dilakukan dalam medium 50 mL larutan (Na2SO4 0,5 M + H2SO4) 0,01 M) dengan arus tetap 1,5 mA dengan variasi waktu 30, 60, 120 dan 180 menit, kemudian dilakukan anlisis dengan XRD dan FT-IR. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pasivasi proses pelarutan tembaga dari anoda campuran padatan CuFeS2 dengan CaCO3 dipicu oleh terbentuknya Fe2O3 di permukaan anoda. Struktur anoda-dalam, selama elektrolisis tidak mengalami perubahan, sedang struktur anoda-luar (yang bersentuhan dengan elektrolit) mengalami pelarutan melalui oksidasi CuFeS2 menjadi SO42- serta Cu2+ dan Fe2+. Pembentukan Fe2O3 diperkirakan akibat oksidasi kimia Fe2+ oleh oksigen teradorpsi yang terbentuk selama elektrolisis dipermukaan anoda.
Kata kunci: anoda, pasivasi, elektrolisi
PEMISAHAN KOMPONEN TAR BATUBARA DENGAN KOLOM FRAKSINASI MENGGUNAKAN FASA DIAM ZEOLIT-Mn
Pemisahan komponen tar batubara telah dilakukan dengan menggunakan kolom fraksinasi menggunakan fasa diam zeolit-Mn. Zeolit –Mn yang digunakan berupa zeolit alam dari daerah Wonosari dengan penyisipan Mn2+ pada permukaan internal zeolit melalui proses pertukaran kation. Zeolit-Mn dibuat dengan variasi kisaran ukuran fisik yakni 20 – 28, 12 – 20, dan 8 – 12 mesh dan masing-masing ditempatkan pada kolom dengan panjang 30 cm. Tar batubara diperoleh dari hasil pirolisis batubara produksi PT Batubara Bukit Asam menggunakan reaktor pirolisis pada temperatur 500-650 oC dengan gas alir N2 pada kecepatan 100 mL/menit. Pengepakan zeolit-Mn pada kolom dilakukan tanpa pelarut. Proses pemisahan komponen tar dilakukan dengan menggunakan variasi pelarut CCl4, aseton dan etanol, sedangkan analisis komponen dilakukan dengan menggunakan kromatografi gas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa zeolit-Mn relatif memiliki kemampuan untuk memisahkan komponen tar dan cenderung mengadsorb hidrokarbon fraksi berat. Variasi fasa gerak yang dilakukan menunjukkan bahwa fasa gerak non polar (CCl4) menghasilkan pemisahan yang relatif baik daripada fasa gerak sedikit polar (etanol) atau fasa gerak polar (aseton).
Kata kunci: zeolit, tar batubara, pemisahan fraksinas
BILANGAN RAMSEY SISI DARI r(P3,Pn)
Pada paper ini akan ditunjukkan bahwa bilangan Ramsey sisi dari r(P3,Pn) untuk n = 13, 14, 15 adalah 20, 23, 24. Ditunjukkan pula bahwa r(P3,pn)=r(P3,Pk)+r(P3,P1) dengan n = k+l-1 untuk n ganjil dan k, l genap.
Kata kunci: Bilangan Ramsey sisi, Graph lintasa
SOLUSI NUMERIK PERSAMAAN SCHRÖDINGER ATOM HIDROGEN DENGAN METODE ELEMEN HINGGA (FINITE ELEMENT METHODS)
Telah dihitung tingkat-tingkat energi atom hidrogen menggunakan metode numerik FEM (finite element methods). Untuk tiga tingkat energi paling rendah menghasilkan:
E1 = -0.9417091337121758 Rydberg (1 R = 13,6 eV),
E2 = -0.2382036433048052 Rydberg,
E3 = -0.1067644617719800 Rydberg.
Selisih terhadap hasil analitik untuk hasil tersebut adalah masing-masing 5,83% (-13,6 eV), 4,72% (-3,4 eV) dan 3,91% (-1,5 eV), dengan nilai dalam tanda kurung adalah hasil perhitungan analitik. Hasil numerik yang diperoleh cukup baik dan grafik fungsi gelombang yang didapat sesuai dengan analitik.
Kata kunci: FEM, Atom hidrogen, Persamaan Schrödinge
HUBUNGAN KUANTITATIF STRUKTUR DAN AKTIVITAS ANTIKANKER SENYAWA TURUNAN ESTRADIOL HASIL PERHITUNGAN METODE SEMIEMPIRIS PM3
Telah dilakukan kajian Hubungan Kuantitatif Struktur-Aktivitas (HKSA) terhadap aktivitas antikanker satu seri senyawa turunan estradiol dengan tujuan memperoleh persamaan yang mampu digunakan untuk memprediksi nilai aktivitas antikanker senyawa turunan estradiol. Sebagai bahan penelitian adalah data kadar penghambat rata-rata (IC50) eksperimen dari 19 senyawa turunan estradiol yang terbagi menjadi 15 senyawa fitting dan 4 senyawa uji. Analisis HKSA dilakukan berdasarkan perhitungan regresi multilinear terhadap senyawa fitting dengan memplotkan log (1/IC50) sebagai variabel tak bebas dan sebagai variabel bebas adalah muatan bersih atom karbon aromatik, momen dwikutub dan koefisien partisi n-oktanol/air. Harga deskriptor diperoleh dari perhitungan menggunakan metode mekanika kuantum semiempiris PM3. Persamaan HKSA yang dihasilkan adalah: Log (1/IC50) = 4,5705 + 4,7934 qC2 + 37,9810 qC3 + 152,4690 qC4 -113,5838 qC6 – 0,9619 μ - 0,4873 logP n = 19 r = 0,8241 SE = 0,3681 Fhitung/Ftabel = 1,4132 PRESSeksternal = 1,6129Kata kunci : QSAR, desain obat, antikanker, estradio
EFFECT OF K2SO4 TO THE PORE PROPERTIES OF PRODUCTS IN THE SYNTHESIS OF MESOPOROUS SILICATES MCM-41
Researchs about the effects of K2SO4 to the pore properties of the products in the synthesis of mesoporous silicates MCM-41 has been done. MCM-41 was synthesized by hydrothermal treatment of the mixture containing : 9.31 of sodium silicate solution, 8.67 g of cetyltrimetylammoniumbromide (CTMAB) and 29 g of distilled water (molar ratio of 8 Na2SiO3 : CTMAB : NaOH : 400H2O). The hydrothermal treatment was carried out at 100 oC in a teflon-lined stainless steel autoclave heated in the oven for 36 h. The solid phase was filtered, washed with distilled water, and dried in the oven at 100 oC for 2 h. The surfactant CTMAB was removed by calcinations at 550 oC for 10 h with heating rate of 2 ºC/min. The as-synthesized MCM-41 was characterized by using FTIR spectroscopy and X-ray diffraction, while calcined-MCM-41 was characterized by using FTIR spectroscopy, X-ray diffraction; and N2 physisorption methods. The same procedure was carried out, with the addition of 17.4 g of K2SO4 and 21.6 ml of distilled water to obstain the molar composition of the gel of: 8Na2SiO3 : CTMAB : NaOH: 400H2O : 2 K2SO4. The results showed that the addition of K2SO4 increased the crystalinity. MCM-41 prepared with K2SO4 has a higher specific surface area of 972.812 m2 g-1 compared to the MCM-41 prepared without K2SO4 (i.e., 946.607 m2 g-1), higher mean pore diameter of 3.714 nm compared to the MCM-41 prepared without K2SO4 (i.e. 3.357 nm), and thicker pore walls of 0.830 nm compared to the MCM-41 prepared without K2SO4 (i.e. 1.176 nm).Key words : MCM-41, K2SO4, pore propertie
PROTOTYPE OF ELECTRONIC NOSE BASED ON GAS SENSORS ARRAY AND BACK PROPAGATION NEURAL NETWORK FOR TEA CLASSIFICATION
We have developed an electronic nose based on metal oxide gas sensor array and back-propagation neural network for tea classification. The sensor array consists of six Tagushi Gas Sensor (TGS) type devices. To recognize the pattern formed by the six sensors we used six neurons in the input layer. Since we only want to classify four tea samples, we used two neurons in the output layer. The four tea samples (different tea flavors) were purchased from local super store in Yogyakarta, namely, black tea, green tea, vanilla tea and jasmine tea. Under the relatively similar conditions, we measured each sample of tea as a function of time. Prior to the exposure of tea samples, the sensor array was tested with air ambient. Then the electronic nose was trained by using one set of four tea samples without pre-processing step. By using all data sets, the electronic nose is able to recognize the pattern for almost 80%. This result prove that our electronic nose is capable of discriminating between the flavors of tea samples. For further investigation, the performance of this system should be compared with the data sets with pre-processing.
Keywords : Odor, Tea flavor, Metal oxide gas sensor, Sensor array, Back Propagation Neural networ