Ekonomikawan: Jurnal Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan
Not a member yet
285 research outputs found
Sort by
Pengembangan Jiwa Kewirausahaan Santri Melalui Ekonomi Kreatif dalam Menghadapi Tantangan Ekonomi Global (Studi di Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh Kota Malang)
Now, with the enactment of the Asian Economic Community (AEC), competition in improving the quality of human resources is increasing. It presents the consequences for the individual to continue to develop and improve their quality. No exception of human resources who live in boarding schools. Pondok Pesantren community needs to improve the quality to become competitive arena of the world of work. Therefore, coaching is done in schools, should reflect and provide education about the importance of selfreliance, particularly in the financial sector. This study aimed to analyze the economic contribution of the creative for the development of entrepreneurial spirit in the pesantren education system which has been applied entrepreneurship education as a means to train the financial independence of students. By using a phenomenological approach, this qualitative study begins with the collection of data through observation and documentation for later analysis so find some creative economic role towards the development of entrepreneurship in boarding schools. The conclusion from this study is that the creative economy has several important roles in the development of the entrepreneurial spirit in boarding schools. There are: (1). Stimulate creative and innovative behavior on the product / service. (2). Explore and hone the skills (3). Providing knowledge with methods of learning by doing (4). Provide training on the SWOT analysis (Strength, Weakness, Opportunity and Threat). This study is limited to the analysis of economic contribution of the creative for the development of the entrepreneurial spirit of students in the face of global economic challenges, particularly at boarding school Bahrul Maghfiroh Malang so that it can be applied to other schools
Pengembangan Wilayah Perdesaan Berbasis Pada Potensi Sumber Daya Alam di Kabupaten Bondowoso
Adanya kesenjangan antara daerah perkotaan dan pedesaan serta kemiskinan di pedesaan telah mendorong upaya-upaya pembangunan di daerah pedesaan. Salah satu upaya untuk melakukan modernisasi dan penguatan ekonomi perdesaan adalah dengan adanya dukungan penyediaan infrastruktur perdesaan yaitu jalan, air bersih, listrik dan prasarana kegiatan ekonomi lainnya. Dalam prakteknya, proses pembangunan perdesaan yang dilaksanakan selama ini belum berhasil mencapai tujuan tersebut, bahkan disisi lain telah menimbulkan berbagai permasalahan baru berupa kesenjangan antar kota dan desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan perdesaan di wilayah Kabupaten Bondowoso mempunyai beberapa klasifikasi perkembangan desa serta potensi sumber daya alamnya, yaitu : (Pertama). Kecamatan Tamanan dengan potensi ekonomi kreatif menghasilkan tiga hierarki, yaitu (a). Kelompok Hierarki I (Desa Tamanan, Desa Sukosari dan Desa Wonosuko), (b). Kelompok Hierarki II (Desa Karangmelok, Desa Kemirian, dan Desa Sumberkemuning) dan (c). Kelompok Hierarki III (Desa Mengen, Desa Sumberanom dan Desa Wonosuko), (Kedua). Kecamatan Wonosari dengan potensi agribis padi organik menghasilkan tiga hierarki, yaitu (a). Kelompok Hierarki I (Desa Wonosari, Desa Traktakan dan Desa Sumberkalong), (b). Kelompok Hierarki II (Desa Kapuran, Desa Pasarejo, Desa Tumeng, Desa Lombok Kulon dan Desa Lombok Wetan) dan (c). Kelompok Hierarki III (Desa Tangsil Wetan, Desa Jumpong, Desa Pelalangan dan Desa Bendoarum), (Ketiga). Kecamatan Sumberwringin dengan potensi agribis kopi rakyat menghasilkan tiga hierarki, yaitu (a). Kelompok Hierarki I (Desa Sumbergading), (b). Kelompok Hierarki II (Desa Sukorejo dan Desa Sukosarikidul) dan (c). Kelompok Hierarki III (Desa Tegaljati dan Desa Rejoagung) dan (Keempat). Kecamatan Binakal dengan potensi agroindustri tape dan ikan air tawar menghasilkan tiga hierarki, yaitu (a). Kelompok Hierarki I (Desa Sumbertengah dan Desa Bendelan), (b). Kelompok Hierarki II (Desa Jeruk Soksok, Desa Binakal dan Desa Baratan) dan (c). Kelompok Hierarki III (Desa Gadingsari, Desa Sumber Waru Desa Kembangan)
Analisis Peranan Sub Sektor Perikanan Tangkap Terhadap Perekonomian di Kecamatan Pantai Labu Kabupaten Deli Serdang
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dimana tujuannya adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis struktur hasil perikanan tangkap, struktur penggunaan alat tangkap ikan serta pendapatan nelayan di Kecamatan Pantai Labu. Dari 19 desa yang ada di kecamatan Pantai Labu, Desa Paluh Sibaji terpilih menjadi desa sampel karena hampir 80% penduduknya bermatapencarian sebagai nelayan. Pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner kepada 86 sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan nelayan berhubungan erat dengan peralatan yang dipergunakan yaitu kapal/perahu dan jaring. Nelayan yang menggunakan perahu lebih banyak menangkap ikan di lautan dangkal dimana harga ikan yang diperoleh relatif lebih murah. Sedangkan nelayan yang sudah menggunakan kapal, akan menangkap ikan di lautan dalam yang harga ikan hasil tangkapannya relatif lebih mahal. Pendapatan nelayan secara umum masih relatif rendah. Dengan memasukkan penghasilan istri dan anak sebagai pendapatan keluarga, hampir 60% dari jumlah sampel, mempunyai pendapatan yang masih dibawah Upah Minimum Kabupaten yang besarnya sekitar Rp. 2,4 juta untuk tahun 2017. Hasil tangkapan nelayan lebih banyak dijual ke Toke daripada ke tempat pelelangan ikan mesipun harga ikan di tempat pelelangan relatif lebih tinggi dari harga Toke. Hal ini disebabkan karena banyak nelayan yang menerima pinjaman dari Toke, baik berupa uang maupun berupa kapal. Keadaan ini menimbulkan keterikatan antara nelayan dengan Toke
Analisis Struktur APBD Dalam Meningkatkan Pengelolaan Keuangan Daerah Pada Pemerintah Daerah Sumatera Utara
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis Struktur APBD dalam meningkatkan Pengelolaan Keuangan Daerah pada Pemerintah Daerah Sumatera Utara. Tujuan ini dilatarbelakangi oleh kondisi saat ini dimana kinerja pemerintahan masih kurang baik mulai dari daerah sampai ke pusat. Ini dapat diketahui dari efektifitas dan efisiensi kebijakan pengeluaran pemerintah yang belum dapat sesuai dengan target yang ditentukan. Selain itu juga masih banyaknya oknum pemerintah yang melakukan korupsi, atas dana pemerintah. Hakikatnya APBD adalah penjabaran kuantitatif dari tujuan, sasaran pemerintah daerah dan tugas pokok serta fungsi unit kerja, sehingga harus disusun dalam struktur yang berorientasi pada pencapaian tingkat kinerja tertentu. Oleh sebab itu alokasi dana yang digunakan untuk membiayai berbagai program dan kegiatan dapat memberikan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat dan pelayanan yang berorientasi pada kepentingan publik (PP No 58 Tahun 2005). Berdasarkan kondisi tersebut maka penelitian ini mencoba untuk menganalisis struktur APBD dalam meningkatkan Pengelolaan Keuangan Daerah dengan mengambil kasus pada pemerintahan daerah Sumatera Utara. Dengan menggunakan metode research and development (RD).Penelitian ini menemukan bahwa Pengelolaan Keuangan Daerah Propinsi Sumatera Utara belum efektif dan efisien terlihat dari APBD yang menunjukan realisasi pendapatan dan belanja belum dapat mencapai target. Pada Struktur APBD saat ini masih belum sesuai dengan Permendagri nomor 13 Tahun 2006 pada bagian pembiayaan daerah yang ternyata belum jelas diungkap pada struktur APBD. Perencanaan yang baik akan berdampak pada pelaksanaan dan pengawasan keuangan yang baik pula. Sehingga dapat meningkatkan kinerja pemerintah daerah
Analisis Penilaian Penerapan Bantuan Alat Tangkap Pada Hasil Tangkap Nelayan Pesisir Desa Pahlawan Kecamatan Tanjung Tiram Kabupten Batu Bara
Desa Pahlawan is one of region has natural resources for fishery sectorin Indonesia. The location is in Kecamatan Tanjung Tiram KabupatenBatu Bara Provinsi Sumatera Utara. Many kind of fishery commodityhad produced in there like anchovy, shrimp, shells, and other kind seafood. This research has aim for analyzing the impact for fishing tackleaid implementation for fishermen at Desa Pahlawan KecamatanTanjung Tiram Kabupaten Batu Bara. The research speciality has foranalyzing difference of how before fishing tackle aid implementationand after. The hypothesis are there significant difference betweenbefore fishing tackle aid implementation and after for the quantity ofproduction. The result for this research by sign test has significantdifference between before fishing tackle aid implementation and afterfor the quantity of production. For the local government by DinasKelautan dan Perikanan Kabupaten Batu Bara Provinsi SumateraUtara could be keep the productivity of fishermen at Desa Pahlawan asconcern for quantity of production becauce it can be influence forselling price stability in market as welfare indicator for the fishermen
Analisis Pengaruh Belanja Sektor Kesehatan Terhadap Angka Harapan Hidup Di Sumatera Utara
In increasing economic growth in an area, a dominant role is needed bythe government in the area, where the government is spending in thehope that the greater the amount of government spending, the greaterthe economic growth of the region. The Human Development Index(HDI) in which there is a component of life expectancy is one of themeasuring tools in looking at economic growth in an area. If the lifeexpectancy in an area is higher then the level of productivity of thepeople in the area is also higher followed by an increase in income percapita which increases the purchasing power thus spurring theeconomic growth of the region. The purpose of this study was toexamine the effect of government health spending in the health sectoron life expectancy in the province of North Sumatra. The data used areNorth Sumatra government expenditure data in the field of health andlife expectancy data in North Sumatra with the 2006-2014 base yearobtained from the North Sumatra BPS and the Ministry of Health. Theresults of the Klassen Typology show that the relationship betweenhealth sector spending and life expectancy in the North Sumatraprovincial district / city that which area is included in the high percapita expenditure category and where the area of life expectancy islow
Analisis Penyampaian SPT Masa dan Jumlah Wajib Pajak Badan Dalam Meningkatkan Penerimaan Pajak Penghasilan Pasal 21 di KPP Pratama Medan Belawan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyampaian SPT Masa dan jumlah wajib pajak badan dalam meningkatkan penerimaan pajak di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Medan Belawan. Permasalahan yang terjadi di KPP Pratama Medan Belawan adalah wajib pajak badan yang menyampaikan SPT Masa tidak sebanding dengan jumlah wajib pajak badan yang terdaftar serta menurunnya penerimaan pajak. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif dan data yang diteliti dari tahun 2013 - 2016. Data diperoleh dari Seksi Pengolahan Data dan Informasi (Seksi PDI) KPP Pratama Medan Belawan. Teknik analisis data adalah analisis deskriptif, dimana data yang ada dikumpulkan kemudian dianalisis penyampaian SPT Masa dan jumlah wajib pajak badan dalam meningkatkan penerimaan pajak penghasilan Pasal 21 serta melakukan wawancara untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan penerimaan pajak tidak mencapai target dan upaya yang dilakukan agar penerimaan pajak meningkat di KPP Pratama Medan Belawan. Hasil analisis menunjukkan bahwa wajib pajak yang menyampaikan SPT Masa belum menunjukkan keseimbangan antara wajib pajak badan yang menyampaikan SPT Masa dan wajib pajak yang terdaftar di KPP Pratama Medan Belawan sehingga penerimaan pajak mengalami penurunan. Jadi KPP Pratama Medan Belawan perlu meningkatkan lagi kualitas pelayanan dan kualitas pengawasan terhadap wajib pajak badan dalam menyampaikan SPT Masa. KPP Pratama Medan Belawan harus lebih menggencarkan sosialisasi perpajakan terhadap wajib pajak agar kesadaran wajib pajak dalam menyamapaikan SPT Masa dan membayar pajak meningkat. Dengan diperbaikinya dari semua aspek diharapkan realisasi pajak yang diperoleh mencapai target pajak yang telah ditetapkan
Analisis Penyerapan Tenaga Kerja Pada Transportasi Online di Kota Medan
This research was conducted in the city of Medan, with the aim to find out how labor absorption in ojek transportation is online. This study uses qualitative data that aims to describe in detail and in depth about employment in online transportation. Data collection techniques used are by giving a list of questions and questionnaire forms and in-depth interviews. The population of this study is around 30 people and all of them are created as samples or total samples. The results of the study show that labor absorption in online transportation has absorbed labor from the urban population of the field is quite large. Based on data from BPS in 2017, 58.35% of the workforce is increasing and working in informal fields based on online transportation. This is due to several factors, including the existence of economic demands that can provide substantial amounts of income, a work system that is flexible, easy allocation of time, and a work system that facilitates work partners in IT-based service
Pengaruh Tenaja Kerja, Jumlah Perusahaan dan Biaya Input Terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sub Sektor Industri Besar dan Sedang di Sumatera Utara Periode 2001-2015
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Tenaga Kerja, Jumlah Perusahaan dan Biaya Input Terhadap Produk Domestik Regional (PDRB) Sub Sektor Industri Besar dan Sedang Di Sumatera Utara periode 2001-2015. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 3 Sub Sektor Industri Besar Dan Sedang di Sumatera Utara dengan sepuluh tahun periode pengamatan maka didapatlah analisis berjumlah 45 analisis yang dipilih dengan kriteria tertentu menggunakan metode purposive sampling. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda. Berdasarkan hasil analisis regresi diperoleh persamaan Y = 1553,751 0,049 Tenaga Kerja 24,055 Jumlah Perusahaan + 1,375 Biaya Input + e dan uji hipotesis menggunakan uji t secara parsial, uji f secara simultan dengan level of significance 5% dan uji koefesien determinasi (R2). Dari hasil analisis menunjukkan data secara parsial bahwa nilai signifikansi Tenaga Kerja sebesar 0,640 0,05 dan nilai thitung(-0,471) ttabel(-2,019). Hal ini menunjukkan bahwa variabel Tenaga Kerja berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap PDRB, dapat disimpulkan bahwa H1diterima dan H0ditolak. Nilai signifikansi Jumlah Perusahaan sebesar 0,002 0,05 dan nilai thitung (-3.283) ttabel (-2,019). Hal ini menunjukkan bahwa variable Jumlah Perusahaan tidak berpengaruh dan signifikan terhadap PDRB, dapat disimpulkan bahwa H0 diterima dan H1 ditolak dan nilai signifikansi Biaya Input sebesar 0,000 0,05 dan nilai thitung(18,239) ttabel (2,019). Hal ini menunjukkan bahwa variabel Biaya Input berpengaruh positif dan signifikan terhadap PDRB, dapat disimpulkan bahwa H1diterima dan H0ditolak. Secara simultan bahwa H1 diterima dan H0ditolak, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa PDRB yang diungkapkan dipengaruhi secara simultan oleh Tenaga Kerja, Jumlah Perusahaan dan Biaya Input, dengan nilai Fhitung Ftabel (329,285 2,83) dan nilai signifikansi sebesar 0,000 0,05. Angka Adjusted R square atau koefisien determinasi adalah 0,957. Hal ini berarti 95,7% variasi atau perubahan dalam PDRB dapat dijelaskan oleh variasi dari Tenaga Kerja, Jumlah Perusahaan, dan Biaya Input, sedangkan sisanya (4,3%) dijelaskan oleh sebab-sebab lain
Analisis Inflasi dan Impor Indonesia
Indonesia merupakan negara yang menganut sistem perekonomian terbuka. Semenjak dari masa kemerdekaan sampai dengan sekarang masih terus menjadi bagian dan atau pelaku di pasar internasional. Kecenderungan mengeskpor untuk meningkatkan pendapatan negara diikuti pula dengan mengimpor barang/jasa modal dan jenis barang/jasa ekonomi lainnya yang dikonsumsi oleh penduduk domestik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis data laju pertumbuhan inflasi dan impor Indonesia dengan time series mulai dari tahun 1991-2017. Hasil penelitian dengan metode analisis VAR (vector autoregression) didapatkan bahwa Inflasi dan impor tidak berkaitan erat dan tidak saling mempengaruhi berdasarkan kurun waktu penelitian ini karena tidak memiliki hubungan sebab akibat. Inflasi periode yang lalu tidak mempengaruhi secara signifikan terhadap impor Indonesia. Peningkatan impor berpengaruh positif terhadap inflasi berdasarkan persamaan VAR. Dan antara inflasi dan impor terdapat hubungan stabilitas keseimbangan jangka panjang dan pergerakan dalam jangka panjang. Sementara dalam jangka pendek kedua variabel inflasi dan impor saling menyesuaikan untuk mencapai keseimbangan jangka panjang. Hal yang dapat direkomendasikan kepada pemerintah yakni Bank Indonesia diharapkan dapat tetap menjaga laju inflasi terkait kestabilan nilai rupiah baik di dalam maupun luar negeri sehingga dapat menekan kuota impor yang dapat mengurangi kecenderungan konsumsi terhadap barang/jasa impor oleh penduduk domestik