Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Not a member yet
162 research outputs found
Sort by
Beberapa Gen pada Bakteri yang Bertanggung Jawab Terhadap Produksi Bioetanol
Harga minyak mentah dunia yang berfluktuasi dan cadangan minyak yang makin menipis telah mendorongpenggunaan biofuel sebagai bahan bakar alternatif dan mengintensifkan penelitian bioetanol dengan menggunakanmikroba. Identifikasi dan karakterisasi gen-gen yang bertanggung jawab dalam produksi bioetanol (etanologen) danekspresinya pada beberapa inang telah dilakukan untuk meningkatkan produksi bioetanol oleh mikroba. Tulisan inimengulas sumber-sumber gen bioetanol (pdc dan adh) dan ekspresinya pada beberapa bakteri inang sebagai genyang berdiri sendiri maupun sebagai operon dalam memproduksi bioetanol. Piruvat dekarboksilase (pdc) danalkohol dehidrogenase (adh) adalah gen-gen yang bertanggung jawab dalam produksi bioetanol yang ditemukanpada bakteri mesofilik Zymomonas mobilis dan ragi Saccharomyces cerevisiae. Sumber gen pdc lebih terbatasdibandingkan dengan gen adh. Gen pdc belum ditemukan dalam jaringan hewan maupun bakteri termofilik.Manipulasi genetik beberapa bakteri dengan pdc dan adh yang diisolasi dari beberapa bakteri telah dilakukan untukmeningkatkan produksi bioetanol dari sumber karbon yang murah, yaitu biomassa. Ekspresi etanologen telahberhasil dilakukan pada bakteri mesofilik, baik gram-positif maupun gram-negatif. Namun, ekspresi etanologenpada bakteri termofilik perlu penelitian lebih lanjut untuk mencapai keberhasilan yang tinggi
PERAN THIDIAZURON DALAM PENINGKATAN KEMAMPUAN PROLIFERASI TANAMAN SECARAIN VITRO
Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkan organjaringan ataupun sel tanaman pada media kultur dalam kondisiaseptik. Keberhasilan pembentukan tunas dalam kultur jaringanbergantung pada berbagai faktor, antara lain media tumbuh, jenisdan kondisi fisiologis eksplan, serta zat pengatur tumbuh yangdigunakan. Proliferasi tunas pada tanaman berkayu biasanya sangatlambat, sedangkan aplikasi zat pengatur tumbuh sitokinin darigolongan benzil adenin dan kinetin belum dapat memacupembentukan tunas secara optimal. Penemuan senyawa baruthidiazuron pada tahun 1976 dapat mengatasi proliferasi tunas padaberbagai tanaman, khususnya tanaman berkayu. Thidiazuronmerupakan senyawa kimia yang mempunyai aktivitas hampir samadengan sitokinin, yaitu dapat meningkatkan proliferasi tunas danpembentukan embrio somatik. Thidiazuron mempunyai aktivitastinggi pada konsentrasi rendah, yaitu sekitar 0,1-0,5 mg/l.Pemanfaatan thidiazuron dalam penelitian kultur jaringan terusmeningkat yang dapat dilihat dari jumlah publikasi yangditerbitkan. Data ISI Web Science menunjukkan bahwa pada tahun1992 terdapat 45 hasil penelitian tentang thidiazuron, tahun 2005sebanyak 80 publikasi, dan tahun 2009 meningkat menjadi 100publikasi
Strategi Pengembalian Wilayah Nusa Tenggara Timur Sebagai Sumber Ternak Sapi Potong
ABSTRACTEast Nusa Tenggara (NTT) in the 1998 was able to supply beef cattle with minimum body weight of 250 kg to Java. This capacity, however, decreases today due to the some contraints faced. Pasture is a comparative advantage for grazing system. However, quality of the pasture has declined, and rice intensification policy has reduced grazing areas. The cases of livestock theft are also high which will decrease farmers interest to rearing cattle. Calf mortality is high and slaughtering productive cows is still occurred whichresulted in decreasing beef cattle population. Policy measures to push NTT as a source of beef cattle include pasture management and improvement and application of integrated paddy-cattle to anticipate the reduction of grazing areas in spuring the carrying capacity. Cattle securing is required to avoid theft. Control policies on slaughtering of productive cows are needed through institutional development by the local government. Decreasing calf mortality rates with no shepherd and addition of feed based on local resources are needed. Furthermore, improvement of beef cattle genetic quality through natural mating with the provision of superior male, and development of snapping estrus and artificial insemination are required. These strategies will be able to push increasing beef cattle population in NTT, therefore NTT would revive as a supplier of beef cattle to Java Island.Keywords: Beef cattle, regional development, East Nusa TenggaraAbstrakProvinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada tahun 1980-an merupakan pemasok ternak sapi potong ke Pulau Jawa dengan bobot badan minimal 250 kg/ekor. Namun, kemampuan tersebut makin menurun karena berbagai kendala yang dihadapi. Padang penggembalaan merupakan keunggulan komparatif dengan sistem pemeliharaan digembalakan. Namun, kualitas padang penggembalaan makin menurun, selain kebijakan intensifikasi tanaman padi yang berdampak terhadap berkurangnya area penggembalaan. Kasus pencurian ternak yang tinggi akan menurunkan minat peternak dalam usaha ternak. Kematian anak sapi yang masih tinggi dan adanya pemotongan sapi betina produktif akan mengganggu program peningkatan populasi sapi di NTT. Langkah kebijakan untuk memacu NTT kembali sebagai sumber ternak sapi potong di antaranya adalah perbaikan padang penggembalaan dan pengelolaannya dan penerapan model integrasi padi-sapi untuk mengantisipasi berkurangnya area penggembalaan dan meningkatkan daya dukung pakan. Jaminan keamanan ternak diperlukan akibat kasus maraknya pencurian, karena sapi adalah aset utama petani dalam memenuhi ekonomi keluarga. Kebijakan pengendalian pemotongan sapi betina produktif dapat dilakukan melalui pengembangan kelembagaan yang tepat oleh Pemda. Kematian anak sapi dapat diturunkan dengan tidak mengikutkan anak dalam penggembalaan. Perbaikan kualitas genetik dilakukan melalui kawin alam dengan pejantan unggul, maupun pe-ngembangan gertak berahi dan inseminasi buatan. Strategi ini diharapkan mampu memacu peningkatan populasi sapi potong dan mengembalikan peran NTT sebagai pemasok sapi ke Pulau Jawa
Kajian Kebijakan Harga Pangan Nonberas dalam Konteks Ketahanan Pangan Nasional
Ketersediaan pangan tidak identik dengan ketersediaan beras karena ketahanan pangan tidak identik dengan swasembada beras, meskipun pilar ketahanan pangan masih bertumpu pada beras. Untuk melindungi produsen dan konsumen pangan dalam negeri, pemerintah menerapkan kebijakan harga komoditas pangan. Kebijakan tersebut bertujuan untuk menstabilkan harga pangan, mengurangi ketidakpastian petani, dan menjamin konsumenmemperoleh pangan yang cukup dengan harga yang wajar. Rancangan dan implementasi kebijakan harga komoditas pangan nonberas perlu dirumuskan secara komprehensif, yang meliputi: 1) jaminan ketersediaan pangan bagi penduduk miskin dan rawan pangan di seluruh pelosok tanah air, 2) perlindungan terhadap petani melalui implementasi kebijakan harga perlindungan petani (HPP) dan diplomasi perdagangan internasional, dan 3) dialog terbuka antara pemerintah pusat dan daerah untuk mensintesis persepsi dan keinginan daerah terhadap pusat dan sebaliknya
Teknologi Pembibitan Duku dan Prospek Pengembangannya
Kendala utama dalam pengembangan agribisnis duku yaitu belum tersedia dan digunakannya benih bermutu. Tanaman duku umumnya berasal dari benih asalan. Perbanyakan dengan biji, di satu sisi, memberikan tingkat keberhasilan tinggi. Namun, tanaman memerlukan waktu lama untuk berbuah serta tidak selalu sama dengan induknya. Untuk itu, perlu teknik pembibitan yang lebih baik melalui sambung pucuk. Tulisan ini merupakan tinjauan terhadap pembibitan sambung pucuk pada duku dan prospek pengembangannya, meliputi penyemaian biji untuk batang bawah, pemupukan, persiapan batang atas (entres), cara penyambungan, dan kelayakan usaha pembibitan sambung pucuk. Batang bawah dianjurkan menggunakan jenis lokal karena perakarannya kuat dan daya adaptasinya tinggi terhadap lingkungan. Pupuk NPK diberikan dengan takaran 3 g/tanaman atau menggunakan pupuk daun plant catalyst dengan takaran 2 g/tanaman. Entres diambil dari pohon induk sehat dan telah berbuah minimal 3-4 kali, produktivitas tinggi, dari ujung cabang yang kulitnya hijau muda dengan posisi tumbuh lurus ke atas. Teknik penyambungannya adalah batang bawah dipotong pada bagian kulit yang masih hijau setinggi 2025 cm lalu dibelah membujur sepanjang 22,50 cm (huruf V). Entres disayat bagian pangkalnya pada kedua sisi sepanjang 22,50 cm (huruf V) lalu disisipkan ke dalam belahan batang bawah dan diikat tali plastik. Usaha pembibitan duku (skala 5.000 bibit) memberikan pendapatan bersih Rp6.618.560 dengan nilai R/C 2,20. Dengan demikian, teknik sambung pucuk mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan.
POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN USAHA TANI TERPADU BERBASIS KAWASAN DI LAHAN RAWA
Ketersediaan lahan kering dan lahan sawah untuk pengembangan pertanian menurun signifikan antara lain karena alih fungsi lahan untuk keperluan nonpertanian. Di sisi lain, produksi komoditas pertanian perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat. Tulisan ini membahas potensi lahan rawa untuk pengembangan usaha tani terpadu secara berkelanjutan. Luas lahan rawa di Indonesia mencapai 34,93 juta ha. Di Kalimantan Selatan, luas lahan rawa tercacat 4.969.824 ha, terdiri atas lahan rawa pasang surut, lahan gambut, dan rawa lebak yang berpotensi untuk pengembangan pertanian terpadu berbasis kawasan. Per-masalahan dalam pemanfaatan lahan rawa adalah miskin hara, bersuasana anaerob, banyak yang bergambut tebal, berpirit dan bila dialihfungsikan akan mengeluarkan senyawa yang dapat meracuni tanaman (sulfida, besi fero, dan asam-asam organik), serta pH tanah rendah. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan rawa, dukungan teknologi dan sumber daya manusia diperlukan melalui konsep pemanfaatan berbasis kawasan, yang terdiri atas sentra pertanian dan kawasan pertanian. Kawasan pertanian dikembangkan ber-dasarkan kelompok komoditas, yaitu tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan, melalui pendekatan agroekosistem, sistem agribisnis terpadu dan terintegrasi, partisipatif, dan diversifikasi. Tahapan pengembangan meliputi inisiasi, penum-buhan, pengembangan, pemantapan, dan integrasi antarkawasan. Pemanfaatan lahan rawa untuk usaha tani terpadu sangat memungkinkan dengan teknologi pengapuran (amelorasi) dan pemupukan, pemilihan komoditas adaptif di lahan rawa, serta teknologi budi daya yang bersifat ramah lingkungan
PENENTUAN LOKUS GEN DALAM KROMOSOM TANAMAN DENGAN BANTUAN MARKA DNA
Kemajuan teknik marka molekuler memberikan kemudahan bagi pemulia tanaman dalam penentuan lokasi gen yang mengendalikan karakter yang diinginkan. Penentuan gen yang mengendalikan sejumlah karakter penting dengan menggunakan marka genetik telah berhasil dilakukan pada berbagai jenis tanaman. Sebelum pemetaan suatu marka molekuler terhadap karakter yang diinginkan, diperlukan pemetaan genetik yang dikonstruksi dari sejumlah marka molekuler. Pemetaan daerah dalam kromosom yang mengendalikan karakter kualitatif dan kuantitatif mendapat perhatian yang sangat besar dalam program pemuliaan. Penentuan gen yang mengendalikan karakter kualitatif maupun kuantitatif memerlukan populasi pemetaan. Metode umum yang digunakan dalam penentuan lokasi gen yang mengendalikan karakter kualitatif ialah bulk segregant analysis (BSA). Pendekatan tersebut terbukti mampu mempercepat penentuan lokasi gen dengan biaya yang relatif rendah. Sebaliknya, penentuan lokasi gen yang mengen-dalikan sifat kuantitatif dilakukan melalui pemetaan quantitative trait loci (QTL). Dibandingkan penentuan lokasi gen pengendali sifat kualitatif, pemetaan QTL lebih kompleks dan membutuhkan kemampuan analisis statistik untuk menentukan daerah kromosom yang terkait dengan karakter kuantitatif tersebut. Tulisan ini membahas metode penentuan lokasi gen di dalam kromosom yang bertanggung jawab terhadap karakter penting tanaman dengan memanfaatkan marka molekuler dalam pemetaan genetik dan analisis QTL
Potensi Anggrek Dendrobium dalam Meningkatkan Variasi dan Kualitas Anggrek Bunga Potong
Dendrobium merupakan genus anggrek terbesar dari famili Orchidaceae. Genus anggrek ini merupakan kekayaan sumber daya genetik Indonesia yang banyak terdapat di kawasan timur, seperti Papua dan Maluku. Namun, sumber daya genetik tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sebagai tetua dalam persilangan untuk menghasilkan keturunan yang memiliki karakteristik sesuai dengan yang diinginkan konsumen. Dari 20 seksi Dendrobium, barudua seksi yang digunakan sebagai induk silangan, yaitu seksi Phalaenanthe dan Ceratobium atau Spatulata. Kendala pengembangan anggrek di Indonesia antara lain adalah terbatasnya ketersediaan bibit unggul, teknologi yang digunakan masih sederhana, dan kurangnya dukungan kebijakan pemerintah
Peran Konservasi Dan Karakterisasi Plasma Nutfah Padi Beras Merah Dalam Pemuliaan Tanaman
ABSTRACTThe long duration of cultivation of local red rice (more than 134 days) and its tall stem (average above 164 cm) led to a decline of farmers' preferences to grow red rice. In fact, based on research, red rice demonstrated anti-oxidants higher than that of white rice and good for glucose dietary. Currently only a small portion of red rice are grown extensively to meet the consumption needs of the community that increasingly aware the superiority of red rice. While the majority of red rice varieties which are not constantly planted would be threatened by genetic erosion. Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development has mandate for ex situ preservation of food crops, including red rice. Until now, a total of 54 varieties have been collected through exploration in almost all regions in Indonesia.Broad plant genetic diversity conserved will contribute to plant breeding program.Keywords: Red rice, conservation, characterization, plant breeding, genetic resourceAbstrakKarakteristik padi beras merah yang memiliki umur dalam (lebih dari 134 hari) dan postur tanaman yang tinggi (rata-rata 164 cm) menyebabkan preferensi petani untuk membudidayakan padi beras merah cenderung menurun. Menurut hasil penelitian, beras merah mengandung antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan dengan beras putih serta dianjurkan untuk diet gula. Saat ini hanya sebagian kecil plasma nutfah padi beras merah yang ditanam secara luas untuk memenuhi kebutuhan, khususnya kalangan masyarakat yang makin menyadari keutamaan kandungan gizi beras merah. Sementara sebagian besar plasma nutfah padi beras merah tidak ditanam secara terus-menerus sehingga akan mengalami erosi genetik. Oleh karena itu, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian sebagai lembaga yang memiliki mandat pelestarian tanaman pangan, terus mela-kukan konservasi ex-situ. Hingga kini 54 varietas/galur padi beras merah telah dikumpulkan melalui eksplorasi dari hampir seluruh daerah di Indonesia dan telah dikarakterisasi. Dengan adanya keragaman genetik padi beras merah yang berasal dari berbagai daerah di tanah air, diharapkan program pemuliaan tanaman dapat berjalan sesuai dengan tujuan
Pengembangan Budi Daya Tanaman Garut dan Teknologi Pengolahannya untuk Mendukung Ketahanan Pangan
Ketahanan pangan merupakan salah satu tujuan pembangunan pertanian. Selain itu, ketahanan pangan adalah bagian dari ketahanan nasional. Garut merupakan sumber bahan pangan lokal yang memiliki potensi dan perlu dilestarikan guna mendukung ketahanan pangan. Tanaman garut adaptif terhadap kondisi lingkungan, mampu tumbuh pada lahan marginal atau di bawah tegakan tanaman hutan. Hasil umbi garut berkisar antara 9-12 t/ha dengan kandungan pati 1,92-2,56 t/ha. Umbi garut dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pengolahanpangan, yaitu pati dan emping garut. Umbi garut bermanfaat bagi kesehatan, sebagai sumber serat pangan dan memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan umbi-umbian lainnya. Pati garut dapat mensubstitusi penggunaan terigu dalam berbagai produk pangan dengan tingkat substitusi 50-100%