Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Not a member yet
162 research outputs found
Sort by
Introduksi Parasitoid, Sebuah Wacana Baru dalam Pengendalian Hama Kutu Putih Pepaya Paracoccus marginatus di Indonesia
Masuknya hama eksotis Paracoccus marginatus ke Indonesia telah menimbulkan permasalahan dalam pengendalianhama tersebut pada tanaman pepaya (Carica papaya). Belum terdapat alternatif pengendalian yang efektif untukmenekan populasi hama ini di Indonesia. Pengendalian hayati dengan mengoptimalkan musuh alami sebenarnyamerupakan alternatif yang paling sesuai, namun hasil penelitian yang memadai untuk mengembangkan musuhalami lokal yang potensial belum tersedia. Introduksi parasitoid yang efektif mengendalikan P. marginatus di luarnegeri menginspirasi upaya pengendalian hama ini di Indonesia. Tulisan ini bertujuan membahas beberapa aspekpenting dalam program introduksi parasitoid, antara lain karakter agens hayati introduksi, prosedur pelepasanmusuh alami, dampak negatif terhadap organisme bukan sasaran, serta prospek aplikasi parasitoid introduksi diIndonesia. Pada prinsipnya, introduksi parasitoid cukup prospektif untuk diterapkan di Indonesia dengan persyaratantertentu
PELUANG PENGEMBANGAN BIOGAS DI SENTRA SAPI PERAH
Kotoran sapi perah yang tidak diolah dengan benar dapatmencemari lingkungan serta memengaruhi produksi dan kualitassusu. Limbah peternakan ini dapat dimanfaatkan sebagai sumberenergi alternatif untuk mensubstitusi kebutuhan energi fosil yangsemakin meningkat dan ketersediaannya makin terbatas. Biogasmerupakan sumber energi terbarukan yang dihasilkan dari prosespengolahan limbah pertanian maupun peternakan. Makalah inimengulas alternatif pemanfaatan kotoran sapi perah sebagai biogas.Pengolahan kotoran ternak menjadi biogas memberikan banyakmanfaat, yakni sebagai sumber energi alternatif, pupuk organikpadat maupun cair, dan pakan ternak, serta dapat memperbaikisanitasi lingkungan. Oleh karena itu, pembuatan biogas perludimasyarakatkan terutama di sentra sapi perah. Biogas lebih murahdibandingkan sumber energi lain sehingga peternak lebih baikberinvestasi membangun digester secara swadaya dibandingkanmembeli gas elpiji. Pemerintah dapat memberikan subsidi digesterkepada peternak sapi perah untuk mengurangi ketergantungan padaelpiji. Perbaikan teknologi biogas, integrasi sistem biogas denganproduksi pupuk organik, serta sosialisasi dan bimbingan teknisproduksi dan pemanfaatan biogas dapat memperluas pengembanganbiogas di masyarakat. Peminjaman kredit lunak dari pemerintahmaupun swasta juga dapat mendorong pengembangan biogas
Potensi Sapi Pesisir dan Upaya Pengembangannya di Sumatera Barat
Sapi pesisir merupakan salah satu jenis sapi lokal Indonesia yang berpotensi sebagai penghasil daging. Walaupun ukuran badannya lebih kecil dibanding sapi lokal lainnya, sapi pesisir memiliki keunggulan yaitu daya adaptasinya tinggi terhadap pakan berkualitas rendah, sistem pemeliharaan ekstensif tradisional, dan tahan terhadap beberapapenyakit dan parasit. Sapi pesisir berkontribusi besar terhadap pemenuhan kebutuhan daging bagi masyarakat Sumatera Barat. Populasi sapi pesisir mencapai 20% dari total populasi sapi di Sumatera Barat. Pada tahun 2008, populasi sapi pesisir tercatat 89.995 ekor. Jumlah tersebut jauh menurun dibanding tahun 2004 yang mencapai 104.109 ekor. Penurunan populasi diduga berkaitan dengan sistem pemeliharaan yang bersifat ekstensif tradisional, tingginya tingkat pemotongan ternak produktif, terbatasnya pakan, makin menyempitnya padang penggembalaan, serta terjadinya penurunan mutu genetik. Untuk meningkatkan populasi, produktivitas, dan reproduksi sapi pesisir perlu dilakukan perbaikan kualitas genetik ternak melalui seleksi, persilangan dengan bangsa sapi unggul, perbaikan mutu pakan, penyuluhan kepada peternak agar tidak memotong ternak produktif, dan perbaikan manajemen pemeliharaan
Penanganan Pascapanen Untuk Peningkatan Mutu Dan Daya Saing Komoditas Kakao
ABSTRACTDetermination of cocoa production growth rate of 3.9% per year must be complemented by increasing competitiveness of cocoa in order to assure that cocoa production could provide added value and prosperity for farmers. The weakness of Indonesian cocoa in market competition mainly occurs due to the low quality of cocoa beans, caused by high levels of nonfermented beans (>3%) and impurity content (>2%). Meanwhile, the market also implemented food safety requirements as well as taste preferences that need to be anticipated by implementing fermentation process. Technology for fermentation of cocoa beans has already been available, but innovation on policy still seems to need improvement. Fermentation institution needs to be built, including through revitalization of processing unit by making it as business entities, which are well managed to obtain economical, social and environmental benefit optimally. Farmers and traders also need to implement good agricultural and good handling practices. Therefore, guidance of implementation and intensive assistanceneed to be prepared. Consequently, agricultural activities are needed to be revitalized.Keywords: Cocoa, postharvest handling, quality, competitivenessabstrakPenetapan laju pertumbuhan produksi kakao sebesar 3,9% per tahun harus diimbangi dengan peningkatan daya saing agar produksi kakao mampu memberikan nilai tambah dan kesejahteraan bagi petani. Kelemahan kakao Indonesia dalam persaingan di pasar global terutama adalah mutu biji rendah karena tingginya kadar biji tidak difermentasi (> 3%) serta kadar kotoran (> 2%). Selain itu, pasar juga menerapkan persyaratan keamanan pangan yang ketat dan preferensi cita rasa konsumen yang perlu diantisipasi antara lain dengan menerapkan proses fermentasi. Inovasi teknologi fermentasi biji kakao telah tersedia, namun inovasi kebijakan masih perlu penyempurnaan. Kelembagaan fermentasi perlu dibangun, di antaranya melalui revitalisasi unit pengolahan hasil (UPH) dengan menjadikan UPH sebagai unit bisnis yang dikelola secara terorganisir untuk mendapat manfaat ekonomis, sosial, dan lingkungan secara optimal. Penerapan kaidah praktik pertanian dan penanganan yang baik juga perlu dilakukan oleh petani maupun pedagang pengumpul. Untuk itu panduan pelaksanaan dan pendampingan secara intensif perlu disiapkan. Penerapan praktik pertanian dan pengolahan yang baik perlu didukung dengan revitalisasi penyuluhan
Perkembangan Teknik Aklimatisasi Tanaman Kedelai Hasil Regenerasi Kultur In Vitro
Pembentukan varietas unggul melalui bioteknologi melibatkan kultur in vitro. Penyesuaian bibit kultur terhadaplingkungan luar (aklimatisasi) adalah salah satu tahapan yang harus dilalui dalam penelitian yang melibatkan kulturjaringan (kultur in vitro). Aklimatisasi dilakukan setelah teknik regenerasi tanaman dikuasai. Namun, selain teknikaklimatisasi yang sulit, protokol teknik aklimatisasi tanaman tidak berlaku umum. Setiap jenis tanaman hasilregenerasi kultur in vitro biasa (nontransgenik) menghendaki teknik aklimatisasi yang berbeda. Keberhasilanaklimatisasi merupakan salah satu tindakan penyelamatan plasma nutfah yang tidak ternilai. Tulisan ini membahaskultur jaringan dalam bioteknologi, arti penting aklimatisasi, perkembangan aklimatisasi kedelai, faktor-faktoryang memengaruhi keberhasilan aklimatisasi, serta kendala dan prospek pengembangannya. Informasi yang disajikandiharapkan memberikan sumbangsih bagi kemajuan penelitian kedelai di Indonesia khususnya, dan pihak-pihakyang terlibat dalam kultur jaringan, baik peneliti, praktisi, mahasiswa maupun khalayak umum
Tumbuhan Indonesia Potensial Sebagai Insektisida Nabati Untuk Mengendalikan Hama Kumbang Bubuk Jagung ( Sitophilus Spp.)
ABSTRACTIndonesia has an abundant flora diversity. More than 400 thousand species of plants have been identified having chemical compounds and 10 thousand species of them contain secondary metabolites that are potential as a raw material of biopesticide. The results of the study indicated that secondary metabolite compounds were able to control insect pest population. The nature and mode of action of bio-material in protecting the plants can be as antiphytopathogenic compounds (antibiotics), phytotoxic compoundsor plant growth regulator (phythotoxins, hormones and the like), and active compounds against insects (the hormone of insects, pheromones, antifeedant, repellent, attractant and insecticide). This paper discusses the use of plant-based insecticides for controlling maize weevil (Sitophilus spp.) on corn during storage. In addition to corn, this pest also damages other important food crops such as rice, sorghum and wheat. To overcome this pest, bio-insecticide could be an option. The results showed that secondary metabolites could suppress the development of pest insect populations. The secondary metabolites in crops include volatile compounds such as essential oils, citral, geraniols, tannins, piperines, acetogenins, azadirachtin, saponin, asarone, akoragermakron, akolamonin, isoakolamin, kalameon, kalamediol, alfamirin, kaemfasterol, salannine, nimbin, nimbidin, acetogenin, and some acidic groups such as cyanide, oleanollel acid and galoyonat acid. Alkaloid almost undetectable in all the tested plants, in addition to other flavonoids that have a direct impact on the lives of insect pests.Keywords: Plants, botanical insecticide, Sitophilus spp., cornAbstrakIndonesia mempunyai keragaman flora yang sangat besar. Lebih dari 400 ribu jenis tumbuhan telah teridentifikasi bahan kimianya dan 10 ribu di antaranya mengandung metabolit sekunder yang potensial sebagai bahan baku pestisida nabati. Hasil-hasil penelitian menunjukkan senyawa metabolit sekunder dapat mengendalikan populasi serangga hama. Sifat dan mekanisme kerja bahan nabati tersebut dalam melindungi tanaman dapat sebagai antifitopatogenik (antibiotik pertanian), fitotoksik atau mengatur pertumbuhan tanaman (fitotoksin, hormon, dan sejenisnya), dan bahan aktif terhadap serangga (hormon serangga, feromon, antifidan, repelen, atraktan, dan insektisida). Tulisan ini membahas pemanfaatan insektisida nabati dalam pengendalian hama kumbang bubuk (Sitophilus spp.) pada jagung selama penyimpanan. Selain pada jagung, hama ini juga merusak komoditas tanaman pangan penting lainnya seperti padi, sorgum, dan gandum. Untuk mengatasi hama tersebut, pemanfaatan insektisida nabati dapat menjadi salah satu pilihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan metabolit sekunder dapat menekan perkembangan populasi serangga hama. Kandungan metabolit sekunder pada tanaman antara lain adalah senyawa atsiri seperti minyak atsiri, sitral, geraniol, tanin, piperin, asetogenin, azadirahtin, saponin, asaron, akoragermakron, akolamonin, isoakolamin, kalameon, kalamediol, alfamirin, kaemfasterol, salanin, nimbin, nimbidin, asetogenin, dan beberapa kelompok asam seperti asam sianida, asam oleanolat, dan asam galoyonat. Komponen alkaloid hampir terdapat dalam semua tanaman yang diuji, selain flavonoid lainnya yang berdampak langsung terhadap kehidupan serangga hama.
Spesies Padi Liar (Oryzaspp.) Sebagai Sumber Gen Ketahanan Cekaman Abiotik Dan Biotik Pada Padi Budi Daya
ABSTRACTWild rice species could be used for improvement of rice varieties because they have a good character for resistance to biotic and abiotic stresses. Some of Indonesian wild rice species are Oryza meyeriana, O. granulata, O. longiglumis, O. officinalis, O. ridleyi, O. rufipogon and O. schlechteri. IRRI has a collection of 2,500 accesions of wild rice and 18 species were collected in ICABIOGRAD, Bogor. Some species of wild rice are known to have resistance genes to biotic and abiotic stresses. A number ofaccessions of O. officinalis contained resistance gene to brown planthopper, blast disease, bacterial leaf blight (BLB) and sheath rot. One of the species that has resistance to pests and diseases is O. minuta. The resistance to tungro virus occurs in O. punctata. Tolerance to drought, Al and Fe toxicities occurs in wild rice species of O. sativa genome AA group. Resistance genes from wild rice species can be inserted into cultivated rice through conventional techniques in combination with biotechnology, while gene transfer and gene detection from wild rice to cultivated rice can be done through cross breeding, molecular markers, backcrossing and embryo rescue. The success of introgression of resistance genes from wild rice species to cultivated rice will increase genetic diversity of rice. As an example O. minuta has been implemented in introgression of BLB resistance gene on IR64. Introgression of O. nivara gene in IRRI had improved some superior rice varieties in Indonesia, namely IR30, IR32, IR34, IR36 and IR38, which were tolerant to brown planthopper, dwarf virus and bacterial leaf blight. Oryza rufipogon wich has BLB and blast resistance gene has been used for improvement of new varieties Inpari Blas and Inpari HDB which were released in 2013.Keywords: Oryza spp., varietal improvement, resistance genes, biotic stresses, abiotic stressesAbstrakSpesies padi liar dapat dimanfaatkan dalam perakitan varietas unggul karena memiliki gen ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik. Spesies padi liar yang ada di Indonesia adalah Oryza meyeriana, O. granulata, O. longiglumis, O. officinalis, O. ridleyi, O. rufipogon, dan O. schlechteri. IRRI memiliki koleksi 2.500 aksesi padi liar dan 18 spesies dikoleksi di BB Biogen. Sejumlah aksesi O. officinalis memiliki gen ketahanan terhadap wereng coklat, penyakit blas, hawar daun bakteri (HDB), dan busuk pelepah. Salah satu spesies yang memiliki ketahanan terhadap hama-penyakit tersebut adalah O. minuta. Ketahanan terhadap virus tungro terdapat pada O. punctata. Toleransi terhadap kekeringan, keracunan Al, dan Fe terdapat pada spesies padi liar kelompok O. sativa genom AA. Gen ketahanan dari spesies padi liar dapat dimasukkan (introgresi) ke dalam padi budi daya melalui teknik konvensional yang dikombinasikan dengan bioteknologi, sementara transfer gen dapat melalui persilangan, marka molekuler, silang balik, dan penyelamatan embrio. Keberhasilan introgresi gen ketahanan dari spesies padi liar ke padi budi daya akan meningkatkan keragaman genetik tanaman. Spesies padi liar O. minuta telah dimanfaatkan dalam introgresi gen ketahanan HDB pada varietas IR64. Introgresi gen asal O. nivara di IRRI menambah varietas unggul di Indonesia, yaitu IR30, IR32, IR34, IR36, dan IR38, yang toleran terhadap wereng coklat, virus kerdil rumput, dan HDB. Spesies padi liar O. rufipogon yang memiliki gen ketahanan HDB dan blas telah digunakan dalam pembentukan varietas unggul baru Inpari HDB dan Inpari Blas yang dilepas pada 2013
Potensi Pengembangan Produk Pati Tahan Cerna sebagai Pangan Fungsional
Pati adalah karbohidrat yang merupakan polimer glukosa, terdiri atas amilosa dan amilopektin. Pemanfaatan patiasli masih sangat terbatas karena sifat fisik dan kimianya kurang memungkinkan untuk dimanfaatkan secara luas.Pati tahan cerna (resistant starch/RS) merupakan fraksi pati yang tahan terhadap hidrolisis oleh enzim pencernaanamilase serta perlakuan pulunase secara in vitro. RS merupakan produk pati termodifikasi dan terbagi menjadiempat tipe, yaitu RS1, RS2, RS3, dan RS4. Proses produksi RS bergantung pada tipe pati yang akan dihasilkan, yangmeliputi modifikasi fisik, kimia, dan biokimia. Masing-masing proses produksi tersebut akan memengaruhikarakteristik RS yang dihasilkan. RS memiliki nilai fungsional untuk fortifikasi serat, mengurangi kalori, danmengoksidasi lemak. Berdasarkan proses produksi, karakteristik, nilai fungsional, maupun alternatifpemanfaatannya, RS memiliki potensi cukup besar untuk dikembangkan sebagai produk pangan fungsional bagikesehatan
Lalat Pengorok Daun, Liriomyza sp. (Diptera: Agromyzidae), Hama Baru pada Tanaman Kedelai di Indonesia
Lalat pengorok daun (Liriomyza sp.) ditemukan menginfestasi tanaman kedelai pada tahun 2007. Larva lalat pengorok daun merusak daun kedelai dengan membuat liang korokan beralur warna putih bening pada bagian mesofil daun dan berpotensi menurunkan hasil hingga 20%. Selain pada kedelai, gejala serangan yang sama juga ditemukan pada kacang hijau, kacang tunggak, kacang panjang, komak, kacang adzuki, buncis, dan 42 jenistanaman lainnya termasuk gulma. Empat spesies lalat pengorok daun yang diketahui menginfestasi tanaman kedelai adalah L. sativae, L. trifolii, L. huidobrensis, dan L. bryoniae. Pengendalian kimia dapat menimbulkan masalah karena lalat memiliki kemampuan genetik yang tinggi untuk menjadi tahan terhadap insektisida kimia.Pada habitat aslinya (subtropis), Liriomyza sp. tergolong serangga berstrategi-r, yaitu memiliki kemampuan reproduksi tinggi, cepat mengkoloni habitat, dan kisaran inangnya luas. Habitat tropis dengan ketersediaan tanaman inang sepanjang tahun dan penggunaan insektisida kimia yang kurang bijaksana memungkinkan lalat pengorok daunmenjadi hama penting pada kedelai. Pada habitat alaminya, populasi lalat pengorok daun rendah akibat pengendalian alami oleh parasitoid dan predator, salah satunya adalah parasitoid Hemiptarsenus varicornis. Oleh karena itu, perlu disiapkan teknologi pengendalian yang lebih memberdayakan peran musuh alami daripada insektisida kimia.Makalah ini menelaah gejala dan akibat serangan lalat pengorok daun, spesies dan biologi, tanaman inang, musuh alami, pemantauan, dan rekomendasi pengendaliannya
KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS SUSU KAMBING PERAH PERSILANGAN DI INDONESIA
Susu kambing perah disukai masyarakat karena bergizi tinggi danberkhasiat sebagai obat penyakit tertentu. Produksi susu kambingIndonesia berasal dari induk kambing luar negeri, dan kambing perahperanakan yang sudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan tropisdi Indonesia. Kambing yang dibudidayakan untuk produksi susu dandaging adalah kambing peranakan etawa (PE), saanen, anglo nubian,dan sapera. Kambing PE paling banyak dipelihara peternak, tetapiproduksi susunya belum optimal. Produksi susu kambing PE ratarata857,3 ml/ekor/hari, kambing sapera 1.470 ml/ekor/hari, dankambing anglo nubian 1.190 ml/ekor/hari. Produksi susu kambingsapera lebih tinggi dibandingkan dengan kambing PE dan anglonubian, namun komposisi kimiawi (protein, laktosa) susu kambingsapera lebih rendah dibandingkan dengan kambing PE dan anglonubian. Demikian pula puncak produksi susu kambing induk sapera(2.190 ml/ekor/hari) lebih tinggi dibandingkan dengan kambinganglo nubian (1.980 ml/ekor/hari), dan PE (1.217 ml/ekor/hari).Kualitas dan komposisi susu kambing mirip dengan air susu ibu (ASI)dan susu kambing dapat digunakan sebagai pengganti ASI. Adanyapeluang bisnis dari meningkatnya permintaan susu kambing danharga susu kambing yang cukup tinggi telah menarik banyak oranguntuk membudidayakan kambing perah