Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Not a member yet
    162 research outputs found

    ADAPTASI TANAMAN HORTIKULTURA TERHADAP PERUBAHAN IKLIMPADA LAHAN KERING Adaptation of Horticultural Crops to Climate Change in the Upland

    Full text link
    Horticultural products (fruits, vegetables and ornamental crops) which have high competitiveness and added value, require supporting appropriate cultivation technology. The objective of this paper was to sort out adaptive technologies that can be implemented for horticultural cultivation, especially on dry land, to minimize yield loss due to climate changes. Horticultural crops in dry lands faced various problems. Characteristics of horticultural crops, among others were easily damage, bulky, sensitive to water stress and the incidence of pests and diseases. Another issue that has begun to happen in the field is the occurrence of extreme climate change, especially El Nino or La Nina that caused crop failures, damage to agricultural land resources, increased in frequency, extent, and intensity of drought, increased moisture, increased in the susceptibility to pests and the disease. Thus the integrated efforts that are needed in strengthening the capability of dry land to face climate change are by the application of adaptative technology, drafting disaster mitigation concepts, observing climate change, policy analysis related to the application of adaptive technology on climate change. The discussed Horticulture Commodities are focused on economically profitable crops, including: vegetables (potatoes, shallots, chili), fruits (bananas, citrus and melons) and ornamental crops (chrysanthemums, orchids, Polycias and Gerbera) scattered in two zoning zones where namely (i) lowland (0-600 meters above sea level); (ii) highlands (> 600 meters above sea level) and (iii) in both elevations of the site which have wet climates and dry climates. Attempsto be made to promote horticultural crops include performing water-efficient irrigation (drip irrigation), mulching, the use of shading on certain crops, proper fertilization, the use of organic fertilizer, planting system and planting distance, and tolerant varieties. Some adaptative technologies that can be adopted for horticultural crops include (1) developing watersaving irrigation technologies (drip and sprinkler irrigation on shallots), (2) applying healthy crop cultivation (good quality seeds, variety tolerant to disease and sub-optimal environment for tomatoes, red or hot chilli shallots and bananas), (3) using environmentally friendly chemical control (concept of threshold control in red or hot chilli), (4) protecting yield and quality of harvest (the use of silver black mulch on shallots and melons, and the use of shade for ornamental plants on dry land).Keywords: Horticulture, climate change, upland, adaptation technology AbstrakSistem produksi hortikultura (buah buahan, sayuran, dan tanaman hias) yang berdaya saing tinggi dan bernilai tambah memerlukan dukungan teknologi. Tulisan ini merangkum teknologi adaptasi komoditas hortikultura pada lahan kering dalam upaya meminimalisasi tingkat kehilangan hasil akibat perubahan iklim. Usaha tani tanaman hortikultura pada lahan kering dihadapkan pada berbagai masalah, di antaranya tanaman mudah dan cepat rusak, sensitif terhadap cekaman lingkungan, dan rentan terhadap hama dan penyakit. Masalah lain yang berdampak negatif terhadap sistem produksi komoditas hortikultura ialah perubahan iklim ekstrem, terutama el-nino dan la-nina. Perubahan iklim tidak hanya menyebabkan kegagalan panen, tetapi juga merusak sumber daya lahan pertanian, meningkatkan luas areal dan intensitas tanaman yang mengalami kekeringan, meningkatkan kelembaban, dan perkembangan hama dan penyakit tanaman. Oleh karena itu diperlukan integrasi pengelolaan lahan dan aplikasi teknologi adaptif perubahan iklim, penyusunan konsep mitigasi bencana, observasi perubahan iklim, dan analisis kebijakan yang terkait dengan aplikasi teknologi adaptasi terhadap perubahan iklim. Pembahasan difokuskan pada tanaman yang secara ekonomi menguntungkan, antara lain kentang, bawang merah, cabai untuk komoditas sayuran; pisang, jeruk, dan melon untuk komoditas buah-buahan; dan krisan, anggrek, polycias dan gerbera untuk tanaman hias. Komoditas hortikultura tersebut tersebar di dua zonasi ketinggian tempat, yakni dataran rendah (0–600 m dpl) dan dataran tinggi (> 600 m dpl). Beberapa teknologi adaptasi yang dapat diadopsi di antaranya (1) irigasi hemat air (irigasi tetes dan irigasi curah pada bawang merah), (2) budi daya tanaman sehat (benih bermutu, varietas toleran penyakit dan lingkungan suboptimal untuk komoditas kentang, cabai, bawang merah, dan pisang, (3) pengendalian hama dan penyakit ramah lingkungan (konsep ambang pengendalian pada cabai, jeruk), dan (4) perlindungan hasil dan peningkatan kualitas hasil panen (penggunaan mulsa plastik hitam perak pada tanaman bawang merah dan melon, serta penggunaan naungan pada tanaman hias anggrek dan krisan). Kata kunci: hortikultura, perubahan iklim, lahan kering, teknologi adaptas

    DISEMINASI DAN KINERJA INOVASI TEKNOLOGI BUDI DAYA PADI PADA BEBERAPA AGROEKOSISTEM DI SUMATERA UTARA / The Dissemination and Performance of Rice Cultivation Technology Innovation in Several Agro-ecosystems in North Sumatera

    Full text link
    Rice cultivation technology developed in farmers currently is not yet the best (best management practices), so the obtained result is still relatively low. This is because farmers do not get information about cultivation technology innovation that is appropriate to the local agro-ecosystem. This paper discusses the dissemination and performance of rice cultivation technology innovation in several agro-ecosystems in North Sumatera in 2018. The discussion is directed at sosialization and technical guidance to Farmers and Field Agriculture Instructor and application of rice cultivation technology in the three types of land. The implemeted rice cultivation innovations include: (1) Jarwo Super technology in irrigated paddy fields in Pematang Setrak Village, Teluk Mengkudu, Serdang Bedagai District, (2) Raisa technology in tidal land in Sei Tuan Village, Pantai Labu, Deli Serdang District, and (3) Largo Super technology in dry land in Sena Village, Batang Kuis, Deli Serdang District, North Sumatera. From the result of the study, it can be concluded that interest and response of Farmers and Field Agriculture Instructor to technology innovation developed were quite good. They were eager to follow the technical guidance that took place at the assessment site. The highest result was obtained from the application of Jarwo Super technology in irrigated paddy fields about 10.50 ton/ha Harvested Dry Grain (HDG). The application of Raisa technology in tidal land produced 5,80 ton/ ha HDG and from the application of Largo Super technology in dry land about 2,65 ton/ha HDG.Keywords: Rice, cultivation, paddy field, tidal land, dry land  AbstrakTeknologi budi daya padi yang berkembang di petani saat ini belum yang terbaik (best management practices) sehingga hasil yang diperoleh relatif masih rendah. Hal ini disebabkan karena petani tidak mendapatkan informasi inovasi teknologi budi daya yang sesuai dengan agroekosistem setempat. Tulisan ini membahas diseminasi dan kinerja inovasi teknologi budi daya padi pada beberapa agroekosistem di Sumatera Utara pada tahun 2018. Pembahasan diarahkan pada sosialisasi dan bimbingan teknis kepada petani dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) serta penerapan teknologi budi daya padi pada tiga tipe lahan. Inovasi budi daya padi yang diterapkan antara lain: (1) teknologi Jarwo Super pada lahan sawah irigasi di Desa Pematang Setrak, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai, (2) teknologi Raisa pada lahan pasang surut di Desa Sei Tuan, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, dan (3) teknologi Largo Super pada lahan kering di Desa Sena, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Dari hasil pengkajian dapat disimpulkan bahwa minat dan respon petani serta PPL terhadap inovasi teknologi yang dikembangkan cukup baik. Mereka bersemangat mengikuti bimbingan teknis yang berlangsung di lokasi pengkajian. Hasil tertinggi diperoleh dari penerapan teknologi Jarwo Super pada lahan sawah irigasi 10,50 t/ha gabah kering panen (GKP). Penerapan teknologi Raisa pada lahan sawah pasang surut menghasilkan 5,80 t/ha GKP dan dari penerapan teknologi Largo Super pada lahan kering 2,65 t/ha GKP.Kata kunci: Padi, budi daya, lahan sawah, lahan pasang surut, lahan kering

    TEKNOLOGI PENGOLAHAN MINYAK KELAPA DAN HASIL IKUTANNYA / Processing Technology of Coconut Oil and Its By Products

    Full text link
    Coconut is one of the plantations spread in almost all regions of Indonesia. Farmers generally processed coconut into primary products in the form of copra and dehusked coconut. The prices of these two products continue to fluctuate. The efforts that can be made to increase income from farming of this commodity are to encourage farmers to diversify the products by processing some valuable products. Integrated coconut processing on a farmer group scale can be a way to increase farmers’ earning. This paperdescribes the technology of processing coconut oil and its by products, the quality of the products and utilization, and the development opportunities. The technology for processing some products from coconut meat and its by-products are available and can be applied at the farm level. Products that can be made in the form of food products are VCO, healthy cooking oil, nata de coco, coconut flour and non-food products like animal feed, organic fertilizer and biodiesel. The obtained VCO and coconut oil quality are according with the Indonesian National Standard (SNI). Both of these oils contain medium chain fatty acids which are dominated by lauric acid, so they can be consumed directly and as cooking oil. Another product is nata de coco which can be consumed directly. Coconut residue contains high dietary fiber as a substitute for wheat flour. The coconut residue can also be processed into high protein feed. Coir dust is fermented into organic fertilizer and waste oil through the transesterification process into biodiesel as an environmentally friendly fuel to substitute diesel.Keywords: coconut, processing, oil, by product AbstrakKelapa merupakan salah satu tanaman perkebunan yang tersebar di hampir semua wilayah Indonesia. Petani umumnya mengolah buah kelapa menjadi produk primer berupa kopra dan kelapa butiran. Harga kedua produk tersebut berfluktuasi. Usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan dari usahatani komoditas ini ialah mendorong petani melakukan diversifikasi produk olahan kelapa. Pengolahan kelapa secara terpadu dalam skala kelompok tani dapat menjadi jalan keluar untuk meningkatkan pendapatan. Tulisan ini mendeskripsikan teknologi proses pengolahan minyak kelapa dan hasil ikutannya, mutu produk yang dihasilkan dan pemanfaatannya, serta peluang pengembangan. Teknologi pengolahan produk dari daging buah kelapa dan hasil ikutannya telah tersedia dan dapat diaplikasikan di tingkat petani. Produk yang dapat dihasilkan dalam bentuk bahan pangan ialah berupa minyak kelapa dalam bentuk VCO dan minyak goreng sehat, nata de coco, tepung ampas kelapa serta produk nonpangan berupa pakan ternak, pupuk organik, dan biodiesel. Produk VCO dan minyak kelapa memiliki mutu yang sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI), mengandung asam lemak rantai medium yang didominasi oleh asam laurat, sehingga dapat dikonsumsi langsung dan sebagai minyak goreng. Produk lainnya yaitu nata de coco yang dapat langsung dikonsumsi. Tepung ampas kelapa mengandung dietary fiber tinggi sebagai substitusi tepung gandum. Selain diolah menjadi tepung, ampas kelapa juga dapat diproses menjadi pakan berprotein tinggi. Debu sabut dapat difermentasi menjadi pupuk organik dan minyak jelantah melalui proses transesterifikasi menjadi biodiesel sebagai bahan bakar ramah lingkungan pengganti solar.Kata kunci: Kelapa, pengolahan, minyak, produk ikuta

    POTENSI PENGEMBANGAN JAGUNG PULUT MENDUKUNG DIVERSIFIKASI PANGAN / Potency of Waxy Corn Development to Support Food Diversification

    Full text link
    The success of staple food diversification can contribute to reduce rice consumption and encouraging national food self-sufficiency. Among food crops commodities, corn provide a potential to support local food based diversification. The type of corn that is preferable by consumer is white/waxy corn. Kernel color of waxy corn consists of white, yellow, purple, and black. Waxy corn can be harvest since the mild stage to anticipate food and malnutrition and make it more superior than other cereals. Corn processed into various products by using traditional, semi-traditional, and food industry products with specific superiority. Waxy corn is currently available in the market such as local varieties and newly released varieties such as Pulut URI-1 and Pulut URI-2. The market opportunity of waxy corn-based products in Indonesia has a more competitive advantage than before due to the change of lifestyle and food dietary. Promotion of waxy corn technologies needs to be done quickly to the related stakeholders including farmers, snacks producers, and businessman of waxy corn-based products to enhance the adoption of this commodity to support food diversification.Keywords: Waxy corn, food diversification, development AbstrakKeberhasilan diversifikasi pangan pokok berdampak terhadap pengurangan konsumsi beras sehingga mendorong keberlanjutan swasembada pangan. Salah satu komoditas yang dapat dimanfaatkan untuk diversifikasi pangan adalah jagung. Di antara beberapa jenis jagung yang berkembang, jagung pulut disukai oleh banyak konsumen. Jagung pulut memiliki warna yang beragam mulai dari putih, kuning, ungu, hingga hitam. Jagung pulut dapat dipanen muda atau lebih awal sehingga dapat mengantisipasi kerawanan pangan dan gizi. Hal ini menjadikan jagung pulut lebih unggul dibanding komoditas serealia lainnya. Berbagai produk olahan pangan dapat dihasilkan dari jagung pulut, mulai dari tradisional, semi tradisional, dan hingga modern, masing-masing memiliki nilai tambah tersendiri. Varietas jagung pulut telah tersedia, baik lokal maupun varietas unggul baru (URI-1 dan URI-2). Peluang pasar pangan berbasis jagung pulut di Indonesia makin terbuka seiring dengan perubahan gaya hidup dan pola makan konsumen yang mengarah pada hidup sehat. Dalam upaya pengembangan diversifikasi pangan perlu disosialisasikan paket teknologi budi daya dan pengolahan jagung pulut kepada masyarakat luas, terutama petani, pengrajin makanan, dan pebisnis produk pangan.Kata kunci: Jagung pulut, diversifikasi pangan, pengembanga

    DAMPAK PERUBAHAN IKLIM DAN STRATEGI ADAPTASI TANAMAN BUAH DAN SAYURAN DI DAERAH TROPIS / Climate Change Impact and Adaptation Srategy for Vegetable and Fruit Crops in the Tropic Region

    Full text link
    Climate change has significant negative impact on agriculture in tropical region. Inrecent years, research on climate change has focused mainly on food crops while horticultural crops have received little attention. This paper is an overview of Indonesian future climate projection for precipitation, temperature and extreme climate, climate change impact and adaptation strategies on vegetable and fruit crops and future challenge for horticultural development under climate change. The climate change will decrease crop productivity and quality, increase the incidence of new pest and disease, and the outbreaks on vegetable and fruit crops. Further climate change will disrupt water availability, alter climate-crop suitability and cause crop failure due to extreme climate. Several adaptation measures have been developed in farming system, among other adjustment of planting time, using resistant varieties to environmental strees, adopting irrigation technology for efficient water use, using green house and increasing farmers and extention service capacity through climate field school. For future research it is necessary to assess climate projections with several scenarios and Global Circular Models (GCMs) and their impact on future vegetable and fruits crops by developing crop modeling which should be given a priority of in agriculture. This information crucially needed for adaptation strategy and a long term agricultural planning in the future.Keywords: Vegetable, fruit, climate change, global circular model, adaptation  AbstrakPerubahan iklim berdampak negatif terhadap pertanian di daerah tropis. Selama ini penelitian dampak perubahan iklim terhadap pertanian lebih banyak dilakukan pada tanaman pangan, sementara pada tanaman hortikultura, khususnya sayuran dan buah-buahan masih terbatas. Tulisan ini merupakan tinjauan tentang proyeksi dampak perubahan iklim di Indonesia yang meliputi curah hujan, suhu udara, dan iklim ekstrim terhadap produksi tanaman buah dan sayuran, di samping berbagai upaya adaptasi yang telah dilakukan dan tantangan pembangunan hortikultura ke depan. Perubahan iklim pada tanaman sayuran dan buah-buahan terbukti menurunkan kuantitas dan kualitas produksi, munculnya hama penyakit baru, meningkatnya serangan hama dan penyakit, gagal panen, penurunan kapasitas air irigasi, perubahan kesesuian lahan dan tanaman. Beberapa langkah adaptasi yang sudah dilakukan yaitu penyesuaian sistem usaha tani yang meliputi penggunaan varietas toleran cekaman lingkungan, penyesuian waktu tanam, penggunaan teknik irigasi hemat air, pengembangan teknologi pencarian sumber daya air baru, penggunaan rumah kasa/rumah plastik, peningkatan kemampuan petani dan penyuluh dalam memahami perubahan iklim melalui sekolah lapang. Ke depan masih perlu dilakukan kajian proyeksi iklim dengan berbagai skenario dan berbagai Global circular model (GCM) serta kajian dampak perubahan iklim terhadap tanaman sayur dan buah unggulan melalui pengembangan pemodelan sistem usaha tani. Informasi proyeksi dampak perubahan iklim diperlukan sebagai upaya adaptasi dan perencanaan pembangunan pertanian yang dikaitkan dengan perubahan iklim.Kata kunci: Buah-buahan, sayuran, perubahan iklim, global circular model, adaptasi

    PEWARISAN GEN SAPI KEMBAR: PELUANG PENINGKATAN POPULASI DI INDONESIA / The Inheritance of Twinning Gene in Cattle: Option for Population Improvemnet in Indonesia

    Full text link
    The evidence of cattle with twinning birth is reported over the world, as well as in Indonesia, with the frequency in dairy cattle is a bit higher compared to beef cattle (4ƒ{10% : 1%). The heritability of twinning cattle is considered to be low, so does for the repeatability. This paper outlines the inheritance of twin born cattle, its geographic distribution and utilization for population accelaration as well as its contribution for meat supply. In Indonesia, twin born cattles are reported in 11 provinces and occured in Ongole crossbred (PO), Bali, Angus, Aceh, SimmentalxPO crossbred, LimousinexPO crossbred and FH breeds. The occurence of cattle with twinning birth in dairy and beef cattle is around 27.250 and 165.990 heads, with estimation 13.625 and 82.995 heads of dairy and beef cows, respectively. The optimistic scenario is expected to deliver 19.735 and 71.406 heads of dairy and beef calves every year, whereas pesimistic scenario resulting the birth of dairy and beef calves of 10.306 and 50.875 heads, respectively. These scenarios contribute to 2,6% and 1,8% of national calves born (3.500.000 heads every year) for optimistic and pesimistic scenarios, respectively, indicating that twinning genes in cattle do not significantly contribute to the addition of calves born in Indonesia. Several efforts to maintain the the population of twin born cattle can be conducted through option such as a) to maintain the twin born cattle population to the institution belongs to government or private; b) to allow farmers to raise the twin born cattle and c) to empower local farmers association as a networking who raise the twin born cattle. Eventhough the twin born calves contribution is low for national calves born, however, it is suggested to keep the genetic values for further requirement in the future, to provide technologies for early identification or moleculer of twinning cattle carriers as well as to explore the genetic potential for further development. In the future, development of the twinning cattle can be conducted through frozen sperm distribution for artificial insemination.Keywords: Beef cattle, dairy cattle, gene for twinning, heritability AbstrakSapi dengan potensi beranak kembar memiliki frekuensi kelahiran lebih tinggi pada sapi perah (410%) dibanding sapi potong (1%). Laju pewarisan (heritabilitas) sifat kelahiran kembar sangat rendah, demikian pula dengan laju pengulangan (ripitabilitas). Tulisan ini membahas sifat pewarisan gen sapi beranak kembar di Indonesia, distribusi sapi dengan potensi gen kelahiran kembar, peluang pemanfaatannya bagi peningkatan populasi dan penyediaan daging sapi. Di Indonesia, kelahiran kembar sapi terdapat di 11 provinsi dan terjadi pada rumpun sapi PO, Aceh, Bali, FH, persilangan Aberden Angus, persilangan Simmental x PO, persilangan Limousine x PO. Gen beranak kembar sapi perah dan sapi potong berturut turut diperkirakan sekitar 27.250 ekor dan 165.990 ekor, dimana populasi sapi betina sekitar 13.625 dan 82.995 ekor untuk sapi perah dan sapi potong. Skenario optimis pemanfaatan gen sapi kembar , diharapkan dapat memberikan angka kelahiran sebanyak 19.735 dan 71.406 ekor, berturut-turut untuk sapi perah dan sapi potong. Sementara skenario pesimis menghasilkan kelahiran anak sapi perah dan sapi potong, berturut-turut sejumlah 10.306 dan 50.875 ekor. Kedua skenario tersebut menyumbang 2,6% (optimis) dan 1,8 % (pesimis) dari total kelahiran per tahun (3.500.000 ekor). Keberadaan sapi beranak kembar di Indonesia belum memberikan sumbangan nyata bagi peningkatan populasi, akan tetapi perlu dipertahankan keberadaannya. Berbagai usulan yang dapat dilakukan untuk mempertahankan populasinya antara lain: a) pengumpulan di satu tempat, baik milik pemerintah atau swasta yang tertarik memelihara dan melakukan pengamatan dengan biaya yang sangat mahal; b) pemeliharaan sapi kembar diserahkan kepada peternak dengan konsekuensi sewaktu waktu akan punah karena keterbatasan kemampuan membiayai pemeliharaan, c) membentuk kelompok peternak pemelihara sapi kembar sebagai sarana pertukaran informasi. Namun demikian, eksplorasi sifat genetik perlu terus dilakukan baik secara konvensional maupun secara molekuler, sementara pengembangan sapi kembar dapat dilakukan melalui pembuatan semen beku yang diimplementasikan dengan teknologi inseminasi buatan.Kata Kunci: Sapi potong, sapi perah, gen beranak kembar, heritability

    PELUANG ZAT BIOAKTIF TANAMAN SEBAGAI ALTERNATIF IMBUHAN PAKAN ANTIBIOTIK PADA AYAM / The Opportunities of Plants Bioactive Compound as an Alternative of Antibiotic Feed additive on Chicken

    Full text link
    Bioactive compounds (phenols, tannins, flavonoids, essential oils, curcumin, saponins, phyllanthin) have the ability as an antibacterial or antifungal. Feed additives are feed raw materials that do not contain nutrients, however, it may increase productivity, quality of livestock products (meat, eggs, milk, skin, feathers), the feed efficiency and to improve animal health or resistance of disease. Feed additives that are widely used in the livestock industry include antibiotics, antioxidants, antifungals, emulsifiers, and binders. The aim of using antibiotics is to reduce the population of pathogenic microbes or disturbing microbes in the digestive tract. Antibiotics have been banned for used because it can cause resistance to pathogenic bacteria or intestinal microflora which has a negative impact on consumers. To improve feed efficiency in poultry and to produce higher quality products, healthy and safe for consumption, the antibiotic could be replaced with plant bioactive compound. The aims of this review is to describe the role of plant bioactive compounds as feed additive to replace antibiotic for chickens. Some of plant bioactive substances that can be used as feed additives include phenols, curcumin, saponins, tannins, phenols, flavonoids, alkaloids. Bioactive substances from plants have several functions including inhibiting the growth of bacteria or fungi, increasing endurance, as an adjuvant, and preventing fat oxidation. It can be concluded that bioactive substances from plants have potential as feed additives which have the ability as antibacterial, antifungal, antioxidant, immunostimulator, and adjuvant.Keywords: bioactive compound, plants, feed additives, chicken  Abstrak Zat bioaktif (fenol, tanin, flavonoid, minyak atsiri, curcumin, saponin, phyllanthin) memiliki kemampuan sebagai antibakteri atau antifungi. Imbuhan pakan adalah bahan baku pakan yang tidak mengandung nutrisi, namun dapat meningkatkan produktivitas, kualitas produk ternak (daging, telur, susu, kulit, bulu), efisiensi penggunaan pakan dan meningkatkan kesehatan hewan atau ketahanan terhadap penyakit. Imbuhan pakan yang banyak digunakan dalam industri peternakan termasuk antibiotik, antioksidan, antifungi, pengemulsi, dan pengikat (binder). Tujuan penggunaan antibiotik adalah untuk mengurangi populasi mikroba patogen atau mikroba yang mengganggu di saluran pencernaan. Antibiotik telah dilarang untuk digunakan karena dapat menyebabkan resistensi terhadap bakteri patogen atau mikroflora usus yang memiliki dampak negatif pada konsumen. Untuk meningkatkan efisiensi pakan pada unggas dan menghasilkan produk berkualitas tinggi, sehat dan aman untuk dikonsumsi, antibiotik dapat diganti dengan zat bioaktif tanaman. Tujuan dari ulasan ini adalah untuk menggambarkan peran zat bioaktif tanaman sebagai pengganti imbuhan pakan antibiotik pada ayam. Beberapa zat bioaktif tanaman yang dapat digunakan sebagai imbuhan pakan termasuk fenol, kurkumin, saponin, tanin, fenol, flavonoid, alkaloid. Zat bioaktif dari tanaman memiliki beberapa fungsi antara lain menghambat pertumbuhan bakteri atau jamur, meningkatkan daya tahan tubuh, sebagai bahan adjuvan dan mencegah oksidasi lemak. Dapat disimpulkan bahwa zat bioaktif dari tanaman berpotensi sebagai imbuhan pakan yang memiliki kemampuan sebagai antibakteri, antifungi, antioksidan, imunostimulator, dan adjuvant.Kata kunci: Zat bioaktif, tanaman, imbuhan pakan, ayam

    BIOFORTIFIKASI MINERAL FE DAN ZN PADA BERAS: PERBAIKAN MUTU GIZI BAHAN PANGAN MELALUI PEMULIAAN TANAMAN

    Full text link
    ABSTRACTRice is the staple food of most people in Indonesia and some countries in Asia. As the main food, rice is known to have inadequate micro nutrition so that it is potential to cause malnutrition for consumers. Biofortification is one of the innovations in improving the nutritional quality of rice. The benefits of biofortification include: (1) can be developed in basic foodcrops, (2) cheaper and beneficial in terms of cultivation because the seeds that have been fortified are only needed once in the first use, then the seed of the next crop can be further developed by other farmers, (3) beneficial to nutritious consumer communities, and (4) high production and environmentally friendly. Important minerals such as Fe (iron) and Zn (zinc) in rice can be increased through biofortification programs into Fe and Zn dense rice. Highly nutritious rice derived from local rice and superior varieties needs to be developed after going through the process of release varieties. Prior to that, the variety also needs to be registered to competent parties to be protected as asset and intellectual property rights (IPR) of researchers from theft and illegal acknowledgment by others for personal gain. In addition, it is needed certification of rice labelled assurance of rice varieties produced through plant breeding to increase economic added value and protect consumer rights.Keywords: Rice, biofortification, nutrition quality, plant breeding ABSTRAKBeras adalah makanan pokok sebagian besar penduduk di Indonesia dan beberapa negara di Asia. Sebagai pangan utama, beras diketahui memiliki gizi mikro yang tidak memadai sehingga berpotensi menimbulkan kekurangan gizi bagi konsumen. Biofortifikasi merupakan salah satu inovasi dalam meningkatkan mutu gizi beras. Keuntungan biofortifikasi antara lain: (1) dapat dikembangkan pada bahan makanan pokok, (2) lebih murah dan menguntungkan dari segi budi daya karena benih yang telah terfortifikasi hanya diperlukan sekali di awal penggunaan, selanjutnya benih dari pertanaman berikutnya dapat dikembangkan lebih lanjut oleh petani lain, (3) bermanfaat bagi masyarakat konsumen rawan gizi, dan (4)produksi tinggi dan ramah lingkungan. Kadar mineral penting seperti Fe (besi) dan Zn (seng) pada beras dapat ditingkatkan melalui program biofortifikasi menjadi beras kaya Fe dan Zn. Beras bergizitinggi yang berasal dari padi lokal maupun varietas unggul perlusegera dikembangkan setelah melalui proses pelepasan varietas. Sebelum itu, varietas tersebut juga perlu didaftarkan kepada pihak kompeten untuk dilindungi sebagai aset dan hak kekayaan intelektual (HKI) para peneliti dari pencurian dan pengakuan illegal oleh pihak lain untuk kepentingan pribadi. Selain itu diperlukan pula sertifikasi beras berlabel jaminan varietas dari varietas padi yang dihasilkan melalui pemuliaan tanaman guna meningkatkan nilai tambah ekonomi dan melindungi hak konsumen.Kata kunci: Padi, biofortifikasi, mutu gizi, pemuliaan tanama

    STATUS CEMARAN DAN UPAYA PENGENDALIAN AFLATOKSIN PADA KOMODITAS SEREALIA DAN ANEKA KACANG

    Full text link
    Cereals and nuts commodities play a major role in present and future human consumption patterns. Increased production of these commodities that have been achieved will not mean when both are not safe for consumption. Aflatoxin contamination is one of the food safety indicators that determine consumer acceptance. The high prevalence of aflatoxicosis in South and Southeast Asia are 81% and 54% respectively implies high aflatoxin contamination of cereals and nuts consumed in the area. Aflatoxin contamination in Indonesia, especially in corn and peanut is detected more than 20 ppb, so it needs attention for the handling and controlling. The technology for reducing or eliminating aflatoxin contamination in food products up to 97% has been generated from many studies. The application of such technology is commercially constrained by aspects of the procedural complexity and limitations of industrial support devices from upstream to downstream. Aflatoxin contamination in addition to adversely affecting health also causes economic losses of the commodities concerned, but the regulatory limitations vary greatly. Indonesia sets the maximum limit of aflatoxin on cereals and nuts relatively higher (20 35 ppb) than any other country in the world, so it needs to be re-examined through multidisciplinary research and conprehensive studies to be scientifically tested with economic and political considerations to deal with the increasingly competitive competition in the global market.Keywords: Cereals, various nuts, aflatoxin, food safety AbstrakKomoditas serealia dan aneka kacang memegang peran penting dalam konsumsi pangan pada saat ini dan ke depan. Peningkatan produksi komoditas tersebut tidak berarti manakala tidak aman dikonsumsi. Cemaran aflatoksin merupakan salah satu indikator keamanan pangan yang menentukan penerimaan konsumen. Prevalensi aflatoksikosis yang tinggi di Asia Selatan (81%) dan Asia Tenggara (54%) menyiratkan masih tingginya cemaran aflatoksin pada produk serealia dan aneka kacang yang dikonsumsi. Cemaran aflatoksin di Indonesia, khususnya pada jagung dan kacang tanah, terdeteksi lebih dari 20 ppb, sehingga perlu penanggulangan serius. Teknologi pengurangan atau penghilangan cemaran aflatoksin hingga 97% pada produk pangan telah banyak dihasilkan dari berbagai penelitian. Penerapan teknologi tersebut secara komersial terkendala dari aspek kerumitan prosedural dan keterbatasan perangkat pendukung industrial dari hulu hingga hilir. Cemaran aflatoksin selain berdampak negatif pada kesehatan juga menyebabkan kerugian ekonomi, namun pengaturan batasannya sangat beragam. Indonesia menetapkan batas maksimum aflatoksin pada serealia dan aneka kacang relatif tinggi (2035 ppb) daripada negara lain, sehingga perlu dicermati kembali melalui penelitian komprehensif multidisiplin agar lebih teruji secara ilmiah dengan pertimbangan ekonomis dan politis untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat di pasar global.Kata kunci: Serealia, aneka kacang, aflatoksin, keamanan pangan

    POTENSI HIDROKOLOID SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN PADA PRODUK PANGAN DAN NONPANGAN BERMUTU

    Full text link
    ABSTRAKHidrokoloid merupakan komponen polimer yang berasal dari sayuran, hewan, atau mikroba yang umumnya memiliki kemampuan menyerap dan mengikat air. Terdapat berbagai jenis hidrokoloid potensial yang dapat diekstrak dan dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pangan dan nonpangan untuk meningkatkan kualitas produk. Ekstraksi hidrokoloid dapat dilakukan secara fisik, kimia, dan biokimiawi. Beberapa jenis hidrokoloid dapat diekstrak dari beberapa bagian komponen tanaman seperti akar, biji, buah, umbi dan cangkang. Hidrokoloid memiliki karakteristik spesifik, bergantung pada struktur rantai dan gugus fungsional yang terdapat di dalamnya. Struktur rantai yang mengandung banyak gugus hidroksil menyebabkan hidrokoloid lebih mudah menyerap air. Hidrokoloid dapat digunakan sebagai komponen dalam menghasilkan produk pangan maupun nonpangan yang berkualitas. Dalam pembuatan produk pangan, hidrokoloid berfungsi sebagai penstabil, pembentuk tekstur, dan meningkatkan daya serap air produk. Hidrokoloid juga memiliki potensi meningkatkan daya lepas komponen aktif dan daya serap produk farmasi.Kata kunci: hidrokoloid, pangan, nonpangan, mutu produk ABSTRACTHydrocolloids are polymer components derived from vegetables, animals, or microbes that generally have the ability to absorb and bind water. There are various types of potential hydrocolloids that can be extracted and used as an added ingredient to improve product quality. The hydrocolloid extraction method can be done physically, chemically and biochemically. Some types of hydrocolloid can be extracted from several component parts of crops such as roots, seeds, fruits, tubers or shell. Hydrocolloids may have specific characteristics depending on its chain structure and functional groups. Hydrocolloid with many hydroxyl groups can absorb water easily. Hydrocolloids can be used as a component in producing the qualified food and non-food products. There are opportunities to develop hydrocolloids in food products as stabilizers, texture formation and water absorbent. Hydrocolloids have the potential to improve the quality power to release active component and absorption of pharmaceutical products.Keywords: hydrocolloids, food, non-food, products qualit

    145

    full texts

    162

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇