Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Not a member yet
    162 research outputs found

    POTENSI PENGEMBANGAN JAGUNG DAN SORGUM SEBAGAI SUMBER PANGAN FUNGSIONAL

    Full text link
    Jagung dan sorgum merupakan serealia penting karena selain sebagai sumber karbohidrat, juga kaya akan komponen pangan fungsional. Berbagai  antioksidan, unsur mineral terutama Fe, serat makanan, oligosakarida, -glukan yang merupakan komponen karbohidrat non-starch  polysaccharides (NSP) terkandung dalam biji jagung dan sorgum yang potensial sebagai sumber pangan fungsional. Jagung mengandung lemak  esensial omega 3 dan 6, lisin, dan triptofan tinggi (QPM). Sementara sorgum mengandung tanin dan asam pitat yang memiliki efek negatif maupun positif bagi kesehatan. Sifat antioksidan tanin lebih tinggi dibanding vitamin E dan C, demikian juga antosianin sorgum lebih stabil. Kedua komoditas pangantersebut mempunyai kesamaan dan kelebihan dalam kandungan komponen pangan fungsional. Selama ini, diversifikasi pangan berbasis jagung dan sorgum hanya sebatas sumber karbohidrat, tetapi ke depan dapat menjadi komponen pangan fungsional. Peluang pasar pangan fungsional di Indonesia makin terbuka seiring dengan perubahan gaya hidup dan pola makan yang mengarah hidup sehat

    MIKROPROPAGASI DAN PRESERVASI TANAMAN OBAT MELALUI KULTUR IN VITRO

    No full text
    Teknik mikropropagasi memegang peranan penting dalam konservasi dan manajemen koleksi tanaman. Beberapa tanaman obat (langka dan potensial) di Indonesia telah berhasil diperbanyak melalui kultur jaringan dengan tingkat multiplikasi relatif tinggi. Media dasar terbaik untuk mikropropagasi tanaman obat ialah Murashige dan Skoog (MS) dan untuk beberapa tumbuhan obat menggunakan media dasar Driver and Kuniyuki Walnut (DKW), Anderson, dan B5 (Gamborg). Untuk memperoleh faktor multi-plikasi yang tinggi, zat pengatur tumbuh yang umum digunakan ialah benziladenin (BA), kinetin, dan thidiazuron serta asam amino glutamin. Dengan telah dikuasainya teknik perbanyakan tanaman obat melalui kultur in vitro, permintaan pengguna (petani dan swasta) akan benih tanaman obat dapat dipenuhi setiap waktu sesuai dengan kebutuhan. Preservasi secara in vitro dapat mencegah tanaman obat dari kepunahan. Tanaman obat yang telah berhasil dikembangbiakkan melalui teknik ini ialah bidara upas, tangguh, pepaya, anectochylus, temu mangga, pulai, kunci pepet, kencur, artemisia, buah merah, jahe, touki, kapolaga, mentha, pulasari, pule pandak, temu putri, purwoceng, ingu, daun dewa, dan manggis

    DIVERSIFIKASI PANGAN HEWANI MELALUI PENINGKATAN PERAN DAGING KAMBING DAN DOMBA

    No full text
    Indonesia terus berupaya mewujudkan ketahanan pangan hewani asal ternak dengan memanfaatkan sumber daya lokal. Diversifikasi pangan hewani melalui peningkatan konsumsi daging kambing dan domba merupakan salah satu upaya yang dapat ditempuh. Makalah ini mengulas konsumsi daging (kambing dan domba) dan kinerja produksinya untuk memenuhi kebutuhan daging nasional. Daging kambing dan domba dapat mensubstitusi daging sapi karena kandungan lemak jenuhnya lebih rendah dibandingkan dengan daging ayam dan sapi, kandungan kolesterolnya paling rendah, mengandung lebih banyak zat besi, kalium, tiamin, dan asam amino esensial, serta mengandung lebih sedikit kalori. Selain itu, kambing dan domba dapat dipelihara dengan nilai input terutama pakan yang rendah serta dapat merespons input produksi yang lebih tinggi melalui peningkatan produksi dan produktivitas per kelompok ternak. Dengan demikian, dari sisi kandungan gizi, keterjangkauan, penyebaran populasi, dan kecepatan reproduksinya, kambing dan domba dapat menjadi penyedia daging yang tidak kalah dibanding sapi potong

    EPIDEMIOLOGI DAN STRATEGI PENGENDALIAN PENYAKIT BULAI (Peronosclerospora sp.) PADA TANAMAN JAGUNG

    No full text
    Penyakit bulai yang disebabkan oleh Peronosclerospora sp. merupakan penyakit utama pada tanaman jagung di Indonesia. Serangan bulai terjadi secara sporadis dalam dimensi ruang maupun waktu. Oleh karena itu, pengendalian penyakit secara terpadu khususnya di daerah endemis bulai dan sentra produksi jagung masih diperlukan. Tulisan ini membahas hasil-hasil penelitian tentang pengendalian penyakit bulai. Di Indonesia ditemukan tiga spesies cendawan penyebab penyakit bulai, yaitu P. maydis, P. philip-pinensis, dan P. sorghi. Spesies yang dominan merusak pertanaman jagung yaitu P. maydis dan P. philippinensis. Spesies P. maydis ditemukan di Jawa dan P. philippinensis menyebar di Sulawesi. Gejala penyakit bulai pada tanaman jagung mulai tampak pada umur 10-14 hari, kemudian meningkat dan mencapai puncaknya pada 4-5 minggu setelah tanam. Setelah tanaman berumur 60 hari, infeksi baru penyakit bulai tidak lagi ditemukan. Pada varietas yang tergolong rentan, makin awal tanaman terinfeksi, makin besar kehilangan hasil yang dapat mencapai 90%. Penggunaan fungisida berbahan aktif metalaksil pada varietas rentan tidak efektif mengendalikan penyakit bulai. Strategi pengendalian penyakit bulai yang efektif ialah melalui pencegahan dengan penggunaan varietas tahan dan fungisida berbahan aktif metalaksil. Menghindarkan tanaman dari infeksi dilakukan dengan pengendalian gulma dan penanaman serempak pada awal musim kemarau

    PENGURANGAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI PETERNAKAN MELALUI PEMANFAATAN BAHAN PAKAN LOKAL YANG MENGANDUNG TANIN

    No full text
    Ternak ruminansia turut berperan dalam peningkatan emisi gas rumah kaca di atmosfer yang berdampak pada pemanasan global. Gas metana dihasilkan selama proses fermentasi pakan berserat di dalam rumen dan dikeluarkan ke lingkungan melalui eruktrasi. Produksi gas metana dalam rumen merupakan kehilangan energi dan mencerminkan penggunaan pakan yang tidak efisien. Pemilihan jenis pakan sangat menentukan produksi gas metana  oleh ternak. Ternak yang diberi pakan rumput memproduksi gas metana lebih tinggi dibandingkan yang diberi hijauan leguminosa. Pemanfaatan bahan pakan lokal yang mengandung tanin meru-pakan alternatif untuk mengurangi produksi gas metana. Tanin adalah senyawa polifenol yang banyak terdapat pada hijauan pakan ternak, bersifat antinutrisi, dan dapat menyebabkan keracunan apabila dikonsumsi secara berlebihan oleh ternak. Kebanyakan tanaman leguminosa mengandung tanin. Kaliandra mengandung senyawa tanin 27% bahan kering, yang berfungsi sebagai by pass protein dan mampu mengurangi emisi gas metana dari rumen. Penambahan leguminosa pada pakan dapat meningkatkan kecer-naan bahan organik dan mempercepat passage rate dalam rumen

    GREENHOUSE GAS EMISSIONS AND LAND USE ISSUES RELATED TO THE USE OF BIOENERGY IN INDONESIA

    Full text link
    Biofuel use is intended to address the ever-increasing demand for and scarcer supply of fossil fuels. The recent Indonesia government policy of imposing 10% mixing of biodiesel into petroleum-based diesel affirms the more important biofuel role in the near future. Palm oil, methane from palm oil mill effluent (POME) and animal wastes are the most prospective agricultural-based biofuels. The production and use of palm oil is interlinked with land use and land use change (LULUC), while the use of methane from POME and animal wastes can contribute in reducing emissions. The current European Union (EU) and the potential United States (US) markets are imposing biodiesels’ green house gas (GHG) emission reduction standards (ERS) of 35% and 20%, respectively relative to the emissions of petroleum-based diesel based on using the lifecycle analysis (LCA). EU market will increase the ERS to 50% starting1 January 2017, which make it more challenging to reach. Despite controversies in the methods and assumptions of GHG emission reduction assessment using LCA, the probability of passing ERS increases as the development of oil palm plantation avoid as much as possible the use of peatland and natural forests. At present, there is no national ERS for bioenergy, but Indonesia should be cautious with the rapid expansion of oil palm plantation on existing agricultural lands, as it threatens food security. Focusing more on increasing palm oil yield, reducing pressure on existing agricultural lands for oil palm expansion and prioritizing the development on low carbon stock lands such as grass- and shrublands on mineral soils will be the way forward in addressing land scarcity, food security, GHG emissions and other environmental problems. Other forms of bioenergy source, such as biochar, promise to a lesser extent GHGemission reduction, and its versatility also requires consideration of its use as a soil ameliorant

    PERANAN SIFAT FISIKOKIMIA GANDUM DALAM DIVERSIFIKASI PANGAN DAN PROSPEK PENGEMBANGANNYA

    No full text
    Gandum memiliki kelebihan dibanding serealia lainnya, antara lain mengandung gluten. Gluten bersama pati gandum dapat membentuk struktur dinding sel (building block) sehingga menghasilkan adonan yang elastis dan mengembang. Gandum memiliki komponen gizi dan fungsional yang relatif tinggi dan spesifik. Tepung gandum mudah diolah menjadi berbagai produk pangan olahan terutama roti, mi, dan sejenisnya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah menghasilkan beberapa varietas unggul gandum subtropis yang dapat dikembangkan pada lahan yang sesuai. Gandum produksi Indonesia dapat mensubstitusi terigu yang bukan termasuk kategori prima seperti gandum impor. Gandum produksi Indonesia sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan olahan terigu seperti untuk gorengan, cookies, puding, dan sejenisnya. Upaya ini diharapkan mampu mengurangi impor gandum yang terus meningkat setiap tahun

    NILAI INDEKS GLIKEMIK PRODUK PANGAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHINYA

    Full text link
    Perubahan gaya hidup dan pola konsumsi pangan masyarakat telahberdampak terhadap peningkatan penyakit degeneratif, seperti diabetesmelitus (DM) dan hipertensi. DM ditandai dengan kadar glukosadarah melebihi nilai normal dan gangguan metabolisme insulin. Indeksglikemik (IG) merupakan suatu ukuran untuk mengklasifikasikanpangan berdasarkan pengaruh fisiologisnya terhadap kadar glukosadarah. Nilai IG produk pangan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antaralain kadar serat pangan, kadar amilosa dan amilopektin, kadar lemakdan protein, daya cerna pati, dan cara pengolahan. Semakin tinggi nilai/kadar serat pangan total, rasio amilosa/amilopektin, serta lemak danprotein, maka nilai IG semakin rendah. Sementara itu, daya cerna patiyang tinggi menyebabkan nilai IG yang tinggi. Cara pengolahan produkpangan dapat menurunkan atau menaikkan nilai IG produk pangantersebut. Pemahaman terhadap nilai IG bahan pangan sangat pentingkarena dapat menjadi landasan ilmiah dalam memilih jenis, bentukasupan, dan jumlah karbohidrat yang dikonsumsi sesuai responsglikemik seseorang

    PEMANFAATAN Trichoderma spp. SEBAGAI AGENS PENGENDALI PENYAKIT TANAMAN UNTUK MENDUKUNG BUDI DAYA RAMAH LINGKUNGAN

    No full text
    Serangan penyakit tanaman masih menjadi kendala dalam sistem budi daya ramah lingkungan. Penggunaan pestisida sintetis yang berlebihan justru berdampak buruk terhadap organisme sasaran serta kesehatan lingkungan dan manusia. Hal ini makin diperparah dengan penurunan harga jual produk yang tercemar residu pestisida. Salah satu alternatif pengendalian penyakit tanaman untuk mendukung budi daya ramah lingkungan ialah dengan memanfaatkan agens hayati seperti cendawan Trichoderma spp. Cendawan ini dapat mengendalikan beberapa patogen tular tanah seperti Ralstonia solanacearum, Pythium spp., Rhizoctonia solani, Fusarium spp., Botrytis cinerea, Sclerotium rolfsii, dan Sclerotinia homoeocarpa yang umumnya menyerang tanaman pangan dan hortikultura. Trichoderma juga mampu mengendalikan penyakit akar putih karet, busuk pangkal batang kelapa sawit dan kelapa, busuk buah kakao, layu pada tebu, dan berbagai penyakit tanaman perkebunan lainnya. Mekanisme penekanan terhadap patogen dapat melalui mikoparasit, antibiosis, kompetisi, induksi resistensi, serta memacu pertumbuhan tanaman. Perbanyakan dan aplikasi Trichoderma dapat dilakukan dengan berbagai cara yang relatif mudah sehingga cendawan ini berpotensi untuk pengendalian penyakit tanaman

    PROSPEK PENGEMBANGAN KARET DI WILAYAH DAERAH ALIRAN SUNGAI

    Full text link
    Harga karet alam yang terus meningkat telah menarik minat petanimaupun investor untuk membangun kebun karet dengan menggunakanbibit unggul. Perkebunan karet tidak hanya dibangun di areakaret tradisional, tetapi juga di area bekas hutan tanaman industri(HTI) maupun daerah aliran sungai (DAS). Tulisan ini bertujuanuntuk memberikan informasi tentang prospek pengembanganperkebunan karet di kawasan DAS, khususnya DAS Musi SumateraSelatan. Pengelolaan kawasan DAS bertujuan untuk mengatur tataguna lahan agar terjadi keseimbangan antara kebutuhan pendudukdengan lingkungan di kawasan DAS. Salah satu strategi untukmencapai keseimbangan tersebut adalah dengan memanfaatkanlahan di kawasan DAS secara optimal untuk usaha tani yangmencakup beberapa komoditas tanaman, baik tanaman tahunanmaupun tanaman semusim. Pengembangan tanaman karet yangdikombinasikan dengan tanaman semusim, selain dapat meningkatkanpendapatan petani, menciptakan lapangan kerja, danmenambah devisa negara, diharapkan pula dapat berfungsi sebagaisalah satu alternatif konservasi lahan untuk pelestarian lingkungansecara berkelanjutan di kawasan DAS

    145

    full texts

    162

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇