Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Not a member yet
162 research outputs found
Sort by
METODE PEMBENTUKAN VARIETAS PADI TOLERAN SALINITAS DAN MEKANISME TOLERANSINYA
Padi merupakan komoditas pangan penting yang kebutuhannya terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Pemanfaatan lahan salin merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi padi. Oleh karena itu, diperlukan varietas padi toleran salinitas dan berdaya hasil tinggi. Mekanisme toleransi salinitas pada padi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu inklusi dan eksklusi. Metode pemuliaan untuk merakit varietas padi toleran salinitas meliputi pemuliaan secara konvensional, variasi somaklonal, mutasi genetik yang diseleksi secara in vitro, serta transformasi genetik. Untuk mempercepat perolehan varietas, penggunaan seleksi berbantuan marka dapat membantu dalam menentukan gen yang mengendalikan sifat toleransi salinitas untuk digunakan dalam pemuliaan konvensional atau rekayasa genetik. Melalui cara konvensional, Indonesia telah menghasilkan varietas padi toleran salinitas Inpari 34 dan Inpari 35 Salin Agritan. IRRI berhasil menyeleksi 10 varietas padi toleran salinitas, Tiongkok 103 varietas, dan India sembilan varietas
PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA HAYATI TANAH MENDUKUNG PENGEMBANGAN PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN
Pemberdayaan sumber daya biotik maupun abiotik tanah dapatmeningkatkan efisiensi sistem produksi pertanian. Sumber dayabiotik tanah meliputi flora dan fauna tanah. Pengelolaan sumberdaya biotik tanah dengan mengurangi asupan dari luar dapatmencegah perubahan ekosistem yang ekstrem. Dalam rangkamelestarikan sistem produksi yang mandiri dan ramah lingkungan,penetapan parameter lingkungan harus jelas dan terukur denganmemerhatikan produktivitas yang akan dicapai dan konservasisumber daya. Penggunaan lahan harus sesuai daya dukungnya,neraca hara seimbang, mencegah erosi tanah pada level di bawahtolerable soil loss, dan menekan emisi CO2 di bawah ambang batastoleransi. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara hayatisehingga mencegah cemaran polutan pada produk maupun hasilsamping di bawah ambang batas. Selain itu, pelaku daur ekosistemtanah lengkap (produsen, konsumen, dan pengurai) dan tidak terjadigangguan lingkungan. Populasi fauna tanah yang terancam akibatsistem pertanian intensif perlu dipulihkan dengan memberikanbahan organik sebagai sumber hara dan energi, sehingga dapatberperan dalam konservasi bahan organik tanah dan memperbaikisifat fisik tanah. Penggunaan pupuk anorganik, organik, dan hayatisecara terpadu, menghindari pestisida sintetis, dan adanya cacing tanahendogaesis merupakan indikator pertanian ramah lingkungan
BUDI DAYA PADI SAWAH SISTEM TANAM JAJAR LEGOWO: TINJAUAN METODOLOGI UNTUK MENDAPATKAN HASIL OPTIMAL
Di antara teknologi budi daya, kerapatan tanam merupakan salah satu komponen penting dalam manipulasi tanaman untuk mengoptimalkan hasil. Sistem tanam jajar legowo merupakan sistem tanam pindah dengan membuat lorong kosong di antara 2-4 barisan tanaman padi, sedangkan jarak tanam dalam barisan menjadi setengah jarak tanam antarbaris. Sistem tanam jajar legowo bertujuan mengatur populasi tanaman per satuan luas dengan menata tata letak tanaman serta memperluas pengaruh tanaman pinggir dan memudahkan pemeliharaan tanaman. Tulisan ini menguraikan pendekatan metodologi dalam sistem tanam jajar legowo untuk mendapat hasil gabah yang optimal. Pengamatan pertumbuhan dan komponen hasil tanaman pada sistem tanam jajar legowo berbeda dengan sistem tanam tegel (bujur sangkar). Pada sistem tegel, setiap individu atau rumpun tanaman mendapat intensitas cahaya, iklim mikro, air, dan unsur hara yang relatif sama sehingga memungkinkan pengamatan dilakukan berdasarkan contoh untuk individu tanaman. Pada sistem tanam jajar legowo, satu contoh pengamatan haruslah merupakan rata-rata dari dua rumpun tanaman dalam satu garis sejajar pada legowo 2:1 atau rata-rata empat rumpun tanaman dalam satu garis sejajar pada legowo 4:1. Sementara itu, jumlah anakan dan jumlah malai diamati per meter persegi, bukan per rumpun. Pada saat panen, teknik ubinan ukuran 2,5 m x 2,5 m tidak sesuai untuk sistem tanam jajar legowo 2:1 maupun 4:1. Sistem tanam jajar legowo lebih menekankan pada jumlah malai per satuan luas dan akan memperoleh hasil optimal bila jarak tanam lebih dari 20 cm x 20 cm
GEN KETAHANAN TANAMAN PADI TERHADAP BAKTERI HAWAR DAUN (Xanthomonas oryzae pv. oryzae)
Usaha tani padi dihadapkan pada berbagai kendala yang disebabkanoleh faktor biotik dan abiotik. Salah satunya adalah penyakit hawardaun bakteri (HDB) yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae pv.oryzae (Xoo). Penyakit ini menyerang tanaman padi sejak fase bibitsampai tanaman dewasa. Eksplorasi bakteri Xoo sudah sampai padatahap sekuensing total dari bakteri tersebut, dan dari sekuensingini telah dikembangkan primer-primer spesifik yang dapat menunjukkanXoo secara tepat. Deteksi bakteri secara cepat sangatmembantu dalam pemurnian awal bakteri Xoo yang diperoleh darilapangan. Pengetahuan tentang mekanisme virulensi bakteri Xoosangat membantu dalam membuat mekanisme pertahanan tanamansehingga rekayasa genetik (tanaman transgenik) di bidang ini sangatterbuka lebar. Gen-gen ketahanan pada padi telah diidentifikasi dantercatat ada 32 gen yang dikenal dengan gen Xa, dan sampai saatini sudah diidentifikasi sampai gen Xa34(t). Eksplorasi gen-gen barumasih terus berlangsung yang membuka peluang untuk memperolehgen ketahanan baru. Di Indonesia, telah dirakit dua varietas paditahan HDB yaitu Angke dan Conde yang masing-masing membawagen xa5 dan Xa7. Sejak tahun 1996 telah teridentifikasi 11 strainbakteri Xoo di sentra-sentra produksi padi di Indonesia, dandisimpulkan bahwa gen-gen ketahanan Xa yang efektif terhadapstrain tersebut adalah xa5, Xa7, dan Xa21. Piramiding ketiga genXa tersebut sangat diperlukan untuk mendapatkan varietas padiyang memiliki ketahanan yang lama (durable resistance) terhadapHDB
Prospek Penggunaan Mikroba Antagonis sebagai agens pengendali hayati penyakit utama pada tanaman hias dan sayuran
Cultivation of ornamental plants and vegetables faces various problems that inhibit efforts to increase plant production. One of the most important constraints is disease incidences, i.e. wilt disease (Fusarium spp.) on carnation, damping off (Rhizoctonia spp.) on chrysanthemum, bacterial wilt (Ralstonia solanacearum) on Solanaceae, and club root (Plasmodiophora brassicae) on Barssicaceae. One of environmentally-friendly control methods is application of antagonistic microorganisms. The purpose of this paper is to inform prospects of the use of microbial antagonists as biological control agents of major diseases on ornamental plants and vegetables. Antagonistic microbes are the bacteria, fungi, actinomycetes or virus that can suppress other microbes. Antagonistic bacteria (Bacillus subtilis and Pseudomonas fluorescens), antagonistic fungi (Trichoderma harzianum, Gliocladium sp., and non-pathogenic Fusarium), actinomycetes (Streptomyces spp.), and virus (Carna-5 vaccine) are known to be effective as biological control agents. Their use as a biological control agent is proven to be prospective since their isolation techniques, propagation and biopesticide formulation are well known by inventors in Indonesia. Nowdays, the microbes have been formulated by various research institutes as microbial pesticides and licenced to private company and commercialized widely to the domestic market. This indicates that prospect of application of antagonistic microbe is very bright to control major diseases of ornamental plants and vegetables.
Keracunan sianida pada hewan dan upaya pencegahannya
Sianida adalah senyawa kimia yang sangat toksik atau berpotensi menimbulkan efek kematian. Senyawa sianida dalam bentuk gas (HCN, CNCl) lebih cepat aktif dibandingkan dalam bentuk bubuk [NaCN, KCN, dan Ca(CN)2]. Hampir 40% dari 35 kasus keracunan senyawa toksik pada hewan di Indonesia pada tahun 1992-2005 disebabkan oleh keracunan sianida sintetis NaCN atau KCN yang sengaja ditambahkan ke dalam pakan (unsur kriminal). Oleh karena itu, keracunan sianida sangat mengkhawatirkan para peternak. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu diketahui keberadaan racun sianida di alam (bentuk alami atau sintetis) berikut toksisitasnya serta cara mendiagnosis gejala keracunan pada ternak melalui analisis kandungan sianida dalam sampel pakan yang diduga mengandung sianida. Gejala spesifik keracunan sianida adalah kematian akut dengan perubahan warna darah menjadi merah terang. Pengobatan dapat dilakukan dengan cara menginjeksikan sodium nitrit dan sodium tiosulfat secara intravena untuk memecah cytochrome-cyanide bone dan secara langsung memisahkan sianida kompleks serta membentuk tiosianat yang diekskresikan melalui urine. Pencegahan utama dapat dilakukan dengan memantau kandungan sianida pada tanaman yang berpotensi mengandung sianogen pada kondisi tertentu, seperti kekeringan, tanaman muda, dan perlakuan herbisida sehingga akan meningkatkan kandungan sianida
Perakitan dan pengembangan varietas unggul baru padi .......
Rendaman air merupakan salah satu faktor pembatas utama peningkatan produksi padi di lahan rawan banjir. Perubahan iklim global yang menyebabkan meningkatnya frekuensi banjir di berbagai wilayah dapat mengancam stabilitas produksi beras nasional. Salah satu strategi adaptasi untuk mengurangi dampak tersebut adalah dengan menanam varietas toleran rendaman air. Berkaitan dengan hal tersebut, Badan Litbang Pertanian bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Padi Internasional (IRRI) di Filipina mengembangkan varietas unggul padi yang toleran terhadap rendaman penuh. Dua varietas unggul baru padi berhasil dilepas, yaitu Inpara 4 dan Inpara 5 yang mampu tumbuh dan berproduksi dengan baik meskipun terendam air penuh sampai dua minggu pada fase vegetatif. Kedua varietas tersebut dirakit dengan metode silang-balik dengan bantuan penanda molekuler terhadap tetua berulang yang merupakan varietas padi yang sangat populer. Inpara 4 memiliki latar belakang genetik varietas Swarna yang populer di Asia Selatan dan Inpara 5 memiliki latar belakang genetik varietas IR64 yang populer di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Rata-rata hasil gabah kedua varietas di daerah rawan banjir masing-masing adalah 4,69 dan 4,45 t/ha. Varietas Inpara 4 memiliki tekstur nasi pera, sedangkan Inpara 5 bertekstur pulen. Keduanya potensial untuk dikembangkan di daerah yang rawan terhadap rendaman akibat banjir, seperti lahan rawa lebak dangkal, lahan sawah bonorowo, dan lahan sawah di pesisir pantai
PEMANFAATAN TANAMAN KENTANG TRANSGENIK RB UNTUK PERAKITAN KENTANG TAHAN PENYAKIT HAWAR DAUN (Phytophthora infestans) DI INDONESIA
Hawar daun yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestansmerupakan salah satu penyakit utama pada tanaman kentang.Kehilangan hasil akibat penyakit tersebut berkisar antara 47−100%.Hingga kini pengendalian penyakit hawar daun dilakukan secaraintensif dengan penyemprotan fungisida dosis tinggi. Hal iniberbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia, selain meningkatkanbiaya produksi. Pemanfaatan varietas tahan merupakanalternatif pengendalian yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.Gen ketahanan (gen RB) yang berasal dari spesies liar kentangdiploid Solanum bulbocastanum memiliki spektrum yang luasterhadap P. infestans. Gen ini telah diintroduksikan ke dalamkentang Katahdin melalui transformasi Agrobacterium. Tanamantransgenik Katahdin RB menunjukkan ketahanan yang lebih tinggiterhadap penyakit hawar daun dibandingkan dengan tanaman nontransgenikpada pengujian di rumah kaca dan di lapangan. Untukmendukung program pemuliaan kentang tahan penyakit hawar daundi Indonesia, tanaman transgenik Katahdin RB dapat digunakansebagai sumber ketahanan. Persilangan antara transgenik Katahdin(event SP904 dan SP951) dengan varietas kentang yang rentanterhadap hawar daun (Atlantic dan Granola) menghasilkan klonklonkentang transgenik yang mengandung gen RB. Melaluievaluasi ketahanan klon-klon tersebut terhadap P. infestans dilapangan uji terbatas (LUT) di Pasir Sarongge, Cianjur, diperolehempat klon tahan pada 77 hari setelah tanam atau 21 hari setelahinfeksi, sementara di LUT Lembang didapatkan tiga klon tahanpada 46 hari setelah tanam atau 20 hari setelah infeksi. Sementaraitu, Atlantic dan Granola memerlukan aplikasi fungisida lebih awal,yaitu pada saat muncul gejala infeksi. Klon-klon kentang tahanpenyakit tersebut diharapkan dapat membantu program pemuliaanuntuk perakitan varietas unggul baru yang produktif dan tahanterhadap penyakit hawar daun
POTENSI PENGEMBANGAN BAWANG MERAH DI LAHAN GAMBUT
Penyebaran lahan gambut di Kalimantan Barat mencapai 4,61 jutaha. Sekitar 40% di antaranya berupa gambut tipis yang sudahmelapuk dan cukup subur sehingga sesuai untuk budi daya tanamansayuran. Petani setempat memanfaatkan lahan tersebut untuk usahatani sayuran, seperti sawi, kangkung, bayam, cabai, dan tomat.Bawang merah belum banyak diusahakan sehingga kebutuhanbawang merah di wilayah tersebut seluruhnya dipenuhi dari provinsilain. Uji multilokasi varietas bawang merah yang dilakukan di lahangambut dan lahan kering Kalimantan Barat memberikan hasil yangmemuaskan. Hasil bawang merah yang ditanam di lahan gambutberkisar antara 11−12 t/ha umbi kering, sedangkan yang diusahakandi lahan kering antara 6−8 t/ha umbi kering. Varietas yang cocokdikembangkan di lahan gambut ialah Sumenep, Moujung, dan BaliKaret, sedangkan yang sesuai untuk lahan kering ialah Sumenepdan Moujung. Varietas tersebut memiliki produktivitas cukup tinggidan tahan terhadap penyakit bercak ungu yang disebabkan olehAlternaria porii. Pengembangan bawang merah melalui introduksivarietas sesuai dengan agroekosistem serta adopsi teknologi budidaya yang tepat diharapkan dapat memenuhi 50% kebutuhanbawang merah di Kalimantan Barat. Upaya ini pada akhirnya akanmeningkatkan pendapatan petani sayuran di lahan gambut
ULAT BULU TANAMAN MANGGA DI PROBOLINGGO: IDENTIFIKASI, SEBARAN, TINGKAT SERANGAN, PEMICU, DAN CARA PENGENDALIAN
Setelah terjadi ledakan populasi pada Maret-April 2011, ulat bulu dinyatakan sebagai hama potensial tanamanmangga di Probolinggo, Jawa Timur. Ledakan ulat bulu di Probolinggo telah dikaji melalui pengujian di laboratoriumdan observasi di lapangan. Terdapat empat spesies ulat bulu yang menyerang tanaman mangga, yaitu Arctornissubmarginata, Lymantria marginalis, Lymantria atemeles, dan Dasychira inclusa. Serangan ulat bulu terjadi disembilan desa dan kerusakan terparah terdapat di Kecamatan Leces, Tegal Siwalan, dan Sumberasih. Tingkatserangan hama ulat bulu berkisar antara 0−20% dari total populasi mangga dengan kehilangan daun mencapai100%. A. submarginata merupakan spesies yang dominan dan penyebab utama kehilangan daun pada tanamanmangga. Siklus hidup A. submarginata dari telur hingga ngengat berkisar 4−5 minggu. Musim hujan yang panjang,debu vulkanik, penanaman mangga yang menuju satu jenis, yakni manalagi, program hutan produksi, dan penggunaaninput agrokimia ditengarai menjadi penyebab utama menurunnya keanekaragaman hayati pada agroekosistemtanaman mangga sehingga menimbulkan ledakan populasi A. submarginata. Kekacauan populasi pascamigrasi A.submarginata dari pertanaman teh dan kemampuan adaptasinya yang tinggi pada tanaman mangga menyebabkanterjadinya peningkatan populasi ulat bulu pada tanaman mangga. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa jenis danpopulasi musuh alami ulat bulu tergolong tinggi, dan 60−75% pupa terinfeksi oleh patogen serangga (baculovirusdan cendawan) dan 10−15% mati oleh parasitoid. Pengendalian hama terpadu (PHT) untuk A. submarginata harusberdasarkan pada pemantauan dan penarikan contoh. Komponen teknologi PHT yang dianjurkan adalahpengendalian secara kultur teknis, pengendalian hayati, dan penggunaan pestisida berlabel hijau