Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Not a member yet
162 research outputs found
Sort by
PENGUATAN KELEMBAGAAN GAPOKTAN PUAP DALAM PENERAPAN TEKNOLOGI PADI SPESIFIK LOKASI
Petani padi umumnya belum menerapkan teknologi secara optimal sehingga produktivitasnya rendah. Salah satu penyebabnya ialah kurangnya modal kerja. Program Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) Kementerian Pertanian merupakan salah satu program untuk mengatasi masalah modal kerja petani, di antaranya dengan menyalurkan dana Rp100 juta kepada setiap gabungan kelompok tani (gapoktan). Sebagian besar kelompok tani PUAP juga memperoleh bantuan dana untuk pertemuan kelompok, benih, dan pupuk melalui program Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Adopsi teknologi PTT terbukti mampu meningkatkan produk-tivitas padi. Sebanyak 80% petani PUAP di Kabupaten Serang dan Lebak di Provinsi Banten sudah menggunakan varietas unggul baru (VUB) seperti Ciherang, Inpari, Cigeulis, Way Apo Buru, dan Situ Bagendit. Sistem tanam jajar legowo telah diadopsi oleh 40% petani dan 75% petani sudah menggunakan pupuk organik. Bantuan modal kerja dari PUAP dapat meningkatkan kinerja usaha tani sehingga produktivitasnya meningkat. Fasilitasi pemerintah daerah yang diperlukan untuk mendukung keberhasilan program PUAP meliputi kebijakan, sarana dan prasarana, serta insentif bagi kelompok tani dalam mengembangkan teknologi padi spesifik lokasi
APLIKASI TEKNIK MOLEKULER UNTUK ANALISIS GENETIK TOMATO LEAF CURL VIRUS
Tomato leaf curl virus (ToLCV) merupakan salah satu virus dalamgenus Begomovirus, famili Geminiviridae, yang menyebabkanpenyakit keriting daun pada tomat. Informasi tentang keragamangenetik ToLCV bermanfaat dalam perakitan tanaman tahan. Kemajuandi bidang biologi molekuler telah menghasilkan beberapa teknikyang dapat digunakan untuk analisis genetik Begomovirus. Teknikmolekuler yang banyak diaplikasikan ialah polymerase chainreaction (PCR). Teknik ini sangat sensitif dan spesifik untukmendeteksi Begomovirus pada tingkat DNA. PCR juga dapatdigunakan untuk mengidentifikasi tingkat keragaman genetik virus.Teknik PCR telah digunakan untuk mendeteksi Begomovirus padatomat (ToLCV) dari sentra produksi di Jawa Timur, Jawa Tengah,Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Sumatera. Kombinasi teknik PCRdengan restriction fragment length polymorphism (RFLP) jugadapat digunakan untuk mengidentifikasi keragaman genetik Begomovirus.Selain itu, teknik sekuensing DNA dapat diaplikasikanuntuk mempelajari identitas dan keragaman genetik isolat-isolatToLCV atau anggota Begomovirus lainnya. Analisis sekuen asamamino menunjukkan adanya keragaman genetik dari isolat-isolatToLCV Indonesia. Isolat-isolat tersebut homolog dengan Ageratumyellow vein virus (AYVV). Dengan teknik modifikasi gen (rekayasagenetik) telah berhasil memanfaatkan gen AV1 (coat protein) dariToLCV untuk menghasilkan tanaman tembakau tahan terhadapToLCV. Teknik modifikasi gen memberikan peluang yang besaruntuk mengembangkan tanaman tomat tahan ToLCV dan berperanpenting dalam pembangunan pertanian modern di masa mendatang
TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI BERAS TIRUAN MENDUKUNG DIVERSIFIKASI PANGAN
Konsep diversifikasi pangan dapat dipercepat dengan meman-faatkan berbagai sumber pangan pokok untuk memproduksi beras tiruan. Beras tiruan adalah granula atau butiran pati yang memiliki karakteristik seperti beras. Penggunaan bahan baku sumber karbohidrat dan bahan tambahan yang tepat menjadi parameter penting dalam optimasi teknologi dan proses produksi beras tiruan. Metode proses beras tiruan meliputi metode granulasi dan ekstrusi. Beras tiruan sangat prospektif dikembangkan lebih lanjut menjadi beras tiruan instan ataupun beras tiruan fungsional untuk meningkatkan nilai tambah produk. Makalah ini membahas teknologi proses beras tiruan dan peluang pengembangannya di masa depan
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS LAHAN SAWAH KERACUNAN BESI MELALUI TEKNIK IRIGASI, VARIETAS ADAPTIF, DAN PENGELOLAAN HARA TERPADU
Lahan sawah keracunan besi merupakan sumber daya potensial untuk mendukung pencapaian swasembada beras karena lahan tersedia cukup luas dan produktivitasnya masih rendah. Peningkatan produktivitas lahan dapat dilakukan dengan menerapkan inovasi teknologi spesifik lokasi. Sifat fisik dan kimia tanah dapat diperbaiki dengan menerapkan pengelolaan hara terpadu (kombinasi penggunaan pupuk organik dan anorganik) serta sistem irigasi untuk memperbaiki media dan volume perakaran, meningkatkan pertumbuhan tanaman, dan menekan ketersediaan hara mikro dan logam berat seperti besi. Penerapan teknik irigasi, varietas adaptif, dan pengelolaan hara secara terpadu pada lahan sawah keracunan besi dapat meningkatkan produktivitas lahan, memperbaiki efisiensi pemupukan dan penggunaan air, menciptakan sumber pertumbuhan baru produksi beras nasional, dan dapat menjadi model usaha tani ramah lingkungan dan berkelanjutan. Peningkatan hasil gabah pada lahan sawah keracunan besi melalui pengelolaan lahan secara terpadu berkisar antara 1,5-2,5 t/ha
PROSPEK PERBANYAKAN BIBIT KARET UNGGUL DENGAN TEKNIK OKULASI DINI
Konsumsi karet alam di masa mendatang masih tetap tinggi. Sejalan dengan itu, pembangunan kebun karet melalui perluasan area tanam, intensifikasi, maupun peremajaan dari tahun ke tahun terus meningkat, sehingga permintaan terhadap bibit karet unggul juga terus bertambah. Pengadaan bibit karet klonal dengan cara okulasi masih merupakan metode perbanyakan terbaik. Dengan teknik okulasi cokelat, bibit siap disalurkan setelah 12-18 bulan sejak perkecambahan. Teknik tersebut dinilai terlalu lambat untuk dapat memenuhi kebutuhan bibit karet unggul. Sebagai alternatif dapat dikembangkan teknik okulasi dini. Dengan teknik ini, proses penyiapan bibit karet unggul dapat lebih cepat, berkisar antara 6-8 bulan sejak biji dikecambahkan hingga bibit siap disalurkan. Secara genetik dan fisiologis, mutu bibit karet hasil okulasi dini tetap tinggi sehingga dapat menjamin laju pertumbuhan dan daya hasil tinggi, walaupun secara fisik bibit hasil okulasi dini mempunyai diameter tunas lebih kecil dibandingkan dengan bibit yang berasal dari okulasi cokelat. Pengadaan bibit unggul dengan okulasi dini menghemat biaya 61% dibandingkan dengan teknik okulasi cokelat. Ketersediaan air untuk penyiraman, tenaga okulasi yang terampil, penyiapan entres tepat waktu dan tepat jumlah, merupakan kunci keberhasilan penerapan teknik okulasi dini. Apabila permasalahan tersebut dapat diatasi, maka penyediaan bibit unggul dengan teknikokulasi dini akan dapat menjadi alternatif terbaik guna mengatasi permintaan bibit yang semakin meningkat
PEMANFAATAN KERAGAMAN GENETIK UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS ITIK ALABIO
Itik alabio (Anas platyrhynchos Borneo) merupakan salah satuunggas lokal Kalimantan Selatan yang mempunyai keunggulansebagai penghasil telur. Itik alabio memiliki ciri fenotipik yangberbeda dan performa yang beragam dibanding itik lokal lain diIndonesia. Namun, di antara itik-itik lokal tersebut terdapat itikyang lebih unggul karena secara genetik memiliki daya adaptasiterhadap lingkungan setempat. Itik alabio memiliki keragamanyang tinggi, baik sifat kualitatif (warna bulu, paruh, kaki, dan cakar,serta bentuk tubuh), maupun sifat kuantitatif seperti bobot badandewasa, lama produksi telur, umur pertama bertelur, puncakproduksi, daya tunas, daya tetas, dan bobot tetas. Keragaman yangtinggi tersebut merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan dalamprogram pemuliaan. Meskipun belum sepenuhnya dimanfaatkandalam peningkatan produktivitas, dengan pengalaman dan kearifanlokal yang dimiliki, peternak telah memanfaatkan keragamankriteria tampilan luar itik, seperti keseragaman warna bulu, paruh,besar badan, kuku, kaki, dan gigi untuk menyeleksi itik alabio jantanunggul dan itik alabio betina penghasil telur yang produktif. Sifatunggul ini diharapkan dapat diwariskan pada keturunannya
LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS DALAM MENCAPAI SWASEMBADA DAGING SAPI/KERBAU 2014
Swasembada daging sapi 2014 dapat diwujudkan dengan menetapkankawasan perbibitan sapi nasional, yang meliputi perbibitan danpemuliabiakan sapi melalui program pemurnian sapi lokal danpengembangan bangsa sapi komersial (bakalan), serta pengembangankawasan industri terpadu sapi potong dan wilayah barupeternakan di pulau-pulau kecil. Ketersediaan pakan merupakanaspek krusial dalam budi daya ternak. Untuk menjamin ketahananpakan nasional, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah: 1)pemberlakuan tarif ekspor bahan baku pakan, 2) pembentukaninstitusi penyangga bahan baku pakan, 3) pengembangan sistemkerja sama produksi pakan antarwilayah bagi wilayah padat ternaktetapi tidak memiliki lahan untuk sumber pakan dan sebaliknya, 4)pengembangan zona produksi hijauan pakan di pedesaan dankesehatan hewan, 5) pemetaan dan revitalisasi padang penggembalaandi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan SulawesiSelatan serta wilayah bukaan baru, 6) pengembangan sistem mekanisasipakan, 7) subsidi harga bahan baku pakan, 8) strukturisasi tataniaga bahan baku pakan, dan 9) pengembangan sistem informasipakan nasional. Kelembagaan sangat memengaruhi keberhasilanswasembada daging sapi sehingga koordinasi antarsektor, antardaerah,dan antarpemangku kepentingan yang didukung denganperaturan perundangan sangat diperlukan untuk mendukung upayapeningkatan populasi sapi nasional. Penganekaragaman sumberpangan daging yang proses produksinya memerlukan waktu lebihpendek diharapkan dapat menekan laju pemotongan sapi
PERKEMBANGAN PENELITIAN, FORMULASI, DAN PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI
Meningkatnya kesadaran masyarakat dunia akan produk pertanianyang bebas residu pestisida mendorong para ahli mempelajarikemungkinan substitusi penggunaan pestisida sintetis denganpestisida nabati. Penggunaan pestisida sintetis selain meninggalkanresidu yang berbahaya bagi kesehatan manusia maupun hewan, jugamenyebabkan resistensi dan resurgensi hama, terbunuhnya musuhalami baik serangga parasit maupun predator, dan mengakibatkanpencemaran air, tanah, dan udara yang pada akhirnya dapatmengganggu keseimbangan ekosistem. Penggunaan rodentisida,moluskisida, akarisida, dan nematisida sintetis yang kurang bijaksanadisinyalir mengakibatkan berbagai dampak yang merugikan bagilingkungan. Oleh karena itu, sudah saatnya dicari bahan pengendalihama yang efektivitasnya setara dengan pestisida sintetis namunlebih aman bagi organisme hidup maupun lingkungan. Pemanfaatanpestisida nabati diyakini mampu menjawab permasalahan tersebutkarena tersusun dari senyawa tanaman yang mudah terurai. Hasilpenelitian mengindikasikan spesies-spesies tanaman yang tumbuhdi Indonesia seperti cengkih, mimba, serai wangi, jeringo, tembakau,pyrethrum, kunyit, dan jarak pagar dapat dimanfaatkan untukmengendalikan hama dan penyakit tanaman. Untuk meningkatkanefektivitas pengendalian dan mempermudah penggunaan, bahantanaman tersebut diformulasi menjadi pestisida yang siap pakai.Untuk memperoleh manfaat yang optimal, penggunaan pestisidanabati sebaiknya ditujukan untuk mencegah terjadinya serangan,bukan untuk tindakan pengendalian
POTENSI TERNAK KERBAU SEBAGAI PENGHASIL DAGING NASIONAL
Populasi ternak kerbau di Indonesia mencapai 1.378 juta ekor yang menyebar hampir di seluruh provinsi. Perkembangan populasi kerbau dalam lima tahun terakhir berfluktuasi. Pada tahun 2011 populasinya menurun 34,73% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun pada tahun 2009, 2010, dan 2012 populasinya meningkat masing-masing 0,11%, 3,45%, dan 5,60%. Tulisan ini menginformasikan potensi kerbau sebagai salah satu sumber daging. Oleh karena itu, pengelolaannya perlu ditingkatkan dari cara tradisional ke cara yang lebih maju dengan menerapkan teknologi pengolahan pakan melalui penyebaran lumbung pakan kaya energi di lahan penggembalaan tradisional dan penyediaan pejantan unggul. Potensi kerbau sebagai ternak penghasil daging ditunjukkan oleh: 1) bobot badan dewasa yang berkisar antara 300-600 kg/ekor, bergantung pada bangsa kerbau, 2) kenaikan bobot badan yang baik, antara 0,20–0,70 kg/hari, bahkan bisa lebih tinggi, bergantung pada kondisi dan cara pemeliharaan, 3) bobot lahir anak 31 kg untuk jantan dan 24 kg untuk betina, dan 4) persentase karkas cukup tinggi, antara 43–51%. Kendala dalam pengembangan kerbau yaitu penurunan mutu genetik (terjadi inbreeding yang tinggi), pola pemeliharaan tradisional, dan masalah reproduksi. Kerbau termasuk ternak yang lambat dewasa kelamin (umur 3 tahun), periode bunting lama (10,5 bulan), jarak beranak panjang (rata-rata 553 hari), dan memerlukan pakan yang cukup kualitas maupun kuantitasnya untuk mencapai performan reproduksi yang baik
Seleksi dan Perakitan Varietas Kedelai Adaptif Lahan Kering Masam
Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan sumber protein nabati di Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan kedelai, upaya peningkatan produksi dilakukan melalui perluasan area tanam terutama ke lahan kering masam. Kendala dalam pengembangan kedelai di lahan kering masam ialah pH tanah rendah dan keracunan aluminium (Al) yang memengaruhi proses fisiologi dan biokimia tanaman sehingga pertumbuhan dan hasil kedelai rendah. Program pemuliaan kedelai adaptif lahan kering masam membutuhkan koleksi plasma nutfah yang mempunyai keragaman genetik tinggi agar peluang memperoleh genotipe toleran Al meningkat. Kriteria seleksi menggunakan karakter morfologi, fisiologi, dan molekuler dapat dijadikan pertimbangan dalam menentukan tetua-tetua kedelai toleran cekaman Al. Selain itu, perlu disertakan karakter lainnya seperti ukuran biji, warna biji, dan umur genjah untuk meningkatkan adopsi varietas tersebut