Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Not a member yet
    162 research outputs found

    Bacterial Leaf Blight Disease (Pseudomonas cichorii (Swingle 1925) (STAPP 1928) in Chrysanthemum (Dendranthema grandiflora Tzvelev) and Its Control) in Indonesia

    Full text link
    Bacterial leaf blight caused by Pseudomonas cichorii is a major disease in chrysanthemum plants almost all over the world. In Indonesia, this pathogen can cause damage to chrysanthemum 10- 60%. Bacteria spread from one plant to another through water droplets from modern irrigation networks as well as conventional irrigation. P. cichorii is a polyphagic pathogen, which infects succulents and others across continents with varying incidence. Symptoms of transmission of this pathogen in each type of plant are always different, and effective control methods have not been found. This article discusses the virulence of pathogens, the incidence of transmission, and recommendations for controlling bacterial leaf blight on chrysanthemums in Indonesia. A search of various references from within and outside the country shows that P. cichorii can be controlled by combining several methods, namely (a) the use of tolerant varieties (Puspita Nusantara, Puspa Kania, Dwina Kencana, Dwina Pelangi, Pasopati, Paras Ratu, and Wastu Kania), (b) technical culture (extracting infected leaves and watering in the morning), and (c) application of synthetic chemical bactericides with active ingredients of hydrogen peroxide and peroxyacetic acid, or biopesticides with active bacterial isolates of the antagonistic bacteria Bacillus subtilis MI600, and B. amyloliquefaciens IN937, and combination of P. fluorescens Pf Irana with Pf Slada-2.Keywords: Chrysanthemum, P. chicorii, bacterial leaf blight disease, epidemiology, control AbstrakPENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI (Pseudomonas cichorii (Swingle 1925) (STAPP 1928) PADA TANAMAN KRISAN (Dendranthema grandiflora Tzvelev) DAN UPAYA PENGENDALIANNYA DI INDONESIAHawar daun bakteri yang disebabkan oleh Pseudomonas cichorii merupakan penyakit utama pada tanaman krisan hampir di seluruh penjuru dunia. Di Indonesia, patogen ini dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman krisan 10-60%. Bakteri menyebar dari satu tanaman ke tanaman lain melalui tetesan air dari jaringan irigasi modern maupun penyiraman konvensional. P. cichorii merupakan patogen yang bersifat polifag, yang menginfeksi tanaman sukulen dan lainnya di seluruh benua dengan insidensi bervariasi. Gejala penularan patogen ini pada setiap jenis tanaman selalu berbeda, dan belum ditemukan metode pengendalian yang efektif. Artikel ini membahas virulenitas patogen, insidensi penularan, dan rekomendasi pengendalian hawar daun bakteri pada tanaman krisan di Indonesia. Penelusuran dari berbagai referensi dari dalam dan luar negeri menunjukkan P. cichorii dapat dikendalikan dengan memadukan beberapa metode, yaitu (a) penggunaan varietas toleran (Puspita Nusantara, Puspa Kania, Dwina Kencana, Dwina Pelangi, Pasopati, Paras Ratu, dan Wastu Kania), (b) kultur teknis (perompesan daun terinfeksi dan penyiraman pada pagi hari), serta (c) aplikasi bakterisida kimia sintetik berbahan aktif hydrogen peroxide dan peroxyacetic acid, atau biopestisida berbahan aktif isolat bakteri antagonis Bacillus subtilis MI600, dan B. amyloliquefaciens IN937, serta kombinasi P. fluorescens Pf Irana dengan Pf Slada-2.Kata kunci: Krisan, P. chicorii, bakteri hawar daun, epidemiologi, pengendalian

    PROSPEK PENGEMBANGAN KOMODITAS SUMBER KARBOHIDRAT KAYA ANTOSIANIN MENDUKUNG DIVERSIFIKASI PANGAN FUNGSIONAL / Prospects of Anthocyanin-Rich Carbohydrates Sources Commodity Development to Support Functional Food Diversification

    Full text link
    One of the sources of functional foodstuff is carbohydrate-based commodities which contain anthocyanin. These commodities include black rice, purple corn, and purple sweet potato. The anthocyanin compound is a pigment which is responsible for the purple color to the produced commodities. This compound possesses antioxidative activities which are able to bind with free radical compounds and protect human body against various diseases.Physiological function of the anthocyanin in foodstuff has attract particular interest for further exploration, particularly on its bioavailability nature, functional food ingredients, and its product’s appearances. Several anthocyanin-rich varieties such as Jeliteng black rice, Srikandi Ungu corn, and Antin purple sweet potato has been released by Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD). In the future, development of processed functional food product is expected to raise in line with the increase in the public’s interest on the important of the health. The specific function of antioxidant derived from the anthocyanin compound enable human immunity increase which is recently getting popular, particularly during Covid-19 pandemic. Potential development of the foodstuffs associated with anthocyanin involves various research from upstream to downstream, starting from superior varieties development which contain higher anthocyanin content, by product creation with higher functional values and preferred by the consumers.Keywords: Carbohydrates, anthocyanin, functional food, diversification. AbstrakSalah satu sumber bahan pangan fungsional adalah komoditas berbasis karbohidrat dan mengandung antosianin. Komoditas tersebut antara lain padi beras hitam, jagung ungu, dan ubi jalar ungu. Senyawa antosianin merupakan pigmen yang memberikan warna ungu pada produk yang dihasilkan. Antosianin memiliki aktivitas antioksidan, yang mampu mengikat senyawa radikal dan melindungi tubuh dari penyakit. Fungsi fisiologis dari antosianin dalam bahan pangan telah menarik perhatian untuk dilakukan eksplorasi sifat bioavailability, fungsi pangan fungsional, dan tampilan produknya. Beberapa varietas unggul komoditas sumber karbohidrat kaya antosianin seperti padi hitam Jeliteng, jagung Srikandi Ungu, dan ubi jalar ungu Antin telah dilepas oleh Balitbangtan. Ke depan, pengembangan produk olahan pangan fungsional diharapkan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya perhatian masyarakat akan pentingnya kesehatan. Fungsi khusus antioksidan dari senyawa antosianin dapat menaikkan imun tubuh yang sangat dibutuhkan masyarakat, apalagi dalam masa pandemi Covid-19. Potensi pengembangan bahan pangan berantosianin memerlukan penelitian dari hulu hingga hilir, mulai dari perakitan varietas unggul mengandung antosianin lebih tinggi sampai teknologi pengolahan untuk menghasilkan produk olahan yang lebih berkualitas, dengan sifat fungsional yang lebih tinggi, dan disenangi oleh konsumen.Kata kunci: Karbohidrat, antosianin, pangan fungsional, diversifikasi

    PERKEMBANGAN PEMANFAATAN, REGULASI, DAN METODE DETEKSI PRODUK REKAYASA GENETIKA PERTANIAN DI INDONESIA / Development of Utilization, Regulation, and Detection Methods of Agricultural Genetically Modified Products in Indonesia

    Full text link
    Genetically modified crops (GM crops) have developed very fast globally, although to date controversies over the GM crop uses are still occurring. GM crops have been planted on over 191.7 million hectare area and cultivated in 26 countries in five continents. Biosafety of GM crops both globally and domestically are guaranteed through regulations made at the level of law, government regulations, related ministrial regulation including the guidelines. In general, those regulations have been implemented, thus the biosafety of GM crop utilization is guaranteed in Indonesia. Unfortunately, although Indonesia gave a certification for released permit for drought tolerant sugarcane, it only grown in a limited areas belongs to state-owned agricultural company (PTPN XI). The country has certified 27, 7, and 16 GM events for food, feed, and seeds for environment safety, respectively. The implementation of these regulations needs a monitoring system that is equipped with facilities of GMO detection laboratory with adequate capacity. Indonesia has several such laboratories. The methods of GMO detections have developed from very basic techniques, i.e. qualitative screening to the determination of specific events that define the type of trait of GMO, even quantitative detection, both single and multiplex. Each method has its own advantages. The capacities of GMO detection laboratory in Indonesia still need to be upgraded to master the fast-developing technology. The purpose of this review is to provide information on the development of global GM crops utilization including in Indonesia and the development of regulations and detection methods with their prospects and challenges.Keywords: Genetics, modification, regulation, detection methods AbstrakPemanfaatan tanaman produk rekayasa genetik (PRG) telah berkembang cepat dan mendunia walaupun sampai saat ini masih terjadi kontroversi. Luas penanamannya telah mencapai 191,7 juta ha dan ditanam oleh 26 negara di lima benua. Keamanan hayati PRG secara global maupun domestik telah dijamin oleh peraturan pada tingkat undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan kementerian terkait, dan pedoman pelaksanaannya. Secara umum peraturan peraturan tersebut telah dijalankan sehingga keamanan hayati dari pemanfaatan PRG terjamin di Indonesia. Sayangnya di Indonesia PRG yang sudah diberi izin edar hanya ditanam secara terbatas seperti tebu toleran kekeringan di beberapa kebun milik PTPN. Indonesia juga telah memberikan sertifikat aman hayati pada beberapa varietas PRG diantaranya 27 PRG pangan, tujuh PRG pakan, dan 16 PRG benih (lingkungan). Implementasi peraturan yang telah ada memerlukan sistem pengawasan yang dilengkapi dengan fasilitas laboratorium deteksi PRG dengan kapasitas yang memadai. Indonesia telah mempunyai beberapa laboratorium tersebut. Metode deteksi PRG telah berkembang dari teknik yang sangat mendasar yaitu deteksi untuk skrining kualitatif PRG sampai teknik penentuan spesifik event yang menetapkan jenis/sifat PRG, bahkan teknik deteksi secara kuantitatif yang bersifat tunggal maupun multiplex. Metode-metode deteksi tersebut memiliki keunggulan masing-masing. Laboratorium penguji PRG di Indonesia masih perlu ditingkatkan kemampuannya dengan penguasaan teknologi yang berkembang dengan pesat. Makalah ini memberikan informasi perkembangan pemanfaatan PRG global termasuk di Indonesia dan perkembangan regulasi dan metode deteksi serta prospek dan tantangan.Kata kunci: Genetika, rekayasa, regulasi, metode deteks

    PEMANFAATAN MEDIA INTERNET OLEH PENYULUH DALAM UPAYA PERCEPATAN DISEMINASI INFORMASI PERTANIAN / The Utilization of Internet By Extension Specialist in Efforts to Accelerate Agriculture Information Disemination

    Full text link
    One of the internet utilization inagricultural developmentby the Ministry Agriculture is to disseminate information of technology innovations to the agricultural extension specialist as intermediary users. This paper discusses the use of the internet by agricultural extension specialist in an effort to accelerate the dissemination of agricultural information. Several internet application used in the dissemination of agricultural information such as the IAARD(Indonesia Agency of Agricultural Research dan Development) website, cyber extension, agricultural digital libraries and social media.The intensity of using the internet by agricultural extension specialist for dissemination of agricultural informastion is still low with the frequency of 2-3 times a day and the duration of 1-2 hours a day because the task of agricultural extension in the field. The used of the internet by agricultural extension are depend on individual characteristic (age, length of work, media ownershipand education), perception on the internet, information needs, motivation and support of agencies. The agricultural extension used the internet for reports, content creation, and extension methods designed. Low internet acces capability and limited access facilities become obstacles on using the internet to obtain the necessary information. The ability of extension specialist to access the internet can meet the needs of agricultural information users and improve the competence of extension specialist themselves.Keyword: Internet, dissemination, agricultural technology, extension. AbstrakSalah satu pemanfaatan internet di Kementerian Pertanian adalah untuk diseminasi informasi teknologi pertanian kepada penyuluh sebagai pengguna perantara sebelum disampaikan ke petani dengan bahasa yang mudah dicerna. Tulisan ini membahas pemanfaatan internet oleh penyuluh dalam upaya percepatan diseminasi informasi pertanian. Beberapa aplikasi internet untuk diseminasi informasi pertanian diantaranya web Balitbangtan, cyber extension, perpustakaan digital pertanian, dan media sosial. Intensitas penggunaan internet oleh penyuluh untuk diseminasi informasi pertanian masih rendah dengan frekuensi 2-3 kali sehari dan durasi 1-2 jam sehari karena mereka lebih banyak berada di lapangan untuk tugas penyuluhan kepada petani. Penggunaan internet oleh penyuluh antara lain dipengaruhi oleh karakteristik individu (usia, lama bekerja, kepemilikan media, dan pendidikan), persepsi terhadap internet, kebutuhan informasi, motivasi dan dukungan lingkungan. Bagi penyuluh, internet digunakan untuk penyusunan laporan, pembuatan materi, program, dan mendesain metode penyuluhan. Kemampuan akses yang rendah dan keterbatasan sarana parasarana menjadi hambatan dalam pemanfaatan internet untuk memperoleh informasi yang diperlukan. Kemampuan penyuluh mengakses internet berperan penting dalam memenuhi kebutuhan pengguna informasi pertanian dan meningkatkan kompetensi penyuluh itu sendiri.Kata kunci: Internet, diseminasi, teknologi pertanian, penyuluh

    Process and Approach to Farmer Regeneration Through Multi-strategy in Indonesia

    Full text link
    The low share of young farmers in Indonesia must be a serious concern of the government in the future agricultural development program. The results of the agricultural census in 2013 showed that the portion of young farmers (<35 years) was 12.87%, far lower than the middle age (35-54 years) 54.37%, and the elderly (> 54 years) 32.76%. This situation encourages the importance of finding solutions to realize farmers’ regeneration. This paper describes the regeneration of farmers (processes, approaches, and strategies) through increasing the role of families, agricultural extension, community, agricultural modernization, and farmer corporations. Regeneration has the same terms as the succession and inheritance of agricultural business, which is the process of presenting new actors in agricultural business. Farmer regeneration can be in the family environment which means that the management of agricultural businesses is inherited from parents to their children, and non-family regeneration, namely inheritance of agricultural businesses, is shifted to newcomers who have no family relations. The regeneration process can be planned that is driven by outsiders and without a plan that is driven by the community itself. Approaches and strategies for farmers’ regeneration processes can be through strengthening the role of families, agricultural extension, community, agricultural modernization, and farmer corporations. The role of the family can be increased through the cultivation of respect, socialization, and inheritance of agricultural businesses. The role of agricultural extension workers as facilitators, communicators, motivators, consultants, and institutional development of young farmers can be strengthened. The role of the community through outreach, information transfer, and consultation can be intensified. Modernization of agriculture can be through the application of agricultural mechanization technology and smart farming or digital farming. Farmer corporations can be developed to attract the interest of the younger generation because they open opportunities for the availability of economically viable land, based on the specialization of expertise, the use of agricultural machinery, and improving the bargaining position of farmers.Keywords: Farmers, regeneration, corporation, agriculture, modernization AbstrakPROSES DAN PENDEKATAN REGENERASI PETANI MELALUI MULTISTRATEGI DI INDONESIA Porsi petani muda yang rendah di Indonesia harus menjadi perhatian serius pemerintah dalam program pembangunan pertanian ke depan. Hasil sensus pertanian tahun 2013 menunjukkan porsi petani muda (<35 tahun) 12,87%, jauh lebih rendah dibanding usia menengah (35-54 tahun) 54,37% dan usia lanjut (>54 tahun) 32,76%. Keadaan ini mendorong pentingnya mencari solusi mewujudkan regenersi petani. Tulisan ini memaparkan regenerasi petani (proses, pendekatan dan strategi) melalui peningkatan peran keluarga, penyuluhan pertanian, komunitas, modernisasi pertanian, dan korporasi petani. Regenerasi memiliki istilah yang sama dengan suksesi dan pewarisan usaha pertanian, yaitu proses menghadirkan pelaku baru dalam usaha pertanian. Regenerasi petani dapat di lingkungan keluarga yang berarti pengelolaan usaha pertanian diwariskan dari orang tua kepada anaknya, dan regenerasi nonkeluarga yaitu pewarisan usaha pertanian beralih kepada pendatang baru yang tidak memiliki hubungan keluarga. Proses regenerasi dapat terencana yang digerakkan pihak luar dan tanpa rencana yang digerakkan masyarakat sendiri. Pendekatan dan strategi proses regenerasi petani dapat melalui penguatan peran keluarga, penyuluhan pertanian, komunitas, modernisasi pertanian, dan korporasi petani. Peranan keluarga dapat ditingkatkan melalui penanaman sikap respek, sosialisasi, dan pewarisan usaha pertanian. Peranan penyuluh pertanian sebagai fasilitator, komunikator, motivator, konsultan, dan penumbuhkembangan kelembagaan petani muda dapat dikuatkan. Peranan komunitas melalui sosialisasi, transfer informasi, dan konsultasi dapat diintensifkan. Modernisasi pertanian dapat melalui penerapan teknologi mekanisasi pertanian dan smart farming atau digital farming. Korporasi petani dapat dikembangkan sebagai penarik minat generasi muda karena membuka peluang tersedianya lahan yang layak secara ekonomi, berbasis spesialisasi keahlian, penggunaan alat-mesin pertanian dan meningkatkan posisi tawar petani.Kata kunci: Petani, regenerasi, korporasi, pertanian, modernisasi

    TANAH VULKANIK DI LAHAN KERING BERLERENG DAN POTENSINYA UNTUK PERTANIAN DI INDONESIA / Volcanic Soils in Sloping Dry Land and Its Potential for Agriculture in Indonesia

    Full text link
    Volcanic soil is soil developed from pyroclastic materials released during the volcanic eruption. Althought the soil is fertile, it is mostly occurred in steep sloping highland that is critical to landslide and volcanic eruption. This paper discussed the characteristics and distribution of volcanic soils in sloping dry land, completed with the potential and constraints of their use for agricultural development. This information supports the zonation program of agricultural commodities in Indonesia. Volcanic soils distributed on the islands of Sumatra, Java, Bali, Nusa Tenggara, North Sulawesi and North Maluku. Mostly characterized by black or brownish A horizon and yellowish B horizon, crumb soil structure, crumbly consistency, high organic matter content, and low bulk density. The primary mineral composed by hyperstein, amphibole, augite, andesine, volcanic glass, plagioclase, labradorite, olivine, sanidin, apatite and biotite. The secondary minerals are d allophane, imogolit, ferrihydrite, halloysite, kaolinite and gibsite. Soil reaction vary from very acid to neutral with medium nitrogen content (on average). The potential P is low except in volcanic soils in Java. The P retention is high. The Cation exchange capacity varies from moderate to very high. The morphological, chemical and physical properties are good for supporting plant growth, except for those with high P retention. The land suitability classes are very suitable (S1) to marginally suitable (S3) for highland horticultural crops (vegetables and fruits) and estate crop plantations (tea, arabica coffee, and quinine). The limiting factors are relief/slope/erosion hazard and low soil fertility. These limiting factors can be eliminated by applying good agricultural and conservation practices that balance between land sustainability and productivity aspects.Keywords: Volcanic soils, pyroclastic, characteristics, potential  AbstrakTanah vulkanik terbentuk dari bahan piroklastika hasil erupsi gunung berapi dan sebagian besar berada di dataran tinggi lahan kering berlereng sehingga rawan longsor. Makalah ini membahas karakteristik dan penyebaran tanah vulkanik pada lahan kering berlereng, serta potensi dan kendala pemanfaatannya untuk pengembangan pertanian. Informasi ini dapat digunakan untuk mendukung program pewilayahan komoditas pertanian di Indonesia. Tanah vulkanik menyebar di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara, sebagian mempunyai horison A berwarna hitam atau kecokelatan dan horison B berwarna kekuningan, struktur tanah remah, konsistensi gembur, kandungan bahan organik tinggi, dan berat isi rendah. Mineral primernya terdiri atas hiperstein, amfibol, augit, gelas vulkanik, plagioklas, olivin, sanidin, apatit dan biotit. Mineral sekunder tanah terdiri atas alofan, imogolit, ferihidrit, haloisit, kaolinit dan gibsit. Reaksi tanah bervariasi dari masam sampai netral, kandungan nitrogen tergolong sedang, kandungan P potensial rendah kecuali tanah vulkanik di sekitar kawasan gunung berapi di Jawa yang mengandung P dan retensi P tinggi. Kapasitas tukar kation tanah vulkanik tergolong sedang sampai sangat tinggi. Sifat morfologi, kimia, dan fisik tanah tersebut menunjang pertumbuhan tanaman, kecuali retensi P-nya tinggi. Tingkat kesesuaian lahan sangat sesuai (S1) sampai sesuai marjinal (S3) untuk usaha tani komoditas hortikultura dataran tinggi (sayuran dan buah-buahan) dan tanaman perkebunan (teh, kopi arabika dan kina) dengan faktor pembatas kondisi wilayah berlereng yang berpotensi erosi. Berdasarkan faktor pembatas tersebut maka komoditas dan teknologi yang diterapkan pada tanah vulkanik perlu mengacu pada tingkat kesesuaian lahan dan diikuti oleh usaha konservasi sejak awal agar tanah dapat digunakan untuk pertanian secara berkesinambungan.Kata kunci: Tanah vulkanik, piroklastika, karakteristik, potensi

    CLIMATE RISK MANAGEMENT FOR SUSTAINABLE AGRICULTURE IN INDONESIA: A REVIEW / Pengelolaan Resiko Iklim untuk Pertanian Berkelanjutan di Indonesia: Sebuah Tinjauan

    Full text link
    Climate-change related hazards, including drought, floods, extreme temperatures, and sea-water level rise have impacted Indonesia’s agriculture and these associated with economic losses. Therefore, it is increasingly important for farmers to be able to proactively anticipate the impact of weather and climate risks to protect their livelihoods through climate risk management (CRM) and to practice the sustainable agricultural production systems. Sustainable agriculture practices are needed to enhance resilience to adverse climate change events. This paper attempts to provide a review of agricultural risks related to climate change, principles and current CRM practices, and CRM practices at farm level based on agroecosystems, as well as approaches in enhancing agriculture CRM for sustainable agriculture development. The key technologies for lowland rice farming include alternate wetting and drying irrigation systems, and the use of drought, saline, and submergence tolerant rice varieties. For upland farming, water storage facilities such as water retardation pond, long storage, and channel reservoir are important. Subsequently, efficient water distribution systems such as drip irrigation, sprinkler irrigation, as well as capillary irrigation need enhancement. Various soil management technologies including minimum tillage and organic matter application are essential. For swampland one-way water management and conservation blocks, the “surjan” system, planting of adaptive varieties, and soil amelioration and fertilization are among the key treatments. Accurate climate forecasts may allow decision makers and farmers to make decisions to reduce negative impacts or take advantage of expected favorable climate. Finally, engagement of various actors, and capacity building is an integral part of CRM.Keywords: Climate, management, agriculture, sustainable, agroecosystem. AbstrakBencana iklim seperti kekeringan, banjir, suhu ekstrem dan kenaikan muka air laut berdampak negatif terhadap pertanian dan menimbulkan kerugian ekonomi. Oleh karena itu menjadi semakin penting bagi petani untuk proaktif mengantisipasi dampak risiko cuaca dan iklim untuk melindungi kehidupan mereka melalui pengelolaan risiko iklim dan menerapkan sistem produksi pertanian berkelanjutan. Praktik budi daya pertanian berkelanjutan memerlukan upaya peningkatan ketangguhan tanaman terhadap dampak kejadian iklim ekstrem. Tulisan ini merupakan tinjauan risiko pertanian terhadap perubahan iklim, prinsip dan praktik pengelolaan risiko iklim, dan praktik pengelolaan risiko iklim di tingkat petani berdasarkan agroekosistem, serta pendekatan untuk mendorong praktik pengelolaan risiko iklim untuk pertanian berkelanjutan. Teknologi utama untuk pertanian padi sawah termasuk pengairan berselang dan penggunaan varietas toleran kekeringan, salinitas, dan rendaman. Untuk pertanian lahan kering diperlukan bangunan pemanen air seperti embung, long storage, dan dam parit untuk pengairan tanaman. Selain itu, sistem distribusi air yang efisien seperti irigasi tetes, irigasi sprinkler, dan irigasi kapiler juga diperperlukan. Berbagai teknologi pengelolaan tanah termasuk pengolahan tanah minimum dan penggunaan bahan organik sangat penting. Pada lahan rawa pasang surut, pengelolaan air satu arah dan blok penyimpan air, sistem surjan, penanaman varietas adaptif, dan penggunaan amelioran dan pemupukan merupakan perlakuan utama. Prediksi iklim yang akurat dapat digunakan pengambil kebijakan dan petani dalam mengambil keputusan untuk mengurangi dampak negatif atau memanfaatkan kondisi iklim. Pelibatan berbagai aktor dan peningkatan kapasitas merupakan bagian integral dari pengelolaan risiko iklim.Kata kunci: Iklim, pengelolaan, pertanian, berkelanjutan, agroekosistem

    Role of Cultivation Technology and Planting Patterns of Farmer Choice for Improving Smallholding Rubber Productivity

    Full text link
    Smallholding rubber productivity in Indonesia is still relatively low due to low cultivation technology adoption. The characteristics of smallholder plantations, with limited land tenure and capital, require a specific approach compared to large plantations. This article is aimed to inform rubber cultivation innovations to improve smallholder rubber productivity. Land conservation can increase the opportunity for developing rubber in sub-optimal environments such as peatlands, tides and high-elevated areas. Plant breeding activities in Indonesia have resulted IRR superior clones series with high yield potential (more than 1,500 kg/ha/yr), vigorous growth, and resistance to main diseases. Modification of planting space can increase land productivity and alternative income for farmers during immature period. To obtain the high yield, the clonal typology harvesting system supported by latex diagnosis can optimize the potential of clones and prevent tapping panel dryness (TPD). To increase technology adoption at the farm level, the role of extension workers, farmer groups, and support from the government is required.Keywords: Rubber, farmers, technology, productivity AbstrakPERAN TEKNOLOGI BUDI DAYA DAN POLA TANAM PILIHAN PETANI DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS KARET RAKYAT Produktivitas tanaman karet rakyat di Indonesia masih tergolong rendah, terutama disebabkan oleh adopsi teknologi budi daya belum optimal. Karakteristik perkebunan karet rakyat, terutama penguasaan lahan dan modal yang terbatas, memerlukan pendekatan spesifik dibanding perkebunan besar. Tulisan ini menginformasikan inovasi teknologi budidaya karet yang dapat meningkatkan produktivitas karet rakyat. Konservasi lahan dapat meningkatkan potensi pengembangan tanaman karet di lahan suboptimal seperti lahan gambut, pasang surut, dan daerah berelevasi tinggi. Pemuliaan tanaman di Indonesia telah menghasilkan klonklon unggul seri IRR dengan potensi hasil tinggi (rata-rata di atas 1.500 kg/ha/th), pertumbuhan jagur, dan tahan terhadap penyakit. Modifikasi pola tanam dapat meningkatkan produktivitas lahan dan sumber pendapatan petani selama tanaman belum menghasilkan (TBM). Untuk mendapatkan produksi yang tinggi dan berkelanjutan, sistem pemanenan lateks tipologi klon yang didukung oleh diagnosis lateks dapat mengoptimalkan potensi klon dan mencegah kering alur sadap (KAS). Untuk meningkatkan adopsi teknologi di tingkat petani diperlukan dukungan penyuluh, kelompok tani, dan pemerintah.Kata kunci: Karet, petani, teknologi, produktivitas

    SPICES PLANT AS BIOINSECTICIDES FOR CONTROLLING MAIZE WEEVIL SITOPHILUS ZEAMAIS (MOSTCH) Pemanfaatan Tanaman Rempah sebagai Pestisida Nabati untuk Penanggulangan Hama Kumbang Bubuk Jagung Sitophilus zeamais (Mostch)

    Full text link
    Indonesia has numerous and varied natural resources of spices plant which grow at almost all theregions. These plants can grow and adapt to the slightly diverse agroecological conditions and agroecosystems, from dry to wet. In general, the utilization of these plants by the community is still limited as ingredients and spices for culinary and flavoring instead of the potential of bioactive compounds contained therein. These resourcesare very useful and effective utilized asbioinsecticides to eradicate plant pests and diseases, as well as medicine for human. This paper discussed the benefits and efficacy of several spiceplants, namely lemongrass, shallots, garlic, sweet and chili peppers, clove, sand ginger (kencur), and pepper as herbicides at various levels of dosage and treatments. This manuscript also discussed the constraints and development strategies, and aimed to provide information on the science and technology in controlling the Sitophilus zeamais (Motsch) pests in corn kernels during the storage period. It is expected that this paper would be useful for the policy makers, academicians, researchers and practitioners who have the competence to deal with beetle pest problems.Keywords: Spices, bioinsecticides, Sitophilus zeamais (Motsch), controlling AbstrakTanaman rempah yang tumbuh di hampir seluruh wilayah Indonesia sangat beragam. Tanaman ini beradaptasi pada berbagai agroekologi dan agroekosistem, mulai dari wilayah beriklim kering sampai beriklim basah. Pemanfaatan tanaman ini oleh masyarakat umumnya masih terbatas sebagai bahan rempah dan bumbu kuliner, penyedap masakan dan cita rasa, padahal senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya potensial sebagai pestisida nabati untuk membasmi hama penyakit tanaman dan bahan obat kesehatan manusia. Tulisan ini membahas manfaat dan kemanjuran dari beberapa tanaman rempah, yakni tanaman sereh, bawang merah, bawang putih, lombok merah, cengkeh, kencur, dan lada sebagai pestsisida nabati dalam berbagai dosis dan ragam perlakuan. Kendala dan strategi pengembangan pestisida nabati bagi penggulangan hama kumbang bubuk perlu mendapat perhatian yang tidak saja untuk kepentingan masyarakat luas, namun diperlukan sebagai informasi ilmu dan teknologi penanganan hama secara terpadu.Kata kunci: tanaman rempah, bioinsektisida, hama kumbang bubuk, pengendalia

    TEKNOLOGI PENANGANAN BUAH SEGAR STROBERI UNTUK MEMPERTAHANKAN MUTU / Fresh Handling Techniques for Strawberry to Maintain its Quality

    Full text link
    Strawberries (Fragaria sp.) are mostly grown in the mountainy areas in Indonesia and need a long transportation to get to the consumers. Long transportation will cause more than 50% damage to strawberries due to decay. Handling procedures need to be good and proper from farmer to the consumer or processor customer so that fruit reach destination in expected condition. Handling was done during pre-harvest and postharvest so that the quality of fresh strawberry fruit can be preserved. The technology for handling strawberry fruits that already exists includes: pre-harvest by spraying with antimicrobial agent, postharvest include for collecting, sorting and grading, washing, dipping with calcium chloride or naphtalene acetic acid, waxing, fumigation with nitric oxide, coating with chitosan or aloe vera gel combined with glycerol, irradiation, packaging, storage and transportation. The recommended storage temperature for strawberries is at 4oC, it can extend the shelf life of strawberries up to 1011 days with the best chemical characteristics. Implementing of SNI to strawberries in Indonesia to increase product competitiveness and increase added value still needs intensive efforts. 1.The classification and quality standards of strawberries can refer to the SNI No. 8026, 2014 and the Commission Implementing Regulation (2011).Keywords: Strawberry, preharvest, postharvest, fresh handling, quality AbstrakDi Indonesia, stroberi (Fragaria sp.) umumnya tumbuh di daerah pegunungan sehingga memiliki risiko tinggi dalam transportasi ke konsumen. Kerusakan stroberi karena perjalanan yang lama dapat mengakibatkan kerusakan buah lebih dari 50% akibat pembusukan. Penanganan yang baik dan benar diperlukan agar buah tetap dalam keadaan segar sampai ke tangan konsumen, sesuai dengan standar yang berlaku. Buah stroberi perlu ditangani dengan baik sejak prapanen hingga pascapanen agar kesegaran buah dapat dipertahankan. Teknologi penanganan stroberi yang telah dihasilkan meliputi: (1) pada saat prapanen adalah penyemprotan menggunakan antimikroba, (2) pada saat pascapanen pengumpulan buah secara hati-hati, sortasi dan grading, pencucian, pencelupan dengan kalsium klorida atau Naphtalene Acetic Acid, pelilinan, fumigasi dengan nitrit oksida, pelapisan dengan kitosan, gel lidah buaya yang dikombinasikan dengan gliserol, iradiasi, pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutan. Penyimpanan buah stroberi pada suhu 4oC dapat memperpanjang umur simpan buah hingga 10-11 hari dengan karakteristik kimiawi terbaik. Penerapan SNI buah stroberi di Indonesia masih perlu diupayakan lebih intensif untuk meningkatkan daya saing produk dan meningkatkan nilai tambah. Klasifikasi dan standar mutu buah stroberi dapat mengacu pada SNI No 8026 Tahun 2014 dan Commission Implementing Regulation (2011).Kata kunci: Stroberi, prapanen, pascapanen, penanganan segar, mut

    145

    full texts

    162

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇