DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
Not a member yet
571 research outputs found
Sort by
Kelimpahan dan komposisi fitoplankton di perairan Teluk Kodek Pemenang Lombok Utara
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan komposisi fitoplankton di Teluk Kodek Pemenang Lombok Utara. Penelitian ini menggunakan metode survey pada 4 stasiun di perairan Teluk Kodek pada Bulan Agustus 2012 dan analisa fitoplankton dilakukan di Laboratorium Perikanan Program Studi Budidaya Perairan Universitas Mataram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan fitoplankton di perairan Teluk Kodek pada bulan Agustus 2012 adalah 6557 ind/l. Tercatat 20 spesies fitoplankton yang ditemukan yang dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yaitu diatom dan dinoflagelata. Kelompok diatom terdiri 11 spesies, yaitu; Guinardia flaccida, Rhizosolenia setigera, Navicula sp., Chaetoceros sp., Thalassionema nitzschioides, Pleurosigma normanii, Planktoniella sol, Pseudo-nitzchia brasiliana, Lauderia annulata, Socphanopysis palmeriana, Oscillatoria sp., sedangkan dari kelompok dinoflagelata terdiri dari 9 spesies, yaitu; Pyrocytis noutiluca, Dinophysis cudate., Prorocentrum lima, Alexandrium tamarence, Ceratium fusus, C. incisum, C. boehmii, Torodium teredo and Odontella sinensis. Indeks keragaman phytoplankton Teluk Kodek adalah 0,1307 dan masuk kategori keanekaragaman rendah, sedangkan indek keseragaman diperoleh nilai 0,207 dan masuk kategori keseragaman rendah. Nilai tersebut menunjukkan bahwa komunitas fitoplankton di perairan Teluk Kodek pada Bulan Agustus 2012 tidak stabil.Kata Kunci: Diatom; Dinoflagelata; Keanekaragaman; Budidaya Laut
Ekstraksi dan karakterisasi minyak dari kulit ikan patin (Pangasius hypophthalmus)
Catfish is playing an important role in aquaculture production; it is one of the primary commodities of inlandfisheries industry. Catfish meat has a yield of 49% and resulted in 51% of waste products. Thus catfish waste product has potency as source of fish oil which riches of omega-3. The Purpose of this study was to evaluate the suitable extaction method to obtain the high quality of fish oil from catfish skin. Based on the oxidative quality analysis data obtained extraction temperature of 60C gives the best quality of fish oil with parameters such as peroxide value, free fatty acid, p-anisidine value, acid value and total oxidation of 38 meq/kg, 0.45%, 107,5 meq/kg, 895 mg KOH/kg and 187.5, respectively. The best yield was 18.75% which was obtained at extraction temperature of 75 C. It was concluded that best extraction at 60C, for 30 minutes, with solvent and sample ratio 1:1
Distribusi patogen dan kualitas lingkungan pada budidaya perikanan laut di Provinsi Kepulauan Riau
Abstract. Increasing of aquaculture production is playing an important contribution to increase of environmental and pathological problems in several aquaculture production centers. Therefore, prevention and control of diseases are now become a top priority for the sustainability of this industry. The objective of the present study was to evaluate the distribution of fish pathogen in some mariculture production centers in Riau Islands Province. The study was conducted from Febrari 2011 to December 2013. The study showed that Nodavirus and Iridovirus as a viral disease-causing agents were commonly found in marine fish farm. While Vibrio spp., Aeromonas spp. and Edwardsiella spp. were general pathogenic microorganism in marine and freshwater fish farms. Furthermore, there were also found various parasites such as Diplectanum sp., Gyrodactilus sp., Caligus sp., Trichodina sp., Rhexanella sp., Hirudinae sp., Benedenia sp. and Cylodonela sp. in various marine and freshwater fish production centers in the Riau Islands Province. Keywords: Monitoring; Fish diseases;Parasite; Bacteria; Virus.Abstrak. Peningkatan laju produksi perikanan budidaya secara umum berperan penting dalam peningkatan masalah lingkungan dan patogen di beberapa unit produksi budidaya. Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian penyakit saat ini menjadi prioritas untuk menjamin keberlanjutan industri ini. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan monitoring dan menilai distribusi patogen pada beberapa sentra produksi perikanan laut di Provinsi Kepulauan Riau. Monitoing dilakukan mulai Februari 2011 sampai Desember 2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nodavirus dan Iridovirus merupakan agen penyebab penyakit virus yang umum ditemukan di budidaya ikan laut. Sementara Vibrio spp., Aeromonas spp. dan Edwardsiella spp. merupakan mikroorganisme patogen yang umum ditemukan di sentra budidaya ikan laut dan ikan air tawar. Hasil kajian monitoring juga menunjukkan bahwa Diplectanum sp., Gyrodactilus sp., Caligus sp., Trichodina sp., Rhexanella sp., Hirudinae sp., Benedenia sp. dan Cylodonela sp. merupakan parasit yang memiliki distribusi tinggi di berbagai sentra produksi ikan air laut dan tawar di Kepulauan Riau.Kata Kunci : Monitoring; penyakit ikan; ; parasit; bakteri; virus; Kepulauan Riau
Komposisi jenis dan struktur komunitas ikan yang bermigrasi melewati tangga ikan pada Bendung Perjaya, Sungai Komering, Sumatera Selatan
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan komposisi spesies dan struktur komunitas ikan yang dapat bermigrasi melewati tangga ikan pada Bendung Perjaya, Sungai Komering, Sumatera Selatan. Penelitian dilaksanakan pada 2013 dengan tiga kali sampling yaitu pada Maret, Mei, dan Juli mengikuti musim. Pengambilan sampel ikan menggunakan alat tangkap yang tidak selektif, yaitu langgian (hand operated scoop net). Hasil penelitian didapatkan 5 famili yang meliputi 21 spesies, dengan jumlah spesies terbesar berasal dari famili Cyprinidae (15 spesies). Beberapa spesies yang dominan adalah Labeobarbus leptocheilus dan Crossocheilus sp. Kondisi musim berpengaruh terhadap struktur komunitas ikan, dimana keanekaragaman dan kemerataan cukup tinggi terjadi pada musim hujan (Maret) dan peralihan (Mei) tetapi rendah pada musim kemarau (Juli). Dominansi tinggi terjadi pada musim kemarau (Juli) tetapi rendah pada musim hujan (Maret) dan peralihan (Mei).Kata kunci: Tangga ikan; Bendung Perjaya; Migrasi ikan; Struktur komunitas ikan; Cyprinida
Senyawa polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH) dalam air laut di Teluk Jakarta
Research on polycyclic aromatic hydrocarbons (pah)s compound at Jakarta Bay seawater were carried out on July 2011. The objectives of this research were to measure the concentration of total polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH) compound, concentration of individual PAH compound, and to identify sources of PAH compound in seawater. PAH compound concentration was measured by Gas Chromatography (Gas Chromatography-Flame Ionization Detector) and sources of polycyclic aromatic hydrocarbons compound were identified by diagnostic ratio analysis. The results show that the concentration of PAH compound in the middle of Jakarta Bay was higher compared to the west and the east. In the west and middle of Jakarta Bay, it is found that 11 PAH types, and 10 types in the east. Individual PAH compound dominated by high moleculer weight of PAH Benzo(a)Anthracene, Chrysene, Benzo(b)Fluoranthene, Benzo(a)Pyrene, dan Indeno(123-cd) Pyrene. The results of PAH compound ratio individual analysis showed that polycyclic aromatic hydrocarbons compound at Jakarta Bay seawater came from oil spill and incomplete combustion mixture of organic material such as wood, grass, fuel oil, and fuel industry combustion activity
Sebaran kandungan CO2 terlarut di perairan pesisir selatan Kepulauan Natuna
Abstract. Biogeochemical cycles in coastal ecosystem is influencing the water quality and it is further affect on productivity and sustainability of coastal waters. Carbondioxide is one of the important parameter in biogeochemical cycles in coastal waters, it is formed as DIC (Dissolved Inorganic Carbon) in water and TOC (Total Organic Carbon) in sediment. The purpose of this research was to determine the distribution concentration of dissolved CO2 in the southern coastal waters of Natuna Islands. Insitu measurement was conducted for some parameters of water qualities both physical (i.e. temperature and turbidity) and chemical (i.e. DO, pH and salinity) parameters. DIC was analyzed in LIPI laboratory using Giggenbach titration method, while TOC in sediment was analyzed in Proling Laboratory, Institut Pertanian Bogor. The water quality of the southern coastal waters of Natuna Islands generally in a good condition according to the Ministry of Environment Decree, Number 51, year 2004. The results showed that spacial distribution of DIC ranged from 1.9 to 2.3 mol/kg, while TOC content of the water was ranged from 0.25 g/kg to 1.19 g/kg. Sediment distributions were dominated by sandy, silty sand, sandy silt and coral reefs, therefore the sediment has potencial as organic carbon storage and indicates a good productivity.Keywords: Carbondioxide; Dissolved Inorganic Carbon; Total Organic Carbon; Natuna IslandsAbstrak. Siklus biogeokimia yang terjadi pada ekosistem pesisir dapat mempengaruhi kualitas perairan dan berfungsi sebagai penunjang keberlanjutan dan kesuburan perairan. Karbondioksida adalah salah satu parameter penting dalam siklus biogeokimia di perairan pesisir baik berupa DIC (Dissolved Inorganic Carbon) di dalam air maupun berupa TOC (Total Organic Carbon) di dalam sedimen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran kandungan CO2 terlarut di perairan pesisir selatan Kepulauan Natuna. Pengukuran insitu dilakukan terhadap beberapa parameter kualitas air baik fisika (temperatur dan kecerahan) maupun kimia (DO, pH dan salinitas). Metode titrasi Giggenbach digunakan untuk analisis DIC di laboratorium LIPI, sedangkan TOC dalam sedimen dianalisis di laboratorium Proling, IPB. Kualitias air di perairan pesisir selatan Kepulauan Natuna secara umum masih berada dalam kondisi baik berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 51 tahun 2004. Hasil penelitian menunjukan sebaran spasial parameter kandungan CO2 dengan kandungan DIC berkisar antara 1,9-2,3 mol/kg, sedangkan kandungan TOC perairan berkisar antara 0,25-1,19 g/kg. Sebaran sedimen didominasi oleh pasir, pasir lanau, lanau pasiran dan terumbu karang yang berpotensi besar menyimpan karbon organik didalam sedimennya dan mengindikasikan kesuburan perairan pesisir selatan Kepulauan Natuna tergolong baik
Kandungan logam berat dalam sedimen di Perairan Teluk Wawobatu, Kendari, Sulawesi Tenggara
Abstract. Examination of heavy metals content in sediment ofWawobatu Bay Waters, Kendari wasconducted in June2011. Sediment sampleswere collectedusing gravitycoreat 5research stations. Heavymetals content weremeasuredusingAtomic Absorption Spectrophotometer (AAS). The purpose of this research wasto examine the heavy metals content in sediment and to predict the quality of sediment based on index analysis approach (geoaccumulation index and pollution load index). The results showed that Pb was rangedfrom 3.704 pp to 21.892 ppm, Cd was 0.784-1,385 ppm, Cu was 3,451-12,193 ppm, and 24.838 ppm, to 69.973 ppm and 37.289 ppm to 72.329 ppm for Zn and Ni, respectively. It is concluded that the content of the theseheavy metals were lower compared to threshold value stated by The Stated Ministry Office for Life Environment 2004 and Ontario sediment Guideline 2008. In general the heavy metals content in Station 4 was higherthanthe other stations. This iscaused by the differences insediment texture in each station, whilestation 4 is situated in estuary and it has a black clayssediment texture. In addition, the content of Ni washigher than the others examined heavy metals.Based on I-geo values that thesediment in this waters is categorized asunpolluted by Pb, Cu, Zn, and Ni (I-geo0), and moderate polluted category by Cd (1I-geo2). In addition,based on PLI values, sediments of Wawobatu bay was unpolluted by Pb, Cu, Zn, Ni and Cd.Keywords: Heavy metals; sediments; Wawobatu Bay; KendariAbstrak. Pengamatan kandungan logam berat dalam sedimen diPerairanTeluk Wawobatu, Kendari telah dilakukan pada bulan Juni 2011. Contoh sedimen diambil dengan menggunakan gravity core pada 5 stasiun penelitian. Kandungan logam berat diukur dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan logam berat dalam sedimen serta memprediksi kualitas sedimen berdasarkan pendekatan analisis indeks (Indeks geoakumulasi dan Indeks Beban Pencemaran).Hasilnya menunjukkan, kandungan Pb berkisar 3,704-21,892 ppm, Cd 0,784-1,385 ppm, Cu 3,451-12,193 ppm, Zn 24,838-69,973 ppm, dan Ni 37,289-72,329 ppm. Kandungan ke lima logam tersebut masih lebih rendah dari nilai ambang batas yang ditetapkan oleh Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup 2010 dan baku mutu sedimen Ontario (Ontario Sediment Guideline) 2008. Kandungan logam berat dalam sedimen di Stasiun 4 lebih tinggi dibandingkan dengan Stasiun lainnya. Hal ini disebabkan oleh perbedaan tekstur sedimen di masing-masing stasiun. Stasiun 4 berada di muara sungai dan mempunyai sedimen dengan tekstur berupa lumpur berwarna hitam.Kandungan logam Ni lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain, hal ini menunjukkan adanya masukan sedimen dari Teluk Kendari dan Teluk Lasolo yang terbawa oleh arus, disamping yang berasal dari darat yang masuk melalui aliran sungai. Berdasarkan nilai indeks geoakumulasi (I-geo)sedimen di perairan ini termasuk kategori tidak tercemar oleh Pb, Cu, Zn, dan Ni (I_geo0), dan tercemar sedang oleh Cd (1I_geo2).Namun berdasarkan nilai indeks beban pencemaran (PLI), sedimen di perairan ini belum tercemar oleh logam berat Pb, Cd, Cu, Zn, dan Ni
Analisis Keberlanjutan Perikanan Ikan Terbang di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan
Abstract. The objective of the present study was to assess fisheries sustainability of flying fish in Takalar, South Sulawesi using RAPFISH analysis which is composed of four dimensions (ecological, economic, social, and technological).The results of sustainability analysis show that sustainability index in Takalar is 30.93, indicates that the status of flying fish commodities was less sustainable. Monte Carlo analysis results revealed that fisheries sustainability index is strongly stable. Leverage analysis results showed that there were 10 sensitive attributes of 15 existing attributes. Ten sensitive attributes should be of concern to policy makers and become policy priorities in the management of flying fish in Takalar.Hence, arrangement and the implementation of policies on sustainable flying fish fishery in Takalar is cricually needed. Keywords : Sustainability status of Flying fish; RAPFISH; Takalar; South SulawesiAbstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menilai status keberlanjutan sumberdaya ikan terbangdi Selat Makassar.Metode yang digunakan adalah metode analisis RAPFISH dengan menggunakan 4 dimensi yaitu ekologi, ekonomi, sosial, dan teknologi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa status keberlanjutan perikanan ikan terbang di Kabupaten Takalardikategorikankurang berkelanjutan karena nilai indeks yang dihasilkan hanya sebesar 30.93. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa dari total 15 atribut yang digunakan, teridentifikasi 10 atribut sensitif yang mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan perikanan ikan terbang yaitu: jangkauan daerah penangkapan, ukuran ikan yang tertangkap, ikan yang tertangkap sebelum dewasa, pasar utama telur, harga jual, sumber modal kerja, pemanfaatan traditional ecological knowledge, sistem ponggawa-sawi, pola kerja, dan perubahan alat tangkap bale-bale. Sedangkan 5 atribut yang tersisa dikategorikan tidak sensitif.Dengan demikian, penyusunan dan penerapan kebijakan yang dapat memperbaiki kondisi keberlanjutan perikanan ikan terbang di Kabupaten Takalar dianggap perlu dilakukan.Kata kunci :Status Keberlanjutan Ikan Terbang; RAPFISH; Kabupaten Takalar; Sulawesi Selata
Kualitas perairan Natuna pada musim transisi
Abstrak. Perairan Natuna, khususnya pada Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) I diprioritaskan untuk mendukung kegiatan perikanan berkelanjutan, sehingga penting diketahui kualitasperairannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kualitas air berdasarkan parameter fisika maupun kimia sebagai basis data terkini mengenai kualitas perairan Natuna pada musim transisi. Penelitian dilakukan di 31 stasiun pada bulan November 2012. Parameter kualitas air yang diukur antara lain kecerahan, derajat keasaman (pH), oksigen terlarut, suhu, salinitas, padatan tersuspensi total atau Total Suspended Solids (TSS) dan nutrien (nitrat, fosfat, silikat). Parameter pH, oksigen terlarut, suhu, dan salinitas diukur secara in-situ menggunaan alat water quality meter (TOA-DKK), kecerahan diukur menggunakan secchi disk, sedangkan sampel air di bawa ke laboratorium untuk dianalisis konsentrasi nutrien dan TSS. Hasil penelitian menunjukkan nilai kisaran kecerahan yaitu 2-20,9 (m), pH 8,09-8,27, oksigen terlarut 6,34-7,96 (mg/l), suhu 29,2-30,6 (C), salinitas 27,9-30,4 (PSU), TSS 3-26 (mg/l), nitrat 0,005-0,078 (mg/l), fosfat 0,005-0,015 (mg/l) dan silikat 0,045-0,704 (mg/l). Hasil penelitian dibandingkan dengan baku mutu air laut untuk biota laut berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. Berdasarkan hasil penelitian, kondisi perairan Natuna masih tergolong baik untuk menunjang kehidupan biota laut.Kata kunci: Parameter kimia; Parameter fisika; Natuna; musim transis
Tutupan karang dan komposisi ikan karang didalam dan luar kawasan konservasi pesisir timur Pulau Weh, Sabang
Abstract. The study was conducted onApril to October 2013 in marine protected areas of Weh Island. The samplings were done at10 siteswhere 6 sitesare situatedinside of conservation areas, while 4 sites are situated outside of conservation areas. The purpose ofthis study was to evaluate coral covers andreef fish composition. Point intersept transect(PIT), underwater visual census (UVC) and fish catches were used to examine coral covers, abudance and biomass of reef fish. The results showed that average of coral covers, abudance and biomass of target fishes inside conservation were 54%, 1,662 ind/ha and 408.78 kh/ha, respectively, while than outside conservation was 33.05%, 1,058 ind/ha and 307.77 kg/ha, respectively. Total of reef fish species and the catch were increased from previous years, for example there are 60 species in 2010 and it was increased to 83 species in 2013. In addition the fishermen catches were increased slightly from 3.03 kg/trip in 2008 to 3.6 kg/trip in 2013. It is concluded that the coral condition and reef fish composition in the conservation are much better compared to outside of conservation areas.Keywords : Marine protect area; reef fish; Weh IslandAbstrak. Penelitian ini dilakukan pada April sampai Oktober 2013 di Kawasan Konservasi Perairan Pesisir Timur Pulau Weh yang terdiri dari 10 stasiun dimana 6 stasiun berada didalam kawasan konservasi dan 4 stasiun diluar kawasan konservasi.Penelitian ini bertujuan untuk menilai persentase tutupan karang dan komposisi ikan karang. Sampling menggunakan transek titik dan underwater visual sensus (UVC) dan hasil tangkapan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kondisi tutupan karang, kelimpahan dan biomassa ikan target dikawasan konservasi yaitu 54%, 1.662 ind/ha dan 408,78 kg/ha, secara berurutan, sedangkan diluar kawasan konservasi adalah 33,05%, 1.058 ind/ha dan 307,77 kg/ha biomassa ikan target.Jumlah jenis ikan karang di kawasan konservasi meningkat, yaitu 60 jenis tahun 2010 menjadi 83 jenis pada tahun 2013 dan rata-rata hasil tangkapan tahun 2008 yaitu 3,03 kg/trip dan tahun 2013 yaitu 3,6 kg/trip. Dapat disimpulkan bahwa kondisi karang dan komposisi jenis dan ukuran ikan lebih baik di dalam kawasan konservasi berbanding diluar kawasan.Kata kunci: Kawasan Konservasi; Ikan karang; Pulau We