DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
Not a member yet
571 research outputs found
Sort by
Keragaman ikan di Danau Cala, Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan
The aim of his studi was to evaluate the fish fauna in Danau Cala in dry season, transition season, and the tide season. The survey was conducted 3 times on July 2013, October 2013 and January 2014 as representative of dry, transition and tide seasons. The fish sampling was conducted by gillnets and fish traps. A total of 35 fish species were recorded during the study; 23 species in dry season, it was dominated by tembakang fish (Helostoma temminckii) from family Helosmatidae, Sepat siam fish(Trichogaster pectoralis) from Belontiidae family, and snakehead fish (Channa striata) of Channidae family. A total of 16 species were recorded on transitional seasons where baung fish (Hemibagrus nemurus) of the family Bagridae, and seluang fish (Rasbora sp) of the family Cyprinidae were predominant. In addition, 15 fish species were recorded on tide season which was dominated by baung fish (Hemibagrus nemurus) and tendon fish (Mystus sabanus) of family Bagrida
Struktur komunitas tiram dagingdi perairan estuaria Kuala Gigieng, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh
Abstract. The oysters (Ostreidae) isone of economically important bivalves for urban community in Kuala Gigieng, Aceh Besar District. Presently, the quality and quantity of oyster is decreased over the years by intensive exploitation and water pollution. Therefore, theobjective of the present study was to analyze population structure and habitat condition of oystersin estuary area of Kuala Gigieng, Aceh Besar District, Aceh Province. The sampling was conducted at three locations during August to September 2013. The sampling locations were determined based on anthropogenic activities. A total of two genus of oysters were recorded during the study i.e Crossastrea with four species (C. gigas, C. iridescens, C. angulata, C. virginica) and and Ostrea edulis with one species (O. edulis). The highest density (39 ind m-2)of oysters were found at undisturbed and less pressure environment. The distribution pattern of Ostreidae in the Kuala Gigieng water was clustered where frequency of occurrence wasin small class size of 24 mm to 37.20 mm with optimum harvested of 32.27 mm. The growth of the oysters was relatively slow as shown by the maximum length (Lmaks) that can only reach 37.91-72.81 mm within 0 to 3.42 years. Generally, oysters population structure and habitat conditions in Kuala Gigieng Water was declined over the yeras. Therefore, it is a crucially needed to plan a management strategy for oysters with regulation on fishing, shellfish farming and waste disposal regulation to ensure the oysters population remains sustain.Keywords : Environment factors; fishing, growth; Kuala Gigieng; Oyster; population structureAbstrak. Tiram daging (Ostreidae) merupakan salah satu kerang yang memiliki nilai ekonomi penting bagi masyarakat Kuala Gigieng. Namun, kualitas dan kuantitas tiram menurun akibat eksploitasi dan pencemaran perairan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur populasi dan kondisi habitat tiram di perairan estuaria Kuala Gigieng Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Sampling dilakukan pada tiga lokasi selama bulan Agustus hingga September 2013.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua genus tiram di perairan Kuala Gigieng yaitu Crassostrea dan Ostrea dengan total 5 spesies (C. gigas, C. iridescens, C. angulata, C. virginica and O. edulis). Kepadatan tertinggi berada pada lokasi yang tekanan penangkapan dan lingkungannya yang rendah. Pola penyebaran tiram daging di Kuala Gigieng cenderung mengelompok. Frekuensi ukuran selang kelas tiram terbanyak yang ditemukan yaitu 24-37,20 mm dengan ukuran layak tangkap yaitu 32,27 mm. Pertumbuhan tiram daging di Kuala Gigieng tergolong lambat, hal ini ditunjukkan dengan panjang maksimal (Lmaks) yang mampu dicapai kerang ini hanya 37,91-72,81 mm dalam waktu 0-3,42 tahun. secara keseluruhan, struktur populasi tiram daging dan kondisi habitat di Kuala Gigieng mulai menurun. Oleh karen itu, diperluka pengaturan pengelolaan sumberdaya tiram dengan melakukan pengaturan penangkapan, budidaya tiram, dan pembuangan limbah agar sumberdaya tiram di Kuala Gigieng tetap lestari.Kata kunci : Faktor lingkungan; Kuala Gigieng; penangkapan; pertumbuhan; struktur populasi; tiram daging
Kajian potensi kawasan mangrove di kawasan pesisir Teluk Pangpang, Banyuwangi
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi ekonomi kawasan mangrove serta potensi luas kawasan yang dapat dijadikan sebagai sempadan pantai. Adapun metode analisis yang digunakan yaitu nilai ekonomi mangrove di bagian barat Teluk Pangpang dengan menggunakan metode effect on production (EOP) dan kesesuaian kawasan sempadan pantai. Berdasarkan hasil kajian, diperoleh utilitas konsumen dari kawasan mangrove adalah sebesar Rp.33.187.626,12. Dengan jumlah nelayan mangrove sekitar 350 orang dan luas daerah penangkapan sekitar +489 Ha, maka nilai ekonomi sumberdaya kawasan mangrove dilihat dari fungsi pemanfaatan langsung adalah sebesar Rp.32.189.744,06 per hektar per tahun. Sedangkan untuk potensi kawasan yang dapat dijadikan sebagai kawasan sempadan pantai dari hasil perhitungan tumpang-tindih (overlay) dapat dihasilkan wilayah yang termasuk dalam kategori sangat sesuai yaitu + 127,5 ha, sedangkan sesuai luas + 257 Ha, dan kurang sesuai seluas + 442,1 ha dan tidak sesuai yaitu + 1.910,1 ha.Abstrak dalam bahasa indonesia, tidak lebih dari 250 kata (garamond fond 11)Kata kunci : Teluk Pangpang; Ekonomi mangrove; Sempadan pantai; Rehabilitas
Potensi dampak pemanasan global terhadap reproduksi crustacea: suatu tinjauan kepustakaan ringkas
The aims of the present paper were to evaluate the potential impacts of climate change on reproduction of crustacea. Climate change has given an impact on water quality, especially temperature changes and pH reduction. The increase in temperature due to climate change was expected affect on reproductive of crustacea including the sex ratio atio, reproductive cycle, gametogenesis and increased enhancement effects of pesticides that can interfere with reproduction of Crustacea. This paper provides the impact of climate changes on the productive of crustacea the important aqauatic organism on the food chains
Karakteristik morfologi teritip spons Indonesia
Abstract. Research on the sponge barnacle of Indonesia is very rare, and this study is aimed to describe the morphological characteristics of sponge barnacles and their specific relationship with their sponge host species. This research was a survey and sponge samples were collected by tearing apart any available sponge found in three sampling locations, typically coral reef areas of Weh Island, Seribu Islands, and Karimunjawa Islands. Sponge barnacles contained in sponge samples were observed using stereo microscope and scanning electron microscope, and species identification was determined based on the morphological description of Darwin (1854), Pilsbry (1916), Martin dan Davis (2001), and Kolbasov (1993). Four species of sponge barnacles were found consisting of Acasta cyathus, Acasta fenestrata, Euacasta dofleini, and Membranobalanus longirostrum. Specific relationships of barnacle and its sponge host were found between Euacasta dofleini and Haliclona sp. and between Membranobalanus longirostrum and Suberites sp. respectively. Keywords : sponge; barnacle; acasta; membranobalanus; biodiversityAbstrak. Penelitian teritip spons Indonesia jarang dilakukan sejak kelompok ini pertama kali dideskripsikan hingga saat ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji karakter morfologi teritip spons Indonesia dan untuk mengkaji hubungan spesies spesifik teritip terhadap spons. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilaksanakan sejak Oktober sampai Desember 2012 di tiga lokasi yaitu Pulau Weh, Kepulauan Seribu, dan Kepulauan Karimunjawa. Metode penelitian menggunakan metode survei dan titik pengambilan sampel dipilih berdasarkan keberadaan spons. Sampel diamati menggunakan mikroskop stereo dan mikroskop elektron kemudian diidentifikasi berdasarkan deskripsi Darwin (1854), Pilsbry (1916), Martin dan Davis (2001), dan Kolbasov (1993). Hasil penelitian didapatkan empat spesies teritip spons yaitu Acasta cyathus, A. fenestrata, Euacasta dofleini, dan Membranobalanus longirostrum. Terdapat hubungan spesies spesifik antara teritip dan spons inang yaitu antara teritip E. dofleini dan spons Haliclona sp. dan antara teritip M. longirostrum dan spons Suberites sp. Kata kunci : teritip; spons; acasta; membranobalanus; biodiversita
Kualitas perairan Sungai Cileungsi bagian hulu berdasarkan kondisi fisik-kimia
Abstrak.Penelitian ini bertujuan menentukan status mutu kualitas air di bagian hulu Sungai Cileungsi serta membandingkan beberapa parameter kualitas air dengan baku mutu kelas II berdasarkan PP RI No.82 Tahun 2001. Penelitian dilakukan bulan September, Oktober dan November 2013 pada empat stasiun pengambilan contoh di bagian hulu Sungai Cileungsi. Data hasil penelitian dianalisis mengggunakan Indeks Kualitas Air-NSF serta secara deskriptif dibandingkan dengan baku mutu kelas II menurut PP RI. No.82 tahun 2001. Hasil penelitian (Suhu air: 23 29,3oC; pH: 6; Oksigen Terlarut: 6,23 - 6,88 mg/L; DHL: 139,6 - 186,3 S/cm; Kekeruhan: 4,77 - 41,8 mg/L; TDS: 70 - 94 mg/L; TP: 0,026 - 0,099 mg/L; Ortofosfat 0,002 mg/L; Nitrat: 0,36 - 0,959 mg/L) menunjukkan kualitas perairan yang masih memenuhi baku mutu. Sedangkan untuk parameter (BOD5: 3,97 - 5,7 mg/L; COD: 14,68 - 48,06 mg/L) menunjukkan nilai yang telah melampaui ambang batas baku mutu kelas II PP RI. No.82 tahun 2001. Namun, secara keseluruhan hasil analisis dengan menggunakan IKA-NSF menunjukkan bahwa kualitas air di semua stasiun memiliki kualitas perairan yang baik dengan rentang skor 78 - 83.Kata kunci: Sungai Cileungsi; Kualitas Air; Pencemara
Pengelolaan mangrove berbasis masyarakat di Pantai Timur Surabaya
This aims of the study was to descript and evaluate the mangrove management strategy by local community (local wisdom) in East Coast Surabaya.. The survey method was utilized in this study using the stakeholder analysis and AWOT analysis. Primary data were collected through observation on object of study and by in-depth interviews, while secondary data were obtained through the literature review and reports. The results showed there were 50 stakeholders involved in the management of Pamurbaya mangrove, which was divided into three groups i.e. government, private and community. Local wisdom priority was mangrove ecotourism. The strategy for development of mangrove ecotourism was by increasing the institutional capacity and creativity, innovation of eco-tourism workers, and improvement of cooperation with related agencies
Karakteristik pantai Taman Nasional Wakatobi dalam mendukung potensi wisata bahari: Studi kasus Pulau Wangiwangi
Abstract. Wakatobi Regency with its capital Wangiwangi Island has a great potential of natural resources, i.e. sloping white sandy beach which strategically stretched out from north to south. The purpose of this research is to identify beach type, to make a map of beach type in Wangiwangi island and to identify potential of object tourism. The metodology of this research is using field observation and the Geographical Information System (GIS). The field obervation was used to measure the beachs width, length and slope. The tools used in research are geological compass and applicable measurement equipment. The result of field obervation was used to make spasial analysis to get Map of beach characteristic. Processing of beach map characteristic using ARC GIS 9.3. The lithology of Wangiwangi island beach is limestone, its morphology is of high relief and low relief and there are three types of its characteristic, (they are); sandy beach, sandy beach with fragment coral and cliff beach. The locations of sandy beach are at waha and cemara beach. The location of Sandy beach with fragment coral are at Wapia beach, in Patuno island, in Matahora island and for cliff beach are at Weki beach, in Kapotan island, at Buni beach and Batutobengko beach. The sandy beach and sandy beach with fragment coral are suitable for coastal tourism such as swimming, sunbathing and fishing.Keywords: Geographical Information System (GIS); beach characteristic; Wangiwangi Island; coastal tourism.Abstrak. Kabupaten Wakatobi dengan pusat pemerintahan di Pulau Wangiwangi memiliki sumberdaya alam yang sangat potensial dengan pantainya yang landai dan berpasir putih, membujur dari utara ke selatan dan posisinya sangat strategis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan jenis pantai di Pulau Wangiwangi dan memetakan kondisi pantai di Pulau Wangiwangi serta mengidentifikasikan potensi wisatanya . Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi langsung dan analisis spasial. Pengamatan observasi langsung diterapkan untuk mengukur lebar pantai, panjang pantai dan berm menggunakan alat ukur meteran, sedangkan kemiringan pantai dengan kompas geologi. Hasil dari pengamatan pantai digunakan untuk membuat analisis spasial sehingga diperoleh Peta jenis karakteristik pantai. Proses pengolahan mengunakan ARC GIS 9,3. Kondisi pantai Pulau Wangiwangi berdasarkan geologi (litologi penyusun) didominasi oleh Batu Gamping Koral (Limestone), morfologi terdiri atas Relief Tinggi dan Relief Sedang sedangkan karakteristik pantai Pulau Wang-Wangi terdiri dari Pantai berpasir,. Pantai berpasir bercampur fragmen karang dan. Pantai bertebing karang. Lokasi Pantai Berpasir di Pantai Waha dan Pantai Cemara. Pantai Berpasir bercampur fragmen karang berada di Pantai Wapia, Pantai Patuno, Pulau Matahora, sedangkan Pantai bertebing karang tersebar di Pantai Weki, Pulau Kapotan, Bungi dan Batutobengko. Potensi wisata pantai dapat diusulkan pada jenis pantai berpasir dan pantai berpasir bercampur fragmen karang. Objek wisata antara lain berenang, berjemur dan memancing
Pemodelan hidrodinamika arus pasang surut Teluk Mayalibit Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat
Abstract. Mayalibit Bay has an unique topography due to it has only one way long canal , narrow, and devious that connecting to open sea. Study on the water mass dynamics concerning to elevation and tidal current in Mayalibit Bay was conducted by constructing the 2D numerical hydrodynamics model which was simulated for 30 days to describe the pattern of elevation and water current which was resulted from tidal processes. The 2D hydrodynamic equation was employed by finite difference methods. Validation result showed that the model has a good performance and it was relevance to in-situ measurement. The pattern of elevation and water current from many tide periods had been spatially analyzed. Generally, simulation showed that there was a significant difference between the elevation and water currents pattern inside and outside the bay during high and low tides.. Elevation and water current have higher value during highg tide (maximum 0.35 m and 0.2 m/s) than low tide period (maximum 0.14 m and 0.1 m/s ) with the velocity of water current was faster at ebb-tide or low tide. The water current in entry canal has higher value than in any part of the bay which themaximum velocity was varied from 1.6 m/s (flood-tide) to 3.7 m/s (ebb-tide). The direction of current during high tide flows was dominantly to the West-Northwest or enters the bay by following its geometric and to the East-Southeast or exits from the bay during the ebb-tidesKeywords : Tidal; quasi-enclosed waters; numerical models; finite difference Abstrak. Teluk memiliki topografi yang unik karena hanya memiliki satu celah atau jalur panjang, sempit, dan berkelok yang menghubungkannya dengan laut terbuka. Kajian dinamika massa air terkait elevasi dan arus pasang surut di Teluk Mayalibit telah dilakukan dengan membangun sebuah model numerik hidrodinamika 2D yang disimulasi selama 30 hari untuk menggambarkan pola elevasi dan arus akibat pasang surut. Persamaan hidrodinamika 2D diselesaikan dengan metode beda hingga. Hasil validasi menunjukkan bahwa model telah memiliki performa yang cukup baik dan relevan bila diverifikasi dengan hasil pengukuran di lapangan. Pola elevasi dan arus dalam beberapa periode pasang surut dianalisis secara spasial. Hasil simulasi menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara elevasi dan pola arus di dalam dan di luar teluk selama periode pasang purnama dan pasang perbani. Elevasi dan arus memiliki nilai yang lebih tinggi pada saat pasang purnama (maksimum 0,35 m dan 0,2 m/detik) dibandingkan dengan pada saat pasang perbani (maksimum 0,14 m dan 0,1 m/detik) dengan kecepatan arus yang lebih tinggi pada saat surut. Arus di jalur masuk teluk memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan bagian manapun di dalam teluk, dimana kecepatan maksimumnya bisa mencapai 1,6 m/detik (pasang) sampai 3,7 m/detik (surut). Arah arus dominan di dalam teluk pada saat pasang adalah Barat - Barat Daya atau masuk ke dalam teluk mengikuti geometrinya dan ke Timur-Tenggara atau ke luar teluk pada saat surut
Fitoremediasi limbah budidaya sidat menggunakan filamentous algae (Spirogyra sp.)
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dari filamentous algae (Spirogyra sp.) sebagai agen bioremediasi dalam mereduksi kandungan bahan organik limbah budidaya sidat. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan perlakuan perbedaan dosis limbah (25 %, 50 %, 75 %, 100%). Wadah penelitian berupa akuarium resirkulasi menggunakan sistem carrousel. Dilakukan pengukuran secara rutin terhadap beberapa parameter kualitas air serta perubahan bobot Spirogyra sp. selama dua minggu retensi. Diperoleh hasil bahwa penurunan konsentrasi bahan organik menggunakan Spirogyra sp. berlangsung efektif hingga hari keenam. Spirogyra sp. mampu mentolelir limbah budidaya sidat pada dosis limbah 25% dan 50%. Spirogyra sp. pada perlakuan dosis limbah 50% memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menurunkan bahan organik limbah budidaya sidat.Kata kunci : Bahan organik; Limbah budidaya sidat; Spirogyra sp