DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
Not a member yet
571 research outputs found
Sort by
Pengaruh konsentrasi sublethal endosulfan dan glifosat terhadap konsumsi oksigen kerang darah (anadara granosa)
Abstract. The aims of the study were: (1) to test oxygen consumption of Anadara granosa under sub-lethal concentrations of endosulfan, (2) oxygen consumption under sub-lethal concentrations of glifosat and (3) oxygen consumption under mixture of endosulfan and glifosat. Complete randomlizeddesign were applied on this experiment. Initially, the oxygen consumption was standardised against animals dry flesh weight. Results showed that dry flesh weight afffected significantly the oxygen consumption. The relationship between the two variables was formulated as y = 0.217 + 0.243x. Based on teh relationship, the oxygen consumption was reported as mg/l/hr of 1g standard animal. Exposure of blood cockles to various sub-lethal concentrations of pesticides showed that the oxygen consumption rates reduced as the concentrations increased. For endosulfan, the oxygen consumption rate decreased from (0.5325 0.1556)mg/l/hr at 0.05 ppm to (0.2282 0.1552 ) mg/l/hr at 0.5 ppm. Increasing glifosat from 50 ppm to 200 ppm reduced the oxygen consumption from (0.3111 0.1811)to (0.2449 0.2548)mg/l/hr. Accordingly, the oxygen consumption decreased from (0.3376 0.972)mg/l/hr to (0,2841 0.2057)mg/l/hr when concentrations of mixture endosulfan + glifosat mixture increased from 0.005 + 50 ppm to 5 + 200 ppm.Keywords: pesticide; endosulfan; glyphosate; Anadara granosa; bioassay; oxygen consumptionAbstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi sublethal endosulfan, glifosat, dan secara bersama-sama terhadap konsumsi oksigen kerang darah (Anadara granosa). Metode eksperimental dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) diterapkan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa berat tubuh mempengaruhi laju konsumsi oksigen dengan hubungan y = 0,217+0,243 x, sehingga hasil pengukuran laju konsumsi oksigen dinyatakan sebagai mg/l/jam per 1 gram berat kering kerang standar. Pemaparan terhadap konsentrasi sublethal menunjukkan bahwa laju konsumsi oksigen menurun seiring dengan meningkatnya konsentrasi masing masing pestisida maupun campurannya. Untuk endosulfan, laju konsumsi oksigen menurun dari (0,5325 0,1556) mg/l/jam pada 0,05 ppm menjadi (0,2282 0,1552) mg/l/jam pada 5 ppm. Untuk glifosat, laju konsumsi oksigen menurun dari (0,3111 0,1811) mg/l/jam pada 50 ppm menjadi (0,2449 0,2548) pada 200 ppm, sedangkan untuk campuran endosulfan + glifosat, laju konsumsi oksigen menurun dari (0,3376 0,972) mg/l/jam pada 0,005 + 50 ppm menjadi (0,2841 0,2057) mg/l/jam pada 5 + 200 ppm. Kisaran konsentrasi sublethal ini sangat mempengaruhi konsumsi oksigen kerang darah (Anadara granosa) yaitu laju konsumsi oksigen akan menurun jika konsentrasi endosulfan dan glifosat ditingkatkan.Kata kunci: pestisida; endosulfan; glifosat; Anadara granosa; bioassay; konsumsi oksige
Karakteristik dan kandungan mineral pasir pantai Lhok Mee, Beureunut dan Leungah, Kabupaten Aceh Besar
Abstract. The objective of this research was to determine the characteristics and mineral content of coastal sand from Lhokmee, Beureunut, and Leungah Aceh Besar District. The sand analysis was conducted at Material Laboratory of Mathematics and Natural Sciences Faculty, Syiah Kuala University from March to April, 2014. Samples were collected using purpossive sampling method. The observed physical characteristics of this research were sand color, shape and particle size. The mineral content was analysed using X-Ray Diffraction (XRD) and Joint Committee for Powder Diffraction Standard (JCPDS) program. The result showed that Lhok Mee coastal sand was physically characterized as white, sub-angular rounded shape and 0.21 mm of size, while Beureunut coastal sand was light brown, rounded-well rounded shape and 0.19 mm of size, then Leungah coastal sand was black, angular-well rounded shape and 0.13 mm of size. Based on mineral content showed that Lhok Mee, Beureunut, and Leungah coastal sand were dominated by SiO3, SO3 and Fe3O4, respectively. All identified minerals at all stations were classified as volcanic minerals of lithogenous sediment. Keywords: Beach sands; Color difference; Mineral content; Shape; Particle size
Perbandingan jumlah bak budidaya cacing sutra (tubificidae) dengan memanfaatkan limbah budidaya ikan lele (clarias sp) sistem intensif terhadap kualitas air ikan lele dan produksi cacing sutra
Abstract. This objective of the research was to compare the number of blood worm production using catfish cultivation waste, while the water from catfish cultivation flowed to blood worm cultivation with recirculate system. This research were used 3 treatments and 2 replications, the treatment was 2, 4 and 6 containers of blood worm. The results showed that the highest water quality and biomass was 6 containers treatment with 1.4 kg m-2 weight gain.Keywords: Catfish; silk worm; waste intensive farming.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa perbandingan jumlah bak budidaya cacing sutra dengan memanfaatkan limbah budidaya lele sistem intensif terhadap kualitas air ikan lele dan produksi cacing sutra, dimana air dari media budidaya ikan dialirkan ke media pemeliharaan cacing sutra dengan sistem resirkulasi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan dan 2 ulangan, perlakuan yaitu Pemanfaatan 2 bak, 4 bak dan 6 bak cacing sutra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbaikan kualitas air budidaya lele dan produksi bobot biomassa tertinggi pada perlakuan 6 bak dengan pertumbuhan berat sebesar 1,4 Kg m-2.Kata kunci: ikan lele; cacing sutra; limbah lel
Pemanfaatan ekstrak daun inai (Lawsonia inermis l.) sebagai bakterisida terhadap Aeromonas hydrophila yang menginfeksi ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus)
Abstract. The objective of this research was to find out the effectiveness of henna leaf extract (Lawsonia inermis L.) on A. hydrophila in vitro and its effect on the survival rate of Clarias gariepinus that infected by those bacterias in vivo. The research was conducted at chemistry laboratory of Teacher Training and Education Faculty, Syiah Kuala University and at Microbiology laboratory, Brackishwater aquaculture Department Center, Ujong Batee on Avril to September, 2015. The research involved in vitro test with the inhibition zone as measured parameter and in vivo test with the survival rate value as measured parameter. The treated concentrations were 1, 2, 3, 4 and 5% of extract. The result of in vitro test showed that henna leaf extract was effective against A. hydrophila with the inhibition zone for 1, 2, 3, 4, and 5% extract were 5.45; 5.7; 6.5; 7.5; and 9.6 mm, respectively. The result of ANOVA test showed that henna leaf extract has a significant effect on the survival rate of catfish (P0.05). The best survival rate was obtained at 4% of extract concentration. Keywords: Aeromonas hydrophila; henna leaf extract; catfishAbstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun inai (Lawsonia inermis L.) terhadap A. hydrophila secara in vitro dan pengaruhnya secara in vivo terhadap kelangsungan hidup ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) yang terinfeksi bakteri ini dengan cara perendaman. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium kimia, FKIP Unsyiah dan Laboratorium Mikrobiologi Balai Budidaya Perikanan Air Payau (BBAP) Ujong Batee pada dari bulan April hingga bulan September 2015. Penelitian ini meliputi uji in vitro dengan parameter uji berupa zona hambat ekstrak terhadap bakteri dan uji in vivo dengan parameter uji berupa nilai kelangsungan hidup ikan lele sangkuriang pasca perlakuan dengan ekstrak. Konsentrasi perlakuan yang dilakukan adalah 1, 2, 3, 4, dan 5%. Hasil uji in vitro menunjukkan bahwa ekstrak daun inai (Lawsonia inermis L.) terbukti efektif terhadap Aeromonas hydrophila dengan nilai zona hambat secara berturut-turut terhadap konsentrasi 1, 2, 3, 4 dan 5% adalah 5,45; 5,7; 6,5; 7,5; dan 9,6 mm. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa ekstrak daun inai berpengaruh nyata (P0,05) terhadap kelangsungan hidup ikan lele sangkuriang. Tingkat kelangsungan hidup ikan terbaik diperoleh pada konsentrasi ekstrak 4%.Kata kunci : Aeromonas hydrophila; ekstrak daun inai; ikan lele sangkurian
Pemetaan daerah perikanan lampu (light fishing) menggunakan data viirs day-night band di perairan Pandeglang Provinsi Banten
Abstract. Light fishing in Pandeglang Banten has significantly developed in number of fishing fleet and using of lamp technology. The fishing ground of light fishing fleet dispersed from Labuan until Taman Nasional Ujung Kulon. The aim of this research is to map the fishing ground of light fishing using VIIRS-DNB data at August to November 2014. This research use descriptive analysis with case study on fishing ground of ligt fishing using VIIRS-DNB data in Pandeglang waters. The results show the fishing ground of light fishing at August to November spread from Lada Bay, Lesung Cape, Sumur District, selamat Datang Bay, until Panaitan Strait. In November, the numbers of fishing fleet have significantly decreased. The loft ofwind velocity in Sunda Strait caused big waves in Pandeglang waters. Moreover, light fishing fleet also move from coastal water to the sea to find the ideal depth.The fluctuation of fishing ground at August to November 2014 influenced by monsoon circulation that effectto current and water masses circulation there. It cause the changing of surface water fertility and influent to spreading of pelagic fish fishing ground as a main target of light fishing fleets in Pandeglang waters.Keyword: fishing ground; light fishing; Pandeglang; VIIRS-DNB Abstrak. Perikanan lampu di perairan Pandeglang Banten telah mengalami perkembangan yang signifikan baik dalam jumlah armada maupun teknologi lampu yang digunakan. Daerah penangkapan armada perikanan lampu tersebar mulai dari perairan Labuan hingga Taman Nasional Ujung Kulon. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan daerah perikanan lampu di perairan Pandeglang menggunakan data VIIRS-DNB yang mampu mendeteksi radiasi yang dihasilkan oleh lampu yang digunakan untuk menarik perhatian ikan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan studi kasus berupa sebaran daerah perikanan lampu di perairan Pandeglang menggunakan data VIIRS-DNB. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada Bulan Agustus hingga November, daerah perikanan lampu tersebar mulai dari perairan Teluk Lada, Tanjung Lesung, Sumur, Teluk Selamat Datang hingga Selat Panaitan. Pada Bulan November, jumlah armada perikanan lampu mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini dipengaruhi oleh perubahan kecepatan angin di perairan Selat Sunda yang berakibat pada tingginya gelombang di perairan Pandeglang. Selain itu, armada perikanan lampu juga tersebar lebih ke arah lautan untuk mencari kedalaman yang lebih tinggi. Perubahan daerah penangkapan perikanan lampu sepanjang Bulan Agustus-November 2014 sebagian besar dipengaruhi oleh angin muson yang berdampak pada perubahan arus massa air di Selat Sunda. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan kesuburan perairan yang berpengaruh terhadap daerah penyebaran ikan pelagis yang menjadi sasaran utama penangkapan bagi armada perikanan lampu di peraran Pandeglang.Kata kunci: daerah penangkapan ikan; perikanan lampu; Pandeglang; VIIRS-DN
Struktur komunitas ekosistem mangrove di kawasan pesisir Sidangoli Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara
Abstract. Mangroves is important ecosystem in coastal. However, multiple destructive activities to cause reduced mangrove area. The information about area and criteria of mangrove in Sidangoli coastal area, had been doing, however information ecology mangrove unexplored. This information is required to plan better conservation strategy of mangrove. The study was conducted to infer the ecology of mangrove in the Sidangoli coastal of west halmahera regency, North Mollucas. A total of location diveded by four and perform in November 2014. Mangrove sampling, done by the "spot check". The results showed that mangrove of thickness ranging from 145-750 meters and founded 11 specieses from 5 families of mangroves. The ecology analysis showed that frequency and density of mangrove founded station three. Whereas persent cover contained station four and value sicnificant analysis in all station. The mangrove vegetation analysis contained the high frequency, density and value sicnificant is Rhizopora stylosa and high persent cover Sonneratia alba.the overall observation of mangrove explaided that mangrove ecosystem enter in low/damage criteria.Keywords: Mangroves; Rhizopora stylosa; spot check; Sonneratia albaAbstrak. Mangrove merupakan ekosistem penting di kawasan pesisir. Tetapi, berbagai macam aktivitas yang bersifat destruktif telah menurunkan luas penyebaran lahan mangrove. Informasi tentang luas dan kriteria mangrove di kawasan pesisir Sidangoli, Kabupaten Halmahera Barat telah dilakukan. Akan tetapi informasi tentang nilai ekologi mangrove belum dilaporkan, sehingga perlu adanya kajian tentang anailsis ekologi mangrove. Informasi nilai ekologi dapat dijadikan sebagai data untuk dijadikan sebagi acuan dalam merencanakan strategi konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai ekologi mangrove dikawasan pesisir Sidangoli Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. Lokasi penelitian dibagi menjadi empat dan penelitian dilaksanakan pada November 2014. Pengambilan contoh mangrove, di lakukan dengan menggunakan metode spot chek. Hasil penelitian menunjukkan ketebalan mangrove berkisar 145-750 meter dan diperoleh sebanyak 11 jenis dari 5 famili mangrove. Analisis ekologi memperlihatkan bahwa nilai total kerapatan dan frekuensi tertinggi ditemukan pada stasiun tiga. Sedangkan tutupan tertinggi pada stasiun empat serta nilai penting pada setiap stasiun adalah 300. Analisis vegetasi mangrove disetiap stasiun diperoleh kerapatan, frekuensi dan nilai penting jenis tertinggi adalah Rhizopora stylosa serta tutupan jenis tertinggi adalah Sonneratia alba. Total pangamatan jenis mangrove dan jumlah yang tersedia, menggambarkan kondisi ekosistem mangrove di pesisir Sidangoli masuk dalam kategori rendah/rusak
Studi penentuan lokasi budidaya kerapu menggunakan keramba jaring apung di perairan Timur Simeulue
Abstract. Groupers are of considerable economic value in southeast Asia. Cage culture is considered as the proper technology to maximize the sustainable biomass production in a unit area. This research assesses a site selection approach for net-cage grouper mariculture in the eastern coastal area of Simeulue Island, namely Sambai, Kuta Batu and Pulau Bengkalak. Data collection focused on 7 biophysical site capability parameters i.e.: current flow, temperature, water clarity, bottom depth, pH, salinity, dissolved oxygen. Suitability analysis identified all stations was categorized as a very appropriate and appropriate conditions for the fish cage location.Keywords: grouper; mariculture; fish cage; SimeulueAbstrak. Kerapu merupakan komoditas unggulan dan memiliki permintaan pasar yang tinggi di daerah Asia Tenggara. Keramba jaring apung (KJA) dianggap sebagai teknologi yang tepat untuk meningkatkan biomassa budidaya di suatu wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesesuaian lokasi penempatan KJA di wilayah pesisir timur Pulau Simeulue yaitu Sambai, Kuta Batu dan Pulau Bengkalak. Kajian data difokuskan pada tujuh parameter biofisik yaitu arus, suhu, kecerahan, kedalaman perairan, pH, salinitas, dan oksigen terlarut. Analisis kelayakan menunjukkan seluruh stasiun dikategorikan sebagai layak dan sangat layak untuk lokasi budidaya KJA.Kata kunci: Kerapu; marikultur; KJA; Simeulu
Sebaran nutrien, intensitas cahaya, klorofil-a dan kualitas air di Selat Badung, Bali pada Monsun Timur
Abstract. Badung Strait generally have nutrient distribution patterns influenced by Sea-atmosphere interactions. The waters of the Lombok Strait is also branching traversed by Indonesian Throughflow (ARLINDO), which will be followed by Indonesian Throughflow variability of sea surface temperature changes. The distribution of nutrients is closely related to light intensity to produce primary productivity. The purpose of this research was conducted to determine the distribution of nutrient concentration and light intensity and chlorophyll-a in Badung Strait during Southeast Monsoon (June 2014). The variables investigated are the concentration of nitrate, phosphate, ammonia, light intensity and chlorophyll-a. The results showed the average value of the concentration of nitrate, phosphate and ammonia at 0.01106 mg/L, 0.01 mg/L and 0.13475 mg/L. The average value of the light intensity at 272.8775 W/m2 and the average value of chlorophyll-a concentration of 0.40925 mg/L. The visualitation images show that there is homogeneus pattern for the phosphate concertration and konvergen patterns for the other paramaters. It is cause of physical parameters influence when obtain the waters sample. Based on the result, it can be conclude that the waters productivity of Badung Strait, Bali is in good condition. The role of other water quality parameters such as temperature, salinity and dissolved oxygen also supports fertility waters.Keywords: nutrients; light intensity; chlorophyll-a; water quality; Badung StraitAbstrak. Perairan Selat Badung secara umum merupakan perairan yang memiliki pola sebaran nutrien yang dipengaruhi oleh interaksi Laut-Atmosfer. Perairan tersebut juga merupakan percabangan Selat Lombok yang dilalui oleh ARLINDO (Arus Lintas Indonesia), dimana variabilitas ARLINDO akan diikuti oleh perubahan suhu permukaan laut. Sebaran nutrien tersebut berkaitan erat dengan intensitas cahaya untuk menghasilkan produktivitas primer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran konsentrasi nutrien, intensitas cahaya dan klorofil-a di perairan Selat Badung pada Monsun Timur (Juni 2014). Variabel yang diamati berupa konsentrasi nitrat, fosfat, ammonia, intensitas cahaya dan klorofil-a. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata konsentrasi nitrat, fosfat dan ammonia sebesar 0,01106 mg/L, 0,01 mg/L dan 0,13475 mg/L. Nilai rata-rata intensitas cahaya sebesar 272,8775 W/m2 dan nilai rata-rata konsentrasi klorofil-a sebesar 0,40925 mg/L. Hasil visualisasi menunjukkan adanya pola yang homogen untuk konsentrasi fosfat dan pola konvergen untuk parameter lainnya. Hal ini diduga karena adanya pengaruh parameter fisika pada saat pengambilan sampel air. Namun secara umum, berdasarkan data yang diperoleh dapat dikatakan bahwa tingkat kesuburan perairan Selat Badung, Bali dalam kondisi yang baik. Peranan parameter kualitas perairan lainnya seperti suhu, salinitas dan oksigen terlarut juga mendukung tingkat kesuburan perairan.Kata kunci: nutrient; intensitas cahaya; klorofil-a; kualitas air; Selat Badun
Kondisi terumbu karang dan makro invertebrata di Perairan Ujong Pancu, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar
Abstract. The aimof this study was to evaluate the condition of coral reefs and macro invertebrates at Ujong Pancu, Aceh Besar District The study was carried out from April to May 152012. Coral coverage was observed by using Point Intercept Trancect method and Visual census technique for macro invertebrates. There was 50% of hard coral coverage recorded in three observation locations. The predominant genus was Acropora with a percentage of more than 50% at all locations. The abundance of macro invertebrateswas ranged from 3.75 to 7.75 ind/transect. The most abundant macro invertebrates was Diadema setosum with percentage of more than 40% at each location. The diversity index (H) of coral reefs and macro invertebrates were ranged from 0.74 - 1.36 and 0.98 1.5, respectively. In general, the condition of coral reefs and macro invertebrates in Ujong Pancu was in good condition. Keywords: Coral reefs; Macro invertebrates; Ujong Pancu.Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang dan makro invertebrata di Ujong Pancu. Penelitian ini dilakukan pada bulan April hingga Mei 2012. Tutupan karang diamati dengan menggunakan Metode Point Intercept Transect (PIT) dan makro invertebrata diamati dengan menggunakan metode TeknikVisual Sensus. Hasil penelitian ditemukan bahwa lebih dari 50% tutupan karang keras pada ketiga stasiun pengamatan. Genus yang paling mendominasi pada ketiga stasiun adalah Acropora dengan persentase lebih dari 20% pada setiap stasiun pengamatan. Kelimpahan makro avertebrata berkisar antara 3,75 hingga 7,75 ind/transek. Kelimpahan makro invertebrata terbesar adalah Diadema setosum dengan persentase lebih dari 40% pada setiap stasiun pengamatan. Indeks keanekaragaman (H) karang dan makro investebrata berkisar antara 0,74 - 1.36 dan 0,98 1,5 secara berurutan. Secara umum berdasarkan indeks yang digunakan, kondisi terumbu karang dan makro invertebrata di Ujong Pancu tergolong baik.Kata kunci : Terumbu Karang; Makro avertebrata; Ujong Pancu
Kajian suhu permukaan laut mengunakan data satelit Aqua-MODIS di perairan Jayapura, Papua
Abstract. Information about sea surface temperature (SST) very important role in ocean and fisheries study. Aqua-MODIS satellite data very important to monitoring SST periodically exchange. The aim or this study to analyze temporal distribution and spatial SST in Jayapura waters of Papua Province. SST data from Aqua-MODIS satellite used on June 2011 to May 2015 period. Descriptive analysis on this research consist of temporary SST analysis base on monthly and seasonal fluctuating of SST in time series graph, and spatial analyze base on color degradation visualization on monthly average SST distribution map. The result show that temporal pattern variations in Jayapura waters experience decreasing in four years of monthly SST. Variations of SST in Jayapura waters are 25C-31C with dominant SST revolve 27C-29C. The maximum SST value in November (29.25C) and the minimum in March (27.86C). Variability of SST value in Jayapura waters be affected by moonson. SST value on east monsoon and intermediate II tend more higher than SST on west monsoon and intermediate I. Spatial distribution of SST in offshore tends highly than spatial distributions near from coastal.Keywords: SST; Aqua-MODIS; Variability Temporal and Spatial; Jayapura WatersAbstrak. Informasi suhu permukaan laut (SPL) dalam bidang kelautan dan perikanan memiliki peran yang sangat penting. Data satelit Aqua-MODIS sangat baik untuk pemantauan perubahan SPL secara berkala. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis sebaran temporal dan spasial SPL di perairan Jayapura, Papua. Data yang digunakan adalah data SPL dari sensor satelit Aqua-MODIS periode Juni 2011 sampai Mei 2015. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif yang meliputi analisis SPL secara temporal berdasarkan fluktuasi SPL bulanan dan musiman dalam bentuk grafik deret waktu, dan analisis spasial berdasarkan visualisasi degradasi warna pada peta sebaran rata-rata SPL bulanan. Hasil penelitian menunjukan bahwa variasi temporal SPL bulanan di perairan Jayapura selama empat tahun cenderung mengalami penurunan. Nilai SPL di perairan Jayapura bervariasi antara 25C-31C dengan SPL dominan berkisar antara 27C-29C. Nilai SPL maksimum terjadi pada bulan November (29.25C) dan minimum pada bulan Maret (27.86C). Variabilitas nilai SPL di perairan Jayapura dipengaruhi oleh musim, SPL pada musim timur dan musim peralihan II cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan SPL pada musim barat dan musim peralihan I. Sebaran spasial SPL di perairan lepas pantai cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan SPL di perairan dekat pesisir.Kata kunci : SPL; Aqua-MODIS; Variabilitas Temporal dan Spasial; Perairan Jayapur