DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
Not a member yet
571 research outputs found
Sort by
Hubungan panjang berat dan faktor kondisi ikan kerapu Famili Serranidae yang tertangkap di Perairan Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh
The objective of the research was to evaluate the length-weight relationships and condition factors of five dominant species of groupers harvested from Pulo Aceh waters, Aceh Besar District, Aceh Province, Indonesia. The target species are Plectropomus leopardus, P. laevis, P. maculatus, Epinephelus fuscoguttatus and E. bleekeri. The samples were collected from fish landing in Ulee Lheue and Ujung Pancu from April to July 2016. A total of 40 samples of each species were measured for total length (mm) and weighed for body weight (g). The data were calculated for length weight relationship using an Allometrict Linear Model (LAM). The results showed that Plectropomus leopardus, P. laevis, Epinephelus fuscoguttatus and E. bleekeri have the b values lower than 3 indicate a negative allometric growth pattern, while P. maculatus has the b value higher than 3 indicate a positive allometric growth pattern. The highest condition factor was found in P. leopardus and P. laevis and the lower condition factor was recorded in E. fuscoguttatus. However, in general the relative weight condition factor was above 100, indicating a balance of prey and predators densities.Telah dilakukan penelitian tentang hubungan panjang berat dan faktor kondisi lima spesies ikan kerapu Famili Serranidae yang dominan tertangkap di Perairan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pertumbuhan dan faktor kondisi lima spesies ikan dari Famili Serranidae dari perairan Pulo Aceh, yaitu; Plectropomus leopardus, P. laevis, P. maculatus, Epinephelus fuscoguttatus dan E. bleekeri. Sampel ikan adalah hasil tangkapan nelayan yang didaratkan di Ulee Lheue dan Ujung Pancu, sampling dilakukan pada April sampai Juli 2016. Hasil pengukuran panjang dan berat terhadap 40 ekor ikan pada masing-masing spesies dianalisis dengan Linear Allometrict Model (LAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Plectropomus leopardus, P. laevis, Epinephelus fuscoguttatus dan E. bleekeri memiliki pola pertumbuhan allometrik negatif dan P. maculatus memiliki pola pertumbuhan allometrik positif. Faktor kondisi tertinggi pada ikan P. leopardus dan P. laevis dan terendah pada ikan E. fuscoguttatus. Faktor kondisi berat relatif secara umum berada diatas 100, menunjukkan adanya keseimbangan kepadatan prey dan predator
Analisis kualitas perairan berdasarkan metode indeks pencemaran di Pesisir Timur Kota Surabaya
Pollution has become the serious problem in aquatic ecosystems in Indonesia including east part of the coastal area of Surabaya City. One of the methods that can be used to analyze water quality in the coastal area is pollution index method. The method can provide information related to existing water quality in respect of utilization plan. The purpose of this study is to analyze the water quality in the coastal area in East part of Surabaya City based on the physical and chemical parameters, and then, analyze the data using pollution index method. The sampling points of this study are 10 areas in the coastal area in East Part of Surabaya City. The result of this study showed that the water parameters in the sampling points are described as follows: salinity (23.2 7.33), pH (7.156 0.356), dissolved oxygen (9.46 3.364 mg/L), temperature (29 1.4 C), total suspended solid (91.9 109.3 mg/L), fisibility (25.15 8.9 cm), ammonia (1.3 1.1 mg/L), nitrate (0.095 0.14 mg/L) dan biological oxygen demand (3.738 0.956 mg/L). This study indicated that the value of pollution index in East Part of Surabaya City coastal area is 4.6 that indicated the areas are slightly polluted.Pencemaran merupakan sebuah permasalahan bagi sebagian besar wilayah perairan di Indonesia termasuk wilayah perairan di pesisir timur kota Surabaya. Salah satu cara untuk menganalisis kualitas perairan di wilayah pesisir adalah dengan menggunakan metode Indeks Pencemaran. Metode ini dapat memberikan informasi mengenai kondisi perairan sesuai peruntukannya. Tujuan dari penelitian adalah menganalisis kondisi perairan Pesisir Timur Kota Surabaya berdasarkan parameter fisika dan kimia serta menganalisa nilai indeks pencemaran Perairan Pesisir Timur Kota Surabaya. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sampel di 10 titik di Perairan Pesisir Timur Kota Surabaya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan nilai rata-rata parameter fisika dan kimia adalah sebagaimana berikut: salinitas 23,2 7,33, derajat keasaman (pH) 7,156 0,356, dissolved oxygen 9,46 3,364 mg/L, suhu 29 1,4 C, total padatan tersuspensi 91,9 109,3 mg/L, kecerahan 25,15 8,9 cm, amoniak 1,3 1,1 mg/L, nitrat 0,095 0,14 mg/L dan Biological Oxygen Demand 3,738 0,956 mg/L. Penelitian ini menunjukkan kalau nilai indeks pencemaran di Perairan Pesisir Timur Kota Surabaya adalah 4,6 yang mengindikasikan perairan ini dalam kondisi tercemar ringa
Potensi sinbiotik lokal terhadap respon imun non spesifik udang vaname (Litopenaeus vannamei)
The aims of the study were to examine the exact percentage of prebiotics in sinbiotics, administered through feed, so as to enhance nonspecific immune responses in white shrimp. The sweet potato extract was used as prebiotic, combined with local isolated Bacillus sp. D2.2 as a probiotic applied simultaneously as a synbiotic. The feed was treated with 0% sinbiotic treatment (treatment A / control), 0% prebiotic and 6% probiotics (B treatment), 2% prebiotic and 6% probiotics (treatment C), 4% prebiotics and 6% probiotics (treatment D). Examination of nonspecific immune responses to shrimp included total hemocyte count (THC), phagocytosis activity (AP), phagocytosis index (IP), phenoloxidase activity (PO), and superoxide dismutase activity (SOD). Observation of the non-specific immune response of vaname shrimp after treatment showed that treatment C was the best prebiotic to increase non-specific immune response in vaname shrimp.Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari persentase prebiotik yang tepat dalam sinbiotik, yang diberikan melalui pakan, sehingga dapat meningkatkan respon imun nonspesifik pada udang vaname. Dalam penelitian ini digunakan ekstrak tepung ubi jalar sebagai prebiotik, dikombinasikan dengan isolat lokal Bacillus sp. D2.2 sebagai probiotik yang diaplikasikan secara bersamaan sebagai sinbiotik. Pakan yang diberikan adalah pakan dengan perlakuan 0% sinbiotik (perlakuan A/kontrol), 0% prebiotik dan 6% probiotik (perlakuan B), 2% prebiotik dan 6% probiotik (perlakuan C), 4% prebiotik dan 6% probiotik (perlakuan D). Pemeriksaan respon imun nonspesifik pada udang meliputi total hemocyte count (THC), aktivitas fagositosis (AF), indeks fagositosis (IF), aktivitas phenoloxidase (PO), dan aktivitas superoxide dismutase (SOD). Pengamatan pada respon imun non spesifik udang vaname setelah diberi perlakuan menunjukan bahwa perlakuan C merupakan persentase prebiotik terbaik untuk meningkatkan respon imun non spesifik pada udang vaname
Bioakumulasi timbal (Pb) dan cadmium (Cd) pada Lamun Cymodocea serrulata di Perairan Bangka Selatan
The purpose of this study was to measure the heavy metal content of cadmium (Cd) and lead (Pb) in water, sediment and seagrass Cymodocea serrulata from Southern Bangka waters. The research was conducted in two locations in South Bangka Regency, namely Desa Pasir Putih and Tanjung Kerasak.The sediments, waters, and seagrass were collected using purposive random sampling method. Measurement of water quality data was in situ. Seagrass sampling is done by transect method. The Cd and Pb contents in the Water, sediments and sea grass samples were analyzed using Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). The results showed that Cd concentration in water was higher than Pb, with the range of between 0.29 to 0.39 mg/l. Pb was higher than Cd in the sediment ranges between 4.74 to 7.68 mg/kg. The highest Cd concentration was detected at the seagrass leaf with a range of 1.762.44 mg/kg, while the highest Pb concentration at the seagrass roots ranged from 1.94 6.52 mg/kg. The high content of heavy metals Cd and Pb on seagrass sections, when compared to water and sediments, shows that seagrass accumulates metals derived from water and sediment. The Bioconcentration factor (BCF) showed that seagrass leaves can accumulate Cd of 6.16 and Pb of 5.31. While The BCF value of the seagrass roots is able to accumulate Cd of 0.53 and metal Pb of 0.55Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kandungan logam berat cadmium (Cd) dan timbal (Pb) pada air, sedimen dan lamun Cymodocea serrulata. Penelitian dilakukan di 2 lokasi di Kabupaten Bangka Selatan, yaitu Desa Pasir Putih dan Tanjung Kerasak. Metode Penelitian merupakan penelitian survei dengan pendekatan kuantitatif. Sampling dalam penelitian ini meliputi sampling kualitas, pengambilan sampel air, sedimen dan lamun menggunakan metode Purposive Random Sampling. Pengukuran data kualitas air dilakukan secara insitu. Pengambilan sampel lamun dilakukan dengan metode transect. Sampel air, sedimen dan lamun dianalisis menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Hasil analisis logam berat Cd dan Pb di air menunjukkan bahwa konsentrasi Cd di air lebih tinggi daripada Pb, dengan kisaran 0,290,39 mg/l. Konsentrasi logam berat tertinggi pada sedimen yaitu Pb, berkisar antara 4,747,68 mg/kg. Konsentrasi Cd tertinggi terdeteksi pada bagian daun lamun dengan kisaran 1,762,44 mg/kg, sedangkan konsentrasi Pb tertinggi pada akar lamun berkisar antara 1,94 6,52 mg/kg. Tingginya kandungan logam berat Cd dan Pb pada bagian lamun jika dibandingkan di air dan sedimen, menunjukkan bahwa lamun mengakumulasi logam yang berasal dari air dan sedimen. Nilai faktor biokonsentrasi (BCF) menunjukkan bahwa daun lamun dapat mengakumulasi logam Cd sebesar 6.16 dan logam Pb sebesar 5,31. Nilai BCF akar lamun dan logam berat menunjukkan bahwa akar lamun mampu mengakumulasi logam Cd sebesar 0,53 dan logam Pb sebesar 0,55
Evaluasi status tropik perairan pantai Gapang, Sabang, Provinsi Aceh, berdasarkan konsentrasi nitrat dan fosfat, dan kelimpahan klorofil-a
Research on the effect of nitrate and phosphate concentration on the abundance of chlorophyll-a at Gapang beach, Sabang, Aceh Province was conducted in March 2017. This study aims to determine the effect of nitrate and phosphate concentration and its association with the abundance of chlorophyll-a in coastal waters of Gapang, Sabang, Aceh Province. Determination of 4 location based on purposive sampling method and analysis of chlorophyll-a concentration and nitrate and phosphate nutrients using UV-Vis spectroscopy. The results of the study at 4 location showed that the content of chlorophyll-a at Gapang beach ranged from 25 to 16 mg/L while the concentration of nitrate and phosphate at Gapang beach ranged from 840 to 630 mg/L and 64 to 51 mg/L. The abundance of chlorophyll-a is closely related to the availability of nitrate and phosphate elements so as to know the trophic status of the coastal of Gapang waters. Based on the relationship between chlorophyll-a abundance, nitrate and phosphate concentration indicates that the coastal waters of Gapang, Sabang are included in the category of eutrophic waters.Penelitian tentang pengaruh konsentrasi nitrat dan fosfat terhadap kelimpahan klorofil-a di pantai Gapang, Sabang, Provinsi Aceh telah dilakukan pada bulan Maret 2017. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi nitrat dan fosfat serta keterkaitannya dengan kelimpahan klorofil-a di perairan pantai Gapang, Sabang, Provinsi Aceh. Penentuan 4 lokasi penelitian berdasarkan metode purposive sampling dan analisis Kelimpahan klorofil-a serta unsur hara nitrat dan fosfat menggunaakan spektroskopi UV-Vis. Hasil penelitian pada 4 lokasi menunjukkan bahwa kandungan klorofil-a di pantai Gapang berkisar antara 25 16 mg/L sedangkan konsentrasi nitrat dan fosfat di pantai Gapang berkisar 840 - 630 mg/L dan 64 - 51 mg/L. Kelimpahan klorofil-a erat kaitannya dengan ketersediaan unsur nitrat dan fosfat sehingga dapat mengetahui status trofik perairan pantai Gapang. Berdasarkan hubungan antara kelimpahan klorofil-a, konsentrasi unsur hara nitrat dan fosfat mengindikasikan bahwa perairan pantai Gapang, Sabang termasuk dalam kategori perairan eutrofi
Effectivitas infusum daun durian Durio zibethinus sebagai anestesi alami ikan bawal air tawar Colossoma macropomum
The use of chemicals as an anesthetic can leave residues in the body of the fish and gave the negative impact to the human who consumed this fish. Therefore, the exploration of natural anesthesia as an alternative is crucial. One of the natural products that can be used is the leaves of durian. The purpose of this study was to determine the best concentration of the durian infuse for tambaqui anesthesia and the optimum time of transportation. This research was conducted in several two stages; extraction leaves durian and simulation of transport fish with a dry system using respective concentration of durian infuse. The tested concentrations of durian infuse were; 0 ppm, 1000 ppm, 2500 ppm, 5000 ppm, 7500 ppm, and 10000 ppm The study showed that the best concentration of durian leaf extract infused amounted to 5900 ppm. These concentrations resulted in fainting fastest time for 100 minutes, and the time conscious of 1 minute 30 seconds. Dry transport time that produces the best survival rate was approximately 2 hours with the survival rate of 83.3%.Penggunaan bahan kimia sebagai anestesi dapat meninggalkan residu dalam tubuh ikan dan berdampak negative pada manusia yang mengkonsumsi. Oleh karena itu, penggunaan bahan anestasi alami dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengatasinya. Salah satu bahan alami yang dapat digunakan adalah daun durian. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan konsentrasi dan waktu transportasi terbaik dari infusum daun durian sebagai bahan anestesi. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yaitu pembuatan infusum daun durian dan simulasi transportasi ikan dengan sistem kering. Konsentrasi infusum yang diuji adalah 0 ppm, 1000 ppm, 2500 ppm, 5000 ppm, 7500 ppm and 10000 ppm Konsentrasi terbaik infusum daun durian adalah sebesar 5900 ppm. Konsentrasi tersebut dapat menghasilkan waktu pingsan tercepat selama 100 menit, dan waktu sadar 1 menit 30 detik. Waktu transportasi kering yang menghasilkan survival rate terbaik terdapat pada jam ke 2 yaitu sebesar 83,3%
Keragaman ikan di perairan ekosistem mangrove Desa Jaring Halus Kabupaten Langkat, Sumatera Utara
Mangrove areas of Jaring Halus village have the potential of fish resources. Fish found in mangrove ecosystems, both settled and just transit to spawning and nursery will increase biodiversity in these ecosystems. This study aims to determine the diversity of fish species found in the waters of the mangrove areas of Jaring Halus village Langkat District. Sampling was done 3 times in December 2016 - January 2017 with an interval of 2 weeks for a period of two months. Fish samples obtained by using nets to catch fish (Fixed Gill Net) that is attached to the stake. Total fish species were obtained as many as 19 species of fish belonging to the 8 orders, 14 families, and 16 genera. Fish from Family Mugilidae and Ambassidae and Gobiidae always found in every station and at every time of data collection. In station 1 found 12 species, station 2 found 10 species and station 3 found nine types. The first sampling was obtained 11 species of fish, the second sampling found 15 species of fish. In the third sampling found 14 species of fish. The fish was dominated seriding fish (A. buruensis) of family Ambassidae, anchovy spikes (S. heterolobus) of family Engraulidae, and mullets (V. Engeli) of family Mugilidae and Mudskipper (P. Kaloko) of family GobiidaeKawasan perairan mangrove Desa Jaring Halus memiliki potensi sumberdaya ikan. Ikan yang terdapat pada ekosistem mangrove, baik yang menetap atau hanya transit untuk melakukan pemijahan serta memelihara anakannya akan menambah keanekaragaman hayati pada ekosistem tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman jenis ikan yang terdapat pada perairan kawasan mangrove. Sampling dilakukan sebanyak 3 kali yakni pada bulan Desember 2016 Januari 2017 dengan interval kurun waktu 2 minggu selama 2 bulan. Sampel ikan diperoleh dengan cara menangkap menggunakan jaring ikan (Fixed Gill Net) yang ditancapkan dengan pancang. Total jenis ikan yang diperoleh sebanyak 19 jenis ikan yang termasuk ke dalam 8 ordo, 14 famili, dan 16 genus. Ikan dari Famili Mugilidae dan Ambassidae serta Gobiidae selalu ditemukan pada setiap stasiun dan pada setiap kali pengambilan data. Pada stasiun 1 ditemukan 12 jenis, stasiun 2 ditemukan 10 jenis dan stasiun 3 ditemukan 9 jenis. Sampling pertama yang dilakukan diperoleh 11 jenis ikan, sampling kedua ditemukan 15 jenis ikan. Pada sampling ketiga ditemukan 14 jenis ikan. Ikan yang mendominasi adalah ikan seriding (A. buruensis) dari family Ambassidae, ikan teri paku (S. heterolobus) dari family Engraulidae, dan ikan belanak (V. engeli) dari family Mugilidae dan ikan gelodok (P. kaloko) dari family Gobiidae
Kondisi habitat dan keragaman nekton di hulu Daerah Aliran Sungai Wampu, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara
The study was conducted to determine the condition of the habitat and the diversity of fish in the watershed of Wampu. The habitat conditions was determined by measuring parameters of temperature, brightness, current velocity, depth, DO, pH, type of substrate, the width and the width of the river. Nekton was sampled using electrofishing units at voltage of 15 volt and 9 amperes. The characteristic of upstream watershed was large stones substrate, gravel, and sand with a fast flow and clear waters. Physical-chemical parameters of waters in the upper watersheds Wampu is still suitable for fish, crabs, and shrimp to live in good condition. A total of 15 species of fishes and one species of freshwater crab and one species of freshwater prawns were recorded during the study. There were two species of mahseer were recorded, namely; Tor soro and T. tambra. The higher diversity index (H ') was recorded in the Bahorok River with a value of 4.5 followed by Berkail River (3.45) and Landak River with a value of 2.46.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi habitat dan keragaman ikan di DAS Wampu. Pengukuran kondisi habitat dengan mengukur parameter suhu, kecerahan, kecepatan arus, kedalaman, DO, pH, jenis substrat, lebar dan lebar badan sungai. Jenis nekton ditangkap dengan alat backpack electrofishing units dimana arus listrik yang dihasilkan bersumber dari batere 15 volt dan 9 ampere. Kondisi habitat pada bagian hulu DAS Wampu yaitu bertipe substrat batu besar, kerikil, dan pasir dengan arus yang sedang - besar serta perairan yang jernih. Parameter fisika-kimia perairan di hulu DAS Wampu masih layak dan cocok untuk habitat ikan, kepiting dan udang. Selama penelitian nekton yang terkoleksi sebanyak 15 jenis ikan dan 1 jenis kepiting air tawar serta 1 jenis udang air tawar. Pada survei ini ditemukan dua jenis ikan Tor yakni T. soro, dan T. Tambra. Keanekaragaman (H') tertinggi terdapat pada Sungai Bahorok dengan nilai 4,5 diikuti Sungai Berkail dengan nilai 3,45, dan Sungai Landak dengan nilai 2,46
Kajian dinamika pantai : Studi kasus di Pantai Rening, Jembrana, Bali
The objectives of present study were to determine the distribution of sediment associated with shoreline changes and to analyze the beach dynamics in Rening Beach. Sediment samples were taken from seventeen sampling points spread along the beach, and then followed by the lab test using granulometri method to determine the characteristics of sediment. Shoreline change was analyzed using analysis of satellite imagery in 2011, 2014 and 2016, while the sediment transport were analyzed using Hjulstrom graph. Then, Rening Beach dynamics can be analyzed. Sediment test results showed that sediment type in Rening Beach was dominated by sand with diameter of between 0.25-5 mm. The ocean currents movement was dominantly to the west. The results of shoreline change analysis between the years 2011-2016, and Hjulstrom graph analysis showed the same pattern that Rening Beach was eroded. The Rening Beach was high dynamics with subjected to beach erosion in the form of littoral drift due to longshore currents.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan garis pantai, transpor sedimen dan dinamika pantai di Pantai Rening. Pengambilan data arus dan sampel sedimen diambil dari tujuh belas titik pengambilan sampel yang tersebar merata di sepanjang perairan Pantai Rening. Sampel sedimen kemudian diujikan di laboratorium menggunakan metode granulometri untuk mengetahui karakteristik sedimen. Perubahan garis pantai dianalisa menggunakan analisis peta citra satelit tahun 2011, 2014 dan 2016, sedangkan pola transpor sedimen dianalisa menggunakan grafik Hjulstrom. Dari hasil analisa perubahan garis pantai dan transpor sedimen, dapat dianalisa dinamika Pantai Rening. Hasil uji sedimen menunjukkan bahwa jenis sedimen didominasi oleh pasir sedang dengan diameter antara 0.25-5 mm. Pergerakan arus dominan mengarah ke arah barat. Hasil analisis perubahan garis pantai antara tahun 2011-2016, dan analisa grafik Hjulstrom menunjukkan pola yang sama bahwa pada Pantai Rening mengalami erosi dan mundurnya garis pantai. Dinamika Pantai Rening cukup tinggi dengan kecenderungan terjadi erosi pantai berupa littoral drift akibat arus sejajar pantai
Kandungan Tembaga (Cu) dan Timbal (Pb) pada Lamun Enhalus accoroides dari Perairan Batam, Kepulauan Riau, Indonesia
The objective of the present study was to analyze the metal content of copper and lead in Enhalus accoroides seagrass in Batam Island waters. Samples of seagrass (E. accoroides) were collected from six locations along the western region of Batam Island then dried and performed with acid destruction. The measurements of Cu and Pb in the samples were conducted by Atomic Absorption Spectrophotometer. The result showed that there was an increasing of copper and lead contaminant level on sample E accoroides during two periods in a year. The Cu level ranged from 0.63 to 46.1 mg/kg, meanwhile, lead level ranged from 2.14 to 10.52mg/kg respectively. The highest accumulation of copper and lead were recorded on leaves, it was reached 10.81 mg/kg and 5.98mg/kg, respectively.Penelitian ini bertujuan menganalisis kandungan logam tembaga (Cu) dan timbal (Pb) pada lamun Enhalus accoroides di sepanjang perairan barat Pulau Batam. Sampel lamun dikumpulkan dari enam lokasi kemudian dikeringkan dan dilakukan destruksi dengan asam. Penentuan kadar logam tembaga dan timbal dalam sampel dilakukan dengan spektrometri serapan atom. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan kadar logam Cu dan Pb pada sampel lamun E. accoroides selama 2 periode sampling dalam 1 tahun. Kadar logam Cu dan Pb pada lamun secara berturut berada pada rentang 0.63-46.1 mg/kg dan 2.14-10.52mg/kg. Akumulasi logam Cu dan Pb dalam lamun E. accoroides tertinggi pada bagian daun sebanyak 10.81 mg/kg Cu dan 5.98 mg/kg Pb