DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
Not a member yet
    571 research outputs found

    Kandungan merkuri pada substrat dasar di kawasan muara Krueng Sabee, Krueng Panga, dan Krueng Teunom, Kabupaten Aceh Jaya

    Get PDF
    The objective of this study was to determine the mercury content in sediment in the waters of Aceh Jaya coastal. The research was carried out in the Estuary of Krueng Sabee, Panga, and Teunom River on October 2015. Samples were analyzed using the Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) at the Laboratory of Chemistry, Mathematics and Natural Sciences Faculty, Syiah Kuala University. It was found that the Hg content in sediment of Krueng Sabee, Panga, and Teunom were 0.76, 0.68, and 1.03 mg/kg, respectively. Hg metal content in the sediment at all stations remained below the threshold. Despite, the correlation between Hg content and sediment size in this study was weak, but there was a tendency the finer sediment size the higher Hg content found in sediment. However, heavy metal from water was easier to be deposed and embedded in fine sediment.Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran logam berat merkuri (Hg) yang terkandung pada substrat dasar di beberapa muara sungai Kabupaten Aceh Jaya. Pengambilan data dilakukan pada Bulan Oktober 2015 di Krueng Sabee, Krueng Panga, dan Krueng Teunom. Sampel substrat diambil berdasarkan metode coring menggunakan pipa paralon, Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) atau Spektrofotometer Serapan Atom digunakan untuk mendapatkan data kandungan logam berat Hg pada substrat, sementara metode ayak basah digunakan untuk mendapatkan data ukuran butiran. Kandungan merkuri (Hg) dalam substrat Krueng Sabee, Krueng Panga, dan Krueng Teunom masing-masing adalah 0,76; 0,68 dan 1,03 mg/kg. Terlihat kecenderungan substrat dengan butiran yang halus mengandung kadar merkuri yang lebih tinggi, dimana sifat merkuri yang mudah berikatan dengan zat organik mempermudah pengendapan pada bentuk butiran yang halus

    Status padang lamun di Pulau Talago, Madura dan potensinya sebagai bahan baku bioaktif

    No full text
    The aims of the study were to evaluate the status of the seagrass beds in Talango Island in relation to diversity, density, and percentage area of seagrass; and to analyze the potential of seagrass as bioactive compounds by calculating the crude extract, which is produced. Data were collected in August 2016 using the transect quadrat method, perpendicular to the shoreline, on the north side of Talango Island. Extraction of seagrass leaves was carried from November to December 2016 at Exploration Fisheries Resources Laboratory FPIK UB, using polar, semi-polar and non-polar solvents. The results showed that the water quality on Talango Island is in good condition with water temperatures of 30.70C, average salinity 310 ppt , dissolved oxygen of 8 mg /L and pH 7. There were four species of seagrass found on Talango Island, namely Enhalus acoroides, Cymodocea serulata, Halophila ovalis, and Halodule pinifolia. Where H. pinifolia has has the highest density, while Enhalus acoroides has the highest covering area. Seagrass leaf that used in this study is E. acoroides, and produces raw extract about 0.8% non-polar compounds, 1.73% of polar compounds, and 0.13% semi-polar compounds. This raw extract shows that seagrass leaf has potential as bioactive compound.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status padang lamun di Pulau Talango, meliputi keragaman jenis, kerapatan jenis, penutupan jenis padang lamun dan menganalisis potensi pemanfaatannya sebagai bahan baku bioaktif, dengan menghitung rendemen ekstrak kasar yang dihasilkan.Pengambilan data dilakukan pada Bulan Agustus 2016, dengan menggunakan metode transek kuadrat yang ditarik tegak lurus terhadap garis pantai, di sisi utara Pulau Talango.Ekstraksi daun lamun dilakukan pada Bulan November Desember 2016 di Laboratorium Eksplorasi Sumberdaya Perikanan FPIK UB, dengan menggunakan pelarut polar, semi polar, dan non polar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan di Pulau Talango berada pada kondisi yang cukup baik, ditunjukkan dengan nilai suhu sebesar 30,70C, salinitas 310/00, konsentrasi oksigen terlarut (DO) sebesar 8mg/L, dan nilai pH sebesar 7. Terdapat empat jenis lamun yang ditemukan di Pulau Talango, yaitu Enhalus acoroides, Cymodocea serulata, Halophila ovalis, dan Halodule pinifolia.Halodule pinifolia adalah lamun dengan kerapatan jenis tertinggi, sementara Cymodocea serulata adalah lamun dengan kerapatan jenis terendah. Daun lamun yang digunakan dalam penelitian adalah jenis Enhalus acoroides, dan menghasilkan rendemen ekstrak kasar sebesar 0,8% senyawa non polar, 1,73% senyawa polar, dan 0,13% senyawa semi polar. Rendemen yang dihasilkan menunjukkan bahwa ekstrak daun lamun ini memiliki potensi untuk diuji kandungan bioaktifnya

    Selektivitas alat tangkap purse seine di Pangkalan Pendaratan Ikan Muara Angke

    Get PDF
    Alat tangkap purse seine adalah alat tangkap terbanyak kedua yang digunakan nelayan di PPI Muara Angke setelah alat tangkap bouke ami. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis tingkat selektivitas alat tangkap purse seine berdasarkan hasil tangkapannya. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan survey di PPI Muara Angke Jakarta dari 10 Mei - 1 Juni 2016. Data hasil tangkapan ikan dikumpulan dari 4 unit alat tangkap purse seine dengan masing-masing alat tangkap 1 kali trip. Analisis data meliputi komposisi jenis hasil tangkapan dan ukuran panjang cagak pertama matang gonad hasil tangkapan utama. Hasil Penelitian menunjukan bahwa alat tangkap purse seine menangkap sebanyak 14 spesies dengan jumlah total hasil tangkapan 75.945 ekor dengan bobot 9.092 kg. Komposisi hasil tangkapan sampingan lebih mendominasi yaitu sebesar 78,7% dibanding hasil tangkapan utama 21,3%. Panjang cagak ikan tangkapan utama yang telah mencapai ukuran matang gonad mencapai 50,1% dari total seluruh ikan yang diukur. Secara umum, dengan melihat faktor yang digunakan untuk mengukur tingkat selektivitas alat tangkap, purse seine tergolong alat tangkap yang memiliki tingkat selektivitas yang rendah.Kata Kunci : Purse Seine, Hasil Tangkapan, Selektivitas.Purse seine fishing gears is the second most fishing gears which is used by fisherman in muara angke fishing port after bouke ami fishing gears. The purpose of this research is to analyzed the selectivity level of purse seine fishing gears based on fishing catch. The data collection was collected in muara angke fishing port between 10 mei 1 juni 2016. The data of fishing catch is collected from 4 unit of purse seine fishing gears with 1 trip from each unit. The data analysis exmines the composisition of fishing catch and fork length of first maturity fish. The result from this research seeing that purse seine catch 14 different species from the total 75.945 fishes with 9.092 kg total weight. By-catch composistion is 78,7% more high than main catch composition 21,3%. The fork length of main catch which is have maturity size is just 50,1% from fishes were measured. Generally. From seeing the used factor to measurre the level of fishing gears selectivity, purse seine fishing gears is classffied to the fishing gears that have poor selectivity level.Keywords : Purse Seine, Fishing catch, Selectivit

    Pertukaran massa air di Laut Jawa terhadap periodisitas monsun dan Arlindo pada tahun 2015

    Get PDF
    The Java Sea with a surface area about 467.000 km2, is located in the South East Sunda Shelf with the average of depth is 40 meters, affected by several phenomena, whether physical or meteorological. This research aims to analyze the characteristics of water masses in the Java Sea and its relationship with the periodicity of the monsoon and Indonesian Throughflow Water (ITF) phenomenon. Then analyze the exchange of water masses in the Java Sea. The dataused are temperature and salinity to identify the characteristics of the water masses. Ocean currents data to identify ITF patterns and winds data to identify the monsoon patterns. The data used in 2015 from the Infrastructure Development of Space Oceanography (INDESO) sites with a resolution of 1/12. The method used is a descriptive analysis of spatially and temporally. The results show that averaging seasonal found that southeast monsoon period salinity is higher (31-34 psu) than northwest monsoon period (29.5-33 psu), and southeast monsoon period temperature is lower (27-30.5C) than northwest monsoon period (28.5-30.5C). ITF phenomenon occurs in May through September and reaches its peak in June, July, and August. ITF strengthened in southeast monsoon and weakened in the northwest monsoon. ITF and monsoon have similar impacts on salinity and temperature in the Java Sea. The water masses in the Java Sea comes from the South China Sea and Makassar Strait. In the northwest monsoon, Java Sea filled by water masses of the South China Sea, while in the southeast monsoon phenomenon which coincides with ITF phenomenon, Java Sea water masses is filled by water masses from Makassar Strait. In the transition monsoon I and II, the Java Sea filled by the South China Sea and the Makassar Strait water masses.Laut Jawa dengan luas permukaan sekitar 467.000 km2, terletak dibagian tenggara paparan Sunda dengan kedalaman rata-rata adalah 40 meter dipengaruhi oleh beberapa fenomena, baik fisikal maupun meteorologikal. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai karakteristik massa air di Laut Jawa dan hubungannya dengan periodisitas monsun serta fenomena arlindo dan menganalisis pertukaran massa air di Laut Jawa. Data yang digunakan adalah suhu dan salinitas untuk mengidentifikasi karakteristik massa air. Arus untuk mengidentifikasi pola arlindo dan angin untuk mengidentifikasi pola monsun. Data yang digunakan tahun 2012 dari situs infrastructure development of space oceanography (INDESO) dengan resolusi 1/12. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan analisis secara spasial dan temporal. Berdasarkan hasil perata-rataan musiman didapatkan bahwa salinitas saat monsun timur lebih tinggi (31-34 psu) daripada saat monsun barat (29,5-33 psu), dan suhu saat monsun timur lebih rendah (27-30,5C) daripada saat monsun barat (28,5-30,5C). Fenomena arlindo terjadi pada bulan Mei sampai September dan mencapai puncaknya pada bulan Juni, Juli, dan Agustus. Arlindo menguat pada monsun timur dan melemah pada monsun barat. Monsun dan arlindo memiliki pengaruh yang sama terhadap salinitas dan suhu di Laut Jawa. Massa air di Laut Jawa berasal dari Laut Cina Selatan dan Selat Makassar. Pada monsun barat, Laut Jawa diisi oleh massa air Laut Cina Selatan, sedangkan pada monsun timur yang bertepatan dengan fenomena arlindo, massa air Laut Jawa diisi oleh massa air Selat Makassar. Pada monsun peralihan I dan II, Laut Jawa diisi oleh massa air Laut Cina Selatan dan juga Selat Makassar

    Distribusi karang keras (Scleractinia) sebagai penyusun utama ekosistem terumbu karang di Gosong Karang Pakiman, Pulau Bawean

    Get PDF
    The objective of this research was to assess the condition and distribution of stony corals Scleractinian order at Karang Pakiman reef, Bawean Islands, Gresik. This research was conducted in May 2014. The biophysical conditions of coral reefs data were collected using line transect that placed on a line with the coastline, following the depth contours of the bottom waters and the geographical position was determined with GPS. The result showed that the condition of coral reefs in the study site was varied on the status of bad to good. Scleractinian coral in Karang Pakiman, Bawean spread over reef flat, reef crest, and reef slope zones. The main component of the coral reef at Karang Pakiman was Acroporidae, Faviidae, and Poritidae, while Poritidae and Faviidae family which were dominated by the coral massive (CM) life form and to be a constituent of coral reef ecosystems in the study site. The Diversity Index (H') was 1.72; Evenness Index (E) was 0.58, and Dominance Index (C) was 0.62. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi dan distribusi karang keras Ordo Scleractinia di gosong Karang Pakiman, Pulau Bawean, Gresik. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Mei 2014 di perairan Pulau Bawean, Gresik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survei / deskriptif. Materi penelitian adalah karang keras yang diidentifikasi sampai tingkat spesies. Pengumpulan data kondisi bio fisik terumbu karang dilakukan dengan menggunakan transek garis dan transek kuadran yang diletakkan sejajar garis pantai, mengikuti kontur dasar perairan. Posisi geografis penelitian ditentukan dengan GPS. Hasil analisis memperlihatkan kondisi terumbu karang di lokasi penelitian berada pada status buruk sampai dengan baik. Karang keras di gosong Karang Pakiman, Pulau Bawean tersebar pada zona reef flat, reef crest, dan reef slope. Penyusun utama ekosistem terumbu karang pada lokasi penelitian terdiri dari 3 famili, yaitu Acroporidae, Faviidae, dan Poritidae. Life form CM yang didominasi oleh famili Poritidae dan Faviidae merupakan bentuk pertumbuhan utama karang keras penyusun ekosistem terumbu karang di lokasi penelitian. Nilai H adalah 1,72; nilai E adalah 0,58 dan nilai C adalah 0,62

    Resistensi dan karakter molekuler benih gurami sowang Osphronemus goramy Lacepede, 1801 asal induk berbeda

    Get PDF
    The cultivation of giant gourami is constrained by its high mortality due to low resistance to diseases. Resistance is an inherited character from the parental to their seeds. High resistance seeds can be selected using molecular marker, such as Major Histocompatibility complex (MHC) gene. Resistance character is assumed to be different among individual from different broodstocks and is suggested related to their genetic constituent. This research aims to analyze the resistance of sowang gouramy seeds from different broodstocks and describe genetic character of seeds from different broodstocks. An explorative survey was perfomed. One hundred individuals were taken purposively from Balai Benih Ikan Sikamaju Ciamis West Java and hundred individuals were bought from fish farmer in Ciamis West Java. Sampling was performed in 2015 for the first seed group and in 2016 for the second seed group. Samples were subjected to Aeromonas hydrophila and Pseudomonas aeruginosa infection. The fragments of MHC gene were amplified using PCR technique from eight individual of first group and six individuals of second group. The resistance characteristic was analyzed using simple mathematics based on the number of living seeds compared total infected seeds and molecular characteristics was analyzed descriptively based on DNA band pattern. Different resistance to A. hydrophila was observed between seed groups from different broodstocks. The seeds group from the first broodstocks showed lower resistance level with the value of 29% than that from the second broodstocks with the resistance value reached of 100%. Both seed groups also showed resistance differences to P.aeruginosa, although not as high as A.hydrophila infection. The differencies were also reflected in their MHC gene between seed groups from two different broodstocks. The amplication of MHC gene of the seeds from the first broodstacks resulted of 585 bp and 400 bp length fragments, while from those second broodstocks was only resulted of 400 bp frament. The differences on DNA band pattern between seed groups indicate a different molecular characteristics among seeds from different broodstocks.Usaha budidaya ikan gurami terhambat oleh tingginya mortalitas benih karena rendahnya resistensi terhadap penyakit. Resistensi merupakan sifat yang diwariskan dari tetua ke anakan. Benih yang resisten dapat diseleksimenggunakan marka molekuler seperti gen Major Histocompatibility complex (MHC). Sifat resisten diduga berbeda diantara benih yang beraasal dari induk berbeda dan diduga terkait dengan kompenen genetik yang dimiliki. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat reisten dan karakter molekuler benih gurami sowang asal induk berbeda. Fragmen gen MHC diamplifikasimenggunakan teknik PCR. Sifat resistensi dianalisis menggunakan perhitungan matematika sederhana berdasarkan jumlah benih hidup dibagi jumlah total benih yang diinfeksi, sedangkan karakter molekuler dianalisis secara deskritif berdasakan pola pita yang dihasilkan. Kedua kelompok benih memiliki sifat resistensi berbeda terhadap Aeromonas hydrophila. Benih dari induk pertama memiliki sifat resistensi lebih rendah dengan nilai kelangsungan hidup sebesar 29% daripada kelompok benih dari induk kedua yang memiliki kelangsungan hidup mencapai 100%. Kedua kelompok benih juga memperlihatkan perbedaan sifat resisten terhadap P. aeruginosa, meskipun perbedaannya tidak sebesar terhadap A.hydrophila. Perbedaan tersebut juga tercermin pada gen MHC kedua kelompok benih. Pada kelompok benih pertama dihasilkan dua fragmen gen MHC dengan ukuran 585 pb dan 400 pb, sedangkan dari kelompok benih kedua hanya dihasilkan fragmen berukeuran 400 pb. Perbedaan pola pita diantara kedua kelompok benih tersebut merupakan idikasi adanya perbedaan karakter molekuler pada benih yang berasal dari dua induk berbed

    Penanganan penyu yang tertangkap rawai tuna di Samudera Hindia

    Get PDF
    Turtle is one of the vulnerable of megafauna and as a by-catch in tuna longline fisheries, however, management practices have not been done yet. This paper described the efforts to avoid the capture of turtles on the tuna longline fishery and its handling recommendation. It has been written based on the research results and observer programs of activities that have been implemented since 2005. Its also including a literature review rules and regulations regarding the management of sea turtles. The record results during 2005 - 2014 conducted by an independent scientific board on tuna longline in the Indian Ocean with 72 times number of setting and 89,441number of hooks. There are 105 turtles caught, which are leatherback, olive ridley turtles, hawksbill, loggerhead sea turtles as well as the unknown green turtle where the current status of turtles in the Indian Ocean is in a state of vulnerable, endangered, critically even endangered. The olive ridley turtle, loggerhead and leatherback turtles are in a vulnerable status. While, the green turtles are in a state endangered and even hawksbill in a state extremely endangered. Policy measures for handling of turtles in tuna longline fishery needs to be taken in order to be implemented include the socialization of the use of intensified circle hooks and if necessary the government issued regulations regarding the use of circle hooks, the implementation of the placement of fishing monitoring (observer) aboard the tuna longline in order to assist the skippers monitoring the catch of turtles and turtle handling training for the skippers and crew in order to hold the caught turtles can be handled directly on the boat to reduce the mortality turtles which can be released back into the sea alive.Penyu merupakan salah satu biota yang rawan punah dan sebagai hasil tangkapan sampingan pada perikanan rawai tuna dimana pengelolaannya belum banyak dilakukan. Makalah ini membahas tentang upaya bagaimana menghindari tertangkapnya penyu dan rekomendasi penanganan penyu pada perikanan rawai tuna. Tulisan disusun berdasarkan penelusuran hasil penelitian maupun kegiatan program observer yang telah dilaksanakan sejak tahun 2005, dilengkapi kajian pustaka serta peraturan terkait pengelolaan penyu. Hasil pencatatan selama periode 2005 2014 yang dilakukan oleh pemantau ilmiah di kapal rawai tuna di Samudera Hindia dengan jumlah setting sebanyak 72 kali dan 89.441 buah pancing tertangkap 105 ekor penyu, yang terdiri dari penyu belimbing, penyu lekang, penyu sisik, penyu tempayan dan penyu hijau serta penyu yang tidak diketahui jenisnya dimana saat ini status penyu di Samudera Hindia berada dalam kondisi rentan, terancam punah bahkan sangat terancam punah. Penyu lekang, penyu tempayan dan penyu belimbing berada dalam status rentan. Sementara penyu hijau berada dalam keadaan terancam punah dan bahkan penyu sisik berada dalam keadaan sangat terancam punah. Langkah-langkah kebijakan penanganan penyu pada perikanan rawai tuna yang perlu dilaksanakan adalah mengintensifkan penggunaan pancing lingkar, perlu regulasi penggunaan pancing lingkar, implementasi penempatan pemantau penangkapan ikan (observer) di atas kapal rawai tuna agar dapat membantu para nahkoda memonitoring hasil tangkapan penyu dan pelatihan penanganan penyu bagi para nahkoda maupun anak buah kapal yang bertujuan agar penyu-penyu yang tertangkap dapat ditangani secara langsung di atas kapal sehingga menurunkan tingkat kematian penyu-penyu tersebut kemudian dapat dilepas kembali ke laut dalam kondisi hidup

    Pemantauan kondisi substrat menggunakan metode reef check di Perairan Selat Sempu, Kabupaten Malang

    Get PDF
    The aim of this research was to know the coral reef condition in Sempus strait. This research has beeb conducted at December 2017 used PIT method in four research stations i.e. Teluk Semut 1, Teluk Semut 2, Watu Meja and Fish Apartement. In generally the substrate of Sempu strait was devided into two categories, they were living and non-living substrate. Living substrate include HC, SC, NIA, SP and OT while non-living were RKC, RC, RB, SD and SI. Station 1 was dominated by hard coral (33.75%), station 2 and 3 was by rock (59.38% and 40.63%), and station 4 was dominated by sand (39.38%) respectively. Based on the monitoring, the coral reefs ecosystem of Sempu Strait was categorised in damaged condition. It could be seen by the high covering of dead coral and the low covering of healthy coral along observed stations. The coral reefs rehabilitation program is needed to recover the reefs ecosystem in Sempu Strait. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang di Selat Sempu dengan cara mengetahui susunan dari substrat dasar perairannya. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada Desember 2016 dengan menggunakan metode PIT di empat stasiun penelitian yaitu Teluk Semut 1, Teluk Semut 2, Watu Meja dan Fish Apartement. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa substrat dasar perairan di Selat Sempu terbagai atas dua yaitu living (HC, SC, NIA, SP dan OT) dan non-living (RKC, RC, RB, SD dan SI). Stasiun 1 didominasi oleh hard coral (33,75%), stasiun 2 didominasi oleh rock (59,38%), stasiun 3 didominasi oleh rock (40,63%), dan stasiun 4 didominasi oleh sand (39,38%). Berdasarkan monitoring yang telah dilakukan, ekosistem terumbu karang di Selat Sempu telah mengalami kerusakan hal ini dapat dilihat dari tingginya tutupan karang mati dan rendahnya tutupan karang hidup yang ditemukan di sepanjang stasiun penelitian yang dilakukan. Program rehabilitasi terumbu karang sangat diperlukan untuk memulihkan kembali kondisi ekosistem karang di Selat Sempu

    Hubungan antara kelimpahan plankton dengan hasil tangkapan ikan tuna madidihang (Thunnus albacares) di Perairan Kepulauan Banda, Ambon

    Get PDF
    Study related to plankton community in the Banda Sea and its adjacent sea has been conducted by several authors; However, t information on the relationships between of plankton abundance and catches volume of yellowfin tuna Thunnus albacares has been never been examined. Therefore, the objective of this study was to analyze the relationships between plankton abundance and catch volume of yellowfin tuna in Banda Sea Waters, Ambon. The result showed that the highest abundance of phytoplankton (59.259 cell/m3) was found at station 10, around Ambon, Seram and Haruku Island which located in the waters between many river runoffs. While, the highest abundance of zooplankton was 5,483 ind/m3, located around Ambelau Island. Both diversity (H') and evenness (E) index of phytoplankton were at the medium level, and there were no dominant species in this observation. Based on visual observation of remote sensing data, there was an indication of a relationship between the area with high concentration of chlorophyll-a (high phytoplankton biomass) with CPUE value of yellowfin tuna.Studi mengenai komunitas plankton di Laut Banda dan sekitarnya telah banyak dilakukan, akan tetapi telaah hubungan antara kelimpahan dan distribusi plankton dengan aspek perikanan belum banyak dibahas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kelimpahan dan distribusi dari komunitas plankton dengan perikanan tuna di Perairan Kepulauan Banda. Kelimpahan fitoplankton tertinggi terdapat pada stasiun 10 yang terletak di daerah antara pulau Ambon, Seram dan Haruku (59.259 sel/m3) yang mempunyai akses ke muara-muara sungai di sekitarnya. Sedangkan kelimpahan zooplankton tertinggi terletak di sekitar Pulau Ambelau (stasiun 3), yakni 5.483 ind/m3. Tingkat indeks keanekaragaman (H) fitoplankton sedang, indek keseragaman (E) rendah hingga sedang, dan tidak ditemukan jenis tertentu yang dominan. Berdasarkan pengamatan visual data penginderaan jauh memberikan indikasi adanya keterkaitan antara daerah dengan konsentrasi klorofil-a yang tinggi (biomassa fitoplankton tinggi) dengan hasil tangkapan per unit upaya penangkapan tuna madidihang

    Efektifitas Nannochloropsis sp. terhadap sistem imun non-spesifik ikan mas Cyprinus carpio yang diinfeksi Virus Herpes

    Get PDF
    The aim of this research was to determine the effect of Nannochlorpsisis sp. against the common carp (Cyprinus carpio) leukocyte profile, infected with Koi Hepesvirus (KHV). The descriptive observational method wa used in this study. This research was conducted for 4 weeks, using common carp length 120,3 cm as many as 7 fish. The tested experiment was P1: without infested by Nannochlorpsisis sp. and KH; P2: Infested by Nannochlorpsisis sp. and without KHV infected; P3: Infected by Nannochloropsis sp. and KHV; P4; Not infected by Nannochlorpsisis sp. and infected by KHV. Evey tratment in three replications. The results showed that the highest total leukocyte was obtained in P3 (37.600 cells/ml), followed by P4 (29.650 cells / ml), P2 (28,500 cells / ml) and P1 (21,150 cells / ml). Leukocyte differentiation test on P1 (neutrophil 6.2%, lymphocyte 68.0%, monocyte 17.0%), P2 (neutrophil 6.6%, lymphocyte 72.3%, monocyte 18.3%), P3 (neutrophil 7.9%, lymphocyte 66.1%, monocytes 24.3%), P4 (neutrophils 11.2%, lymphocytes 57.6%, monocytes 37.6%). The higher survivla rate was recorded in P2 (100%). It is concluded that Nannochloropsis sp. can enhance the common carp immune sytem.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Nannochlorpsis sp. terhadap profil leukosit ikan mas (Cyprinus carpio) yang terinfeksi Koi Herves Virus (KHV). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif observasional dengan membandingkan hasil pada perlakuan 1) P1: (tanpa pemberian Nannochlorpsis sp. dan tidak diinfeksi KHV), 2) P2 (diberikan Nannochlorpsis sp dan tanpa diinfeksi KHV), 3) P3 (diberikan Nannochlorpsisis sp dan diinfeksi KHV), 4) P4 (tanpa pemberian Nannochlorpsis sp. dan diinfeksi KHV), masing-masing perlakukan 3 kali ulangan. Penelitian ini dilakukan selama 4 minggu dengan menggunakan Ikan mas berukuran 120,3 cm sebanyak 120 ekor. Hasil perhitungan total leukosit tertinggi diperoleh pada P3 (37.600 sel/ml), selanjutnya berturut-turut P4 (29.650 sel/ml), P2 (28.500 sel/ml) dan P1 (21.150 sel/ml). Hasil uji diferesnsiasi leukosit pada P1 (neutrofil 6.2%, limfosit 68.0%, monosit 17.0%), P2 (neutrofil 6.6%, limfosit 72.3%, monosit 18.3%), P3 (neutrofil 7.9%, limfosit 66.1%, monosit 24.3%), P4 (neutrofil 11.2%, limfosit 57.6%, monosit 37.6%). Kelangsungan hiudp tertinggi diperoleh pada perlakuan P2 (100%). Dapat disimpulkan bahwa Nannochloropsis sp. dapat digunakan untuk meningkatkan kekebalan tubuh ikan mas

    529

    full texts

    571

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇