DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
Not a member yet
571 research outputs found
Sort by
Keragaman, kerapatan dan penutupan lamun di Pulau Biak, Papua
The purpose of this study were to evaluate the diversity, density, and covering area of seagrass in Biak Island, Papua. Methodology that used in this study were combination of line intercept and quadrat transects, which drawn perpendicular to the shoreline. The results showed that there were 9 species of seagras found in Biak Island and it was categorized as high category. The density was renged from 450 ind/m2 to 898 ind/mand the covering area was between 60% to 80%.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman, kerapatan jenis lamun dan penutupan lamun di Pulau Biak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah transek kuadrat dan transek garis, yang ditarik tegak lurus dari garis pantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman jenis lamun di Pulau Biak tergolong tinggi, karena ditemukan delapan jenis lamun, dari 13 jenis lamun yang ada di Indonesia. Jenis lamun yang beragam di Pulau Biak diikuti juga dengan kerapatan lamun di setiap stasiun, yaitu pada kisaran 450 individu/m2 hingga 898 ind/m2. Kondisi ini seiring dengan penutupan lamun yang tergolong tinggi, yaitu berkisar antara 60% hingga 80%
Pangan fungsional dan nutrasetikal dari laut: Prospek dan tantangannya
The marine environment is a rich sources of natural bioactive compounds which are not used optimally. It has been established that marine organisms contain a unique physicochemical characteristic that is very valuable to be applied for food industry and pharmaceutical. Recently, numerous study have been shown that compounds extracted from marine organisms possess various biological activities, including anticoagulant, anticancer and hypocholesterolemic. Moreover, fish oil and marine bacteria have been claimed as a source of omega-3 while crustaceans and seaweeds contained carotenoids and phenolic compounds. Based on a variety of biological activities of marine organisms, this review focuses on the potential use of marine-derived compounds as functional food ingredients and nutraceutical including some consideration of barriers for their application.Laut menyimpan sumber bahan fungsional yang relatif belum dimanfaatkan secara optimal. Karakteristik fisikokimianya yang kompleks dan tidak ditemukan pada biota terrestrial, menjadikan bahan fungsional laut potensial untuk diaplikasikan dalam berbagai aspek seperti pengolahan makanan, pengawetan, fortifikasi dan industri farmasi. Selain itu, banyak penelitian menunjukkan bahwa senyawa yang diekstrak dari biota laut memiliki aktivitas biologis yang beragam. Sebagai contoh, peptida yang diisolasi dari hidrolisat protein ikan serta fucans, galaktan dan alginat dari alga telah terbukti memiliki aktifitas antikoagulan, antikanker dan hipokolesterolemik. Selain itu, minyak ikan dan bakteri laut merupakan sumber yang asam lemak omega-3, sedangkan krustasea dan rumput laut mengandung senyawa antioksidan seperti karotenoid dan senyawa fenolik. Berdasarkan beragam aktifitas bioaktif yang terkandung pada bahan laut, review ini berfokus pada potensi senyawa laut sebagai bahan pangan fungsional dan nutrasetikal sekaligus tantangan dalam pemanfaatannya
Analisis BOD dan COD di perairan estuaria Krueng Cut, Banda Aceh
Analysis of BOD and COD has been done at estuary of Cut River in Alue Naga Village from March to April 2017. The purpose of this research was to analysis the water quality in Krueng Cut estuarial area, which is compared to the Government Regulation No. 82/2001. The method used in this research is field survey by employing purposive sampling method and laboratory analysis to the samples obtained in the field.The BOD, COD, DO, nitrate, nitrate was tested at Laboratory of Chemistry, Faculty of Marine and Fishery of Syiah Kuala University by applyingspectrophotometric method using Filterfotometer PF-11. The results showed that the highest concentration of BOD and COD was at station 3 where the mixing region occurred because the freshwater from river uphill meets with salt-water from the ocean, and the lowest BOD and COD concentration was at station 7 whichis the mouth of the estuary. The results obtained that water quality in Krueng Cut waters based on Government Regulation of water quality no. 82/2001 on the water quality categorized as a class III water quality, which is the water that can be used only for the function of fishery cultivation.Analisa BOD dan COD telah dilakukan di perairan Krueng Cut Desa Alue Naga yang dilakukan pada bulan Maret sampai dengan April 2017. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas air di perairan Krueng Cut Desa Alue Nagayang dibandingkan dengan Peraturan Pemerintah (PP) nomor 82 Tahun 2001.Metoda yang dilakukan dalam penelitian ini adalah survey lapangan dengan metode purposive sampling dan analisa laboratorium terhadap sampel yang diperoleh di lapangan untuk uji BOD, COD, DO, nitrat, nitrit di Laboratorium Kimia Laut Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kualadengan metoda Spektofotometri Filterfotometer PF-11. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi BOD dan COD tertinggi berada pada stasiun 3 yaitu daerah sirkulasi arus (pertemuan antara arus air tawar dan air asin), dan konsentrasi BOD dan COD terendah berada di stasiun 7 yang merupakan daerah mulut estuari. Hasil penelitian diperoleh bahwa kualitas air di perairan Krueng Cut berdasarkanPeraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang kualitas air baku mutu dikatagorikan sebagai kualitas air kelas III yaitu air yang dapat digunakan hanya untuk fungsi pembudidayaan perikanan
Karakteristik pH dan pengaruhnya terhadap bakteri Coliform di perairan Selat Madura Kabupaten Pamekasan
The objective of present study was to analyze the condition of environmental parameters, especially pH and its relationship to coliform survival rate which is useful to understand the status of the aquatic environment in Pamekasan District. There are three sampling locations with three depth profiles and determine using purposive sampling method. Environmental parameters are measured on surface profiles, including DO, temperature, pH, and salinity. Seawater samples were cultured on agar medium and selective media, then analyzed using colony counting method to calculate the number of bacteria in each depth profile. The results showed the DO range of 5.4 to 5.6 mg/L, the temperature 31.1-32.20C, pH 7.4-8.0, and the salinity 31-32, and the number of coliform bacteria ranged 15-85 (Colony x 10 CFU/mL) found on the surface and bottom of stations 2 and 3. The pH fluctuations during the study were higher than 2012 and 2013. The pattern of coliform bacteria distribution showed lower with increasing depth. Differences in the pH range are thought to be one of the factors that affect the survival rate of coliform bacteria, so that also affect the density of coliform bacteria. In general, it can be concluded that environmental conditions in good status based on environmental parameter indicators are relatively normal for tropical regions. The pH range is quite wide with a tendency to increase in value (indicating more alkaline) during the study period. Changes in pH have an effect on the survival rate with a higher tendency to decrease in acidic conditionsPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi parameter lingkungan, khususnya pH dan keterkaitan terhadap perkembangbiakan (survival rate) bakteri coliform yang berguna untuk mengetahui status lingkungan perairan di Kabupaten Pamekasan. Lokasi pengambilan sampel air laut dilakukan pada tiga stasiun dengan tiga profil kedalaman menggunakan metode purposive sampling. Parameter lingkungan diukur pada profil permukaan, meliputi DO, suhu, pH, dan salinitas. Sampel air laut dibiakkan pada media agar dan media selektif, kemudian dianalisa menggunakan metode colony counting untuk menghitung jumlah bakteri pada setiap profil kedalaman. Hasil analisa menunjukkan kisaran DO 5,4-5,6 mg/L, suhu 31,1-32,20C, pH 7,48,0, dan salinitas 31-32 , dan jumlah bakteri coliform berkisar 15-85 (koloni x 10 cfu/mL) yang ditemukan pada profil permukaan dan dasar pada stasiun 2 dan 3. Fluktuasi pH selama penelitian lebih tinggi dibandingkan penelitian tahun 2012 dan 2013. Pola sebaran bakteri coliform menunjukkan semakin rendah dengan bertambahnya kedalaman. Perbedaan kisaran pH diduga menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap survival rate bakteri coliform, sehingga berpengaruh juga terhadap kepadatan bakteri coliform. Secara umum dapat disimpulkan bahwa kondisi lingkungan dalam status baik berdasarkan indikator parameter lingkungan relatif normal untuk wilayah tropis. Kisaran pH cukup lebar dengan kecenderungan semakin bertambah besar nilainya (menunjukkan semakin basa) selama periode penelitian. Perubahan pH berpengaruh terhadap survival rate dengan kecenderungan lebih tinggi penurunannya pada kondisi asa
Kajian awal kadar merkuri (Hg) dalam ikan dan kerang di Teluk Kao, Pulau Halmahera
The aim of the study was to determine the concentration of Hg in some species of fish and mussels harvested from Kao Bay . Fish and mussels samples were purchased from fishermen at Kao Bay in November 2015. The Hg concentration was measured by using Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS).The results showed that the highest concentration of Hg was found in gurara fish (Nemipterus japonicus) that is 0.98 ppm, followed by suo fish (Sphyraena jello) 0.89 ppm, tatameri fish (Gazza minuta) 0.38 ppm, gaca fish (Lutjanus argentimaculatus) 0.31 ppm, totodi fish (Synodus foetens) 0.24 ppm, bubara fish (Caranx sp) 0, 19 ppm, ngafi fish (Stolephorus indicus) 0.19 ppm and biji nangka fish (Upeneus vittatus) 0.15 ppm. In the shelfish meat, the highest concentration of Hg is found in the blood mussels (Anadara granosa), that is 0.42 ppm, and then followed by papaco (Telescopium telescopium) 0.05 ppm. The concentration of Hg in all samples of fish and shelfish were below from the threshold value for seafood fish and shellfish of 0.5 ppm and 1.0 ppm, respectively.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Hg dalam beberapa jenis ikan dan kerang yang ada di Teluk Kao dalam kaitannya dengan kesehatan makanan hasil laut. Contoh ikan dan kerang di beli dari nelayan di Teluk Kao pada bulan November 2015. Kadar Hg diukur dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (AAS). Hasilnya menunjukkan kadar Hg tertinggi dalam ikan dijumpai dalam daging ikan gurara (Nemipterus japonicus) yakni 0,98 ppm, selanjutnya diikuti oleh ikan suo (Sphyraena jello) 0,89 ppm, ikan tatameri (Gazza minuta) 0,38 ppm, ikan gaca (Lutjanus argentimaculatus) 0,31 ppm, ikan totodi (Synodus foetens) 0,24 ppm, ikan bubara (Caranx sp) 0,19 ppm, ikan ngafi (Stolephorus indicus) 0,19 ppm, dan ikan biji nangka (Upeneus vittatus) 0,15 ppm. Dalam daging kerang kadar Hg tertinggi dijumpai dalam kerang darah (Anadara granosa) yakni 0,42 ppm selanjutnya dikuti oleh kerang papaco (Telescopium telescopium) 0,05 ppm. Kadar Hg dalam semua contoh ikan dan kerang masih di bawah nilai ambang batas kadar yang diperkenankan dalam makanan hasil laut yakni 0,5 ppm untuk ikan dan 1 ppm untuk kekerangan
Performa pertumbuhan post-larva ikan jelawat (Leptobarbus hoevenii) pada berbagai kombinasi pakan alami dan buatan
The study proposed to evaluate growth performance of post-larvae of jelawat (Leptobarbus hoevenii) fed on varius combination of natural food and artificial feed. Completely randomized design was assigned in this study. The treatments were various combinations of life feed of Moina sp. and artificial diet at a respective rates of 100:0%, 75:25%, 50:50%, 25:75% and 0:100%. The larvae of 20 days in age and 0.02870.0012 g in weight was randomly stocked in 15 buckets at a stocking rate of five larvae per liter or 50 larvae per bucket and fed on test diet at a feeding rate of 5% per body weight per day, divided in feeding frequency of five times for 45 days of rearing period. The results indicated that 20 days old of larvae jelawat fed on combinations of Moina sp. and artificial diet at 50:50 performed higher survival as well as growth.Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi performa pertumbuhan post larvae jelawat (Leptobarbus hoevenii) pada berbagai kombinasi pakan alami dan pakan buatan. Rancangan Acak Lengkap digunakan dalam penelitian ini. Perlakuannya adalah berbagai kombinasi pakan alami Moina sp. dan pakan buatan, masing-masing yaitu 100:0%, 75:25%, 50:50%, 25:75% and 0:100%. Larva ikan jelawat umur 20 hari dengan bobot rata-rata 0,02870,0012 g ditebar secara acak ke dalam 15 buah ember dengan kepadatan 5 ekor per liter atau 50 ekor per wadah dan diberi pakan uji sebanyak 5% dari bobot tubuh per hari yang dibagi dalam lima kali pemberian selama 45 hari masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva ikan jelawat umur 20 hari mempunyai kelangsungan hidup dan pertumbuhan lebih baik dengan pemberian kombinasi pakan alami Moina sp.. dan pakan buatan sebesar 50% : 50%
Hubungan panjang berat dan faktor kondisi ikan belodok (Famili: Gobiidae) pada ekosistem mangrove di Desa Pulau Sembilan Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara
The aims of the research was to examine the lenght weight relationships, growth pattern and condition factor of mudskipper (Family: Gobiidae) at the mangrove ecosystem. The research was conducted for two months from March to April 2016 at the mangrove ecosystem in the Sembilan Island village. The result showed that there are three species of mudskipper found in study area, namely Periophthalmus chrysospilos, Periophthalmus gracilis, and Boleophthalmus boddarti. The growth pattern of mudskipper with a value b 3, indicate a allometrik negative growth pattern and the condition factor was between 1-2.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan panjang bobot, pola pertumbuhan dan faktor kondisi ikan belodok (Famili: Gobiidae) pada ekosistem mangrove di di desa Pulau Sembilan Langkat. Penelitian dilaksanakan selama dua bulan yaitu Maret sampai April 2016. Penelitian ini menggunakan metode purposive random sampling. Hasil penelitian ditemukan 3 spesies ikan belodok di lokasi penelitian yaitu Periophthalmus chrysospilos, Periophthalmu sgracilis, dan Boleophthalmus boddarti. Pola pertumbuhan ikan belodok dengan nilai b 3, mengindikasikan pola pertumbuhan allometrik negatif. Faktor kondisi dari Ikan Belodok berkisar 1 2
Status klorofil-a di Perairan Teluk Pria Laot Sabang, Provinsi Aceh
Study about chlorophyll-a state in Teluk Pria Laot Sabang has been done in October 2016. The objective of this study was to analyze the chlorophyll-a concentration and phytoplankton abundance in Teluk Pria Laot Sabang. Samples were collected at a station located at 5,84653oN and 95,29001oE during 4 days (4, 6, 8, and 10th October 2016) which each day had 4 sampling times (07:00 am, 10:00 am, 01:00 pm, and 04:00 pm). Chlorophyll-a, phytoplankton, and nutrient analysis were conducted at chemistry laboratory of Teacher Training and Education Faculty, Syiah Kuala University, marine chemistry laboratory of Marine and Fisheries Faculty, Syiah Kuala University, and Unit of Environment Research and Development, Banda Aceh. The result showed that chlorophyll-a concentration ranged 0,02 1,7 g/L withthe highest average (0,64 g/L) was obtained at 01:00 pm. In addition,phytoplankton abundance was found ranged3539,4 ind/L 8687,3 ind/L andthe highest average (6435,0 ind/L) appeared at 10:00 am. Nitrate and phosphate concentration which were above the minimum value of threshold revealed that this area was rich in nutrient availabilityto support the phytoplankton growth. Chlorophyll-a concentrations are likely influenced by light intensity with rich nutrient availability than phytoplankton abundance. According to chlorophyll-a concentration, Teluk Pria Laot Sabang is categorized as Oligothropic area.Penelitian tentang status klorofil-a di Teluk Pria Laot Sabang telah dilakukan pada Bulan Oktober 2016. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi klorofil-a dan kelimpahan fitoplankton di Teluk Pria Laot Sabang. Sampel dikumpulkan pada stasiun yang terletak pada koordinat 5,84653oLU dan 95,29001oBT selama 4 hari dengan 4 kali waktu pengambilan per hari (pukul 07.00, 10.00, 13.00, dan 16.00 WIB). Analisis klorofil-a, fitoplankton dan nutrien dilakukan di Laboratorium FKIP kimia Unsyiah, Laboratorium Kimia Laut, FKP Unsyiah, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan (BPPL) Banda Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi klorofil-a berkisar 0,02 1,7g/Ldengan nilai rata rata konsentrasi klorofil-a tertinggi 0,64g/L didapatkan pada waktu pengambilan pukul 13:00 WIB. Kelimpahan fitoplankton yang diperoleh berkisar 3539,4 ind/L 8687,3 ind/L dengan rata rata tertinggi dengan nilai 6435,0 ind/L diperoleh pada pukul 10:00 WIB. Konsentrasi nitrat dan fosfat yang berada di atas ambang batas minimal menggambarkan bahwa daerah ini menyuplai nutrien yang cukup untuk pertumbuhan fitoplankton. Fluktuasi konsentrasi klorofil-a lebih cenderung mengikuti perubahan intensitas cahaya matahari dengan ketersediaan nutrien (nitrat dan fosfat) yang cukup. Berdasarkan konsentrasi klorofil-a yang diperoleh, Perairan Teluk Pria Laot Sabang dikategorikan sebagaidaerah oligotrofik
Analisis kesesuaian dan daya dukung lingkungan untuk pengembangan wisata bahari di Pulau Bawean Kabupaten Gresik Provinsi Jaya Timur
Bawean Island has potency as a ecotourism destination in Gresik District, Province of Jaya timur. This island is one of the popular destination for local tourist, and the visitors are increasing over the years; but there was no study on the suitability and carrying capacity of the island for marine ecotourism activities. The purpose of this study was to analysis the suitability and carrying capacity of Bawean Island for marine tourism. The Results of the analysis showed that the area of marine ocotourism in Bawean is Suitable (S1) for marine ecotourism development with a value for leisure travel 88.33%, snorkeling activity was 84.21%; and diving 81.48%. The total value carrying capacity of region was 398 persons/day.Pulau Bawean memiliki potensi sebagai daerah tujuan wisata bahari di kabupaten Gresikproins Jaya timur. Pulau ini telah menjadi tujuan wisata lokal bagi masyarakat Jaya timur dan jumlah kunjungan wisatawan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Namu belum ada kajian mengenai kesesuaian dan daya dukung lingkungan di Pulau Bawean sebagai kawsan wisata bahari. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kesesuaian dan daya dukung Pulau Bawean sebagai kawasan wisata bahari. Hasil analisis menunjukkan bahwa Pulau Bawean sesuai (S1) untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bahari dengan nilai untuk wisata rekreasi pantai sebesar 88,33%, wisata snorkeling sebesar 84,21% dan wisata selam sebesar 81,48%. Nilai total daya dukung kawasan sebesar 398 orang/hari
Struktur komunitas dan pemetaan ekosistem mangrove di pesisir Pulau Maitara, Provinsi Maluku Utara, Indonesia
Mangrove is ecosystem important in coastal area. Human exploited make decrease habitat mangroves ecosystem. The highly activity in this area threaten quantity ecology ecosystem mangroves.The objective of the present study was to examine the ecological indices and mapping of mangrove in coastal region on Maitara Island, North Moluccas.Information about that most important for sustainable mangrove management. The results showed that mangroves composition found that 4 specieses belong to 3 families.total density of stations namely 215.78 tree/hectare, frequency 722.22 tree/hectare, percent cover 189.29% and significantion value 300 every stations. The density and frequency highest of species found Rhizopora apicullata, Avicennia alba, Sonneratia alba. The density and frequency lowest Sonneratia caseolaris. The percent cover highest types derived Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, Avicennia alba and percent lowest is Sonneratia caseolaris. Overall the ecological index analysed diversity of mangroves found is minor. The characterize mangrove zonation that Rhizhopora Sp is aleadingconstituentof mangrove ecosystem from coast to land inthe Maitara Island. Extensivemangroveobtained fromfieldclassificationandmapping resultsof4.91hectares. Correctionfield data andpreviousliterature studiesindicatedthere have been adecline inmangroveareaat1.09during 3 years.The overall necessaryapproaches to conservationandsustainable managementofmangroveecosystem andconservation interestson the Maitara Island.Mangrove merupakan ekosistem penting di daerah pesisir.Meningkatnya exploitasi manusia menurunkan habitat ekosistem mangrove. Tingginya aktivitas mengancam kuantitas ekologi ekosistem mangrove.Tujuan penelitian ini untuk melihat struktur komunitas dan pemetaan ekosistem mangrove. Pengambilan data mangrove dilakukan pada tahun 2015. Hasil penelitian menemukan bahwa komposisi jenis mangrove yang ditemukan terdiri dari 3 family dengan 4 spesies. Total keseluruhan kerapatan stasiun yaitu 215.78 batang/hektar, frekuensi 722.22 batang/hektar, tutupan 189.29% dan nilai penting 300 tiap stasiun. Kerapatan dan frekuensi jenis tertinggi ditemukan Rhizopora apicullata, kemudian Avicennia alba, disusul Sonneratia alba dan terendah Sonneratia caseolaris. Tutupan jenis tertinggi diperoleh jenis Sonneratia alba, kemudian Sonneratia caseolaris, disusul Avicennia alba dan terendah Rhizopora apicullata. Nilai penting tertinggi pada jenis Sonneratia alba, kemudian Rhizopora apicullata, setalah itu Avicennia alba dan terendah adalah jenis Sonneratia caseolaris. Secara umum keseluruhan indeks nilai keanekaragaman jenis mangrove di Pulau Maitara yang diperoleh rendah. Tipe zonasi yang ditemukan bahwa jenis Rhizhopora Sp merupakan penyusun terdepan hutan mangrove dari arah laut ke daratan di Pulau Maitara.Luas mangrove yang didapat dari klasifikasi lapangan dan hasil pemetaan sebesar 4.91 hektar. Koreksi data lapangan dan studi literature sebelumnya mengindikasikan telah terjadi penurunan luas mangrove sebesar 1.09 Ha dengan rentan 3 tahun. Sehingga diperlukan pendekatan konservasi dan pengelolaan berkelanjutan untuk kepentingan pelestarian hutan mangrove di Pulau Maitara