DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
Not a member yet
571 research outputs found
Sort by
Posisi komponen GPP terhadap variasi konstituen harmonik pasang surut bulan Muharram di Stasiun Sabang
The movement of celestial bodies produces a variation of a gravitational gradient as a tidal generation force (GPP).Position Sabang Station, declination maximum and position lunar month of Muharram aka n generate harmonic constituent character identifier of GPP, where the water level is the sum of the amplitude of harmonic constituent that generated at a certain time.This research is to determine the variation of harmonic constituents and identify the character of harmonic constituents of GPP component position characterization in Muharram month.The results show Katrakteristik tidal movement beginning of the month of Muharram in Sabang Station occurred 1-2 hours after ijtimak.. Value riding dominant water derived from the value of Mean Sea Level ( 52%), and the dominant contribution hamonik constituents derived from component M2(28 - 33%).Harmonic constituents M2does not show the position of the moon in Muharram, while the position of the sun is reflected in the constituent phase harmonic S2.
Perbandingan frekuensi molting Lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) yang diberi pakan komersil dan nanokalsium yang berasal dari cangkang tiram (Crassostrea gigas)
Oyster shell can be used as alternative calcium source. Utilizing of oyster shell into nano calcium flour can be used to decrease solid waste. The usage of nano calcium flour in feed is important applied as calcium supplements with cherax quadricarinatus. The purpose of this research is to study the effect of nano calcium addition on feeds to increase moulting frequency, survival and growth rate of freshwater lobster. This research has been done during 60 days in fisheries Laboratory, Abulyatama University. Two percents nano calcium addition on feeds gives significant effect on growth rate and very significant effect to moulting frequency of freshwater lobster. Which has moulting frequency 2.71. Where the treatment was not added nano calcium has moulted frequency 1.29. But, nano calcium addition on foods did not affect survival rate.Cangkang tiram dapat digunakan sebagai alternatif sumber kalsium. Pemanfaatan cangkang tiram menjadi serbuk nanokalsium dapat mengurangi limbah padat. Penggunaan serbuk nanokalsium pada pakan penting dilakukan sebagai suplemen kalsium untuk lobster air tawar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan nanokalsium pada pakan terhadap pertumbuhan, frekuensi molting dan kelangsungan hidup Lobster Air Tawar (LAT). Penelitian ini dilakukan selama 60 hari di laboratorium perikanan, Universitas Abulyatama. Data dianalisa menggunakan uji T (perbandingan) antara lobster yang diberi pakan nanokalsium dan tanpa penambahan nanokalsium. Nanokalsium yang ditambahkan ke dalam pakan sebanyak 2% berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan lobster air tawar (thitung ttabel), dan berpengaruh sangat nyata terhadap jumlah molting dengan frekuensi molting 2,71 kali/ekor terhadap lobster yang diberi pakan nano CaO, sedangkan yang diberi pakan komersil hanya 1,29 kali/ekor. Namun, tidak berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup (thitung ttabel)
Efektivitas probiotik BIOM-S terhadap kualitas air media pemeliharaan ikan nila nirwana Oreochromis niloticus
Abstract.This research was conducted on MayJune 2017 in Hatchery Indoor Maksudi, Astanaanyar, Bandung. This research aims were to find out the optimal BIOM-S probiotic on culture media of Nile tilapia andto evaluatethe influence to survival rate and growth of Nile tilapia. This research was conducted by experiment using consisted of five treatments and three repetitions, which were treatment A (control), B (giving probiotic with 0.6 ml/l concentration), C (giving probiotic with 0.8 ml/l concentration), D (giving probiotic with 1.0 ml/l concentration), and E (giving probiotic with 1.2 ml/l concentration). The parameter of this research was the water quality of media culture, includes temperature, dissolved oxygen, acidity (pH), ammonia, nitrate, and nitrite. To find out the optimal concentration of probiotic quality of water parameter was analyzed descriptively. The concentration of optimal probiotic based on the results was 0.8 ml/l, it was able to keep the level of ammonia below 0.021 mg/l.Keywords:Amoniac;Nile tilapia; Probiotic; water qualityAbstrak.Penelitian initelah dilakukanpada bulan MeiJuni 2017 di Hatchery Indoor Maksudi, Astanaanyar, Kota Bandung. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui konsentrasi optimal probiotik BIOM-S yang diaplikasikan pada media pemeliharaan ikan nila, serta pengaruhnya terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan nila nirwana. Penelitian dilakukan secara eksperimental, terdiri dari lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu perlakuan A (kontrol), B (pemberian probiotik dengan konsentrasi 0,6 ml/l), C (pemberian probiotik dengan konsentrasi 0,8 ml/l), D (pemberian probiotik dengan konsentrasi 1,0 ml/l), dan perlakuan E (pemberian probiotik dengan konsentrasi 1,2 ml/l). Parameter yang diamati adalah kualitas air media budidaya, meliputi suhu, pH, oksigen terlarut, amonia, nitrat dan nitrit, yang kemudian dianalisis secara deskriptif. Konsentrasi probiotik yang optimal berdasarkan hasil penelitian yaitu 0,8 ml/l, mampu menjaga kadar amonia dibawah 0,021 mg/l.Kata kunci:Amonia; Kualitas air, Nila nirwana; Probioti
Pengaruh kualitas pelayanan Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo terhadap kelancaran operasional penangkapan ikan
The aim of this study was to evaluate the effect of quality service of Oceanic Fishing Port on fishing operational fluency. Data were collected using questionnaires based on Likert scale 1-3 and direct observation. The data was collected by assessing the fishermen on quality service of UPTD, either through questionnaire and observation. The data were analyzed using Chi-Square test to examine the correlation of two nominal variables and how far the correlation between two variables of quality service for fishing operational fluency. The result showed that the p-value for the reliability variable was 0.036 0.05 at the level of 5%, it means that the reliability variable gave the significant effect to the fishing operation. Four indicators of the reliability variables (supply of subsidized fuel for fishing in the fishing port, the optimization of services provided by the UPTD to fishermen, the supply of ice in the fishing port, and supply of water for the fishing operational in the fishing port) showed the satisfaction of respondent was at low level. While the results the variable responsiveness test indicated that these variables have no significant effect on the fishing operational fluency. It was shown from the result of the p-value of 0.609 0.05 at the level of 5%, with the average of satisfaction indicators was at the middle category.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui besaran pengaruh kualitas pelayanan yang diberikan UPTD terhadap kelancaran operasional penangkapan ikan. Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner yang dibuat dengan menggunakan skala Likert 1-3 (skor 3 berarti sangat setuju, skor 2 berarti kurang setuju, dan skor 1 berarti sangat tidak setuju) dan pengamanat langsung di lapangan. Data yang dikumpulkan adalah penilaian nelayan terhadap kualitas pelayanan UPTD, baik penilaian melalui kuesioner dan pengamatan langsung. Analisis data dengan menggunakan Analisis Chi-Square untuk menguji pengaruh atau hubungan dua variabel nominal, sehingga diketahui ada/tidak dan sejauh mana hubungan antara variabel kualitas pelayanan terhadap kelancaran operasional penangkapan ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perolehan p-value untuk variabel kehandalan sebesar 0,0360,05 pada taraf 5%, yang berarti bahwa variabel kehandalan memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kelancaran operasional penangkapan ikan. Empat indikator dari variabel kehandalan (penyediaan BBM bersubsidi untuk kebutuhan operasional penangkapan di kawasan pelabuhan, keoptimalan pelayanan yang diberikan pihak UPTD kepada nelayan, penyediaan es di kawasan pelabuhan, dan penyediaan air untuk kebutuhan operasional penangkapan di kawasan pelabuhan) menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kepuasan responden terhadap variabel kehandalan berada pada tingkat kepuasan rendah. Sementara hasil uji terhadap variabel daya tanggap menunjukkan bahwa variabel tersebut tidak berpengaruh signifikan terhadap kelancaran operasional penangkapan ikan. Hal ini terbukti dari perolehan p-value sebesar 0,6090,05 pada taraf 5%, dengan rata-rata indikator kepuasan berada dalam posisi tingkat kepuasan sedang
Studi keanekaragaman ikan gelodok (Famili: Gobiidae) pada muara Sungai Maro dan Kawasan Mangrove Pantai Kembapi, Merauke
Mudskipper is one species of fish that lives in the estuary area and they have adaptations to two different habitats. The aims of the study was determine the species composition, diversity and abundance of mudskipper species in estuary areas with different locations, namely in the estuary and mangrove areas of Kembapi Beach. Sampling was carried out at low tide, carried out by using a wire mesh tool that was designed separately and manually using hands. The results of research on both research stations were obtained 4 genera and 7 species of mudskipper namely Boleophthalmus boddarti, B. pectinirostris, Oxuderces dentatus, Periophthalmus argentilineatus, P. malaccensis, P. takita and Scartelaos histophorus. Station II in the mangrove area of Kambapi Beach has the highest relative abundance with a percentage of 63.24% obtained from the type of Boleophthalmus boddarti. On the contrary, at station I in the Maro River estuary area, the highest relative abundance was also of the type B. boddarti with a percentage of 32.95%. The range of diversity index values at station I is 0.24 - 1.41 indicating the level of moderate diversity. Station II range of the diversity index during the study ranged from 0.08 to 0.66. The average dominance value at both stations is station I at 0.56 and station II at 0.71.Ikan gelodok merupakan salah satu spesies ikan yang hidup pada daerah estuari dan memiliki adaptasi terhadap dua habitat yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis, keanekaragaman dan kelimpahan spesies ikan gelodok pada daerah estuari dengan lokasi yang berbeda yaitu pada daerah muara sungai dan kawasan mangrove Pantai Kembapi. Pengambilan sampel dilakukan pada saat air surut, dilakukan dengan menggunakan alat bubu dari kawat ram yang didesain tersendiri dan secara manual yakni dengan menggunakan tangan. Hasil penelitian pada kedua stasiun penelitian diperoleh sebanyak 4 genus dan 7 spesies ikan gelodok yaitu Boleophthalmus boddarti, B. pectinirostris, Oxuderces dentatus, Periophthalmus argentilineatus, P. malaccensis, P. takita dan Scartelaos histophorus. Stasiun II di kawasan mangrove Pantai Kambapi memiliki kelimpahan relatif tertinggi dengan presentase sebesar 63,24% diperoleh dari jenis Boleophthalmus boddarti. Sebaliknya pada stasiun I di daerah muara Sungai Maro, kelimpahan relative tertinggi juga dari jenis Boleophthalmus boddarti dengan presentase sebesar 32,95%. Kisaran nilai indeks keanekaragaman pada stasiun I sebesar 0,24 1,41 menunjukkan tingkat keanekaragaman sedang. Satasiun II kisaran indeks keanekaragaman selama penelitian antara 0,08 0,66. Rata-rata nilai dominansi pada kedua stasiun yaitu stasiun I sebesar 0,56 dan stasiun II sebesar 0,71
Keanekaragaman dan Pengelompokan Jenis Ikan di Waduk Mulur Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia
ABSTRAKWaduk Mulur mempunyai luas 151 hektar. Waduk ini memiliki satu inlet dan dua outlet. Pada kawasan inlet dan outlet mempunyai faktor biotik dan faktor abiotik yang berbeda yang dapat mempengaruhi keanekaragaman jenis ikan. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat keanekaragaman dan pengelompokan jenis ikan yang ada di Waduk Mulur. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober-November 2017 dan proses identifikasi ikan di Universitas Sebelas Maret. Pengambilan sampel ikan menggunakan metode purposive sampling dengan menentukan empat stasiun yang mewakili yakni pada kawasan inlet, tengah waduk dan dua lokasi outlet. Sampling dilakukan pukul 06.00-18.00 WIB dengan membuat plot ukuran sekitar 10x20 meter3. Sampling dilakukan sebanyak tiga kali ulangan pada masing- masing stasiun. Alat yang digunakan untuk menangkap ikan adalah jaring biasa, jala, serok ikan, anco, dan pancing. Identifikasi ikan dengan buku Kottelat et al (1993). Parameter lingkungan perairan yang diukur mencakup suhu, kecepatan arus, penetrasi cahaya, DO, BOD, dan plankton. Perhitungan indeks keanekaragaman dengan menggunakan indeks keragaman Shannon Wiener. Hubungan antara faktor abiotik dan keanekaragaman jenis ikan dianalisis dengan uji korelasi regresi menggunakan SPSS versi 23.0. Ikan yang berhasil ditangkap dan diidentifikasi selama penelitian berjumlah 512 ekor dikelompokkan kedalam 11 familia, 16 genus dan 24 species. Berdasarkan perhitungan indeks diversitas ikan menunjukkan di kawasan inlet dan tengah mempunyai indeks diversitas lebih tinggi yaitu 1,003 dan 1,026 sedangkan pada stasiun outlet I dan II secara berturut-turut yaitu 0,784 dan 0,895. Faktor abiotik yang secara signifikan mempengaruhi keanekaragaman ikan adalah penetrasi cahaya dan kecepatan arus. Habitat yang berbeda menyebabkan perbedaan karakter morfologi pada ikan.Kata Kunci : Keanekaragaman, Ikan, Waduk Mulu
Efektivitas penggunaan rumpon sebagai daerah penangkapan ikan di Perairan Pusong Kota Lhokseumawe
The existence of fish aggregating devices (FADs) in a waters is able to establish a new fishing ground that potential waters. FADsareable to attract the attention of the gathering of fishes and other aquayic organisms around it, increasing the density of fish around FADs can increase the chances of successful catching operation, and therefore the FADs has benefited significantly to increase the capture fishery production significantly. The purposes of the research were to evaluate the catching composition of purse seine production using FADs and non FADs, and to examine the fectiveness of FADs. This research was conducted on February 1 - 28, 2018 located atPusongWaters, Lhokseumawe City. The survey method was used in this study. The direct sampling by following the fisherman in fishing activities was performed both the purse seine with FADs andno FADs. Total purse seine catches during the research were 4,320 kg consisting of Long Jawed Mackerel (Rastrelliger sp.) 1,280 kg (29.63%), Decapterus Fish ( Decapterus sp.) 350 kg (8,107%), skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) 845 kg (19.56 %), tuna fish (Euthynnus affinis) 720 kg (16.67%), Torpedo scad (Megalaspis cordyla) 300 kg (6.94%), Queenfish 140 kg (3.24%), and starry triggerfish (Abalistes stellaris) 685 kg (15.86%). It was concluded that the purse seine usedFADs is more effective compared to thea purse seine that does not use FADs.Keberadaan rumpon di suatu perairan mampu menarik perhatian berkumpulnya ikan dan organisme lain disekitarnya, sehingga dapat meningkatkan hasil tangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi hasil tangkapan purse seine yang menggunakan rumpon dan purse seine yang tidak menggunakan rumpon, dan menilai efektivitas rumpon dalam mengumpulkan ikan. Penelitian ini dilaksanakan pada 01 - 28 Februari 2018 bertempat di Perairan Pusong, Kota Lhokseumawe. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, yaitu dengan mengikuti nelayan dalam kegiatan penangkapan ikan, baik nelayan purse seine yang menggunakan rumpon dan nelayan purse seine yang tidak menggunakan rumpon. Data ikan hasil tangkapan yang diperoleh dihitung jumlah ikan hasil tangkapan dan diidentifikasi spesies ikan dan selanjutnya dibandingkan dengan hasil tangkapan nelayan yang menggunakan rumpon dan ikan hasil tangkapan nelayan yang tidak menggunakan rumpon. Total hasil tangkapan purse seine selama penelitian sebanyak 4.320 kg terdiri dari kembung (Rastrelliger sp.) 1.280 kg (29,63%), layang (Decapterus sp.) 350 kg (8,107%), cakalang (Katsuwonus pelamis) 845 kg (19,56%), tongkol (Euthynnus affinis) 720 kg (16,67 %), tegang ekor/tetengkek (Megalaspis cordyla) 300 kg (6,94 %), talang/daun bamboo (Scomberoides lysan) 140 kg (3,24%), dan ayam-ayam (Abalistes stellaris) 685 kg (15,86 %). Dari kedua jenis kegiatan penangkapan ikan tersebut, maka purse seine menggunakan rumpon lebih efektif dibandingkan purse seine yang tidak menggunakan rumpon sebagai daerah penangkapan ikan
Keanekaragaman, Zonasi Serta Overlay Persebaran Bentos di Sungai Keyang, Ponorogo, Jawa Timur
Abstrak. Bentos merupakan organisme yang hidup sesil atau menetap di dasar sungai, dan dapat digunakan sebagai indikator pencemaran lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan keanekaragaman bentos, untuk mengetahui zonasi serta overlay persebaran bentos di Sungai Keyang, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Oktober-November 2017 dengan metode plot/transek, penghitungan, dan analisis laboratorium. Terdapat 3 stasiun pengamatan, masing-masing stasiun terdiri dari 3 transek dan 9 plot. Pengukuran faktor lingkungan meliputi suhu, turbiditas, pH, kandungan bahan organik, DO, BOD, dan tekstur substrat. Hasil dari penelitian diperoleh 7 famili dan 14 spesies bentos. Hasil pengukuran indeks keanekaragaman (H) yaitu 1,37-2,12 termasuk dalam kategori sedang, memiliki kemerataan yang tinggi (2,12-2,28), dan dominansi rendah (0,13-0,30). Kesimpulan dari penelitian ini adalah keanekaragaman bentos di Sungai Keyang termasuk dalam kategori sedang, zonasi dan overlay persebaran bentos pada bagian tepi dan tengah didominasi oleh Melanoides dan Tarebia, sedangkan pada bagian tergenang didominasi oleh Melanoides dan Cordulegaster.Kata kunci: bentos, keanekaragaman, Sungai Keyang, overlay persebaran, zonas
Studi kelimpahan fingerling ikan terhadap ketersediaan pakan alami di perairan Danau Laut Tawar
Abstract.This research was conducted onJuly 2018in Lake Laut Tawar, Aceh Tengah District.This study aims to determine the abundance of fingerling fish and the availability of natural feed found in Lake Laut Tawar. Thegillnet was used to sample the fingerling fish atthree stations, including station 1 (One-one), station 2 (Toweren) and station 3 (Rawe) forweek. The parameters of measured water quality are at temperature, pH, DO (dissovlet oxygen), depth, and brightness. Sampling of natural feed (plankton extraction) was carried out at the place of fish collection, then prepared a standard plankton, and identified using microscopy. The results showed the highest abundance of fingerling fish obtained was thekeperas fish (Cyclocheilichthys apogon), with an abundance of 75%. While the lowest abundance value iskawan fish species (Poropontius bargensis), with 4% abundance value, and the highest plankton abundance in Lake Laut Tawar waters is at station 2 with an abundance value of 69.2485 ind / mL and the lowest abundance value is at 1 with an abundance value of 38.0637 ind / mL. Based on the results of the research conducted, it can be concluded that the abundance of fingerling fish is related to the availability of natural food in the waters of Lake Laut Tawar.Keywords: Abundance;Fingerling fish;Natural food;Lake laut tawar.Abstrak.Telah dilakukan penelitianpada Juli 2018tentang studi kelimpahanfingerlingikan terhadap ketersediaan pakan alami di perairan Danau Laut Tawar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahanfingerlingfishdan ketersediaan pakan alami yang terdapat di perairan Danau Laut Tawar. Tahapan penelitian ini dimulai dari persiapan alat tangkap,penangkapanfingerlingikanpengukuran kualitas perairan,danpengambilansampel pakan alami (pengambilan plankton).Alat tangkap yang digunakan ialah jaring joran (Gill net)dengan ukuran 1 inchi.Penangkapanfingerling fishdilakukan padatigastasiun,diantaranya stasiun 1(One-one),stasiun 2(Toweren)danstasiun 3 (Rawe) dan pengambilan sampel dilakukan satu kali dalam satu minggu.Parameter kualitas perairanyang diukur ialah pada suhu,pH, oksigen terlarut,kedalaman, dan kecerahan.Pengambilansampel pakan alami (pengambilan plankton)dilakukan ditempat pengambilan ikan, kemudian menyiapkan plankton standard, dan diidentifikasi denganmengunnakanmikroskop. Hasil penelitian menunjukkankelimpahan tertinggifingerlingikan yang didapatkan ialah jenis ikan Keperas(Cyclocheilichthys apogon),dengan nilai kelimpahan 75 %. Sedangkan nilai kelimpahan yang terendah ialah jenis ikan Kawan(Poropontius tawarensis),dengan nilai kelimpahan 4%, dan kelimpahan plankton tertinggi pada perairan Danau Laut Tawar terdapat pada stasiun 2 dengan nilai kelimpahan 69,2485 ind/mL dan nilai kelimpahan yang terendah terdapat pada stasiun 1 dengan nilai kelimpahan 38,0637 ind/mL. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kelimpahanfingerling fishberkaitan denganketersediaan pakan alami di perairan Danau Laut Tawar.Kata kunci:Kelimpahan;fingerling fish;Pakan alami;Danau laut tawar
Analisis isi lambung ikan mingkih, Cestraceus plicatilis
Abstract.An investigation of analysis of stomach contents of fish Mingkih, Cestraceus plicatilis. Fish were caught in the Pesisir Selatan District (100028 5; 100029 16; 100031 25). Fishing conducted from March to July 2015. Fish were caught with fishing traditional equipment (cast nets, and spearfishing).Samples of fish caught divided into three groups according to a predetermined si wize class are than 12 cm, 13-25 cm and 26 cm. The Mingkih fish Cestraceus plicatilis, was including herbivorous fish, which they were ratio of the total length body with of the digestive tract with an average of 3,21cm; 3,02 cm and 2,84 cm. There are different types of food found in the stomach based on the size of the fish. The main food types consumed both in the size than 12 cm, 13-25 cm and 26 cm are phytoplankton / periphyton (Chrysophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae), zooplankton and detritus (other organic materials).Keywords:stomach, type of food, Mingkih fish and herbivorousAbstrak.Telah dilakukan penelitian tentang analisis isi lambung ikan Mingkih,Cestraceus plicatilis. Ikan sampel diperoleh dari hasil tangkapan di Kabupaten Pesisir Selatan (100 0 28 5; 100 0 29 16; 100 0 31 25). Penangkaapan dilakukan dari bulan Maret sampai Juli 2015. Ikan di tangkap dengan alat tangkap tradisional (jala/jaring lempar dan panah). Ikan sampel yang tertangkap dibagi dalam 3 kelompok sesuai dengan ukuran yang telah ditetapkan yaitu 12 cm, 13 25 cm dan 26 cm. Ikan Cestraceus plicatilis, termasuk ikan omniivora dengan ratio panjang saluran pencernaan dengan panjang total yaitu rata-rata 3,21 cm; 3,02cm dan 2,84 cm. Terdapat perbedaan jenis makanan yang ditemukan di dalam lambung berdasarkan kelompok ukuran ikan. Jenis makanan utama yang dikonsumsi baik dari ukuran 12 cm, 13 25 cm maupun 26 cm adalah Phytoplankton/periphyton (Chrysophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae), zooplankton dan detritus (bahan organik lainnya).Kata kunci:lambung, jenis makanan, ikan Mingkih dan herbivor