DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
Not a member yet
    571 research outputs found

    Penambahan mineral kalsium dari cangkang kepiting bakau (Scylla serrata) pada pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang galah (Macrobrachium rosenbergii)

    Get PDF
    Abstract. Mud crab shell is one of the most fisheries waste can be utilized as calcium source because it contains lots of calcium carbonat. Utilizing of crab shells flour in fed is important applied as calcium supplements to freshwater prawn. The purpose of this research is to knows the effects of calcium addition from mud crab shells on fed to increase the growth rate, survival rate and moulting frequency freshwater prawn. The research has been done during 70 days in fisheris Laboratory, Abulyatama University. Result of the research shows that two percents calcium addition on fed give higher growth rate value, survival rate value and moulting frequency value than other treatments and were not added calcium on fed. The average of freshwater prawn growth rate are treatment A (0% CaO)= 1.20 g, B (1% CaO) = 1.41 g, C (2% CaO) = 1.92 g, D (3% CaO) = 1.77 g. The average of freshwater prawn survival rate result shown by treatment A = 75 %, B = 91,1 %, C = 91,1 %, and D = 89 %. The moulting frequency value results shown by treatment A = 1,06 ; B = 1,22; C = 1,57 and D = 1,34. Keywords : Calcium, Freshwater Prawn, Macrobranchium rosenbergii, Moulting Abstrak. Cangkang kepiting bakau merupakan salah satu limbah perikanan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber kalsium karena cangkang kepiting mengandung kalsium karbonat tinggi. Pemanfaatan tepung cangkang kepiting pada pakan adalah sebagai suplemen. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan mineral kalsium dari cangkang kepiting bakau pada pakan untuk meningkatkan laju pertumbuhan, kelangsungan hidup dan frekuensi molting udang galah. Penelitian ini dilakukan selama 70 hari di laboratorium perikanan, Universitas Abulyatama. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penambahan 2 % kalsium pada pakan memberikan hasil tertinggi untuk laju pertumbuhan, kelangsungan hiidup dan frekuensi molting udang galah dibanding perlakuan lain. Nilai rata-rata pertumbuhan udang galah tiap perlakuan adalah sebagai A (0% CaO) = 1,20 gr, B (1% CaO) = 1.41 gr, C (2% CaO) = 1.92 gr dan D (3% CaO) = 1,77 gr. Sedangkang nilai rata-rata kelangsungan hidup udang galah adalah A = 75 %, B = 91,1 %, C =91,1 % dan D = 89 %. Nilai ata-rata frekuensi molting udang galah selama pemeliharaan pada tiap perlakuan adalah A = 1,06 kali/ekor, B = 1,22 kali/ekor, C = 1,57 kali/ekor dan D = 1,34 kali/ekor. Kata kunci: Kalsium, Macrobranchium rosenbergii, Moulting, Udang Gala

    Lintasan sampah mikro plastik di kawasan konservasi perairan Nasional Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur

    Get PDF
    Abstract. At present, marine debris is an important issue in Indonesia. Due to the complex pattern of ocean currents, research on the distribution of marine waste in Indonesia is still very lacking. This study aims to determine the movement of microplastic particles at the Savu Sea National Marine Park. The method used was to simulate the hydrodynamic model and particle trajectory. Data used were wind, tides, bathymetry, coastline, weight of garbage, and garbage fluxes. Analysis was carried out on physical data visualization, hydrodynamic models, and particle trajectory models. The hydrodynamic model simulation shows if the average current velocity ranges from 0,0002 m/s to 0.35 m/s. The particle trajectory showed that microplastic particle movements tend to move to the south, where some of them move west and east of the Savu Sea. Besides being affected by tides, microplastic particle movements in the Savu Sea National Marine Park are also influenced by various currents that pass through the Savu Sea waters, especially by Indonesia Troughflow.Keywords: ocean model, particle pathways, microdebris, Savu Seas, Indonesia TroughflowAbstrak. Saat ini, sampah laut merupakan salah satu isu kemaritiman di Indonesia. Karena pola pergerakan arus yang kompleks, penelitian mengenai distribusi sampah laut di Indonesia masih sangat kurang. Taman Laut Nasional Laut Sawu sebagai wilayah yang dilalui Arlindo juga memiliki karakteristik oseanografi yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil simulasi pergerakan partikel sampah di Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu. Metode yang digunakan yaitu simulasi model hidrodinamika dan lintasan partikel. Data yang digunakan yaitu angin, pasang surut, batimetri, garis pantai, berat sampah, dan flux sampah. Analisis dilakukan terhadap visualisasi data fisik, model hidrodinamika, dan model pergerakan partikel. Simulasi model hidrodinamika menunjukkan jika rata-rata kecepatan arus berkisar antara 0,0002 m/s hingga 0,35 m/s. Hasil simulasi menunjukkan jika pergerakan partikel mikroplastik cenderung bergerak ke selatan, dimana sebagian bergerak ke arah barat dan timur Laut Sawu. Selain dipengaruhi pasang surut, pergerakan partikel mikroplastik di Taman Laut Nasional Laut Sawu juga dipengaruhi oleh berbagai arus yang melewati perairan Laut Sawu khususnya Arlindo.Kata kunci: pemodelan, lintasan partikel, sampah mikro, Laut Sawu, Arlindo

    Hubungan ukuran kapal, panjang jaring, tenaga mesin, dan material rumpon terhadap hasil tangkapan purse seine: Studi kasus di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur

    Get PDF
    Abstract.Each region has different boat sizes, fishing gear sizes, engine power, andfishagregatingdevice(FAD)material, allegedly having different catches. The relationship between the length of the net, engine power, fishing vessel size, usually influences the catch of the fish. This study aims to determine the effect of fishing vessel size, engine power, net length and FAD material on catches volume. The study was conducted using descriptive methods conducted on 14 February-14 March 2019 in Idie Rayeak, Aceh Timur, Aceh Province. Data were analyzedby multiple linear regression analysis. The results showed that engine power, net length and FAD material had a significant effect on the catch volume, while the fishing vessel size had no significant effect on the catch volume.Keywords: fishing vessel size, length of net, engine power, FAD materialAbstrak.Setiap daerah memiliki ukuran kapal, ukuran alat tangkap, tenaga mesin, serta material rumpon yang berbeda-beda, diduga memiliki hasil tangkapan yang berbeda pula. Hubungan antara panjang jaring, tenagamesin, ukuran kapal, biasanya berpengaruh terhadap hasiltangkapan ikan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran kapal, tenaga mesin, panjang jaring dan material rumpon terhadap hasil tangkapan.Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif yang dilakukan pada bulan 14Februari- 14 Maret 2019 di perairan Idi Rayeak Aceh Timur, Provinsi Aceh.Data dianalisisdengan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tenaga mesin, panjang jaring dan material rumpon mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil tangkapan, sedangkan ukuran kapal tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil tangkapan.Kata kunci: Ukuran kapal, panjang jaring, tenaga mesin, material rumpo

    Kriopreservasi sperma ikan kawan Poropontius tawarensis menggunakan Dimetil sulfoxida (DMSO)

    Get PDF
    Abstract.Kawan fish (Poropuntius tawarensis) is an endemic fish found in Danau Laut Tawar, Central Aceh, Indonesia. This species has been threatened by ecological partubation, unfrindly fishing practices and pollution.Cryopreservation is one of the ways to maintain the presence of these fish. Cryoprotectant (CP) is a critical material in the cryopreservation and DMSO is a common CP used in cryopreservation. Hence, the aim of the present study was to determine the optimum DMSO concentration for kawan fish sperm. The completely randomized design with 6 treatments and 3 replications were used in this study. The tested treatment was the difference of DMSO concentration, namely; 0, 3%, 6%, 9%; 12%, and 15% DMSO was combined with 5% egg yolk. The ratio of sperm to diluent is 1: 20. The cryotubes containing diluented sperm were evaporated at 5 cm from the surface of liquid nitrogen for 10 min, then stored in a liquid nitrogen container at -1960C for 2 weeks, then thawed and analyzed for the quality. The results showed that fresh sperm of kawan fish had motility of 48.67%, pH 7, milky white, with moderate consistency. The assessment of mass movements shows that the sperm has good quality. The ANOVA test showed that the addition of DMSO in diluents gavee significant effect on sperm motility, fertility and hatchability rates of fish eggs (P 0.05). The highest percentage of sperm motility and fertilization rates of fish eggs were found at concentration of 6%, respectively with the value of 46.67% and 45.67%, respectively. The highest percentage of hatching rate was also found in similar concentration of DMSO with the value of 19.33%. %. The DNA integrity test using the electrophoresis gel method showed that there was damage to DNA fish sperm after freezing, the the lower damage was found at 9% and 12% DMSO. It is concluded that the optimum concentration of DMSO for kawan fish sperm is at 6% of DMSO.Key words:kawan fish (Poropuntius tawarensis), cryopreservation, DMSO, DNA integrityAbstrak. Ikan kawan (Poropuntius tawarensis) merupakan ikan endemik yang terdapat di Danau Laut Tawar, Aceh Tengah, Indonesia. Menurut IUCN (International Union for Conservation of Nature), ikan ini termasuk ikan yang terancam punah oleh sebab kerusakan lingkungan, penangkapan tidak ramah lingkungan dan polusi. Salah satu cara untuk menjaga keberadaan ikan tersebutadalah dengan penerapan metode kriopreservasi sperma. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi DMSO optimum danmelihat kerusakan DNA yang terjadi pada spermaikan kawan(Poropontius tawarensis) pasca pembekuan.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan.Perlakuan yang diuji adalahperbedaan konsentrasiDMSOdengan konsentrasi 0;3%;6%; 9%; 12% dan 15%.DMSO tersebut dikombinasikan dengan 5% kuning telur. Perbandingan sperma dengan pengencer adalah 1:20.Semuacryotubeyang berisi sperma dan pengencer diuapkan pada jarak 5 cm dari permukaan nitrogen cair selama 10 menit, selanjutnya, disimpan dalam kontainer nitrogen cair bersuhu -1960C untuk disimpan selama 2 minggu.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sperma segar ikan kawan memiliki nilai motilitas sebesar 48,67%, pH 7, berwarna putih susu, dengan konsistensi sedang. Penilaian gerakan massa menujukkan bahwa sperma tersebut berkualitas baik. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa penambahan DMSO dalam pengencer berpengaruh nyata terhadap motilitas, fertilitas dan daya tetas telur ikan kawan (Poropontius tawarensis)(P0,05) setelah pembekuan. Selanjutnya, uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa persentase motilitas sperma dan pembuahan telur ikan kawan tertinggi terdapat pada penambahan DMSO dengan konsentrasi 6%, masing-masing sebesar 46,67% dan 45,67%. Persentase penetasan telur tertinggi juga dijumpai pada perlakuan 6% DMSO, dengan nilai 19,33%. Hasil uji integritas DNA menggunakan metode elektrofresis gel menunjukkan bahwa terdapat kerusakan pada DNA sperma ikan pasca pembekuan, Kerusakan yang terendah terdapat pada konsentrasi DMSO 9% dan 12%. Namun secara umum, disimpulkan bahwa konsentrasi optimum untuk kriopreservasi ikan kawan adalah 6% DMSO.Kata kunci: ikan kawan (Poropuntius tawarensis), kriopreservasi, DMSO, integritas DN

    Penanganan penyakit white feces pada udang vaname Litopenaeus vannamei menggunakan aplikasi pakan yang dicampur ekstrak lengkuas merah Alpinia purpurata k. schum

    Get PDF
    Abstract. The main problem in vaname shrimp Litopenaeus vannamei culture is a disease. One of the diseases that can infect vaname shrimp is White Feces Disease (WFD) caused by bacteria Vibrio sp. The Treatment can be done by using Red galangal Rhizome extract. Since MBC testing result galangal extract can be a treat of Vibrio sp bacteria. This research used the completely randomized design (RAL) with five treatments and three replications which treatment A (negative control), B (positive control), C (7.5 grams), D (10 grams) and (12.5 grams) which are mixed with pellet for treating White Feces Disease in vaname shrimp. The result shows that red galangal rhizome extracted give effect to SR (Survival Rate), RPS (Relative Percent Survival), TVC (Total Vibrio Count), but it didnt give effect to clinical indication and histopathology.Keywords: vanameshrimp, whitefeces disease, extractredgalangalRhizomeAbstrak. Permasalahan utama dalam budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) adalah penyakit, salah satu penyakit yang dapat menyerang udang vaname yaitu White Feces Disease (WFD) yang disebabkan bakteri Vibrio sp. Upaya pengobatan yang dapat dilakukan untuk menangani penyakit tersebut adalah dengan pengobatan menggunakan ekstrak rimpang lengkuas merah dikarenakan ekstrak lengkuas telah diuji secara MBC dapat mematikan bakteri Vibrio sp. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ekstrak rimpang lengkuas merah dengan dosis berbeda yang dicampur dengan pakan buatan untuk mengobati penyakit white feces disease pada udang vaname (Litopenaeus vannamei). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan, tiga ulangan dimana perlakuan A (kontrol negatif), perlakuan B (kontrol positif), perlakuan C (7,5 g), perlakuan D (10 g) dan perlakuan E (12,5 g). Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak rimpang lengkuas merah berpengaruh terhadap SR, RPS (RelativePercentSurvival) dan TVC (Total Vibrio Count), namun tidak berpengaruh terhadap gejala klinis dan histopatalogi. Kata Kunci: udang vaname, white feces disease, ekstrak rimpang lengkuas mera

    Struktur komunitas Echinodermata pada ekosistem lamun Desa Taulaa Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo

    Get PDF
    Abstract.Echinodermatais playing an important role in food chains in waters ecosystem; however, there was no report on the Echinodermata structure in the seagrass ecosystem of Taulaa village, Gorontalo district. Hence, the objective of the study was toto determine the community structure of Echinoderms in the seagrass ecosystem of coastal area of Taulaa village, Bilato, Gorontalo regency. The research was conducted from January to April 2019. There were 3 observation stations chosen purposively. The sample of Echinoderms was observed at low tide using methods of quadrats and transects of 11 m. In addition, the water parameters were also measured i.e the temperature, the salinity, the pH, the water depth, the substrate and the water flow. Furthermore, diversity, dominanc and Evenness index were analyzed using software PAST 3.22. The results showed that there were 13 species of Echinoderms representing 4 classes, namely Ophiuroidea, Asteriodea, Echinodea dan Holothuroidea in which the highest total abundance was on 1st station and the lowest total abundance was on the 2nd station.The index of diversity was in the medium category, the index of domination was in the low category, the index of evenness showed an equitable distribution and the index of uniformity was very high.Keywords :Echinoderms, community, seagrass, Past 3.22Abstrak.Echinodermata memiliki peranan penting dalam rantai makanan pada ekosistem laut, namun demikian struktur komunitasnya di ekosistim lamun Desa Taulaa Kabupaten Gorontalo belum pernah dilaporkan. Oleh karena itupeneilitan ini bertujuanuntuk mengetahui struktur komunitas Echinodermata pada ekosistem lamun di wilayah pesisir Desa Taulaa, Bilato Kabupaten Gorontalo. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga April 2019. Terdapat 3 stasiun pengamatan yang dipilih secarapurposive. Pengamatan sampel Echinodermata dilakukan pada saat surut dengan menggunakan transek kuadran 11 m. Selain itu dilakukan juga pengukuran terhadap parameter air yaitu suhu, salinitas, pH, kedalaman, substrat dan arus.Nilai indeks keanekaragaman, indeks dominansi dan indeks kemerataan dianalisismenggunakansoftwarePAST 3.22. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 13 spesies Echinodermata ditemukan yang mewakili 4 kelas yaitu Ophiuroidea, Asteriodea, Echinodea dan Holothuroidea dimana kelimpahan total tertinggi pada stasiun I dan terendah pada stasiun II.Indeks keanekaragaman kategori sedang, indeks dominasi rendah, indeks kemerataan menunjukkan penyebaran yang merata dan indeks keseragaman yang sangat tinggi.Kata kunci:Echinodermata, komunitas, Lamun, Past 3.2

    Pengaruh suhu terhadap perkembangan embrio ikan Cupang Betta splendens

    Get PDF
    Abstract.Temperurate is one of the important parameter in the embryo development of fish; However, to date no information this effect on the Betta splendens. Hence,this study aims to determine the effect of temperature on egg hatchability and survival of betta fish larvae. Samples of betta fish used in this study are similar in size and from the same type of broodstock. A completely randomized design used with four treatments and three replications. The parameters observed were the process of egg development, fertilization rate, hatching rate, hatching duration, survival rate, and water quality (pH, DO, temperature). The results showed that the relation between temperature and fertilization rate was not significantly different, whereas the calculated F value (0.23)F table 0.05 (4.07). The relation between temperature and hatching rate has a very significant effect, F value (18.91)F table 0.05 (4.07). The relation of temperature to hatching time showed the same difference, and the relation of temperature to survival of betta fish (Betta spelendes) larvae is significant with F values(39.98) F table 0.05 (4.07).Water quality parameters during the study were pH 7 - 7.5, DO 5.0 - 7.7 ppm and temperature at 27 - 29oC.Keywords:Betta fish eggs, temperature, embryogenesisAbstrak.Suhu adalah salah satu faktor menentukak proses perkembangan embrio pada ikan, namun pengaruh ini belum pernah diamati pada ikan cupangBetta splendens. Oleh karena itu,penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap perkembangan embrio, daya tetas telur dan kelangsungan hidup larva ikan cupang. Induk ikan cupang yang digunakan memiliki ukuran yang sama dan dari induk jenis yang sama. Adapun rancangan yang digunakan dalam penelitian adalah rancangan acak non factorialdengan 4 perlakuan 3 kali ulangan. Parameter yang diamati adalah proses perkembangan telur, tingkat pembuahan telur, tingkat penetasan telur, lama penetasan telur, tingkat kelangsungan hidup dan kualitas air pH, DO, suhu ruangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan suhu terhadap tingkat pembuahan telur tidak berbedanyata, dimana nilai F hitung (0,23)F tabel 0,05 (4,07). Hubungan suhu terhadap tingkat penetasan telurberpengaruhsangat berbedanyata, dimana nilai F hitung (18,91)F tabel 0,05 (4,07). Hubungan suhu terhadap lama penetasan menunjukkan berbeda sama, dan hubungan suhu terhadap kelangsungan hidupberpengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup larva ikan cupang (Betta spelendes) dengan nilai F hitung (39,98) F tabel 0,05 (4,07). Parameter kualitas air selama penelitian rata-rata pH 7 7,5, DO 5,0 7,7 ppm dan suhu ruangan 27 29oC.Kata kunci:Telur ikan cupang, suhu, embriogenesi

    Struktur ekosistem lamun di Desa Teluk Bakau, pesisir bintan timur-Indonesia

    Get PDF
    Abstract. Teluk Bakau Village is one of the largest conservation areas of seagrass ecosystem located in Bintan Island. This research aim to study the distribution of species, seagrass coverage and seagrass density in Teluk Bakau Village. The research was conducted at two stations, Beralas Pasir Island and Teluk Bakau Village Beach. Seagrass data collections are computed using transect quadrat method. The results of this study show that there is total 8 species of seagrasses found in the conservation area of seagrass ecosystem in Teluk Bakau, namelu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serulata, Halophila ovalis, Halophila minor, Syringodium isoetifolium and Halodule uninervis. The highest seagrass cover value was found at Beralas Pasir Island station about 47%, while in Teluk Bakau Village Beach station the seagrass coverage value was arround 29%. Based on these coverage value, the seagrass ecosystem in Teluk Bakau area fall in the category of medium conditon. The excistence of seagrass ecosystem in Teluk Bakau village is utilized by the community in small scale fisheries activity, therefore it is utmost important that its biodiversity and level of coverage are maintaned or even improved.Keywords: Bintan, conservation, coverage, seagrass, teluk bakauAbstrak. Desa Teluk Bakau merupakan salah satu kawasan konservasi ekosistem padang lamun yang terletak di Pulau Bintan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sebaran spesies, tutupan dan kerapatan lamun di Desa Teluk Bakau. Metode pengamatan ekosistem padang lamun dengan menggunakan metode transek kuadrat. Penelitian dilakukan di dua stasiun yaitu Pantai Timur Teluk Bakau dan Pulau Beralas Pasir. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa total terdapat 8 spesies lamun yang ditemukan di kawasan konservasi ekosistem padang lamun di Teluk Bakau, meliputi spesies Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serulata, Halophila ovalis, Halophila minor, Syringodium isoetifolium dan Halodule uninervis. Nilai tutupan lamun tertinggi ditemukan di stasiun Pulau Beralas Pasir sebesar 47% dan stasiun Pantai Desa Teluk Bakau memiliki nilai tutupan lamun sebesar 29%. Berdasarkan nilai tutupannya ekosistem padang lamun di kawasan Teluk Bakau berada dalam kondisi sedang. Keberadaan ekosistem lamun di Desa Teluk Bakau dimanfaatkan oleh masyarakat dalam aktivitas perikanan skala kecil, sehingga sangat penting untuk menjaga keberagaman dan nilai tutupan ekosistem lamun.Kata Kunci: Bintan, konservasi, lamun, Teluk Bakau, tutupa

    Performa pertumbuhan bawal bintang Trachinotus blochii yang dibudidaya dengan sistem monokultur dan polikultur bersama kerang hijau Perna viridis

    Get PDF
    Abstract. The snubnose pompano Trachinotus blochii is one of the important commercial fishery commodity in the Indonesian market. The increasing of the market demand has led some efforts to increase the production of this fish. So do the increasing need for green mussels Perna viridis meat. Therefore it is necessary to evaluate the performance of both species in the polyculture system by using raft culture. This study aims to compare the growth performance of snubnose pompano cultivated on a monoculture system and polyculture within green mussels in a raft system. The parameter observed was the differences in the growth performance of both species and the increase in total weight and survival (SR) of the fish. The results showed that the growth of snubnose pompano did not provide a significant difference in the growth of both cultivating systems whether in monoculture or polyculture system, likewise the shell length and width of the green mussels. We conclude that it is profitable to cultivate both organisms on a polyculture system because it can harvest both green mussels and snubnose pompano together in a period.Keywords: Snubnose pompano, green mussel, monoculture, polyculture, raft, growthAbstrak. Permintaan pasar terhadap daging ikan bawal bintang semakin meningkat begitupun dengan daging kerang hijau sehingga diperlukan suatu upaya rekayasa teknologi budidaya. Salah satunya adalah dengan menerapkan sistem polikultur dalam keramba jaring apung. Penelitian ini bertujuan membandingkan faktor pertumbuhan ikan bawal bintang dan kerang hijau yang dibudidayakan dengan sistem monokultur dan polikultur. Pengamatan dilakukan pada perbedaan pertumbuhan ikan dan kerang hijau, juga pada mutlak serta survival rate (SR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan panjang dan lebar bawal bintang tidak memberikan perbedaan pertumbuhan secara nyata baik pada perlakuan monokultur dan polikultur. Begitupun dengan pertumbuhan kerang hijau sehingga sistem polikultur lebih menguntungkan untuk dilakukan karena bisa memanen kerang hijau dan ikan bawal bintang sekaligus.Kata Kunci: kerang hijau, ikan bawal bintang, monokutur, polikultur, pertumbuhan, KJA

    Penggunaan minyak biji karet (Hevea brasiliensis) dalam pakan untuk menunjang kinerja pertumbuhan ikan mas (Cryprinus carpio)

    Get PDF
    Abstract. Rubber seed Hevea brasiliensis contains relatively high oil and potentially used in a diet as sources of fatty acid and energy as well. A study, therefore, was conducted in the aim of evaluating the use of rubber seed oil as a substitution of soybean oil in the diet for increasing growth performance of common carp. The treatments were the substitution of rubber seed oil to soybean oil at a respectived level of 0, 25, 50, 75 and 100%, each treatment had three replications. Test diet contained Cr2O3 as digestibility indicator. After acclimatization, common carp fingerling of 3.55 0.00 g in average weight was randomly stocked in 15 aquaria of 69x29x35 cm3 in dimension size containing 50 L water at 15 fingerlings per aquarium and fed iso-protein and iso-energy test diet at satiation for 40 days of the experimental period. Feces in each tank were collected at day 3 for 15 days. Parameters tested were digestibilities of total and fat, diet consumption, growth, protein/fat retention, and survival. The results showed that the more increase rate of substitution of rubber seed oil in the diet, the more significantly declining diet digestibility and growth performance of common carp (P0.05). It is concluded that the substitution of rubber seed oil to soybean oil as much as 25% in diet resulted in the highest diet digestibility and growth performance of common carp.Keywords: Common carp, Digestibility, Rubber Seed Oil, Soybean Oil, Growth PerformanceAbstrak. Biji karet Hevea brasiliensi mengandung lemak relatif tinggi dan berpotensi digunakan dalam pakan ikan sebagai sumber asam lemak dan energi. Oleh karena itu, suatu penelitian telah dilakukan dengan tujuan untuk mengevaluasi penggunaan minyak biji karet dalam pakan sebagai substitusi minyak kedelai untuk peningkatan kinerja pertumbuhan ikan mas Cyprinus carpio. Perlakuannya adalah substitusi minyak biji karet terhadap minyak kedelai pada tingkat 0, 25, 50, 75, dan 100%, masing- masing perlakuan mempunyai tiga ulangan. Pakan uji mengandung Cr2O3 sebagai indikator kecernaan. Setelah diadaptasikan, ikan mas dengan bobot rata-rata 3,55 0,00 g ditebar ke dalam 15 akuarium ukuran 69x29x35 cm3 berisi 50 L air dengan padat tebar 15 ekor/ akuarium dan diberi iso protein dan iso enerji pakan uji secara sekenyangnya selama 40 masa percobaan. Uji kecernaan dilakukan selama 15 hari dan uji pertumbuhan selama 40 hari. Parameter uji yang digunakan adalah kecernaan total dan lemak, konsumsi pakan, pertumbuhan, retensi protein/lemak dan sintasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin meningkat substitusi minyak biji karet, secara nyata semakin menurun kecernaan pakan dan kinerja pertumbuhan ikan mas (P0,05). Oleh karena itu substitusi minyak biji karet terhadap minyak kedelai sampai dengan 25% menghasilkan kecernaan pakan dan kinerja pertumbuhan ikan mas terbaik.Kata Kunci: Ikan mas, Kecernaan, Minyak biji karet, Minyak kedelai, Pertumbuha

    529

    full texts

    571

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇