DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
Not a member yet
571 research outputs found
Sort by
Hubungan panjang-berat ikan monacanthus cinensis dan acreichthys tomentosus di Pulau Fair, Tual, Maluku Tenggara
Abstract. Length-weight relationship analysis is used to determined the pattern of the growth for the fish. Based on this knowledge, field study have been done at the Fair island waters, the district of Tual, in April, June and August 2014, to collect data length and weight of Monacanthus cinensis and Acreichtys tomentosus. The length of the fish is measured using a digital caliper with an accuracy of 0.01 mm and weighed using an analytical balance precision balance ACS - AD 300 with an accuracy of 0.01 g. The number of fish samples analyzed were 288 for M. cinensis and 270 for A. tomentosus, respectively. Based on the analysis of length-weight relationship and condition factor, M.cinensis and A.tomentosus have the same growth pattern, i.e., negative allometric, with b values 2.505 and 2.3195 (b 3), respectively.Value of condition factor were 1.083 - 3.379 for M. cinensis and 1.003 - 4.106 for A. tomentosus, both fish were included in the category of fish that have a slightly flattened body.Keywords: Monacanthus cinensis, Acreichthys tomentosus, length-weight relationship, growth pattern, Fair IslandAbstrak. Analisa hubungan panjang berat ikan merupakan analisa untuk mengetahui pola pertumbuhan ikan. Adapun penelitian ini dilakukan pada ikan Monacanthus cinensis dan Acreichthys tomentosus pada bulan April, Juni dan Agustus 2014 di perairan Pulau Fair, Tual, Maluku Tenggara. Ikan hasil tangkapan diukur panjangnya menggunakan digital caliper dengan ketelitian 0,01 mm, dan beratnya menggunakan timbangan analitik ACS precision balance-AD 300 dengan ketelitian 0,01 g. Jumlah ikan sampel yang dianalisa masing-masing sebanyak 288 ekor untuk M. cinensis dan 270 ekor untuk A. tomentosus. Berdasarkan analisa hubungan panjang berat dan faktor kondisi, M. cinensis dan A. tomentosus memiliki pola pertumbuhan yang sama yaitu alometrik negatif dengan nilai b masing-masing sebesar 2,505 dan 2,3195 (b3). Nilai faktor kondisi (Kr) untuk kedua jenis ikan tersebut masing-masing berkisar antara 1,083 3,379 untuk ikan M. cinensis dan 1,003 4,106 untuk A. tomentosus, keduanya termasuk dalam kelompok ikan yang memiliki bentuk badan yang agak pipih.Kata Kunci: Monacanthus cinensis, Acreichthys tomentosus, hubungan panjang berat, pola pertumbuhan, Pulau Fai
Pemanfaatan potensi Azolla microphylla sebagai pakan untuk ikan sidat (Anguilla bicolor)
Abstract. Azolla microphylla is included Azollaceae family that very rich of protein, essential amino acid, vitamin and mineral. Azolla plant can be a potential source of nutrient for fish. The study was aimed to determine the utilization of potential of A. microphylla as a feed for Anguilla bicolor bicolor. This study was used a completely randomized design (CRD), with five treatments and three replications. About 15 of A. bicolor bicolor with an average body length of 20-25 cm and a weight of 10 g were divided into five groups, into each aquarium containing three fish and they have been given treatment test by substitution of A. microphylla (0%, 10%, 20%, 30%, 40%) for 30 days. The parameters of this study were absolute weight gain, specific growth rate, feed convertion ratio and survival rate of A. bicolor. The ANOVA analysis were continued by the Tukey test in a confidence level of 95%, has shown difference results significantly (P 0.05) for control treatment (0% A. microphylla) which were absolute weight gain: 0,130,07 g, SGR: 0,550,11(%/day), FCR: 13,252,62 and SR: 100%. All treatment that substituted by A. microphylla havent shown positive results. Based results of the research, concentrations of A. microphylla which has been substituted (10%, 20%, 30%, 40%) for 30 days, it hasnt shown potential feed for A. bicolor bicolorKeywords: Azolla microphylla, Anguilla bicolor bicolor, feed, substitution, potentialAbstrak. Azolla microphylla termasuk dalam famili Azollaceae yang sangat kaya protein, asam amino esensial, vitamin dan mineral. Tanaman azolla dapat menjadi sumber nutrien potensial untuk ikan. Anguilla bicolor bicolor merupakan salah satu ikan yang memiliki potensial ekspor dengan permintaan pasar dunia yang meningkat dari tahun ke tahun.. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pemanfaatan potensi A. microphylla sebagai pakan untuk ikan sidat A. bicolor bicolor. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan lima perlakuan dan tiga kali ulangan. Sekitar 15 ekor A. bicolor bicolor dengan rata-rata panjang tubuh 20-25 cm dan berat 10 g dibagi menjadi lima kelompok, ke dalam akuarium masing-masing berisi tiga ikan untuk diberi pakan uji dengan substitusi A. microphylla (0%, 10%, 20%, 30%, 40%) selama 30 hari. Parameter penelitian ini adalah pertambahan berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik, rasio konversi pakan dan tingkat kelangsungan hidup A. bicolor bicolor. Hasil analisis ANOVA dilanjutkan uji Tukey dengan taraf kepercayaan 95%, menunjukkan hasil beda nyata (P0,05) pada perlakuan kontrol (0% A. microphylla) dengan pertambahan berat mutlak: 0,130,07 g, SGR: 0,550,11(%/hari), FCR: 13,252,62 dan SR: 100%. Seluruh perlakuan dengan substitusi A. microphylla belum menunjukkan hasil positif untuk ikan sidat. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian A. microphylla dengan substitusi konsentrasi (10%, 20%, 30%, 40%) selama 30 hari, belum menunjukkan potensi sebagai pakan untuk A. bicolor bicolor.Kata Kunci : Azolla microphylla, Anguilla bicolor bicolor, pakan, substitusi, potens
Fitoplankton sebagai bioindikator kualitas perairan pada zona litoral waduk Sei Pulai, Pulau Bintan, Kepulauan Riau
Abstract. Sei Pulai reservoir is located on Bintan Island, Riau Islands Province. Water quality monitoring of Sei Pulai reservoir needs to be done considering that this reservoir is a source of raw water for the people of Tanjungpinang City and surrounding areas.The objective of this recent study were to determine the diversity and structure of phytoplankton community, also determine the water quality of litoral zone at Sei Pulai reservoir based on phytoplankton as bioindicator. Sampling points were chosen by purposive sampling method. Phtoplankton and water sample were collected in three parts namely inlet, middle, and outlet of the reservoir. Species richness of phytoplankton in littoral zone Sei Pulai reservoir consisted of 3 divisions and 18 species. Phytoplankton abundance in the inlet of reservoir showed moderate abundance. In theotehrs hand, the middle and outlet of the reservoir showed low abundance. Based on ecological index, phytoplankton community was categorized low diversity, moderate uniformity, and no dominance. The saprobic index value obtained from the analysis of the phytoplankton community more moderate organic matter or /-mesosaprobic. Keywords : bio-indicator, community structure, littoral zone, phytoplankton, saprobic index Abstrak. Waduk Sei Pulai terletak di Pulau Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Monitoring terhadap kualitas perairan waduk Sei Pulai perlu dilakukan mengingat waduk ini menjadi merupakan sumber air baku masyarakat Kota Tanjungpinang dan sekitarnya. Kajian yang dilakukan ini bertujuan untuk mengkaji jenis dan struktur komunitas fitoplankton serta kualitas perairan di zona litoral waduk Sei Pulai berdasarkan fitoplankton sebagai bioindikator. Lokasi pengambilan sampel ditentukan berdasarkan metode purposive sampling. Sampel fitoplankton dan air diambil pada tiga bagian waduk yaitu masukan air (inlet), tengah, serta keluaran air (outlet). Fitoplankton yang ditemukan di perairan zona litoral waduk Sei Pulai terdiri dari tiga divisi dan 18 jenis fitoplankton. Nilai kelimpahan fitoplankton di bagian inlet menunjukkan kelimpahan sedang. Bagian tengah dan outlet waduk menunjukkan kelimpahan rendah. Hasil penilaian indeks ekologi menunjukkan bahwa komunitas fitoplankton memiliki keanekaragaman rendah, keseragaman sedang, dan tidak ada yang mendominansi. Berdasarkan indeks saprobik diketahui bahwa di zona litoral Waduk Sei Pulai terjadi pencemaran bahan organik sedang (Kategori /-mesosaprobik). Kata kunci : bioindikator, fitoplankton, struktur komunitas, indeks saprobik, zona litora
Karakteristik sampah mikroplastik di Muara Sungai DKI Jakarta
Abstract. Marine debris is one of the global issues and becomes a challenge for Indonesia as a maritime country. This research focuses on the characteristics of the one the estuaries in DKI Jakarta. The method used in this research by sampling the water at the mouth of the river by using the manta net at different depths and in tidal conditions. The results showed that the number of microplastic consists of 93 microplastic particles originating from the seven stations. The number of microplastic particles at low tide conditions is 112 particles. The results of microplastic counting obtained weight of 45.7 mg from the seven stations with high tide conditions on the surface. The maximum particle weight value of 16.2 mg found at station 1 in Muara Tiram. Based on the observations at each station, the size of the microplastic obtained range between 1mm to 5mm. The results of observing the characteristics of the forms in the research study have results including fragments, filaments, films, foams, and granules. The microplastics at the estuary come from the ocean and also from the river.Keywords: marine debris, estuary, microplastics, rivers, trash educationAbstrak. Sampah laut merupakan isu global dan merupakan tantangan bagi Indonesia sebagai negara maritim. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana karakteristik sampah yang keluar dari muara sungai di DKI Jakarta. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan sampling di muara sungai dengan menggunakan manta net pada kedalaman yang berbeda dan pada kondisi pasang dan surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah mikroplastik sebanyak 93 partikel mikroplastik yang berasal dari tujuh stasiun. Hasil yang berbeda terlihat pada kondisi surut di permukaan terdapat jumlah sebanyak 112 partikel mikroplastik. Hasil pencacahan mikroplastik didapatkan berat sebesar 45,7 mg yang berasal dari ketujuh stasiun dengan kondisi pasang yang berada di permukaan. Nilai berat partikel maksimum sebesar 16,2 mg yang terdapat pada stasiun 1 di Muara Tiram. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di setiap stasiun, menunjukkan bahwa pengukuran partikel mikroplastik memiliki karakterisasi ukuran sampah yaitu antara 1mm hingga 5 mm. Hasil pengamatan karakteristik bentuk pada kajian penelitian memiliki hasil diantaranya yaitu fragments, filaments, films, foams, dan granules. Sampah yang ada di estuary dapat berasal dari laut dan juga dari sungai.Kata Kunci: sampah laut, estuarin, mikroplastik, sungai, edukasi sampa
Pemanfaatan data Google Earth resolusi spasial tinggi untuk pemetaan perubahan morfologi pantai
Penelitian ini bertujuan menganalisis perubahan morfologi pantai yang terjadi sangat cepat terjadi di pesisir pantai Kabupaten Serang dan Kota Serang, Provinsi Banten. Perubahan morfologi pantai yang dimaksud dalam penelitian ini adalah abrasi, akresi, dan reklamasi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data satelit resolusi spasial sangat tinggi yang disediakan oleh Google Earth untuk tahun 2004, 2015, dan 2019. Perubahan garis pantai dianalisis dengan pendekatan interpretasi visual melalui digitasi pada layar dengan mengunakan aplikasi Google Earth. Hasil penelitian ini memperlihatkan adanya perubahan morfologi pantai yang sangat cepat di seluruh lokasi studi. Dari hasil kajian ini, pesisir pantai Kabupaten Serang terbagi ke dalam tiga zona, yaitu zona reklamasi (dari Desa Salira sampai Desa Terate), zona akresi (dari Desa Tengkurak Sampai Desa Pedaleman), dan zona abrasi (dari Desa Tonjong sampai Desa Lontar). Untuk Kota Serang, proses akresi terjadi di Kelurahan Banten dan Kelurahan Sawahluhur, sedangkan abrasi hanya terjadi di Kelurahan Banten. Proses abrasi yang terjadi di bagian tengah Kabupaten Serang mencapai 135 ha pada tahun 2019. Tingkat abrasi tertinggi terjadi di Desa Domas dengan rata-rata kehilangan daratan sebesar 4 ha per tahun. Akresi terjadi khususnya di wilayah paling timur Kabupaten Serang, terjadi akibat proses sedimentasi yang tinggi dari Sungai Ciujung, dengan luas lahan tanah timbul mencapai 260,19 ha sampai dengan tahun 2019. Adapun kegiatan reklamasi berlangsung khususnya di bagian barat Teluk Banten dimana area tersebut dikembangkan untuk zona industri, dengan luas areal lahan yang direklamasi mencapai 344,43 ha sampai dengan tahun 2019. Studi ini juga telah mampu mengidentifikasi proses bergabungnya dua pulau kecil di Teluk Banten, menjadi bagian dari Pulau Jawa, karena proses reklamasi yang masi
Keragaman jenis ikan di Sungai Maro pada musim peralihan I
Abstract. The river is one of aquatic resource that is rich in organisms, including various types of fish. Maro River has characteristics of a river that has a wide area of estuary area makes it a fishing area by local fishermen.This study aims to determine the structure of fish communities caught on the Maro River in the transition season I.This research was conducted in April - May 2018 on the Maro River in Merauke Regency.Determination of research stations was chosen based on differences in environmental conditions on the Maro River.Data analysis using ecological index: composition of fish species (P), frequency of occurrence (Fi), species diversity (H '), type uniformity (E) and dominance (D).The results obtained by the composition of fish species found as many as 18 species, of which the species most commonly found in station I were 13 species while the lowest was found in station II as many as 3 species.The highest frequency of acquisition is Kurtus gulliveri which is 100%. The highest percentage of attendance was obtained from the same species at 43%.The poverty index during the first transition season was 2,104, included in the criteria of moderate and medium community.The uniformity index of 0.455 is included in the low uniformity category, meaning that the spread of each type in the community is relatively even.The dominance index value during the first transition season is 0.221, indicating that no type dominates.the ecological index value obtained shows even distribution of fish and no one dominates.Overall the condition of the aquatic environment on the Maro River is still in a good and balanced environment.Keywords: Diversity, the first transition period of monsoon, Maro RiversAbstrak. Sungai merupakan salah satu perairan yang kaya akan organisme didalamnya. Sungai Maro merupakan salah satu sungai yang ada di Kabupaten Merauke. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas ikan yang tertangkap di Sungai Maro pada musim peralihan I. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April Mei 2018 di Sungai Maro Kabupaten Merauke. Penentuan stasiun penelitian dipilih berdasarkan perbedaan kondisi lingkungan di Sungai Maro. Analisis data menggunakan indeks ekologi: komposisi jenis ikan (P), frekuensi keterdapatan (Fi), keanekargaman jenis (H), keseragaman jenis (E) dan dominansi (D). Hasil penelitian diperoleh 13 jenis. Dari hasil penelitian, komposisi jenis ditemukan sebanyak 18, dimana jenis species yang paling banyak ditemukan pada stasiun 1 sebanyak 13 spesies sedangkan stasiun II ditemukan species paling sedikit yaitu sebanyak 3 species. Frekuensi keterdapatan yang paling tinggi yaitu species Kurtus gulliveri memiliki frekuensi keterdapatan yang paling tinggi yaitu 100%. Presentase kehadiran tertinggi diperoleh adalah jenis ikan kaca (Kurtus gulliveri) sebesar 43%. Indeks keanekargaman selama musim peralihan I sebesar 2,104, termasuk dalam kriteria sedang dan komunitas sedang. Indeks keseragaman sebesar 0,455 termasuk dalam kategori keseragaman rendah, artinya penyebaran individu setiap jenis didalam komunitasnya relatif merata. Indeks dominansi selama musim peralihan I sebesar 0,221, menunjukkan tidak ada jenis yang mendominasi. Indeks keanekaragmannya sedang, dengan indeks dominansi dan indeks keseragamannya rendah menandakan distribusi ikan yang merata dan tidak ada yang mendominasi. Secara keseluruhan kondisi lingkungan perairan pada Sungai Maro masih dalam lingkungan yang baik dan seimbang.Kata Kunci: Struktur komunitas, musim peralihan I, Sungai Mar
Sintasan dan pertumbuhan cacing Polychaeta Nereis sp. dari kawasan pertambakan Desa Jeruklegi Cilacap dengan salinitas media pemeliharaan dan jenis pakan berbeda
Abstract. Polychaeta Nereis sp. is one of the natural foods that can trigger the maturation of shrimp gamete cells up to 70%, but the fulfillment of Nereis sp. still rely on the arrest from nature. This condition encourages the cultivation of Nereis sp., but knowledge of the biological aspects of Nereis sp. still very lacking, so it needs further research. This study aims to determine the survival and growth of Nereis sp. from Cilacap Jeruklegi area with different salinity and feed as basic information for the cultivation of Nereis sp. sustainable. The study was conducted experimentally with a randomized block design (RBD) method with six treatments including: S5PN (maintenance of Nereis sp. with 5 ppt salinity and feed with the main content of vegetable protein), S5PH (maintenance with salinity of 5 ppt and feed with the main content of animal protein), S15PN (maintenance of Nereis sp. With 15 ppt salinity and feed with the main content of vegetable protein), S15PH (maintenance with 15 ppt salinity and feed with the main content of animal protein), S25PN (maintenance of Nereis sp. With 25 ppt salinity and feed with main content of vegetable protein), S25PH (maintenance with 25 ppt salinity and feed with the main content of animal protein). The results showed that optimum salinity to support the survival of Nereis sp. It ranges from 5-15 ppt with animal and vegetable protein feed types. Nereis sp. Optimum growth. in the maintenance of 15 ppt salinity with animal protein feed types.Keywords: Nereis sp., Body weight, number of segments, Salinity, FeedAbstrak. Polychaeta Nereis sp. merupakan salah satu pakan alami yang mampu memicu pematangan sel gamet udang sampai 70%, tetapi pemenuhan kebutuhan Nereis sp. masih mengandalkan penangkapan dari alam. Kondisi ini mendorong adanya usaha budidaya Nereis sp., namun pengetahuan tentang aspek biologi Nereis sp. masih sangat kurang sehingga perlu penelitian lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan mengetahui sintasan dan pertumbuhan Nereis sp. dari kawasan Jeruklegi Cilacap dengan salinitas pemeliharaan dan pakan yang berbeda sebagai informasi dasar untuk usaha pembudidayaan Nereis sp. yang berkelanjutan. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan metode rancangan acak kelompok (RAK) dengan enam perlakuan meliputi: S5PN (pemeliharaan Nereis sp. dengan salinitas 5 ppt dan pakan dengan kandungan utama protein nabati), S5PH (pemeliharaan dengan salinitas 5 ppt dan pakan dengan kandungan utama protein hewani), S15PN (pemeliharaan Nereis sp. dengan salinitas 15 ppt dan pakan dengan kandungan utama protein nabati), S15PH (pemeliharaan dengan salinitas 15 ppt dan pakan dengan kandungan utama protein hewani), S25PN (pemeliharaan Nereis sp. dengan salinitas 25 ppt dan pakan dengan kandungan utama protein nabati), S25PH (pemeliharaan dengan dengan salinitas 25 ppt dan pakan dengan kandungan utama protein hewani). Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas optimum untuk mendukung sintasan Nereis sp. Berkisar 5-15 ppt dengan jenis pakan berprotein hewani dan nabati. Pertumbuhan optimum Nereis sp. pada pemeliharaan salinitas 15 ppt dengan jenis pakan berprotein hewani.Kata Kunci: Nereis sp., berat tubuh, jumlah segmen, salinitas, paka
Strategi implementasi teknologi biofloc dalam budidaya udang putih Litopenaeus vannamei di Provinsi Lampung
Abstract.Biofloc technology in shrimp farming is a new technology that has advantages over other technologies. Biofloc technology can maintain water quality, especially ammonia and pH, suppress Vibrio growth, enhance immunity, and as natural food for shrimp. The application of this technology in shrimp farming still faces several obstacles, so not all farmers apply it. This study aims to evaluate the application of biofloc systems in white shrimp farming and formulate appropriate strategies to increase farmer productivity. The study was conducted using the survey and interview method for the perpetrators of white shrimp cultivation in Lampung Province. Collected data were strengths, weaknesses, opportunities, and threats of the application of biofloc technology in the cultivation of white shrimp. The obtained data were analyzed descriptively, while the formulation of strategies was conducted using SWOT analysis. The results showed that shrimp culture technology with biofloc technology has good prospects for increasing shrimp production. However, biofloc technology also has weaknesses that can lead to the failure of shrimp farming. The application of white shrimp biofloc technology was in quadrant I (aggressive) where this system has a good internal strength to capture existing external opportunities (SO strategy). Internal strengths include a high survival rate, relatively faster growth, environmentally friendly, able to minimize disease agents that enter the culture system, and lower feed conversion, while the opportunities they have include: shrimp prices are relatively high, there is a revitalization program unproductive ponds by the government, the issue of eco-labeling, and the growing demand for shrimp exports.Keywords:SWOT analysis, water quality, strategy, shrimp production, aggressiveAbstrak. Teknologi biofloc dalam budidaya udang merupakan teknologi baru yang memiliki keunggulan dibandingkan teknologi lainnya.Teknologi biofloc dapat menjaga kualitas air terutama amoniak dan pH, menekan pertumbuhanVibrio, meningkatkan imunitas, serta sebagai pakan alami bagi udang.Penerapan teknologi ini dalam budidaya udang masih mengalami beberapa kendala, sehingga tidak semua petambak menerapkannya.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan sistem bioflocdalam budidaya udang putih dan merumuskan strategi yang tepat untuk meningkatkan produktivitas petambak. Penelitian dilakukan dengan metode surve dan wawancara terhadap pelaku budidaya udangputih di Provinsi Lampung.Data yang dikumpulkan berupa kekuatan (strength), kelemahan (weakness), peluang (opportunity) dan ancaman (threat) penerapan teknologi biofloc dalam budidaya udang putih.Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif, sedangkan perumusan strategimenggunakananalsis SWOT.Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi budidaya udang dengan teknologi biofloc mempunyai prospek yang baik untuk meningkatkan produksi udang.Namun demikian,teknologi biofloc juga memiliki kelemahan yang dapat menimbulkan kegagalan budidaya udang. Penerapan teknologibiofloc udang putih berada pada kuadran I(agresif)dimana sistem ini mempunyai kekuatan internal yang baik untuk menangkap peluang eksternal yang ada (strategi SO).Kekuatan internal yang dimiliki antara lain:tingkat kelulushidupan tinggi, pertumbuhan relatif lebih cepat, ramah lingkungan, mampu meminimalisir agen penyakit yang masuk dalam sistem budidaya, dan konversi pakan lebihrendah, sementara peluang yang dimiliki antara lain:harga udang relatif tinggi, adanya program revitalisasi tambak yang tidak produktif oleh pemerintah, adanya isueco labeling, serta permintaan ekspor udang yang terus meningkat.Kata kunci:Analisis SWOT, kualitas air, strategi, produksi udang, agresi
Kandungan senyawa polisiklik aromatik hidrokarbon dalam air laut dan sedimen di Teluk Lampung
Abstract. Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH) are polycyclic aromatic organic compounds that are toxic to humans and aquatic organisms. This research aims to determine the level of pollution of PAH compounds in seawater and sediments in Lampung Bay, Lampung. This research was conducted by survey method in November 2018. Sediments and seawater samples were taken using water and sediment sampling equipment. Sediment and seawater samples were taken at three and two research stations. The levels and types of PAH compounds were determined by using Gas Mass Spectrometry Chromatography and their sources using individual ratio diagnostic methods. The results showed that the levels of PAH total in seawater ranged 295,587-331,133 ppb, this level is relatively high and has passed the threshold values set by the Decision Letter of the Office of the State Minister of Environment No 51, 2004 for marine biota protection, while in the sediments range 51.481-62.448 ppb, this level is relatively small and still in accordance with the criteria for marine life. The results of individual ratios diagnosis analysis indicate that PAHs in seawater and sediment come from various sources, namely petroleum, burning of petroleum and burning of organic matter.Keywords: Lampung Bay, sediment, seawater, PAHAbstrak. Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) merupakan senyawa organik aromatik polisiklik yang bersifat toksik terhadap manusia dan organisme perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pencemaran senyawa PAH dalam air laut dan di sedimen Teluk Lampung. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei pada bulan November 2018. Contoh air laut dan sedimen diambil dengan menggunakan alat pengambil contoh air dan sedimen. Contoh air laut diambil pada dua stasiun dan sedimen pada tiga stasiun penelitian. Kadar dan jenis senyawa PAH ditentukan dengan menggunakan Kromatografi Gas-Spektrometer Massa dan sumbernya dengan metode diagnosa rasio individu. Hasilnya menunjukkan kadar total PAH dalam air laut berkisar 295,587-331,133 ppb, kadar ini relatif tinggi dan telah melewati nilai ambang batas yang ditetapkan oleh Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 untuk kepentingan biota laut, sedangkan pada sedimen berkisar 51,481-62,448 ppb, kadar ini relatif kecil dan masih sesuai dengan kriteria untuk kehidupan biota laut. Hasil analisis diagnosa rasio individu menunjukkan bahwa PAH dalam air laut dan sedimen berasal dari berbagai sumber yakni minyak bumi, pembakaran minyak bumi, dan pembakaran bahan organik. Kata Kunci: Teluk Lampung, sedimen, air laut, PA
Identifikasi ular laut di perairan Pulau Tuan Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar
Abstract. The research of identification about sea snake in Tuan Island Waters in Peukan Bada, Aceh Besar District has been conducted. This study aims to determine sea snakes species in Tuan Island Waters. The research was begun from April until July 2018. The method used in this study research was Time Swim Method with four station observation.Types of sea snakes were identified based on their morphology, head shape, body and tail, color and band. The result showed that there were types of marine snakes in these waters, they are Acrochordus granulatus and Laticauda sp. The waters parameters of Tuan Island such as temperature, salinity and pH supported the life of the two snake species.Keywords: Acrochordus granulatus, Laticauda, identification, sea snakes, Pulau Tuan.Abstrak. Telah dilakukan penelitian identifikasi ular laut di Perairan Pulau Tuan Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini bertujuan mengetahui spesies ular laut di Perairan Pulau Tuan. Pelaksanaanya berlangsung pada bulan April-Juli 2018. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Time Swim dengan empat stasiun pengamatan. Jenis ular laut diidentifikasi berdasarkan morfologinya, bentuk kepala, badan dan ekor, warna dan corak/bands. Hasil penelitian menunjukkan terdapat dua jenis ular laut pada perairan tersebut, yaitu Acrochordus granulatus dan Laticauda sp. Secara keseluruhan parameter perairan Pulau Tuan seperti suhu, salinitas dan pH tergolong sesuai untuk kehidupan dua spesies ular tersebut.Kata Kunci: Acrochordus granulatus, Laticauda, identifikasi, ular laut, Pulau Tuan