DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
Not a member yet
571 research outputs found
Sort by
Perubahan sebaran dan kerapatan hutan mangrove di Pesisir Pantai Bama, Taman Nasional Baluran menggunakan citra satelit SPOT 4 dan SPOT 6
The condition of mangrove forests in the Baluran National Park area is always changing. Mapping changes of mangrove area and density is needed to find out areas that need attention for mangrove conservation. The study aimed to determine the distribution and the density of mangrove forests in coastal waters of Bama, Baluran National Park. The image data used were SPOT 4 acquisition in 2007 and SPOT 6 acquisition in 2017 as well as field data that have been collected on 23-25 January 2019. The method of separating mangrove and non-mangrove objects used supervised classification, whereas for estimating the density of mangrove using the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) algorithm. The results showed the distribution of mangrove forests in coastal waters of Bama, Baluran National Park from 2007-2017 decreased in area by 8.9 ha. In contrast, the condition of mangrove density increased significantly, where the changes in mangrove density were dominated in the high-density class. The results of the accuracy tests using the method confusion matrix obtained an overall accuracy of 88%, while the accuracy-test with the kappa method obtained an accuracy of 87.76%. The resulting accuracy value indicates a high level of accuracy (more than 85%) and according to the specified requirements.Keywords:Mangrove,NDVI,SPOT 4,SPOT 6,Baluran National ParkABSTRAKKondisi luasan hutan mangrove di kawasan Taman Nasional Baluran terus mengalami perubahan. Pemetaan perubahan luasan dan kerapatan mangrove sangat diperlukan untuk mengetahui area yang membutuhkan perhatian untuk pelestarian mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran dan kerapatan hutan mangrove di pesisir pantai Bama, Taman Nasional Baluran. Data yang digunakan dalam penelitian adalah citra SPOT 4 akuisisi tahun 2007 dan citra SPOT 6 akuisisi tahun 2017 dan data hasil survei lapangan yang telah dilakukan pada tanggal 23 - 25 Januari 2019. Metode pemisahan obyek mangrove dan non mangrove menggunakan klasifikasi terbimbing (supervised), sedangkan untuk pendugaan tingkat kerapatan mangrove menggunakan algoritma Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Hasil penelitian menunjukkan sebaran hutan mangrove di pesisir pantai Bama, Taman Nasional Baluran dari tahun 2007-2017 mengalami penurunan luasan sebesar 8,9 ha, sedangkan kondisi tingkat kerapatan mangrove mengalami peningkatan yang cukup signifikan dimana perubahan kerapatan mangrove didominasi pada kelas kerapatan rapat. Hasil uji akurasi menggunakan metode matriks kesalahan (confusion matrix) memperoleh overall accuracy sebesar 88%, sedangkan uji akurasi dengan metode kappa diperoleh tingkat akurasi sebesar 87,76%. Nilai akurasi yang dihasilkan menunjukkan tingkat ketelitian yang cukup tinggi (lebih dari 85%) dan telah memenuhi syarat yang ditetapkan.Kata kunci:Mangrove, NDVI, SPOT 4, SPOT 6, Taman Nasional Balura
Komunitas Echinodermata di kawasan intertidal Pantai Mandalika Pulau Lombok, Indonesia
Echinoderm community was studied at the Mandalika Beach which is the main habitat of nyale worms in the southern coast of Lombok Island, from July to September 2017. The aim of study was to describe community structure of Echinoderm fauna and population structure of predominant species. Data on species richness and its abundance were collected using transect-quadrate methods. Five transects were laid haphazardly seaward that may represent the whole reef flat with about 200 m length and 100 m wide. On every 10 meter along the transect length a 5x1 m2 quadrate was made, that overall there were 44 quadrates. The results showed that only eight species of Echinoderms found in the quadrate samples, i.e. sea urchin Echinometra mathaei (Echinoidea), and brittle stars, Ophiocoma scolopendrina, O. echinata, O. erinaceus, Ophiomastix annulosa and Ophioderma sp. (Ophiuroidea). Two other Echinoidea were also found outside the quadrates, i.e. Echinothrix calamaris and Diadema setosum. Simpson diversity index (D) was 1,243, eveness index (E) was 4,023, Shanon-Winner diversity index (H) was 0,430 and equatibility index (J) was 0,267. Sea urchin E. mathaei was the most predominant population (89,38% of total composition) with average abundance 11,8722,37 individual m2. Brittle star O. scolopendrina come the second predominant population (7,31%) with average abundance 0,862,43 individual m2. The other four brittle stars had very low proportion (2%) and low abundance ( 0,20 individual m2). Population stucture showed that these two populations mostly consisted of reproductive members. Ecological interactions of these two predominant Echinoderms should be studied in more detail on interactions among of the Echinoderms and nyale worms.Keywords:Ophiocoma,Echinometra,Nyale,Lombok Tengah,population structureABSTRAKPenelitian komunitas Echinodermata dilakukan di Pantai Mandalika yang menjadi habitat utama cacing nyale, pada bulan Juli-September 2017. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur komunitas Echinodermata dan struktur populasi spesies yang dominan. Data kekayaan spesies dan kelimpahan diambil dengan metode transek kuadrat. Lima transek diletakkan tersebar ke arah laut pada pantai yang panjangnya sekitar 200 m dan lebar 100 m tersebut. Setiap titik 10 meter pada transek dibuat kuadrat ukuran 5 m2, dengan jumlah kuadrat sampel seluruhnya 44 kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Echinodermata mempunyai kekayaan spesies yang rendah di Pantai Mandalika. Organisme Echinodermata yang dijumpai hanya 8 (delapan) spesies, yaitu landak laut Echinometra mathaei (Echinoidea), serta lima jenis bintang mengular, Ophiocoma scolopendrina, O. echinata, O. erinaceus, Ophiomastix annulosa dan Ophioderma sp. (Ophiuroidea). Di luar kuadrat tercatat dua jenis landak laut lainnya, yaitu Echinothrix calamaris dan Diadema setosum, dengan kelimpahan yang sangat rendah. Indeks-indeks komunitas pada umumnya rendah. Indeks diversitas Simpson (D) 1,243, indeks keseragaman (E) 4,023, indeks keanekaragaman spesies Shanon-Winner (H) 0,430 dan indeks kesetaraan (J) 0,267. Landak laut E. mathaei sangat dominan (89,38%) dengan kelimpahan rata-rata 11,8722,37 individu m-2 di dalam komposisi komunitas Echinodermata. Bintang mengular O. scolopendrina menempati urutan dominansi kedua (7,31%) dengan kelimpahan rata-rata 0,862,43 individu m-2, sedangkan empat bintang mengular lainnya mempunyai proporsi kurang dari 2% dan kelimpahan rata-rata kurang dari 0,20 individu m-2. Struktur populasi E. mathaei dan O. scolopendrina menunjukkan bahwa sebagian besar anggota populasi mempunyai ukuran reproduktif. Kehadiran hewan Echinodermata tersebut di habitat cacing nyale (Eunicidae, Polychaeta) menuntut penelitian lanjutan tentang peran ekologis dari masing-masing hewan Echinodermata dan interaksinya dengan cacing nyale.Kata kunci:Ophiocoma,Echinometra,Nyale,Lombok Tengah, Struktur populas
Kombinasi rumput laut (Eucheuma cottonii) dan kerang hijau (Perna viridis) sebagai biofilter logam berat timbal (Pb)
The rapid development of the industry in the coastal region has increased the concentration of heavy metals in waters. Furthermore, efforts to improve water quality in reducing the concentration of these metals are biofilter. The biofilter used in this study was a combination of E. cottonii and P. viridis. The study used Complete Random Design (CRD), with 4 treatments 5 replications. Pb heavy metal content testing uses AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). The results showed that the best treatment was in P2 (p 0.05), with the combination of E. cottonii and P. viridis at 62.50 and 225 g. The effectiveness of Pb heavy metal uptake is influenced by the density of E. cottoni, but inversely proportional to the density of P. viridis. Furthermore, in high stocking densities, E. cottonii is more effective in absorbing heavy metals than P. viridis.Keywords:E. cottonii,P. viridis,Biofilter,lead (Pb)ABSTRAKPesatnya perkembangan industri di wilayah pesisir merupakan salah satu penyebab meningkatnya konsentrasi logam berat dalam perairan. Salah satu upaya dalam perbaikan kualitas air dalam menurunkan konsentrasi logam tersebut adalah dengan biofilter. Biofilter yang digunakan pada penelitian ini yaitu kombinasi E. cottonii dan P. viridis. Penelitian menggunakan Racangan Acak Lengkap (RAL), dengan 4 perlakuan 5 ulangan. Pengujian kandungan logam berat Pb menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik terdapat pada P2 (p 0.05), dengan kombinasi E. cottonii dan P. viridis sebesar 62,50 dan 225 g. Efektifitas penyerapan logam berat Pb dipengaruhi oleh kepadatan E. cottoni, akan tetapi berbanding terbalik dengan kepadatan P. viridis. Selanjutnya, dalam padat tebar yang tinggi, E. cottonii lebih efektif dalam menyerap logam berat dibandingkan P. viridis.Kata kunci:E. cottonii,P. viridis,Biofilter,Timbal (Pb
Komunitas perifiton dan karakteristik fisika kimia sebagai indikator kualitas perairan di daerah aliran sungai (DAS) Mamberamo Provinsi Papua
The waters of the Mamberamo watershed are around 7.7 million hectares. Some territorial waters are surrounded by jungles that are rich in unique biodiversity. Diverse biodiversity must be accompanied by a state of good water quality. So that the monitoring of water quality is very good in terms of physical and chemical physics parameters. Monitoring using chemical physics parameters has been widely used, but using aquatic biota is still rare, so it is expected to be more assertive in exposing the state of river damage. Aquatic biota used is periphyton. Periphyton has the potential to be a study of ecological indicators, a major producer in the food chain and its inherent nature in aquatic substrates. The purpose of this study was to determine the diversity of the periphyton community, determine the quality of waters in terms of chemical physics in the Mamberamo watershed and see the relationship between the two parameters. The method of determining the location was purposive sampling with descriptive analysis of the correlation results. Field observations and sampling were carried out on three tributaries and ponds in the form of flood-exposed lakes in the Membramo watershed in February, May, August and October 2016. The results showed the highest periphyton composition of Bacillariophyceae class followed by Chlorophyceae and Cyanophyceae. The diversity value of the Mamberamo river is 1 H '= 3 which indicates moderate diversity, and the dominance index value ranges from 0.15 to 0.45, which indicates that there is no species that dominates in the waters of the Mamberamo River. Based on the results of the water quality assessment in the presence of periphyton and the physical chemistry characteristics of the water, it is found that the criteria for river water quality are classified as good and not polluted.Keywords:Ecological indicatorsChemical physics characteristicsPeriphytonMamberamo RiverPapuaABSTRAKLuas perairan DAS Mamberamo berkisar 7,7 juta hektar. Sebagian wilayah perairan dikeliling oleh hutan rimba yang kaya akan keanekaragaman hayati yang unik. Keanekaragaman hayati yang beragam harus disertai keadaan kualitas air yang baik. Sehingga pemantauan kualitas perairan sangat perlu baik ditinjau dari parameter fisika kimia dan biologi. Pemantauan menggunakan parameter fisika kimia telah banyak digunakan, tetapi menggunakan biota perairan masih jarang ,sehingga diharapkan dapat lebih tegas dalam mengekspresikan keadaan kerusakan sungai. Biota perairan yang digunakan dalam penelitian ini adalah perifiton. Perifiton berpotensi sebagai kajian indikator ekologis, produsen utama dalam rantai makanan serta sifatnya yang menempel di substrat perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman komunitas perifiton, mengetahui kualitas perairan dari segi fisika kimia di DAS Mamberamo serta melihat hubungan antara kedua parameter tersebut. Metode penentuan lokasi purposive sampling dengan analisis deskripitif dari hasil korelasi. Pengamatan lapangan dan pengambilan sampel dilakukan pada tiga aliran anak sungai dan telaga yang berupa danau paparan banjir di DAS Membramo pada Februari, Mei, Agustus dan Oktober 2016. Hasil penelitian menunjukkan komposisi perifiton tertinggi kelas Bacillariophyceae diikuti Chlorophyceae dan Cyanophyceae. Nilai keanekaragaman sungai Mamberamo adalah 1H=3 yang menyatakan keanekaragaman sedang, dan nilai indeks dominasi berkisar 0,15-0,45 yang menandakan bahwa tidak ada jenis yang mendominasi di perairan Sungai Mamberamo. Berdasarkan hasil penilaian kualitas air secara keberadaan perifiton dan karakteristik fisika kimia air maka didapat kriteria kualitas perairan sungai yang tergolong bagus dan belum tercemar.Kata kunci:Indikator ekologisKarakteristik fisika kimiaPerifitonSungai MamberamoPapu
Struktur komunitas makrozoobenthos di aliran sungai di Senggarang, Pulau Bintan, Kepulauan Riau
Abstract. The objective of this study was to determine the community structure of macrozoobenthic orgamism in Senggarang creek, Bintan island, Riau Islands. Samples were taken from four stations by purpossive method. Macrozoobenthic were collected by surber net, there were three replications in each station. The result showed that there were found six phylums and 17 genera of macrozoobenthic. Macrobrachium sp. was the higest density. The higest density was found in third station (middle of river, no antropogenic influenced) about 140 ind m-2. The diversity and similarity indices were medium, with low dominance indice. Based on macrozoobenthic organism, the environmetal condition of Senggarang creek was stabile.Keywords: Bintan, creek, Macrobrachium sp., macrozoobenthic, SenggarangAbstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur komunitas makrozoobenthos di aliran sungai di Senggarang, Kota Tanjungpinang. Pengambilan sampel dilakukan pada empat stasiun yang ditentukan secara purposive. Sampel diambil menggunakan surber net, sebanyak tiga kali ulangan pada masing-masing stasiun. Makrozoobenthos yang ditemukan di perairan aliran sungai Senggarang ditemukan 6 filum dan 17 spesies. Jenis makrozoobenthos yang paling tinggi kepadatannya dari semua setiap stasiun adalah Macrobrachium sp. Kepadatan makrozoobentos tertinggi yaitu pada stasiun 3 (bagian tengah sungai, tidak ada aktivitas manusia) dengan nilai kepadatan sebesar 140 ind/m2. Indeks keanekaragaman tergolong sedang, indeks keseragaman sedang, indeks dominansi rendah. Berdasarkan keberadaan makrozoobenthos, lingkungan perairan sungai di Senggarang relatif stabil.Kata kunci: Bintan, Macrobrachium sp., makrozoobenthos, Senggarang, sunga
Aktifitas Selulolitik dan Patogenisitas Bacillus cereus_TSS4 dari Serasah Daun Mangrove
Abstract. Leaf litter of mangrove has the potential for cellulolytic bacteria that are beneficial in aquaculture feed. Tin mining in Bangka Island impact for mangrove and allows for new strains of cellulolytic bacteria. Identification and safety evaluations are needed to knows the applied to aquaculture. This study aims to obtain and evaluate the potential impact on the aquaculture of cellulolytic bacteria from the Tukak Sadai mangrove, South Bangka. The effects were shown on the survival and clinical symptoms of fish through pathogenicity testing of the selected bacteria. This research was done from March 2017 until March 2018. Leaf litter was a sample taken from mangroves and isolated using 1% Carboxymethyl Cellulosa (CMC) media. Qualitative test of cellulase enzyme activity uses congo red and bacterial identification to use biochemical characterization with Microbact TM. There were six cellulolytic bacterial isolates from the mangrove leaves of Tukak Sadai, South Bangka. TSS4 isolates had the highest cellulolytic index of 26.4 mm compared to other strains. Biochemical characterization of TSS4 isolates show similarities with Bacillus cereus. Pathogenicity test on Bacillus cereus_TSS4 isolates show that it was not pathogenic with normal fish conditions until the end of maintenance, fish survival reached 100%, and no damage to internal organs occurred.Keywords: Bacillus cereus, mangrove leaf litter, pathogenicity, cellulolytic bacteriaAbstrak. Serasah daun mangrove memiliki potensi bakteri selulolitik yang bermanfaat pada pakan dalam akuakultur. Penambangan timah di Pulau Bangka berdampak pada hutan bakau dan memungkinkan strain bakteri selulolitik baru. Identifikasi dan evaluasi keamanan diperlukan untuk mengetahui penerapan pada budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dan mengevaluasi dampak potensial pada akuakultur dari bakteri selulolitik hutan bakau Tukak Sadai, Bangka Selatan. Dampaknya ditunjukkan pada kelangsungan hidup dan gejala klinis ikan melalui pengujian patogenisitas dari bakteri yang dipilih. Penelitian ini dilakukan mulai Maret 2017 hingga Maret 2018. Serasah daun merupakan sampel yang diambil dari mangrove dan diisolasi menggunakan media Carboxymethyl Cellulosa (CMC) 1%. Uji kualitatif aktivitas enzim selulase menggunakan congo red dan identifikasi bakteri untuk menggunakan karakterisasi biokimia dengan MicrobactTM. Ada enam isolat bakteri selulolitik dari daun mangrove Tukak Sadai, Bangka Selatan. Isolat TSS4 memiliki indeks selulolitik tertinggi 26,4 mm dibandingkan dengan jenis lainnya. Karakterisasi biokimia isolat TSS4 menunjukkan kesamaan dengan Bacillus cereus. Uji patogenisitas pada isolat Bacillus cereus_TSS4 menunjukkan bahwa tidak patogen dengan kondisi ikan normal sampai akhir pemeliharaan, kelangsungan hidup ikan mencapai 100%, dan tidak terjadi kerusakan pada organ internal.Kata kunci: Bacillus cereus, serasah daun mangrove, patogenisitas, bakteri seluloliti
Biologi reproduksi udang mantis Cloridopsis scorpio di ekosistem mangrove Belawan, Sumatera Utara
Anthropogenic activities that tend to be exploitative in the mangrove ecosystem of Belawan are thought to have an impact on the biota associated with the ecosystem. One of the impacts is thought to be implied by mantis shrimp Cloridopsis scorpio (Latreile, 1828). The reproductive biology of the shrimp is the main object that needs to be studied in relation to the impacts. This study aims to determine the distribution of gonad maturity stage, gonad somatic index, and the length of the first mature of C. scorpio in the Mangrove Ecosystem of Belawan, North Sumatera. The research was conducted on March to May 2019 with a biweekly sampling period. The purposive random sampling was applied to choose three sampling stations in the research location. Mantis shrimp samples were caught using shrimp trawl. The result showed that the gonad maturity stage of males and females were dominated by Stage I. The gonad somatic index (GSI) range of males were 7.00-10.93 and female were 7.40-11.15. The GSI value of C. scorpio is closely related to its gonad maturity development. The length of the first mature (L50) of males were 205.5010.65 mmBL and females were 186.010.48 mmBL.Keywords:Cloridopsis scorpio,Gonad maturity stage,Gonad somatic indeks,Length of the first matureABSTRAKAktivitas antropogenik yang cenderung eksploitatif di kawasan ekosistem mangrove Belawan diduga telah berdampak terhadap biota-biota yang berasosiasi dengan ekosistem tersebut. Salah satu dampaknya dialami oleh udang mantis Cloridopsis scorpio (Latreile, 1828). Aspek reproduksi C. scorpio menjadi salah satu objek yang perlu dikaji berkaitan dengan dampak tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sebaran tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), dan ukuran pertama kali matang gonad (L50) dari C. scorpio di ekosistem mangrove Belawan, Sumatera Utara. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Mei 2019 dengan periode pengambilan sampel dua mingguan. Metode purposive random sampling digunakan untuk menentukan tiga stasiun pengambilan sampel di lokasi penelitian. Sampel C. scorpio ditangkap menggunakan pukat udang. Hasil penelitian menunjukkan distribusi TKG C. scorpio jantan dan betina didominasi oleh TKG I. Nilai IKG C. scorpio jantan berkisar antara 7,00-10,93 dan C. scorpio betina berkisar antara 7,40-11,15. Nilai IKG C. scorpio berkaitan dengan tahap perkembangan gonadnya. C. scorpio jantan mengalami pertama kali matang gonad (L50) pada ukuran 205,5010,65 mmBL dan C. scorpio betina pada ukuran 186,0010,48 mmBL.Kata kunci:Cloridopsis scorpio,TKG, IKG, Ukuran pertama kali matang gona
Identifikasi awal sampah apung anorganik di muara Sungai Krueng Aceh, Kota Banda Aceh
Abstract. Mismanaged anthropogenic debris land-based has generated the waste entering the river runoff. It was documented that the ocean has been affected ecologically by the waste. Therefore, the data availability of riverine inorganic debris is crucial in implementing mitigation strategies. This study was a preliminary study to identify the inorganic debris floating on the Krueng Aceh River. This study aimed to obtain data of floating inorganic debris types and percentages found at the estuary of Krueng Aceh River that can be used as a reference in managing the riverine waste. It was conducted at the estuary of Krueng Aceh River, Banda Aceh, during March to April 2019. The samples were collected twice a week by installing 4 m x 2 m nets on both sides of the river for six hours. It was identified seven categories of inorganic debris were plastic, foamed plastic, metal, glass, rubber, paper and cardboard, and others. Plastic category as the most floated on Krueng Aceh River with the percentage of 77.8% consists of drinking water bottles and cups, bottle caps, cigarettes, cigarettes lighter, bubble wrap, plastic bags, plastic ropes, monofilament line, straws, and drink package rings. The amount of drinking water cups was dominantly trapped (32%) and identified as many as 28 brands. The plastic debris was assumed originating from anthropogenic activities, and mismanaged land-based garbages.It is concluded that the plastic category, especially drinking water cups, was the most floating on the Krueng Aceh River.Keywords: Mineral water bottles, floating plastic debris, Krueng Aceh RiverAbstrak. Sampah anorganik akibat aktivitas manusia yang tidak dikelola dengan baik telah menghasilkan limbah yang berada di aliran sungai. Sebagian dari sampahsampah tersebut akan berakhir di lautan sehingga menimbulkan dampak negatif secara ekologi. Oleh karena itu, ketersediaan data sampah anorganik di aliran sungai diperlukan bagi pengelolaan sampah yang lebih baik. Penelitian tentang sampah anorganik di muara Sungai Krueng Aceh merupakan penelitian awal untuk menyediakan data jenis dan persentase sampah anorganik yang ditemukan di muara Sungai Krueng Aceh. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis-jenis dan persentase sampah anorganik yang terapung di muara Sungai Krueng Aceh sehingga dapat menjadi acuan bagi pengelolaan sampah di aliran sungai. Penelitian ini dilakukan di muara Sungai Krueng Aceh, Kota Banda Aceh pada bulan Maret-April 2019. Pengumpulan sampel dilakukan dua kali dalam seminggu dengan memasang jaring 4 m x 2 m di kedua sisi sungai selama enam jam. Hasil identifikasi dikelompokkan ke dalam tujuh kategori sampah anorganik, yaitu kategori plastik, busa, kaca dan keramik, logam, kertas dan kardus, karet, serta kategori lainnya. Kategori plastik memiliki persentase terbesar dengan nilai 77,8% yang terdiri dari jenis bentuk botol dan gelas Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), puntung rokok, pemantik, bubble wrap, kantong plastik, tutup botol, tali plastik, monofilament line, sedotan, dan cincin paket minuman. Persentase AMDK berbentuk gelas lebih tinggi daripada bentuk botol dengan 28 merek yang teridentifikasi. Sampah plastik tersebut diduga berasal dari aktivitas masyarakat di sepanjang Sungai Krueng Aceh dan akibat pengelolaan sampah yang belum baik sehingga sampah memasuki aliran sungai. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sampah plastik terutama sampah AMDK bentuk gelas ditemukan paling banyak mengapung di Sungai Krueng Aceh.Kata kunci: Air Minum Dalam Kemasan (AMDK), sampah plastik apung, Sungai Krueng Ace
Analisis kimia sedimen di sekitar ekosistem mangrove desa Lambadeuk, Peukan Bada, Aceh Besar
Abstract. Research on analysis of sediments chemistry around the mangrove ecosystem of Lambadeuk village, Peukan Bada Subdistrict aimed to the analyze nutrient content of sediments around mangrove ecosystem which grows in Lambadeuk, Aceh Besar. The study was conducted in April 2018 - May 2019. Research stations were determined by using purposive random sampling method then sediment samples were taken by coring technic. The results of the analysis showed that there are two types of sediments; muddy sand and sandy mud type of sediment. Sandy mud sediment has higher organic matter than muddy sand. The percentage value of total organic matters ranged from 27.89% - 42.41%, while C-Organic was between 0.08% - 1.28%. The percentage of dominant C-organic was found in places that are overgrown with mangroves, while the total organic matter content is more in places that does not have mangroves. In addition to the presence of mangroves that affect the amount of organic sediment and type of sediment, oceanographic factors such as currents, topography, organic matter content, and C-Organic are also affect the type of existing sediment.Keywords: Mangroves, Sediment, Organic matter, C-Organic.Abstrak. Penelitian mengenai analisis kimia sedimen di sekitar ekosistem mangrove Desa Lambadeuk, Kecamatan Peukan Bada bertujuan untuk menganalisis kandungan unsur hara sedimen di sekitar ekosistem mangrove yang tumbuh di daerah Lambadeuk, Aceh Besar. Penelitian ini dilakukan pada bulan April Mei 2019. Metode penentuan stasiun penelitian menggunakan metode purposive random sampling kemudian sampel sedimen diambil dengan menggunakan coring. Hasil analisis menunjukkan bahwa tipe sedimen yang ada di Desa Lambadeuk, Kecamatan Peukan Bada terdapat dua tipe sedimen yaitu pasir berlumpur (muddy sand) dan lumpur berpasir (sandy mud). Tipe sedimen lumpur berpasir memiliki kandungan bahan organik lebih tinggi daripada pasir berlumpur. Nilai persentase kandungan bahan organik total berkisar yaitu berkisar antara 27,89 % - 42,41 %, sedangkan C-organik berkisar antara 0,08 % - 1,28 %. Persentase C-organik lebih banyak terdapat di tempat yang banyak ditumbuhi mangrove, sedangkan kandungan bahan organik total lebih banyak di tempat yang tidak ditumbuhi mangrove sama sekali. Disamping keberadaan mangrove yang mempengaruhi besarnya bahan organic sedimen, faktor-faktor oseanografi seperti arus, topografi, kandungan bahan organik, dan C-organik juga mempengauhi tipe sedimen yang ada.Kata Kunci: Mangrove, Sedimen, Bahan Organik, C-organik
Bioakumulasi residu pestisida pada komunitas gastropoda di perairan Sungai Kalisat, Kabupaten Malang
Abstract.Gastropods can respond to pesticide pollution in the environment because their life is relatively sedentary and their movements are very limited. The character of pesticides are not selective and persistent can result in bioaccumulation of pesticide content in gastropod. Hence, theaim of the study was to determine the levels of pesticide residues that accumulate in the gastropod body at Kalisat River, Malang Regency. The pesticide residues in gastropods was measured using High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Data were analyzed descriptively comparative or compared with the quality standards which exceeded the maximum residual limit set by the EU Pesticide Database. The results showed that pyrethroid pesticides were found with the active ingredient beta-cyfluthrin (mean 0.05 mg/g) and carbamate group with three highest active ingredients namely propoxur (average value of 0.15 mg/g), carbofuran (average value of0.16 mg/g) and carbaryl (average value of 0.11 mg/g). Bioaccumulation factor values at all stations are greater than 1 (BAF1) that indicates the gastropods can accumulate pesticide residues.Keywords:bioaccumulation, gastropod, pesticide residues, Kalisat RiverAbstrak.Gastropoda dapat memberikan respon terhadap pencemaran pestisida di lingkungan karena hidupnya relatif menetap dan pergerakannya sangat terbatas. Sifat pestisida yang tidak selektif dan persisten dapat mengakibatkan terjadinya bioakumulasi atau penumpukan kandungan pestisida dalam tubuh gastropoda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar residu pestisida yang terakumulasi dalam tubuh gastropoda di Sungai Kalisat, Kabupaten Malang. Pengukuran residu pestisida pada gastropoda menggunakan alatHigh Performance Liquid Chromatography(HPLC). Hasil pengukuran menunjukkan bahwa ditemukan pestisida golongan piretroid dengan bahan aktif jenis beta siflutrin (rerata 0,05 mg/g) dan golongan karbamat dengan tiga jenis bahan aktif tertinggi, yaitu propoksur (rerata 0,15 mg/g), karbofuran (rerata 0,16 mg/g) dan karbaril (rerata 0,11 mg/g). Data dianalisis secara deskriptif komparatif atau dibandingan dengan baku mutu EUPesticide Databasetahun 2019 telah melebihi batas maksimum residu yang ditetapkan oleh EUPesticide Database. Nilai faktor bioakumulasi pada seluruh stasiun lebih besar dari 1 (BAF1) yang menunjukkan bahwa gastropoda mampu mengakumulasi residu pestisida. Pestisida dapat ditemukan pada gastropoda dengan melalui difusi langsung dari lingkungan dan juga melalui proses pencernaan gastropoda.Kata kunci:bioakumulasi, gastropoda, residu pestisida, Sungai Kalisa