DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
Not a member yet
571 research outputs found
Sort by
Intensitas dan prevalensi ektoparasit dan endoparasit pada ikan belanak Liza macrolepis (Smith, 1846) di perairan pantai Barat-Selatan Aceh
The Largescale mullet Liza macrolepis is a common fish found in estuaries and coastal areas and the fish is used as a source of protein by coastal communities. This study aims to analyze the prevalence and intensity of parasitic infected on mullets harvested from the waters of the West - South Aceh. This research was conducted from March to April 2019 in 8 locations, namely; Estuary Aceh River, Gampong Jawa, Banda Aceh city, Coastal Ujong Pancu, Peukan Bada, Aceh Besar, Estuary Teunom River, Calang, Aceh Jaya, Estuary, and Coastal Kuala Bubon, Samatiga, West Aceh, Estuary Nagan River Langkak Kuala Tuha Nagan Raya, Estuary, and Coastal Susoh, Blang Pidie, Southwest Aceh, Estuary and Coastal Indra Damai, Kluet Selatan, South Aceh and Estuary Sua- Sua River and Ujong Umo River, Simeulue. A total of 343 samples were examined for ectoparasites and endoparasites at the Laboratory of Hatchery, Faculty of Marine and Fisheries, Syiah Kuala University. The results showed that there were seven species of parasites, infected the mullet samples namely; Ectoparasites (Cymanthoa sp., Ergasilus sp., Lernanthropus sp., Monstriloida sp., Myxobolus sp.) and Endoparasites (Nematodes and Trematodes). Prevalence value of Kota Banda Aceh was 33% ectoparasites and 28% endoparasites), Aceh Besar was 21% ectoparasites and 15% endoparasites, Aceh Jaya was 4% ectoparasites and 4% endoparasites, Southwest Aceh was 2% ectoparasites and 2% endoparasites, Simeulue was 9% ectoparasites and 9% endoparasites. It is concluded that the higher prevalence and intensity were found in fish samples from Banda Aceh and Aceh Besar, while no fish from Nagan Raya and Aceh Selatan were infected by parasites.Keywords:ParasiteCoastalEstuaryPollutantABSTRAKIkan belanak Liza macrolepis sering dijumpai di muara dan pesisir pantai dan dijadikan sebagai sumber protein oleh masyarakat pesisir. Saat ini belum ada penelitian terkait jenis-jenis parasite yang menyerang ikan belanak di perairan Aceh, khususnya di pantai Barat Selatan Aceh. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prevelensi dan intensitas parasit pada ikan belanak di perairan Barat Selatan Aceh. Penelitian dilakukan sejak Maret sampai April 2019 meliputi 8 lokasi, yaitu; Muara Krueng Aceh, Gampong Jawa Kota Banda Aceh, Ujung Pancu, Peukan Bada Aceh Besar, Muara Krueng Teunom, Calang Aceh Jaya, Muara Sungai/Pesisir Kuala Bubon, Samatiga Aceh Barat, Muara Krueng Nagan, Kuala Tuha Nagan Raya, Muara/Pesisir Susoh, Blang Pidie Aceh Barat Daya, Muara/Pesisir Indra Damai, Kluet Selatan Aceh Selatan dan Muara sungai Ujong Umo dan muara sungai Sua Sua, tepah barat dan Simeulu Timur, Simeulu. Metode digunakan adalah preparat ulas (Smeer method). Sebanyak 343 sampel dibedah untuk dilakukan pemeriksan ektoparasit dan endoparasit di Laborarorium Pembenihan Ikan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Syiah Kuala. Hasil penelitian ditemukan 7 jenis parasit, ektoparasit (Cymanthoa sp., Ergasilus sp., Lernanthropus sp., Monstriloida sp., Myxobolus sp.) dan Endoparasit (Nematoda dan Trematoda). Nilai prevalensi; Kota Banda Aceh (33% ektoparasit, 28% endoparasit), Aceh Besar (21 % ektoparasit, 15% endoparasit), Aceh Jaya (4% ektoprasit dan 4%endoparasit), Aceh Barat Daya (2% ektoprasit dan 2% endoparasit) Simeulu (9% ektoparasit dan 9% endoparasit). Disimpulkan bahwa prevelensi dan intensitas parasit tertinggi dijumpai pada sampel ikan dari Banda Aceh dan Aceh Besar, sedangkan ikan sampel dari Nagan Raya dan Aceh Selatan bebas dari serangan parasit. Kata kunci:ParasitpesisirMuara sungaiPencemara
Karakteristik mutu dan keamanan ikan kembung (Rastrelliger sp) pada pasar domestik di DKI Jakarta
Mackerel (Rastrelliger sp) is one of small pelagic fish that contribute animal protein intake for local community, so its quality and safety prior to be considered and maintained as follows. In this study analyzes the quality attribute and food safety of mackerel throughout the distribution chain for domestic consumption in Jakarta Province were investigated, from the fish landing, fish auction, wholesale markets, restaurants, supermarkets, until traditional markets. Field observations were used during the investigation, by taking mackerel samples at each distribution chain and testing at the laboratories. Quality characteristics were done by organoleptic test and formaldehyde content were showed the safety level of each samples. The organoleptic parameters revealed that from 100% of samples were taken from fish landing, wholesale market and restaurant comply with Indonesian National Standart, while at the supermarkets and at traditional markets was 77,42%, and 64,78% respectively. This consequently led to an increase of formaldehyde hazardous materials that exhibit during the distribution chain (4 samples from wholesale markets, 6 samples from supermarkets, and 57 samples from traditional markets). The concentrations of formaldehyde in the positive samples at three location mentioned above from 1.0-5.4 ppm, 2.5-6.6 ppm, and 0.2 - 13.4 ppm respectively. Mackerel collected from local markets had lower level of quality and safety compared to those from other locations. Monitoring of using formaldehyde for fresh fish during distribution and marketing need to be conserned.Keywords:domestic, formaldehyde, organoleptic, Quality, Rastrelliger sp.ABSTRAKIkan kembung merupakan salah satu jenis ikan pelagis kecil yang banyak diminati oleh masyarakat DKI Jakarta sehingga mutu dan keamanannya menjadi salah satu prioritas penting yang perlu diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mutu dan keamanan ikan kembung di sepanjang rantai distribusi untuk konsumsi domestik di wilayah Provinsi DKI Jakarta, mulai dari Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), Tempat Pelelangan Ikan (TPI), pasar grosir, restoran, pasar swalayan dan pasar tradisional. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi lapang dengan melakukan pengambilan sampel ikan kembung pada setiap rantai distribusi dan pengujian di laboratorium. Karakteristik mutu diuji secara organoleptik dan keamanannya diuji dengan parameter kandungan formalin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase sampel yang memenuhi standar organoleptik (minimal 7) pada tahap pembongkaran, pasar grosir dan restoran adalah sebesar 100%, pada pasar swalayan dan pada pasar tradisional berturut-turut sebesar 77,42% dan 64,78%. Ikan kembung yang positif mengandung bahan berbahaya formalin masih ditemukan pada pasar grosir (4 sampel), dengan konsentrasi 2,5 6,6 ppm, pada pasar swalayan (6 sampel), dengan konsentrasi 1,0 5,4 ppm, dan pada pasar tradisional (57 sampel), dengan konsentrasi 0,2 13,4 ppm. Ikan kembung yang diambil dari pasar tradisional memiliki mutu dan keamanan yang lebih rendah dibandingkan dengan lokasi lainnya. Pengendalian terkait penggunaan bahan berbahaya formalin pada ikan segar selama distribusi dan pemasaran terutama pada pasar tradisional perlu ditingkatkan.Kata kunci:domestik,formalin,organoleptik,mutu,Rastrelliger sp
Biological and chemical diversity of the Indonesian marine nudibranchs based on MS/MS molecular networking approach
Abstract. The collection of 337 specimens of the Chromodoris species was conducted in Sabang island, Indonesia, from 2013 to 2019. The purpose of this study to investigate the biodiversity and their secondary metabolites related by molecular structures. There are 21 species together with the chemical diversity detected by MS/MS molecular networking approach. The results showed that the nudibranch species of C. willani and C. geometrica have the highest abundance species, while C. aureopurpurea has the lowest abundance species. The result of the chemical investigation showed that the class of diterpene derivatives was found from all specimens of Chromodoris genus in Sabang island, the western part of the Indonesian Archipelago.Keywords: Nudibranch, biodiversity, chemical diversity, MS/MS molecular networking, Chromodoris genu
Variasi morfometrik tiga jenis kepiting biola jantan (Decapoda: Ocypodidae) yang ditangkap di Kawasan Mangrove Jaboi, Pulau Weh, Indonesia
The objective of the present study was to analyzethemorphometrics variation of threemalefiddler crabspeciescollected from Jaboimangrove area,Wehisland, Indonesia.A total of50malefiddler crabspeciesfromeachspecies(Tubuca dussumieri, Gelasimus vocansandAustruca perplexa)were collected from three researchstationused digging methodand direct capture. The number ofmorphologicalcharacters that measuredwas18characters.The water quality and soil parametersobserved weresalinity, pHof water and soil,water temperature,C-organicconcentration in substrateandsediment type.ANOVA (confidence interval of95%)andDiscriminant Function Analysiswas used foranalizing the morphometric variation beetwen species.The results showed that the mangrove area of Jaboi, Weh island provides a suitable habitat characteristic for male fiddler crab.Tubuca dussumieri and Gelasius vocans tend distributed in the area with sediment type of mud, while Austruca perplexa tends distributed in the area with sediment type of sand. The result of statistical analysis showed that there weretenseparate characters between Tubuca dussumieri and Gelasimus vocans, 17 separate characters between Tubtubuca dussumieri and Austruca perplexa, and 13 separate characters between Gelasimus vocans and Austruca perplexa.Morphometrics variation can be observedinthe carapace, propodus, mouth,walking legs, and eyestalks.Keywords:Morphometric variationCarapacs lengthBig propudusSmall propudusWalking legsABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi morfometrik tiga jenis kepiting biola jantan yang ditangkap di kawasan mangrove Jaboi Pulau Weh, Indonesia.Sebanyak 50 ekor kepiting biola jantan dari masing masing jenis (Tubuca dussumieri,Gelasimus vocansdanAustruca perplexa) dikoleksi dari tiga titik stasiun penelitian menggunakan metodediggingdan pengambilan langsung. Jumlah karakter morfometrik kepiting jantan yang diukur adalah sebanyak 18 karakter. Parameter kualitas air dan tanah yang diukur meliputi salinitas, pH air, pH tanah, suhu air, kandungan C-organik subtrat dan tipe sedimen. Analisis terhadap data morfometrik dilakukan menggunakan ANOVA (selang kepercayaan 95%) danDiscriminant Function Analysis. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kawasan mangrove Jaboi, Pulau Weh memiliki karakteristik habitat yang sesuai bagi kepiting biola.Tubuca dussumieridanGelasimus vocanscenderung terdistribusi pada wilayah dengan persentase tipe sedimen lumpur yang lebih tinggi, sementaraAustruca perplexacenderung terdistribusi pada wilayah dengan persentase tipe sedimen pasir yang lebih tinggi. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat 10 karakter pembeda antaraTubuca dussumieridenganGelasimus vocans, 17 karakter pembeda antaraTubtubuca dussumieridenganAustruca perplexadan 13 karakter pembeda antaraGelasimus vocansdenganAustruca perplexa.Variasi morfometrik tersebut dapat terlihat pada bagian karapas, capit, mulut, kaki gerak dan tangkai mata.Kata kunci:Variasi morfometrikPanjang karapasCapit besarCapit kecilKaki gera
Estimasi hasil tangkapan maksimum ekonomi sumberdaya ikan pelagis di perairan Laut Kabupaten Tojo Una-Una, Indonesia
The marine area of Tojo Una-Una District has the potential for fishery resources and small islands resources which are used for fishery activities and marine ecotourism. Although most of its territorial waters are a conservation area of the Togean Islands National Park (TINP), in the utilization of fish resources in this area, some still use destructive tools that threaten the habitat and preserve of pelagic fish resources and the economic sustainability of local communities. This study aims to estimate the maximum economic potential of the catch and the level of utilization of pelagic fish resources in Tojo Una-Una districts sea waters. The research data used combines time-series data from pelagic fish catches and fishing effort (trips) from 2003 to 2015, field survey data, and analyzed using the Gordon-Schaefer Bioeconomic Model approach or the Surplus Production Model. The estimation results show that the total maximum economic Yield (MEY) of pelagic fish resources in the waters of Tojo Una-Una District is quite large, namely 14,950.54 tons per year. Although the potential level of economic utilization of large pelagic fish resources is higher than the use of small pelagic fish, the potential economic rent obtained from the use of small pelagic fish is still higher than that of large pelagic fish. Given that the utilization of pelagic fish resources in the waters of Tojo Una-Una District is under MEY, a careful addition to the capacity of the fishing effort is needed to increase the economic benefits of fish resources for fishermen and the region.Keywords:Estimation,Maximum Economic Yield Pelagic FishABSTRAKWilayah perairan laut Kabupaten Tojo Una-Una memiliki potensi sumberdaya perikanan dan sumberdaya pulau-pulau kecil yang dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan dan ekowisata bahari. Wilayah perairan Kabupaten Tojo Una-Una sebagian besar merupakan kawasan konservasi Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT), namun dalam pemanfaatan sumberdaya ikan di wilayah ini masih ada yang menggunakan alat yang sifatnya destruktif sehingga mengancam habitat, kelestarian sumberdaya ikan pelagis dan keberlanjutan ekonomi masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi potensi ekonomi maksimum hasil tangkapan dan tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis di perairan laut kabupaten Tojo Una-Una. Analisis data dilakukan dengan menggabungkan data time-series hasil tangkapan ikan pelagis dan upaya tangkap (trip) dari tahun 2003 hingga 2015. Data survei lapangan dianalisis dengan menggunakan pendekatan Model Bioekonomi Gordon-Schaefer atau Model Produksi Surplus. Hasil analisis menunjukkan bahwa total tangkapan maksimum ekonomi (MEY) sumberdaya ikan pelagis di perairan Kabupaten Tojo Una-Una mencapai 14.950,54 ton per tahun. Namun demikian, potensi tingkat pemanfaatan secara ekonomi sumberdaya ikan pelagis besar lebih tinggi dibanding pemanfaatan ikan pelagis kecil, meskipun potensi rente ekonomi yang diperoleh dari pemanfaatan ikan pelagis kecil masih lebih tinggi dibanding ikan pelagis besar. Kesimpulannya, pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis di wilayah perairan Kabupaten Tojo Una-Una berada di bawah MEY, maka penambahan secara hati-hati kapasitas upaya tangkap diperlukan untuk meningkatkan manfaat ekonomi sumberdaya ikan bagi nelayan dan daerah.Kata kunci:Estimasi,Hasil ekonomi maksimum,Ikan Pelagi
Karakteristik morfologi dan pertumbuhan lamun Halophila ovalis pada beberapa kawasan pesisir Pulau Bintan
Halophila ovalis is one of the pioneer seagrass species. The physico-chemical factors of the waters greatly influence the life processes of the seagrass. This study aims to compare the morphometric characteristics and growth of H. ovalis seagrass on water quality in several coastal areas in Bintan Island. Observation of morphometric characteristics includes measurement of rhizome diameter, leaf length, leaf of width, root length, internode length and number of leaves. Observation of growth rate was done by using the cutting method for leaves and marking method for rhizome. Observations of the growth rate were carried out twice, namely on the 14th and 28th days. The results showed that the H. ovalis type of seagrass found at Dompak Station had greater morphological characters than other stations. The condition of the bottom substrate is related to the morphological characters of the seagrass. The growth pattern of the seagrass leaves for one month of observation has a decline in growth trend. The rhizome growth pattern at all observation stations has an increasing trend. The results of the principal component analysis and correspondence analysis show that environmental parameters such as substrate type and nutrient concentration have a role in the morphological structure and growth of H. ovalis.Keywords:BintanGrowthHalophila ovalisMorphologySeagrassABSTRAKHalophila ovalis merupakan salah satu jenis lamun pionir. Faktor fisika-kimia perairan sangat mempengaruhi proses kehidupan lamun tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik morfometrik dan pertumbuhan lamun H. ovalis pada beberapa kawasan pesisir di Pulau Bintan yang memiliki kondisi lingkungan berbeda. Pengamatan karakteristik morfologi meliputi pengukuran diameter rhizome, panjang daun, lebar daun, panjang akar, panjang internode dan jumlah daun. Pengamatan laju pertumbuhan dilakukan dengan metode pemangkasan untuk daun dan metode penandaan untuk rhizome. Pengamatan terhadap laju pertumbuhan dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada hari ke-14 dan ke-28. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lamun jenis H. ovalis yang terdapat di Stasiun Dompak memiliki karakter morfologi lebih besar dibandingkan dengan stasiun lainnya. Adapun kondisi substrat dasar perairan memiliki keterkaitan dengan karakter morfologi lamun. Pola pertumbuhan daun lamun selama satu bulan pengamatan memiliki trend penurunan pertumbuhan. Pola pertumbuhan rhizome pada seluruh stasiun pengamatan memiliki trend peningkatan. Hasil analisis komponen utama dan analisis koresponden menunjukkan bahwa parameter lingkungan seperti tipe substrat dan konsentrasi nutrien memiliki peran terhadap struktur morfologi dan pertumbuhan lamun H. ovalis.Kata kunci:BintanHalophila ovalisLamunMorfologiPertumbuha
Analisis dinamika populasi ikan selar kuning (Selaroides leptolepis) dalam upaya pengelolaan sumberdaya ikan pelagis kecil di perairan Bintan, Provinsi Kepulauan Riau
This raw fish is used as fisheries products such as salted fish, grilled fish, fishmeal and surimi. This study aims to analyze mortality and recruitment of yellowstipe scad (Selaroides leptolepis) and the information about management of small pelagic fisheries resources in Bintan Waters. This research was carried out in February-June 2019 at the Barek Motor Fish Landing Area (TPI) with fishing areas in Bintan waters. The number of fish studied was 2.550 with a length of 102-215 mm and a weight of 15-102 gr. The highest recruitment peak occurred in Mei of 18.11% and June of 19.48%. The highest and lowest condition factors are 0.83 and 1.09. The total mortality rate (Z) of yellow strait fish is 4.61 per year with a natural mortality rate (M) of 1.66 per year and the capture mortality rate of 2.95 per year so that the exploitation rate is 0.63. The death of yellowstipe scade in the Bintan Sea most of the caused by fishing activities (F) of 2.95 per year.Keywords:Yellowstipe scad Bintan WatersRecrutmentCondition factorsMortalityABSTRAKIkan selar kuning merupakan salah satu jenis ikan ekonomis penting. Ikan ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku produk olahan perikanan seperti ikan asin, ikan bakar, pindang, tepung ikan dan surimi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis, mortalitas dan rekrutmen ikan selar kuning (Selaroides leptolepis) dan informasi tentang pengelolaan sumberdaya ikan pelagis kecil di Perairan Bintan. Penelitian ini telah dilaksanakan bulan Februari-Juni 2019 di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Barek Motor dengan wilayah penangkapan di perairan Bintan. Jumlah ikan yang diteliti 2.550 ekor dengan panjang 102-215 mm dan berat 15-102 gr. Puncak rekrutmen tertinggi terjadi bulan Mei sebesar 18,11% dan Juni sebesar 19,48%,. Nilai tertinggi dan terendah faktor kondisi yaitu 0,82 dan 1,09. Laju mortalitas total (Z) ikan selar kuning 4,61 per tahun dengan laju mortalitas alami (M) 1,66 per tahun dan laju mortalitas penangkapan 2,95 per tahun sehingga diperoleh laju eksploitasi 0,63. Kematian ikan selar kuning di laut Bintan sebagian besar diakibatkan oleh aktivitas penangkapan (F) sebesar 2,95 per tahun.Kata kunci:Ikan selar kuningPerairan BintanRekrutmenFaktor kondisiMortalita
Studi klasterisasi industri galangan kapal kayu berdasarkan ukuran kapal perikanan di Banda Aceh dan Aceh Besar dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP)
The abundant potential of fishery products in Aceh has encouraged ship growth to increase. Ship growth continued to increase by 8% over the past 5 years. So as to support the availability of a seaworthy and reliable fishing fleet, the availability and suitability of shipyards are needed at strategic locations. This study aims to determine the strategic location of shipyards for vessels size 10 GT, 10-20 GT, 30 GT in Banda Aceh and Aceh Besar. Data were collected by interview method and using a questionnaire. The data were accumulated, weighted, and analyzed by Analytical Hierarchy Process (AHP) method using Expert Choice 11. The results showed that the comparison between Peukan Bada Shipyard and Lampulo Shipyard obtained: Peukan Bada Shipyard is suitable for vessels size 10 GT, 10-20 GT, 30 GT, compared to Lampulo Shipyard which is not suitable to be used as a shipyard. The comparison of Peukan Bada Shipyard with Krueng Raya Shipyard obtained the following results: The Peukan Bada Shipyard is suitable for vessels size 10 GT and 30 GT, and the Krueng Raya Shipyard is suitable for vessels size 1020 GT. Determination of shipyards suitable for the vessels size 10 GT, 10-20 GT, 30 GT through the consideration of several criteria including land area, human resources, sources of raw materials, and facilities owned by each shipyard.Keywords:Wooden shipyard,Analytical Hierarchy Prosess (AHP),Vessel sizeABSTRAKPotensi hasil perikanan yang melimpah di Aceh telah mendorong pertumbuhan kapal semakin meningkat. Pertumbuhan kapal terus mengalami kenaikan sebesar 8% selama 5 tahun terakhir. Sehingga untuk menunjang ketersediaan armada penangkapan yang laik laut dan handal, maka diperlukan ketersediaan dan kesesuaian galangan kapal pada lokasi yang strategis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui letak lokasi galangan kapal yang strategis untuk kapal yang berukuran 10 GT, 10 20 GT, 30 GT di Banda Aceh dan Aceh Besar. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara dan menggunakan kuesioner. Data diakumulasikan, diberikan bobot, dan dianalisis dengan metode Analytical Hierarchy Prosess (AHP) menggunakan Software Expert Choice 11. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari perbandingan antara Galangan Peukan Bada dengan Galangan Lampulo diperoleh hasil, Galangan Peukan Bada sesuai untuk kapal yang berukuran 10 GT, 1020 GT, 30 GT dibandingkan dengan Galangan Lampulo yang tidak sesuai untuk dijadikan sebagai galangan kapal. Perbandingan Galangan Peukan Bada dengan Galangan Krueng Raya diperoleh hasil sebagai berikut. Galangan Peukan Bada sesuai untuk kapal 10 GT dan 30 GT, dan Galangan Krueng Raya sesuai untuk kapal 1020 GT. Penentuan galangan kapal yang sesuai untuk ukuran kapal 10 GT, 10-20 GT, 30 GT melalui pertimbangan beberapa kriteria yang meliputi luas lahan, sumber daya manusia, sumber bahan baku, serta fasilitas yang dimiliki oleh masing-masing galangan.Kata kunci:Galangan kapal kayu,Analytical Hierarchy Prosess (AHP),Ukuran kapa
Pengaruh laju sedimentasi terhadap tutupan terumbu karang di perairan Kota Daruba, Kabupaten Pulau Morotai
The coral reef is one of the invertebrate animals that inhabit the marine ecosystem with various aquatic biota. Physical environmental factors including sedimentation, strongly influence coral growth. This study aimed to analyze the percentage of coral cover and the sediment rates in the reclamation area of Daruba City, Morotai Island Regency. This research was carried out in November 2019 using the LIT method to calculate the percentage of coral cover and sediment trap to retrieve sedimentation data. The sediment trap was placed in the bottom waters for 14 days. Stratified filtering was used to separate the sediment, and analytical scales were used to measure dry sediment weight in grams. Sediment sample testing was conducted in the laboratory of the Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Khairun University, Ternate. Measurement data were analyzed to calculate the percentage of coral cover and sediment rate analysis. The analysis showed that the percentage of live coral cover was in the range of 10.8 - 20.52%, this value indicates the condition of coral reefs in the waters of the village of Daruba and the waters of the reclaimed development area of the city of Daruba were in the poor category. Sedimentation rate in the reclamation area of the city of Daruba were 307,34 - 492,27 (g /cm2 /day).Keywords:Cover the reef,The rate of sediment,MorotaiABSTRAKTerumbu karang merupakan salah satu hewan avertebrata yang mendiami ekosistem dengan berbagai biota perairan. Pertumbuhan karang sangat dipengaruhi oleh faktor fisik lingkungan, salah satunya adalah sedimen. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis persentase tutupan karang dan menganalisis laju sedimen di area reklamasi kota Daruba Kabupaten Pulau Morotai. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2019 dengan menggunakan metode (LIT) untuk menghitung persentase tutupan karang dan pengambilan data sedimen menggunakan alat sediment trap yang ditempatkan di dasar perairan selama 14 hari. Selanjutnya dilakukan penyaringan bertingkat dan pengukuran berat kering sedimen dalam satuan gram dengan timbangan analitik. Pengujian sampel sedimen dilakukan di laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun Ternate. Data pengukuran dianalisis untuk menghitung persentase tutupan karang, dan analisis laju sedimen. Hasil analisis menunjukan persentase tutupan karang hidup berada pada kisaran 10,8 - 20,52%, nilai tersebut menunjukan kondisi terumbu karang di perairan desa Daruba dan area perairan pembangunan reklamasi kota Daruba termasuk dalam kategori buruk. Laju sedimentasi di perairan area reklamasi kota Daruba sebesar 307,34 - 492,27 (g/cm2/hari).Kata kunci:Tutupan karang, Laju sedimen,Morota
Studi pendahuluan genetika populasi ikan tuna sirip kuning (thunnus albacares) dari dua populasi di laut Kepulauan Maluku, Indonesia
Abstract. Yellowfin tuna (Thunnus albacares) is a large pelagic fish that have high economic value and inhabits the Moluccas Sea, Indonesia. Tuna catches in the Moluccas sea was very high and might decrease the yellowfin tuna population in this region. The research on population genetic of yellowfin tuna is fundamental to answer the problem. This information can be used as baseline data for future management, utilization, and basis of genetic conservation. The objective of this research was to infer the genetic population structure of two populations (North Maluku and Ambon) in the Moluccas Sea, Indonesia. In total, 41 tissue samples from pectoral fins of yellowfin tuna were collected in this study (North Maluku 33 samples and Ambon 8 samples). The results showed that genetic distances were low between the two populations. Additionally, the comparison of genetic distance between the Moluccas population and Indian Ocean waters also showed no significant differences. The Fst analysis showed the high gene flow between these two populations. Furthermore, haplotype network analysis showed that these two populations were the panmixia population. The overall result showed that no refraction genetic in the yellowfin tuna population from two populations in the Moluccas Sea.Keywords: Haplotype, genetic distance, Moluccas Sea, index fixation analysis, yellowfin tuna, population genetic structure.Abstrak. Tuna sirip kuning (Thunnus albacares) merupakan jenis pelagis besar bernilai ekonomis tinggi yang hidup di perairan Laut Maluku, Indonesia. Tangkapan ikan tuna di Laut Maluku berstatus tinggi, sehingga dapat menurunkan jumlah populasi. Penelitian tentang genetika populasi ikan tuna sirip kuning penting dilakukan untuk menjawab permasalahan ini. Informasi ini dapat menjadi sumber data untuk pengelolaan, pemanfaatan dan pelestarian untuk konservasi genetik. Tujuan penelitian untuk mengetahui struktur populasi genetik pada dua populasi di Laut Maluku (Maluku Utara dan Ambon). Secara total, 41 sampel jaringan dari sirip pectoral Tuna sirip kuning dikumpulkan dalam penelitian ini (Maluku Utara 33 sampel dan Ambon 8 sampel). Hasil penelitian menemukan jarak genetik yang dekat antar kedua populasi. Perbandingan jarak genetik pada populasi Perairan Maluku dan Samudera Hindia tidak menunjukan perbedaan signifikan. Analisis fiksasi indeks (Fst) memperlihatkan aliran genetik kuat antar populasi. Analisis jaringan haplotipe menunjukan kedua populasi merupakan populasi panmiksia. Penelitian ini secara umum menunjukkan belum terjadi perubahan struktur genetik populasi ikan tuna sirip kuning pada dua populasi di Laut Maluku.Kata kunci: Haplotipe, jarak genetik, Laut Maluku, analisis fiksasi indeks, tuna sirip kuning, struktur populasi genetik