DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan
Not a member yet
571 research outputs found
Sort by
Komposisi dan distribusi ukuran hasil tangkapan sampingan bubu ekor kuning di Perairan Kepulauan Seribu
Bycatch is non-target species which mostly caught at fishing operation. High quantity of bycatch mortality was predicted as one factor of fish stock depletion. Additionally, the high demand to improve fisheries production will be able to lead over fishing. This situation will affect improvement of bycatch and discarded species which will endanger the fish stock. The objective of this research was to identify bycatch composition, ratio between target species and bycatch and size distribution of dominant bycatch at yellow tail fishing operation in Seribu Islands. The research was carried out at Seribu Islands on July-August 2020. The fishing activity used pot with size length x width x height : 100 x 75 x 32.5 cm. Result of research indicated that yellow tail pot bycatch was dominated by brownstripe snapper (Lutjanus vitta) with catch amount of 330 fishes ( 15.9% of total catch) and weight of 50,861 kg (11.5% of total catch weight) followed by squirrelfishes (Sargocentron rubrum) with catch amount of 324 fishes (15.6 % of total catch) and weight of 51,181 kg (11.6%). Another dominant bycatch was stripedspinecheek(Scolopsismargaritiferus) with catch amount of 289 fishes (13.9% of total catch) and weight of 40,042 kg (9.1% of total weight). Ratio of target of catch : bycatch in weight was 42.6% : 57.4%. It means, to catch 1 kg of yellow tail there will be caught 1.7 kg bycatch. Total length size of brownstripe snapper at range of 12-27 cm, squirrelfishes at range of 9-27 cm and stripedspinecheek at range of 11-29 cm.Keywords:BycatchPotDiscard speciesYellow tailCatch compositionABSTRAKHasil tangkapan sampingan merupakan spesies hasil tangkapan non target yang relatif tinggi tertangkap pada operasi penangkapan. Tingginya jumlah kematian hasil tangkapan sampingan diduga menjadi salah satu penyebab menurunnya stok sumberdaya ikan di seluruh penjuru dunia. Adanya permintaan yang tinggi untuk meningkatkan produksi perikanan dapat memicu peningkatan upaya penangkapan secara berlebihan. Kondisi ini mengakibatkan hasil tangkapan sampingan akan meningkat dengan meningkatnya upaya penangkapan sehingga membahayakan stok dan populasi sumberdaya ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi hasil tangkapan sampingan, rasio antara hasil tangkapan utama dengan hasil tangkapan sampingan dan ukuran hasil tangkapan sampingan dominan yang tertangkap pada operasi penangkapan ikan ekor kuning di Perairan Kepulauan Seribu. Penelitian dilakukan di Perairan Kepulauan Seribu pada bulan Juli-Agustus 2020 dengan menggunakan bubu ekor kuning (ukuran p x l x t : 100 x 75 x 32,5 cm). Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil tangkapan sampingan bubu ekor kuning didominasi oleh ikan kakap (Lutjanus vitta) dengan total jumlah hasil tangkapan mencapai 330 ekor ( 15,9%) dengan total bobot mencapai 50.861 kg (11,5%) disusul oleh ikan swanggi (Sargocentron rubrum) mencapai 324 ekor (15,6 %) dengan total bobot hasil tangkapan sebesar 51.181 kg (11,6%) dan ikan serak (Scolopsismargaritiferus) dengan jumlah hasil tangkapan mencapai 289 ekor (13,9%) dan bobot sebesar 40.042 kg (9,1%) dari total bobot hasil tangkapan bubu ekor kuning. Proporsi bobot hasil tangkapan utama dibanding dengan hasil tangkapan sampingan adalah 42,6% : 57,4%. Hal ini berarti untuk menangkap 1 kg ekor kuning maka akan tertangkap 1,354 kg hasil tangkapan sampingan. Ukuran hasil tangkapan sampingan dominan yang tertangkap pada bubu ekor kuning meliputi ikan kakap yang tertangkap pada selang ukuran panjang total 12-27 cm, ikan swanggi dengan selang ukuran panjang total berkisar 9-27 cm dan ikan serak dengan selang ukuran panjang total berkisar antara 11-29 cm.Kata kunci:Hasil tangkapan sampinganBubuDiscard spesiesIkan ekor kuningKomposisi hasil tangkapa
Penilaian pencemaran logam berat dalam sedimen di Teluk Jakarta
Contamination and pollution of heavy metals in the bottom sediment can pose serious issues to marine organisms and human health. Jakarta Bay which is located adjacent to the capital city of Indonesia is notorious for its pollution problems. The purpose of this research was to assest the contamination levels of heavy metals Hg, Pb, and Cd in sea-bottom sediments based on an index analysis approach (contamination factors, geo accumulation index, pollution load index). Sediment samples were collected from 31 stations in Jakarta Bay. Heavy metal concentration was measured using Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). The results showed that an average mercury (Hg) concentration ranged from 0.150 to 0.530 g.g-1 with an total average of 0.362 g.g-1, Lead (Pb) from 14.870 to 35.650 g.g-1 with an total average of 21.774 g.g-1, Cadmium (Cd) 0.110-0.280 g.g-1 with an total average of 0.190 g.g-1.The average concentration of Hg, Pb, and Cd is still lower than the sediment quality threshold values set by the Office of the State Minister of Environment of Indonesia 2010. The results of the index analysis showed that the average value of contamination factor (CF) are Hg 0.685, Pb 0.558, and Cd 0.380 respectively (low contamination) and geo accumulation index values are Hg 0.237, Pb -1.655, and Cd 0.069 respectively (unpolluted to moderate polluted). Overall, based on the pollution load index value is -0,511 (PLI 1), sediments in these waters are categorized as not yet polluted by Hg, Pb and Cd. This situation is so necessary to be maintained, that in order for the preservation of marine resources will remain.Keywords:Jakarta Bay, sediment,pollution, heavy metals,assessmentABSTRAKKontaminasi dan pencemaran logam berat pada sedimen dasar dapat menimbulkan masalah yang serius bagi biota laut dan kesehatan manusia. Teluk Jakarta yang terletak berdekatan dengan ibu kota Indonesia terkenal karena masalah pencemarannya yang parah. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai tingkat kontaminasi logam berat Hg, Pb dan Cd dalam sedimen dasar laut berdasarkan pendekatan analisis indeks. Contoh sedimen diambil dari 31 stasiun penelitian di Teluk Jakarta. Kadar logam berat diukur dengan alat Spektrofometer Penyerapan Atom. Hasil penelitian menunjukkan kadar Hg rerata berkisar 0,150-0,530 g. g-1 dengan rerata total 0,362 g. g-1, Timbal (Pb) 14,870-35,650 g. g-1 dengan rerata total 21,774 g. g-1, Kadmium (Cd) 0,110-0,280 g. g-1 dengan rerata total 0,190 g.g-1. Kadar rerata Hg, Pb dan Cd masih lebih rendah dari nilai ambang batas kualitas sedimen yang ditetapkan oleh Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup Indonesia 2010. Hasil analisis indeks menunjukkan nilai rerata faktor kontaminasi (CF) berturut-turut adalah Hg 0,685, Pb 0,352 dan Cd 0,380 (kontaminasi rendah) dan nilai indeks geo akumulasi berturut-turut adalah Hg 0,227, Pb 1,098 dan Cd 0,633 (tidak tercemar sampai tercemar sedang). Secara keseluruhan, berdasarkan nilai indeks beban pencemaran yakni -3.772 (PLI 1), sedimen di perairan ini termasuk kategori belum tercemar oleh Hg, Pb dan Cd. Keadaan ini perlu dipertahankan, agar kelestarian sumberdaya laut tetap terjaga.Kata kunci:Teluk Jakarta, sedimen, pencemaran, logam berat, penilaia
Efektivitas low light emitting diode sebagai lampu pengumpul ikan untuk perikanan bagan tancap
The effectiveness of the artificial lights on fishing activity with a fixed lift net is significant influences on the success of fishing operations. The used of color and intensity must be adjusted to the preferences, response and behavior of the target fish, due to the fish can be more quickly attracted and concentrated in the catchable area. The development of LED technology as an energy-saving lamp has a great opportunity to be applied as a fishing lamp for fixed lift net fisheries. The purpose of this study is to determine the effectiveness of low power LEDs as a fishing lamp based on fish behavioral response. The study was conducted on a research field laboratory that was built in the waters of the Banten Bay in July - August 2018. Test fish were collected from catches of the guiding barrier around the research vehicle. Data on response and behavior of fish to fluorescent lights, blue, green and white LEDs were recorded using 360 sonar and side imaging sonar. The results showed the green LEDs had better effectiveness in attracting, focusing and concentrating fish in the main zone than other types of lights. The fish gather more quickly, form groups and have a stable and consistent swimming pattern in the main lighting zone. Green LED is more appropriate to be used as a fishing lamp on fixed lift net fishing with an optimum intensity range of 4-20 W cm.Keywords:Light,Intensity,Optimum,Response,BehaviorABSTRAKEfektivitas lampu yang digunakan pada proses penangkapan dengan bagan tancap sangat berpengaruh terhadap keberhasilan operasi penangkapan ikan. Intensitas dan warna yang digunakan harus disesuaikan dengan preferensi, respons dan tingkah laku ikan target sehingga ikan lebih cepat terkumpul dan terkonsentrasi pada catchable area. Perkembangan teknologi LED sebagai lampu hemat energi berpeluang besar digunakan sebagai fishing lamp untuk perikanan bagan tancap. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas low power LED sebagai lampu pemikat ikan berdasarkan aspek respons dan tingkah laku ikan. Penelitian dilakukan pada wahana penelitian yang dibangun di perairan Teluk Banten pada bulan Juli - Agustus 2018. Ikan uji diperoleh dari hasil tangkapan sero yang berada di sekitar wahana penelitian. Data respons dan tingkah laku ikan terhadap lampu neon, LED biru, hijau dan putih direkam menggunakan sonar 360 dan side imaging sonar. Hasil penelitian menunjukkan LED hijau memiliki efektivitas yang lebih baik dalam memikat, mengumpulkan dan mengkonsentrasikan ikan pada main zone dibandingkan jenis lampu lainnya. Ikan lebih cepat berkumpul, membentuk kelompok serta memiliki pola renang yang stabil dan konsistem di zona utama pencahayaan. LED hijau lebih tepat digunakan sebagai fishing lamp pada bagan tancap dibandingkan jenis lampu lainnya dengan intensitas optimum antara 4-20 W/cm.Kata kunci:Cahaya, Intensitas, Optimum, Respons, Tingkah lak
Kualitas dan distribusi spasial karakteristik fisika-kimia Sungai Siak di Kota Pekanbaru
Siak River is one of the biggest rivers and the deepest in Riau Province in Indonesia with its 20-30 depth and depth 370 kilometers. The Siak River used for bathing, washing, dumping industrial palm oil, plantation, domestic waste, and port so it has an impact on water quality changing. This study analyzed the water quality and distribution spatial physical and chemical parameters the river around in Pekanbaru city, using Principal Component Analysis (PCA), this study used laboratory in situ and ex situ water quality measurement instruments. Water sampling each station done three times in two weeks during October to November 2019. The results obtained from this study shows the water quality of these 6 stations in the category of bad and the water quality from headwaters to downstream river influenced by organic parameter as a dominant pollutant. The correlation of water quality characteristic was 74.4% main factor 1 (F1) 47.4% and main factor 2 (F2) 26.7% with main characteristics fecal coliform, phosphate, and nitrate. Grouping these characteristics through a dendrogram showed three levels of relationship based on the characteristic parameter. The first group stands for station 1,2, and 4 have higher brightness and Dissolved oxygen (DO) parameters than other stations. The second group stands for stations 3 and 5 that have relatively high in parameter phosphate and nitrate. The third group is station 6 (river estuary) which results in shows high of fecal coliform proportional to pollution. The study can be concluded that three groups heavily contaminated. Each group has different parameters that show influence upland and waters activities.Keywords:Distribution of spatial,The quality of water,Siak River,Physical and Chemical Parameters,PCAABSTRAKSungai Siak merupakan salah satu sungai terbesar di Provinsi Riau dan terdalam di Indonesia, dengan kedalaman sekitar 20-30 meter dan panjang 300 kilometer. Sungai siak masih dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sarana Mandi Cuci Kakus (MCK), tempat buangan limbah industri kelapa sawit, perkebunan, rumah tangga dan pelabuhan, sehingga berdampak pada perubahan kualitas perairan. Penelitian dilakukan untuk menganalisa kualitas dan distribusi spasial karateristik fisik-kimia perairan Sungai Siak di sekitar Kota Pekanbaru, dengan menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Kajian menggunakan instrument pengukuran kualitas air in situ dan ex situ di laboratorium. Pengambilan sampel air pada masing-masing stasiun dilakukan sebanyak tiga kali setiap dua minggu selama bulan Oktober hingga November 2019. Hasil yang diperoleh dari kajian ini adalah kualitas air di keenam stasiun masuk dalam katagori buruk dan mengalami penurunan kualitas dari hulu ke hilir yang disebabkan bahan organik. Korelasi karakteristik kualitas air sebesar 74,3%, faktor utama 1 (F1) 47,4% dan faktor utama 2 (F2) 26,7% dengan penciri utama fecal coliform, fosfat dan nitrat. Pengelompokan stasiun pada dendogram klarifikasi hierarki menunjukkan adanya tiga tingkat hubungan kekerabatan berdasarkan parameter pencirinya. Kelompok satu terdiri dari stasiun 1, 2 dan 4 memiliki hasil relatif tinggi pada parameter kecerahan dan oksigen terlarut (DO) dibandingkan dengan stasiun lainnya. Kelompok dua terdiri dari stasiun 3 dan 5 memiliki hasil relatif tinggi pada paramter nitrat dan fosfat dibandingkan dengan stasiun lainnya. Kelompok tiga adalah stasiun 6 (muara sungai sail) dengan parameter fecal coliform relatif tinggi yang berbanding lurus dengan tingkat pencemarannya. Berdasarkan hasil kajian dapat disimpulkan bahwa tiga kelompok sama-sama tercemar berat, namun masing-masing kelompok memiliki perbedaan parameter pencirinya yang memperlihatkan pengaruh berbagai aktifitas di darat maupun di perairan itu sendiri.Kata kunci:Distribusi spasial, Kualitas air, Sungai Siak, Parameter fisika dan kimia, PC
Kesesuaian budidaya keramba jaring apung (KJA) ikan kerapu di perairan Teluk Sabang Pulau Weh, Aceh
Weh Island is one of the coastal region that has high prospect in fisheries, one of it is floating net cage. Unfortunately, the unavailability of the classification zone for fish net culture and the oceanographic conditions of the coastal water become the main issues of the success of the fish net cage (KJA) culture activities. The aim of this study is analyze suitability of floating net cage culture for grouper in Sabang Bay. The method use in this research is Inverse Distance Weighted (IDW) method. There were 10 water quality variabels measured, such as protection, bathimetry, water transparency, current velocity, temperature, salinity, pH, dissolved oxygen, nitrate and phosphate. Area suitability divided into three suitability criteria, i.e very suitable, suitable and not suitable were used to determine the suitability of floating net cage. The result of the analysis are obtained show that the area for grouper culture Sabang Bay covering 11.3 % or 9.08 Ha of Sabang Bay were classified as very suitable (S1), suitable class (S2) covering an area of 39.8 % or 32.08 Ha of Sabang Bay, and not suitable class (N) covering 49 % or 39.54 Ha of Sabang Bay. Based on this percentage can be concluded that some of the coastal of the Sabang Bay can be utilized as a floating net cage culture of grouper fish activities.Keywords:Grouper culture,GIS,Suitability,Sabang Bay,Aceh ProvinceABSTRAKPulau Weh merupakan salah satu wilayah yang memiliki potensi perikanan yang cukup besar. Akan tetapi dengan belum tersedianya penentuan lokasi budidaya keramba jaring apung serta data kondisi perairan yang tersedia menjadi kendala utama dalam peningkatan keberhasilan dan pengembangan budidaya keramba jaring apung (KJA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis luasan kesesuaian perairan budidaya keramba jaring apung ikan kerapu di perairan Teluk Sabang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Inverse Distance Weighted (IDW). Terdapat sepuluh parameter yang diukur, yaitu keterlindungan, kedalaman, kecerahan, kecepatan arus, suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, nitrat dan fosfat. Tingkat kesesuaian perairan dibagi menjadi 3 (tiga) kelas kesesuaian, yaitu sangat sesuai, sesuai dan tidak sesuai. Hasil analisis yang didapat menunjukkan bahwa luasan untuk budidaya ikan kerapu Teluk Sabang sangat sesuai (S1) seluas 9,08 % atau 11,3 Ha dari Teluk Sabang, kelas sesuai (S2) seluas 39,8 % atau 32,08 Ha dari Teluk Sabang, dan kelas tidak sesuai (N) seluas 49 % atau 39,54 Ha dari Teluk Sabang. Berdasarkan persentase tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian perairan Teluk Sabang dapat dimanfaatkan sebagai usaha budidaya keramba jaring apung ikan kerapu.Kata kunci:Budidaya ikan kerapu, SIG, Kesesuaian perairan, Teluk Sabang, Provinsi Ace
Status dan sebaran mangrove di kawasan konservasi Taman Pulau Kecil, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara
Mangroves are an important part of determining conservation areas as well as determining zoning within conservation areas. Therefore, information on the status and distribution of mangroves is essential in managing conservation areas. This study was conducted in Taman Pulau Kecil, Central Tapanuli District. The data was collected in June 2019. The sampling sites consisted 26 points (1-15 at the Mursala Island and its surroundings and 16-27 in the Tapian nauli Bay (maindland)). The study revealed 17 mangrove species from 9 families consisted of 14 true mangroves and 3 associated mangroves namely pandan (Pandanus tectorius), waru (Thespesia populnea), and ketapang (Terminalia catappa). Analysis of the importance of mangrove species in Taman Pulau Kecil, Central Tapanuli district showed that Rizophora, Xilocarpus, and Bruguiera have a large influence and role in the mangrove vegetation community. Mangroves in conservation area at Taman Pulau Kecil were in the good category. However, the condition and status of mangroves in Tapian Nauli Bay had better condition with the density of 3.120 ind/ha while in Mursala Island and its surroundings with density of 2.356 ind/ha.Keywords:Mangrove,Marine Protected area,Mursala Island,Tapian Nauli BayABSTRAKMangrove merupakan salah satu ekosistem penting dalam penentuan kawasan konservasi serta dalam penentuan zonasi di dalam kawasan konservasi. Oleh karena itu, informasi status dan sebaran mangrove penting dalam upaya pengelolaan kawasan konservasi. Lokasi pengambilan data mangrove di kawasan konservasi daerah Taman Pulau Kecil Kabupaten Tapanuli Tengah. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni 2019. Lokasi pengambilan data pada 26 titik pengamatan yang terdiri dari titik 1-15 di Pulau Mursala dan sekitarnya dan titik 16-27 di Teluk Tapaian Nauli (pulau sumatera). Hasil penelitian ditemukan 17 spesies mangrove dari 9 famili. Jenis mangrove tersebut terdiri dari 14 mangrove sejati dan 3 mangrove ikutan yaitu pandan (P. tectorius), waru laut (Thespesia populnea), dan ketapang (Terminalia catappa). Analisis nilai penting jenis mangrove di KKPD Taman Pulau Kecil Tapanuli Tengah menunjukkan bahwa Rizophora, Xilocarpus, dan Bruguiera memiliki pengaruh dan peran yang besar dalam komunitas vegetasi mangrove. Mangrove di KKPD Taman Pulau Kecil Tapanuli Tengah termasuk kategori baik. Namun kondisi dan status mangrove di Teluk Tapian Nauli lebih baik dengan kerapatan rata-rata 3,120 ind/ha dibanding di Pulau Mursala dan sekitarnya dengan kerapatan rata-rata 2,356 ind/ha.Kata kunci:Mangrove, Kawasan konservasi perairan, Pulau Mursala, Teluk Tapian Naul
Distribusi spasial komunitas makrozoobentos di Sungai Cilalawi Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat
Reservoir inlet. The Cilalawi River receives pollutant from households, as well as agriculture around the river. Utilization of the river as a waste disposal site is the impact of community activities on the environment that causes changes in environmental factors that will adversely affect the life of aquatic organisms. This research aims to map the spatial distribution of macrozoobenthos community along the Cilalawi River. This research was conducted from March-May 2019. The research method used a survey method by taking water and macrozoobenthos samples along the Cilalawi River. Data collection techniques using purposive sampling by setting 4 stations and four times sampling every two weeks. Based on the observation location, composition at station 1 consisted of 3 classes and 12 species of macrozoobenthos. The composition at station 2 consists of 3 classes and 10 species. Composition at station 3 consists of 3 classes and 16 species and composition at station 4 consists of 2 classes and 7 species. The difference in species deficit value at each station is different, this is influenced by physical and chemical parameters according to conditions around the aquatic environment. The index of diversity in the Cilalawi River ranges from 1,59 2,94 and the Uniformity Index of the Cilalawi River ranges from 0,2 to 0,9. The distribution pattern of makrozoobentos in the waters of the Cilalawi River based on the Morisita Index is uniform and grouped at station 1 to station 4Keywords:Distribution,Makrozoobenthos,Cilalawi River,Jatiluhur,PollutantABSTRAKSungai Cilalawi merupakan salah satu anak Sungai Citarum yang menjadi inlet Waduk Jatiluhur. Sungai Cilalawi menerima buangan limbah yang berasal dari rumah tangga, serta pertanian yang berada di sekitar aliran sungai. Pemanfaatan Sungai untuk pembuangan limbah merupakan dampak dari aktivitas masyarakat terhadap lingkungan yang menyebabkan perubahan faktor lingkungan yang akan berakibat buruk bagi kehidupan organisme air. Riset ini bertujuan untuk memetakan distribusi spasial makrozoobentos di sepanjang aliran Sungai Cilalawi. Riset ini dilakukan dari bulan Maret Mei 2019. Metode riset menggunakan metode survey yaitu dengan cara melakukan pengambilan sampel air dan sampel makrozoobentos di sepanjang Sungai Cilalawi. Teknik pengambilan data menggunakan purposive sampling dengan menetapkan 4 stasiun dan empat kali pengambilan sampling setiap dua minggu sekali. Berdasarkan lokasi pengamatan secara komposisi di stasiun 1 terdiri dari 3 kelas dan 12 spesies makrozoobentos. Komposisi di stasiun 2 terdiri dari 3 kelas dan 10 spesies. Komposisi di stasiun 3 terdiri dari 4 kelas dan 16 spesies dan komposisi di stasiun 4 terdiri dari 2 kelas dan 7 spesies. Perbedaan nilai spesies defisit pada masing masing stasiun berbeda, hal ini dipengaruhi oleh parameter fisik dan kimiawi sesuai kondisi di sekitar lingkungan perairan tersebut. Indeks keanekaragaman di Sungai Cilalawi berkisar 1,59 2,94 dan Indeks Keseragaman berkisar 0,2 0,9. Pola distribusi makrozoobentos di perairan Sungai Cilalawi berdasarkan Indeks Morisita adalah seragam dan berkelompok di stasiun 1 hingga stasiun 4.Kata kunci:Distribusi, Makrozoobentos, Sungai Cilalawi, Jatiluhur, Bahan Pencema
Fortifikasi aneka flavor pada makaroni ikan patin Pangasius hypophthalmus sebagai produk unggulan daerah
Abstract. Diversification of patin fish macaroni has the weakness of fishs dominating flavor, so it requires a variety of flavor fortifications on patin fish macaroni to overcome these problems. This study was aimed to determine the effect of fortification flavors on macaroni catfish (Pangasius hyphophthalmus) on consumer acceptance. The method used is the experiment of making macaroni catfish with cheese, spinach, and barbeque. This study used a completely randomized design with 4 treatments and 3 replications. The treatments that M0 (control), M1 (cheese 50 grams), M2 (spinach 50 grams),M3 (barbeque 50 grams). The results of this study showed that the addition of three flavor had been varying levels of consumer acceptance, namely for panelists who liked the appearance of M0 63 people (78.75%), flavor 82.56%, odor86.25%, texture 75%; panelists who liked the appearance of M1 80%, flavor 88.75%, odor 88.75%, texture73.75%; panelists who liked the appearance of M2 85%, flavor 93.75%, odor 93.75%, texture 76.25%; and M3 that liked the macaroni appearance 80%, flavor 71.25%, odor 61.25%, and texture 75%. The most preferred macaroni by panelists based on the organoleptic test was macaroni with added flavor of spinach (M2), which is characterized by greenish yellow, the odor and flavor of slightly fishy, dominant spinach flavor, and hard texture. The proximate composition of M2 was a water content of 12.24%; protein of 14.67%; fat of 1.42%; crude fiber 0.34%.Keywords: Flavor; fortification; macaroni; patinAbstrak. Diversifikasi makaroni ikan patin memiliki kelemahan flavor ikan yang mendominasi, sehingga diperlukan fortifikasi aneka flavor pada makaroni ikan patin untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh fortifikasi aneka flavor pada makaroni ikan patin (Pangasius hypophthalmus) terhadap penerimaan konsumen. Metode penelitian yang digunakan yaitu melakukan percobaan pembuatan makaroni ikan patin dengan fortifikasi tiga macam flavor yaitu keju, bayam dan barbeque. Rancangan percobaan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu M0 (kontrol), M1 (keju 50 g), M2 (bayam 50 g), M3 (barbeque 50 g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fortifikasi tiga macam flavor memiliki tingkat penerimaan konsumen bervariasi yaitu untuk panelis yang menyukai M0 terhadap rupa 78,75%, rasa82,56%, aroma 86,25%, tekstur 75%; panelis yang menyukai M1 terhadap rupa 80%, rasa 88,75%, aroma 88,75% dan tekstur 73,75%; panelis yang menyukai M2 terhadap rupa 85%, rasa 93,75%, aroma93,75% dan tekstur 76,25%; dan untuk perlakuan M3 yang menyukai rupa makaroni 80%, rasa 71,25%, aroma 61,25% dan tekstur 75%. Makaroni yang paling disukai oleh panelis berdasarkan penilaian organoleptik adalah makaroni dengan penambahan flavor bayam (M2) yaitu dengan karakteristik berwarna kuning kehijauan, sedikit aroma dan rasa ikan, dominan rasa bayam, dan tekstur yang keras. Komposisi proksimat M2 yaitu kadar air 12,24%; kadar protein 14,67%; kadar lemak 1,42%, serat kasar0,34%.Kata kunci: Flavor, fortifikasi, makaroni, pati
Monitoring the endemic ornamental fish Pterapogon kauderni in Bokan Kepulauan, Banggai marine protected area, Indonesia
Abstract. The Banggai cardinalfish Pterapogon kauderni is a species of national and international conservation concern. Established in November 2019, the Banggai marine protected area (MPA) in Central Sulawesi, Indonesia covers most of the endemic range of this ornamental fish. The third repeat survey (T2 monitoring) under the National Action Plan for Banggai Cardinalfish Conservation (NAP-BCFC) was carried out in October 2019 at eight sites in the Bokan Kepulauan region within the MPA. The T2 monitoring used the standard NAP-BCFC belt transect method. Data were collected on P. kauderni abundance (by size class: recruits, juveniles, adults) and microhabitat (sea urchins, sea anemones, hard corals, and others). Data were evaluated with respect to the T0 (2017) survey and T1 (2018) monitoring at the same sites, as well as previous surveys in 2004 (2 sites) and 2012 (4 sites). The data show wide between-site variation in P. kauderni and microhabitat parameters, with one subpopulation at very high risk of extirpation. Trends included declines over time in P. kauderni, sea urchin and sea anemone abundance, with an increase since 2017 in hard coral microhabitat use by adult P. kauderni. We recommend evaluation of other P. kauderni populations in Bokan Kepulauan and specific site or zone-based actions. However, we conclude that the most urgent priority for P. kauderni conservation in Bokan Kepulauan is protection of key microhabitat through a moratorium on sea urchin and sea anemone collection in P. kauderni habitat. Keywords: Banggai cardinalfish, endangered species, marine conservation, microhabitat, monitoring, ornamental fishery, CITE