Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
Not a member yet
1262 research outputs found
Sort by
Effect of Formulation Mixture of Herbicide IPA Glyphosate and Methyl metsulfuron on Ischaemum timorense Weeds
The use of a single herbicide often cannot control all types of weeds. Increase the effects of weed control. This study aims to study the effectiveness of glyphosate and methyl metsulfuron herbicides to control the Ischaemum timorense weed and determine the nature of the mixture. This research was conducted from January to April 2019, for ± 4 months in the greenhouse and Pesticide Laboratory of the Faculty of Agriculture, Tanjungpura University, Pontianak. The research was arranged in random groups. The treatment consisted of 4 types of herbicides with five dose levels and 1 control, namely glyphosate (0, 0.188, 0.375, 0.750, 1.5, 3.0) l / ha, methyl metsulfuron (0, 10, 20, 40, 80, 160) g / ha, herbicide mixture A 240/10 SL (0, 0.25, 0.50, 1.00 2.00, 4.00) l / ha and mixed herbicide B 360/10 SL (0, 0 , 25, 0.50, 1.00, 2.00, 4.00) l / ha. The target weed is Ischaemum timorense, a grass weed which is planted in a 14 cm diameter pot and a target of 3 MST (Three weeks after planting a herbicide test is applied). The variables observed are the level of weed damage that was assessed through phytotoxicity scoring and weed dry weights and analysis of herbicide mixture properties. The results showed that the higher the dose of the herbicide that was given, the more effective the suppressor was in controlling weeds. Herbicides that have been able to restore weed growth include glyphosate (G3) at a dose of 0.750 l / ha, Methyl metsulfuron (M5) at a dose of 160 g / ha, A mixture of 240/10 SL (CG3) at a dose of 1.0 l / ha , Mixture B 360/10 SL (CB3) at a dose of 1.0 l / ha. A mixed herbicide A 240/10 SL with an LD50 value of 93.2 and a mixture of B 360/10 SL is 186.92 smaller than the LD50 value of a single glyphosate herbicide 186.83 and methyl metsulfuron 27.98. The index value of combination herbicide mixture A 240/10 SL is 1.0384 and herbicide mixture B 360/10 SL is 1.0262, thus the nature of the herbicide is not antagonistic.Keywords: Glyphosate, Methyl metsulfuron, LD50, Herbicide mixture
PERANAN KELOMPOK TANI DALAM MENINGKATKAN PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH LAHAN PASANG SURUT DI DESA SUNGAI RENGAS KECAMATAN SUNGAI KAKAP KABUPATEN KUBU RAYA
This study aims to analyze the role of farmer group increasing the income of tidal paddy farming in Sungai Rengas Village, Sungai Kakap Subdistrict, Kubu Raya Regency. The research method used was a survey method, the location of this research was chosen deliberately namely in the village of Rengas River. With the consideration that the rengas river village has an organized and active farmer group and has the potensial to develop tidal rice farming which is included in the overflow type B. The average income of tidal rice farmer in respondent farming season oktober to February 2019 was Rp.8.159.116 , with an average production of 2.274 kg/mt, for income per hectare was Rp. 9.065.684.The results of the analysis of the SPSS (Crosstab) cross tabulation test the relationship of the role of farmer groups to the income of tidal paddy farmers produce the role of farmer groups are in the low to high category and are dominated in the category by 81.4%, farm income is in the low to high category and dominated by income is in high category by 39.5%. this shows that a high role will also generate high income.Key words: Farmer groups, tidal land, incom
STUDY OF CHEMICAL PROPERTIES AND PEAT SOIL FERTILITY STATUS IN SOME TYPES OF LAND USE IN SUB-DISTRICT RASAU JAYA KUBU RAYA DISTRICT
Based on West Kalimantan BPS data for 2017, West Kalimantan has 1,543,752 ha of peatlands spread across several districts. One district that has peatlands is Kubu Raya Regency where the peatlands in this region are 130,248 ha. the purpose of this study was to determine the chemical nature of the soil and the fertility status of peat soils in several types of land use for oil palm, rubber, and horticulture.The location of this research is in Rasau Jaya III Village, Rasau Jaya Sub-District, Kubu Raya District. This research was conducted from May to July from the start of preparation, field sampling, soil analysis in the laboratory to the presentation of results. The parameters in this study are, ground water table, pyrite, N-total, P-total, K-total, C-organic, soil pH, C/N ratio, cation exchange capacity, base saturation and bulk density.The results of the analysis showed that the ground water table in the upper layer in each study area included shallow criteria while for the lower layer had rather deep criteria. Pyrite at the study site was no sulfidic. N-total between 0.21-0.45% with very low criteria. P-total between 0.93-3.94 mg / 100g with very low to low criteria. K-total between 0.98-3.98 mg / 100g with very low to low criteria. C-Organic between 4.94-12.96 mg / 100g with very high criteria. Soil pH between 2.65-3.01 with very acid criteria. C/N Ratio between 1.03-5.70% with very low criteria. Cation exchange capacity between 60.74-103.82 cmol (+) kg-1 with very high criteria. Base saturation between 9.41-16.58% with very low criteria. Bulk density from 0.15-0.34 gram / cm3. From the results of this analysis obtained criteria of soil fertility which are classified as low criteria. Keywords: Chemical properties, fertility status peat soils
Respon Tanaman Sawi Pagoda Pada Pemberian Berbagai Jenis Nutrisi Dengan Teknik Hidroponik Sistem Deep Flow Technique
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis nutrisi yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil pada sawi pagoda dengan teknik hidroponik sistem deep flow technique. Penelitian dilaksanakan di jalan Sungai Raya Dalam Kompleks Villa Srikandi Kabupaten Kubu Raya, dimulai pada 23 mei sampai 29 juni 2019. Penelitian ini menggunakan 1 faktor 5 taraf perlakuan untuk setiap perlakuan digunakan 25 sampel tanaman tanpa ulangan dengan menggunakan one way ANOVA. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan nutrisi goodplant, nutriponik, hydro j, nutrigrow dan fultagro. Variabel pengamatan yang diamati yaitu jumlah daun (helai), luas daun (cm2), berat segar tanaman (g), berat kering tanaman (g), jumlah klorofil daun (speed unit) dan volume akar (cm3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian berbagai jenis nutrisi (goodplant, nutriponik, hydro j, nutrigrow dan fultagro) belum mampu memberikan perbedaan dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil sawi pagoda dengan teknik hidroponik sistem deep flow techniqueKata kunci : sawi pagoda, hidroponik, nutrisi, deep flow techiqu
Pengaruh POC Limbah Sayuran Hijau terhadap Pertumbuhan dan Hasil Sawi Hijau pada Tanah Gambut
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menemukan konsentrasi POC limbah sayuran hijau yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil sawi hijau pada tanah gambut. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 3 April sampai dengan 3 Mei 2019. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 5 perlakuan dengan 5 ulangan dan tiap ulangan terdiri dari 4 tanaman sampel. Perlakuan yang dimaksud adalah p1= POC limbah sayuran hijau dengan konsentrasi 5 ml/liter air, p2= POC limbah sayuran hijau dengan konsentrasi 10 ml/liter air, p3= POC limbah sayuran hijau dengan konsentrasi 15 ml/liter air, p4= POC limbah sayuran hijau dengan konsentrasi 20 ml/liter air, p5= POC limbah sayuran hijau dengan konsentrasi 25 ml/liter air. Variabel yang diamati pada penelitian ini yaitu volume akar (cm3), jumlah klorofil daun (spad unit), luas daun (cm2), berat kering tanaman (g), jumlah daun (helai) dan berat segar tanaman (g). Berdasarkan hasil penelitian ini tidak ditemukan konsentrasi POC limbah sayuran hijau yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil sawi hijau pada tanah gambut tetapi konsentrasi POC yang efektif untuk pertumbuhan dan hasil sawi hijau pada tanah gambut ditunjukkan dengan pemberian limbah sayuran hijau konsentrasi 10 ml/liter air.Kata kunci: gambut, limbah sayuran hijau, poc, sawi hija
Respon Perkecambahan Benih Pinang Akibat Penyimpanan dan Moisturizing Benih
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon perkecambahan benih pinang terhadap lama penyimpanan dan moisturizing benih dan mengetahui lama penyimpanan dan moisturizing benih pinang yang terbaik dalam mempercepat waktu perkecambahan. Penelitian ini dilaksanakan di lahan pribadi yang berada di Jalan Tanjung Raya 2 Pontianak Timur, Kelurahan Banjar serasan. Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 9 Desember 2018 sampai dengan tanggal 20 Maret 2019, mulai dari pengambilan benih hingga akhir penelitian. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas satu faktor, yaitu: P1= disimpan selama 7 hari + dilembabkan selama 4 hari, P2 = disimpan selama 7 hari + dilembabkan selama 6 hari, P3 = disimpan selama 14 hari + dilembabkan selama 4 hari, P4= disimpan selama 14 hari + dilembabkan selama 6 hari, P5= disimpan selama 21 hari + dilembabkan selama 4 hari, P6= disimpan selama 21 hari + dilembabkan selama 6 hari, P7= disimpan selama 28 hari + dilembabkan selama 4 hari, P8= disimpan selama 28 hari + dilembabkan selama 6 hari, P9= disimpan selama 35 hari + dilembabkan selama 4 hari, P10= disimpan selama 35 hari + dilembabkan selama 6 hari, P0= tidak di simpan + tidak di lembabkan (kontrol), Dari 11 perlakuan tersebut diulang 3 kali sehinga terdapat 33 unit percobaan, dan setiap unit digunakan 10 butir benih maka terdapat 330 benih. Semua benih tersebut akan dikecambahkan dalam kondisi gelap, kecuali perlakuan P0. Variabel yang diamati adalah kadar air(%), indeks vigor(%), daya berkecambah(%), kecepatan tumbuh(%/etmal), keserempakan tumbuh(%), panjang tunas(cm), panjang akar(cm). Hasil penelitian ini menunjukkan respon perkecambahan benih pinang akibat penyimpanan dan moisturizing benih berpengaruh nyata terhadap semua variabel pengamatan, perlakuan P1 (penyimpanan 7 hari dan dilembabkan 4 hari) memiliki hasil rerata perlakuan terbaik dan lebih efisien terhadap semua variabel pengamatan yaitu indeks vigor 100%, keserempakan tumbuh 100%, daya kecambah 100%, kecepatan tumbuh 8.21 %/etmal, panjang tunas 26,00 cm, dan panjang akar 22,18 cm. Kata Kunci : Perkecambahan, Penyimpanan Benih, Moisturizing/Melembabkan Benih, Pinang, Beni
IDENTIFIKASI PERUBAHAN SIFAT FISIKA TANAH INCEPTISOLS AKIBAT PEMBERIAN BIOCHAR SABUT KELAPA DALAM (Cocos nucifera) DI DESA PAL SEMBILAN KABUPATEN KUBU RAYA
ABSTRAKInceptisols adalah tanah yang dicirikan dengan fraksi liat yang cukup tinggi yakni 35-78 % banyak pori mikro mengakibatkan porositas total rendah, ketersediaan oksigen dalam tanah menurun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan sifat fsika tanah Inceptisols akibat pemberian biochar sabut kelapa. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya. Metode yang digunakan dalam penelitan ini yaitu metode eksperimen lapangan dengan pola rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan biochar yakni T0 = 0 g.m-2, T1= 250 g.m-2, T2= 500 g.m-2, T3=750 g.m-2, dan T4= 1000 g.m-2 masing-masing diulang 4 kali dengan pengambilan sampel sebanyak 3 kali yakni sebelum inkubasi, 2 bulan inkubasi 4 bulan inkubasi sehingga total berjumlah 60 sampel. Berdasarkan hasil analisis, bobot isi tanah sebelum perlakuan 0,86 g.cm-3 menurun pada bulan ke 4 0,68 g.cm-3 (rendah) . Berat jenis partikel tertinggi terdapat pada T1 bulan ke 2 (2,39 g.cm-3), berat jenis partikel turun pada T4 bulan ke 2 (1,56 g.cm-3). Porositas tanah mengalami peningkatan setelah 4 bulan inkubasi 66,69 % (poros) . Kadar air kapasitas lapang sebelum inkubasi 54,86 % meningkat pada 4 bulan inkubasi 75,53 %. Permeabilitas tanah sebelum inkubasi 0,60 cm/jam-1 dikategorkan sangat lambat (<0,125 cm/jam-1) dan mengalami peningkatan pada bulan ke 2 (1,29 cm.jam-1) masuk kategori agak lambat (0,50 – 2,00 jam.cm-1). Perlakuan biochar sabut kelapa memberikan pengaruh nyata terhadap kadar air kapasitas lapang, Berdasarkan hasil penelitian rata-rata tertinggi kadar air kapasitas lapang terdapat pada perlakuan T3 (750 g.m-2). Kata kunci : Inceptisols, Fraksi liat, Fisika tanah, Biochar sabut kelap
STUDI KEANEKARAGAMAN FUNGI TANAH DAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA PADA LAHAN BEKAS PENAMBANGAN EMAS (PETI) DI KECAMATAN SINGKAWANG TENGAH KOTA SINGKAWANG
ABSTRAKPenelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Roban Kecamatan Singkawang Tengah pada dua tipe penggunaan lahan yaitu lahan bekas PETI dan lahan bekas PETI yang telah ditanami kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keanekaragaman jenis fungi tanah dan fungi Mikoriza Arbuskula yang dapat bertahan pada lahan bekas tambang emas. Serta mengembangkan potensi dari jenis-jenis mikoriza tersebut. Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan cara memplotkan lahan dengan luas 40 m x 5 m dan dibagi menjadi 3 bagian atau blok ( I, II, dan III ) sehingga masing – masing blok berukuran 13,3 m x 5 m, dan dari tiap bagian – bagian tadi diambil sampel secara acak dengan sistem kuadrat 1m x 1m yang dibagi menjadi 4 bagian sebanyak 2 kali pengambilan sampel.Hasil pengamatan di Laboratorium Biologi menunjukan jumlah jenis spora pada tipe pemanfaatan lahan Eks Peti Terbuka terdapat 4 spesies fungi MA, dan tipe pemanfaatan lahan Eks Peti Kelapa Sawit jumlah jenis spora yang ditemukan terdapat 10 spesies. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa lahan EPTS memilik jumlah spesies fungi tanah lebih sedikit dari ada EPDS spesies (Sp) yang ditemui pada EPTS berjumlah 10 jenis dengan total populasi 97 koloni pada pengenceran 10-4.sementara itu pada lahan EPDS jumlah spesies fungi tanah berjumlah 11 jenis dengan total populasi 230 pada pengenceran 10-4. Kata kunci : Lahan Eks PETI, Fungi Tanah, Fungi Mikoriza Arbuskul
THE EFFECT OF PALM FRUIT BUNCHES ASH AND N, P AND K FERTILIZER ON GROWTH AND YIELD OF CELERY IN PEAT SOIL
Celery plants (Apium graveolens L.) which are cultivated in peat soils face several obstacles such as soil acidity and deficiency of nutrients. Palm fruit bunches ash has an important role to improve pH in soils. Whereas this plants needs N, P and K fertilizers for growth and development. The purpose of this research was to investigate the best interaction between palm fruit bunches ash dosage and N, P and K fertilizer on the growth and yield of celery in peat soils. This research was conducted at the research house of the Faculty of Agriculture, Tanjungpura University, Pontianak, lasted from 16 December 2018 to 14 March 2019. This research used a Factorial Complete Randomized Design method consisting of 2 factors with 3 treatments each, 3 replications and 4 plant samples each treatment. The first factor is the provision of palm fruit bunches ash, called: a1= 4.5 tons/ha, a2 = 6 tons/ha, and a3 = 7.5 tons/ha. The second factor called: p1 = 50% recommended dosage of Urea (75 kg/ha, SP-36 25 kg/ha and KCl 50 kg/ha), p2 = 75% recommended dosage (Urea 112.5 kg/ha, SP-36 37.5 kg/ha and KCl 75 kg/ha), and p3 = 100% recommended dosage, (Urea 150 kg/ha, SP-36 50 kg/ha and KCl 100 kg/ha). The observed variables were root volume (cm3), number of leaf stalks, number of tillers, plant fresh weight (g), and plant dry weight (g). Interaction occurred between oil palm long ash and fertilizer N, P and K on the variable number of tillers, while the variable root volume, number of leaf stalks, fresh weight, and plant dry weight did not occur. Results of this research found an effective of palm fruit bunches ash dosage 4 tons/ha and N, P and K fertilizer with 50% dosage recommended (75 kg/ha, SP-36 25 kg/ha, and KCl 50 kg/ha). Key word : Celery, N, P and K fertilizer, palm fruit bunches ash, peat soi
Studi Sifat Kimia Tanah Pada Tanaman Lidah Buaya (Aloe Vera Sp) Di Lahan Gambut Kecamatan Pontianak Utara Kota Pontianak
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa sifat kimia tanah pada lahan tanaman lidah buaya di Kecamatan Pontianak Utara Kota Pontianak. Metode penelitian ini merupakan survey lapangan, dimana sampel tanah diambil pada kedalaman 0-20 cm dan di analisis di laboratorium. Hasil penelitian menunjukan sifat-sifat kimia tanah dengan kriteria sebagai berikut: reaksi tanah (pH) sangat masam; N-total sedang; fosfor, C-organik, Kapasitas Tukar Kation masuk sangat tinggi; K-dd rendah sampai tinggi; dan Kejenuhan Basa rendah sampai sangat rendah. Status kesuburan tanah di lahan tanaman lidah buaya tersebut tergolong rendah sampai sedang, maka diperlukan usaha perbaikan untuk peningkatan sifat kimia tanah melalui pemupukan N, P, dan K.Kata Kunci: Sifat Kimia Tanah, Tanaman Lidah Buay