Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
Not a member yet
1262 research outputs found
Sort by
Analisis Neraca Air Lahan untuk Menentukan Pola dan Waktu Tanam Padi pada Sawah Tadah Hujan di Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya
Air merupakan bahan alami yang secara mutlak diperlukan tanaman dalam jumlah cukup dan pada saat yang tepat. Kelebihan maupun kekurangan air mudah menimbulkan masalah dan bencana.Masalah pada ekosistem lahan sawah tadah hujan lebih beragam dibandingkan dengan masalah pada lahan sawah beririgasi.Masalah utama yaitu keadaan yang dicirikan dengan intensitas curah hujan rendah dan distribusi hujan yang tidak merata,pada musim hujan air melimpah, sebaliknya menjelang musim kemarau air untuk keperluan pertanian sudah mulai berkurang. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis neraca air lahanpadasawahtadahhujan agar dapatdirancang pola serta waktu tanam padi yang sesuai. Penentuan potensi waktu tanam diawali dengan analisis neraca air lahan dengan menggunakan metode Thornthwaite, yang disesuaikan dengan periode waktu tanam dengan kandungan lengas tanah >50% dari air tersedia. Pola tanamdiperolehduapoladenganduawaktutanam.Polapertamapadiunggul – bera – padiunggul dengan awal waktu tanam pada dasarian ketiga bulan Maret ditanami Padi unggul kemudian Bera dan pada waktu tanam kedua denganawalwaktutanampadadasariankeduabulanSeptember ditanamiPadiunggul.Padapolakeduapadiunggul – bera – padi lokal, awalwaktutanampertamapadadasarianketigabulanMaretditanamiPadiunggulkemudianBeradanpadawaktutanamkedua dengan awal waktu tanam pada dasarian kedua bulan September ditanami Padi lokal. Kata kunci: curah hujan, neraca air lahan, pola tanam, waktu tana
LAJU INFILTRASI PADA BEBERAPA PENGGUNAAN LAHAN DI DESA PAK MAYAM KECAMATAN NGABANG KABUPATEN LANDAK
ABSTRAK Konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian dan penggunaan lahan lainnya turut menyebabkan rendahnya peresapan air ke dalam tanah sehingga mempengaruhi laju infiltrasi. Pada daerah yang memiliki curah hujan yang tinggi, semakin rendah infiltrasi tanah maka semakin besar aliran permukaan yang dihasilkan, dengan demikian potensi terjadinya erosi dan banjir meningkat. Perubahan penggunaan lahan juga terjadi di Desa Pak Mayam oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui laju infiltrasi pada hutan sekunder, semak belukar, kebun karet dan kebun sawit di Desa Pak Mayam Kecamatan Ngabang kabupaten Landak. Pengambilan sampel pada empat penggunaan lahan masing-masing 3 titik. Parameter penelitian meliputi sifat fisika tanah seperti laju infiltrasi tanah, tekstur, bobot isi, kadar air kapasitas lapangan, porositas total dan permeabilitas. Parameter pendukung seperti profil tanah, struktur, muka air dan kematangan tanah. Hasil penelitian menunjukan laju infiltrasi awal (t= 0,25 jam) tertinggi sampai terendah yaitu kebun sawit laju infiltrasi awal sebesar 141,69 cm/jam, hutan sekunder 103,30 cm/jam, semak belukar 75,19 cm/jam, dan Kebun Karet 52,45 cm/jam. Laju infiltrasi konstan tertinggi sampai terendah adalah hutan sekunder 50,89 cm/jam (kriteria sangat cepat), kebun sawit 44,98 cm/jam (kriteria sangat cepat), semak belukar 25,89 cm/jam (kriteria cepat) dan kebun karet 17,22 cm/jam (kriteria cepat). Rata-rata laju infiltrasi tertinggi sampai terendah adalah kebun sawit sebesar 78,97 cm/jam, hutan sekunder 68,42 cm/jam, semak belukar 43,13 cm/jam dan kebun karet 29,87 cm/jam. Perbandingan laju infiltrasi pada hutan sekunder, semak belukar, kebun karet dan kebun sawit. Laju infiltrasi hutan sekunder dan kabun sawit (tergolong sangat cepat) dibandingkan dengan laju infiltrasi semak belukar dan kebun karet (tergolong cepat). Perbandingan laju infiltrasi aktual dengan laju infiltrasi Horton menunjukan adanya hubungan yang sangat nyata dan memiliki kecendrungan yang positif. Kata kunci : Laju Infiltrasi, Penggunaan Laha
Pengaruh Biochar Tongkol Jagung terhadap Ketersediaan Fosfor dan Hasil Tanaman Sawi Hijau (Brassica rapa var. parachinensis L.) pada Tanah Pasca Pertambangan Emas
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis biochar tongkol jagung yang baik bagi pertumbuhan sawi hijau pada tanah pasca tambang emas. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian biochar terhadap beberapa karakteristik tanah. Perlakuan yang diberikan adalah perbedaan dosis biochar P0 = 0 g Biochar + 62,5 g pupuk kandang + 0,375 g SP36; P1 = 7,5 g Biochar + 62,5 g pupuk kandang + 0,375 g SP36; P2 = 12,5 g Biochar + 62,5 g pupuk kandang + 0,375 g SP36 dan; P3 = 17,5 g Biochar + 62,5 g pupuk kandang + 0,375 g SP36. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh nyata pemberian biochar terhadap ketersediaan P, pH tanah dan KTK serta tinggi tanaman, jumlah lembardaun. Biochar hanya mempengaruhi pH tanah dimana perlakuan P3 berpengaruh nyata terhadap P0 dan P1 namun tidak berpengaruh pada P2.Kata kunci : biochar, hasil sawi, karakteristik tana
KAJIAN SIFAT KIMIA TANAH PADA TIGA TIPE LAHAN PASCA TAMBANG EMAS TANPA IZIN DI DESA MANDOR KECAMATAN MANDOR KABUPATEN LANDAK
ABSTRAK Aktivitas penambangan emas menyebabkan kerusakan tanah, yaitu kemasaman tanah tinggi, tekstur tanah yang berpasir serta miskin unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji beberapa sifat kimia tanah di area pertambangan emas tanpa ijin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling pada 3 tipe lahan pasca tambang emas dan Penilaian Karakteristik Tanah (PPT, 1983). Analisis sifat kimia tanah dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Waktu penelitian berlangsung dari bulan Februari sampai Juli2021. Titik pengamatan menggunakan sistem diagonal pada luasan 50 meter untuk setiap lokasi penelitian. Sampel tanah utuh dan komposit diambil pada kedalaman 0-30 cm untuk masing-masing lokasi penelitian. Parameter sifat kimia tanah terdiri dari Reaksi tanah (pH), C-organik, N-total, P-tersedia, K-dapat ditukar, Ca-dapat ditukar, Mg- dapat ditukar, Na-dapat ditukar, Kapasitas Tukar Kation, Kejenuhan basa tanah dan parameter pendukung meliputi tekstur dan warna tanah. Analisis data penelitian menggunakan penilaian sifat kimia tanah berdasarkan ketersediaan unsur hara yang terkandung di lokasi penelitian. Kriteria sifat kimia tanah ketiga tipe lahan penelitian sebagai berikut : pH kriteria rendah hingga sangat rendah, C-organik kriteria rendah hingga sangat rendah, N-total kriteria rendah hingga sangat rendah, P-tersedia hutan sekunder tinggi dan lahan semak maupun lahan tambang sangat rendah, K-dapat ditukar sangat rendah, Ca-dapat ditukar dan Mg-dapat ditukar kriteria sangat rendah, Na-dapat ditukar rendah hingga sangat rendah, KTK kriteria rendah hingga sangat rendah dan KB kriteria rendah. Kata kunci : sifat kimia tanah, Mandor, pasca PETI, pasi
STUDI PERKEMBANGAN DAN KLASIFIKASI TANAH BERDASARKAN BAHAN INDUK DI DESA PASIR KECAMATAN MEMPAWAH HILIR
ABSTRAK Desa Pasir adalah desa terluas di Kecamatan Mempawah Hilir yang merupakan kawasan perkebunan dan pertanian pangan. Pemanfaatan lahan dalam bidang pertanian membutuhkan informasi karakteristik tanah untuk mengetahui pengelolaan yang tepat. Penelitian ini bertujuan menentukan tingkat perkembangan tanah, mengetahui proses pedogenesis yang terjadi, serta mengklasifikasi tanah berdasarkan tiga sistem yaitu USDA tahun 2014, BBSDLP tahun 2016 dan klasifikasi FAO/WRB tahun 2015. Hasil penelitian ini dideskripsikan dalam peta jenis tanah skala 1:10.000. Penelitian berlangsung selama 3 bulan, dari pengambilan sampel hingga analisis di laboratorium. Hasil pengamatan morfologi tanah di lapangan dan hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa, lokasi penelitian memiliki kelas lereng datar hingga curam dengan persentase 0 – 30%. Penggunaan lahan beragam yaitu semak, perkebunan kelapa sawit, dan hutan rakyat. Ditemukan 5 Satuan Peta Tanah (SPT) dengan masing-masing jenis dan perkembangan tanah yang berbeda yaitu Typic Haplofibrists dan Typic Haplohemists merupakan tanah organik lahan basah yang berasal dari bahan induk endapan organik dan proses pedogenesis yang terjadi yaitu paludisasi, ripening, dekomposisi dan humifikasi. Histic Sulfaquents merupakan tanah mineral lahan basah yang berasal dari bahan induk endapan liat, tingkat perkembangan tanah muda (recent stage) dengan susunan horizon Oa-A-Cg1-Cg2 dan proses-proses pedogenesis yang terjadi yaitu littering, ripening, dekomposisi dan gleisasi. Typic Dystrudepts merupakan tanah mineral lahan kering yang berasal dari bahan induk granit, tingkat perkembangan tanah dewasa (intermediate) dengan susunan horizon A-B-Bw-BC dan proses-proses pedogenesis yang terjadi yaitu dekomposisi dan enrichment. Typic Kanhapludults merupakan tanah mineral lahan kering yang berasal dari bahan induk granit, tingkat perkembangan tanah tua (ultimate) dengan susunan horizon A-B-Bt-BE-Bt’-BC dan proses-proses pedogenesis yang terjadi yaitu dekomposisi, illuviasi, eluviasi dan lessivage. Kata kunci : Klasifikasi Tanah, Pedogenesis, Tingkat Perkembangan Tanah
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL KECIPIR TERHADAP PEMBERIAN PUPUK POSFAT DAN PUPUK ORGANIK CAIR (POC) KEONG MAS PADA TANAH GAMBUT
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara pupuk posfat dan pupuk organik cair (POC) keong mas serta untuk mengetahui dosis pupuk posfat dankonsentrasi pupuk organik cair (POC) keong mas yang terbaik bagi pertumbuhan danhasil kecipir pada tanah gambut. penelitian dilaksanakan mulai dari tanggal 15Desember 2018 sampai dengan 23 April 2019 di kebun percobaan Fakultas PertanianUniversitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian menggunakan metode eksperimen faktorial dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktoryaitu pupuk posfat (p) dan pupuk organik cair (POC) keong mas (k). Pupuk posfatterdiri dari 3 taraf perlakuan yaitu p1 (0,7 g/polybag), p2 (1,4 g/polybag), dan p3 (2,2g/polybag), faktor pupuk organik cair (POC) keong mas terdiri dari 3 taraf perlakuanyaitu k1 (15 ml/l air), k2 (30 ml/l air), dan k3 (45 ml/l air), terdapat 9 kombinasiperlakuan dengan 3 ulangan dan tiap ulangan terdiri dari 4 tanaman sampel.Kombinasi perlakuan yang adalah p1k1, p1k2, p1k3, p2k1, p2k2, p2k3, p3k1, p3k2,dan p3k3. Variabel pengamatan yang diamati yaitu kadar kehijauan daun (spad unit),volume akar (cm3), berat kering tanaman (g), jumlah buah pertanaman (buah), panjangbuah pertanaman (cm) dan berat buah pertanaman (g). Hasil penelitian menunjukanbahwa terjadi interaksi antara perlakuan pupuk posfat dan pupuk organik cair (POC)keong mas pada tanah gambut, namun didapatkan dosis efektif yang mampumeningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kecipir yaitu 0,7 g/polybag pupukposfat dan 15 ml/l air pupuk organik cair (POC) keong mas. Kata kunci : gambut, kecipir, pupuk organik cair (POC)keong mas, pupuk posfat
Karakteristik Minyak Kasar Biji Mentawa (Artocarpus anisophyllus) dengan Metode Ekstraksi Maserasi Menggunakan Pelarut Heksan dan Petroleum Eter
Mentawa adalah salah satu buah lokal yang dikonsumsi dengan biji buah dan menghasilkan limbah biji yang sangat banyak. Biji mentawa mengandung minyak akan tetapi sampai saat ini belum diketahui karakteristik dari minyak biji mentawa. Salah satu cara ekstraksi minyak dapat dilakukan dengan menggunakan pelarut nonpolar. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik minyak kasar biji mentawa terbaik dari ekstraksi menggunakan pelarut heksan dan petroleum eter (PE). Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 1 (satu) faktor perlakuan yaitu rasio kombinasi pelarut heksan dan pelarut PE (5 taraf perlakuan yaitu 100:0, 75:25, 50:50, 25:75, 0:100; 3 kali ulangan). Data yang diperoleh dianalisis dengan anova 5%. Jika perlakuan berpengaruh nyata dilanjutkan uji beda nyata jujur (BNJ) 5%, Penentuan hasil terbaik pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode De Garmo. Kombinasi heksan dan PE pada rasio 0:100 merupakan perlakuan terbaik. Kualitas minyak kasar biji mentawa yang dihasilkan yaitu rendemen sebesar 17,39 %, angka penyabunan 231,36 mg KOH/g, berat jenis 0,981 g/mL, angka iodin 24,04 g Yod/100g dan pH 8,57.Kata Kunci: Minyak kasar, Maserasi, Heksan, PE, Karakteristik
TINGKAT MOTIVASI KONSUMEN KOPI ROBUSTA DI KEDAI KOPI AMING
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat motivasi konsumen kopi Robusta di kedai kopi Aming Pontianak. Data yang digunakan adalah mengenai karakteristik responden yang mengkonsumsi kopi berserta tingkat motivasi konsumen untuk mengkonsumsi kopi, sebagai acuan dan pilihan untuk menentukan perbaikan kinerja di kedai kopi Aming Pontianak. Penelitian dilaksanakan mulai 25 Juni2020 sampai 25 juli 2020 di kedai kopi Aming Pontianak. Model analisis yang digunakan adalah analisis deksriptif untuk memberikan gambaran secara mendetail dan akurat dari kedai kopi Aming pontianak. Karakteristik konsumen yang digunakan yaitu (pekerjaan, pendapatan,pekerjaan, jenis kelamin dan usia) serta tingkat motivasi konsumen yang diambil dari dua variabel yaitu Maintenance factors (rasa, manfaat, dan kebiasaan), dan Motivation Factors (harga, pengalaman, jarak, dan pelayanan).Hasil dari tingkat motivasi konsumen dalam mengkonsumsi kopi robusta di kedai Kopi Aming Pontianak berada pada kategori “Tinggi” dengan motivasi atau dorongan tertinggi berasal dari cita rasa kopi yang khas robusta yang dikonsumsi konsumen dan pengalaman yang didapatkan konsumen saat datang ke kedai kopi Aming Pontianak. Kata Kunci: Kopi robusta, Kedai Aming Kopi, Tingkat Motivas, Konsumen Kop
Hubungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Dengan Produktivitas Kerja Karyawan (Studi Kasus: Bagian Proses Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Kedukul – PT Citranusa Intisawit, Kabupaten Sanggau)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) terhadap produktivitas kerja di PT Citranusa Intisawit, Kabupaten Sanggau. Penelitian dilakukan pada karyawan bagian proses Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Kedukul. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive (sengaja) karena Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Citranusa Intisawit merupakan satu-satunya pabrik pengolahan untuk kelapa sawit di Desa Kedukul Kecamatan Mukok. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dengan jumlah responden sebanyak 66 orang. Metode analisis yang digunakan adalah uji korelasi rank spearman dengan program IBM SPSS Statistics 20. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara keselamatan kerja dengan produktivitas kerja karyawan di Pabrik kelapa sawit PT Citranusa Intisawit Kedukul cukup kuat dengan koefisien korelasi sebesar 0,537. Sedangkan hubungan antara kesehatan kerja dengan produktivitas kerja karyawan di Pabrik kelapa sawit PT Citranusa Intisawit Kedukul juga menunjukkan hubungan yang kuat dengan koefisien korelasi sebesar 0,697. Nilai signifikansi hubungan antara keselamatan dan kesehatan kerja dengan produktivitas kerja dalam penelitian sebesar 0,000, dimana nilai sig 0,000 < 0,05 atau 0,01 yang artinya ada hubungan yang signifikan (korelasi nyata) antar variabel. Kata Kunci : Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Produktivitas Kerja
Pengaruh Kombinasi Pupuk N dan Pupuk Hayati terhadap Pertumbuhan dan Hasil Sawi Hijau pada Tanah Aluvial
Usaha peningkatan produksi tanaman sawi hijau dengan perluasan lahan, budidaya pada tanah aluvial harus diimbangi dengan pemberian kombinasi pupukN dan pupuk hayati sebagai usaha dalam meningkatkan kesuburan tanah.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kombinasi pupuk N dan pupuk hayatiterhadap pertumbuhan dan hasil sawi hijau pada tanah aluvial. Penelitian inidilaksanakan di Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak yangberlangsung dari 03 Februari sampai dengan 29 Maret 2020. Rancangan yangdigunakan adalah Percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5perlakuan, 5 ulangan, dan 3 tanaman sampel. Kombinasi pupuk N dan pupukhayati yang diteliti adalah a1 = 1,8 g Urea/tanaman a2 = 1,4 g Urea/tanaman + 20ml Bioboost/L air, a3 = 0,9 g Urea/tanaman + 40 ml Bioboost/L air, a4 = 0,4 gUrea/tanaman + 60 ml Bioboost/L air, a5 = 80 ml Bioboost/L air. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa pemberian pupuk N dan pupuk hayati berpengaruh nyataterhadap semua variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, luasdaun, berat segar tanaman, berat kering tanaman, volume akar. Perlakuankombinasi terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil sawi hijau pada tanah aluvialterdapat pada 1,4 g Urea/tanaman + 20 ml Bioboost/L air