Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
Not a member yet
    1262 research outputs found

    PENGARUH BOKASHI ALANG-ALANG DAN PUPUK KALIUM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI PADA TANAH PODSOLIK MERAH KUNING

    No full text
    Kedelai merupakan komoditas pertanian yang sangat dibutuhkan di Indonesia. Kedelaitidak menjadi prioritas untuk diproduksi di Kalimantan Barat sehingga perlu adanya upaya ekstensifikasi dan intensifikasi. Secara ekstensifikasi yaitu pemanfaatan tanah PMK sebagai media tanam. Secara intensifikasi yaitu mengoptimalkan lahan pertanian yang sudah ada dengan pemupukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi bokashi alang-alang dan pupuk kalium, serta mendapatkan dosis bokashi alang-alang dan pupuk kalium terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai pada tanah PMK. Penelitian dilaksanakan di Sepakat II Pontianak Tenggara, dimulai pada Mei sampai Agustus 2022. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dalam bentuk faktorial dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor perlakuan yaitu bokashi alang-alang dan pupuk kalium. Faktor pertama dosis bokashi alang-alang terdiri dari 3 taraf perlakuan yaitu 10 ton/ha, 15 ton/ha dan 20 ton/ha. Faktor kedua pupuk kalium terdiri dari 3 taraf perlakuan yaitu 100 kg/ha, 150 kg/ha dan 200 kg/ha. Setiap perlakuan terdiri dari 4 sampel dan diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bokashi alang-alang dosis 20 ton/ha dengan pupuk kalium dosis 150 kg/ha merupakan perlakuan terbaik terhadap semua variabel dan terdapat interaksi antara pemberian bokashi alang-alang dan pupuk kalium terhadap tanaman kedelai pada tanah PMK

    PENGARUH KOMBINASI PUPUK KANDANG DAN VARIETAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KUBIS BUNGA DI DUA KEDALAMAN MUKA AIR TANAH

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kombinasi antara pupuk kandang dan varietas kubis bunga yang lebih baik, dengan kedalaman muka air tanah yang lebih baik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga pada tanah aluvial dengan sistem budidaya jenuh air. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli sampai November 2023. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan Rancangan Petak Berjalur (Split Blok), yang terdiri dari 2 faktor dan 3 ulangan masing-masing perlakuan. Faktor pertama (main plot) yaitu kedalaman muka air tanah yang terdiri dari 20 dan 30 cm, dan faktor kedua (sub plot) yaitu kombinasi pupuk kandang dan varietas kubis bunga yang terdiri dari pupuk kandang ayam + varietas Larissa, pupuk kandang kambing + varietas Larissa, pupuk kandang + varietas Snow White, dan pupuk kandang kambing + varietas Snow White. Variabel yang diamati yaitu jumlah daun, luas daun per tanaman, berat segar tanaman, berat kering tanaman, kemunculan bunga, diameter krop, dan berat segar krop. Selain variabel diatas juga dilakukan pengamatan terhadap kondisi lingkungan yang meliputi pH tanah, suhu udara, kelembaban udara, dan curah hujan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kombinasi pupuk kandang dan varietas Larissa menunjukkan pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga yang lebih baik daripada kombinasi pupuk kandang dan varietas Snow White pada media tanam tanah aluvial di polybag dengan sistem budidaya jenuh air dan kedalaman muka air tanah 30 cm menunjukkan pertumbuhan dan hasil tanaman kubis bunga yang lebih baik dari 20 cm pada media tanam tanah aluvial di polybag dengan sistem budidaya jenuh air

    PENGARUH KOMBINASI DOSIS PUPUK KANDANG KAMBING, KAPUR, DAN NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KUBIS BUNGA DENGAN SISTEM BUDIDAYA JENUH AIR DI LAHAN PASANG SURUT

    Full text link
    Kubis bunga ialah bagian dari komoditi hortikultura dengan nilai ekonomis dan telah dibudidayakan di wilayah Kalimantan Barat. Pemberian kombinasi dosis pupuk kandang kambing, kapur, dan NPK dengan sistem Budidaya Jenuh Air di lahan pasang surut merupakan upaya dalam meningkatkan produksi dan hasil Kubis Bunga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan kombinasi dosis pupuk kandang kambing, kapur, dan NPK yang terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil kubis bunga dengan sistem budidaya jenuh air di lahan pasang surut. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan faktor tunggal yaitu kombinasi dosis pupuk kandang kambing, kapur, dan NPK dengan 6 kombinasi dan 4 ulangan. Perlakuan yang dimaksud yaitu : A = kapur 1 ton/ha + pupuk kandang kambing 20 ton/ha + NPK 450 kg/ha, B = kapur 1 ton/ha + pupuk kandang kambing 20 ton/ha + NPK 600 kg/ha, C = kapur 2 ton/ha + pupuk kandang kambing 10 ton/ha + NPK 300 kg/ha, D = kapur 2 ton/ha + pupuk kandang kambing 10 ton/ha + NPK 450kg/ha, E = kapur 1 ton/ha + pupuk kandang kambing 10 ton/ha + NPK 450kg/ha, F = kapur 1 ton/ha + pupuk kandang kambing 10 ton/ha + NPK 600kg/ha. Variabel yang diamati adalah sebagai berikut : jumlah daun, luas daun, berat segar tanaman, berat kering tanaman, berat segar krop, dan diameter krop. Hasil penelitian pengaruh kombinasi dosis pupuk kandang, kambing, dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil kubis bunga dengan sistem budidaya jenuh air di lahan pasang surut tidak memberikan perbedaan terhadap semua variabel pengamatan dan hasil pada kubis bunga

    PENGARUH POC ECENG GONDOK DAN PUPUK UREA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SAWI PADA TANAH GAMBUT

    Full text link
    Sawi merupakan satu diantara komoditas hortikultura sayuran daun yang banyak digemari oleh masyarakat karena rasanya enak, mudah didapat dan budidayanya tidak terlalu sulit. Peningkatan produksi sawi dapat dilakukan dengan intensifikasi pertanian dengan memanfaatkan tanah gambut.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi POC eceng gondok dan pupuk Urea terhadap pertumbuhan dan hasil sawi pada tanah gambut. Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Jl.Sepakat 2 Gang Racana Untan Pontianak. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang terdiri dari 9 taraf perlakuan dan 3 ulangan, masing-masing ulangan terdiri dari 3 sampel sehingga terdapat 81 tanaman. Perlakuan terdiri dari P₁U₁ = 200 ml/l POC + 100 kg/ha pupuk urea, P₁U₂ = 200 ml/L POC + 200 kg/ha pupuk urea, P₁U₃ = 200 ml/L POC + 300 kg/ha pupuk urea, P₂U₁ = 300 ml/L POC + 100 kg/ha pupuk urea, P₂U₂ = 300 ml/L POC + 200 kg/ha pupuk urea, P₂U₃ = 300 ml/L POC + 300 kg/ha pupuk urea, P₃U₁ = 400 ml/L POC + 100 kg/ha pupuk urea, P₃U₂ = 400 ml/L POC + 200 kg/ha pupuk urea , P₃U₃ = 400 ml/L POC + 300 kg/ha pupuk urea. Variabel yang diamati adalah jumlah daun, volume akar, luas daun, berat segar, dan berat kering. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian POC eceng gondok 200 ml/L dan pupuk urea 200 kg/ha memberikan pertumbuhan dan hasil sawi yang terbaik pada tanah gambut. Ada efisiensi pemakaian urea pada variabel luas daun dan berat segar, cukup digunakan 0,4 g dengan hasil yang sama jika digunakan 0,8 g

    KARAKTERISTIK SIFAT FISIKA TANAH PADA TIGA TIPE LUAPAN DI DESA KUALA DUA KECAMATAN SUNGAI RAYA KABUPATEN KUBU RAYA

    Full text link
    Sifat fisika tanah merupakan unsur lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap tersedianya air, udara tanah dan secara tidak langsung mempengaruhi ketersediaan unsur hara tanaman (Delsiyanti, 2016). Pengelolaan lahan secara terus menerus, adanya saluran drainase, dan pengolahan tanah serta adanya perbedaan tipe luapan lahan pasang surut, mengakibatkan tanah di lahan tersebut memiliki sifat fisik yang berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan sifat fisika tanah dan karakterisasinya pada tiga tipe luapan di Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya. Setiap lokasi  ditentukan 6 titik pengamatan sampel tanah pada kedalaman 0-30 cm. Parameter sifat fisika tanah yaitu: fraksi tekstur, bobot isi, porositas total, kadar air kapasitas lapang (KAKL), permeabilitas diuji menggunakan anova. Apabila terdapat perbedaan parameter pada tiga tipe luapan maka dilanjutkan dengan uji BNJ (Beda Nyata Jujur) pada tingkat kepercayaan 95% (<5%). Hasil analisis yang didapat, yaitu fraksi pasir dan debu pada tipe luapan A berbeda nyata terhadap B dan C, serta fraksi liat pada tipe luapan A berbeda nyata terhadap B dan C. Bobot isi tanah, porositas tanah dan KAKL pada tipe luapan B berbeda nyata terhadap C dan A. Permeabilitas tanah pada tipe luapan A berbeda nyata terhadap tipe B dan tipe B berbeda nyata terhadap tipe C

    PENGARUH KOMBINASI ASAM HUMAT DAN NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG MERAH PADA TANAH ALUVIAL

    Full text link
    Prospek budidaya bawang merah cukup baik karena memiliki nilai ekonomis yang baik dan mengingat fungsinya sebagai bumbu penyedap masakan yang digunakan sehari-hari membuat bawang merah menjadi salah satu komoditas pokok pertanian yang perlu diperhatikan agar kebutuhan konsumsi bawang merah nasional dapat tercukupi. Tanah Aluvial yang digunakan sebagai media tanam dihadapkan pada berbagai kendala yaitu berupa sifat fisik dan kimia tanah yang kurang baik. Peningkatan produksi tanaman bawang merah di tanah aluvial dapat ditingkatkan melalui kegiatan intensifikasi. Upaya intensifikasi yang dapat dilakukan yaitu dengan cara pemberian pupuk yang dikombinasikan yaitu pupuk organik asam humat dan pupuk anorganik NPK. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan dosis terbaik dari kombinasi asam humat dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah pada tanah aluvial. Penelitian dilaksanakan di Jl. Sungai Raya Dalam, dimulai dari bulan November 2023 sampai Januari 2024. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 7 perlakuan dengan 4 ulangan. Perlakuan pertama yaitu, AH 6 kg/ha + NPK 125 kg/ha, AH 5 kg/ha + NPK 150 kg/ha, AH 4 kg/ha + NPK 175 kg/ha, AH 3 kg/ha + NPK 200 kg/ha, AH 2 kg /ha + NPK 225 kg/ha, AH 1 kg/ha + NPK 250 kg/ha, dan Tanpa AH + NPK 275 kg/ha. Variabel yang diamati dalam penelitian, yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah umbi per rumpun, berat segar umbi per rumpun, dan berat kering angin umbi per rumpun. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian kombinasi asam humat dan NPK mempunyai pengaruh yang sama terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah pada tanah aluvial. Dosis asam humat sebanyak 6 kg/ha dan NPK 125 kg/ha merupakan dosis efektif yang dapat digunakan dalam budidaya bawang merah pada tanah aluvial

    PENGARUH PUPUK HAYATI DAN PUPUK KANDANG AYAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TOMAT DI LAHAN PASANG SURUT SISTEM BUDIDAYA JENUH AIR

    Full text link
    Tomat (Lycopersium esculentum Mill.) merupakan produk hortikultura yang banyak digemari oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis terbaik dari pupuk hayati dan pupuk kandang ayam terhadap pertumbuhan dan hasil tomat di lahan pasang surut sistem budidaya jenuh air. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Golden River Camp, Desa Kalimas, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, berlangsung pada bulan Mei hingga Juli 2023. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial yang terdiri dari  2 faktor perlakuan. Faktor pertama yaitu pupuk hayati  terdiri dari 3 taraf perlakuan  5, 10 dan 15 ml/L air  dan  faktor kedua adalah pupuk kandang ayam dengan 3 taraf perlakuan 10, 20  dan 30 ton/ha dan setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Data hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati berpengaruh nyata terhadap variabel berat kering tanaman dan berat buah per tanaman. Serta berpengaruh tidak nyata terhadap variabel tinggi tanaman, diameter batang, volume akar, luas daun, jumlah buah per tanaman dan berat per buah. Pemberian pupuk kandang ayam berpengaruh tidak nyata terhadap semua variabel penelitian dan interaksi antara pupuk hayati dan pupuk kandang ayam berpengaruh nyata terhadap berat kering tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati konsentrasi 15 ml/L air dan pupuk kandang ayam dosis 10 ton/ha merupakan dosis interaksi terbaik terhadap pertumbuhan tanaman tomat di lahan pasang surut sistem budidaya jenuh air sedangkan pemberian pupuk hayati konsentrasi 5 ml/L air merupakan dosis terbaik terhadap hasil tanaman tomat di lahan pasang surut sistem budidaya jenuh air

    PENGARUH KOMPOSISI CAMPURAN POC KULIT NANAS DAN KNO3 TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SAWI PUTIH PADA TANAH ALUVIAL

    Full text link
    Meningkatkan produksi sawi putih di Kalimantan Barat dapat dilakukan dengan cara intensifikasi dan ekstensifikasi, cara intensifikasi salah satunya dengan penggunaan pupuk dan bibit unggul sedangkan ekstensifikasi salah satunya  melalui penggunaan tanah aluvial. Kendala sifat kimia tanah dapat diperbaiki dengan pemberian POC kulit nanas dan KNO3 sebagai amelioran dan pengikat hara yang akan digunakan tanaman ketika membutuhkan unsur hara, hara dilepas perlahan sesuai kebutuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis komposisi campuran POC kulit nanas dan KNO3 bagi pertumbuhan dan hasil sawi putih pada tanah aluvial. Penelitian  dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 4 perlakuan kombinasi  dan 6 ulangan, masing-masing ulangan terdiri dari 4 sampel tanaman sehingga terdapat 96 tanaman. Perlakuan terdiri dari P1 = POC dosis 600 ml/L + KNO3 dosis 150 kg/ha, P2 = POC dosis 450 ml/L + KNO3 dosis 300 kg/ha, P3 = POC dosis 300 ml/L + KNO3 dosis 450 kg/ha, P4 = POC dosis 150 ml/L + KNO3 dosis 600 kg/ha. Variabel yang diamati adalah jumlah daun, volume akar, luas daun, berat segar, dan berat kering. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa kombinasi POC kulit nanas konsentrasi 450 ml/L + KNO3 dosis 300 kg/ha dapat memberikan pertumbuhan dan hasil sawi putih yang terbaik pada tanah aluvial

    PENGARUH KAPUR DOLOMIT DAN PUPUK UREA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BAWANG DAUN PADA TANAH GAMBUT

    Full text link
    Bawang daun Allium fistulosum merupakan salah satu jenis sayuran yang dapat dikonsumsi daunnya sebagai bumbu masak, bawang daun memiliki aroma yang sangat spesifik sehingga keberadaan bawang daun dalam suatu masakan akan menambah aroma harum dan rasa yang lezat pada makanan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui interakasi kapur dolomit dan pupuk N dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil bawang daun pada tanah gambut. Penelitian dilaksanakan pada lahan yang terletak di jalan Reformasi Gg. Struktur, Pontianak Tenggara berlangsung dari bulan Februari 2023 sampai  April 2023. Penelitian ini merupakan eksperimen lapangan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang teridiri dari 2 faktor. Faktor pertama kapur dolomit (D) yang terdiri dari 3 taraf yaitu d1=12,5 ton/ha;  d2=25 ton/ha; d3=37,5 ton/ha. Faktor kedua yaitu pupuk urea yang terdiri dari 3 taraf  yaitu n1=200 kg/ha; n2= 250 kg/ha pupuk urea; n3=300 kg/ha yang di ulang sebanyak 3 kali.Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun perrumpun, jumlah anakkan perrumpun, volume akar, berat segar daun, dan berat kering daun. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara kapur dolomit dan pupuk urea dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil bawang daun pada tanah gambut. Pemberian kapur dolomit dengan dosis 25 ton/ha  memberikan hasil terbaik terhadap berat segar bawang daun

    PEMBERIAN BIOCHAR TANKOS DAN KOTORAN SAPI TERHADAP KETERSEDIAAN UNSUR HARA N, P, K DAN PERTUMBUHAN TANAMAN TERONG (Solanum molongena L.) DI TANAH ALLUVIAL

    Full text link
    Tanah Alluvial merupakan tanah yang berasal dari endapan baru, berlapis-lapis, jumlah bahan organiknya berubah-ubah. Peningkatan produksi tanaman terong dapat dilakukan dengan penambahan biochar tankos dan kotoran sapi. Biochar dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara N, P, K dan pH tanah. Kotoran sapi dapat meningkatkan C-Organik, N-Total, meningkatkan daya tahan terhadap air. Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui pengaruh penggunaan biochar tankos dan kotoran sapi terhadap ketersediaan hara N, P, K dan pertumbuhan tanaman terong di tanah Alluvial, serta mengetahui interaksi biochar tankos dan kotoran sapi terhadap ketersediaan N, P, K dan pertumbuhan tanaman terong pada tanah Alluvial. Penelitian ini menggunakan metode RAL 2 faktorial terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terjadinya interaksi antara biochar tankos dan kotoran sapi. Pemberian biochar tankos mampu meningkatkan pH pada perlakuan 40 ton/ha= 6,6,  N-Total pada perlakuan 30 ton/ha= 1,2, P-Tersedia pada perlakuan 30 ton/ha = 329,6, K-Tersedia pada perlakuan 30 ton/ha= 10,93, tinggi tanaman pada perlakuan  30 ton/ha= 44,65. Penambahan kotoran sapi mampu meningkatkan CO pada perlakuan 15 ton/ha= 15,83, N-Total pada perlakuan 15 ton/ha= 1,16 dan tinggi tanaman pada perlakuan 30 ton/ha= 43,23, serta terjadi peningkatan ketersediaan unsur hara N-Total 23,46%, P-Tersedia 66,16%, K-Tersedia 55,47%, C-Organik 6,59% dan tinggi tanaman 42,46%.Kata Kunci:  Alluvial, Biochar Tankos, Kotoran Sapi, Produksi Teron

    403

    full texts

    1,262

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇