Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
Not a member yet
1262 research outputs found
Sort by
PENGARUH KONSENTRASI COMPOST TEA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KACANG HIJAU
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh compost tea dan mencari konsentrasi yang terbaik tehadap pertumbuhan dan hasil kacang hijau. Penelitian ini dilaksanakan di Jalan Perdana, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 taraf perlakuan dan 4 ulangan, masing masing ulangan terdiri dari 4 sampel sehingga terdapat 96 tanaman. Perlakuan yang dimaksud yaitu : c1 = tanpa pemberian compost tea , c2 = 15%, c3= 25%, c4 = 30%, c5 = 45% dan c6 = 55% . Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah tinggi tanaman (cm), volume akar (cm3), berat kering tanaman (g), jumlah polong per tanaman (buah), berat biji per tanaman (g), dan bobot 100 biji kering (g). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian konsentrasi compost tea berpengaruh nyata terhadap jumlah polong per tanaman dan berat biji per tanaman. Tetapi pemberian konsentrasi compost tea berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, volume akar, berat kering tanaman, dan 100 biji kering tanaman. Pemberian compost tea memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang hijau. Konsentrasi 15% menjadi konsentrasi yang efektif terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kacang hijau
Pengaruh Kotoran Walet dan Phonska terhadap Pertumbuhan dan Hasil Mentimun di Tanah Alluvial
Mentimun memiliki arti penting bagi perkembangan ekonomi dan perbaikan gizi petani. Pemberian kotoran walet dan phonska dapat meningkatkan produksi mentimun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh, dosis terbaik dan interaksi pemberian kotoran walet dan phonska terhadap pertumbuhan dan hasil mentimun di tanah alluvial. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan dua faktor perlakuan, perlakuan pertama adalah pemberian kotoran walet (W) dan perlakuan kedua adalah pemberian phonska (P). Setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan dan empat tanaman sampel. Perlakuan pertama yaitu pemberian kotoran walet dengan dosis w1 (5.000 kg/ha setara dengan 175 g/petak), w2 (10.000 kg/ha setara dengan 350 g/petak), w3 (15.000 kg/ha setara dengan 525 g/petak), w4 (20.000 kg/ha setara dengan 700 g/petak). Perlakuan kedua yaitu pemberian phonska dengan dosis p1 (300 kg/ha setara dengan 10,50 g/petak), p2 (400 kg/ha setara dengan 14,00 g/petak), dan p3 (500 kg/ha setara dengan 17,50 g/petak). Variabel pengamatan meliputi volume akar(cm3), berat kering tanaman(g), panjang buah per tanaman(cm), lingkar buah per tanaman(cm), berat buah per tanaman(g) dan berat buah per petak(g). Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara kotoran walet dan phonska serta berpengaruh tidak nyata terhadap semua variabel pengamatan, tetapi pemberian kotoran walet berpengaruh nyata terhadap volume akar dan pemberian kotoran walet dengan dosis 525 g/petak dan 700 g/petak memberikan hasil yang baik.
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL KACANG HIJAU TERHADAP PEMBERIAN ABU JANJANG KELAPA SAWIT DAN FOSFOR PADA TANAH ALUVIAL
Kacang hijau merupakan salah satu tanaman leguminosae yang cukup penting di Indonesia. Salah satu kendala yang membatasi produktivitas maksimal tanaman kacang hijau adalah derajat keasaman tanah aluvial yang rendah dan kekurangan akan unsur hara. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui interaksi antara abu janjang sawit dan fosfor terhadap pertumbuhan dan hasil kacang hijau pada tanah aluvial. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Praktek Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat pada bulan November 2019 sampai dengan Februari 2020. Penelitian ini menggunakan percobaan faktorial pola rancangan petak terbagi (Splitplot), dimana faktor pertama abu janjang sawit yang terdiri dari 3 taraf yaitu 256 g/petak, 384 g/petak, 512 g/petak. Faktor kedua yaitu fosfor yang terdiri dari 3 taraf yaitu 8,5 g/petak, 15 g/petak, 21 g/petak. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, volume akar, berat kering tanaman, jumlah polong pertanaman, berat kering biji pertanaman, berat kering biji perpetak dan berat kering 100 biji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara abu janjang sawit dan fosfor terhadap pertumbuhan dan hasil kacang hijau pada tanah aluvial. Pemberian abu janjang sawit dengan dosis 256 g/petak dan pemberian fosfor 8,5g/petak menunjukan rerata tertinggi jumlah polong pertanaman, berat kering biji pertanaman dan berat kering biji perpetak
PENGARUH MOTIVASI DAN LINGKUNGAN KERJA TERHADAP KEPUASAN KERJA KARYAWAN TETAP DI PT. CITRANUSA INTISAWIT
This study aims to analyze the effect of motivation and work environment on job satisfaction of permanent employees at the palm oil mill of PT. CitraNusa IntiSawit in Kedukul Village, Mukok District, Sanggau Regency. The population of the study is all permanent employees of the palm oil mill PT. CitraNusa IntiSawit. Sampling used in this study using the Slovin formula, the sampling that the author did was as many as 57 people. Data collection was done by questionnaire method, the data obtained were analyzed using multiple linear regression analysis to test the effect of motivation and work environment on permanent employee job satisfaction. Based on the results of statistical tests on multiple linear regression analysis, the variables of motivation and work environment have a positive effect jointly on job satisfaction of permanent employees. The results showed that partially the motivation variable did not significantly influence the job satisfaction of permanent employees, whereas for the work environment variable significantly affected the job satisfaction of permanent employees
KAJIAN SUHU PENGERINGAN TERHADAP KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN SENSORI PADA TEH HERBAL KULIT BUAH NANAS (Ananas comosus (L.) Merr.)
Teh herbal adalah produk minuman yang dapat dibuat dengan infusi air dari akar, daun, bunga, kulit dan bagian komponen lain dari berbagai spesies tanaman yang sangat beragam. Saat ini, kulit buah nanas merupakan limbah yang berpotensi dikembangkan menjadi teh herbal. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan suhu pengeringan yang menghasilkan karakteristik fisikokimia dan orgnalopetik teh herbal kulit buah nanas terbaik. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok, suhu pengeringan sebagai perlakuan yang terdiri dari 3 taraf suhu yaitu 50, 60 dan 70°C. Data dianalisis dengan ANOVA, jika berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji beda nyata jujur (BNJ). Data organoleptik dianalisis menggunakan uji Friedman. Penentuan hasil terbaik melalui uji Indeks Efektifitas. Hasil penelitian menunjukkan suhu pengeringan 60°C merupakan suhu pengeringan yang menghasilkan karakteristik fisikokimia dan organoleptik teh herbal kulit buah nanas terbaik. Karakteristik fisikokimia yang dihasilkan yaitu rendemen 20,84%, kadar air 5,00%, kadar abu 2,83%, total fenol 53,77 mg GAE/g ekstrak, aktivitas antioksidan 82,33%, karakteristik organoleptik yaitu warna 2,80 (tidak suka), aroma 3,27 (agak suka) dan rasa 3,00 (agak suka)
PENGARUH DOSIS ABU KAYU DAN INTERVAL PEMBERIAN POC ECENG GONDOK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TERONG UNGU PADA TANAH GAMBUT
ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari interaksi pemberian dosis abu kayu dan interval pemberian POC eceng gondok terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terong ungu pada tanah gambut. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Kota Pontianak. Penelitian berlangsung dari tanggal 10 Maret sampai 23 Mei 2020. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama pemberian dosis abu kayu terdiri dari 3 taraf, dan faktor kedua yaitu interval pemberian POC eceng gondok terdiri dari 3 taraf. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Taraf pemberian dosis abu kayu terdiri dari : 46, 59 dan 72 g/polibag setara dengan 2,6 ; 3,4 dan 4,2 ton/ha sedangkan taraf interval pemberian POC eceng gondok terdiri dari : 2, 4 dan 6 hari sekali. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, volume akar, berat kering tanaman, berat buah per tanaman, berat buah per buah, jumlah buah per tanaman, diameter buah, dan panjang buah. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa tidak ditemukan interaksi dosis abu kayu dan interval pemberian POC eceng gondok terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terong ungu pada tanah gambut. Pemberian dosis abu kayu berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2, 4, 8 minggu setelah tanam, jumlah buah per tanaman, panjang buah, dan diameter buah sedangkan interval pemberian POC eceng gondok berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman 2, 4, 6 dan 8 minggu setelah tanam. Pemberian 59 g dosis abu kayu merupakan dosis terbaik, sedangkan interval pemberian POC eceng gondok 4 dan 6 hari sekali merupakan perlakuan yang efisien untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil terong ungu pada tanah gambut. Kata kunci: abu kayu, gambut, pupuk organik cair eceng gondok, terong.
UJI ISOLAT BAKTERI PELARUT FOSFAT ASAL KEBUN NANAS DENGAN PUPUK SP-36 TERHADAP SERAPAN P PADA TANAMAN KEDELAI (Glycine max L) DI TANAH GAMBUT
ABSTRAK Tanah Gambut merupakan tanah yang terbentuk dari akumulasi bahan organik seperti sisa–sisa jaringan tumbuhan dan hewan dan dijenuhi air yang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. Tanaman Kedelai (Glycine max L.) merupakan salah satu tanaman pangan dengan kandungan nutrisi yang tinggi. Rendahnya produksi kedelai pada lahan pertanian yang kurang optimal juga menjadikan produksi kedelai semakin menurun serta penggunaan pupuk fosfat yang terus menerus akan mengakibatkan terakumulasinya P dalam tanah dan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Bakteri pelarut fosfat dapat dijadikan alternatif untuk diberikan dalam tanah, karena dapat membantu melarutkan fosfat yang tidak tersedia sehingga menjadi tersedia bagi tanaman. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh interaksi isolat Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) dan pupuk SP-36 terhadap serapan P pada tanaman kedelai di tanah gambut, untuk mengetahui pengaruh isolat Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) terhadap serapan P pada tanaman kedelai di tanah gambut, dan untuk mengetahui pengaruh pupuk SP-36 terhadap serapan P pada tanaman kedelai di tanah gambut. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Pola Faktorial terdiri dari dua faktor perlakuan dan tiga ulangan. Faktor pertama, yaitu isolat Bakteri Pelarut Fosfat yang terdiri dari 2 taraf. Faktor kedua, yaitu pupuk SP-36 yang terdiri dari 4 taraf sehingga semuanya terdapat 24 unit percobaan. Berdasarkan hasil penelitian Interaksi Isolat Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) asal kebun nanas dan pupuk SP-36 dapat meningkatkan 10 % parameter berat kering tanaman dan 82 % serapan P pada tanaman kedelai. Pemberian Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) dapat meningkatkan parameter kadar P sebanyak 32 % pada tanaman kedelai di tanah gambut dan pemberian pupuk SP-36 dapat meningkatkan parameter pH, fosfor tersedia, dan fosfor total pada tanah gambut. Kata kunci : Bakteri Pelarut Fosfat, Kedelai, Pupuk Sp-36, Tanah Gambut
STUDI STATUS HARA N, P DAN K UNTUK TANAMAN PADI PADA LAHAN PASANG SURUT DI DESA SARANG BURUNG KOLAM KECAMATAN JAWAI KABUPATEN SAMBAS
ABSTRACT This study aimed to determine the status of nutrients N, P and K at research site for the development of rice and fertilizer recommendation for tidal wetland in the study site. The research was conducted in Agustus - December 2015 in Sarang Burung Kolam village precisely in the hamlet Buluh Perindu Jawai Subdistrict Sambas Regency with a land area of 3,5 ha. The method used in this research was survey. Variables of observation in this research include pH, N-total, P-available, K-dd, DHL, pyrte test and calculation of fertilizer requirements. The result of analysis shows that pH is relatively netral – midly alkalis in 6,87 -7,90, nutrient status N is relatively high – very high that is 0,73 % - 1,25 %, P is relatively low, moderate, to vey high that is, 6,72 ppm, 8,17 ppm to 15,84 ppm, P total is relatively low to moderate that is, 18,66 ppm to 21,63 ppm, K-dd relatively moderate to high that is 0,52 – 0,85 cmol (+) kg-1, DHl is relatively low that is, 1,29 dS/m, contains harmless pyrte, ground water level is relatively shallow to withint that is, 18,20-21,00. Fertilizer recommendation in each site are T1 (229,82 kg urea/ha, 120,72 kg Sp-36/ha, 49,87 kg KCl/ha), T2 (254,86 kg urea/ha, 129,33 kg Sp-36/ha, 49,84 kg KCl/ha), T3 ( 255,39 kg urea/ha, 118,61 kg Sp-36/ha, 49,84 kg KCl/ha), T4 (254,86 kg urea/ha, 78,66 kg Sp-36/ha, 64,80 kg KCl/ha), T5( 228,36 kg urea/ha, 97,5 kg Sp-36/ha, 49,78 kg KCl/ha), T6 (253,82 kg urea/ha, 121,27 kg Sp-38/ha, 38,46 kg KCl/ha) dan T7 (254,34 kg urea/ha, 97,67 kg Sp-36/ha, 49,80 kg KCl/ha). Keywords : jawai, tidal, rice plant, nutrient statu
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMSI DAGING AYAM BROILER (PEDAGING) DI KECAMATAN PONTIANAK UTARA KOTA PONTIANAK
ABSTRAKHarga daging ayam broiler cenderung meningkat sepanjang tahun namun kecenderungan peningkatan harga ini tidak selalu diikuti oleh penurunan permintaan daging ayam broiler sehingga perlu dianalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi permintaan daging ayam broiler. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor seperti pendapatan, harga daging ayam, harga daging sapi, harga ayam buras, harga daging kambing dan harga telur terhadap permintaan daging ayam broiler di Kecamatan Pontianak Utara. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan bantuan program SPSS 18 for windows, menggunakan satu variabel terikat dan enam variabel bebas. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan agustus 2019. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pendapatan, harga daging ayam dan harga kambing secara parsial memberikan pengaruh nyata terhadap permintaan daging ayam broiler di Kecamatan pontianak utara pada tingkat kepercayaan 95% dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 0,610. Nilai koefisien pendapatan yaitu sebesar 0,655. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga daging ayam broiler sebesar 10% dapat menyebabkan peningkatan permintaan daging ayam sebesar 6,55%. Nilai koefisien harga daging ayam yaitu sebesar 0,199. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga daging ayam sebesar 10% dapat menyebabkan peningkatan permintaan daging ayam broiler sebesar 1,99%. Nilai koefisien daging kambing yaitu sebesar 0,206. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan harga daging ayam broiler sebesar 10% dapat menyebabkan peningkatan permintaan daging ayam sebesar 2,06%. Kata Kunci : Permintaan, Daging Ayam Broiler, Pontianak Utara
ASSOSIASI SERANGGA PADA BEBERAPA VARIETAS JAGUNG ( Zea mays L. ) DI LAHAN GAMBUT
Jagung merupakan bahan pangan karbohidrat yang dapat membantu pencapaian dan pelestarian swasembada pangan. Saat ini petani menanam berbagai varietas jagung, dengan semakin tingginya beragam varietas mungkin serangga yang berassosiasi juga akan beragam. Penelitian bertujuan untuk menghitung populasi serangga dan serangan hama serta indeks keanekaragamannya pada berbagai varietas tanaman jagung di lahan gambut. Penelitian dilaksanakan di Desa Rasau Jaya 2, Kecamatan Rasau, Kabupaten Kuburaya dan Laboratorium Hama Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret 2019 hingga Juli 2019. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 4 perlakukan yang diulangi sebanyak 5 kali. Adapun perlakuan ada A (varietas Pioneer-21), B (varietas Bisi-18), C (varietas Pertiwi 3), D (varietas Petro Hi-Corn). Variabel pengamatan yang diamati yaitu jenis-jenis serangga, populasi serangga, intensitas kerusakan oleh serangan hama, dan indeks keanekaragaman. Hasil penelitian menunjukkan jenis-jenis seranggga yang tertangkap terdiri dari 7 ordo, 20 famili ,dan 27 spesies. Populasi hama paling tinggi pada tanaman jagung adalah Cnaphalocrosis medinalis dari semua varietas jagung di lapangan sedangkan populasi musuh alami tertinggi yang ditemukan pada pertanaman adalah Menochilus sexmaculatus. Serangan hama pada semua varietas dimulai pada 3 MST – 10 MST. Hama yang meyerang yaitu Spdodoptera litura, Spodoptera frugiperda, Cnaphalocrosis medinalis, Ostrinia furnacalis, dan Helicoverpa armigera. Tingkat serangan hama termasuk kategori ringan. Nilai Indek keanekaragaman serangga Shanon-Weiner (H’) pada areal pertanaman jagung tergolong sedang. Nilai Indek keanekaragaman tertinggi pada varietas pioneer-21 sebesar 1,88