Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
Not a member yet
1262 research outputs found
Sort by
THE EFFECT OF VARIOUS NITROGEN FERTILIZER DOSAGE ON GROWTH AND YIELD OF Mentha piperita Linn. ON ALUVIAL SOIL
Mentha piperita Linn is one of the annual herbaceous plants that has many benefits, such as mint oil which is used as an aroma and flavor enhancer in food and drinks, medicine, perfume, cosmetics, and other refreshing products. Efforts to increase mint plant production by expanding cultivation land on alluvial soils must be balanced with intensification efforts, such as applying nitrogen fertilizer because mint is a leaf-producing plant that requires a lot of N elements. This study aims to determine the best dose of nitrogen fertilizer in increasing growth and yield of mint on alluvial soils. This research was conducted from October 21, 2019 to January 24, 2020. The method used was a Completely Randomized Design. The treatments consisted of 5 levels namely n1 = 0.09 g N/polybag, n2 = 0.18 g N/polybag, n3 = 0.28 g N/polybag, n4 = 0.37 g N/polybag, n5 = 0.46 g N/polybag. All treatments were repeated 5 times, each treatment consists of 4 plant samples. The results showed that the best dose of nitrogen fertilizer for increasing Mentha piperita Linn. production was 0.46 g N/polybag on variable leaf weight per plant. Keywords: Alluvial Soil, Mentha piperita Linn, Nitrogen Fertilize
EFFECT OF DOSAGE AND LENGTH OF INCUBATION DUCK MANURE ON GROWTH AND YIELD OF PURPLE EGGPLANT ON ALLUVIAL SOIL
ABSTRACKEggplant is a vegetable plant that has prospects for cultivation and can alsogrow on various types of soil, one of which is alluvial soil. Utilization of alluvial soilfor purple eggplant cultivation is faced with various obstacles. Efforts can be made toimprove the level of soil acidity by liming, while to improve the physical andchemical properties of the soil was to apply duck manure. This study aims were todetermine the dose and length of incubation of duck manure that provides the bestgrowth and yield of purple eggplant grown in alluvial soil. This research wasconducted at Jl. Purnama 2 Pontianak City from March 18th to June 4th 2021. Thisstudy used a Complete Randomized Design (CRD) with two factors threerepications. The first factor was the dose of duck manure fertilizer (B), consisting of4 levels, namely 300, 450, 600, and 750 g / polybag equivalent to 10, 15, 20, and 25tons / ha. The second factor was the length of incubation (I), consisting of 3 levels, 1,2, and 3 weeks of incubation. Variables observed were plant height, root volume,plant dry weight, number of fruits per plant, weight of fruit, weight of fruit per plant,and diameter of fruit. The results of the study showed that there was no interactioneffect between the dose of duck manure and the length of incubation on allobservation variables. The best dose of duck manure was 750 g / polybag equivalentto gave 25 tons / ha on variable plant dry weight and fruit diameter. Incubationlength of 1 week of duck manure provide the best dry weight of the plant.Keywords: : Alluvial, duck manure, length of incubation, purple eggplant
Pengaruh Berbagai Jenis Nutrisi terhadap Tanaman Baby Kailan Sistem Rakit Apung
ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis nutrisi yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil pada baby kailan dengan sistem hidroponik rakit apung. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kalimas, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian ini berlangsung dari tanggal 11 November sampai dengan tanggal 16 Desember 2020. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis nutrisi yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil pada baby kailan (Brassica oleraceae var acephala), dengan sistem hidroponik rakit apung. Penelitian menggunakan metode analisis ragam satu arah yang terdiri dari 5 perlakuan dengan 25 sampel tanaman. Perlakuan yang dimaksud adalah A = Maxihidro 1200 ppm, B = Goodplant 1200 ppm, C = Nutrimix 1200 ppm, D = Hydro J 1200 ppm dan E = Fultagro 1200 ppm. Variabel yang diamati dalam penelitian ini yaitu jumlah daun per tanaman, luas daun per tanaman, berat segar tanaman, berat kering tanaman, dan volume akar. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pemberian nutrisi goodplant memberikan pertumbuhan dan hasil yang terbaik pada tanaman baby kailan dengan sistem hidroponik rakit apung. Kata kunci: baby kailan, jenis nutrisi, rakit apung, hidroponik
KEANEKARAGAMAN VEGETASI RIPARIAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI KAPUAS DESA RADAK SATU KABUPATEN KUBU RAYA
Desa Radak Satu merupakan jalur yang dilalui oleh Sungai Kapuas. Pada daerah tersebut terdapat zona riparian yang membentang di sepanjang Daerah Aliran Sungai Kapuas. Vegetasi riparian yang di kenal memiliki fungsi ekologis yang cukup penting bagi kehidupan organisme. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui keanekargaman vegetasi riparian yang ada di DAS Kapuas. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari hingga April 2021 yang terbagi menjadi empat stasiun menggunakan metode sistematik sampling. Hasil penelitian menunjukan keanekaragaman vegetasi riparian di DAS Kapuas Desa Radak Satu meliputi 43 jenis 26 famili dengan beberapa jenis yang sering ditemukan antara lain Nypa fruticans, Gluta renghas, dan Lagerstroemia speciosa. Secara keseluruhan indeks keanekaragaman vegetasi riparian diperoleh nilai 3,195 yang menunjukkan ke dalam kategori tinggi di dukung dengan kemerataan yang stabil dan tidak terdapat jenis yang mendominasi. Kata kunci : DAS Kapuas, Desa Radak Satu, keanekaragaman, vegetasi riparian
Pengaruh Pemberian Abu Janjang Kelapa Sawit dan Urea Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Pare Pada Tanah PMK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis abu janjang kelapa sawit dan urea yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman pare pada tanah PMK. Penelitian berlangsung mulai tanggal 12 November 2020 sampai dengan 15 Februari 2021. Penelitian dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungura Pontianak. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor yaitu dosis abu janjang kelapa sawit dan dosis urea, dengan masing-masing 3 ulangan. Perlakuan dosis abu janjang kelapa sawit terdiri dari 3 taraf yaitu: 200, 300 dan 400 g/polybag, sedangkan dosis urea terdiri dari 3 taraf yaitu: 4,5; 6,3 dan 9,0 g/polybag. Variabel pengamatan yang diamati dalam penelitian ini adalah jumlah klorofil daun, volume akar, berat kering tanaman, jumlah buah per tanaman dan berat per buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh interaksi dosis abu janjang kelapa sawit dan urea terhadap pertumbuhan dan hasil pare pada tanah PMK. Dosis abu janjang kelapa sawit 300 g/polybag dan urea 6,3 g/polybag memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik tanaman pare pada tanah PMK.Kata Kunci : abu janjang kelapa sawit, pare,tanah PMK, ure
PERFORMA DAN HASIL PADI LOKAL BERAS HITAM JENIS SENAKIN ASAL KABUPATEN LANDAK SEBAGAI RESON TERHADAP PEMUPUKAN DI LAHAN SAWAH PASANG SURUT
ABSTRAKPemupukan merupakan salah satu upaya meningkatkan padi lokal beras hitam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta membandingkan performa dan hasil padi lokal beras hitam jenis Senakin Kabupaten Landak akibat pemupukan di lahan sawah pasang surut yang telah diberikan pupuk sesuai rekomendasi dengan tanpa diberikan pupuk. Penelitian ini dilaksanakan di Parit Keladi Kec. Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya selama 178 hari mulai dari 25 Maret 2019 sampai 19 September 2019. Penelitian ini menggunakan rekomendasi pemupukan menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kalimantan Barat yaitu menggunakan pupuk dasar Urea sebanyak 150 kg/ha, SP-36 sebanyak 135 kg/ha dan KCl sebanyak 100 kg/ha. Benih padi beras hitam jenis senakin yang ditanam pada lahan menggunakan eksperimen lapangan dengan sampel yang diamati sebanyak 50 unit sampel tanaman dan terdapat 2 perlakuan yang berbeda yaitu perlakuan tanpa pemupukan dan perlakuan pemupukan sesuai dengan anjuran. Penanaman menggunakan metode jajar legowo 2:1 dengan ditanam dalam larikan dengan jarak tanam 30 cm x 15 cm dan legowo 45 cm. setiap lubang tanam berisi seragam yaitu sebanyak 1 bibit. Variabel yang diamati yaitu jumlah anakan total, jumlah anakan produktif, tinggi tanaman, fertilitas gabah, umur tanaman, panjang malai, jumlah gabah per malai, bobot 1000 butir dan hasil per rumpun. Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa performa dan hasil padi beras hitam Senakin meningkat untuk semua parameter pengamatan terkecuali umur tanaman.Kata Kunci : Pemupukan, Padi Lokal Beras Hitam
GROWTH AND YIELD OF GREEN BEANS RESPONSE ON GIVING NPK AND RICE HUSK BIOCHAR IN ALLUVIAL SOIL
Mung bean (Vigna radiata L) Wilczek) is one of the important legumes or legumes and is widely consumed by the public, especially in Indonesia. Green beans are a source of vegetable protein, vitamins A, B1, C, and E, as well as several other substances that are very beneficial for the human body. Green beans can thrive in loose soil and proper fertilizer application. Rice husk biochar can improve soil physical properties, such as loosening the soil, increasing porosity, aeration, and soil microorganisms, so that roots in the soil can develop properly. NPK fertilizer functions as a supplier of macro nutrients to meet the nutrient needs of plants. This study aims to determine the interaction between NPK and rice husk biochar and to determine the best dose of NPK and rice husk biochar on the growth and yield of green beans in alluvial soil. This research was carried out at a location located in Jl. Sungai Raya Dalam, Pontianak, this research takes place from 22 May 2022 - 11 August 2022. This study used a Completely Randomized Design (CRD) Split Plot namely the effect of NPK fertilizer and rice husk biochar. In this study there are 2 factors, namely Biochar rice husk (b) as the main plot (main plot) as many as 3 treatment levels and NPK 16:16:16 (p) as subplots with 3 treatment levels so that there were 9 treatment combinations with 3 replications, and 5 plant samples. The total number of plants observed was 135 plants. The first factor is the main plot of rice husk biochar (b): b1 = 3 tons/ha, b2 = 5 tons/ha, b3 = 7 tons/ha. The second factor is NPK fertilizer (p): p1 = 400 kg/ha, p2 = 600 kg/ha, p3 = 800 kg/ha. The variables observed were plant height (cm), root volume (cm3), plant dry weight (g), number of pods per plant (fruit), dry seed weight per plant (g), and 100 seed weight (g). Based on the results of the study, it was shown that the effect of NPK and rice husk biochar interacted on the variables of plant height at 4 WAP, number of pods per plant and dry seed weight per plant. The administration of NPK at a dose of 600 kg/ha and rice husk biochar at a dose of 5 tons/ha was the best dose for growth and yield of green beans with an average weight value of fresh pods per plant, which was 36,5 g/plant. Keywords: Alluvial, Green Beans, NPK, Rice Husk Biochar, Respons
HUBUNGAN POPULASI MIKROBA PELARUT FOSFAT TERHADAP KETERSEDIAAN FOSFOR (P) PADA LAHAN SAWAH TADAH HUJAN DI DESA AMBAWANG KUALA KABUPATEN KUBU RAYA
ABSTRAK Aktivitas mikoorganisme dipengaruhi oleh ketersediaan P di dalam tanah maka P untuk sumber nutrisi aktivitas MPF perlu diberikan kedalam tanah. Kepadatan populasi yaitu aktivitas MPF dan kepadatan populasinya dalam tanah ditentukan oleh perubahan pada masing-masing lahan sawah dan berdasarkan kondisi tersebut perlu dilakukan kegiatan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui korelasi/hubungan populasi mikroba pelarut fosfat terhadap ketersediaan fosfor (P) pada lahan sawah tadah hujan di Desa Ambawang Kuala Kabupaten Kuburaya. Pengambilan sampel dengan menggunakan sistem diagonal pada 7 lokasi penelitian dengan 5 titik yang dikompositkan, jumlah sampel pada 7 lokasi penelitian sebanyak 7 sampel. Parameter penelitian meliputi parameter utama dan parameter penunjang. Tahapan penelitian meliputi penentuan lokasi, pengambilan sampel, analisis sampel dan karakteristik MPF di laboratorium, penentuan analisis statistik regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan hubungan populasi bakteri pelarut fosfat terhadap ketersediaan fosfor (P) pada lahan sawah tadah hujan adalah r = 0,602 dan r2 = 0,362 dan hasil analisis korelasi menunjukkan hubungan yang “kuat”, sedangkan hubungan populasi cendawan pelarut fosfat terhadap ketersediaan fosfor (P) pada lahan sawah tadah hujan adalah r = 0,429 dan r2 = 0,184, menunjukkan hubungan yang “cukup kuat”. Kata kunci : Lahan Sawah Tadah Hujan, Mikroba Pelarut Fosfat, KetersediaanFosfo
PERTUMBUHAN DAN HASIL PAKCOY PADA TANAH GAMBUT AKIBAT PEMBERIAN KOMPOSISI KOMPOS KOTORAN KAMBING DAN PUPUK UREA
Usaha peningkatan produksi tanaman pakchoy pada tanah gambut selain ditentukan oleh teknik budidaya yang tepat, juga sangat ditentukan oleh faktor tanah yang berupa sifat fisik, dan biologi tanah yang mutlak diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman sehingga diperoleh hasil yang maksimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi kompos kotoran kambing dan pupuk urea yang terbaik pada tanah gambut. Penelitian ini dilaksanakan kebun percobaan fakultas pertanian, mulai dari tanggal Mei sampai Juni 2021. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan terdiri dari enam taraf perlakuan. Variabel yang di amati yaitu jumlah daun, luas daun, volume akar, berat kering tanaman, berat segar tanaman, dan kadar klorofil daun. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian komposisi 800 g/polybag kompos kotoran kambing dan 0,16 g/polybag pupuk urea memberikan pertumbuhan dan hasil pakchoy yang terbaik pada tanah gambut
UJI JENIS PUPUK HAYATI DAN NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG MANIS PADA LAHAN GAMBUT
Salah satu faktor pembatas pertumbuhan tanaman jagung manis adalah kesuburan tanah. Tanah dikatakan subur jika mengandung cukup unsur hara esensial yang dibutuhkan oleh tanaman untuk menunjang pertumbuhannya sampai dengan produksi. Penelitian dilaksanakan di lokasi yang terletak di Reformasi Kecamatan Pontianak Tenggara. Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 22 Mei sampai dengan tanggal 22 Agustus 2021. Penelitian bertujuan mengetahui interaksi antara jenis pupuk hayati dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil jagung pada lahan gambut serta mendapatkan jenis pupuk hayati yang dapat mengefisienkan penggunaan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil jagung manis pada lahan gambut. Penelitian ini menggunakan percobaan lapangan dengan pola Faktorial Rancangan Acak Kelompok (RAK), terdiri dari 2 faktor dengan 3 ulangan dimana tiap perlakuan terdiri dari 4 sampel. Perlakuan yang dimaksud adalah faktor pupuk hayati (H) terdiri dari h1= pupuk hayati Bio Extrim, h2= pupuk hayati Bio Nano, h3= pupuk hayati Bio Optifarm. Konsentrasi pupuk hayati mengikuti konsentrasi anjuran pada kemasan. Faktor pupuk NPK Mutiara 16:16:16 (P) terdiri dari p1 = sesuai dosis anjuran (400 kg/ha atau 7,3 g/tanaman), p2 = 75% dari dosis anjuran (300 kg/ha atau 5,6 g/tanaman) dan p3 = 50% dari dosis anjuran (200 kg/ha atau 3,73 g/tanaman). Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah volume akar, klorofil daun, luas daun, berat kering tanaman, jumlah daun, tinggi tanaman, berat per tongkol tanpa kelobot, berat per tongkol berkelobot, berat tongkol per petak, panjang tongkol dan diameter tongkol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi pemberian jenis pupuk hayati dan NPK terhadap hasil tanaman jagung manis pada lahan gambut. Interaksi antara pupuk hayati Bio Optifarm dan NPK dosis 200 kg/ha (50% dosis anjuran) memberikan pertumbuhan dan hasil jagung manis yang terbaik pada lahan gambu