Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian
Not a member yet
1262 research outputs found
Sort by
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL SAWI AKIBAT PEMBERIAN KOMBINASI POC LIMBAH SAYURAN HIJAU DAN PUPUK UREA PADA TANAH GAMBUT
Pemanfaatan tanah gambut sebagai media tumbuh tanaman sawi pada umumnya dihadapkan pada permasalahan rendahnya kandungan unsur hara yang tersedia dalam tanah diantaranya adalah unsur hara N, P dan K. Penambahan unsur hara N, P, dan K salah satunya dapat dilakukan dengan cara menambahkan Pupuk Organik Cair limbah sayuran hijau pada tanah yang diharapkan dapat menjadi bahan dekomposer yang baik dan dapat memberikan ketersediaan unsur hara pada tanah gambut. Penambahan Unsur N melalui pemupukan dengan urea juga diperlukan agar ketersediaan unsur hara dapat terpenuhi, sehingga tanaman sawi bisa tumbuh dengan optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi Pupuk Organik Cair limbah sayuran hijau dan pupuk urea terhadap pertumbuhan dan hasil sawi pada tanah gambut. Penelitian ini dilaksanakan kebun percobaan fakultas pertanian, mulai dari Mei sampai Juni 2021. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu rancangan acak lengkap (RAL). Perlakuan pertama yaitu b1 = 100% Pupuk Organik Cair Limbah sayuran hijau setara dengan 300 ml/liter air, b2 = 80% Pupuk Organik Cair limbah sayuran hijau setara dengan 240 ml/liter air + 20% Urea setara dengan 0,16g, b3 = 60% Pupuk Organik Cair limbah sayuran hijau setara dengan 180 ml/liter air + 40% Urea setara dengan 0,32, b4 = 40% Pupuk Organik Cair limbah sayuran hijau setara dengan 120 ml/liter air + 60% Urea setara dengan 0,48g, b5 = 100% Pupuk Urea hasil penelitian setara dengan 0,8g. Variabel yang di amati yaitu jumlah daun, luas daun, volume akar, berat kering tanaman, berat segar tanaman, dan kadar klorofil daun. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian 100% pupuk urea (0,8 g/polybag) memberikan pertumbuhan dan hasil sawi yang terbaik pada tanah gambut walaupun dengan pemberian 40% Pupuk Organik Cair (120 ml/L air) + 60% urea (0,48 g) juga menunjukkan petumbuhan dan hasil tanaman sawi
PENGARUH PEMBERIAN ABU KAYU DAN PUPUK KALIUM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL LOBAK PUTIH PADA MEDIA GAMBUT
Peluang pengembangan upaya untuk meningkatkan produktivitas tanaman lobak dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan sub optimal salah satunya adalah lahan gambut. Tanah gambut dihadapkan pada berbagai kendala diantaranya kemasaman tanah yang tinggi, ketersedian hara dan kejenuhan basa yang rendah. Salah satu upaya untuk mengatasi kendala tersebut adalah dengan penggunaan abu kayu. Pemberian abu kayu dapat memperbaiki sifat kimia yakni meningkatkan pH tanah gambut serta memperbaiki sifat biologi yang dapat merangsang aktivitas mikroorganisme guna mempercepat proses dekomposisi bahan organik pada tanah gambut. Perbaikan pH tanah akan meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman dan upaya peningkatan kualitas umbi lobak dapat dilakukan dengan pemberian pupuk kalium. Penelitian bertujuan untuk mencari pengaruh interaksi dan dosis terbaik dari pemberian abu kayu dan pupuk kalium untuk pertumbuhan dan hasil tanaman lobak putih pada media gambut. Penelitian dilaksanakan di Rumah Penelitian Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak di Jalan Prof. H. Hadari Nawawi. Penelitian berlangsung dari tanggal 11 Januari sampai dengan 12 Maret 2021. Penelitian menggunakan Faktorial Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 2 faktor yaitu abu kayu (A) dan pupuk kalium (P). Setiap perlakuan terdiri dari 9 kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali dan setiap ulangan terdiri 4 tanaman sampel. Perlakuan terdiri dari a1 (408 g/polybag atau setara dengan 24,5 ton/ha), a2 (558 g/polybag atau setara dengan 33 ton/ha), a3 (705 g/polybag atau setara dengan 42,3 ton/ha), p1 (0,8 g/polybag atau setara dengan 50 kg/ha), p2 (1,6 g/polybag atau setara dengan 100 kg/ha) dan p3 (2,5 g/polybag atau setara dengan 150 kg/ha). Kombinasi perlakuan yang dimaksud yaitu, a1p1, a1p2, a1p3, a2p1, a2p2,a2p3, a3p1, a3p2,dan a3p3. Variabel yang diamati dalam penelitian adalah jumlah daun (helai), berat segar tanaman (g), panjang umbi (cm), diameter umbi (cm), berat segar umbi (g), dan berat kering tanaman (g). Berdasarkan hasil penelitian bahwa tidak terjadi interaksi antara pemberian abu kayu dan pupuk kalium terhadap pertumbuhan dan hasil lobak putih pada media gambut. Pemberian abu kayu dosis 558 g/polybag atau setara dengan 24,5 ton/ha sudah cukup efisien untuk pertumbuhan dan hasil lobak putih pada media gambut. Pemberian pupuk kalium pada berbagai dosis perlakuan memberikan pengaruh yang sama terhadap pertumbuhan dan hasil lobak putih pada media gambut. Kata Kunci : Abu Kayu, Lobak Putih, Media Gambut, Pupuk Kalium
PENGARUH PUPUK ORGANIK CAIR LIMBAH KULIT NANAS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TOMAT PADA TANAH ALUVIAL
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi POC limbah kulit nanas yang dapat memberikan pertumbuhan dan hasil tomat yang terbaikdi Tanah aluvial. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 12 Desember 2019 sampai dengan 05 Maret 2020 di lokasi yang terletak Jalan silat baru, komplek untan. Kota Pontianak. Penelitian menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor, yang terdiri dari 5 perlakuan dengan 5 ulangan dan tiap ulangan terdiri dari 4 tanaman sampel. Perlakuan yang dimaksud adalah k1 = 10% POC limbah kulit nanas, k2 = 15% POC limbah kulit nanas, k3= 20% POC limbah kulit nanas, k4= 25% POC limbah kulit nanas, k5 = 30% POC limbah kulit nanas. Variabel yang diamati dalam penelitian ini yaitu tinggi tanaman, volume akar, berat keringtanaman, Jumlah Buah Per tanaman, Berat Buah PerTanaman, dan Berat Per Buah. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa pemberian POC limbah kulit nanas dengan konsentrasi 15% dan 20% menunjukkan pertumbuhan yang baik pada tinggi tanaman 1 dan 2 minggu setelah tanam. Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa dari pemberian POC limbah kulit nanas tidak ditemukan konsentrasi yang terbaik tetapi konsentrasi yang efisien untuk pertumbuhan dan hasil tomat yaitu 10% POC limbah kulit nanas
Penggunaan Berbagai Jenis Bioaktivator pada Pembuatan Bokasi Limbah Ampas Tahu terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai pada Tanah Aluvial
Kedelai merupakan komoditas pangan utama di Indonesia setelah padi dan jagung, dimana produk olahan dari kedelai seperti tahu, tempe, dan kecap. Kebutuhan kedelai di Indonesia setiap tahun meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan perbaikan pendapatan perkapita. Namun, sampai saat ini kebutuhan kedelai di Indonesia belum dapat mencapai swasembada kedelai, sehingga terpaksa diimpor setiap tahun. Maka untuk memenuhi kebutuhan kedelai sekitar 2 juta ton/tahun pemerintah mengimpor sekitar 60% dari kebutuhan nasional. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis bioaktivator pada pembuatan bokasi limbah ampas tahu yang terbaik untuk pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai pada tanah alluvial. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian selama 11 minggu. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen lapangan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima taraf perlakuan berbagai jenis bioaktivator. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak lima kali, setiap ulangan terdiri dari empat tanaman sampel. Jenis bioaktivator yang diberikan dalam taraf perlakuan (A, B, C, D, E) terdiri dari: A = Bioaktivator EM-4, B = Bioaktivator M-21, C = Bioaktivator BeKa, D = Bioaktivator Yakult, E = Bioaktivator Trichoderma sp. Variabel yang diamati meliputi volume akar, kadar klorofil daun, luas daun, berat kering tanaman, tinggi tanaman, jumlah polong, berat 100 biji kering dan berat kering biji pertanaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian bokasi limbah ampas tahu dengan berbagai jenis bioaktivator berpengaruh nyata terhadap volume akar, berat 100 biji kering, berat biji kering pertanaman namun berpengaruh tidak nyata terhadap kadar klorofil daun, luas daun, berat kering tanaman, tinggi tanaman, dan jumlah polong isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jenis bioaktivator pada proses pembuatan bokasi limbah ampas tahu dengan bioaktivator M-21, BeKa, Yakult dan Trichoderma sp. sama baiknya dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai pada tanah aluvial
PENGARUH BOKASHI KOTORAN AYAM DAN NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KACANG HIJAU PADA TANAH ALUVIAL
Kacang hijau (Vigna radiata L.) merupakan salah satu bahan pangan yang dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia karena mengandung unsur makro, mikro, asam amino yang dapat memperlancar peredaran darah, kaya akan serat, mengobati kolesterol, baik untuk ibu hamil, mengandung asam folat, vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, protein, karbohidrat, kalsium, dan fosfor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan dosis terbaik dari interaksi pemberian bokashi kotoran ayam dan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil kacang hijau pada tanah aluvial. Penelitian ini dilaksanakan di lahan pertanian Desa Kalimas, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat. Penelitian dilaksanakan pada 6 Desember 2021 - 19 Maret 2022. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 2 faktor. Faktor pertama yaitu bokashi kotoran ayam sebanyak 3 taraf perlakuan dan faktor kedua pupuk NPK sebanyak 3 taraf perlakuan sehingga total kombinasi perlakuan sebanyak 9 dan diulang 3 kali. Setiap kombinasi perlakuan terdiri dari 4 sampel tanaman sehingga jumlah seluruh tanaman sampel 108 tanaman. Faktor pertama yaitu bokashi kotoran ayam (B) :b1 = 10 ton/ha (setara dengan 80 g/polybag), b2 = 15 ton/ha (setara dengan 120 g/polybag), b3 = 20 ton/ha (setara dengan 160 g/polybag). Faktor kedua yaitu pupuk NPK (N) : n1 = 200 kg/ha (setara dengan 1,6 g/polybag), n2 = 300 kg/ha (setara dengan 2,4 g/polybag) n3 = 400 kg/ha (setara dengan 3,2 g/polybag). Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi tinggi tanaman (cm), volume akar (cm3), berat kering tanaman (g), jumlah polong per tanaman (polong), jumlah biji per polong (biji), berat biji kering per tanaman (g) dan berat 100 biji kering (g). Peningkatan dosis bokashi kotoran ayam dan pupuk NPK memberikan pertumbuhan dan hasil yang baik pada kacang hijau. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah diduga terdapat pengaruh pemberian bokashi kotoran ayam 15 ton/ha dan pupuk NPK 200 kg/ha merupakan dosis terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil kacang hijau pada tanah aluvial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bokashi kotoran ayam 20 ton/ha dan pupuk NPK 400 kg/ha memberikan rerata tertinggi terhadap pertumbuhan dan hasil kacang hijau pada tanah aluvial.Kata Kunci : Aluvial, Bokashi Kotoran Ayam, Kacang Hijau, NP
PENGARUH BOKASI Hydrila verticilata L. TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KALE PADA TANAH ALUVIAL
Kale adalah jenis sayuran yang memiliki nilai gizi cukup komplit yaitu kalori, lemak, natrium, kalium, kabohidrat, protein, vitamin A, vitamin C, kalsium, zat besi dan magnesium. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis bokasi Hydrilla verticillata L. yang terbaik bagi pertumbuhan dan hasil kale pada tanah aluvial.Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Penelitian Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura Pontianak dengan ketinggian tempat 2 meter dpl. Penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 5 Maret - 22 April 2021. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang terdiri dari 6 taraf perlakuan dan 4 kali ulangan. Masing-masing unit perlakuan terdiri dari 4 sampel tanaman dengan total keseluruhan 96 tanaman. Perlakuan yang dimaksud adalah b0= tanpa bokasi Hydrilla verticillata L., b1= 300 g/polybag bokasi Hydrilla verticillata L., b2= 600 g/polybag Hydrilla verticillata L., b3= 900 g/polybag Hydrilla verticillata L., b4= 1200 g/polybag Hydrilla verticillata L., b5= 1500 g/polybag Hydrilla verticillata L.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bokasi Hydrilla verticillata L. pada berbagai dosis berpengaruh nyata terhadap berat kering tanaman dan berpengaruh tidak nyata terhadap variabel volume akar, kadar kehijaun daun, jumlah daun dan berat segar tanaman. Dimana diketahui bahwa berat kering pada pemberian bokasi Hydrilla verticillata L. dosis 1500 g/polybag berbeda nyata dengan pemberian bokasi Hydrilla verticillata L. dosis 0 g/polybag tetapi berbeda tidak nyata dengan dosis 300 g/polybag, 600 g/polybag, 900 g/polybag dan 1200 g/polybag. Pada umumnya semua dosis bokasi Hydrilla verticillata L. yang diujikan pada penelitian ini sama baiknya dalam meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kale pada tanah aluvial, tetapi dosis efektif bokasi Hydrilla verticillata L. adalah 300 g/polybag.Kata kunci : Kale, bokasi Hydrilla verticillata L., tanah aluvia
GROWTH AND RESULT OF COULIHOWES WITH GIVING DUCKS MANURE ON PEAT SOIL
ABSTRACKThis study aims to obtain the best dose of duck droppings to support the growth and results of flower cabbage on peat soil. This research was carried out at a location located in theVillage of Kapur Komplek Kota Raya, starting from December-February 2021. This study useda completely randomized design (CRD) consisting of 5 treatments and 5 replications, eachreplication consisting of 4 samples so the total number of plants was 100 plants. The treatmentswere: P1 = 250 grams/polybag duck droppings equivalent to 10 tons/ha, P2 = 375 grams/polybagduck droppings equivalent to 15 tons/ha, P3 = 500 grams/polybag duck droppings equivalent to20 tons /ha, P4 = 625 grams/polybag duck droppings equivalent to 25 tons/ha, P5 = 750grams/polybag duck droppings equivalent to 30 tons/ha. Observational variables in this studywere root volume (cm3), plant dry weight (g), flower/crop diameter (cm), and flower weightper/plant (g). The results showed that the provision of duck droppings had no significant effecton observational variables such as root volume, plant dry weight, flower diameter, and flowerweight.Key words : duck droppings, peat soil, flower cabbage plant
PENGARUH KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR KULIT BUAH-BUAHAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN OKRA MERAH PADA TANAH GAMBUT
Tanaman okra merupakan tanaman sayuran yang termasuk ke dalam family Malvaceae. Salah satu faktor pembatas pemanfaatan tanah gambut untuk pengembangan tanaman okra adalah sifat kimia tanah yang tergolong rendah. Usaha untuk mengatasi kendala tersebut dengan cara pemupukan melalui penambahan pupuk organik cair kulit buah -buahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi pupuk organik cair kulit buah-buahan yang terbaik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman okra merah pada tanah gambut. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Penelitian dimulai dari bulan Oktober sampai Desember 2021. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari satu faktor dengan 5 taraf perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 ulangan dan setiap perlakuan terdiri dari 4 sampel tanaman sehingga terdapat 100 satuan percobaan dengan beberapa konsentrasi POC kulit buah-buahan sebagai berikut: P1= 25 ml/L, P2= 45 ml/L, P3= 65 ml/L, P4= 85 ml/L, P5= 105 ml/L. Variabel yang diamati yaitu variabel tinggi tanaman, klorofil daun, volume akar, berat kering tanaman, berat per buah, berat buah per tanaman dan jumlah buah per tanaman. Berdasarkan hasil penelitian bahwa pemberian pupuk organik cair kulit buah-buahan pada tanah gambut dengan konsentrasi 85 ml/L dapat mempercepat umur berbunga yaitu 35,5 hari dan pemberian pupuk organik cair kulit buah-buahan pada tanah gambut dengan konsentrasi 25 ml/L sampai 105 ml/L menunjukkan pertumbuhan dan hasil yang sama pada tanaman okra merah
PENGGUNAAN TEPUNG CANGKANG TELUR AYAM DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL JAGUNG PULUT PADA TANAH GAMBUT
Jagung pulut (Zea mays Ceratina) merupakan salah satu tanaman serealia yang bernilai ekonomis dan mempunyai peluang untuk dikembangkan karena kedudukannya sebagai sumber utama karbohidrat dan protein setelah beras. Pemanfaatan tanah gambut sebagai media tumbuh tanaman jagung pulut dihadapkan pada beberapa kendala yaitu pH dan tingkat ketersediaan hara yang rendah sehingga berdampak pada pertumbuhan dan hasil tanaman. Perbaikan sifat kimia lahan gambut dapat dilakukan dengan cara pengapuran dan pemupukan. Pengapuran dan pupuk yang digunakan yaitu tepung cangkang telur ayam sebagai pengganti kapur dan penambahan NPK sebagai pupuk yang bertujuan untuk memperbaiki sifat kimia tanah. Penelitian ini dilaksanakan di Dusun Parit Buluh, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Peneliitan ini berlangsung dari tanggal 28 Desember 2021 – 19 Maret 2022. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua factor dan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu perlakuan Tepung Cangkang Telur Ayam yang terdiri dari 3 level dan pupuk NPK yang terdiri dari 3 level. Berdasarkan level tersebut diperoleh 9 kombinasi perlakuan. Setiap unit perlakuan terdiri dari 5 tanaman sampel sehingga total tanaman adalah 135 tanaman. Faktor pertama terdiri dari tepung cangkang telur ayam yang terdiri dari 3 taraf yaitu 4,4 ton/ha, 6,2 ton/ha, dan 7,9 ton/ha. Faktor kedua adalah pupuk NPK yang terdiri dari 3 taraf yaitu: 200 kg/ha, 300 kg/ha, dan 400 kg/ha. Variabel yang diamati meliputi: tinggi tanaman, volume akar, berat kering tanaman, berat tongkol berkelobot, berat tongkol tanpa kelobot, diameter tongkol tanpa kelobot dan panjang tongkol tanpa kelobot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh antara tepung cangkang telur ayam dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung pulut pada tanah gambut. Pemberian tepung cangkang telur ayam 7,9 ton/ha dan dosis pupuk NPK 400 kg/ha menunjukkan pertumbuhan dan hasil tanaman jagung pulut yang terbaik pada tanah gambut. Kata Kunci : Gambut, Jagung Pulut, Pupuk NPK, Tepung Cangkang Telur Aya
Analisis Struktur Vegetasi Mangrove di Kelurahan Setapuk Besar Kecamatan Singkawang Utara Kota Singkawang Kalimantan Barat
Analisis struktur vegetasi mangrove antar stasiun di Kelurahan Setapuk Besar dilakukan pada bulan Mei-Agustus 2019. Tujuan penelitian untuk mengetahui struktur, komposisi, tingkat keanekaragaman, keseragaman, dominansi dan kesamaan vegetasi. Metode yang digunakan dalam penelitian dengan membuat jalur transek dengan plot pengamatan 2x2 tingkat semai, 5x5 tingkat pancang, 10x10 tingkat tiang dan 20x20 tingkat pohon. Lokasi penelitian dibagi menjadi 2 stasiun berdasarkan atas tingkat kerusakannya yaitu daerah yang pernah mengalami abrasi dan daerah yang masih alami. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan ditemukan 20 spesies mangrove yang termasuk dalam 14 familia dalam 3 elemen yaitu mayor, minor, dan asosiasi. Komposisi paling banyak ditemukan pada tingkat semai sebanyak 13 jenis mangrove, tingkat pancang 10 jenis, tingkat tiang 7 jenis dan tingkat pohon terdapat 4 jenis. Jenis yang mendominansi pada tingkat pohon dan tiang adalah Avicennia lanata. Sedangkan pada tingkat semai dan pancang didominasi oleh jenis Avicennia marina dan Rhizophora stylosa. indeks keanekaragaman dan keseragaman vegetasi mangrove di Kelurahan Setapuk Besar berada pada tingkat rendah, indeks kesamaan jenis kedua stasiun rendah